PAPAN-PAPAN KEMAH SUCI (2)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 26:15-30; 36:20-34; 40:18
Sebelum kita membahas pasak, alas, gelang, dan batang, saya ingin membahas lagi sedikit tentang papan-papan sudut dan jumlah papan di dalam Kemah Suci. Saya menaruh apresiasi terhadap konsepsi bahwa harus ada penguatan pada sudut Kemah Suci. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, sudut merupakan sebuah belokan. Bila Tuhan membelok, di sanalah diperlukan penguatan dan pengokohan.
Tuhan Yesus bukan hanya dasar gereja; Ia pun batu penjuru yang menghubungkan dinding-dinding. Ia menghubungkan dinding orang bukan Yahudi dengan dinding orang Yahudi. Di Antiokhia terjadilah belokan ke arah dunia orang bukan Yahudi. Jadi, ini memerlukan Kristus sebagai batu penjuru yang menyatukan kedua dinding gereja, yaitu dinding orang Yahudi dan dinding orang bukan Yahudi. Di sudut inilah diperlukan penguatan. Jika kita meneliti Kisah Para Rasul 13, kita akan melihat dengan tegas adanya penguatan ketika Tuhan menempuh belokan di Antiokhia. Kita diberi tahu bahwa di gereja Antiokhia terdapat nabi dan pengajar. Tatkala mereka berdoa dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (ayat 2). Saudara-saudara ini ditugaskan oleh Tuhan untuk membawa kesak-sian kepada dunia orang bukan Yahudi. Tentu saja, Barnabas maupun Saulus adalah papan-papan sudut. Mereka digandakan dan diperkuat agar menjadi papan-papan yang lebih kuat bagi pembangunan gereja.
Dari tahun 1922 hingga tahun 1949, Tuhan telah menggunakan China sebagai “kebun bibit” untuk pemulihan-Nya. Namun pada tahun 1949, Tuhan menempuh belokan besar dari daratan China ke Taiwan. Sebagai orang yang mengikuti seluruh belokan ini, saya berada di bawah tekanan yang besar, dan saya dapat berkata bahwa atas perihal ini saya dikuatkan dan digandakan. Saya pun dapat bersaksi bahwa dalam belokan ini terdapat pengokohan. Pada tahun-tahun yang akan datang, mungkin Tuhan akan menempuh belokan-belokan lain di dalam pemulihan-Nya. Kaum beriman tertentu akan digandakan, dikuatkan, dan dikokohkan agar menjadi papan-papan sudut bagi belokan seperti itu.
Jumlah papan dalam Kemah Suci berjumlah empat puluh delapan. Angka empat puluh delapan bisa terdiri atas empat kali dua belas atau enam kali delapan. Saya yakin bahwa terhadap Kemah Suci yang benar adalah enam kali delapan. Catatan mengenai papan-papan tidak menyebutkan angka dua belas, melainkan angka enam dan menunjuk kepada angka delapan. Angka enam mengacu kepada manusia yang diciptakan pada hari keenam. Manusia ini telah jatuh, dan kemudian ditebus. Jadi, enam mengacu kepada manusia yang diciptakan, jatuh, dan ditebus. Angka delapan merupakan angka kebangkitan. Jadi, enam kali delapan berarti sebagai papan-papan penegak dalam Kemah Suci, kaum beriman adalah orang-orang yang diciptakan, jatuh, kemudian ditebus, dan dibangkitkan. Kita semua mempunyai riwayat yang sama. Kita diciptakan, jatuh, ditebus, dan sekarang berada di dalam kebangkitan. Kita adalah umat tebusan di dalam kebangkitan. Inilah makna dari papan-papan yang berjumlah empat puluh delapan.
VI. PASAKNYA
Untuk menegakkan keempat puluh delapan papan Kemah Suci, harus ada caranya. Bagi pembangunan Allah, papan-papan harus berdiri tegak (vertikal). Tidak boleh tergeletak. Tergeletak adalah tanda kalah. Agar papan-papan berdiri tegak, diperlukan pasak, alas, gelang, dan batang. Pasak dan alas untuk menegakkan, sedangkan gelang dan batang untuk menyatukan. Papan-papan Kemah Suci yang individual haruslah menjadi perwujudan utuh yang korporat. Ini memerlukan kekuatan penyatu yang menjadikan mereka satu. Pasak dan alas adalah untuk kita secara pribadi, namun gelang dan batang untuk menyatukan kita secara korporat.
Ayat 17 mengatakan, “Tiap-tiap papan harus ada dua pasaknya yang disengkang satu sama lain; demikianlah harus kauperbuat dengan segala papan Kemah Suci.” Kita tak tahu rincian ukuran, bentuk, maupun bahan pasak. Kata yang diterjemahkan “pasak” di sini, dalam bahasa Ibraninya sulit diterjemahkan. Kata ini sebenarnya berarti “tangan”.
Jadi, dua pasak adalah dua tangan. Angka dua di sini menandakan kesaksian dan peneguhan untuk koordinasi.
VII. ALASNYA
Ayat 19 mengatakan, “Dan haruslah kaubuat empat puluh alas perak di bawah kedua puluh papan itu, dua alas di bawah satu papan untuk kedua pasaknya, dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan untuk kedua pasaknya.” Alas-alas ini melambangkan kestabilan berdiri tegak. Alas-alas ini dibuat dari perak, yang melambangkan penebusan Kristus sebagai dasar bagi berdirinya kaum beriman untuk tempat kediaman Allah (Kel. 30:12-16). Di bawah masing-masing papan terdapat dua alas untuk kedua pasaknya, empat puluh di sebelah utara dan empat puluh di sebelah selatan yang melambangkan diuji dan dicoba untuk kesaksian. Seluruhnya ada sembilan puluh enam alas perak untuk papan-papan tersebut. Angka ini terdiri atas dua belas kali delapan, melambangkan kesempurnaan pemerintahan ilahi di dalam kebangkitan.
Sebagaimana kita tidak diberi tahu ukuran dan bentuk pasak, kita pun tidak diberi tahu ukuran dan bentuk alas. Menurut Keluaran 38:27, tiap alas terbuat dari satu talenta perak, yang beratnya hampir seratus pon. Kita tak tahu apakah alas-alas tersebut berbentuk bulat, bujur sangkar, atau persegi panjang. Saya lebih condong bahwa alas-alas tersebut berbentuk persegi panjang untuk menopang bangunan dengan keempat lapis penudungnya.
Atas hal ini kita perlu bertanya, kedua pasak pada setiap papan penegak melambangkan apa. Pasak-pasak ini tidak hanya dihubungkan dengan alas perak, juga dimasukkan ke dalam alas perak sehingga menjadi satu. Alas itu padat, berat, dan memiliki lubang untuk dimasuki pasak. Berhubung alas terbuat dari perak yang melambangkan penebusan, maka saya yakin bahwa kedua pasak mengacu kepada iman kita. Dalam Keluaran 30, umat Israel diperintah agar masing-masing membayar setengah syikal untuk penebusan (ayat 12-16). Perak ini dipakai untuk membuat alas. Seperti yang telah kita tunjukkan, semuanya ada sembilan puluh enam alas perak bagi papan-papan penegak. Nanti kita akan melihat bahwa ada pula tambahan empat alas perak yang digunakan untuk menopang tiang-tiang yang membentangkan tirai pemisah tempat maha kudus dengan tempat kudus. Jadi, alas peraknya berjumlah seratus, masing-masing seberat kurang lebih seratus pon. Berarti dasar Kemah Suci terdiri atas sepuluh ribu pon perak. Dalam perlambangan, perak melambangkan penebusan. Semua alas perak melambangkan penebusan Kristus yang dapat diandalkan sebagai landasan tegaknya kita di dalam pembangunan Allah. Kita bukan berdiri di atas pasir yang sedang amblas kita berdiri di atas penebusan Kristus. Kristus telah menebus kita, dan kini penebusan-Nya menegakkan kita dengan kokoh. Penebusan Kristus ialah alas penancap dua pasak.
Saya percaya bahwa kedua pasak pada masing-masing papan melambangkan iman kita atas penebusan Kristus. Berdirinya kita adalah oleh iman. Dalam 2Korintus 1:24 Paulus berkata, “kamu berdiri teguh dalam imanmu.” Dalam Roma 5:2 dan Galatia 5:1 Paulus membicarakan perihal berdiri. Roma 5:2, “Melalui Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugerah ini. Di dalam anugerah ini kita berdiri.” Galatia 5:1, “Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh.” Pasak melambangkan iman kita yang olehnya kita berdiri.
Sekarang kita harus bertanya lebih lanjut, mengapa ada dua pasak pada tiap-tiap papan? Jika pasak melambangkan iman kita, mengapa memakai dua pasak dan tidak satu pasak? Jawabannya ialah kedua pasak ini melambangkan iman yang lengkap. Sebuah gambaran yang sederhana akan membantu kita untuk memahaminya, yakni sepasang kaca mata memiliki dua lensa, masing-masing mata diberi satu. Namun kedua lensa ini membangun sepasang kacamata. Meskipun kita ini memiliki dua mata, tetapi jangkauan pandang kita hanya satu. Masalah yang gawat akan terjadi apabila kita memiliki penglihatan rangkap. Sepsang kacamata yang berukuran tepat, akan menghasilkan pandangan yang jelas. Sebagaimana dua lensa merupakan sepasang kacamata, demikian pula dua pasak merupakan iman yang lengkap.
Kita telah melihat bahwa angka dua melambangkan konfirmasi (penegasan), kesaksian, dan koordinasi. Iman yang sejati selalu mencakup ketiga aspek ini. Jika iman kita di dalam Tuhan Yesus itu sejati, tentulah terdapat kesaksian, penegasan, dan koordinasi. Kalau tidak, iman kita bermasalah. Iman yang tepat adalah yang melewati kesaksian dan penegasan, serta memiliki koordinasi yang tepat. Sama halnya setiap langkah yang lengkap terdiri atas dua kali setengah langkah yang setiap langkahnya dilakukan oleh tiap kaki kita. Iman yang lengkap pun memerlukan dua pasak.
Saya tahu ada orang Kristen yang imannya tidak lengkap. Yang mereka miliki itu boleh kita sebut iman berpasak satu. Di satu aspek, mereka percaya, di aspek lain, mereka bimbang. Mereka seolah mengatakan ya dan tidak pada saat yang sama. Inilah yang dimaksud dengan papan berpasak satu. Jika papan-papan penegak hanya berpasak satu, tentunya mudah goyang. Goyang berarti bimbang, masih bertanya-tanya apakah percaya kepada Kristus itu tidak salah. Mereka yang memiliki iman seperti itu, yaitu iman yang berpasak satu, tidak dapat berdiri teguh. Baik untuk berdiri maupun berjalan kita memerlukan dua kaki. Iman kita harus punya dua pasak yang ditancapkan teguh pada alas perak. Kita harus memiliki iman yang lengkap atas penebusan Kristus, barulah akan berdiri dengan tepat.
Ketika saya berada dalam organisani kekristenan, saya melihat banyak orang yang disebut kaum beriman, namun belum memiliki iman yang tepat. Bahkan ada sejumlah orang yang bukan berdiri di atas satu kaki, melainkan di atas satu jari kaki. Mereka mengaku sebagai orang Kristen, tetapi tidak percaya akan hal-hal yang terdapat di dalam Alkitab. Namun, kita percaya akan segala hal yang dikatakan Alkitab. Jadi, iman kita ini berkaki dua, atau berpasak dua. Memiliki iman yang lengkap berarti percaya kepada segala sesuatu yang di dalam Alkitab tanpa ragu-ragu sedikit pun.
Mungkin Anda merasa kadang-kadang bimbang, karena itu tidak memiliki iman yang sejati. Dulu saya juga sering bimbang. Tetapi, jika Anda perhatikan situasi Anda, Anda akan melihat bahwa apa yang Anda ragukan tak lain pengalaman Anda, bukan Alkitab. Memang sudah umum bahwa kaum beriman ragu-ragu terhadap pengalaman kristiani mereka. Malahan mungkin ada yang bertanya apakah mereka benar-benar telah diampuni dan dilahirkan kembali. Ada pula yang boleh jadi ragu-ragu akan kasih mereka kepada Tuhan. Saya pernah menempuh saat-saat meragukan kasih saya terhadap Tuhan. Lalu pada suatu hari saya berlutut dan berkata kepada-Nya bahwa saya minta agar langit dan bumi menjadi saksi bahwa kasih saya kepada-Nya itu adalah sepenuh hati. Saya berdoa, “Tuhan, Engkau telah mendengarkan doaku. Mulai sekarang aku takkan ragu-ragu bahwa aku mengasihi-Mu.” Tetapi, baru saja selesai berdoa, saya mulai ragu-ragu lagi. Saya bukan meragukan firman Allah; saya meragukan pengalaman saya atas perihal mengasihi Tuhan.
Di masa lampau, saya juga pernah meragukan jalan gereja di dalam pemulihan Tuhan. Menjelang mengambil keputusan, saya beroleh keyakinan bahwa jalan ini tidak salah. Saya telah menetapkan bahwa selaku manusia yang tepat, saya harus menjadi orang Kristen, dan selaku orang Kristen, saya harus menempuh jalan gereja. Kalau tidak, hidup saya akan kehilangan maknanya. Saya sering bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah menunjukkan jalan gereja. Saya bersyukur kepada-Nya bukan hanya karena saya adalah orang Kristen, tetapi juga karena saya menempuh jalan gereja. Namun demikian, ketika orang-orang Kristen lainnya buang muka terhadap saya dikarenakan saya meninggalkan denominasi untuk berpaling kepada gereja, saya mulai ragu-ragu apakah pilihan saya ini sudah betul. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Apakah gereja benar, mengapa orang-orang Kristen lainnya tidak mau menyambut saya?” Apa yang saya ragukan bukanlah Alkitab, melainkan pengalaman saya.
Karena kita memiliki iman yang sejati, kita takkan meragukan Alkitab. Misalnya, kita tak menaruh keraguraguan terhadap Allah menciptakan langit, bumi, dan kita ini. Iman kita berpasak dua, dan kita justru berdiri tegak di atas penebusan Kristus. Puji Tuhan, kita berdiri di atas perak dua ratus pon! Bukan saja berdiri di atas bahkan berdiri di dalamnya. Iman kita tertancap teguh pada alas perak dari penebusan Kristus.
Kita yang di dalam gereja lokal mempunyai penegakan yang teguh dan stabil. Kita semua berdiri di dalam penebusan Kristus. Gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan begitu kuat, dikarenakan semuanya berdiri di atas tumpuan yang teguh. Banyak orang Kristen dari kelompok lain mudah sekali goyah dikarenakan tidak memiliki tumpuan yang teguh.
Berdirinya kita yang teguh ini bisa terlihat pada saat-saat kita harus menyelenggarakan acara pemakaman. Teman-teman dan pengunjung yang menghadiri acara pemakaman kita kadang-kadang dikejutkan oleh tidak banyaknya sedu sedan. Padahal umumnya di saat penguburan selalu terdapat tangisan yang tak terkendali. Akan tetapi, di saat penguburan di antara kita, tidak ada tangisan yang berlebihan, karena kita mempunyai tumpuan yang teguh. Kita percaya akan Allah, dan kita percaya kepada firman-Nya. Inilah yang memberi kita dasar yang teguh dan tak goyah.
VIII. GELANG-GELANGNYA
Tegaknya papan-papan tergantung pada pasak-pasak dan alas-alas, sedangkan pengaitan atau penyatuannya tergantung pada gelang-gelang dan batang-batang. Keluaran 26:29 membicarakan gelang-gelang: “Papan-papan itu haruslah kausalut dengan emas, gelang-gelang itu haruslah kaubuat dari emas sebagai tempat memasukkan kayu-kayu lintang itu, dan kayu-kayu lintang itu haruslah kausalut dengan emas.” Dalam perlambangan, gelang emas melambangkan karunia yang paling awal dari Roh itu. Ketika Ribka dipinang Ishak, ia menerima gelang emas. Demikian pula, ketika anak yang hilang pulang ke rumah, ayahnya memberi sebuah jubah yang melambangkan Kristus sebagai kebenaran, dan juga sebuah cincin yang menandakan Roh itu. Hari ini cincin digunakan sebagai tanda pertunangan dan pernikahan. Pada kebanyakan upacara pernikahan, tukar cincin merupakan aspek yang diutamakan. Tatkala kita beroleh selamat, kita menerima karunia yang paling awal dari Roh itu sebagai cincin. Kita menerima Roh itu sebagai meterai, jaminan, panjar, garansi, dan pencicipan yang menjadi bagian kita yang kekal. Roh itu telah diberikan kepada kita sebagai jaminan dan garansi. Ini ditunjukkan oleh gelang-gelang emas.
Dari ayat 29 kita tahu bahwa gelang-gelang pada papan-papan adalah tempat untuk memasukkan batang-batang. Namun, berapa banyak gelang-gelang yang terdapat pada tiap papan? Walaupun kita tidak diberi tahu dengan jelas, kita dapat memastikan jumlahnya dengan tepat. Menurut ayat 26, ada lima batang kayu lintang untuk papan-papan pada masing-masing sisi Kemah Suci. Ayat 28, “Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari ujung ke ujung.” Dari sini kita bisa menentukan ada tiga baris kayu lintang yang menghubungkan papan-papan Kemah Suci. Kayu lintang yang di tengah melintang dari ujung ke ujung, dan panjangnya dua kali dari yang lain. Di atas dan di bawah kayu lintang yang di tengah itu, masing-masing ada dua batang kayu lintang, yang masing-masing panjangnya setengah dari kayu lintang yang di tengah itu. Ini memperlihatkan bahwa jumlah kayu lintang itu adalah lima batang. Kayu-kayu lintang ini melintang dari ujung ke ujung sebanyak tiga baris, maka sudahlah pasti terdapat tiga gelang pada tiap-tiap papan yang digunakan sebagai tempat memasukkan kayu lintang.
Ketiga gelang pada tiap papan adalah untuk menyatukan kaum beriman dalam Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Angka tiga melambangkan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Sebagai papan-papan kita bukannya di pasang dua atau empat gelang; melainkan tiga gelang, yang mengacu kepada Roh Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Sebelum Kristus bangkit dan dimuliakan, “Roh itu belum ada” (Yoh. 7:39 Tl.). Namun sekarang, melalui kebangkitan, Yesus telah dimuliakan, Roh yang almuhit ada di dalam kita. Roh ini ialah Roh Allah Tritunggal di dalam kebangkitan.
IX. KAYU LINTANGNYA
Roh itu adalah gelang dan sekaligus kayu lintang. Kayu lintang ini dibuat dari kayu penaga (ayat 26) agar menjadi kekuatan penghubung, dan dilapisi emas untuk menyatukan. Ini ada kaitannya dengan keesaan Roh yang tercantum dalam Efesus 4:3.
Pada masing-masing sisi, yaitu utara, selatan, dan barat, terdapat lima kayu lintang. Lima, angka tanggung jawab, terdiri atas empat tambah satu. Ini melambangkan Roh semula telah menjadi Roh penyatu, yang memikul tanggung jawab di dalam kebangkitan melalui Allah Tritunggal. Mengenai kayu lintang, kita memiliki tiga kali lima lima kayu lintang pada tiap sisi. Ini melambangkan tanggung jawab di dalam kebangkitan melalui Allah Tritunggal. Selain itu, pada tiap sisinya, kayu lintang yang di tengah melintang dari ujung ke ujung. Jadi, terdapat lima kayu lintang dalam tiga baris. Di sini pula kita temukan lima di dalam tiga, yang berarti tanggung jawab dalam Allah Tritunggal di dalam kebangkitan.
Berdirinya papan-papan adalah masalah perak, perak adalah untuk penebusan; sedangkan penyatuan papan-papan adalah masalah emas, emas menandakan keilahian Kristus. Penebusan Kristus bertalian dengan pekerjaan-Nya, sedangkan keilahian-Nya bertalian dengan persona-Nya. Kita berdiri di atas karya penebusan Kristus, dan kita disatukan oleh persona ilahi-Nya. Karenanya, pada papan-papan Kemah Suci kita melihat sekaligus persona dan pekerjaan Kristus. Persona-Nya bersifat ilahi, pekerjaan-Nya bersifat menebus. Hari ini, sebagai gereja, kita adalah satu perwujudan, sebuah bangunan bagi tempat kediaman Allah, dikarenakan kita berdiri di atas perak penebusan Kristus dan disatukan oleh emas dari persona ilahi-Nya.
Kayu lintang penyatu dibuat dari kayu penaga. Dalam Efesus 4, keesaan Roh terapit di antara kalimat yang menyinggung pekerti insani seperti rendah hati dan kasih sayang. Pekerti-pekerti ini ditunjukkan oleh kayu penaga. Keesaan Roh bukan hanya meliputi keilahian Kristus, melainkan juga keinsanian-Nya. Bagi pembangunan Allah kita harus memiliki kerendahan hati, kemurahan, dan ka-sih yang sesuai dengan standar Kristus. Dengan kata lain, jika kita ingin menjadi kayu penaga dalam kayu lintang penyatu, kita harus menjadi manusia sebagaimana Yesus. Dengan demikian, barulah kita memiliki keesaan yang sungguh-sungguh. Gelang hanya mengandung emas, sedang kayu lintang mengandung dua sifat kayu penaga menyatakan bahwa Roh penyatu dibaurkan dengan kebajikan (pekerti) keinsanian kita yang telah ditebus dan ditingkatkan.
Kita telah melihat bahwa kita berdiri di atas penebusan Kristus, dan kita disatukan di dalam keilahian-Nya. Keilahian Kristus adalah untuk ekspresi kita. Jika kita memasuki gereja sebagai Kemah Allah hari ini, kita akan melihat emas di mana pun. Bahkan pada langit-langit Kemah Suci pun terdapat jepitan emas. Emas untuk ekspresi, sedangkan perak untuk tegak. Kita berdiri di atas penebusan Kristus, kita pun mengekspresikan persona ilahi-Nya. Orang-orang yang mengunjungi gereja-gereja dapat melihat penegakan maupun ekspresi ini. Mereka akan melihat kaum beriman yang memiliki penegakan semacam ini tidak dapat digoyahkan. Mereka juga akan melihat ekspresi emas ilahi yang ajaib dari antara orang-orang dalam gereja.
Di tengah-tengah kebanyakan kelompok kekristenan hari ini, kita tidak dapat melihat penegakan maupun ekspresi yang tepat. Di satu aspek, mereka yang di dalam kelompok-kelompok itu mudah sekali digoyahkan; di aspek lain, mereka tidak sanggup mengekspresikan emas. Inilah situasi kekristenan pada umumnya hari ini. Namun di dalam hidup gereja yang tepat dan di dalam pemulihan Tuhan, kita memiliki tumpuan yang teguh dan ekspresi Kristus. Bahkan orang-orang yang menentang kita pun mengakui bahwa kita tidak dapat digoyahkan. Kita mempunyai alas perak dan ekspresi emas. Sebagai tempat kediaman Allah, gereja harus mempunyai dasar perak dan ekspresi emas. Gereja bukan saja tempat kediaman Allah, tetapi juga tempat kediaman kita, rumah kita. Tempat kediaman Allah bersama kaum beriman ini telah memiliki landasan yang kuat, yaitu penebusan Kristus, sambil mengekspresikan persona Kristus sendiri dengan cemerlang.