← Daftar isi Keluaran (7) · bab 1/17

PAPAN-PAPAN KEMAH SUCI (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 26:15-25; 36:20-30; 40:18

Menurut urutan wahyu ilahi, penudung (penutup) Kemah Suci disinggung lebih dulu daripada papan-papan. Ini berlawanan dengan cara manusia dalam membicarakan sebuah bangunan, yang lazimnya dimulai dari dasar ke atas sampai atap. Namun cara Allah dalam mewahyukan Kemah Suci dimulai dari atap, yaitu dari keempat lapisan penudung. Menurut Keluaran 36, atap Kemah Suci malah dibuat sebelum papan-papan dibuat. Bila ini kita terapkan pada pengalaman kristiani kita, maka perlu kiranya diperhatikan apakah kehidupan kristiani kita dimulai dari alas Kemah Suci atau dari atap.

Atap atau penudung tempat kediaman Allah di padang gurun terdiri dari empat lapis. Lapisan pertama adalah lenan, lapisan kedua adalah bulu kambing, lapisan ketiga adalah kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan lapisan keempat adalah kulit lumba-lumba. Dalam perlambangan, lapisan-lapisan ini bukan mengacu kepada kaum beriman, melainkan hanya mengacu kepada Kristus. Lapisan pertama melambangkan Kristus sebagai manusia yang lengkap dan sempurna lapisan kedua melambangkan Kristus sebagai Dia yang dibuat menjadi dosa karena kita dan berkorban di kayu salib karena dosa-dosa kita; lapisan ketiga melambangkan Kristus sebagai Dia yang merampungkan penebusan guna memuaskan keperluan Allah dan keperluan kita; dan lapisan keempat melambangkan Kristus sebagai Dia yang perkasa terhadap musuh dan sanggup melawan semua serangannya. Tak satu pun aspek dari keempat lapis ini yang mengacu kepada kaum beriman. Jadi, kaum beriman tidak punya bagian apa pun di dalam lapisan-lapisan penudung, berhubung ini seluruhnya dan mutlak adalah Kristus sendiri.

I. MELAMBANGKAN KAUM BERIMAN

DIBANGUN BERSAMA MENJADI TEMPAT

KEDIAMAN ALLAH

Di bawah penudungan Kemah Suci terdapat dinding-dinding papan dari kayu penaga yang dilapisi emas. Papan-papan ini melambangkan kaum beriman yang dibangun bersama menjadi tempat kediaman Allah (Ef. 2:22). Karena itulah, kita yakin bahwa Kemah Suci bukan hanya melambangkan Kristus yang individual, tetapi juga Kristus yang korporat. Kaum beriman yang dilambangkan oleh papan-papan yang dilapisi emas ini, dibungkus oleh Kristus sendiri. Walaupun kaum beriman tidak terlibat dalam keempat lapis penudung, namun Kristus terlibat pada papan-papan yang membentuk dinding-dinding Kemah Suci. Ini kita ketahui dari fakta bahwa papan-papan terbuat dari kayu penaga dan dilapisi emas, yaitu bahan yang sama dengan pembuat tabut yang melambangkan Kristus.

Sebelum kita diselamatkan, kita bukanlah papan-papan dalam Kemah Suci Allah. Kita tidak memiliki kayu penaga, dan berdasarkan hayat alamiah, kita ini bukanlah papan-papan. Kita pun tidak dilapisi emas. Akan tetapi berdasarkan hayat ilahi di dalam kebangkitan, kita adalah papan-papan tegak pada Kemah Suci. Kita sekarang sudah menjadi kayu penaga yang dilapisi emas.

Sebagaimana tabut dibuat dari dua unsur, yakni kayu penaga dan emas, demikian pula papan-papan terbuat dari unsur yang sama. Ini menunjukkan bahwa papan-papan merupakan perkembangan dan perluasan tabut. Mutu dan bahan mereka sama dengan tabut, yaitu kayu dan emas. Ini melukiskan fakta bahwa kita sebagai kaum beriman yang merupakan penyusun dinding-dinding Kemah Suci adalah perkembangan Kristus, yaitu perluasan-Nya. Tahukah Anda bahwa Anda adalah bagian dari perluasan Kristus? Sebagai anggota Tubuh, kita adalah reproduksi, kelanjutan, perkembangan, duplikat, dan perluasan-Nya. Kita pun adalah perbesaran dan penjuluran-Nya. Sebagaimana tubuh seseorang merupakan penjuluran dan perluasan dari kepalanya, begitu pula kita selaku Tubuh Kristus, adalah perbesaran, kelanjutan, perluasan, dan pertambahan dari Kristus Sang Kepala. Sebab itu, semua papan di dalam Kemah Suci merupakan penjuluran dan perluasan tabut.

Ukuran tabut adalah dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebar dan tingginya. Ukuran Kemah Suci adalah tiga puluh hasta panjang, sepuluh hasta lebar dan tingginya. Apabila kita bandingkan Kemah Suci dengan tabut, kita akan melihat jelas bahwa Kemah Suci benar-benar adalah perluasan dan pelebaran tabut. Atas prinsip yang sama, kita kaum beriman merupakan perbesaran dan perluasan Kristus. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia hidup dan berkeliling di daerah yang amat terbatas. Namun hari ini, Kristus yang korporat memenuhi seluruh muka bumi.

II. PERLUASAN TABUT

Kemah Suci bukan hanya mencakup Kristus yang individual, melainkan juga Kristus dan kaum beriman secara korporat. Di satu aspek, papan-papan itu melambangkan kaum beriman; di aspek lain, papan-papan itu juga berhubungan dengan Kristus, karena Kristus telah membuat kita menjadi bagian dari diri-Nya. Kita tidak lagi di dalam Adam; melainkan di dalam Kristus, bahkan menjadi bagian dari Kristus. Kristus yang korporat berada di bawah naungan Kristus yang individual. Kita tidak ada bagian apa pun atas tabut maupun atas keempat lapis penudung. Walaupun kita ini bukan perluasan dari penudung, namun kita ini perluasan dari tabut. Penudung terutama untuk penebusan, sedangkan tabut untuk kesaksian. Kita tidak ada bagian apa pun dalam karya penebusan Kristus. Mengatakan bahwa kita ada bagian dalam karya penebusan Kristus adalah suatu bidah. Tetapi kita bisa mengatakan bahwa kita ada bagian dalam kesaksian Kristus, karena kita telah dikaitkan dengan Kristus yang bersaksi serta menjadi perluasan-Nya.

Pada butir ini mari kita kembali kepada pertanyaan yang kita ajukan pada awal berita ini: apakah kita memulai pengalaman kekristenan kita dari atap Kemah Suci? Kemah Suci melambangkan gereja. Timbulnya gereja adalah dari atap turun ke bawah, ataukah dari dasar menuju ke atas? Alkitab tidak mewahyukan bahwa gereja terbit dari dasar menuju ke atas. Sebaliknya, menurut Alkitab, gereja muncul dari atap turun ke bawah. Ini bisa diketahui dari fakta pencatatan Kitab Keluaran dimulai dari atap Kemah Suci, bukan dari papan-papan. Fakta bahwa penudung mendahului papan-papan menunjukkan bahwa penebusan Kristus harus lebih duluan. Ini memperlihatkan bahwa pengalaman kristiani kita dimulai dari puncak atau atap, bukan dari ba-wah atau dasar. Tanpa Kristus menjadi manusia dan mati di kayu salib karena dosa-dosa kita, merampungkan penebusan, memenuhi tuntutan Allah, serta melawan serangan-serangan musuh, niscaya tiada jalan bagi kita untuk menjadi umat Allah. Injil itu sesungguhnya adalah Kristus yang dilambangkan oleh empat lapis penudung pada Kemah Suci. Menginjil adalah memberitakan Kristus yang berlapis empat ini. Pada waktu kita mendengarkan Injil dan percaya kepada Kristus, kehidupan kristiani kita dimulai dari atas, yaitu dari atap. Berkebalikan dengan kehidupan alamiah ki-ta yang dimulai dari dasar, bahkan dari level atau tingkat yang paling rendah. Itulah alasannya lapisan-lapisan atap diwahyukan duluan. Sebelum kita dilahirkan kembali, atap, yakni Kristus yang berlapis empat memang sudah ada. Jadi, pengalaman kristiani kita bukan dimulai dari dasar, melainkan dari atap. Begitu kita percaya kepada Tuhan dan menerima-Nya, segera kita mendapatkan diri kita berada di bawah atap, yaitu di bawah penudung.

III. KAYU PENAGA DISALUT DENGAN EMAS

Setelah saya diselamatkan, saya tahu bahwa saya telah dilahirkan kembali, namun belum paham apa yang telah terjadi di dalam diri saya. Saya tidak tahu bahwa saya telah menjadi papan kayu penaga yang disalut dengan emas. Saya hanya tahu bahwa saya telah beroleh selamat, dan mulai saat itu, saya harus memuliakan Allah dengan sekuat tenaga. Konsepsi ini memang positif. Memang hebat mengetahui bahwa kita telah diselamatkan, bahkan ingin memuliakan Allah. Tetapi, pengetahuan ini adalah alamiah; tidak mengandung terang ilahi. Pengenalan semacam itu semata-mata menyadari bahwa dulu sebagai orang berdosa kita takkan luput dari neraka, dan kini sebagai orang yang sudah diselamatkan kelak ditanggung naik surga, sehingga kita harus berperilaku dengan wajar demi kemuliaan Allah. Penting kita ketahui bahwa ketika kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali, suatu perubahan telah terjadi di dalam diri kita. Sebelumnya, kita telah jatuh dan tenggelam ke bawah. Tetapi sewaktu kita percaya kepada Kristus, Ia masuk ke dalam kita, sehingga kita menyembul ke atas. Kita mengalami perubahan sifat dikarenakan unsur yang baru ditambahkan ke dalam diri kita. Unsur ini tak lain adalah Kristus sendiri. Jadi, melalui kelahiran kembali kita menjadi kayu penaga yang disalut dengan emas. Kita beroleh keinsanian Kristus yang dipertinggi dan sifat ilahi-Nya. Sekarang, unsur kita yang baru ini merupakan bagian dari perluasan tabut.

Sebagai orang Kristen, kita tidak hanya diselamatkan, lebih-lebih perlu diubah dalam sifat dan apa adanya diri kita. Batin kita memiliki sifat insani yang dipertinggi, yakni yang dilambangkan oleh kayu penaga, dan sifat ilahi yang menyalut, yakni yang dilambangkan oleh emas. Siapa yang tidak memiliki unsur baru ini bukanlah saudara atau saudari kita di dalam Kristus. Semua orang yang dipilih Allah dan dilahirkan kembali oleh-Nya memiliki dua sifat ini kayu penaga dan emas.

Melalui kelahiran kembali, keinsanian kita telah diperbarui dan diperkuat. Misalnya, kelahiran kembali menyebabkan kita menjadi lebih berhikmat, lebih bijaksana, dan lebih berpengertian. Jika saya belum beroleh selamat dan dilahirkan kembali, saya takkan memiliki pengertian seperti hari ini. Banyak orang beriman seperti ubur-ubur sebelum mereka dilahirkan kembali mereka seolah manusia yang tidak bertulang punggung. Ada sedikit masalah saja mereka sudah jatuh. Namun melalui kelahiran kembali, mereka kini telah menjadi kayu penaga. Tekad mereka amat kuat dalam melawan dosa. Menurut 2Timotius 1:7, Allah memberi kita bukannya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Kekuatan berhubungan dengan tekad, dan kasih berhubungan dengan emosi. Penyelamatan Allah benar-benar telah mengubah kita, supaya kita menjadi manusia baru.

Melalui kelahiran kembali kita memiliki keinsanian Yesus yang dipertinggi. Salah satu kidung kita ada yang menyebutkan “keinsanian Yesus” (Jesusly human). Karena kita memiliki keinsanian Yesus yang dipertinggi, orang lain sulit memahami kita. Di satu aspek, kita tampak seperti manusia yang biasa saja; di aspek lain, kita berbeda dengan orang lain, karena kita memiliki hayat dan sifat ilahi. Sifat ilahi terekspresi pada keinsanian kita. Ini dilambangkan oleh emas yang menyalut kayu penaga.

Saya mengapresiasi ketiga kata ini, Allah (God), baik (good), dan emas (gold). Emas sejati dan kebaikan yang sejati, keduanya adalah Allah sendiri. Ini berarti, jika kita mau menjadi orang baik atau orang emas, wajiblah terlebih dulu menjadi orang-Allah. Kayu penaga harus mengekspresikan emas yang menyalutnya. Tanpa menjadi manusia emas, mustahil kita mengekspresikan Allah. Sebagai papan-papan dari kayu penaga, kita tidak boleh mengekspresikan diri kita, melainkan mengekspresikan emas yang menyalut kita. Artinya, apa yang orang lain lihat pada diri kita seharusnya adalah ekspresi Allah.

Sewaktu Anda mendengar tentang kayu penaga yang disalut dengan emas, Anda mungkin merasa sulit untuk mempercayai bahwa sebagai orang Kristen, Anda adalah papan yang demikian. Mungkin Anda tergoda untuk mengatakan bahwa Anda ini masih lemah. Jika Anda beranggapan bahwa Anda ini lemah dan kemudian menyatakan bahwa Anda ini lemah, Anda akan benar-benar lemah. Pengalaman membuktikan, apa jadinya Anda nanti pasti sesuai dengan apa yang Anda pikirkan dan katakan. Maka penting sekali Anda mengubah pikiran Anda. Jangan lagi menganggap diri Anda ini ubur-ubur. Berdasarkan iman, Anda harus menyatakan bahwa Anda ini kayu penaga yang disalut emas. Jangan berkata menurut apa adanya Anda secara alamiah, melainkan berkatalah menurut iman Anda. Bila Anda mengatakan Anda ini lemah, tentulah Anda akan lemah. Jika Anda mengatakan tidak ada jalan untuk menangani keadaan tertentu, Anda akan terbentur pada jalan buntu. Namun bila Anda menyatakan bahwa Anda kuat dan ada jalan terbaik untuk menanggulangi situasi yang sulit, maka Anda akan ada jalan.

Berkata seperti ini adalah mengobarkan karunia-karunia Allah yang telah kita terima. Akhir-akhir ini dalam Pelajaran-Hayat 1Korintus kita melihat bahwa semua orang beriman di dalam Kristus telah menerima karunia awal, yaitu karunia hayat ilahi dan Roh Kudus. Sekarang, kita harus mengobarkan karunia-karunia ini agar menyala karena menyadari bahwa yang Allah karuniakan kepada kita itu bukanlah roh penakut, melainkan roh kekuatan, kasih, dan ketertiban (pikiran yang jernih). Kita harus tahu bahwa kita ini dilahirkan kembali sebagai apa, dan kemudian nyatakan itu. Jangan sekali-kali memandang diri Anda, melainkan berdirilah dan bertindaklah di atas firman Tuhan. Ketika Tuhan Yesus menyuruh Petrus keluar dari perahunya dan berjalan di atas air, Petrus menuruti perintah-Nya (Mat. 14:28-29). Ia berjalan di atas air sesuai dengan firman Tuhan. Namun ketika ia memandang sekelilingnya, imannya segera lenyap. Kita patut seperti Petrus dalam hal yang pertama, jangan dalam hal yang kedua. Menurut firman Tuhan, kita harus berkata dalam iman bahwa kita adalah papan-papan kayu penaga yang disalut dengan emas.

Kayu penaga melambangkan keinsanian ciptaan baru di dalam Kristus yang telah dilahirkan kembali dan dipertinggi, sebagai bahan dasar yang kuat untuk berdiri tegak. Demikianlah kayu penaga sebagai bahan dasar dari papan-papan penegak. Kemampuan untuk berdiri tegak bukan tergantung pada emas, tetapi pada kayu penaga. Meskipun emas sangat berharga, namun terlampau lunak untuk diperoleh kekuatan penegak. Sebagai papan penegak, kekuatan penegaknya terletak pada kayu penaga. Kita berdiri tegak dikarenakan telah memiliki keinsanian yang dilahirkan kembali dan dipertinggi. Namun demikian, kita bukanlah mengekspresikan keinsanian ini, melainkan keilahian. Maka, emas adalah ekspresi gereja. Fakta bahwa kayu penaga disalut dengan emas memperlihatkan bahwa sifat ilahi Kristus telah esa dengan sifat insani kita untuk mengekspresikan Allah.

IV. UKURAN-UKURANNYA

Panjang masing-masing papan adalah sepuluh hasta. Sepuluh terdiri dari dua kali lima. Karena lima mengacu kepada angka pertanggungjawaban, maka sepuluh berarti dua kali pertanggungjawaban. Sebagai papan-papan penegak dalam gereja, kita perlu memikul tanggung jawab yang berlipat ganda. Angka dua tak hanya berarti berlipat ganda, tetapi juga kesaksian. Pertanggungjawaban dua kali ganda kita adalah sebuah kesaksian. Jika kita semua memikul tanggung jawab yang berlipat ganda ini, pastilah kita memiliki sebuah kesaksian.

Lebar tiap-tiap papan adalah satu setengah hasta, sama dengan lebar dan tinggi tabut. Panjang tabut ialah dua setengah hasta. Ini berarti ukuran tabut semuanya terdiri dari satuan-satuan setengah. Lebar tiap-tiap papan penegak juga begitu. Setengah dari tiga hasta menunjukkan bahwa setiap orang beriman ialah setengah yang perlu digenapi dengan separuh lainnya agar menjadi tiga hasta bagi pembangunan tempat kediaman Allah.

Menurut Perjanjian Lama, angka tiga dan lima merupakan angka dasar dari pembangunan Allah. Pada Kemah Suci banyak contoh angka tiga dan lima, atau perkalian dari angka-angka tersebut. Kita telah melihat bahwa lima adalah angka pertanggungjawaban, dan tiga adalah angka dari Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Jadi, penggunaan angka tiga dan lima dalam pembangunan Allah menandakan bahwa pembangunan menuntut pertanggungjawaban di dalam kebangkitan oleh Allah Tritunggal.

Sebagai papan-papan, tidak ada satu pun dari kita yang lengkap. Dalam hidup gereja, seperti dalam kehidupan pernikahan, kita semua adalah separuh. Kita ini satu setengah hasta, memerlukan papan lainnya agar menjadi satuan yang lengkap. Setelah bertahun-tahun menempuh hidup gereja, saya tahu bahwa saya tak bisa berdiri sendiri, saya tak bisa menjadi papan tunggal. Saya memerlukan pasangan, yakni memerlukan separuh lainnya, atau papan lainnya, agar menjadi satuan yang lengkap.

Kehidupan pernikahan dapat dilukiskan dengan perlombaan kaki tiga. Dalam perlombaan ini, tiap pasang pelari memiliki satu kaki yang bebas, dan satu kaki lainnya diikat dengan salah satu kaki rekannya. Keberhasilan perlombaan ini tergantung pada kerja sama masing-masing pasangan dalam koordinasi yang baik. Mereka berdua harus berlari seolah satu orang. Namun, dalam kehidupan pernikahan tidaklah mudah bagi suami dan istri menjadi satu. Sang istri mungkin terlampau bebas mengutarakan opini-nya, sedangkan sang suami berbelit-belit dan banyak permintaan, sehingga pasangan yang seyogianya satu malah terpecah. Masalah yang sama sering terjadi di dalam hidup gereja. Hal yang paling merusak pelayanan dalam gereja ialah pencetusan opini. Bahkan dalam hal membersihkan karpet ruang sidang pun, kaum beriman akan mengajukan opini yang berlainan. Dalam hidup gereja, berkoordinasi atau bekerja sama dengan orang lain memang sangatlah sulit. Kita dapat berkoordinasi dengan papan-papan lainnya hanya bila kita mengalami kayu penaga yang disalut dengan emas.

Kaum beriman tertentu ingin melayani dalam gereja, tetapi mereka menghendaki semuanya dikerjakan oleh mereka sendiri. Sebagian orang bahkan berkata, “Jikalau para saudara menghendaki aku mengerjakan suatu hal, mereka seharusnya membiarkan aku mengerjakannya sendiri. Jangan sampai seorang pun mencampuri apa yang sedang aku kerjakan.” Orang-orang yang melayani gereja secara demikian telah menjadikan bidang pelayanan mereka sebagai milik mereka pribadi. Sebenarnya, kita semua harus belajar mengerjakan segala sesuatu dalam gereja secara berkoordinasi. Tidak ada satu perkara pun boleh kita genggam sendiri. Boleh jadi seorang saudara bertanggung jawab atas perkara tertentu dengan setia dan rajin. Namun demikian, ia mungkin akan terlalu individualistis dan mena-ngani urusan pelayanan secara individualistis. Ia tak mengizinkan orang lain ikut ambil bagian dalam pelayanan gereja yang dipegangnya. Adakalanya saya menasihati kaum beriman agar tidak melayani urusan gereja di rumah mereka, melainkan di ruang sidang secara terbuka. Melayani gereja secara individualistis bagaikan papan penegak yang tidak terkait dengan papan penegak lainnya. Kemah Suci justru dibangun dengan papan-papan yang sambung-menyambung. Kita harus mengenal bahwa kita masing-masing hanyalah salah satu papan di antara sekian banyak papan, kita masing-masing hanya setengah unit; kita memerlukan papan lain untuk melengkapi kita.

Syukur kepada Tuhan, karena selama sepuluh tahun terakhir ini, situasi dan kondisi di antara kita berkaitan dengan papan-papan penegak telah lebih maju, tetapi kita masih memerlukan kemajuan yang lebih banyak. Saya harap setiap orang yang melayani dalam gereja akan melayani secara korporat, mengenal bahwa dirinya hanya setengah unit, memerlukan orang lain untuk memperlengkapi.

V. ANGKA

Ayat 18 mengatakan, “Haruslah engkau membuat papan-papan untuk Kemah Suci, dua puluh papan pada sebelah selatan.” Menurut ayat 20, di sebelah utara, sisi kedua dari Kemah Suci terdapat pula dua puluh papan. Tiap sisi terdapat sepuluh pasang papan yang membentuk ukuran sepuluh kali tiga hasta. Sekali lagi, angka tiga melambangkan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan, dan angka sepuluh merupakan angka kelengkapan insani. Karena itu, sepuluh kali tiga menunjukkan insani yang lengkap dan sempurna di dalam kebangkitan dengan Allah Tritunggal. Inilah kesaksian pembangunan gereja.

Ayat 22 mengatakan, “Untuk sisi belakang Kemah Suci, pada sebelah barat, haruslah kaubuat enam papan.” Angka enam mengacu kepada manusia yang diciptakan pada hari keenam, dan kemudian jatuh. Dalam Alkitab, angka enam melambangkan manusia yang alamiah, yang telah jatuh. Di dalam diri kita, kita ini angka enam, sebab kita ini telah jatuh dan alamiah. Namun bila kita berkoordinasi, kita menjadilah tiga pasang papan, masing-masing selebar tiga hasta. Ini berarti, bila orang-orang yang telah jatuh dan alamiah berkoordinasi, niscaya menjadi tiga kali tiga, yakni tiga pasang, masing-masing selebar tiga hasta. Mereka menjadi orang-orang di dalam kebangkitan dengan Allah Tritunggal.

Ayat 23 mengatakan, “Dua papan haruslah kaubuat untuk sudut Kemah Suci, di sisi belakang.” Lebar Kemah Suci adalah sepuluh hasta. Menurut ayat 22, enam papan terdapat di bagian belakang Kemah Suci. Papan-papan ini menutupi sembilan hasta dari lebar Kemah Suci dengan meninggalkan celah yang kurang dari satu hasta, bila tebalnya papan-papan samping diperhitungkan. Kita tidak tahu dengan apa celah itu diisi. Inilah hal yang tak dapat kita jelaskan dalam pembangunan Allah.

Ayat 24 sukar dipahami: “Kedua papan itu haruslah kembar pasaknya di sebelah bawah dan seperti itu juga kembar pasaknya di sebelah atas, di dekat gelang yang satu itu; demikianlah harus kedua papan itu; haruslah itu merupakan kedua sudutnya.” Kedua papan di sini mengacu kepada dua papan yang tertulis dalam ayat 23. Papan-papan itu harus dirangkap dua dari bawah, dan dilengkapi di sebelah atas pada gelang yang pertama. Kita akan melihat dalam berita yang akan datang bahwa tiap-tiap papan memiliki tiga gelang yang ke dalamnya dimasukkan batangan sehingga papan-papan tersebut dapat menyambung jadi satu. Sulit untuk menentukan di mana gelang bagian atas diletakkan di sudut papan. Karena papan-papan ini disambung menurut ketebalannya, timbul persoalan tentang bagaimana gelang tersebut dapat sejajar dengan gelang-gelang pada papan-papan lain, dan bagaimana batangan dapat dimasukkan ke dalamnya.

Meskipun kita tak dapat memahami seluruh rincian mengenai sudut papan, namun kita dapat mengapresiasi sesuatu dari makna rohani papan-papan yang dipasangkan (digandakan). Sudut merupakan tikungan. Kapan saja terdapat belokan dalam pergerakan Tuhan, terjadilah penggandaan, penguatan, dan pengokohan. Hidup gereja misalnya, meluas dari Yerusalem ke Antiokhia. Antiokhia adalah sebuah sudut, yakni tikungan yang menuju ke dunia orang bukan Yahudi. Jika Anda menyimak Kisah Para Rasul 13, Anda akan melihat bahwa belokan penting terjadi di Antiokhia. Tetapi, sebagaimana kita kurang dapat memahami sudut pada papan-papan Kemah Suci, begitu pula kita kurang dapat memahami belokan yang terjadi di Antiokhia. Kita pun tak mungkin memahami sepenuhnya belokan-belokan yang Tuhan tempuh dalam pemulihan-Nya. Pada tahun 1949, terdapat belokan dari daratan China ke Taiwan. Sekalipun ikut mengambil bagian dalam belokan tersebut, namun saya tidak sanggup menjelaskan dengan lengkap apa yang telah terjadi. Tak seorang pun di antara kita yang dapat menggambarkan belokan tersebut sepenuhnya. Tetapi, sewaktu belokan itu terjadi, terjadilah pula penggandaan, penguatan, dan pengokohan. Fakta bahwa kita tidak mampu melukiskan seluruh rincian tentang sudut-sudut Kemah Suci menunjukkan bahwa kita akan selalu dibingungkan oleh belokan-belokan yang Tuhan adakan di pemulihan-Nya. Pada tahun 1970 terjadilah migrasi bagi penyebaran hidup gereja di Amerika Serikat. Mereka yang ikut mengambil bagian dalam migrasi ini tahu bahwa ini merupakan suatu belokan. Akan tetapi, belokan ini selalu membingungkan dan sulit sekali dipahami. Memang sulit untuk menjelaskan, namun kita tahu bahwa belokan ini melibatkan penggandaan, yaitu penguatan dalam kesaksian Tuhan. Hari ini terdapat banyak sudut. Tiap sudut perlu dikuatkan dan dirangkap dua. Penguatan ini tak mungkin terukur, mustahillah kita paham sepenuhnya.