← Daftar isi Keluaran (7) · bab 3/17

TABIR DALAM KEMAH SUCI (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 26:31-35; 36:35-36; 40:3, 21

Sulit untuk memahami mengapa ada tabir di dalam Kemah Suci. Jika kita memperhatikan situasi Kemah Suci secara menyeluruh, kita akan dibingungkan oleh fakta bahwa ada tabir yang memisahkan tempat kudus dengan tempat maha kudus. Kemah Suci merupakan kemah yang panjangnya tiga puluh hasta, lebarnya sepuluh hasta, dan tingginya sepuluh hasta. Tabir ini selaku penyekat tempat maha kudus dengan tempat kudus. Tabir ini terbuat dari kain biru, ungu, kirmizi, dan lenan halus yang dipintal, dikerjakan oleh tenaga ahli dan disulam dengan kerub. Warna dan rancangannya sama dengan langit-langit Kemah Suci, yaitu penudung bentangan pertama. Begitu seorang imam memasuki Kemah Suci, ia segera melihat dan merasa bahwa langit-langit dan tabirnya itu sama.

Tempat maha kudus merupakan kubus yang tiap rusuknya berukuran sepuluh hasta. Tempat kudus memiliki panjang dua puluh hasta, lebar dan tingginya sepuluh hasta. Istilah tempat maha kudus adalah pernyataan dalam bahasa Ibrani yang berarti tempat yang paling kudus, yaitu paling kudus di antara semuanya. Pertanyaan penting di sini ialah mengapa harus diadakan penyekatan antara tempat maha kudus dengan tempat kudus? Apa maksudnya kemah itu dibagi menjadi dua ruang? Pada saat kita mendirikan sebuah rumah dengan beberapa ruang atau memberi pemisahan di dalam sebuah ruangan, tentulah ada maksud yang khusus. Tiap ruang dalam sebuah rumah memiliki tujuan tertentu, dan perabotannya pun disesuaikan. Perabotan dalam ruang tidur contohnya, sangat berbeda dengan ruang tamu. Tempat maha kudus hanya berisi sebuah perabot tabut. Pada tempat kudus terdapat meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Begitu seorang imam memasuki tempat kudus, terlebih dulu ia menghampiri meja agar dirawat dengan makanan. Setelah itu, menghampiri kaki pelita, untuk merapikannya, menambahi minyaknya, supaya kaki pelita bersinar terang. Selanjutnya, ia menuju kepada mezbah ukupan. Nanti dalam berita yang akan datang, kita akan melihat bahwa mezbah ukupan maupun ukupan yang dipersembahkan di atas mezbah ini melambangkan Kristus. Kristus sebagai ukupan bagi Allah, dilambangkan oleh ukupan, yang melaluinya kita dapat masuk ke dalam tempat maha kudus, tempat Allah berdiam. Di sanalah Ia bertemu dengan kita, dan di sanalah Ia bersekutu dengan kita. Di dalam tempat maha kudus, tempat kemuliaan hadirat Allah, kita bersekutu dengan Dia. Walaupun kita tahu apa yang terdapat di dalam tempat kudus, namun kita tetap perlu melihat mengapa harus ada sebuah tabir yang memisahkan tabut kesaksian yang di dalam tempat maha kudus dengan meja dan kaki pelita yang di dalam tempat kudus. Kita masih perlu menemukan mengapa harus ada sekatan yang membagi Kemah Suci menjadi dua bagian.

MELAMBANGKAN DAGING KRISTUS

Menurut Ibrani 10:20, tabir mengacu kepada daging Kristus. Ketika Tuhan Yesus wafat di kayu salib, tabir di Bait Suci terkoyak dari atas ke bawah. Ini berarti melalui kematian, tabir daging Kristus telah terbelah. Yang sulit dipahami ialah tentang tabir di dalam Kemah Suci dipasang pada empat tiang. Tiang-tiang berbeda dengan papan-papan. Kita telah melihat bahwa di sebelah utara, barat, dan selatan Kemah Suci terdapat empat puluh delapan papan. Di sebelah timur, bukan papan, melainkan tenda, disebut tirai pertama. Jadi, tabir di dalam Kemah Suci boleh disebut tirai kedua. Tirai pertama digantung pada lima tiang, sedangkan tirai kedua digantung pada empat tiang.

Telah kita tunjukkan bahwa keempat puluh delapan papan Kemah Suci bukanlah melambangkan Kristus. Paling-paling dapat kita katakan bahwa itu melambangkan perluasan Kristus, atau Kristus yang diperluas. Kita tidak bisa mengatakan bahwa papan-papan itu melambangkan Kristus secara langsung, karena papan-papan itu mengacu kepada kaum beriman yang merupakan perluasan Kristus. Demikian pula, keempat tiang yang di atasnya tabir yang kedua dibentangkan, bukanlah lambang Kristus. Meskipun tiang-tiang itu berbeda bentuk dengan papan-papan, tetapi terbuat dari bahan yang sama kayu penaga disalut dengan emas, dan juga, berdiri di atas alas perak. Di bawah masing-masing papan penegak terdapat dua alas perak yang ke dalamnya dua pasak menancap erat. Semuanya berjumlah sembilan puluh enam alas, dua untuk tiap papan. Keempat tiang itu masing-masing ditancapkan pada sebuah alas perak. Jadi, Kemah Suci mempunyai seratus buah alas perak.

Fakta bahwa tiang ditancapkan ke dalam alas perak adalah bukti lebih lanjut bahwa tiang-tiang melambangkan kaum beriman, bukan melambangkan Kristus sendiri. Kristus tidak memerlukan penebusan sebagai alas berdiri. Kaum berimanlah yang harus memiliki dasar berdiri teguh, dan dasar berdiri ini dilambangkan oleh alas perak yang mengacu kepada penebusan Kristus. Papan maupun tiang, keduanya melambangkan kaum beriman yang berdiri di atas penebusan Kristus.

PAPAN-PAPAN DAN TIANG-TIANG

Berhubung papan-papan dan tiang-tiang melambangkan kaum beriman, maka kita akan bertanya, apakah perbedaan antara tiang dengan papan. Tiang melambangkan kaum beriman, namun mengacu kepada yang luar biasa, bukan yang umum. Keempat puluh delapan papan mengibaratkan kaum beriman yang biasa. Menurut Galatia 2:9, Petrus, Yohanes, dan Yakobus adalah tiang utama. Murid-murid Tuhan Yesus yang luar biasa ini merupakan tiang utama dalam gereja. Dalam Wahyu 3:12, Tuhan menegaskan bahwa siapa yang menang, ia akan dijadikan tiang di dalam Bait Allah.

Dalam setiap gereja lokal harus ada tiang. Rumah Allah atau tempat kediaman Allah tidak hanya memerlukan papan-papan, juga tiang-tiang. Dalam Kemah Suci, jumlah tiang adalah satu per dua belasnya papan. Saya mengharapkan semua penatua menjadi tiang atau soko guru di dalam gereja. Sekarang kita menghadapi pertanyaan lain yang sulit: Mengapa tabir yang sebagai lambang Kristus, digantungkan pada tiang-tiang, yang melambangkan kaum beriman yang luar biasa? Menurut penggambaran dari lambang, tatkala Kristus menjadi daging, Ia berpaut pada kaum beriman. Mengapa demikian? Sekarang ada dua pertanyaan sulit yang harus kita jawab: yang satu mengenai mengapa di dalam Kemah Suci terdapat penyekat? Dan yang lain mengenai mengapa Kristus berpaut pada kaum beriman?

Keluaran 26:31, “Haruslah kaubuat tabir dari kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun”(Tl). Telah kita tunjukkan bahwa tabir sama dengan lapisan pertama penudung Kemah Suci. Ini berarti penyekat itu sama seperti langit-langit dalam bahan, warna, buatan, dan sulaman. Biru melambangkan surgawi (1Kor. 15:47-48), ungu melambangkan jabatan raja (Yoh. 19:19-22), kirmizi melambangkan pengaliran darah bagi penebusan (Ibr. 9:22; 1Ptr. 1:18-19), lenan halus pintalan melambangkan kehidupan Kristus yang halus yang terekspresi melalui penderitaan dan pengujian, dan kerub yang disulam melambangkan pekerjaan Roh atas Kristus agar kemuliaan Allah terekspresi atas ciptaan-Nya. Sewaktu Kristus di bumi, Ia memperhidupkan kehidupan insani yang sangat halus. Kehidupan ini diekspresikan melalui penderitaan dan pengujian.

Keluaran 26:32 melanjutkan, “Haruslah engkau menggantungkannya pada empat tiang dari kayu penaga, yang disalut dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, berdasarkan empat alas perak.” Dalam Alkitab, angka em-pat melambangkan makhluk ciptaan. Keempat tiang yang berdiri di atas empat alas perak melambangkan makhluk ciptaan yang tertebus.

Kita telah melihat bahwa tiang-tiang ini melambangkan kaum beriman yang unggul, sedangkan papan-papan melambangkan kaum beriman yang biasa. Lebih suka yang manakah Anda? Papan atau tiang? Sebagian besar kaum beriman lebih condong sebagai papan. Menjadi papan dalam Kemah Suci memang nyaman, sedangkan menjadi tiang itu sangat berbeda. Di mana saja papan ditempatkan, selalu nyaman saja, namun tiang menghadapi kesulitan-kesulitan. Jika Anda ingin menjadi tiang, Anda harus siap menghadapi kesulitan-kesulitan. Mula-mula tiang adalah kaum beriman yang biasa, sebagaimana yang dilambangkan oleh papan. Setelah mengalami penanggulangan dan sejumlah pemotongan dan tekanan, mereka menjadilah tiang. Jadi, membuat tiang memerlukan lebih banyak garapan daripada papan. Selain itu, membuat tiang memerlukan lebih banyak keahlian daripada papan. Melapisi papan dengan emas lebih mudah daripada melapisi tiang dengan emas. Tiang-tiang bukan hanya ditebus, tetapi juga ditanggulangi. Untuk menjadi tiang mereka telah banyak menempuh penanggulangan dan pengujian. Karena itu, mereka melambangkan kaum beriman yang kuat yang memikul kesaksian inkarnasi dan penyaliban Kristus (Gal. 2:9; Why. 3:12; 1Tim. 3:15).

Tiang-tiang memikul kesaksian inkarnasi dan penyaliban Kristus. Pertama-tama tabir mengacu kepada inkarnasi Kristus, yaitu Kristus, Firman hidup, menjadi daging (Yoh. 1:1, 14). Menurut Ibrani 10:20, daging inilah tabir. Akhirnya, melalui penyaliban, tabir ini terkoyak. Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, tabir terkoyak dari atas ke bawah. Fakta bahwa tabir terkoyak secara demikian menunjukkan bahwa koyakan tersebut dilakukan oleh Allah. Secara lambang, tabir berarti inkarnasi dan penyaliban Kristus. Inilah aspek-aspek utama dari Kristus yang dikenakan berpaut pada kaum beriman yang telah ditebus dan ditanggulangi.

PENGAIT-PENGAIT EMAS DAN ALAS-ALAS PERAK

Ayat 32 menyebutkan tiang-tiang memiliki pengait emas. Pengait-pengait emas ini melambangkan kekuatan pencengkam dan penghubung dari sifat ilahi. Hanya sifat ilahi saja yang dapat menghubungkan tiang-tiang dengan Kristus yang berinkarnasi dan tersalib. Melalui kekuatan pencengkam dari sifat ilahi, barulah kita dapat memikul kesaksian inkarnasi dan penyaliban Kristus.

Kita telah melihat bahwa keempat tiang berdiri di atas empat alas perak. Alas-alas ini melambangkan penebusan Kristus bagi ciptaan-Nya. Pada Kemah Suci terdapat seratus alas perak, yang sembilan puluh enam untuk papan, dan yang empat untuk tiang. Angka seratus terdiri atas sepuluh kali sepuluh. Sepuluh adalah angka keinsanian yang lengkap dan sempurna. Sepuluh kali sepuluh melambangkan penggenapan yang lengkap dan sempurna terhadap tuntutan Sepuluh Perintah Allah sesuai dengan apa adanya Allah. Angka sepuluh ini juga terlihat pada tempat maha kudus, yaitu kubus yang berukuran sepuluh hasta tiap-tiap rusuknya. Menurut Keluaran 38:27, perak untuk menebus jiwa orang-orang Israel sedikit lebih banyak daripada seratus talenta. Seluruh bani Israel adalah umat tebusan Allah. Berdasarkan alasan inilah, masing-masing orang wajib membayar sepotong perak sebagai lambang penebusan Allah. Setiap orang harus membayar jumlah yang sama. Dari perak yang terkumpul, seratus talenta digunakan untuk membuat seratus buah alas perak bagi Kemah Suci. Tak dapat disangsikan bahwa sebagai papan-papan untuk pembangunan tempat kediaman Allah, umat tebusan-Nya berdiri di atas penebusan Kristus yang teguh.

Setiap orang Israel mempersembahkan setengah syikal perak. Satu syikal sama dengan dua puluh gera, dengan sendirinya setengah syikal sama dengan sepuluh gera. Jadi, sekali lagi kita menemukan angka sepuluh yang melambangkan kelengkapan insani. Perintah Allah terhadap manusia pun sepuluh. Sepuluh Perintah Allah melambangkan tuntutan yang lengkap dan sempurna terhadap manusia. Karena umat Allah harus memikul tanggung jawab yang penuh dan yang mutlak memuaskan tuntutan Allah, maka masing-masing orang harus membayar sepuluh gera. Jumlah total perak ini sedikit lebih banyak daripada seratus talenta. Semua hal tentang angka sepuluh ini menunjukkan bahwa perintah, tuntutan, pertanggungjawaban, dan kepuasan yang sempurna, berkaitan dengan Kristus dan penebusan-Nya. Penebusan Kristus adalah di dalam angka sepuluh. Sepuluh terdiri dari dua kali lima, dengan lima sebagai angka pertanggungjawaban dan dua angka kesaksian. Jadi, dua kali lima berarti dua kali pertanggungjawaban bagi suatu kesaksian. Inilah Kristus dengan penebusan-Nya.

Tabir menutupi tabut kesaksian (Bil. 4:5). Mereka yang memasuki tempat kudus bisa melihat meja, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Namun tidak bisa melihat tabut kesaksian. Tabir bukan sekadar memisahkan tempat kudus dengan tempat maha kudus, tetapi juga menutupi tabut. Ini berarti sekatan antara manusia dengan Allah (Kej. 3:24). Kini kita sudah bisa menjawab pertanyaan yang kita ajukan pada permulaan berita ini: Mengapa diperlukan tabir pemisah di dalam Kemah Suci? Jawabannya ialah manusia yang telah jatuh sifatnya memang terpisah dengan Allah, karena itu, perlu dipisahkan. Kita masih berada di dalam sifat kita yang jatuh, maka terdapatlah sekatan antara kita dengan Allah. Manusia yang telah jatuh tidak boleh menghampiri tabut di dalam tempat maha kudus untuk berkontak dengan Allah, berbicara dengan Allah, atau bersekutu dengan Allah. Walaupun Allah mengasihi kita dan ingin bersekutu dengan kita, namun sifat kita yang telah jatuh menghalangi Dia untuk melakukan hal ini. Kita ini penuh dosa, Dia itu adil. Kita ini tidak benar, Dia itu benar. Allah yang adil dan benar tak mungkin bertemu dengan orang-orang yang tidak adil dan tidak benar. Pasti ada sekatan antara Allah dengan manusia, yaitu sekatan yang dilambangkan oleh tabir di dalam Kemah Suci.

Tabir ini terbelah pada saat wafatnya Tuhan (Mat. 27:51) sehingga jalan yang baru dan yang hidup terbuka bagi kita untuk berkontak dengan Allah (Ibr. 10:19-20). Setelah kita jatuh, kita memiliki sifat dosa. Karena alasan inilah, harus ada sekatan antara tabut yang berada di bilik dalam dengan bilik luar Kemah Suci. Sebagai akibat kejatuhan, manusia telah menjadi daging. Dalam Alkitab, daging kebanyakan merupakan istilah yang negatif; lazimnya ditujukan kepada manusia yang telah jatuh. Kita telah jatuh dan menjadi daging. Kini daging inilah yang menjadi tabir pemisah kita dengan Allah.

Tabut adalah perabotan yang berlainan kategori dengan meja, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Pada meja, kaki pel-ta, dan mezbah ukupan, kita menemukan sesuatu dari Allah, namun bukan Allah sendiri. Allah sendiri berada pada tabut di dalam tempat maha kudus. Walaupun manusia yang telah jatuh dapat menerima suplai Allah dan melihat terang-Nya, namun mereka tidak dapat berkontak dengan-Nya. Menerima suplai dan penerangan dari Allah adalah satu hal; berkontak langsung dengan Allah adalah hal lain. Misalkan seorang anak bersalah kepada ayahnya atas perkara tertentu. Meskipun ayahnya masih mau memberinya sesuatu untuk menyuplainya, namun ia tak dapat berhadapan dengan ayahnya sebelum rintangan, yaitu sekatan di antara mereka disingkirkan. Sang ayah mungkin berkata, “Ia adalah anakku, dan aku ingin menyuplainya dengan kekayaanku. Tetapi aku tak dapat melihatnya selama rintangan belum disingkirkan.” Ini melukiskan fakta bahwa Allah tak akan melihat kita dan bersekutu atau berbicara kepada kita muka dengan muka, sebelum daging kita diremukkan. Allah mengasihi kita, dan Ia pun mau menyuplai kita dengan kekayaan-Nya. Namun, selama daging kita belum diremukkan, Ia tak akan berbicara berhadap-hadapan dengan kita dari tabut. Ada tabir yang memisahkan kita, dan tabir inilah daging, yaitu manusia kita yang telah jatuh ini.

Problem daging, yaitu manusia kita yang telah jatuh ini, berbeda dengan problem dosa. Inilah masalah kita, manusia kita, yaitu apa adanya kita. Dosa-dosa kita telah diampuni, namun diri kita ini masih menjadi problem. Meski dosa-dosa kita telah dibasuh bersih, namun kita ini masih memiliki daging, dan daging ini belum diremukkan. Daging yang belum diremukkan inilah tabir.

Keluaran 26:33-34 mengatakan, “Haruslah tabir itu kaugantungkan pada kaitan penyambung tenda itu dan haruslah kaubawa tabut hukum ke sana, ke belakang tabir itu, sehingga tabir itu menjadi pemisah bagimu antara tempat kudus dengan tempat maha kudus. Tutup pendamaian itu haruslah kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus.” Kaitan yang padanya tabir tergantung adalah kaitan yang terdapat pada penudung bentangan pertama. Kita telah melihat bahwa bentangan ini terbuat dari sepuluh potongan yang masing-masing lebarnya empat hasta dan panjangnya empat puluh hasta. Lima puluh kaitan emas menghubungkan dua bagian utama dari penudung, masing-masing berukuran panjang empat puluh hasta. Dua puluh hasta dari bentangan ini menutupi tempat kudus, yang sepuluh hasta menutupi tempat maha kudus, dan sepuluh hasta berjuntai di sebelah belakang. Berhubung tenda, yaitu tabir, berada di bawah garis yang dibentuk oleh lima puluh kaitan pada langit-langit, maka kita tahu bahwa tempat maha kudus merupakan kubus yang tiap rusuknya berukuran sepuluh hasta. Sepuluh hasta dari bentangan pertama menudungi ruangan dari tabir sampai pada papan-papan penegak di bagian belakang Kemah Suci. Jadi, tempat maha kudus berukuran panjang, lebar, dan tinggi sepuluh hasta.

Fakta bahwa tempat maha kudus yang berupa kubus berukuran sepuluh hasta atas tiga rusuknya menandakan kelengkapan di dalam kelengkapan. Tempat kudus, yang berukuran dua puluh hasta kali sepuluh hasta kali sepuluh hasta, adalah dua kali lebih besar daripada tempat maha kudus. Tabirnya berbentuk bujur sangkar, sepuluh kali sepuluh hasta. Inilah bujur sangkar di dalam kelengkapan sepenuhnya.

DIGANTUNG PADA EMPAT TIANG

Pada butir ini kita perlu memperhatikan lebih lanjut makna dari tabir yang digantung pada empat tiang. Telah saya tunjukkan bahwa tiang-tiang ini melambangkan kaum beriman yang unggul, yaitu mereka yang tak hanya telah ditebus, melainkan juga telah ditanggulangi. Tabir melambangkan daging Kristus. Kita tahu bahwa Kristus dilambangkan oleh Anak Domba, manna, tabut, dan tanah permai. Kristus yang bagaimanakah yang dilambangkan oleh tabir? Anak Domba ialah Kristus yang menebus, manna ialah Kristus yang merawat dan yang menunjang, dan tabir ialah Kristus yang di dalam daging yang disalib bagi kita. Kristus yang di dalam daging telah mengalami inkarnasi dan penyaliban. Ya, Kristus sendiri telah terkoyak, terbelah. Namun sekarang, tiang-tiang, yakni kaum beriman yang unggul yang telah ditebus dan ditanggulangi, harus di dalam Kemah Suci, yaitu tempat kediaman Allah, memikul kesaksian tentang Kristus yang berinkarnasi dan disalibkan. Hanya dengan jalan ditanggulangi kita dapat menjadi tiang-tiang yang sedemikian ini. Ditanggulangi di sini berarti mengalami penyaliban, yaitu pengoyakan atas daging kita. Mereka yang menjadi tiang, kaum beriman yang unggul, di dalam gereja atau tempat kediaman Allah, harus menanggung kesaksian bahwa daging mereka telah disalibkan. Petrus, Yohanes, Paulus, dan kaum beriman pemenang sepanjang generasi dan abad telah menanggung kesaksian yang demikian. Jadi, mereka sebagai tiang menunjukkan bahwa apa adanya mereka berikut sifat mereka yang telah jatuh, atau persona dan daging mereka, telah dikoyakkan. Konsepsi ini amat dalam, dan pemikiran ini tak dapat direka.

Kemah Suci adalah tempat kediaman Allah. Namun, di dalam tempat kediaman Allah terdapat suatu pemisahan. Dalam rumah manusia penyekatan umumnya merupakan hal positif, namun di dalam tempat kediaman Allah, penyekatan merupakan hal negatif. Jadi, tabir bersifat negatif, karena menyembunyikan kehadiran Allah dari umat-Nya. Sebelum tabir terkoyak, hanya Imam Besar yang memenuhi syarat untuk memasuki tempat maha kudus satu tahun satu kali; ini membuktikan bahwa tabir adalah sesuatu yang negatif. Hari ini tabir ini adalah daging kita. Sebagian orang mungkin membantah bahwa tabir menandakan daging Kristus, bukan daging kita. Namun ketika Kristus, Firman Allah yang kekal menjadi daging, Ia menjadi sama seperti kita. Ini berarti daging yang dalamnya Kristus menjelma benar-benar menyatakan sifat kita yang telah jatuh. Ketika Ia disalib di kayu salib, sifat kita yang telah jatuh, yaitu manusia alamiah kita, daging, telah tersalib bersama dengan Dia. Ketika Dia terkoyak, daging kita pun terkoyak, kare-na daging kita terkoyak bersama dengan Dia. Ya, di dalam tempat kediaman Allah, Kristus telah tersalib, dan tabir telah terkoyak. Kini, tiang-tiang harus meneruskan memikul kesaksian ini. Terhadap Kristus, daging telah tersalib, dan tabir telah terkoyak. Namun terhadap kita, tabir mungkin belum terbelah. Karena pada Kristus tabir telah terkoyak, maka sekatan antara Allah dengan manusia telah terkoyak. Sekarang, siapa saja yang telah ditebus oleh Kristus dapat bersekutu dengan Allah secara langsung. Tetapi, banyak orang beriman yang masih belum mengalami penyaliban atas daging mereka. Sebab itu, daging mereka tetap merupakan penyekat di antara mereka dengan Allah. Tiang dalam tempat kediaman Allah harus memikul kesaksian bahwa tabir atau daging mereka telah terkoyak bersama Kristus. Dengan kata lain, mereka yang sebagai tiang di dalam gereja tidak boleh hidup berdasarkan daging mereka lagi. Sebaliknya, mereka harus memikul kesaksian bahwa daging mereka telah tersalib bersama Kristus. Inilah makna dari Galatia 5:24.

Bila kita meneliti tabir dari aspek pengalaman, kita akan melihat persatuan antara Kristus sebagai tabir dengan kaum beriman yang sebagai tiang. Ini berarti tiang sangat erat terkait dengan Kristus sendiri. Tabir digantungkan pada tiang, menunjukkan keterkaitan antara tabir dengan tiang dan kesatuan antara tabir dengan tiang. Boleh kita katakan bahwa tabir adalah pakaian, penutup dari tiang. Pakaian menandakan persatuan. Saat kita mengenakan pakaian pada tubuh kita, pakaian ini menjadi satu dengan kita. Demikian pula, tabir yang digantungkan pada tiang, menjadi satu dengan tiang. Oleh karena itu, tabir dan tiang adalah satu.

JALAN YANG TERBUKA

Makna yang lebih dalam dari persatuan, yaitu dapat atau tidaknya jalan terbuka bagi umat Allah untuk berkontak dengan Allah, tergantung pada pengalaman persatuan ini. Jika tabir terkoyak, niscayalah jalan terbuka bagi umat Allah untuk berkontak dengan Allah. Kalau tidak, jalan akan tertutup. Ini berarti setiap kali daging ditanggulangi, tentu tersedia jalan masuk bagi manusia yang telah jatuh untuk berkontak dengan Allah sambil bersekutu dengan Dia.

Sebelum tirai terkoyak, tidak ada jalan untuk masuk ke dalam tempat maha kudus. Imam-imam hanya boleh masuk ke dalam tempat kudus dan menjangkau meja, kaki pelita, dan mezbah ukupan, tidak boleh masuk lebih lanjut. Ketika tabir terkoyak, terbukalah tiga jalan masuk. Kita berkata demikian berdasarkan lokasi keempat tiang. Dua tiang berada pada tiap-tiap ujung, di samping papan-papan penegak, dan yang dua di tengah-tengah. Inilah yang membuat tiga jalan masuk ke hadapan Allah. Jika dua tiang tidak di samping papan-papan penegak, dengan sendirinya tidak ada penunjang sudut tabir. Secara rohani, tiga jalan masuk ini melambangkan Allah Tritunggal. Pada keempat sisi Yerusalem Baru, masing-masing terdapat tiga pintu gerbang. Pintu-pintu gerbang ini melambangkan Allah Tritunggal sebagai pintu masuk ke dalam kota kudus. Pintu-pintu gerbang ini dapat kita temukan dalam perumpamaan di Lukas 15: Putra sebagai Gembala, Roh itu sebagai perempuan yang menyalakan pelita, dan Sang Bapa menerima anak petualang yang pulang. Selain itu, dalam Efesus 2:18 tercatat bahwa di dalam satu Roh kita beroleh jalan masuk kepada Bapa melalui Kristus. Jadi, Allah Tritunggal sendiri dilambangkan oleh ketiga jalan masuk.

Sekali lagi kita melihat bahwa melalui lambang-lambang di dalam Kemah Suci, kita dapat mengenal Kristus secara rinci. Sulit bagi kita untuk menemukan kata-kata yang dapat mengungkapkan apa yang digambarkan oleh semua lambang ini. Sekalipun kita tidak mampu mengutarakan apa yang telah kita lihat dalam lukisan-lukisan ini, namun di dalam lubuk batin, kita bisa memiliki pemahaman yang tepat. Inilah yang menguatkan kita, yang merawat kita, dan yang membantu kita bertumbuh.