PELATARAN LUAR KEMAH SUCI (3)
Pembacaan Alkitab: Kel. 27:14-16, 19
Dalam berita ini kita sampai pada pintu gerbang pelataran luar Kemah Suci. Mungkin kita mengira bahwa pintu gerbang merupakan aspek pelataran luar yang paling sederhana. Namun, ketika kita mulai meninjau masalah ini, kita menemukan bahwa sesungguhnya tidaklah sederhana. Beberapa butir dalam berita ini mungkin saja konsepsinya sangat baru bagi kita.
XII. PENAMPILAN PINTU GERBANG
Hal pertama yang ingin saya lakukan ialah memberikan sebuah kesan menyangkut penampilan pintu gerbang. Dalam mempelajari lambang-lambang pada Perjanjian Lama, kita perlu menaruh perhatian terhadap isi maupun penampilan. Lambang-lambang pada Kitab Keluaran memiliki dua aspek ini isi dan penampilan. Contohnya, mezbah kurban bakaran memiliki penampilan ditambah kisi-kisi, gelang-gelang, dan kayu pengusung yang merupakan isi mezbah. Dalam berita-berita yang lampau mengenai pelataran luar, kita telah melihat isi dan penampilan pelataran luar.
Pintu gerbang pelataran Kemah Suci, memiliki penampilan khusus seperti pintu masuk sebuah bangunan pada umumnya. Pintu gerbang atau pintu depan suatu bangunan memiliki suatu penampilan yang menarik perhatian orang. Ini berlaku juga bagi Kemah Suci. Bila seseorang mendatangi Kemah Suci dari kejauhan, ia akan melihat pintu gerbang pelataran luar. Pada pintu gerbang ini terdapat sesuatu yang mewakili penampilan bangunan Allah. Kesan pertama yang diperoleh seseorang dari Kemah Suci dan pelataran ialah pintu gerbang dan layar pada kedua sisi pintu gerbang.
Tidaklah sulit untuk mengingat ciri-ciri bagian depan pelataran luar. Sisi depan lebarnya lima puluh hasta berikut sepuluh tiang. Pada kiri kanan pintu gerbang terdapat layar yang terbuat dari kain lenan halus sepanjang lima belas hasta. Keluaran 27:14-15 mengatakan, “yakni lima belas hasta layar untuk sisi yang satu di samping pintu gerbang itu, dengan tiga tiangnya dan tiga alas tiang itu; dan juga untuk sisi yang kedua di samping pintu gerbang itu lima belas hasta layar, dengan tiga tiangnya dan tiga alas tiang itu.” Ayat 16 menjelaskan pintu gerbang dengan tirainya: “Tetapi untuk pintu gerbang pelataran itu tirai dua puluh hasta dari kain biru, kain ungu, kain kirmizi, dan dari lenan halus yang dipintal benangnya tenunan yang berwarna-warna dengan empat tiangnya dan empat alas tiang itu” (Tl.). Dalam meneliti bagian depan pelataran luar Kemah Suci, kita perlu menaruh perhatian terhadap angka tiga dan empat. Pada tiap-tiap sisi pintu gerbang terdapat tiga tiang dan tiga alas tiang. Selanjutnya pada tiap-tiap sisi terdapat ruang yang ditutupi layar dari kain lenan sepanjang lima belas hasta. Angka lima belas terbentuk dari angka tiga kali lima, yang melambangkan tanggung jawab yang dipikul oleh Kristus sepadan dengan tuntutan Allah Tritunggal. Fakta adanya tiga tiang dan tiga alas pada setiap sisi melambangkan bahwa pangkal dasar dan berdiri tegak, kedua-duanya sepadan dengan Allah Tritunggal. Lagi pula kedua sisi pintu gerbang itu menandakan suatu kesaksian, karena angka dua adalah angka kesaksian.
Sebagaimana telah kita lihat, pintu gerbang itu sendiri panjangnya dua puluh hasta. Empat jalan masuk dengan empat bukaan, juga ada empat tiang dan empat alas tiang. Angka dua puluh di sini terbentuk dari empat kali lima, yang menandakan Kristus memikul tanggung jawab bagi manusia, makhluk ciptaan. Empat bukaan dengan empat tiang dan empat alas tiang melambangkan bahwa pintu gerbang itu terbuka bagi manusia dari empat penjuru bumi (lihat Kel. 27:2, 4).
Tirai itu sendiri menandakan Kristus Penebus sebagai jalan masuk kita ke dalam bangunan Allah. Biru melambangkan sesuatu yang surgawi, ungu melambangkan sesuatu yang rajani, kirmizi melambangkan penebusan, dan lenan pintalan halus melambangkan hayat insani yang imbang dan kuat. Tenunan melambangkan pekerjaan penganyaman Roh Kudus.
Di sini kita menekankan angka tiga dan empat. Pada setiap sisi terdapat tiga kelompok angka tiga: tiga tiang, tiga alas tiang, dan tiga celah. Di dalam pintu gerbang terdapat empat kelompok angka empat: empat tiang, empat alas tiang, empat celah, dan empat jalan masuk.
XIII. PENJELASAN GAMBAR
Kini saya meminta Anda menjelaskan gambar ini. Apakah makna dari bagian depan Kemah Suci dengan pintu gerbangnya? Sesungguhnya, untuk menjelaskan gambar ini tidak diperlukan banyak ketrampilan, karena abjad rohani itu justru terbentang di hadapan kita. Empat melambangkan makhluk ciptaan dan tiga melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Dua sisi masing-masing dengan angka tiga, melambangkan kesaksian. Pada pintu masuk kita dapati angka empat, melambangkan makhluk ciptaan. Pada setiap sisi kita jumpai angka tiga yang melambangkan Allah, dan di tengahnya kita jumpai angka empat yang melambangkan manusia, makhluk ciptaan. Ini berarti Allah Tritunggal diemban oleh manusia, atau manusia mengemban Allah sebagai suatu kesaksian. Jadi, penampilan bagian depan pelataran luar ialah manusia mengemban Allah Tritunggal sebagai suatu kesaksian. Ini sangat bermakna.
Kini kita harus melihat bahwa Allah Tritunggal yang kita emban sebagai suatu kesaksian telah terkait dengan manusia. Bahkan Dia ada di dalam manusia. Allah Tritunggal yang kita emban sebagai suatu kesaksian tak lagi sekadar angka tiga, tetapi angka tiga dengan angka empat, yaitu angka tiga terpadu dengan angka empat. Ini menunjukkan bahwa kita mengemban Allah Tritunggal di dalam manusia sebagai suatu kesaksian. Tak perlu disangsikan lagi bahwa angka pokok di sini ialah tiga, sedangkan angka empat merupakan pelengkapnya. Allah dengan manusia, atau Allah di dalam manusia, adalah Yang kita emban sebagai suatu kesaksian.
Kita harus maju lagi untuk mengetahui mengapa gambar semacam ini disajikan di bagian depan pintu gerbang Kemah Suci. Dalam hal ini, Yohanes 16:8-11 banyak membantu. Berbicara mengenai Roh realitas, ayat-ayat ini berbunyi, “Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” Yohanes 16 sudah tentu merupakan lanjutan dari pasal 14 dan 15, dan pasal 16 sendiri disusul pasal 17. Keempat pasal ini berjalan beriringan. Bila kita memiliki pengenalan yang memadai terhadap pasal-pasal ini, kita akan melihat bahwa tiga pasal ini melukiskan Allah sebagai suatu kesaksian. Lagi pula, Allah dalam pasal ini adalah Allah Tritunggal yang berbaur dengan manusia. Dalam bagian Injil Yohanes, Tuhan Yesus mengungkapkan Bapa, Putra, dan Roh. Ketiganya adalah satu. Semua orang yang percaya di dalam Kristus di sempurnakan menjadi satu di dalam Allah Tritunggal (Yoh. 17:23). Jadi, dalam pasal-pasal ini terlihat Allah Tritunggal terkait dengan manusia, dan manusia mengemban Allah Tritunggal sebagai suatu kesaksian.
XIV. PRINSIP MENDASAR INJIL
Bila kita memiliki pengalaman yang lebih dalam atas penebusan Kristus, kita tidak akan memberitakan Injil secara permukaan atau dangkal. Sebaliknya, kita akan memberitakan Injil dengan cara yang membuat para pendengar menyadari bahwa mereka perlu bertobat dan menjadi pengemban Allah Tritunggal sebagai suatu kesaksian, yakni mengemban Allah Tritunggal yang telah terkait dengan manusia. Dalam penginjilan kita perlu menekankan, “Apakah Anda mau bertobat dan percaya Tuhan Yesus? Maukah Anda menerima-Nya sebagai Juruselamat Anda? Bila Anda mau bertobat, percaya Tuhan, dan menerima-Nya sebagai Juruselamat, Anda harus menjadi orang yang mengemban Allah Tritunggal sebagai suatu kesaksian. Ketahuilah, inilah tujuan Anda menerima Injil.” Jika seseorang bukan bertobat dengan tujuan ini, maka sia-sialah ia mencoba memasuki pintu gerbang pelataran luar Kemah Suci. Ini adalah prinsip mendasar Injil.
Untuk percaya Tuhan Yesus dan memasuki-Nya, menurut Yohanes 15—17, ada syarat dan kondisinya. Namun, pada saat kita bertobat, jarang yang tahu syarat dan kondisi ini. Saya betul-betul tidak pernah diberi tahu tentang syarat dan kondisi ini. Karena kita kekurangan hal ini, maka kita perlu kembali untuk melengkapi mata pelajaran rohani yang seharusnya sudah kita pelajari pada masa-masa awal kehidupan kekristenan kita. Sesungguhnya, alasan inilah yang telah mendorong saya memberitakan prinsip mendasar Injil dalam berita ini.
Ada orang mungkin berpikir bahwa pengertian terhadap Injil sedemikian ini terlalu dalam bagi kebanyakan orang. Padahal ini sama sekali tidak dalam. Seandainya dipandang terlalu dalam, itu dikarenakan pemberitaan Injil zaman sekarang ini terlalu dangkal. Pemberitaan semacam ini merusak talenta atau kemampuan pemberian Allah guna memahami hal-hal rohani. Apa yang bisa dipahami oleh orang yang baru percaya Tuhan lebih banyak daripada yang kita ketahui.
Perubahan dalam pendidikan dasar tahun demi tahun telah membuktikan kemampuan atau kapasitas kaum pemuda untuk mengerti banyak perkara. Ketika saya masih di sekolah dasar, saya berpendapat bahwa persoalan-persoalan tertentu sangat sulit untuk dipahami. Tetapi anak-anak masa sekarang sudah mengikuti pelajaran di tingkat pertama yang tidak saya pelajari kecuali setelah di tingkat lebih tinggi. Hal-hal yang kita kira hanya dapat dipahami pada tingkat lanjutan di sekolah, ternyata telah dipelajari oleh anak-anak yang lebih muda. Dalam prinsip yang sama, sebagian besar penginjilan dewasa ini terlampau rendah dan memberikan pengertian Injil yang sangat dangkal kepada orang. Akibatnya, orang-orang yang baru bertobat hanya mengenal “ABC”-nya Injil. Bila Anda ingin mengajar mereka lebih banyak mengenai Injil, mereka akan berkata bahwa itu terlalu dalam, padahal yang kita sajikan sebenarnya hanyalah huruf-huruf tambahan demi melengkapi abjad, mungkin adalah huruf-huruf L, M, dan N. Penginjilan hari ini semata-mata memberikan tiga huruf awal yakni A, B, C dari abjad rohani. Tetapi pemberitaan Injil dalam Alkitab mengandung semua huruf dari ejaan rohani. Namun demikian, banyak orang Kristen yang belum juga memahami semua huruf dalam abjad. Secara rohani, boleh dikatakan mereka tidak mengenal apa yang dimaksudkan huruf-huruf X, Y, dan Z.
Injil yang mendasar meliputi masalah-masalah yang ditunjukkan oleh pintu gerbang pelataran Kemah Suci. Jangan mengira bahwa hal-hal ini bukan merupakan bagian dari Injil. Apakah tujuan seorang dosa bertobat, percaya Tuhan Yesus, dan menerima-Nya sebagai Juruselamat? Tujuan dari tindakan ini adalah untuk memasuki bangunan Allah. Namun, hampir-hampir tidak ada di antara kita yang pernah mendengarkan kata-kata ini ketika beroleh selamat. Kita tidak pernah diberi tahu bahwa sasaran penyelamatan ialah membawa kita ke dalam bangunan Allah. Di tengah-tengah orang Kristen hari ini konsepsi ini sangat kurang. Akan tetapi, apabila saya menginjil kepada orang-orang dosa, saya akan tegaskan kepada mereka bahwa mereka perlu memasuki bangunan Allah. Satu-satunya usaha Allah dalam jagad raya ini ialah memperolah sebuah bangunan. Inilah tujuan kekal Allah. Jadi, tujuan penyelamatan Allah ialah membawa kita ke dalam bangunan-Nya.
XV. SASARAN INJIL ALLAH
Apakah bangunan Allah hari ini? Gereja. Ekonomi, penyelamatan, dan penebusan Allah ialah membawa kita ke dalam bangunan-Nya, yaitu gereja. Ini bukan penegasan saya sendiri, melainkan penegasan dalam Alkitab. Kristus sendiri yang menegaskan ini; Ia berusaha membuat orang-orang untuk mengenal Dia. Menurut Matius 16, pada suatu hari Dia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Ketika Petrus mengakui bahwa Dia adalah Kristus (Tl.), Anak Allah yang hidup, Tuhan selanjutnya berkata-kata mengenai gereja: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Tujuan dari mengenal Kristus ialah supaya kita bisa dibangun ke dalam gereja. Lebih dari itu, dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa beribu-ribu orang telah diselamatkan demi tujuan dibangkitkan sambil membangun gereja. Kemudian dalam Surat Roma, Paulus menerangkan bahwa kita, orang-orang dosa ini, telah dibenarkan, dipindahkan dari Adam ke dalam Kristus, dan kini sedang hidup menurut Roh, supaya bertumbuh dewasa sehingga menjadi anggota yang memadai yang terbangun di dalam Tubuh. Inilah sebabnya pada akhir Surat Roma kita temukan gereja-gereja lokal, sasaran terakhir wahyu Allah, juga sasaran Injil Allah. Seluruh Surat Roma, menurut Paulus, adalah Injil Allah. Karena itu, memasuki bangunan Allah merupakan sasaran penyelamatan Allah.
Masuk ke dalam bangunan Allah berarti diselamatkan. Bila kita di luar bangunan Allah, berarti kita hilang. Tetapi, ketika kita bertobat dan percaya Tuhan Yesus, kita masuk ke dalam penyelamatan Allah, juga masuk ke dalam bangunan Allah. Sejak awal itulah kita harus menyadari bahwa masuk ke dalam bangunan Allah adalah mengemban Allah Tritunggal yang terkait dengan manusia sebagai suatu kesaksian. Inilah yang harus kita lakukan hari ini. Sekali lagi, konsepsi ini tidaklah dalam. Sebagai bagian dari kedua puluh enam huruf ejaan rohani, ini perlu kita pahami sejak awal. Namun, kita tidak diajarkan ini, dan juga tidak mempelajarinya.
XVI. ABJAD PENYELAMATAN ALLAH
Lima puluh tahun lebih yang lalu, saya mempelajari huruf-huruf Yunani, namun saat itu saya tidak mempelajarinya terlalu baik, sehingga saya menemui kesulitan. Misalnya, terhadap huruf gamma (?), yang mirip dengan huruf kecil y dalam abjad Inggris. Begitu pula dengan huruf besar Y dalam abjad Inggris agak mirip dengan upsilon (?) huruf besar dalam abjad Yunani. Banyak orang beriman dewasa ini mempelajari penyelamatan Allah tak beda dengan cara saya mempelajari abjad Yunani pada tahun-tahun itu. Di satu aspek, kelihatannya mereka mirip dengan orang-orang yang mengenal huruf Yunani; di aspek lain, mereka juga mirip dengan orang-orang yang mencampuradukkan huruf-huruf Yunani dengan huruf-huruf Inggris, yang menganggap y huruf kecil Inggris sebagai huruf gamma dalam abjad Yunani. Contohnya, mereka mungkin mengira bahwa aspek-aspek tertentu dari kebudayaan sama dengan penyelamatan Allah. Ini boleh kita bandingkan dengan mengatakan bahwa eta (?) huruf besar Yunani sama dengan H huruf besar Inggris, atau p huruf kecil Inggris sama dengan Rho (?) huruf kecil Yunani.
Mereka yang mencampuradukkan aspek-aspek kebudayaan dengan penyelamatan Allah, belum mempelajari seluruh abjad penyelamatan Allah. Mereka mengenal perkara pembenaran, kelahiran kembali, dan pengampunan. Tetapi mereka juga mengenal banyak hal mengenai kebudayaan mereka. Akibatnya, tanpa sadar mereka telah mencampuradukkan aspek-aspek tertentu kebudayaan mereka dengan penyelamatan Allah, dan mencampuradukkan kebudayaan manusia dengan penyelamatan Allah. Tidak hanya demikian, sewaktu orang berbicara mengenai aspek tertentu penyelamatan Allah, mereka merasa yakin bahwa mereka sudah mengerti; padahal mereka sama sekali belum mengerti, malah telah mencampuradukkan sesuatu yang berasal dari Allah dengan konsepsi alamiah mereka dan unsur-unsur kebudayaan yang telah menjenuhi mereka. Ini boleh diumpamakan dengan pikiran yang mengira nu (?) huruf kecil bahasa Yunani sama dengan v huruf kecil bahasa Inggris. Saya memakai ilustrasi huruf-huruf Yunani dengan huruf-huruf Inggris ini untuk menunjukkan betapa perlunya kita mengenal abjad penyelamatan Allah secara lengkap.
Yang kita lihat di depan pelataran luar Kemah Suci adalah manusia mengemban Allah Tritunggal yang terkait dengan manusia sebagai suatu kesaksian. Ketika seseorang bertobat, percaya, dan masuk ke dalam penyelamatan Allah, orang tersebut harus menyadari bahwa ia memasuki bangunan Allah, dan bangunan ini adalah kesaksian Allah. Seluruh ruang lingkup Kemah Suci, termasuk Kemah Suci itu sendiri dan pelataran luar adalah susunan Allah Tritunggal dengan umat pilihan dan tebusan-Nya. Karena itu, ini merupakan kesaksian Allah. Allah yang dipersaksikan, sedangkan kita yang mempersaksikan. Jadi, dari pihak Allah merupakan suatu kesaksian, dari pihak kita merupakan perkara mengemban kesaksian. Pengembanan Allah Tritunggal sebagai suatu kesaksian dilambangkan oleh pintu gerbang pelataran luar Kemah Suci.
Pintu gerbang atau pintu masuk suatu bangunan menyatakan tujuan bangunan itu. Misalnya, pintu masuk sebuah bank menunjukkan dengan jelas bahwa bangunan itu adalah sebuah bank. Demikian pula, pintu masuk sebuah stadion mempunyai penampilan yang berbeda, yang menunjukkan bahwa itu merupakan pintu gerbang stadion. Sama halnya dengan pintu masuk sebuah sekolah. Menurut prinsip ini, pintu gerbang pelataran luar Kemah Suci juga memiliki penampilan yang khusus, yang melambangkan manusia mengemban Allah Tritunggal yang terkait dengan manusia sebagai suatu kesaksian. Bila abjad penyelamatan Allah ini bisa berkesan pada kita, maka berita ini akan merupakan bantuan besar.
XVII. TEMBAGA, BAHAN DASAR
Setelah membahas penampilan pintu gerbang, mari kita melihat bahan dasar apa yang dipakai untuk menghasil-kan suatu penampilan yang sedemikian itu. Bahan dasar di sini ialah tembaga. Tiang-tiang maupun alas-alas tiang pelataran luar Kemah Suci semuanya dibuat dari tembaga. Tembaga, seperti telah kita terangkan, menandakan penghakiman Allah. Menurut Yohanes 16:8, bila Roh realitas itu datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Orang yang mau masuk ke dalam bangunan Allah haruslah dihakimi sepenuhnya. Ia harus melewati pintu gerbang tembaga, yaitu pintu gerbang penghakiman. Walaupun tiang-tiang diselubungi dengan lenan, tetapi lenan itu bukan bahan dasar bagi pelataran luar. Bahan dasarnya ialah tembaga, menandakan penghakiman kebenaran Allah.
Kita yang mau masuk ke dalam bangunan Allah harus menyadari bahwa segala apa adanya kita, segala milik kita, segala pekerjaan kita, dan segala yang sanggup kita lakukan, harus dihakimi. Ini berarti bahwa hal-hal yang baik maupun yang jelek harus dihakimi. Demikian juga, kebencian maupun cinta kasih kita, kecongkakan dan rendah hati kita, bersama semua kebajikan kita, harus melewati pintu gerbang penghakiman Allah.
Melewati pintu gerbang tembaga boleh diibaratkan melewati pos pengecekan di bandara. Siapa saja yang lewat di pos itu harus diperiksa. Begitu pula bila kita mau masuk ke dalam bangunan Allah, kita harus melewati pintu gerbang penghakiman serta mengalami penghakiman Allah atas segala apa adanya kita, milik kita, dan pekerjaan kita.
Ketika kita mendengar Injil dan bertobat, kita tidak diberi tahu apa-apa tentang ini. Saya tak pernah mendengar bahwa saya perlu dihakimi; bahwa apa adanya saya, kelakuan saya, tutur kata saya, pekerjaan saya, dan kecakapan saya perlu melewati penghakiman Allah. Akibatnya, saya membawa aspek-aspek kebajikan tertentu dari hayat alamiah saya dan kecakapan saya ke dalam apa yang disebut gereja. Saya percaya banyak di antara kita yang berbuat demikian. Bahkan ada yang membawa sejumlah perkara duniawi yang belum pernah dihakimi ke dalam hidup gereja. Ini berarti pintu gerbang mereka dibuat dari bahan lain dari tembaga yang sebagai bahan pokoknya. Pintu gerbang Kemah Pertemuan adalah pintu gerbang tembaga, pintu gerbang penghakiman. Bila kita sama sekali belum mengalami penghakiman ini, maka wajiblah kita mengejar ketinggalan kita atas pelajaran ini, seraya melewati pintu gerbang tembaga.
XVIII. MENGEMBAN KEBENARAN ALLAH
Ekspresi pelataran luar ialah lenan yang menandakan kebenaran Allah. Setelah dihakimi, kita mengemban kebenaran Allah. Jadi, yang kita emban bukanlah kebajikan alamiah atau kelakuan lahiriah kita, melainkan kebenaran Allah. Ini juga merupakan kebenaran dasar Injil. Dalam memberitakan Injil, kita perlu menyatakan, “Hai orang-orang dosa dan umat dunia, kalian perlu dihakimi. Bila sesuatu yang menyangkut diri kalian, yang baik maupun yang buruk, sudah dihakimi, kalian akan mengemban kebenaran Allah!”
Bagaimanakah kebenaran Allah dapat dikaitkan kepada kita? Menurut lambang dalam Keluaran 27, itu dikaitkan kepada kita oleh kaitan-kaitan dan batang penyambung yang dibuat dari perak. Ini menunjukkan bahwa dari penghakiman Allah timbullah penebusan Kristus, dan penebusan ini merupakan kekuatan penopang dan tenaga pengait. Bagaimana mungkin orang dosa dan musuh Allah dikaitkan kepada kebenaran Allah? Bagaimana mungkin kebenaran Allah terkait dengan kita? Kemungkinan ini hanya melalui penebusan Kristus, yang berasal dari penghakiman Allah. Sebagai orang yang telah jatuh, kita perlu dihakimi dalam setiap hal. Namun demikian, apa saja yang dihakimi Allah, Kristuslah yang menebusnya. Syukurlah, penghakiman Allah menghasilkan penebusan Kristus. Kalau kita mau menikmati penebusan Kristus, terlebih dulu perlu dihakimi Allah.
Makna tobat yang sebenarnya adalah dihakimi. Bertobat berarti menghakimi diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri. Bila seseorang bertobat, ia akan menyalahkan dirinya sendiri seraya menaruh dirinya ke bawah penghakiman Allah. Inilah pengalaman tembaga.
Berhubung Kristus menebus apa yang dihakimi Allah, maka penebusan ini mengaitkan orang yang dihakimi kepada kebenaran Allah. Tidak hanya demikian, penebusan juga mengaitkan kita satu dengan yang lain. Tiang-tiang di pelataran luar Kemah Suci masing-masing berdiri sendiri. Namun, dengan adanya batang-batang penyambung, tiang-tiang tersebut disatukan ke dalam satu unit. Haleluya, Kristus menebus apa yang dihakimi Allah. Dan apa yang ditebus Kristus, dikaitkan oleh penebusan ini kepada kebenaran Allah! Penebusan Kristus mengaitkan kita kepada kebenaran Allah serta kepada satu sama lain sesama kita. Jadi, di pelataran luar kita memiliki tiga perkara penting: penghakiman, penebusan, dan kebenaran. Kebenaran Allah adalah untuk ekspresi kesaksian-Nya.
XIX. PEMANDANGAN TEMBAGA
Dalam pengalaman kita, sewaktu memasuki pelataran luar Kemah Suci, tampaklah unsur yang paling menarik, yakni tembaga. Dan bila pandangan kita melayang ke seputar, tampaklah enam puluh tiang tembaga ditambah enam puluh alas tembaga. Selanjutnya, Keluaran 27:19 mengatakan “Adapun segala perabotan untuk seluruh perlengkapan Kemah Suci, dan juga segala patoknya dan segala patok pelataran: semuanya harus dari tembaga.” Patok digunakan untuk menahan pagar pelataran dan Kemah Suci. Ayat 19 menunjukkan ada dua perangkat patok, yang satu untuk Kemah Suci, yang lain untuk pelataran. Bahkan patok ini pun terbuat dari tembaga. Mezbah kurban bakaran dan bejana pembasuhan pun disalut dengan tembaga. Karena itu, orang yang masuk ke dalam pelataran luar akan melihat sebuah pemandangan yang serba tembaga.
Pemandangan yang serba tembaga ini menggambarkan penghakiman Allah. Penghakiman Allah kelihatan di setiap sudut pelataran luar. Segala sesuatu yang di dalam lingkungan bangunan Allah berada di bawah penghakiman Allah. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kita, harus diletakkan di bawah penghakiman Allah. Kepandaian kita dan semua kemampuan kita, apalagi kekurangan-kekurangan kita, harus dihakimi.
Telah kita tunjukkan bahwa perlengkapan-perlengkapan, perabotan-perabotan, dan patok di pelataran luar berikut tiang dan alasnya, semuanya dari tembaga. Patok-patok melambangkan kekuatan untuk berdiri dan menopang. Kekuatan ini diperoleh dari tembaga, dari penghakiman. Kalau ingin memiliki dasar yang kokoh dari bangunan Allah, kita harus berada di bawah penghakiman. Kalau ingin memiliki kekuatan berdiri, kita pun diharuskan berada di bawah penghakiman Allah. Agar kuat dan stabil, kita perlu dihakimi. Semakin kita berada di bawah penghakiman Allah, kita semakin stabil.
XX. MENSTABILKAN HIDUP GEREJA
Tahukah Anda mengapa sebabnya beberapa orang beriman datang ke dalam hidup gereja, dan tidak lama kemu-dian menjadi tidak stabil, lalu menghilang? Ketidakstabilan ini dikarenakan mereka tidak memiliki patok-patok tembaga. Mereka kekurangan penghakiman Allah yang menjadi kekuatan dan stabilitas mereka. Sejak hari pertama seorang beriman datang ke dalam hidup gereja, sudah sepatutnya ia menempatkan diri di bawah penghakiman Allah, agar ia kuat dan stabil di dalam gereja. Penghakiman benar-benar telah menstabilkan hidup gereja.
Ada saudara dan saudari mengkritik orang lain dan menyalahkan mereka. Terutama penatua-penatua gereja lokal sangat sering dipersalahkan oleh tukang-tukang kritik ini. Mereka yang suka mengkritik orang lain tidak berada di bawah penghakiman Allah. Seandainya kita dari hari ke hari berada di bawah penghakiman Allah, mustahil kita mau mengkritik orang lain. Kita tidak akan menghakimi atau menyalahkan orang lain. Orang yang hanya tahu menghakimi orang lain adalah orang yang belum dihakimi. Orang yang telah dihakimi, tidak akan menghakimi orang lain.
Saya boleh bersaksi dengan hati nurani yang bersih bahwa saya lebih banyak menghakimi diri saya sendiri daripada menghakimi orang lain. Ketika saya tergoda untuk menceritakan kekurangan-kekurangan orang lain, saya segera menemukan adanya perasaan dihakimi dalam batin. Perasaan dalam batin ini membuat saya sadar bahwa saya tidak lebih baik daripada orang lain, malah lebih jelek. Saya yakin banyak di antara kita yang memiliki pengalaman semacam ini. Dihakimi pasti membungkam mulut usil yang suka menghakimi dan mengkritik orang lain. Namun, tanpa kita berada di bawah penghakiman, kita mudah melontarkan kata-kata kritikan atau penghakiman terhadap orang lain.
Saya sarankan kalian mengamati pemandangan pelataran luar. Pemandangan serba tembaga, penghakiman Allah. Di sana sini kita temukan tembaga yang menandakan penghakiman; alas-alas tembaga, tiang-tiang tembaga, patok-patok tembaga, perabot-perabot tembaga, perlengkapan-perlengkapan tembaga. Tanpa penghakiman tidak akan ada tapal batas, dasar, kekuatan untuk berdiri dan stabilitas.
XXI. PENGHAKIMAN DAN PENEBUSAN
Sebagaimana telah kita lihat, penebusan Kristus berasal dari penghakiman Allah. Penebusan ditunjukkan oleh perak yang menyaluti pucuk-pucuk tiang. Semua pucuk tiang pagar pelataran luar disalut dengan perak. Pucuk-pucuk yang disalut perak melambangkan kemuliaan. Jadi, penebusan Kristus berasal dari penghakiman Allah, menjadilah mahkota, kemegahan, dan kemuliaan kita. Inilah makna pucuk-pucuk perak pada puncak tiang tembaga.
Selain itu, ada kaitan-kaitan, sambungan-sambungan, dan alas-alas yang terbuat dari perak untuk pasak-pasak tempat berdirinya papan-papan Kemah Suci. Ini menandakan bahwa penebusan Kristus menjadi pondasi yang kokoh bagi tumpuan segenap anggota bangunan Allah. Alangkah eloknya gambar yang terbentang di depan kita ini! Mula-mula kita melihat penghakiman Allah, kemudian melihat penebusan Kristus.
Penebusan Kristus menjadi mahkota, kekuatan penopang, dan tenaga penyambung kita. Ini juga menjadi pondasi tempat berdirinya para anggota bangunan Allah. Inilah penghakiman Allah yang mendatangkan penebusan Kristus, tembaga mendatangkan perak.
XXII. TEMBAGA, PERAK, DAN EMAS
Setelah tembaga dan perak, kita dapati emas. Melalui tembaga kita memasuki pelataran luar. Kemudian melalui perak kita memasuki tempat kudus. Di dalam tempat kudus, teristimewa di dalam tempat maha kudus, segala sesuatunya adalah dari emas. Ini menandakan bahwa sifat ilahi adalah bagian, kenikmatan, dan pengalaman kita. Segala sesuatu yang ada di dalam Kemah Suci adalah emas, papan emas, perkakas emas, meja roti sajian dari emas, kaki pelita emas, dan mezbah ukupan dari emas. Dalam tempat maha kudus kita temukan tabut dengan kerub dan perlengkapan emas. Segala sesuatu yang di dalam Kemah Suci adalah emas. Jadi, tembaga membawakan perak dan perak membawa kita ke dalam emas. Ini menunjukkan bahwa segala hal harus dihakimi agar ditebus. Setelah ditebus, kita dibawa ke dalam sifat Allah. Inilah nasib dan tujuan kita; ini pun merupakan bagian, kenikmatan, dan pengalaman kita. Begitu kita dibawa ke dalam emas, kita harus menetap di sini. Bahkan kita perlu menyentuh kedalaman tempat maha kudus, beserta dengan Allah, dan satu dengan Dia.