← Daftar isi Keluaran (7) · bab 15/17

PELATARAN LUAR KEMAH SUCI (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 27:9-19; 38:9-20; 40:33

VIII. MELAMBANGKAN LINGKUNGAN DAN BATAS BANGUNAN ALLAH

Pelataran luar menandakan lingkungan dan batas bangunan Allah. Kemah Suci tidak hanya melambangkan Kristus sendiri, tetapi juga melambangkan tempat kediaman Allah di bumi. Tempat kediaman Allah ada dalam empat tahap: Kristus, umat Israel, gereja, dan Yerusalem Baru. Kristus adalah tempat kediaman Allah, bangunan Allah. Dalam Perjanjian Lama, umat Israel juga merupakan tempat kediaman Allah. Kini dalam Perjanjian Baru, gereja adalah bangunan Allah, tempat kediaman Allah. Dalam kekekalan, Yerusalem Baru akan menjadi tempat kediaman Allah sampai selamanya.

Buku yang berjudul “The Vision of God’s Building” (Visi Pembangunan Allah) memperlihatkan bahwa seluruh Alkitab merupakan kitab pembangunan. Dalam dua pasal pertama Alkitab, Kejadian1 dan 2, kita menemukan bahan-bahan bangunan. Kejadian 2 menyebutkan emas, damar bedolah (semacam mutiara), dan batu krisopras. Dalam dua pasal terakhir di Alkitab, Wahyu 21 dan 22, kita menjumpai sebuah bangunan yang terbuat dari tiga kategori bahan ini. Di antara dua ujung Alkitab tersebut terdapatlah proses penggarapan bangunan Allah.

Demi tercapainya rencana untuk memperoleh sebuah bangunan kekal, terlebih dulu Allah menciptakan semua benda di alam semesta. Penciptaan merupakan pekerjaan persiapan. Pekerjaan utama Allah ialah pembangunan. Ketika kita membaca Alkitab, mungkin kita hanya memperhatikan penciptaan Allah, bukan pekerjaan pembangunan-Nya. Pemilihan, penentuan, pemanggilan, penebusan, dan penyelamatan Allah, semuanya adalah untuk pembangunan. Bahkan kelahiran kembali juga untuk pembangunan. Apa saja yang Allah kerjakan hari ini memberitakan Injil, membina kaum beriman, atau mendirikan gereja-gereja adalah bagian dari pekerjaan pembangunan-Nya. Dengan kata lain, aktivitas ini merupakan bagian dari pekerjaan utama Allah, yakni membangun. Allah memiliki satu sasaran, dan sasaran ini ialah membangun sebuah tempat kediaman universal bagi diri-Nya. Dalam Kemah Suci dalam Kitab Keluaran, kita memiliki satu lambang, satu model, dari bangunan ini.

Walaupun Kemah Suci itu sangat kecil; lebar sepuluh hasta, panjang tiga puluh hasta, tetapi unik dalam setiap aspek. Sulit sekali untuk mengubah sesuatu yang berhubungan dengan Kemah Suci. Tidak ada seorang manusia pun yang akan membuat desain semacam itu. Seperti telah kita tunjukkan bahwa Kemah Suci dibuat menurut gambar yang ditujukkan kepada Musa di atas gunung. Jadi, gambar Kemah Suci adalah gambar surgawi.

Kemah Suci sebagai tempat kediaman Allah mempunyai lingkungan dan batas. Lingkungan dan batas ini adalah pelataran luar. Saya lebih suka memiliki rumah yang mempunyai dinding tembok sebagai tanda batas pemilikan. Tempat tinggal semacam ini memiliki batas dengan lingkungan yang pasti. Dari Kitab Wahyu kita tahu bahwa Yerusalem Baru memiliki tembok setinggi seratus empat puluh empat hasta. Ini menunjukkan bahwa bangunan Allah itu mempunyai batas. Allah suka memiliki dinding yang menandai batas tempat kediaman-Nya.

IX. UKURANNYA

Panjang pelataran luar Kemah Suci seratus hasta. Angka seratus terbentuk dari sepuluh kali sepuluh. Ini berarti kelengkapan dari kelengkapan. Ungkapan ini dapat dibandingkan dengan ungkapan Raja dari segala raja atau Kidung dari segala kidung, yang menunjukkan sesuatu yang paling baik, paling tinggi daripada segala kelengkapan.

Lebar pelataran luar lima puluh hasta. Lima puluh ini terdiri dari sepuluh kali lima yang mengartikan tanggung jawab lengkap. Sepuluh itu angka kelengkapan, dan lima itu angka tanggung jawab. Tanpa lima jari pada tangan kita, sulitlah bagi kita untuk memikul tanggung jawab. Pada setiap tangan kita terdapat empat jari ditambah satu ibu jari. Angka empat berarti manusia ciptaan Allah, dan angka satu berarti Allah. Manusia ditambah Allah membuat kita mampu mengemban tanggung jawab. Sebagai kaum beriman, kita adalah manusia yang ditambah dengan Allah. Kini angka kita adalah lima.

Area pelataran luar berbentuk empat persegi panjang yang memiliki panjang seratus hasta dan lebar lima puluh hasta. Empat persegi panjang ini adalah setengah dari sebuah bujur sangkar yang sisi-sisinya berukuran seratus hasta. Setengah luas bujur sangkar melambangkan setengah dari unit yang utuh. Ini juga menyatakan bahwa ma-sih ada setengah lainnya yang diperlukan. Jadi, ini mengisyaratkan sebuah kesaksian.

Pelataran luar adalah sebuah kesaksian. Yang setengah sudah ada, sedang setengah lain akan tiba. Yerusalem Baru merupakan keutuhan yang lengkap, sebuah bujur sangkar bukan sebuah empat persegi panjang. Tentu saja, kita belum berada dalam zaman kegenapan itu. Kita masih berada dalam zaman kesaksian, yang tengah menantikan kedatangan setengah yang lain. Kita ini laksana setengah dari pasangan pengantin yang memerlukan kelengkapan dengan setengah yang lain.

X. LAYAR-LAYARNYA

Layar-layar pelataran luar menandakan Kristus sebagai kebenaran Allah, telah menjadi ekspresi Allah, batasnya (Kel. 27:9, 11-12, 14-15). Kristus sebagai kebenaran Allah merupakan ekspresi sekaligus sebagai batas bangunan Allah. Di sini terdapat tiga kata penting: kebenaran, ekspresi, dan batas. Kristus adalah kebenaran Allah, Kristus adalah ekspresi Allah, dan Kristus adalah batas bangunan Allah.

Kain lenan halus menandakan kebenaran Allah, dan kebenaran Allah ini sesungguhnya adalah Kristus sendiri. Kristus kebenaran Allah menjadi kebenaran kita. Kristus adalah kebenaran kita, dan kebenaran ini adalah kebenaran Allah. Kristus yang adalah milik Allah dan juga milik kita ini adalah ekspresi bangunan Allah.

Setiap kali Kemah Suci dengan pelataran luarnya didirikan di padang gurun, orang-orang akan melihat kain lenan putih sebagai ruang lingkup bangunan Allah. Ekspresi ini putih, cemerlang, bersih, dan teratur. Tidak ada campuran, pun tidak ada barang yang cemar. Kemah Suci dengan pelataran luar menggambarkan lingkungan yang penuh dengan kebenaran, yakni kebenaran Allah yang di perhidupkan oleh Kristus, dan kini juga diperhidupkan oleh gereja. Gereja hari ini harus menampilkan ekspresi yang tepat, yaitu ekspresi yang adalah Kristus sendiri sebagai kebenaran kita. Perbatasan bangunan Allah adalah ekspresi yang tepat, yaitu ekspresi yang adalah ekspresi bangunan Allah. Namun, masih sering terdapat kekurangan dalam perbatas-an semacam ini atau kekurangan ekspresi di antara umat Kristen hari ini, karena mereka kekurangan Kristus. Me-reka sangat kurang memperhidupkan Kristus yang mengekspresikan Allah di dalam kebenaran.

Dalam Efesus 4:24, Paulus menyinggung manusia baru. Manusia baru ini sesungguhnya adalah bangunan Allah. Kalau kita membandingkan Efesus 4:24 dengan Kolose 3:10, maka terlihatlah bahwa manusia baru akan diperbarui menurut gambar Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati. Gambar Allah merupakan ekspresi ganda kebenaran dan kekudusan. Manusia baru diperbarui di dalam gambar Allah yang mengemban ekspresi kebenaran dan kekudusan.

Pada Kemah Suci, ekspresi bangunan Allah adalah kebenaran di luarnya dan kekudusan di dalamnya. Di pelataran luar tergantung layar-layar kain lenan yang menandakan kebenaran Allah. Di dalam Kemah Suci ada emas. Papan-papan dan perabot-perabot dilapisi dengan emas. Emas menandakan sifat Allah yang kudus. Kudus adalah sifat Allah, dan benar mengacu kepada perbuatan Allah. Apa saja yang Allah katakan dan lakukan adalah benar. Semua tindakan Allah itu benar. Jadi, benar adalah ekspresi Allah dalam perbuatan-Nya, sedangkan kudus adalah ekspresi Allah dalam sifat-Nya.

Gereja hari ini sebagai bangunan Allah selayaknya memiliki ekspresi Allah yang ganda ini. Ekspresi lahiriah gereja seharusnya benar, sedang ekspresi di dalamnya seharusnya kudus. Pada lahiriah gereja, orang lain seyogianya bisa melihat ekspresi Allah di dalam kebenaran. Namun, di dalam gereja, segala sesuatu seharusnya emas; artinya, seharusnya ada ekspresi Allah dalam sifat-Nya yang kudus.

Lambang-lambang dalam Perjanjian Lama memberikan rincian yang menyangkut perkara-perkara rohani yang tak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Sebuah gambar sering jauh lebih baik daripada ribuan kata. Anda boleh saja men-jelaskan wajah seseorang dengan beribu-ribu kata, namun tidak mungkin menerangkannya secara memadai. Jauh lebih baik bila Anda menyodorkan gambar (foto) orang itu. Seprinsip dengan itu, kitab-kitab dalam Perjanjian Baru tidak mampu menjelaskan hal-hal rohani tertentu secara rinci. Untuk menelusuri rincian itu sangatlah membantu bila kita melihat perlambangannya. Dari lambang-lambang dapat kita temukan butir-butir yang tidak dapat kita temukan dalam Perjanjian Baru. Khususnya, pada Kemah Suci serta pelataran luar kita melihat ekspresi Allah yang merupakan kebenaran di luarnya dan kekudusan di dalamnya.

A. DARI LENAN

Lenan halus mengacu kepada kehidupan insani Kristus. Ekspresi kebenaran kita sepatutnya ekspresi kehidupan insani Kristus. Lenan yang digunakan untuk layar-layar adalah halus. Rata dan licin bukannya kasar. Bila kita membaca keempat kitab Injil, kita akan melihat bahwa kehidupan insani Kristus sungguh halus dan seimbang.

Lenan ini juga dipintal. Ini menandakan menerima penanggulangan karena penderitaan. Hasilnya, tidak kendur. Ketika Kristus hidup di bumi, Ia menerima penanggulangan karena penderitaan.

B. UKURANNYA

Kini kita melihat ukuran layar-layar. Panjang tenda pada tiap sisi ialah seratus hasta, lebar pada sisi belakang ialah lima puluh hasta, sedangkan panjang layar pada tiap sisi pintu masuk bagian depan ialah lima belas hasta. Dengan demikian secara keseluruhan ada dua ratus delapan puluh hasta. Ini sama dengan jumlah panjang sepuluh tenda Kemah Suci (Kel. 26:1-2). Fakta bahwa panjang layar sama dengan jumlah panjang sepuluh tenda di atas Kemah Suci menunjukkan bahwa yang menjadi perbatasan pelataran luar Kemah Suci adalah sama dengan penutup Kemah Suci. Begitu pula hari ini, ekspresi gereja di luar haruslah juga merupakan penutup gereja. Ekspresi dan penutup gereja, kedua-duanya adalah Kristus. Tenda di atas Kemah Suci maupun layar yang mengelilingi pelataran luar, keduanya dibuat dari lenan. Bedanya, layar yang mengelilingi pelataran luar tidak berwarna dan tidak disulam, sedangkan tenda di atas Kemah Suci disulam dan berwarna-warna.

Angka dua ratus delapan puluh terbentuk dari empat puluh kali tujuh. Dalam Alkitab empat puluh merupakan angka pencobaan dan pengujian, dan tujuh adalah angka kelengkapan zaman ini. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia telah mengalami pencobaan dan pengujian yang sangat hebat. Ia dicobai di mana-mana, dan Ia diuji oleh setiap orang. Pencobaan dan pengujian yang Ia alami benar-benar tujuh ganda, lengkap sepenuhnya; yakni empat puluh kali tujuh.

Menurut Keluaran 27:18; tinggi layar lima hasta. Telah kita tunjukkan bahwa angka lima berarti tanggung jawab. Pada layar kita menemukan dua hal penting: kebenaran yang ditunjukkan oleh lenan putih, dan tanggung jawab yang ditunjukkan oleh angka lima.

Kebenaran mustahil terpisah dari tanggung jawab. Tanpa memikul tanggung jawab, Anda tak mungkin benar. Anda dikatakan benar hanya setelah memikul tanggung jawab Anda. Kita memiliki tanggung jawab tertentu. Sebagai suami atau istri, orang tua atau anak, majikan atau pegawai, dan bahkan sebagai tetangga, kita semua harus memikul tanggung jawab. Bila kita ingin menjadi benar terhadap orang lain, kita harus memikul tanggung jawab serta menunaikannya.

Dalam pemulihan Tuhan, kita semua harus mengekspresikan Allah di dalam Kristus sebagai kebenaran. Kita baru bisa mengekspresikan Allah jika kita memikul tanggung jawab kita dalam berbagai aspek. Di mana saja kita berada, di sekolah, di rumah, dalam pekerjaan, dalam hubungan dengan tetangga, atau di antara sanak keluarga kita, kita harus memikul tanggung jawab. Bila kita ceroboh dan melalaikan tanggung jawab kita, niscaya kita tidak benar. Tanpa memiliki kebenaran, kita akan kekurangan ekspresi Allah di dalam Kristus sebagai kebenaran kita. Karena itu, kita harus mengekspresikan kebenaran dengan jalan menunaikan tanggung jawab kita.

XI. TIANG-TIANG DAN ALAS-ALASNYA

A. ALAS-ALAS TEMBAGA

Alas-alas tembaga (Kel. 38:29-31) menandakan Kristus yang telah dihakimi oleh Allah menjadi dasar pemisah bangunan Allah. Ini tidak mudah kita pahami. Kita telah mengetahui bahwa bangunan Allah memiliki batas, dan batas ini merupakan pemisah. Tidak hanya demikian, pemisah ini, batas ini, memiliki dasar alas-alas tembaga. Kristus yang telah dihakimi Allah kini telah menjadi dasar pemisah ini.

Layar lenan halus tergantung pada tiang-tiang tembaga, dan tiang-tiang itu berdiri di atas alas-alas tembaga. Karena itu, dari pelataran luar terlihat tembaga dan lenan. Tembaga menandakan penghakiman Allah dan lenan menandakan kebenaran Allah. Ini menunjukkan bahwa lenan adalah hasil dari tembaga. Berarti kebenaran Allah adalah hasil dari penghakiman Allah.

Telah kita tekankan fakta bahwa ekspresi gereja seharusnya kebenaran. Tetapi dari manakah datangnya kebenaran ini? Dari penghakiman Allah. Setiap aspek atas hidup kita perlu dihakimi Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan, tanpa dihakimi Allah, tidaklah benar.

Kristus yang hidup di dalam kita adalah Yang telah di hakimi oleh Allah. Alas-alas tembaga melambangkan Kristus ini. Kristus yang telah dihakimi Allah kini adalah hayat batiniah kita. Bila kita hidup berdasarkan Dia, segala yang kita kerjakan dan segala yang kita miliki dalam kehidupan sehari-hari kita niscaya mengalami penghakiman. Tutur kata kita dihakimi, sikap kita juga dihakimi. Ingatan, motivasi, pemikiran, dan kecenderungan kita, semuanya harus dihakimi Allah. Kristus yang hidup di batin kita adalah Kristus yang dihakimi.

Kristus yang sedemikian inilah dasar untuk batas pemisah kebenaran. Bila setiap perkara dalam kehidupan sehari-hari kita dihakimi Allah, hasilnya adalah kebenaran. Namun banyak saudara dan saudari di dalam Tuhan yang tidak menempuh hidup yang dihakimi. Mereka tidak menempuh hidup yang selalu di bawah penghakiman Allah.

Kita perlu mengalami penghakiman Allah atas tutur kata kita. Kapan saja saya membuka mulut berbicara, pembicaraan saya harus berada di bawah penghakiman Allah. Karena penghakiman Allah, perkataan-perkataan tertentu tidak boleh kita ucapkan. Akhirnya, saya mengucapkan halhal tertentu yang benar, yaitu yang telah melalui penghakiman Allah.

Tahukah Anda apa yang menjadi sumber gosip? Gosip datangnya dari tutur kata yang belum Allah hakimi. Misalnya saya sedang tergoda untuk melontarkan gosip mengenai seorang saudara. Jika saya berada di bawah penghakiman Allah, tidak mungkin hal itu terjadi. Orang yang senang mendengarkan gosip juga perlu mengalami penghakiman Allah. Penghakiman ini dinyatakan oleh alas-alas tembaga yang menopang tiang-tiang tembaga.

Saudara-saudara yang telah menikah perlu penghakiman Allah dalam cara mereka berbicara dengan istri-istri mereka. Kadang-kadang lidah mereka terlalu bebas sehingga mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan. Jika kita memperhidupkan Kristus, niscaya kita akan mengalami unsur penghakiman di dalam hayat-Nya, yang meletakkan kita di bawah penghakiman Allah. Kristus yang oleh-Nya kita hidup adalah Kristus yang dihakimi Allah, dan hayat-Nya adalah hayat yang dihakimi Allah.

Ada orang mungkin mengira bahwa penghakiman Allah sama dengan perasaan batiniah yang mencegah orang-orang yang beroleh selamat melakukan hal-hal tertentu. Perasaan ini adalah pelarangan, bukan penghakiman Allah. Jika kita memang bertumbuh di dalam Tuhan, kita akan menanjak dari tingkat pelarangan ke tingkat penghakiman. Kemudian kita akan memahami perbedaan antara pelarangan dan penghakiman.

Kita perlu mengalami Kristus sebagai kebenaran juga sebagai hayat yang telah dihakimi Allah. Haleluya, kita memiliki hayat yang benar juga hayat yang dihakimi! Hayat yang dihakimi ini menghasilkan kehidupan yang benar. Inilah pengalaman terhadap alas-alas tembaga sebagai dasar batas dan pemisahan bangunan Allah.

B. TIANG-TIANG

Ayat 11, “Pada sebelah utara: seratus hasta; kedua puluh tiang layar itu dengan kedua puluh alas tiang itu dari tembaga, tetapi kaitan-kaitan tiang itu dan penyambung-penyambungnya dari perak.” Ungkapan “dari tembaga” di kaitkan dengan tiang-tiang maupun alas-alasnya, sama seperti kata “dari perak” dipakai untuk menerangkan kaitan-kaitan maupun penyambung-penyambungnya. Jadi, alas-alasnya maupun tiang-tiangnya semua dibuat dari tembaga. Karena mengikuti terjemahan yang samar-samar, ada beberapa guru Alkitab mungkin berpikir bahwa tiang-tiang itu dibuat dari bahan yang lain, boleh jadi perak atau kayu penaga. Namun, baik perak maupun kayu penaga, tidaklah cocok dengan gambar, juga tidak serasi dengan makna rohani yang ada di sini.

Tiang-tiang tembaga menandakan Kristus yang telah dihakimi oleh Allah, menjadi kekuatan tumpuan dan penunjang atas pemisahan bangunan Allah. Kristus tidak hanya merupakan dasar pemisahan, juga merupakan kekuatan tumpuan dan penunjang pemisahan. Jadi, alas-alas dan tiang-tiang adalah Kristus. Tetapi Kristus ini bukan Kristus yang dipermuliakan, melainkan Kristus yang dihakimi. Hari ini kita perlu hidup menampilkan Kristus yang dihakimi ini. Untuk mengekspresikan Dia kepada orang-orang lain, terutama kepada orang-orang luar di dunia ini, kita perlu di hakimi atas kehidupan sehari-hari kita. Jika atas segala perkara kita dihakimi hari demi hari, kita akan mengekspresikan Kristus sebagai kebenaran Allah.

Perhatian saya di sini bukan sekadar memberikan ajaran dari lambang-lambang sebagai anjuran atau nasihat atas perbuatan yang baik. Tidak, di sini kita memiliki sesuatu yang lebih mendasar dan lebih penting. Bila kita memperhidupkan Kristus, kita akan menyadari bahwa hayat-Nya itu hayat yang dihakimi. Di dalam Dia terkandung unsur penghakiman. Sebab itu, semakin kita memperhidupkan Dia, semakin pula kehidupan sehari-hari kita dihakimi. Peng-hakiman ini memberi kita dasar dan kekuatan penunjang untuk mengemban kebenaran Allah sebagai ekspresi-Nya.

C. ENAM PULUH,

ANGKA TIANG-TIANG DAN ALAS-ALASNYA

Pada pelataran luar Kemah Suci terdapat seluruhnya enam puluh alas dan enam puluh tiang: dua puluh ada pada tiap sisi samping, sepuluh di belakang dan sepuluh di depan. (Yang di depan dibagi menjadi dua kelompok bertiga dan satu kelompok berempat). Angka enam puluh di sini menandakan Kristus dalam rupa manusia yang berdaging (Rm. 8:3, Yoh. 3:14) yang dihakimi Allah menurut kebenaran-Nya. Di sini terkandung angka enam. Kristus dihakimi oleh Allah dalam rupa manusia yang berdaging, atau dalam rupa daging manusia. Dengan kata lain, Kristus telah di hakimi sepenuhnya oleh Allah di dalam daging manusia. Ini bukan berarti Kristus memiliki daging yang telah jatuh. Tidak, Dia memiliki rupa daging yang telah jatuh, dan dihakimi di dalam daging ini. Ini juga merupakan unsur hayat Kristus yang dihakimi. Dalam hayat yang dihakimi ini terdapat unsur daging manusia yang dihakimi oleh Allah. Kita semua adalah manusia daging. Daging kita harus dihakimi, dan di dalam Kristus daging ini sudah dihakimi. Tatkala kita memperhidupkan Kristus, kita mengalami penghakiman Allah atas daging.

Angka enam puluh menyiratkan adanya angka enam. Tetapi kalau enam puluh tiang dan enam puluh alas kita jumlahkan, menjadilah angka seratus dua puluh. Ini berarti, akhirnya angka enam puluh itu ditelan habis oleh angka seratus dua puluh. Dalam angka seratus dua puluh tidak terlihat angka enam. Bagaimana angka enam tertelan? Ini terjadi karena berdiri tegaknya tiang-tiang pada alas-alas-nya. Yang penting di sini adalah andaikata kita memperhidupkan Kristus, maka hayat Kristus yang dihakimi akan membuat kita menjadi alas-alas dan juga tiang yang berdiri dan menunjang. Bila kita ini alas-alas tanpa sebagai tiang-tiang, kita tetap di dalam angka enam. Tetapi bila kita ini tiang-tiang juga alas-alas, kita tidak lagi berupa angka enam. Sebaliknya, angka enam puluh ditelan oleh angka seratus dua puluh.

Tatkala kita memperhidupkan Kristus, niscaya hayat-Nya yang sudah dihakimi akan meletakkan kehidupan sehari-hari kita di bawah penghakiman Allah. Hari demi hari kita akan dihakimi dalam setiap perkara. Kemudian kita akan memiliki alas-alas juga tiang-tiang untuk mengemban kebenaran Allah sebagai ekspresi-Nya. Ini bukan pengajaran yang bertujuan menasihati. Sebaliknya, ini merupakan wahyu dalam Alkitab yang menunjukkan kepada kita di mana letak keselamatan kita. Keselamatan kita berada di dalam Kristus yang dihakimi.

D. LUAS RUANG ANTARA DUA TIANG

SAMA DENGAN LUAS ATAP MEZBAH

Area antara tiang ke tiang adalah lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya. Ukuran ini seluas atap mezbah (Kel. 27:1). Bidang pada atap mezbah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya berukuran panjang lima hasta dan lebar lima hasta. Begitu pula area antara tiang ke tiang adalah lebar lima hasta dan tinggi lima hasta. Ini berarti area antara tiang ke tiang seimbang benar dengan area atap mezbah. Ini menandakan penebusan Kristus bagi kita mengimbangi tuntutan kebenaran Allah. Kita bisa memiliki “luas persegi” kebenaran Allah berdasarkan “luas persegi” penebusan Kristus. Penebusan Kristus mengimbangi tuntutan kebenaran Allah.

E. PUCUK, KAITAN, DAN PENYAMBUNG PADA TIANG

Semua pucuk, kaitan, dan penyambung pada tiang di buat dari perak. Ini menandakan bahwa penebusan Kristus dihasilkan dari penghakiman kebenaran Allah. Alas-alas dan tiang-tiang itu terbuat dari tembaga, tetapi pucuk-pucuk atau mahkota tiang-tiang disalut dengan perak, demikian juga kaitan-kaitan dan sambungan-sambungannya dari perak. Ini menunjukkan bahwa penebusan Kristus dihasilkan dari penghakiman kebenaran Allah. Penebusan ini ialah mahkota kita, juga kekuatan pemeliharaan (kaitan) kita, kekuatan penyambung kita. Kita, yang adalah tiang-tiang, dihubungkan bersama-sama oleh kekuatan penebusan Kristus yang merupakan hasil dari penghakiman kebenaran Allah.

Kita tidak seharusnya mengenal ini semua hanya sebagai suatu doktrin. Kita harus melihat bahwa kita bisa menjadi satu tak lain karena kita memiliki hayat yang telah dihakimi oleh Allah. Hayat ini pun merupakan hayat penebusan. Maka, kita memiliki penebusan yang berasal dari penghakiman kebenaran Allah. Penebusan ini lalu menjadi kekuatan penghubung kita sehingga kita tersambung satu dengan yang lain. Ini pun menjadi kemuliaan kita, mahkota kita, pucuk kita.

Jadi, pertama-tama kita dihakimi, kemudian kita ditebus, dan setelah itu disambung sehingga memiliki mahkota yang mulia. Pucuk-pucuk menandakan kemuliaan, sedangkan kaitan-kaitan menandakan kekuatan pemeliharaan, dan batang-batang menandakan kekuatan penghubung.

Masalah-masalah dalam rencana dan ekonomi Allah tidaklah sederhana. Misalnya, ekspresi gereja terhadap dunia bukanlah masalah yang gampang. Untuk mengerti ini kita memerlukan lambang-lambang dalam Keluaran 27.

Ada lagi masalah penting di sini. Bila kita ingin menikmati aspek “bagian dalam” Kemah Suci, kita harus mengalami semua rincian di pelataran luar. Tanpa masuk ke dalam lingkungan pelataran luar, tidak ada jalan untuk kita memasuki tempat maha kudus.

Selain itu, terlebih dulu kita harus menikmati Kristus dan mengalami-Nya sebagai kebenaran kita, kemudian baru kita dapat menikmati dan mengalami-Nya sebagai kekudusan kita. Inilah alasan 1Korintus 1:30 mengatakan bahwa mula-mula Allah membuat Kristus menjadi kebenaran kita, kemudian pengudusan kita, itulah kekudusan kita yang riil dan dapat dialami. Jadi, kebenaran dulu baru kemudian kekudusan. Kalau ingin masuk ke bagian Kemah Suci yang terdalam, tempat maha kudus, kita harus terlebih dulu menerobos tahap kebenaran Allah.

Akhirnya, apa yang kita emban dan apa yang kita ekspresikan di pelataran luar adalah lenan. Namun sebagai papan untuk tegaknya Kemah Suci, apa yang kita emban dan ekspresikan ialah emas. Kita semua ingin mengekspresikan emas. Namun, untuk mengekspresikan emas terlebih dulu kita harus menanggung lenan. Ini berarti kita harus memiliki ekspresi kebenaran di luar sebelum kita memiliki ekspresi kekudusan di dalam. Ekspresi di luar itu untuk orang-orang lain, tetapi ekspresi di dalam itu untuk Allah. Tanpa kekudusan, tak seorang pun melihat Allah. Inilah alasan Ibrani 12 berpesan kepada kita agar menuntut kekudusan, karena tanpa kekudusan kita takkan melihat Allah. Kekudusan adalah untuk kita bersekutu, berkontak dengan Allah, serta menikmati Allah. Kita memerlukan kebenaran di lahir dan kekudusan di batin. Kita memerlukan ekspresi kebenaran di luar terhadap manusia, dan ekspresi kekudusan di dalam terhadap Allah, sehingga kita boleh melihat Dia, menikmati Dia, menyesap Dia, dan bersekutu dengan Dia.