PELATARAN LUAR KEMAH SUCI (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 27:9-17; 38:9-20; 40:33
Dalam berita ini kita sampai pada pelataran luar Kemah Suci. Pelataran luar kelihatannya mudah dipahami, sebenarnya tidak demikian. Sekadar ingin mengerti ukuran dan material pelataran luar, memang tidak sulit. Namun, untuk mencari makna rohani pelataran luar Kemah Suci, kita akan menemukan bahwa ini tidak mudah.
I. GOLONGAN BAHAN
Sebagai bantuan untuk memahami makna rohani pelataran luar Kemah Suci, saya ingin menyajikan beberapa hal. Pertama, perlu diketahui bahwa bangunan Kemah Suci, perabot-perabot, dan pelataran luar, terdiri dari tiga pokok golongan bahan. Golongan pertama ialah logam, mineral (hasil tambang). Emas, perak, dan tembaga, merupakan barang-barang hasil tambang. Golongan kedua ialah tumbuh-tumbuhan. Hasil tambang tidak berkaitan dengan hayat, tetapi tumbuh-tumbuhan tergolong hayat. Kayu penaga dan lenan, kedua-duanya berasal dari hayat nabati. Golongan bahan ketiga berasal dari hayat hewani. Beberapa bahan seperti kulit kambing dan bulu kambing jantan berasal dari hewan daratan dan kulit lumba-lumba berasal dari hewan lautan. Bahan yang diambil dari hewan juga ada hubungannya dengan hayat. Sebagaimana telah kita tunjukkan di tempat lain, hayat nabati untuk keturunan, produksi, dan perkembangbiakan, sedang hayat hewani untuk penebusan.
Logam yang terbanyak dipakai dalam Kemah Suci adalah emas, perak, dan tembaga. Menurut urutan yang dicatat dalam Kitab Keluaran, emas disebut pada urutan pertama, lalu perak, dan kemudian tembaga. Urutan dari dalam ke luar adalah emas, perak, dan tembaga. Tetapi urutan dari luar ke dalam adalah tembaga, perak, dan emas. Pandangan Allah adalah dari dalam ke luar, tetapi pandangan kita adalah dari luar ke dalam. Maka, urutan dari pihak Allah ialah emas, perak, kemudian tembaga. Sebaliknya, urutan dari pihak kita ialah tembaga, perak, dan emas.
Sehubungan dengan bahan yang diambil dari hayat nabati, kayu penaga disebut lebih dulu dalam catatan, kemudian lenan. Namun, pada Kemah Suci dan perabotannya, kayu penaga tidak kelihatan; selalu disalut dengan emas atau tembaga. Lenannya saja yang kelihatan.
II. KEBENARAN DAN KEKUDUSAN
Jika kita meneliti Kemah Suci, perabot, dan pelataran luar secara keseluruhan, kita akan melihat bahwa seluruh situasi menunjukkan dua hal penting: kebenaran dan kekudusan. Mungkin Anda mengira bahwa Anda telah mengerti makna kebenaran dan kekudusan dalam Alkitab. Orang-orang Kristen sering berbicara mengenai kekudusan, banyak pula yang ingin menjadi kudus; tetapi mereka jarang membicarakan tentang kebenaran. Namun, dalam Alkitab, kebenaran tidak lebih sedikit disebut-sebut daripada kekudusan. Dalam beberapa ayat, kebenaran dan kekudusan disebut berbarengan. Sebagai contoh, Efesus 4:24 mencatat bahwa manusia baru telah diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Menurut Kolose 3:10, manusia baru diperbarui ke dalam pengetahuan yang sepenuhnya menurut gambar Allah. Gambar Allah itu berhubungan dengan kebenaran dan kekudusan. Pada titik ini, kita perlu mengajukan pertanyaan yang penting: Bagaimanakah kebenaran dan kekudusan itu berhubungan dengan gambar Allah. Terhadap kebenaran dan kekudusan kita tidak boleh menganggap diri kita sudah mengerti hal-hal ini karena telah bertahun-tahun membaca Alkitab. Sangatlah bermakna bahwa manusia baru diperbarui menurut gambar Allah, dan gambar ini berhubungan dengan kebenaran dan kekudusan Allah yang sesungguhnya.
Mari kita melihat beberapa ayat yang akan membantu kita menemukan makna kebenaran. Dalam 2Korintus 3:8-9, Paulus berkata bahwa ministri Perjanjian Baru adalah ministri Roh, juga adalah ministri kebenaran. Ministri Perjanjian Lama adalah milik ministri kematian dan penghukuman. Kematian berlawanan dengan Roh, dan penghukuman berlawanan dengan pembenaran. Namun demikian, di sini Paulus tidak menyebut bahwa ministri Perjanjian Baru itu adalah ministri pembenaran. Melainkan ia berkata bahwa ministri Perjanjian Baru adalah ministri kebenaran. Ministri Perjanjian Baru adalah ministri Roh, untuk hayat; juga adalah ministri kebenaran, untuk pembenaran. Kita harus bertanya apakah makna sebutan ministri ini adalah ministri kebenaran.
Dalam 2Korintus 3, mula-mula Paulus menyebut ministri Perjanjian Lama adalah milik ministri kematian, dan kemudian menyebutnya ministri penghukuman. Namun, menurut pengertian kita, penghukuman menimpa duluan baru kemudian kematian menyusul. Paulus malah mendahulukan kematian daripada penghukuman. Dalam Perjanjian Baru ada kebenaran kepada hayat, juga ada hayat mendatangkan kebenaran. Di satu aspek, kebenaran datang lebih dulu, kemudian disusul hayat; di aspek lain, hayat mendahului kebenaran, dan mendatangkan kebenaran. Jadi, menyinggung tentang kebenaran dan hayat ada dua aspek: ada aspek kebenaran kepada hayat, juga ada aspek hayat kepada kebenaran. Dalam prinsip yang sama, dalam Alkitab ada penghukuman kepada maut (kematian), juga ada maut mendatangkan penghukuman.
Bila seorang dosa datang ke hadapan Allah, orang dosa itu pasti dihukum, dan penghukuman ini mengakibatkan kematian. Inilah penghukuman kepada kematian. Ini merupakan aspek yang satu. Aspek yang lain adalah kita berada dalam kondisi kematian, dan kondisi ini mengakibatkan penghukuman. Inilah kematian kepada penghukuman. Dari aspek yang satu, ada penghukuman kepada kematian; dari aspek yang lain, ada kematian kepada penghukuman. Dalam 2Korintus 3, Paulus mengungkap dari titik tolak aspek kedua, yaitu dari kondisi atau keadaan kematian yang mendatangkan penghukuman.
Sebelum kita beroleh selamat, segala apa adanya kita dan segala yang kita perbuat adalah di dalam kematian. Itulah keadaan kita. Akibat dari keadaan demikian adalah penghukuman. Allah menghukum setiap aspek lama kita. Bahkan hari ini, bila kita masih terus hidup di dalam ciptaan usang, kita akan berada di dalam kondisi kematian, kondisi yang berada di bawah penghukuman Allah. Tetapi ministri Perjanjian Baru datang menyalurkan Roh itu ke dalam kita, yaitu melahirkan kita kembali dan membuat kita hidup. Karena itu, Roh yang menyalurkan hayat mendatangkan kebenaran.
Andaikan seorang berdosa bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, ia segera dibenarkan. Ia tidak lagi dihukum, karena kebenaran Allah telah diberikan kepadanya. Inilah kebenaran kepada hayat. Karena orang berdosa yang bertobat sedemikian ini telah menerima kebenaran Allah, dan telah dibenarkan, maka ia memiliki hayat; Inilah aspek yang satu. Nah, sekarang setelah memiliki hayat, jika ia hidup berdasarkan hayat ini, hasilnya ialah kebenaran. Inilah aspek yang lainnya, yaitu hayat kepada kebenaran. Ministri Perjanjian Baru tidak hanya membawa kita kepada Allah supaya kita dibenarkan, juga membawa kita ke dalam suatu keadaan, suatu kondisi, menempuh hidup dalam kebenaran. Ini berarti ministri Perjanjian Baru melayankan Roh itu kepada kita agar kita boleh menempuh hidup dalam kebenaran. Roh itu adalah suplai hayat dan kebenaran adalah ekspresi Allah.
Alkitab sering menyinggung tentang kebenaran hukum Taurat. Apakah kebenaran hukum Taurat itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengetahui apakah hukum Taurat itu. Dalam Pelajaran-Hayat Kitab Keluaran ini, kita sangat menekankan fakta bahwa hukum Sepuluh Perintah, menggambarkan apa adanya Allah. Sepuluh Perintah terdiri dari dua kategori. Empat yang pertama adalah kategori satu, sedangkan enam berikutnya adalah kategori lainnya. Empat yang pertama berhubungan dengan Allah: jangan memiliki ilah lain kecuali Allah sendiri, jangan memiliki gambar atau berhala; jangan menyebut nama Tuhan dengan sia-sia, dan harus memelihara hari Sabat sebagai tanda milik Tuhan. Keempat Perintah ini berhubungan dengan sifat kudus Allah. Jadi, empat Perintah yang pertama itu berhubungan dengan kekudusan Allah.
Keenam perintah terakhir berhubungan dengan penghormatan terhadap orang tua, pembunuhan, perzinaan, pencurian, kesaksian dusta, dan ketamakan. Menurut perintah-perintah ini, kita harus memiliki hubungan baik dengan orang tua kita, kita tidak boleh membunuh, tidak boleh berzina, tidak boleh mencuri, tidak boleh bersaksi dusta, dan tidak boleh tamak. Keenam perintah ini berhubungan dengan perbuatan Allah yang merupakan perkara kebenaran. Jadi, empat perintah yang pertama berhubungan dengan kekudusan Allah, dan enam perintah berikutnya berhubungan dengan kebenaran Allah. Atas sifat-Nya, Allah itu kudus; atas perbuatan-Nya, Allah itu benar. Ini akan membantu kita untuk mengerti, mengapa manusia baru itu harus di dalam gambar Allah yang berhubungan dengan kebenaran dan kekudusan. Dari aspek Allah, kita memerlukan kekudusan dan kemudian kebenaran. Namun dari aspek kita, terlebih dulu kita memiliki kebenaran baru kemudian kekudusan. Efesus 4:24 membicarakan dari pihak kita, yaitu manusia baru adalah menurut kebenaran dan kekudusan.
III. HIDUP DALAM KERAJAAN
Dalam Roma 14:17, Paulus berkata bahwa Kerajaan Allah adalah kebenaran. Kehidupan gereja yang wajar adalah kehidupan Kerajaan Allah, dan kehidupan kerajaan ini adalah kebenaran. Dalam Alkitab, kebenaran merupakan penggenapan sepuluh perintah. Dasar kita mengatakan ini terdapat dalam Roma 8:4. Ayat ini mengatakan bahwa bila kita hidup dan bertindak menurut roh, maka tuntutan hukum Taurat akan digenapi di dalam kita. Karena itu, kebenaran merupakan kegenapan hukum Taurat, dan hukum Taurat adalah gambar, ekspresi Allah. Ini berarti kebenaran adalah ekspresi Allah. Karena itu, kebenaran adalah gambar Allah. Bila kita bertingkah laku menurut roh, kita pasti takkan memiliki ilah lain kecuali Allah sendiri. Demikian pula, kita takkan memiliki berhala, takkan menyebut nama Allah dengan sia-sia, kita akan memiliki tanda bahwa kita ini milik Allah, dan kita akan memenuhi perintah-perintah lainnya. Inilah yang dimaksud memperhidupkan kehidupan yang benar. Kebenaran ini, kegenapan hukum Taurat, adalah ekspresi Allah.
Kehidupan yang memperhidupkan kebenaran adalah hidup di dalam kerajaan. Kehidupan semacam ini adalah kehidupan yang menerima pengendalian, pengaturan. Apakah kehidupan kekristenan Anda sehari-hari berada dalam kerajaan? Banyak di antara kita harus mengakui bahwa kehidupan sehari-hari kita bukanlah kehidupan yang berada dalam kerajaan atas setiap hal teratur, terkendali, dan tertib. Bagaimana mungkin kita berkata bahwa kehidupan kita berada dalam kerajaan, jika kita ceroboh atas barang-barang, tidak benar terhadap orang lain, dan sembarangan berbicara? Lagi pula, mungkin kita bersaksi dengan tidak tepat, dan mungkin juga tamak. Akibatnya, kita tidak benar. Tidak ada penertiban, pengendalian, atau pengaturan di dalam kehidupan kita. Kalau demikian, kita bukanlah umat yang berada dalam Kerajaan Allah.
Tahukah Anda apakah Kerajaan Allah itu? Kerajaan Allah berarti segala sesuatunya berada di bawah pengaturan, pemerintahan, dan penertiban Allah. Kerajaan ini adalah kebenaran, ekspresi apa adanya Allah. Mazmur 89:15 mengatakan bahwa kebenaran (keadilan) merupakan tumpuan takhta Allah. Takhta Allah berdiri di atas kebenaran. Selain itu, Kitab Yesaya mengatakan bahwa ketika Kerajaan Allah tiba, niscaya akan penuh dengan kebenaran. Dalam Injil Matius, yang merupakan kitab Kerajaan Surga, Tuhan Yesus menekankan hal kebenaran. Injil Matius mengatakan bahwa kita harus lapar dan haus akan kebenaran, bahkan menderita aniaya karena kebenaran (Mat. 5:6, 10 Tl.). Juga dikatakan bahwa kita harus terlebih dulu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33 Tl.). Ia pun berkata bahwa jika kebenaran kita tidak melampaui kebenaran ahli Taurat dan orang Farisi, kita tidak layak masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 5:20 Tl.). Menurut Kitab Wahyu, mempelai perempuan berhias dengan kebenaran (Why. 19:8). Kain lenan halus berkilau-kilauan yang dipakai mempelai perempuan akan menjadi kebenarannya. Jadi, penampilan mempelai perempuan yang telah siap sedia itu adalah kain lenan halus, kebenaran. Selain itu, 2Petrus 3:13 mengatakan bahwa kebenaran akan berdiam di dalam langit baru dan bumi baru. Di sana terwujud kerajaan, pemerintahan yang dibenarkan oleh Allah. Kondisi kebenaran ini adalah hasil dari hayat.
Hari ini di bumi, lepas dari umat Allah, tidak ada kebenaran yang mengekspresikan Allah. Tanpa ada sesuatu yang dibenarkan oleh Allah, tidak akan ada hasil dari hayat. Sebaliknya, segala sesuatunya dihukum. Ketika Allah menilik bumi, Ia menghukumnya, sebab seantero bumi berada di bawah maut. Penghukuman tiba karena maut merajalela di mana-mana. Tetapi, bagi umat tebusan Allah, gereja, situasinya sangatlah berbeda. Gereja dipenuhi dengan Roh hayat, dan Roh hayat ini mendatangkan situasi dan kondisi yang serba benar. Kondisi ini bisa dibenarkan oleh Allah dalam setiap aspek. Inilah kebenaran yang merupakan ekspresi Allah dalam hayat. Kondisi kebenaran semacam ini akan berkelanjutan sampai pada zaman yang akan datang. Sebagaimana telah kita tunjukkan, mempelai perempuan yang disiapkan bagi pernikahan Anak Domba itu akan mengenakan kebenaran. Seluruh penampilannya akan merupakan ekspresi hayat. Padanya sama sekali tidak ada kematian maupun hukuman, melainkan segalanya hayat dan kebenaran. Kebenaran itu menyatakan tergenapnya tuntutan Allah juga suatu pengaturan dan penerbitan di bawah pemerintahan-Nya. Sekali lagi, kebenaran ini adalah ekspresi Allah yang adil (benar).
IV. EKSPRESI ALLAH YANG BENAR
Bila seseorang mendekati Kemah Suci dari kejauhan, mula-mula yang ia lihat adalah kain lenan halus. Lenan halus ini melambangkan kebenaran, berarti bila seseorang mendekati Kemah Suci dari kejauhan, yang terlebih dulu ia lihat adalah kebenaran. Penampilan Kemah Suci dan pelataran luar terhadap mereka yang di luar adalah lenan halus, kebenaran. Demikian juga penampilan gereja yang sebagai Kerajaan Allah hari ini, adalah kebenaran; penampilan mempelai perempuan yang disiapkan bagi Kristus adalah kebenaran; dan langit baru, bumi baru pada kekekalan pun akan memiliki ekspresi kebenaran. Lenan itu diproduksi dari hayat tumbuh-tumbuhan, berarti adalah hasil dari hayat. Ini menandakan bahwa kebenaran adalah hasil dari hayat.
Bila orang lain berkontak dengan gereja, mengamati gereja, mereka seharusnya bisa berkata bahwa dalam hidup gereja segala sesuatunya tertib dan teratur, berada di ba-wah pengaturan dan pengendalian Allah. Ini berarti telah melihat kain lenan halus, telah melihat kebenaran. Inilah Kerajaan Allah dan ekspresi Allah yang benar.
Kemah Suci didirikan dalam lingkungan lenan putih, yaitu dalam lingkungan kebenaran, berarti kebenaran menjadi lingkungan Kemah Suci. Gereja pun berada di dalam lingkungan kebenaran. Inilah alasan Paulus menganjurkan gereja di Korintus untuk mengucilkan orang yang berdosa itu dari kehidupan gereja. Karena gereja adalah Kerajaan Allah, dan Kerajaan Allah adalah kebenaran, maka di dalam gereja tidak ada kekacauan. Gereja haruslah berada dalam lingkungan kebenaran.
Selain itu, kebenaran ini juga merupakan tapal batas gereja. Di luar gereja terdapat kekacauan, ketidaktertiban, dan kenajisan, tetapi di dalam gereja semuanya serba bersih dan sangat teratur. Di luar gereja tidak ada satu pun yang di bawah pemerintahan Allah, tetapi di dalam gereja segalanya di bawah kendali dan pengaturan Roh itu.
Ministri Perjanjian Baru adalah ministri Roh itu, yang melayankan Roh itu ke dalam kaum beriman. Roh ini membawa masuk suplai hayat yang menghasilkan kebenaran, sehingga kebenaran ini menjadilah ekspresi Allah yang benar.
V. KESAKSIAN KESELURUHANNYA
Pelataran luar Kemah Suci panjangnya seratus hasta. Seratus hasta ini dibagi menjadi dua puluh bagian oleh tiang-tiang. Jadi, mengenai panjang pelataran luar, kita memiliki angka seratus, dua puluh kali lima. Angka lima ini didapat dari seratus dibagi dua puluh. Dalam Alkitab, lima adalah angka tanggung jawab. Seratus hasta berarti tanggung jawab dua puluh kali. Lebar pelataran luar adalah lima puluh hasta, dibagi sepuluh tiang menjadi sepuluh bagian yang masing-masing berukuran lima hasta.
Pelataran luar bentuknya empat persegi panjang, yang ukuran panjangnya seratus hasta, dua kali ukuran lebarnya yang adalah lima puluh hasta. Luas keseluruhannya setengah ukuran sebuah bujur sangkar yang luasnya seratus hasta persegi. Setengah bujur sangkar menunjukkan bahwa yang setengah lagi akan menyusul (ukuran tabut juga setengah unit). Yerusalem Baru tidak berbentuk empat persegi panjang, tetapi bujur sangkar, sebab di dalam kekekalan segala sesuatunya telah rampung. Namun sekarang ini segala sesuatu belum digenapi. Masih ada yang akan menyusul. Area pelataran luar yang empat persegi panjang ini mempersaksikan hal ini. Ini pun menunjukkan bahwa dua paruhan itu diperlukan untuk membentuk satu unit yang utuh, tetapi sekarang ini kita hanya memiliki satu paruhan, dan sedang menantikan paruhan yang lain. Itu juga berarti bahwa apa yang kita miliki sekarang merupakan kesaksian dari keseluruhannya.
VI. MENJADI KEBENARAN ALLAH
Pada pelataran luar Kemah Suci terdapat sejumlah enam puluh bagian, dua puluh bagian pada tiap kedua sisi dan sepuluh bagian pada tiap sisi lainnya. Enam puluh adalah setengah dari seratus dua puluh, sama seperti enam adalah setengah dari dua belas. Di dalam Yerusalem Baru tidak ada angka enam. Sebaliknya, angka dua belas yang muncul di sana: dua belas dasar, dua belas pintu, dua belas mutiara, dua belas bulan, dua belas macam buah. Angka enam adalah angka manusia, karena manusia diciptakan pada hari keenam. Selain itu, angka Antikristus yang akan datang ialah enam ratus enam puluh enam.
Bagaimana mungkin manusia yang adalah angka enam menjadi kebenaran Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini, 2Korintus 5:21 merupakan sebuah ayat yang sangat penting: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah” (Tl.) Ayat ini tidak mengatakan bahwa kita menjadi kekudusan Allah atau kemuliaan Allah, melainkan kebenaran Allah. Ministri Perjanjian Baru melayankan Allah Tritunggal yang telah melalui berbagai proses sebagai Roh pemberi-hayat ke dalam kita, supaya muncul kondisi tertentu. Kondisi ini ialah kebenaran.
Tirai pada pelataran luar terbuat dari lenan halus, melambangkan kebenaran Allah. Kain lenan tergantung pada tiang-tiang, dan tiang-tiang bertumpu pada alas-alas. Dari kejauhan, orang akan melihat kain lenan. Tatkala orang itu masuk ia akan melihat mezbah kurban bakaran. Mezbah ini terbuat dari tembaga, yang besar sekali, lima hasta panjang, lima hasta lebarnya, dan tiga hasta tingginya. Tembaga yang disalutkan pada mezbah berasal dari dua ratus lima puluh perbaraan orang Israel yang telah diadili oleh Allah. Jadi orang Israel yang melihat mezbah akan segera mengenang penghakiman oleh kebenaran Allah. Tiang-tiang dan alas-alasnya di pelataran luar juga terbuat dari tembaga (Kel. 27:10).
VII. KEBENARAN TIMBUL DARI PENGHAKIMAN ALLAH
Fakta bahwa lenan putih tergantung pada tiang-tiang tembaga menunjukkan bahwa kebenaran Allah timbul dari penghakiman Allah. Dari luar, benda utama yang kita lihat adalah lenan. Tetapi bila kita masuk ke dalam pelataran, benda yang paling mencolok ialah tembaga: mezbah tembaga, tiang-tiang tembaga, semua mengacu kepada penghakiman yang adil oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa penghakiman yang adil oleh Allah mendatangkan kebenaran-Nya.
Bila dipandang secara menyeluruh, pelataran luar menandakan bahwa segala sesuatunya berada di bawah penghakiman Allah. Tetapi apa saja yang telah diadili Allah, menjadi benar. Dalam hidup gereja, segala sesuatu wajib berada di bawah penghakiman Allah: sifat kita, tindak tanduk kita, tutur kata kita. Tanpa kita berada di bawah penghakiman Allah, mustahil kita akan benar terhadap siapa pun. Bila Anda ingin menjadi benar terhadap orang tua Anda, Anda perlu berada di bawah penghakiman Allah. Bila Anda ingin menjadi benar terhadap suami atau istri Anda, Anda harus berada di bawah penghakiman Allah. Kebenaran kita, kain lenan putih kita, harus tergantung pada tiang tembaga.
Kita ini angka enam, angka manusia yang jatuh. Apa pun adanya kita, apa pun perbuatan kita, apa pun ucapan kita, dan apa pun yang kita miliki, semuanya serba angka enam, yang berada di bawah penghukuman Allah. Segala sesuatu yang kita miliki, temperamen baik maupun buruk, itu harus dihakimi, sebab kita telah jatuh. Mereka yang sombong maupun yang rendah hati harus dihakimi. Tak peduli kita ini orang yang bagaimana, kita perlu dihakimi. Mereka yang patuh maupun mereka yang tidak patuh semua harus dihakimi.
Bila kita ingin membenarkan diri, kita akan terbentur kesulitan. Mereka yang menimbulkan kesulitan atau kekacauan dalam gereja adalah mereka yang membenarkan dirinya. Jangan membenarkan diri sendiri, sebaliknya, kita harus menaruh diri di bawah penghakiman Allah. Dengan melakukan ini, takkan ada sengketa dengan orang lain. Asal kita berada di bawah penghakiman Allah, kita akan terhindar dari problem terhadap orang tua kita, suami atau istri kita, anak kita, atau terhadap kaum beriman dalam gereja. Jadi, di mana pun kita berada, takkan menjadi problem dalam penempuhan hidup gereja. Sebaliknya, kalau kita tidak di bawah penghakiman Allah, maka di mana saja kita berada, kita akan menemui kesulitan-kesulitan dalam hidup gereja. Ke mana saja kita pergi, kita akan menjadi masalah bagi gereja. Kita banyak bicara, akan menjadi masalah; kita berdiam diri, juga akan menjadi masalah. Demikian juga, baik kita ini cekatan atau lamban, sombong atau rendah hati, selalu menjadi masalah. Karena itu, kita perlu berada di bawah penghakiman Allah supaya memiliki lenan putih. Lenan hanya dapat digantungkan pada penghakiman Allah.
Mana mungkin orang-orang Kristen hari ini memiliki lenan putih tanpa mengalami penghakiman Allah? Ini mustahil! Kalau begitu, bagaimana dengan gereja? Gereja meliputi kita semua, harus dihakimi. Kita tak boleh menghakimi orang lain; diri kita sendirilah yang perlu dihakimi. Sekali lagi saya ulangi, keberadaan lenan putih tergantung pada penghakiman Allah. Lenan harus digantung pada tiang-tiang tembaga yang tertancap pada alas-alas tembaga.
Saya boleh bersaksi bahwa saya telah mengalami penghakiman Allah atas pembicaraan saya terhadap kaum beriman. Kadang-kadang, selesai berbicara dengan orang lain, saya dihakimi oleh Allah, karena berbicara secara alamiah, atau dengan sikap yang tidak seluruhnya murni. Lalu saya bertekad untuk berdiam diri tanpa mengucapkan satu kata pun. Namun, ketika saya berusaha berdiam diri, saya juga dihakimi dalam hal menjadi pendiam, karena pendiam saya itu alamiah. Dalam hal tertentu saya harus mengutarakan sesuatu, dan saya dihakimi karena tidak melaksanakannya. Jadi, bila saya berbicara atau berdiam diri dalam hayat alamiah, saya pasti mengalami penghakiman Allah. Saya mengetengahkan ini untuk menunjukkan bahwa penghakiman Allah bukan semata-mata suatu pengajaran, tetapi sangat menyangkut pengalaman.
Menjadi benar bukanlah hal yang sederhana. Hal menjadi benar tergantung pada penghakiman Allah. Renungkan kembali gambar tergantungnya lenan putih pada tiang tembaga di pelataran luar. Tanpa tiang tembaga, takkan ada tempat bagi lenan, kain lenan tak mungkin ada. Hal itu berarti tanpa penghakiman Allah, kita mustahil memiliki kebenaran. Tanpa dihakimi oleh Allah, kita tidak mungkin benar terhadap siapa pun. Kita hanya bisa selalu salah, karena kita ini angka enam, yakni angka kejatuhan.
Tempat kediaman Allah harus di dalam lingkungan kebenaran dan di dalam tapal batas kebenaran. Kebenaran ini bisa ada, hanya bila kita berada di bawah penghakiman keadilan Allah. Penghakiman Allah menghasilkan kebenaran yang merupakan ekspresi Allah, dan yang menjadi batas dan lingkungan tempat kediaman Allah.