← Daftar isi Keluaran (7) · bab 17/17

PELATARAN LUAR KEMAH SUCI (4)

Pembacaan Alkitab: Kel. 27:14-16, 19

XXIII. MENIKMATI SIFAT ILAHI

Pada Kemah Suci dan pelataran luar Kemah Suci terdapat dua aspek ekspresi Allah. Di luar, ekspresi Allah ialah kebenaran yang dilambangkan oleh lenan. Di dalam, ekspresi Allah adalah kekudusan, yang dilambangkan oleh emas. Bagaimanakah kita mampu masuk ke dalam ruang lingkup kebenaran Allah? Kita masuk ke dalam ruang lingkup ini hanya dengan melewati pintu gerbang penghakiman Allah. Di sanalah semua hal yang berkaitan dengan kita dihakimi. Setelah itu kita baru bersyarat mengemban kebenaran Allah sebagai ekspresi-Nya.

Selanjutnya, kita juga memiliki tumpuan, jalan, dan sarana untuk masuk ke dalam emas, ke dalam sifat Allah seraya menikmati sifat ilahi sebagai segala sesuatu kita. Sebagaimana telah kita tunjukkan, di dalam tempat kudus dan di dalam tempat maha kudus segala sesuatunya terbuat dari emas. Ini menandakan bahwa sifat Allah adalah segala sesuatu bagi kita. Dengan menikmati sifat ilahi, kita memiliki ekspresi batini Allah, yakni kekudusan yang adalah ekspresi sifat Allah, apa adanya Allah. Ekspresi Allah yang di luar berhubungan dengan perbuatan-Nya, tindakan-Nya. Ekspresi Allah yang batiniah berhubungan dengan apa adanya Dia. Berada di dalam tempat maha kudus berarti berada di dalam sifat emas Allah.

XXIV. PENGALAMAN DIHAKIMI

Saya berharap kita semua memahami perkara yang penting mengenai penghakiman Allah. Setiap orang yang mau memasuki bangunan Allah harus dihakimi. Terpisah dari pintu gerbang penghakiman, kita tidak bisa memasuki bangunan Allah. Melalui penghakiman Allah kita masuk ke dalam rumah-Nya.

Yohanes 16:8 mengatakan bahwa Roh realitas “akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman.” Ini berarti, Ia akan melaksanakan penghakiman Allah atas dunia ini secara positif, agar orang-orang itu tidak binasa, melainkan dapat diselamatkan. Bertobat yang sejati ialah berada di bawah penghakiman Allah. Setiap kali seseorang bertobat, berarti ia meletakkan dirinya di bawah penghakiman Allah. Hanya pengalaman dihakimi yang mampu membuat kehidupan rohani dan hidup gereja (church life) kita stabil.

XXV. KEHIDUPAN DI BAWAH PENGHAKIMAN ALLAH

Kehidupan insani yang tepat adalah kehidupan yang terus-menerus berada di bawah penghakiman. Bila ingin mengalami kehidupan pernikahan yang menyenangkan, suami maupun istri perlu menempuh hidup yang senantiasa dihakimi. Seorang suami yang selalu membenarkan diri sendiri, akan memiliki banyak masalah dalam kehidupan pernikahannya. Biang keladi perpisahan atau perceraian ialah membenarkan diri sendiri. Seorang suami yang merasa dirinya benar, tak bersalah atas segala hal, dengan sendirinya akan menyalahkan istrinya. Seandainya si istri mempunyai sikap yang serupa, ia tentu menyalahkan suaminya. Akibatnya, mereka takkan mungkin hidup bersama lebih lama lagi. Si suami membenarkan dirinya dan menyalahkan istrinya, sedang si istri juga membenarkan dirinya dan menyalahkan suaminya. Ini membuat kehidupan pernikahan yang menyenangkan menjadi mustahil.

Walaupun seandainya si suami menyalahkan dirinya dan merasa tidak ada kebaikan pada dirinya, bahkan maksudnya yang baik pun tidak diperkenan Allah. Karena belas kasih dan anugerah Allah, ia tetap berada di bawah penghakiman Allah. Dengan demikian ia akan berkata kepada dirinya sendiri, “Istriku salah atau tidak, itu bukan urusanku. Yang aku perhatikan ialah tetap tinggal di bawah penghakiman Allah.” Jikalau suami maupun istri keduanya mempunyai sikap yang seperti ini, maka mereka akan memiliki perasaan yang baik satu terhadap yang lain, sehingga akan menikmati kehidupan pernikahan yang sangat menyenangkan.

Dalam hidup gereja kita juga perlu berada di bawah penghakiman Allah. Bila kita membenarkan diri sendiri, mustahillah kita menetap di dalam hidup gereja. Semakin saya membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, mustahil saya hidup berdampingan dengan orang lain. Di dalam gereja, jalan Allah ialah penghakiman.

XXVI. MENGEKSPRESIKAN KEBENARAN ALLAH

Setelah kita berada sepenuhnya di bawah penghakiman Allah, kebenaran Allah akan terekspresi pada kita. Ini berlaku dalam hidup gereja maupun kehidupan pernikahan. Bila seorang saudara dengan istrinya sama-sama rela berada di bawah penghakiman Allah, dengan sendirinya kebenaran Allah akan ada pada mereka. Orang lain yang berkunjung ke rumah mereka akan melihat kebenaran Allah. Akan tetapi, jika suami membenarkan dirinya sendiri, dan istri pun membenarkan dirinya sendiri, maka para tamu yang berkunjung ke rumah mereka tidak akan melihat kebenaran Allah. Sebaliknya akan melihat ekspresi dua ego yang sangat keras.

XXVII. TEMBAGA, PERAK, DAN LENAN

Unsur-unsur pada pintu gerbang pelataran luar Kemah Suci adalah tembaga, perak, dan lenan. Pintu gerbang terdiri atas tiga unsur ini. Tembaga dipakai sebagai bahan dasar pada alas-alas tiang, dan tiang-tiang. Alas-alas sebagai dasarnya, sedangkan tiang-tiang sebagai penegaknya. Telah kita lihat bahwa pucuk-pucuk (pentol-pentol) di ujung atas tiang-tiang disalut dengan perak. Pucuk-pucuk ini merupakan mahkota yang menunjukkan penebusan memahkotai penghakiman Allah. Penghakiman Allah mendatangkan penebusan, sedangkan penebusan memahkotai penghakiman Allah dengan kemuliaan. Tidak hanya demikian, kaitan-kaitan yang dipakai untuk mengaitkan lenan pada tiangtiang dibuat dari perak, dan batang-batang penyambungnya pun dibuat dari perak. Dengan sarana kaitan-kaitan dan batang-batang penyambung, barulah tiang-tiang bisa berdiri tegak sebagai suatu kesatuan yang membentangkan lenan.

Telah kita tekankan fakta bahwa lenan menandakan kebenaran Allah. Karena itu, di sini kita menjumpai penghakiman Allah dengan penebusan Kristus sebagai mahkota yang menyangga kebenaran Allah. Inilah bagian depan bangunan Allah.

Tatkala orang-orang dosa di luar bangunan ini mendengar kabar baik serta bertobat, mereka akan mengalami teguran batiniah melalui Roh realitas. Roh realitas menggarap mereka dengan menegur mereka sehingga mereka menyalahkan diri mereka. Ini menuntun mereka untuk bertobat di hadapan Allah; mereka sadar bahwa mereka telah jatuh, maka mereka patut berada di bawah penghakiman Allah.

Pada kita, makhluk ciptaan yang jatuh, tidak ada sesuatu yang dapat dibenarkan oleh Allah. Karena alasan inilah dalam Kitab Roma, Paulus berkata bahwa tidak satu pun yang berasal dari daging dibenarkan di hadapan Allah (Rm. 3:20). Malahan seluruh ciptaan lama harus dihakimi dan ditetapkan hukumannya oleh Allah. Asal kita menerima penghakiman dan penetapan penghakiman ilahi ini, kita akan serentak mengalami penebusan Kristus. Kemudian kita akan melihat bahwa Kristus mati bukan hanya untuk dosa-dosa kita, tetapi juga untuk kita. Kalau kita menyadari ini, penebusan itu akan memahkotai kita dan mengaitkan kita kepada kebenaran Allah. Dengan kata lain, penebusan membawa masuk kebenaran Allah sebagai pengalaman kita.

Pertama-tama kita dihakimi oleh Allah, kemudian ditebus oleh Kristus. Kristus kini terbentang di atas diri kita sebagai kebenaran Allah. Kita mengemban kebenaran Allah sebagai ekspresi dan kesaksian Allah. Karena itu, kita inilah orang-orang yang dihakimi oleh Allah dan ditebus oleh Kristus. Bersama-sama dengan yang lainnya, kita inilah gereja yang menjadi kesaksian Allah. Kita tetap manusia, tetapi manusia yang telah dihakimi, tertebus, dan dikaitkan pada kebenaran Allah, dan yang mengemban Kristus sebagai ekspresi Allah. Kini kita mengemban Allah Tritunggal sebagai kesaksian kita.

XXVIII. MEMBERITAKAN INJIL TINGKAT TINGGI

Kita semua perlu belajar menginjil menurut apa yang diwahyukan dalam perlambangan pintu gerbang pelataran luar. Kita harus melatih iman kita untuk memberitakan Injil tingkat tinggi sedemikian ini. Jangan memberitakan Injil yang telah diturunkan sampai tingkat yang kita anggap sesuai standar pengertian orang-orang. Bukannya membawa orang-orang kepada standar Injil, banyak di antara kita yang malahan menurunkan pemikiran Injil ketika menyuguhkan kebenaran-kebenaran kepada orang yang belum percaya. Dulu bertahun-tahun saya melakukan ini ketika memberitakan Injil. Saya menyadari bahwa di antara para pendengar banyak yang memeluk agama non Kristen. Ada beberapa yang beragama Budha. Mereka tidak mengenal Allah, tidak tahu-menahu tentang Injil, bahkan tidak pernah mendengar nama Yesus Kristus. Mengingat situasi mereka, saya lalu tidak memberitakan Injil tingkat tinggi. Para misionaris di China pun mempraktekkan hal yang sama. Dalam lubuk hati mereka tahu benar bahwa orang-orang China tidak mampu memahami hal-hal mengenai penebusan, pembenaran, dan kelahiran kembali. Ini menyebabkan mereka menurunkan tingkat pemberitaan Injil mereka. Ini salah. Kita perlu menyadari bahwa di dalam manusia terdapat talenta atau kemampuan yang diciptakan oleh Allah untuk menerima Allah dan memahami Injil-Nya.

Orang-orang di kalangan pendidikan mengetahui bahwa anak-anak mempunyai ketrampilan untuk memahami sesuatu lebih banyak daripada apa yang diduga oleh guru-gurunya. Sebagaimana anak-anak mampu mengerti lebih banyak daripada yang diperkirakan guru-gurunya, begitu pula orang-orang yang belum percaya mampu mengerti lebih banyak tentang Injil daripada yang kita perkirakan. Ketika menginjil, kita harus percaya bahwa orang-orang yang mendengarkan Injil itu diciptakan oleh Allah dengan kemampuan dan talenta untuk menerima dan mengerti berita Injil. Kita perlu meningkatkan penginjilan kita. Kita harus memberitakan Injil tingkat tinggi, dan jangan merendahkan konsepsinya.

Adakalanya pemberitaan Injil kita terlalu sederhana. Bisa saja kita menekankan satu hal: “Tanpa Kristus, hidup adalah sia-sia dan hampa; tetapi ada Kristus, itulah realitas.” Kita perlu memberitakan Injil yang dipertinggi, Injil yang meliputi lebih daripada ABC nya penyelamatan Allah. Ini akan mengenyangkan rasa lapar dan meleraikan dahaga di batin manusia karena memang demikianlah mereka diciptakan oleh Allah. Ini pun akan membangkitkan rasa tertarik dalam pendengarnya untuk kembali lagi mendengarkan Injil. Kalau tidak, mereka akan mendengarkannya sekali saja. Setelah meneguk secangkir air tawar yang hambar, mereka tidak mau datang lagi.

Saya sarankan para pemimpin dalam gereja-gereja bersekutu tentang penyajian Injil, terutama mengenai bagaimana memperkaya dan mempertinggi berita-berita Injil kita. Saya tidak mengatakan kita perlu menyampaikan ceramah atau khotbah yang panjang lebar. Dalam berita yang agak singkat pun kita bisa menghidangkan sesuatu yang padat dan dipertinggi.

Manusia diciptakan untuk Allah dan di dalamnya terdapat ketrampilan untuk memahami perkara-perkara Allah, bahkan juga terdapat rasa lapar terhadap perkara-perkara ini. Sebab itu, dalam memberitakan Injil tingkat tinggi, kita harus percaya bahwa para pendengar memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang kita sampaikan.

Penginjil-penginjil seperti George Whitefield dan Charles Finney memiliki kemampuan untuk menggugah orang-orang kepada Allah. Whitefield berdoa setiap hari, kadang-kadang berjam-jam lamanya. Akibatnya, orang-orang yang datang berkontak dengan dia akan mengalami suatu kebangunan. Demikian juga Charles Finney. Pada suatu kali ia mengunjungi sebuah perusahaan. Begitu ia memasuki suatu ruangan dan menatap para pekerja, beberapa di antara mereka sudah mulai menangis. Inilah kekuatan penggugahan. Namun dalam berita ini saya bukan ingin berbicara mengenai kekuatan Injil, melainkan isi berita Injil. Kita perlu memperkaya dan mempertinggi kata-kata pemberitaan Injil kita.

XXIX. MENGENAL DAN MENGALAMI INJIL

Bila kita ingin memberitakan Injil tingkat tinggi, kita sendiri harus mengenal dan mengalami seluruh isi Injil. Khususnya kita harus mengenal kebenaran mengenai Injil yang dilambangkan oleh pintu gerbang pelataran luar Kemah Suci. Kita perlu mengetahui makna angka-angka tiga dan empat, serta bahan-bahan, unsur-unsur, tembaga, perak, dan lenan. Kita perlu mengenal penghakiman, penebusan, dan kebenaran, juga mengenal bahwa Allah Tritunggal adalah Allah yang menghakimi, Allah yang menebus, dan Allah yang benar. Pintu gerbang Kemah Suci menunjukkan bahwa Allah Tritunggal terkait dengan manusia. Keterkaitan ini mengandung unsur penghakiman, penebusan, dan kebenaran. Ketika kita memberitakan Injil, kita perlu mengumumkan bahwa Allah adalah yang sedemikian ini.

Dengan berita ini kita menyudahi pelajaran kita terhadap Kemah Suci itu sendiri. Sesudah ini kita akan melihat perkara menyalakan lampu dan jubah imam. Saya harap kita semua terkesan oleh gambar yang jelas mengenai bangunan Allah. Gambar ini akan lebih banyak membantu dibanding dengan beribu-ribu kata. Kita tak hanya perlu melihat gambar ini, lebih-lebih perlu terkesan dalam-dalam sehingga menjangkau keseluruhan diri kita. Kemudian kita akan memiliki pengertian yang memadai tentang tembaga, perak, emas, dan lenan. Haleluya atas gambar Kemah Suci, pelataran, dan pintu gerbang!

?