GEREJA DI DALAM ALLAH TRITUNGGAL (2)
Pembacaan Alkitab:
1 Tes. 1:1; 2 Tes. 1:1; Mat. 28:19; Kis. 19:5; Rm. 6:3; Gal. 3:27; Why. 1:11-12
Kita telah nampak bahwa 1:1 menunjukkan gereja ada di dalam Allah Tritunggal. Paulus menyinggung Allah Tri-tunggal dalam 2 Korintus 13:13, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Di sini terdapat tiga lipat berkat Allah Tritunggal. Berkat kasih, anugerah, dan persekutuan. Allah Tritunggal yang diwahyukan dalam ayat ini adalah Allah yang telah melalui proses. Allah yang di dalam-Nya gereja hari ini berada merupakan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
HASRAT DAN RENCANA BAPA
Apakah hasrat Allah Bapa itu? Menurut Perjanjian Baru, Bapa menghendaki banyak putra. Perkataan Bapa selalu tertuju pada keputraan. Untuk memperoleh putra-putra ini, Ia terus melahirkan banyak putra. Bagi-Nya, jumlah putra tidaklah perlu dibatasi. Semakin banyak semakin baik. Bapa menghendaki putra-putra, karena itu Ia terus melahirkan putra-putra.
Allah Bapa memiliki tujuan yang pasti dalam menghasilkan banyak putra. Ia bukan Bapa yang tolol, yang tanpa tujuan. Ia justru mempunyai tujuan dan rencana. Pemilihan dan penentuan Allah sejalan dengan tujuan-Nya. Pertama Ia memilih kita dan kemudian menentukan kita. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah pemrakarsa dan pemulai yang unik. Jadi, gereja di dalam Allah Bapa menyiratkan bahwa gereja ada di dalam tujuan, rencana, pemilihan, dan penentuan Allah. Tidak diragukan, gereja juga berada dalam panggilan Allah. Gereja di dalam Allah Bapa berarti juga gereja di dalam Dia yang adalah pemrakarsa dan pemulai.
Pengertian mengenai gereja di dalam Bapa ini bukan hanya masalah doktrin, tetapi sangat berkaitan dengan kita di dalam pengalaman kita yang riil. Problem di antara orang Kristen hari ini adalah mereka memiliki banyak tujuan dan rencana, banyak pemrakarsa dan pemulai. Ini tidak benar. Semua orang Kristen harus memiliki tujuan yang unik, yakni tujuan Bapa kita. Kita pun harus memiliki rencana yang unik dari Bapa. Ini berarti pemrakarsa dan pemulai hanyalah satu, yaitu Bapa. Kita tidak boleh memprakarsai atau memulai gerakan apa pun. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika semua orang Kristen menyingkirkan tujuan dan rencana mereka sendiri dan hanya memiliki satu pemrakarsa dan pemulai. Di antara kita akan terwujud keesaan! Tidak ada tempat bagi perpecahan apa pun.
PENGAKHIRAN SEGALA YANG NEGATIF,
ALAMIAH, DAN USANG
Kita telah melihat sedikit tentang arti gereja di dalam Bapa. Sekarang mari kita lanjutkan melihat apa arti gereja di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Kristus adalah perkara yang amat besar. Di dalam Kristus berarti tidak ada dosa, daging, ego, hayat alamiah, ciptaan lama, maut, dan Iblis. Jika kita di dalam Kristus, segala sesuatu yang negatif telah diakhiri. Dosa, maut, ego, daging, Iblis, dan ciptaan lama semuanya telah diakhiri. Bagi mereka yang ada di dalam Kristus, segala sesuatu yang bukan Allah, telah diakhiri.
Jika kita nampak apa yang telah diakhiri di dalam Kristus, kita akan tahu bahwa adalah memalukan bagi mereka yang menamakan dirinya gereja tetapi memakai embel-embel tertentu. Contohnya, di daratan China terdapat satu kelompok yang menamakan dirinya Gereja Presbiterian Amerika. Baru-baru ini di California Selatan saya melihat papan nama yang bertuliskan “Gereja China Taiwan di Orange County”. Seorang saudara belakangan ini memberi tahu saya tentang sekelompok orang yang menamakan diri-nya Gereja Mennonite China di San Francisco. Di dalam gereja tidak ada tempat bagi nama atau embel-embel yang seperti itu. Mereka yang menggunakan nama seperti itu menunjukkan bahwa dengan berbuat demikian mereka telah menyatakan dirinya bukan gereja yang di dalam Tuhan Yesus Kristus. Fakta mereka memakai nama-nama tersebut menunjukkan bahwa masih banyak perkara di antara mereka yang belum diakhiri.
Gereja di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ini menyiratkan bahwa bagi gereja, segala sesuatu yang alamiah, negatif, dan dari ciptaan lama telah diakhiri. Artinya, di dalam gereja tidak ada orang China atau orang Amerika, orang Jepang atau orang Korea, orang Perancis atau orang Jerman. Dalam gereja hanya ada tempat bagi Tuhan Yesus Kristus. Inilah makna gereja di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Kita yang di dalam pemulihan Tuhan menegaskan bahwa kita melaksanakan hidup gereja. Namun begitu kita menyatakan demikian, kita perlu memeriksa diri kita, apakah kita masih tetap berpegang pada kebudayaan atau watak kita. Mengenai ini, kadang-kadang kita mengharap orang lain bersimpati kepada kita. Adakalanya saudari-saudari berkata kepadanya, “Saudara Lee, jangan lupa bahwa kami ini saudari. Menurut Alkitab, kami, saudari, adalah bejana yang lemah.” Namun di dalam Tuhan Yesus Kristus tidak ada bejana yang lemah. Karena itu, kita tidak boleh mengharap orang bersimpati kepada watak alamiah kita. Asal Anda menghendaki orang lain bersimpati kepada Anda, itu menandakan bahwa dalam pengalaman Anda belum dikubur bersama Kristus. Agar gereja di dalam Tuhan Yesus Kristus secara riil, kita semua perlu diakhiri dan dikubur. Kita perlu mati dan kemudian ditaruh di dalam kubur. Inilah yang dimaksud di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Ketika berkata demikian, seolah-olah saya membandingkan Tuhan Yesus Kristus dengan kuburan? Dengarkan apa yang diucapkan Paulus dalam Roma 6:3: “Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Ayat ini jelas mengatakan bahwa dibaptis ke dalam Kristus adalah dibaptis ke dalam kematian Kristus. Kalau begitu, mana mungkin kita di dalam Kristus tanpa sekaligus di dalam kematian-Nya? Di dalam Kristus adalah dikuburkan, diakhiri. Senangkah Anda mendengar perkataan seperti ini? Entah kita suka entah tidak, di dalam Kristus ialah diakhiri, ini adalah satu fakta.
Ketika diadakan sidang atau pelatihan khusus, kaum saleh datang berhimpun dari berbagai kota dan daerah. Secara luaran, tidak ada orang yang mengutarakan kebanggaannya atas lokalnya, tetapi kemungkinan batin kita merasa bangga karena datang dari tempat tertentu. Dalam hati mungkin kita berkata, “Perlu kalian ketahui bahwa kami datang dari tempat tertentu. Tempat kami adalah yang terunggul.” Berpikir sedemikian ini berarti meninggikan diri. Bila kita mengklaim berasal dari tempat tertentu, berarti kita telah mengasingkan diri dari Tuhan Yesus Kristus. Gereja harus di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus saja.
SUATU PERMULAAN BARU
Ada satu alasan yang penting mengapa Paulus memulai Surat 1 Tesalonika seperti itu. Pada zaman Paulus, orang-orang Yunani kebanyakan angkuh dan jahat. Mereka mempunyai mitologi yang rumit, dan dengan sombong menyembah ilah palsu. Mereka sangat takhayul. Demikianlah mereka dihancurkan dan dirusak oleh mitologi, takhayul, dan filsafat mereka. Sama seperti filsafat Mesir, Babilonia, dan Persia, filsafat Yunani tidaklah murni bersih. Malah sebaliknya, mengandung unsur-unsur yang mencemarkan. Di satu pihak, filsafat mereka mengembangkan keasusilaan dan percabulan.
Sewaktu Paulus menyebut gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus, maksudnya ialah, “Kaum saleh yang terkasih di Tesalonika, kalian masih tetap orang-orang Tesalonika. Tetapi kalian harus nampak bahwa kalian sekarang telah percaya kepada Yesus Kristus, kalian sudah berbeda. Kalian bukan lagi di dalam mitologi atau filsafat. Sebaliknya, kalian justru di dalam Allah Bapa, karena kalian telah dilahirkan kembali dari Allah, dan telah memiliki permulaan baru. Kalian pun di dalam Tuhan Yesus Kristus, karena di dalam Dia kalian telah diakhiri di atas salib. Karena itu, kalian bukan lagi orang Yunani, dan kalian bukan lagi orang yang amoral. Kalian tidak sepatutnya di dalam filsafat atau mitologi, melainkan mutlak di dalam Allah Bapa. Tahukah kalian bagaimana kalian bisa di dalam Bapa? Kalian bisa di dalam Bapa karena kalian telah dilahirkan dari Dia. Demikianlah kalian kini di dalam Allah yang melahirkan dan yang telah menjadi Bapa kalian. Selain itu, kalian bukan lagi di dalam filsafat kalian, melainkan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Karena di dalam Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, maka kalian kini adalah umat yang kudus, umat yang disisihkan. Sejak sekarang dan seterusnya, hendaklah kalian menempuh hidup yang mutlak tersisih dari Tesalonika, dari Yunani, dari amoralitas serta dari mitologi dan filsafat Yunani. Kehidupan yang kudus ini, kehidupan yang tersisih ini, adalah bagi hidup gereja, sebab gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.”
Kita semua sangat perlu nampak bahwa gereja ada di dalam Allah Tritunggal. Saya ini telah dinaturalisasikan menjadi warga negara Amerika Serikat, dalam arti yang baik, saya ini telah sedikit banyak diamerikakan. Namun sebenarnya saya tidak memandang diri saya sebagai orang Amerika atau orang China, melainkan orang yang di dalam Tuhan Yesus Kristus. Apa pun status kita yang berkaitan dengan kewarganegaraan di bumi, kita semua perlu nampak bahwa kedudukan kita yang sejati ialah di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Bapa dan Tuhan Yesus Kristus menyiratkan bahwa kita telah mengalami kelahiran baru, permulaan baru. Kita memiliki sumber baru — Allah Bapa. Semua hal yang usang, hal yang negatif — dosa, daging, ego, manusia lama, hayat alamiah, Iblis, maut — telah diakhiri. Keberadaan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus mencakup pengakhiran semua hal ini. Ini berarti di dalam Tuhan Yesus Kristus tidak ada dosa, maut, atau Iblis. Di dalam Dia tidak ada dunia, daging, ego, atau ciptaan lama. Di dalam Allah Bapa kita telah dilahirkan kembali. Di dalam Dia kita memiliki sumber baru dan permulaan baru. Di dalam Tuhan Yesus Kristus segala sesuatu milik ciptaan lama telah diakhiri. Inilah makna yang terkandung pada kalimat di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Allah Tritunggallah gereja harus berada hari ini.
VISI PENGENDALI
Nampak gereja ada di dalam Allah Tritunggal merupakan dasar untuk menempuh kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Jika kita nampak ini, kita tidak akan mempedulikan ajaran-ajaran tentang memperbaiki kelakuan kita atau menjadi lebih etis. Asalkan kita nampak bahwa gereja adalah wujud konkret di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, niscaya kita akan paham bahwa kita telah mutlak dipisahkan oleh Allah sendiri dan kini diselubungi oleh Tuhan Yesus Kristus. Ini membuat kita menjadi umat kudus yang menempuh kehidupan yang kudus dan tersisih. Kehidupan semacam ini adalah bagi hidup gereja. Setelah nampak ini, barulah kita mampu memahami apa yang tertulis di dalam Kitab Tesalonika.
Saya yakin sepenuhnya, apabila Anda nampak apa yang dibahas dalam berita-berita yang berkenaan dengan gereja di dalam Allah Tritunggal, Anda tentu akan berbeda baik konsepsi maupun aktivitas Anda. Berita-berita tersebut menyampaikan sebuah visi yang akan menguasai pikiran kita, aktivitas kita, dan seluruh kehidupan kita. Kalau kita nampak wahyu bahwa gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, dengan sendirinya kita akan paham bahwa kita tidak boleh berpegang pada konsepsi tertentu atau melakukan hal-hal tertentu, sebab hal-hal itu duniawi, kafir, tidak kudus, tidak terpisah bagi Allah. Kita akan paham bahwa hal-hal itu bukan bagi gereja yang ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.
Saya dapat bersaksi bahwa saya menyukai ungkapan Paulus dalam 1:1: “Jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.” Alangkah menakjubkan bahwa gereja adalah sekelompok orang yang di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus!
Dalam 1Tesalonika 1:1 maupun 2Tesalonika 1:1-2, Paulus menyebutkan anugerah dan damai sejahtera setelah menyinggung tentang gereja di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Anugerah adalah Allah Tritunggal sebagai kenikmatan kita. Ketika kita berada di dalam Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, kita berada di tempat yang tepat untuk menikmati semua hal dari Allah.
BERKONTAK DENGAN ROH
Kita telah menunjukkan bahwa Bapa adalah Dia yang merencanakan dan memulai. Dia adalah pemrakarsa juga pemulai. Allah Putra merampungkan segala sesuatu yang dikehendaki, dirancang, diprakarsai, dan dimulai oleh Allah Bapa. Namun apakah fungsi Allah Roh? Roh bukan yang memulai, juga bukan yang merampungkan — Dia adalah pelaksana. Roh itu tidak melakukan apa-apa bagi diri-Nya atau oleh diri-Nya. Dia melaksanakan, menjalankan apa yang telah Bapa rencanakan dan mulai, serta apa yang telah Putra rampungkan. Kita semua harus nampak bahwa segala sesuatu yang telah Bapa rencanakan dan segala sesuatu yang telah Putra rampungkan kini ada di dalam Roh dan dengan Roh. Dalam pengalaman kita, Dia yang kita kontak adalah Roh. Roh ini adalah Putra dan di dalam Putra ada Bapa. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa Bapa di dalam Putra dan Putra kini adalah Roh pemberi-hayat yang berhuni di batin kita. Apa yang perlu kita lakukan adalah tinggal di dalam Roh dan hidup (bertindak) menurut Roh. Bertindak menurut Roh sebenarnya adalah bertindak menurut Allah Tritunggal.
Roh itu adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Roh itu adalah penerapan, pendekatan Allah Tritunggal kepada kita. Bagaimanakah Allah Tritunggal yang telah melalui proses mendekati kita dan mengontak kita? Ia melakukannya sebagai Roh itu. Bagaimanakah Allah Tritunggal yang telah melalui proses bisa diterapkan kepada kita dalam pengalaman? Dia diterapkan sebagai Roh pemberi-hayat. Roh itu bukan hanya Roh Allah dan Roh Kristus; Dia adalah Roh itu sebagai Allah dan sebagai Kristus. Dalam pengalaman kita hari ini, Allah Tritunggal justru adalah Roh pemberi-hayat itu sendiri. Maka, bila kita berada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, kita ada di dalam Roh itu. Karena Roh itu tersirat dan dapat dipahami dalam 1:1, kita mengatakan gereja berada di dalam Allah Tritunggal.