← Daftar isi 1 Tesalonika (1) · bab 7/14

GEREJA DI DALAM ALLAH TRITUNGGAL (1)

Pembacaan Alkitab:

1 Tes. 1:1; 2 Tes. 1:1; Mat. 28:19; Kis. 19:5; Rm. 6:3; Gal. 3:27; Why. 1:11-12

Baik 1Tesalonika 1:1 maupun Tesalonika 1:1 memberi tahu kita bahwa gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Saya ingin Anda memperhatikan dengan saksama ungkapan “jemaat (gereja) ...di dalam Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus”. Seandainya Paulus menulisnya dengan singkat dan hanya mengatakan gereja di dalam Allah dan Kristus. Bagi kita mengatakan gereja di dalam Allah dan Kristus itu mungkin sudah cukup daripada mengatakan gereja di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Penulisan yang lebih panjang tentang gereja mengandung tiga nama yang tidak terdapat di dalam penulisan yang lebih pendek: Bapa, Tuhan, dan Yesus.

BAPA, TUHAN, DAN YESUS

Dengan membaca Perjanjian Baru kita mengetahui bahwa hal mendasar pertama mengenai gelar ilahi adalah wahyu atas nama Bapa. Sewaktu Tuhan Yesus datang dan tinggal di bumi di dalam daging, apa yang dilakukan-Nya terutama mewahyukan nama Bapa kepada murid-murid-Nya. Contohnya, dalam doa-Nya kepada Bapa yang ada dalam Yohanes 17, Tuhan Yesus berkata, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia” (ayat 6). Tuhan juga berkata kepada Bapa, “dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya” (Yoh. 17:26). Mengenal Bapa adalah hal yang sangat bermakna. Hal mengenal Allah memanglah besar, namun lebih besar lagi hal mengenal Bapa.

Penting pula bagi kita menaruh perhatian yang cukup terhadap sebutan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama ini digunakan sebagai sebutan ilahi. Bukanlah hal sederhana bagi Yesus yang manusia menjadi Tuhan. Menurut Kisah Para Rasul 2, setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Kristus dijadikan Tuhan atas semuanya. Ini berarti seseorang, bahkan orang Nazaret, telah menjadi Tuhan atas semuanya. Sebutan Tuhan yang disandang Tuhan Yesus, menyiratkan inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Melalui proses yang demikian inilah manusia Yesus dijadikan Tuhan atas semuanya.

Sebelum inkarnasi, Kristus sebagai Allah memang Tuhan. Dia itu Tuhan, Pencipta. Namun hari ini, setelah menempuh proses dari inkarnasi hingga kenaikan, manusia Yesus ini telah dijadikan Tuhan. Gelar yang disandang Kristus dalam Perjanjian Baru ini memiliki makna yang kaya. Kristus bukan hanya Pencipta, tetapi juga Dia yang telah berinkarnasi, tinggal di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, telah disalib, telah bangkit, dan telah naik ke surga. Dengan penyaliban-Nya, Kristus telah merampungkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, menghancurkan Iblis dan maut, melenyapkan setiap sekatan antara Allah dengan manusia, juga semua sekatan antara manusia dengan manusia. Haleluya, bagi apa yang telah dirampungkan oleh penyaliban Kristus! Seperti halnya penyaliban, kebangkitan Kristus juga dalam. Kalimat pada lagu yang berjudul “Allah telah Melalui Proses”, mengatakan penyaliban mengakhiri, dan kebangkitan menunaskan. Setelah penyaliban-Nya mengakhiri ciptaan yang lama, kebangkitan Kristus menunaskan ciptaan yang baru. Kini sebagai Dia yang telah berinkarnasi, disalibkan, dibangkitkan dan naik ke surga, Yesus Kristus telah menjadi Tuhan atas semuanya. Seluruh proses ini dan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses ini tersirat di dalam gelar Tuhan.

Nama Yesus juga sangat berarti. Yesus berarti Yehova Penyelamat, atau Yehova keselamatan kita. Agar Yehova menjadi Penyelamat dan keselamatan kita, Ia perlu mengalami proses yang panjang.

Kristus berarti yang diurapi. Sebagai Kristus, yang diurapi, Tuhan Yesus adalah yang telah ditunjuk Allah untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya. Kristus telah diurapi, diamanati, dan ditunjuk untuk memenuhi tujuan Allah. Melalui tahap-tahap proses-Nya, Ia sebagai Kristus telah memenuhi amanat ini dan telah merampungkan tujuan Allah. Kini di dalam kebangkitan dan kenaikan, Dia adalah Tuhan kita Yesus Kristus.

Allah itu bukan sekadar Pencipta kita, Ia pun Bapa kita. Allah yang menjadi Bapa kita menyiratkan jauh lebih banyak daripada hanya sebagai Pencipta kita. Bagaimana mungkin Allah Pencipta menjadi Bapa kita? Dengan kata lain, bagaimana mungkin kita, makhluk ciptaan Allah menjadi anak-anak Allah Bapa? Allah sama sekali tidak bermaksud menjadi Bapa angkat kita, atau Bapa tiri kita, atau Bapa mertua kita. Sebaliknya, Dia itu Bapa kita di dalam hayat. Ini berarti kita telah menerima hayat Allah. Ini terjadi ketika kita dilahirkan dari Allah.

Kita menyatakan bahwa kita telah dilahirkan dari Allah, ini tidak seharusnya hanya doktrin belaka. Haleluya, kita adalah anak-anak Allah di dalam hayat! Setelah dilahirkan dari Allah, kini kita adalah anak-anak Allah di dalam hayat dan Ia benar-benar Bapa kita. Alangkah hebatnya perkara ini!

Kita harus sangat teliti dalam membaca Alkitab. Kalau kita teliti membacanya, kita akan menemukan bahwa 1Tesalonika 1:1 dan 2 Tesalonika 1:1 sangat mirip, tetapi tidak sepenuhnya. Satu Tesalonika 1:1 mengatakan, “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius. Kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu.” Dua Tesalonika 1:1 mengatakan, “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius. Kepada jemaat orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa kita dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.” Yang pertama menyebut “Bapa”, sedang yang belakangan “Bapa kita”. Lagi pula, pemberkatan dalam 2Tesalonika “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu”, terdapat dalam ayat 2 bukan ayat 1. Ini menunjukkan bahwa kata pendahuluan Paulus dalam 2Tesalonika sedikit lebih tegas daripada yang di dalam 1 Tesalonika. Sudah tentu Paulus bukannya ceroboh dalam menuliskan Surat Kirimannya. Segala sesuatu ditulisnya dengan tujuan yang pasti.

MENYIRATKAN ROH ITU

Kedua surat ini memberi tahu kita bahwa gereja tersusun dari manusia, dalam hal ini orang-orang Tesalonika. Tesalonika adalah kota yang jahat, dan penduduknya sebagian besar amoral. Namun demikian, beberapa orang yang tadinya amoral telah diselamatkan dan dilahirkan kembali dan menjadi bahan penyusun gereja di lokal mereka di dalam Allah Tritunggal. Karena alasan ini, Paulus menyebut gereja Tesalonika di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Melalui ungkapan ini Paulus menunjukkan Allah Tritunggal.

Ada orang, ketika membaca tentang gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah Tritunggal, mereka mungkin membantah, “Anda mengatakan bahwa 1:1 menunjukkan gereja di dalam Allah Tritunggal. Memang benar, ayat ini menyinggung Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Putra, tetapi tidak mengatakan tentang Roh. Jika ayat ini membicarakan Allah Tritunggal, di manakah Roh itu?” Di sini kita mendapatkan satu di antara banyak contoh atau bukti bahwa banyak hal yang tidak diutarakan Alkitab, kalaupun pentingnya tidak melebihi perkataan yang diutarakan, sedikitnya juga sama pentingnya. Di dalam kontak kita dengan kaum saleh, sering ada sesuatu yang sengaja tidak kita katakan kepada mereka, dan hal itu mungkin lebih penting daripada apa yang kita katakan. Mengapa Paulus tidak mengatakan “gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus?” Pada akhirnya kita akan nampak bahwa Paulus memiliki alasan yang baik dalam menyebut Bapa, dan Kristus Putra, tanpa menyebut Roh.

Yakinlah bahwa Allah yang disebutkan dalam 1:1 adalah Allah Tritunggal. Kita mengetahui ini dari fakta bahwa Paulus pertama-tama menyebut Bapa, yang pertama di antara Trinitas. Bila kita memiliki yang pertama, kita juga memiliki yang kedua, Putra dan yang ketiga, Roh itu. Fakta bahwa Paulus menyebut Bapa merupakan petunjuk kuat bahwa ia sedang memikirkan Allah Tritunggal. Selain itu, ungkapan “Tuhan Yesus Krsitus” menyiratkan Roh Kudus. Ungkapan “Allah Bapa” dan “Tuhan Yesus Kristus” keduanya menyiratkan Roh. Jadi, dalam 1:1 Roh itu telah tersirat di dalamnya dan bisa dipahami.

Kita harus yakin bahwa Allah yang disebut dalam 1:1 adalah Allah Tritunggal. Berada dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus menyiratkan bahwa kita pun berada di dalam Roh. Maka dalam 1:1 tersirat Allah Tritunggal. Ayat tersebut menunjukkan gereja ada di dalam Allah Tritunggal.

DI DALAM ALLAH TRITUNGGAL SECARA ORGANIK DAN DI DALAM HAYAT

Mengatakan gereja milik Allah atau milik Kristus adalah lebih sederhana. Mengatakan bahwa gereja ada di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus lebih dalam dan rahasia. Misalnya, mengatakan kita ini milik seseorang, ini adalah suatu perkara; tetapi mengatakan bahwa kita berada di dalam orang tersebut, adalah perkara yang mutlak lain. Secara insani, mengatakan milik seseorang itu memang mungkin, tetapi berada di dalam orang itu secara sungguh-sungguh jelas tidak mungkin. Hanya dengan cara organik dan hayat gereja baru bisa berada di dalam Allah Tritunggal. Kita tidak cukup memahami cara hayat, tetapi Allah mengerti sepenuhnya. Selain itu, hanya Allah yang dapat mengerjakan sesuatu secara hayat. Dalam cara yang organik dan hayat, Allah telah memungkinkan gereja berada di dalam Allah Tritunggal.

Jika gereja hanya semata-mata milik Allah, maka cukuplah Allah itu sebagai Pencipta kita saja. Tetapi agar gereja berada di dalam Allah, Allah perlu menjadi Bapa kita, dan kita perlu memiliki hubungan hayat dengan-Nya. Begitu juga, agar gereja berada di dalam Tuhan Yesus Kristus, Kristus harus menjadi Tuhan dan Yesus terhadap kita.

DISELUBUNGI OLEH KONSEPSI TRADISIONAL

Mungkin Anda telah berkali-kali membaca 1:1 tanpa melihat bahwa gereja ada di dalam Allah Tritunggal. Namun, fakta ini diwahyukan dalam Alkitab. Lalu mengapa tidak banyak orang Kristen yang nampak hal ini? Mereka tidak nampak gereja ada di dalam Allah Tritunggal karena mereka diselubungi oleh konsepsi-konsepsi tradisional tentang gereja. Kaum beriman mungkin akrab dengan ungkapan-ungkapan seperti gereja Allah, gereja Kristus, dan jemaat Allah, terutama nama-nama denominasi yang banyak digunakan hari ini. Tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa gereja ada di dalam Allah Tritunggal.

Penting untuk nampak bahwa Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa gereja ada di dalam Allah. Satu Tesalonika 1:1 memberi tahu kita bahwa gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Menyebut demikian berbeda dengan sekadar menyebut gereja ada di dalam Allah, sebab sebutan demikian ini mewahyukan bahwa gereja ada di dalam Allah Tritunggal. Menurut Alkitab, tidak pernah dikatakan gereja hanya ada di dalam Allah, kecuali gereja di dalam Allah Tritunggal.

PERBEDAAN ANTARA ALLAH

DENGAN ALLAH TRITUNGGAL

Sekarang kita perlu melihat dengan teliti perbedaan antara Allah dengan Allah Tritunggal. Hanya menyebut Allah, berarti menyebut Dia seolah-olah belum melalui proses. Namun, Allah Tritunggal menandakan Allah di dalam proses-Nya. Kejadian 1:1 mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Dalam ayat ini kita tidak dapat nampak Allah yang telah melalui proses, yaitu tidak terlihat Bapa, Putra, dan Roh. Tetapi dalam Perjanjian Baru ada wahyu penuh mengenai Allah Tritunggal.

Langkah pertama yang utama tentang wahyu Allah Tritunggal dalam Perjanjian Baru adalah wahyu tentang nama Bapa. Wahyu yang diberikan keempat kitab Injil kepada kita terutama bukan tentang Allah, melainkan tentang Allah Bapa. Tuhan Yesus telah lama mendampingi murid-murid untuk mewahyukan nama Bapa kepada mereka.

Sudah tentu Perjanjian Baru juga mewahyukan kepada kita bahwa Yesus adalah Putra Allah. Pada suatu hari, menurut Matius 16, Tuhan Yesus mengajak murid-murid-Nya meninggalkan Yerusalem dan suasana agamisnya, menuju Kaisarea Filipi, dekat perbatasan utara Tanah Kudus, di kaki Gunung Hermon dan di sana Ia ditransfigurasi (Mat. 17:1-2). Kaisarea Filipi berjauhan dengan kota suci berikut Bait Sucinya, di mana suasana agama Yahudi yang usang telah memenuhi pikiran setiap orang. Tuhan sengaja membawa murid-murid-Nya ke tempat yang suasananya jernih, supaya pikiran mereka bebas dari pengaruh-pengaruh lingkungan agamisnya kota suci dan Bait Suci, sehingga Ia dapat mewahyukan kepada mereka sesuatu yang baru tentang diri-Nya. Di sanalah visi tentang Dia sebagai Kristus, Putra Allah yang hidup, diberikan kepada Petrus.

Matius 16:13, “Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murud-murid-Nya, ‘Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?’” Berhubung murid-murid tidak jelas, lalu mulai menjawab agak sembarangan. Menurut ayat 14, mereka menjawab, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Sebagaimana kita ketahui, Petrus yang telah menerima wahyu dari Bapa, menjawab Tuhan Yesus, “Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup!” (ayat 16). Demikianlah dalam Perjanjian Baru pertama-tama kita menjumpai wahyu tentang nama Bapa dan kemudian wahyu tentang Putra Allah. Karena itu, gelar pertama yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru adalah Bapa, yang kedua ialah Putra.

Dari Matius 16 sampai Yohanes 14, terdapat wahyu tentang Roh. Ketika Filipus mendesak Tuhan Yesus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8), Tuhan menjawab, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; . . . tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (ayat 9-10). Di sini Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia. Ini berarti Ia tidak dapat dipisahkan dari Bapa atau Bapa dari Dia. Setelah berkata demikian tentang diri-Nya dan Bapa, Tuhan kemudian membicarakan Roh realitas, Penghibur yang lain, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh kebenaran” (ayat 16-17a). Jadi, Roh itu, Penolong yang lain, adalah gelar ilahi ketiga yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Karena itu, kita menjumpai wahyu Bapa, Putra, dan Roh. Inilah Allah Tritunggal.

Wahyu Allah Tritunggal menuntut inkarnasi Kristus. Hidup insani Tuhan, dan penyaliban-Nya serta kebangkitan-Nya. Setelah kebangkitan Kristus, barulah datang Roh itu. Kini kita tahu bahwa Allah Tritunggal adalah Bapa, Putra, dan Roh.

Allah Tritunggal ini adalah Allah yang telah melalui proses. Ia telah menempuh proses inkarnasi, hidup insani, penyaliban, dan kebangkitan. Dalam penyaliban, Ia telah merampungkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, dan menghancurkan Iblis dan maut. Dalam kebangkitan, Ia menunaskan ciptaan baru. Sekarang ini Dia adalah Roh pemberi-hayat sebagai perampungan akhir Allah Tritunggal. Gereja justru di dalam Allah Tritunggal yang seperti ini. Gereja ada di dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses, Dia yang telah menjadi Roh pemberi-hayat beserta Bapa dan Putra.