← Daftar isi 1 Tesalonika (1) · bab 6/14

ALLAH TRITUNGGAL TERWUJUD DALAM FIRMAN UNTUK MENGHASILKAN KEHIDUPAN YANG KUDUS BAGI HIDUP GEREJA (2)

Pembacaan Alkitab: 1 Tes 1:1-10

Dalam berita yang lalu kita telah nampak bahwa Allah Tritunggal diwahyukan dalam 1Tesalonika 1. Dalam ayat 1 dan 3 Paulus mengungkapkan tentang Allah Bapa; ayat 10 tentang Putra; dan ayat 5 dan 6 tentang Roh Kudus. Menurut 1:1, gereja orang-orang Tesalonika ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa gereja ada di dalam Allah Tritunggal. Dalam berita ini kita akan meneruskan melihat dari 1Tesalonika 1, mengenai bagaimana Allah Tritunggal ini dilayankan (disuplaikan) kepada kita.

FIRMAN TUHAN DAN IMAN KEPADA ALLAH

Dalam ayat 5-6 Paulus berkata, “Sebab Injil yang kami beritakan, bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dalam kekuatan dan dalam Roh Kudus dan dalam suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. Dan kamu mengikuti teladan kami dan teladan Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tl.). Menurut ayat-ayat ini, memberitakan Injil ialah memberitakan firman, Injil yang diberitakan oleh rasul adalah firman yang diterima oleh orang-orang Tesalonika. Dalam ayat 8 Paulus melanjutkan, “Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersebar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.” Pertama-tama orang-orang Tesalonika menerima firman, dan kemudian menggemakannya.

Dalam ayat 8 firman Tuhan dan iman kepada Allah adalah sinonim (sama arti). Ayat ini menerangkan bahwa dari orang-orang Tesalonika firman Tuhan menggema luas dan tersiar pula iman mereka kepada Allah. Jadi, firman yang menggema luas ialah iman yang tersiar.

Apakah iman? Hampir tidak ada seorang pun mampu memberikan definisi yang memuaskan. Memang sulit sekali menerangkan apa itu iman. Namun dengan mengkaji ayatayat ini secara saksama, kita akan dapat menemukan pengertian yang tepat tentang iman.

Pertama, iman ialah adanya firman yang diberitakan kepada kita. Kedua, iman meliputi kita menerima firman dan menggemakannya. Firman semacam inilah iman. Firman Injil diberitakan, diterima, dan digemakan. Demikianlah firman menjadi iman di dalam kita. Ketika penginjil memberitakan, firman itu Injil. Tetapi ketika kita menerima firman, terlebih ketika kita menggemakan firman, firman itu menjadi iman di dalam kita.

Misalkan, seorang penginjil berbicara kepada seorang yang belum percaya mengenai kejatuhan manusia dan penyelamatan Allah. Orang yang menginjil itu memberi tahu orang yang belum percaya itu bahwa di dalam Kristus Allah telah berinkarnasi, Ia telah disalibkan karena dosa-dosa kita, Ia telah bangkit dari antara orang mati, dan Ia telah menjadi Roh pemberi-hayat dengan tujuan berhuni di batin kita. Ketika orang yang belum percaya ini menerima firman Injil dan mengumumkannya, firman itu menjadi iman.

ISI FIRMAN YANG DIBERITAKAN PAULUS

Kini kita perlu mempelajari isi firman, yaitu Injil, yang diberitakan Paulus. Tidak diragukan, Paulus memberitakan Allah Tritunggal. Dalam ayat 4 ia berkata, “Dan kami tahu, hai Saudara-saudara yang dikasihi Allah bahwa Ia telah memilih kamu.” Pemilihan mengacu kepada pekerjaan Bapa dalam kekekalan yang lampau. Saat itulah Allah sudah memilih kita. Dalam ayat 10 Paulus mengungkapkan Putra sebagai Dia yang menyelamatkan kita. Putra adalah Penyelamat, Penolong. Dalam ayat 5 Paulus mengatakan bahwa mereka memberitakan Injil dalam kekuatan dan dalam Roh Kudus; dan dalam ayat 6 kita nampak bahwa orang-orang Tesalonika menerima firman itu dengan sukacita Roh Kudus. Fakta bahwa Injil itu diberitakan di dalam Roh Kudus menunjukkan bahwa Roh adalah Dia yang mentransmisikan hal-hal Allah ke dalam kita. Jadi, Allah Bapa memilih kita, Allah Putra merampungkan penebusan yang menyelamatkan kita, dan Allah Roh mentransmisikan semua hal ilahi kepada kita. Inilah isi firman yang diberitakan Paulus sebagai Injil. Inilah alasan saya mengatakan bahwa Allah Tritunggal terwujud di dalam firman.

Seorang saudara mungkin memberikan penginjilan yang singkat, dengan menyampaikan bahwa Allah telah menciptakan manusia, namun manusia telah jatuh, Kristus telah datang dan wafat di atas salib demi dosa-dosa kita, dan kini Roh datang untuk melahirkan kita kembali. Bahkan dalam berita Injil yang sesingkat itu, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh tecakup semuanya. Inilah isi Injil yang tepat, yaitu Injil yang merupakan firman ilahi yang adalah perwujudan Allah Tritunggal, yang memberi tahu kita apa yang telah dilakukan oleh Bapa, oleh Putra, dan oleh Roh. Ketika seseorang percaya dan menerima firman ini, firman ini menjadi iman di dalam dirinya.

Tahukah Anda apa yang terjadi ketika Allah Tritunggal disuplaikan kepada seseorang melalui firman, dan orang tersebut menerima firman itu sehingga menjadi iman di dalamnya? Pada saat itu orang tersebut mengalami kelahiran baru. Ia dilahirkan dari Allah. Kita semua orang berdosa, namun melalui iman kita telah menjadi anak-anak Allah. Melalui iman kita mengalami kelahiran kembali.

Iman bukanlah mencoba mempercayai sesuatu yang tidak dapat kita percayai. Ketika Anda menginjil, janganlah sekali-kali memaksa orang untuk percaya. Sebaliknya, sodorkanlah Allah Tritunggal yang paling terkasih, mustika, dan berharga. Ketika orang lain mendengar Anda memperkenalkan Dia yang begitu menarik, tentu mereka akan meng-hargai apa yang sedang Anda sampaikan seraya menerima firman yang Anda beritakan. Firman yang mereka terima kemudian menjadi iman mereka. Inilah makna percaya.

DUA ASPEK IMAN

Iman mempunyai dua aspek: yang obyektif dan yang subyektif. Sewaktu kita menerima firman Allah, firman itu menjadi iman obyektif dan iman subyektif kita. Iman obyektif ditujukan kepada hal-hal yang kita percayai, dan iman subyektif ditujukan kepada tindakan percaya kita. Melalui iman yang sedemikian ini kita dilahirkan kembali, yakni dilahirkan dari Allah dan mulailah hubungan hayat antara kita dengan Allah. Selain itu, melalui iman semacam ini kita ditaruh ke dalam Kristus. Tadinya, kita di luar Kristus. Kini melalui iman kita ada di dalam Kristus, berarti antara kita dengan Kristus terdapat kesatuan yang organik. Inilah permulaan kehidupan orang Kristen, kehidupan semacam ini adalah kehidupan yang kudus yang berkesimpulan pada hidup gereja. Dengan cara inilah Allah Tritunggal ditransmisikan ke dalam diri kita sehingga kita beroleh hayat yang baru, hayat ilahi. Melalui hayat baru inilah kita memiliki hubungan hayat dengan Allah dan menghasilkan kesatuan yang organik dengan Kristus. Berdasarkan hubungan dan kesatuan ini pula kita memulai kehidupan orang Kristen; kehidupan ini adalah kehidupan yang kudus bagi hidup gereja.

PEKERJAAN IMAN

Kita telah cukup lengkap membahas ayat 1, sekarang mari kita melanjutkan ke ayat 3. Di sini Paulus mengatakan, “Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.” Dalam ayat ini Paulus menyinggung tiga hal: pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan. Terlebih dulu ada pekerjaan iman. Iman berasal dari penerimaan kita terhadap firman, firman ini adalah perwujudan Allah Tritunggal. Ketika kita menerima firman ini, timbullah iman di dalam kita. Kita telah nampak bahwa iman ini bersifat obyektif dan subyektif.

Dalam bahasa Yunani terdapat kata sandang tentu dalam ayat 3, yakni iman ini. Ini menunjukkan bahwa ayat tersebut membicarakan pekerjaan iman ini. Iman ini adalah firman Allah yang kita terima. Firman yang diberitakan kepada kita dan diterima oleh kita menjadi iman. Berhubung iman ini hidup dan aktif, iman ini menghasilkan pekerjaan iman.

Istilah pekerjaan (ayat 3) dalam bahasa Yunaninya ialah ergon, biasanya diartikan “kelakuan”. Paulus menggunakan istilah ini dalam Roma 3:20: “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan (kelakuan) hukum Taurat.” “Kelakuan” dalam Roma 3:20 terutama ditujukan kepada kelakuan kita. Maksud Paulus ialah tidak ada orang yang telah jatuh yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena kelakuannya. Jadi, kelakuan dalam ayat itu bukanlah mengacu kepada aktivitas atau tugas yang kita lakukan, melainkan mengacu kepada perbuatan yang khusus dalam kelakuan kita. Kalau begitu apa makna “pekerjaan” dalam ayat 3? Apakah itu ditujukan kepada perbuatan atau suatu tugas? Sebenarnya, dalam bahasa Yunaninya kata ini menyatakan perbuatan, aksi, aktivitas, meliputi segala aktivitas kita. Aktivitas kita meliputi perbuatan, kelakuan, dan lainnya. Karena itu, pekerjaan iman mengacu kepada semua perbuatan dan tindakan iman.

Misalnya, seorang penginjil menginjil kepada seorang yang belum percaya dan orang itu menerima firman sehingga iman timbul di dalamnya, dan melalui iman ini ia dilahirkan dari Allah dan ditaruh ke dalam Kristus. Karena sekarang ia memiliki iman, tindakan-tindakan tertentu pasti menyusul. Contohnya, ia mungkin dengan spontan menyatakan, “Oh, Tuhan Yesus, alangkah mustikanya Engkau!” Boleh jadi ia pulang dan berkata kepada istri dan anak-anaknya tentang percaya kepada Tuhan Yesus. Pernyataan tentang Tuhan maupun pemberitaan tentang Tuhan adalah pekerjaan iman. Iman menyiratkan Allah, anugerah, kekuatan, terang, dan banyak hal lainnya. Karena inilah, ketika seseorang yang baru beroleh selamat memberitakan Kristus kepada istrinya, iman di dalam dirinya itu akan menerangi dirinya tentang sikapnya terhadap istrinya. Ia kemudian mengakui kekurangannya kepada Tuhan serta minta maaf kepada istrinya tentang masalah tertentu. Ini juga adalah pekerjaan iman.

Satu Tesalonika 1:9 mengatakan, “Sebab mereka sendiri bercerita tentang kami, bagaimana sambutan kamu terhadap kami dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan benar.” Di sini Paulus menyinggung berbalik dari berhala kepada Allah. Inilah perbuatan yang pertama dari iman. Setiap orang yang beriman akan berbalik dari berhala kepada Allah.

Pekerjaan iman meliputi semua perbuatan yang berasal dari iman kita yang hidup. Ini termasuk hubungan kita dengan orang lain dan semua kelakuan kita. Sebelum seseorang diselamatkan, mungkin ia kurang ramah kepada orang lain dan kasar kelakuannya. Tetapi begitu ia beriman di dalam Tuhan, iman ini tidak akan mengizinkannya memperlakukan orang lain dengan kurang ramah. Tidak hanya demikian, ia pun akan merasa sulit untuk berbuat kasar. Saya dapat membuktikan ini dari pengalaman saya. Sejak muda, saya sudah membenci anjing, dan kadang-kadang bahkan sewenang-wenang terhadapnya. Namun setelah saya diselamatkan, iman yang di dalam saya tidak lagi mengizinkan saya berbuat seperti itu. Perubahan kelakuan seperti ini merupakan perbuatan yang berasal dari iman.

Orang yang beriman sangat berbeda dengan orang yang tidak beriman. Sebelum seseorang memiliki iman, ada yang suka mengumbar dirinya dalam hal-hal dosa. Sekarang karena telah memiliki iman, mereka tidak dapat lagi mengumbar diri dalam hal-hal itu; malahan dengan spontan, tindakan atau pekerjaan iman membuat mereka menjauhi hal-hal itu itu. Ada yang sebelum diselamatkan kurang bisa bertetangga; tetapi setelah diselamatkan dan beriman, ia menjadi baik hati, lemah lembut, penyayang, dan penuh perhatian. Tidak ada orang yang mengajarnya untuk berubah. Perubahan itu adalah buah dari iman yang di dalam batinnya. Iman membuat orang suka menolong orang lain, terutama terhadap kaum beriman lainnya. Inilah ilustrasi lainnya dari pekerjaan iman.

Pekerjaan iman mengacu kepada perbuatan yang pantas dari seorang beriman yang sejati. Ini bukan melakukan suatu pekerjaan, juga bukan berbuat baik untuk membantu orang lain. Bukan demikian, melainkan perbuatan atau tindakan sehari-hari kita selaku kaum beriman, perbuatan yang merupakan hasil dari iman. Inilah pengertian Paulus tentang pekerjaan iman. Di saat ia sedang mendoakan orang-orang Tesalonika, teringatlah akan perbuatan dari iman mereka.

USAHA KASIH

Menurut ayat 3, usaha kasih berasal dari pekerjaan iman. Usaha kasih ini benar-benar suatu usaha, jerih lelah, bukan semata-mata perbuatan atau tindakan. Kata “usaha” di sini dalam bahasa aslinya berarti berjerih lelah, bergumul, berjuang, dan bekerja.

Telah kita tunjukkan bahwa pekerjaan iman dimulai dengan berbalik dari berhala kepada Allah. Pekerjaan iman pasti mengandung arti berbalik yang demikian. Karena itu, berbalik dari berhala kepada Allah berkaitan dengan pekerjaan iman. Sekarang kita perlu melihat bahwa melayani Allah yang hidup berkaitan dengan usaha kasih. Kita berjerih lelah melayani Allah kita yang hidup. Kita melayani Allah yang hidup ini karena kita mengasihi Dia. Galatia 5:6 mengatakan bahwa iman beroperasi melalui kasih. Kasih ini pertama-tama berkaitan dengan melayani Allah kita yang hidup.

Iman di batin kita menghasilkan macam-macam tindakan. Selain itu, iman ini beroperasi di dalam kasih. Di dalam kasih, kita sebagai kaum beriman perlu berusaha sekuatnya melayani Allah kita yang hidup. Allah kita itu hidup, Dia adalah Sang hidup kekal. Sebagai yang hidup, Ia berfirman senantiasa, dan kita melayani Dia.

Melayani Allah tidaklah mudah; ini adalah suatu usaha, jerih lelah. Paulus bahkan menyebutnya suatu perjuangan. Karena itu, kalau kita ingin melayani Allah yang hidup, kita harus berjuang. Apa saja yang Allah firmankan di dalam kita dan apa saja yang Ia tunjukkan kepada kita, perlu kita ikuti. Inilah melayani Dia sebagai Allah yang hidup. Pelayanan ini menuntut kasih kepada-Nya. Kita harus pertama-tama mengasihi Allah, dan kasih ini akan membuat kita berjerih lelah melayani Dia.

KETEKUNAN PENGHARAPAN

Terakhir, dalam ayat 3 Paulus membicarakan ketekunan pengharapan. Tidak disangsikan, ketekunan pengharapan dalam ayat 3 berhubungan dengan menantikan kedatangan Putra Allah di dalam ayat 10. Jika kita mempunyai ketekunan pengharapan, kita akan menantikan kedatangan Putra Allah dari surga.

Kini kita dapat memahami apa arti kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Sumber atau asal usul kehidupan semacam ini adalah Allah Tritunggal. Melalui pemberitaan firman dan penerimaan kita terhadap firman, kita masuk ke dalam hubungan hayat dengan Allah Bapa dan bersatu secara organik dengan Kristus. Ini terjadi melalui iman. Kemudian iman ini bekerja, bertindak, dan menimbulkan banyak hal. Khususnya membuat kita berpaling kepada Allah dari segala sesuatu. Dan lebih lanjut, di dalam kasih kita berusaha, berjerih lelah, berjuang, melayani Allah yang hidup. Pada saat yang sama, dengan ketekunan pengharapan kita menantikan kembalinya Putra Allah. Ini pasti adalah kehidupan yang kudus, kehidupan yang dikuduskan dan dipisahkan. Menurut 4:7, Allah telah memanggil kita dalam pengudusan yang sedemikian, dan menurut 5:23, Allah kini sedang menguduskan kita seluruhnya bagi kehidupan semacam ini, sehingga kita bisa menempuh hidup gereja yang tepat.