← Daftar isi 1 Tesalonika (1) · bab 5/14

ALLAH TRITUNGGAL TERWUJUD DALAM FIRMAN UNTUK MENGHASILKAN KEHIDUPAN YANG KUDUS BAGI HIDUP GEREJA (1)

Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 1:1-10

Mengatakan bahwa Kitab 1 dan 2Tesalonika membicarakan hidup gereja memang tepat dan benar. Meskipun ungkapan “hidup gereja” (church life) tidak terdapat dalam kitab-kitab ini, namun gereja telah ditegaskan pada setiap permulaan kitab itu. Kitab 1Tesalonika dimulai dengan kata-kata: “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius. Kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.” Kitab-kitab Tesalonika dimulai dengan cara yang hampir tepat sama. Perbedaannya adalah dalam 1 Tesalonika 1:1 ada istilah “Bapa” dan dalam 2 Tesalonika 1:1 ada istilah “Bapa kita”. Kitab 1Tesalonika maupun Kitab 2Tesalonika ditujukan kepada gereja.

GEREJA ORANG-ORANG TESALONIKA

Keempat belas surat yang ditulis oleh Paulus masing-masing diawali dengan cara yang khusus. Permulaan setiap surat sesuai dengan isi surat itu. Misalnya, Roma 1:1 mengatakan, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah.” Permulaan Kitab 1Korintus agak berbeda sedikit, “Dari Paulus, yang atas kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus” (1 Kor. 1:1). Sebaliknya, pembukaan 1 dan 2Tesalonika cukup sederhana. Paulus tidak menggunakan sebutan apa pun untuk menerangkan dirinya; ia tidak menyebut dirinya sebagai hamba Kristus atau seorang rasul. Sebaliknya, ia hanya menyebutkan, “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius. Kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus” (1:1).

Ungkapan “jemaat orang-orang Tesalonika yang di da-lam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus” adalah unik. Di satu pihak, gereja milik sekelompok orang; di pihak lain gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Cara menyebut gereja ini sangat berbeda dengan yang terdapat dalam 1 Korintus 1:2. Di sana Paulus mengatakan, “Kepada jemaat Allah di Korintus,” melukiskan gereja yang berada di tempat tertentu. Tetapi dalam Kitab 1 dan 2Tesalonika Paulus berbicara tentang gereja bukan yang di tempat tertentu, melainkan milik orang-orang tertentu, yakni orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah. Dalam kitab ini gereja adalah milik orang-orang Tesalonika dan berada di dalam Allah dan Tuhan Yesus Kristus.

Menurut sejarah, Tesalonika merupakan tempat yang asusila. Sebagian besar penduduk kota itu tidak bermoral. Namun, menurut 1:1, gereja di kota itu milik “orang-orang Tesalonika”. Nampaknya mustahil gereja tersusun dari orang-orang yang tinggal di kota seperti Tesalonika.

Mengatakan gereja di dalam Allah Bapa itu memang sangat positif, tetapi mengatakan gereja milik orang-orang Tesalonika itu tidaklah positif. Dalam 1:1 terdapat gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah. Kata depan “di dalam” di sini sungguh penting. Gereja di Tesalonika milik penduduk kota yang jahat, tetapi di dalam Allah Bapa. Sama dengan kita mengatakan gereja di San Francisco adalah gereja milik orang-orang San Francisco di dalam Allah Bapa. San Francisco tersohor di seluruh dunia sebagai kota yang jahat dan jatuh. Namun, hari ini ada gereja di San Francisco, gereja milik orang-orang San Francisco di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.

UMAT KUDUS MENEMPUH

KEHIDUPAN YANG KUDUS

Telah kita tunjukkan bahwa Kitab 1 dan 2Tesalonika berkenaan dengan hidup gereja (church life). Dari isi kitab-kitab ini kita tahu bahwa hidup gereja tergantung pada penempuhan kehidupan yang kudus. Banyak orang San Francisco yang jahat, tetapi orang-orang San Francisco yang menyusun gereja di sana adalah kudus. Puji Tuhan, di antara orang-orang San Francisco hari ini terdapat sejumlah umat kudus yang menempuh kehidupan yang kudus! Demikian pula gereja di Los Angeles. Tuhan bisa berbangga kepada setan dan malaikat-malaikat jahatnya bahwa di kota yang amoral seperti Los Angeles, rumah Hollywood, Tuhan memiliki gereja yang tersusun dari umat kudus yang menempuh kehidupan yang kudus. Di gereja-gereja lokal hari ini, kita menempuh kehidupan yang kudus bagi hidup gereja.

Kita semua perlu nampak bahwa Kitab 1 dan 2Tesalonika membicarakan hidup gereja. Belum lama berselang, ketika saya sedang mempelajari kedua kitab ini, saya menengadah kepada Tuhan agar Ia menunjukkan kepada saya pokok (subyek) utama kitab-kitab ini. Akhirnya, saya terkesan dengan masalah hidup gereja dalam surat-surat rasul ini. Saya percaya kesan itu dari Tuhan. Secara luaran, kelihatannya 1 dan 2Tesalonika tidak ada kaitannya dengan gereja. Namun, jika Anda menjamah kedalaman kebenaran kitab-kitab ini, Anda akan nampak bahwa mereka sesungguhnya berkaitan dengan pelaksanaan hidup gereja melalui menempuh kehidupan yang kudus. Sekarang kita harus membahas selanjutnya tentang bagaimana mungkin penduduk kota yang tidak bermoral seperti di Tesalonika bisa menjadi umat kudus yang menempuh kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Bila kita ingin memahami ini, kita harus mananyakan satu pertanyaan yang amat penting: Apakah sumber kehidupan yang kudus bagi hidup gereja?

BAPA, PUTRA, DAN ROH KUDUS

Judul berita ini ialah “Allah Tritunggal Terwujud dalam Firman untuk Menghasilkan Kehidupan yang kudus bagi Hidup Gereja”. Mereka yang banyak berpikir mungkin heran mengapa judul ini menggunakan istilah “Allah Tritunggal” sedangkan ungkapan ini tidak ada dalam 1 Tesalonika 1. Selain itu, pembaca yang teliti mungkin juga berpikir bagaimana kita dapat berbicara berdasarkan 1Tesalonika 1 tentang Allah Tritunggal terwujud dalam firman. Pasal ini memang jelas menyebut firman, namun bagaimana dengan Allah Tritunggal dan perwujudan Allah Tritunggal dalam firman? Mari kita membahas perkara ini dengan teliti.

Satu Tesalonika 1:1 menyinggung tentang Allah Bapa. Tambahan lagi, dalam ayat 3 terdapat kalimat “di hadapan Allah dan Bapa kita”. Dalam ayat 10 Paulus mengungkapkan tentang Putra: “dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.” Dalam pasal ini Paulus dua kali menyebut Roh Kudus. Ayat 5 mengatakan, “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dalam kekuatan dan dalam Roh Kudus dan dalam suatu kepastian yang kokoh” (Tl.). Dalam ayat 6 Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Tesalonika “dalam penindasan yang berat telah menerima firman itu dengan sukacita Roh Kudus” (Tl.). Karena itu, dalam pasal ini terdapat Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh. Jadi, 1Tesalonika 1 adalah pasal tentang Allah Tritunggal.

Sebenarnya, seluruh Perjanjian Baru berkaitan dengan Allah Tritunggal. Allah Tritunggal merupakan unsur penyusun Perjanjian Baru. Dalam menyajikan hidangan, saudari memakai berbagai macam bahan makanan sebagai unsur pembuat masakan mereka. Demikian pula, unsur-unsur tertentu digunakan sebagai “komposisi” Perjanjian Baru. Unsur apa saja yang terdapat dalam 1Tesalonika 1? Unsur yang paling dasar ialah Allah Tritunggal. Sama seperti daging adalah unsur yang penting dalam resep makanan orang Amerika, maka Allah Tritunggal adalah unsur yang terpenting dalam ramuan masakan rohani Paulus. Sebab itu, tidaklah heran bahwa dalam 1Tesalonika 1 kita dapat nampak dengan jelas Allah Tritunggal. Dalam pasal ini dengan tegas Paulus membicarakan tentang Bapa, Putra, dan Roh.

Satu Tesalonika 1:1 maupun 2 Tesalonika 1:1 membicarakan gereja orang-orang Tesalonika. Ini menunjukkan bahwa gereja tersusun dari orang berdosa yang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali. Dari sejarah kita tahu bahwa kota-kota Makedonia kuno, di mana Tesalonika berlokasi, dan Akhaya tempat Korintus berlokasi, adalah jahat dan amoral, mungkin lebih jahat daripada San Francisco hari ini. Orang-orang Tesalonika khususnya tidak mempunyai reputasi baik; sebaliknya mereka terkenal berdosa, najis, dan amoral. Tetapi beberapa di antara orang-orang Tesalonika ini telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali, dilahirkan dari Allah, melalui percaya di dalam Kristus. Hasilnya, di kota yang jahat itu timbul sebuah gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.

Dalam membaca kitab Perjanjian Baru, kita mudah menerima istilah-istilah seperti di dalam Kristus, di dalam Tuhan, dan di dalam Allah tanpa mempersoalkannya. Kita perlu terkesan dalam-dalam dengan ungkapan “di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus”. Ungkapan ini sangat ajaib! Sungguh luar biasa, manusia bisa ada di dalam Allah! Misalnya, orang-orang yang sangat berdosa mendengarkan Injil, menerima Tuhan Yesus, lalu diselamatkan. Mereka menjadi orang Kristen dan kini di dalam Allah Bapa. Kita harus nampak bahwa ini adalah perkara yang amat bermakna. Tahukah Anda di manakah kita ber-ada selaku kaum beriman? Kita berada di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus!

Menurut 1:1, gereja bukan hanya di dalam Allah Bapa, tetapi juga di dalam Tuhan Yesus Kristus. Gereja memiliki lokasi yang begitu menakjubkan, yakni di dalam Bapa dan di dalam Tuhan. Sebenarnya, Allah Bapa dan Yesus Kristus adalah satu. Mereka adalah Bapa dan Tuhan kita. Bapa ialah yang pertama dari Trinitas, dan Tuhan Yesus Kristus, Putra, adalah yang kedua. Namun demikian, kita tidak bo-leh menganggap Bapa dan Putra sebagai dua persona yang terpisah. Allah itu tritunggal, yakni Ia itu tiga tetapi satu. Memang, Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah tiga; namun mereka itu satu. Ini memang di luar kemampuan pengertian otak manusia. Oh, Allah kita, Allah Tritunggal, sungguh ajaib! Allah Tritunggal ini diwahyukan dalam 1Tesalonika 1. Selain itu, gereja orang-orang yang beroleh selamat adalah di dalam Allah yang ajaib ini, yaitu Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.

UMAT GEREJA DI DALAM ALLAH BAPA

DAN TUHAN YESUS KRISTUS

Akhir-akhir ini, ketika saya mempelajari 1:1, saya nampak bahwa mengatakan gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus adalah mengutarakan sesuatu yang sangat berbobot dan dalam. Saya telah mencari keterangan dari tulisan Dean Alford tentang ayat ini, dan mendapat bantuan dari apa yang dikatakannya. Pertama-tama Alford menunjukkan bahwa kata depan “di dalam” yang tertera di sini menandakan persekutuan dan partisipasi. Partisipasi yang dimaksud Alford ini sama dengan “kesatuan organik”. Persekutuan menerangkan persatuan bersama. Gereja adalah segolongan orang yang memiliki persatuan bersama dengan Allah dan berpartisipasi di dalam Dia.

Tidak hanya demikian, Alford masih melanjutkan dengan berkata bahwa “di dalam Allah Bapa” merupakan tanda atau petunjuk bahwa mereka yang ada di dalam gereja bukan lagi orang kafir. Orang kafir tidak mempunyai Allah, tetapi gereja tersusun dari sekelompok orang yang ada di dalam Allah Bapa. Karena itu, mereka yang di dalam gereja bukan lagi orang kafir.

Alford juga mengatakan bahwa “di dalam Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan bahwa mereka yang di dalam gereja bukan lagi orang Yahudi. Orang Yahudi tidak percaya kepada Yesus Kristus, sama seperti orang kafir tidak percaya kepada Allah yang benar. Siapakah yang percaya di dalam Allah dan di dalam Tuhan Yesus Kristus? Umat gereja itulah kaum beriman yang sedemikian. Kita hari ini bukanlah orang kafir atau orang Yahudi, melainkan umat gereja di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Mereka yang hidup dalam gereja dengan latar belakang agama Yahudi harus menyadari bahwa mereka bukan lagi orang Yahudi. Gereja tersusun dari mereka yang bukan lagi orang kafir atau orang Yahudi, karena kita semua kini di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Dalam Surat Kirimannya yang lain, Paulus menyebutkan gereja-gereja Kristus dan gereja Allah. Kelompok Kristen tertentu telah mengutip ungkapan-ungkapan ini sebagai nama denominasinya. Contohnya, hari ini ada Gereja Kristus, Sidang Jemaat Allah, Gereja Allah, dan sebagai-nya. Akan tetapi pernahkah Anda tahu kelompok Kristen dengan nama “gereja di dalam Allah”? Jelas, tidak ada kelompok itu. Namun, menurut 1:1 bahwa gereja di dalam Allah adalah satu fakta.

Katakanlah, mana yang lebih dalam, gereja milik Allah ataukah gereja di dalam Allah? Gereja di dalam Allah lebih dalam dan lebih tidak terduga daripada gereja hanya sekadar milik Allah. Haleluya, gereja di dalam Allah! Gereja bukan hanya milik Allah dan milik Kristus; gereja bahkan di dalam Allah dan di dalam Kristus. Kita sangat perlu nampak bahwa gereja di tempat kita ini milik Allah dan di dalam Allah, milik Kristus dan di dalam Kristus.

HUBUNGAN DALAM HAYAT

Saya dapat bersaksi bahwa nampak makna dari kata depan “di dalam” ini telah membuat Kitab 1Tesalonika lebih akrab dan lebih menarik bagi saya. Dalam kitab ini terdapat wahyu bahwa gereja bukan hanya milik Allah dan milik Kristus, tetapi juga di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Gereja bukan semata-mata di dalam Allah, bahkan di dalam Bapa. Kata “Bapa” di sini menunjukkan hubungan hayat. Allah bukan hanya Pencipta kita. Ia pun Bapa kita. Allah itu Bapa umat gereja, sebab kita semua dilahirkan dari Dia. Fakta yang alangkah ajaib bahwa kita telah dilahirkan dari Allah dan Ia sekarang adalah Bapa kita!

Seandainya ayah Anda Presiden Amerika Serikat, Anda dapat menyebutnya “Ayahku, Presiden.” Ini akan berbeda jauh dengan hanya menyebutkan Presiden. Menyebutkan Presiden kita bisa menunjukkan bahwa Anda ini seorang warga negaranya. Tetapi bila Anda dapat mengatakan, “Ayahku, Presiden,” itu menerangkan bahwa Presiden itu ayah Anda dan Anda mempunyai hubungan hayat dengannya. Dalam prinsip yang sama, kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita. Allah bukan hanya Pencipta kita. Ia telah menjadi Bapa kita, karena kita telah dilahirkan dari Dia. Selain itu, Yesus Kristus adalah Tuhan kita. Haleluya, kita memiliki Bapa dan Tuhan!

GEREJA DI DALAM ALLAH TRITUNGGAL

Mengatakan gereja di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus tidaklah sama dengan mengatakan gereja di dalam dua persona yang terpisah. Tidak, gereja ada di dalam persona yang ajaib, yaitu Bapa dan Putra. Menurut Anda apakah gereja hari ini di satu pihak ada di dalam Bapa dan di pihak lain ada di dalam Tuhan Yesus? Dengan kata lain, apakah Anda mengira bahwa gereja, yakni gereja yang unik di suatu tempat, adalah di dalam dua persona yang terpisah? Jangan sekali-kali berpendapat seperti itu. Allah itu Bapa pun Tuhan Yesus Kristus, dan gereja justru ada di dalam persona ini. Janganlah minta saya menerangkan bagaimana gereja bisa ada di dalam persona yang sekaligus adalah Bapa dan Putra. Itu di luar kemampuan saya untuk menerangkan rahasia yang demikian. Sejarah Kristen dari abad ke abad telah membuktikan tidak seorang pun mampu menjelaskan Allah Tritunggal dengan memadai. Namun dalam 1:1 kita memperoleh wahyu atas fakta yang menakjubkan bahwa gereja berada di dalam Allah yang unik dan Allah ini ialah Bapa kita dan Tuhan kita Yesus Kristus. Haleluya, kita memiliki Allah yang begitu ajaib, dan kita berada di dalam Dia!

Ketika Paulus membicarakan gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, sesungguhnya yang dimaksud ialah gereja orang-orang Tesalonika di dalam Allah Tritunggal. Perkataan Paulus mengenai Bapa dan Tuhan Yesus Kristus ini menunjukkan atau menyiratkan bahwa Allah beraspek tritunggal. Andaikata Allah bukan tritunggal, lalu bagaimanakah ia bisa sebagai Bapa dan Putra? Tentunya mustahil. Tidak hanya demikian, acuan Paulus kepada Bapa dan Kristus menyirat-kan Roh Kudus. Sebagaimana telah kita tunjukkan, pada ayat lain dari pasal ini dengan tegas Paulus membicarakan Roh Kudus. Jadi, 1Tesalonika 1 dengan jelas memperlihatkan Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Baik 1Tesalonika 1:1 maupun 2Tesalonika 1:1 mewahyukan bahwa gereja tersusun dari sekelompok orang berdosa yang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, dan yang kini berada di dalam Allah Tritunggal. Alangkah ajaibnya!