BEBERAPA HAL MENDASAR
Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 1:1-10
Dalam membaca atau mempelajari Alkitab bagian yang mana pun, perlu selalu menemukan apa yang terkandung dalam roh penulis. Begitu mengetahui roh penulis, kita akan bisa memahami maksud, tujuan, sasaran, dan arahnya. Agar menyelami beban yang terkandung di dalam roh Paulus dalam 1Tesalonika 1, kita perlu meneliti beberapa hal mendasar dalam pasal ini seperti ditunjukkan oleh perkataan yang dipergunakan Paulus dan cara pasal ini disu-sun. Roh Paulus di sini berkaitan dengan kata-kata khas yang digunakannya. Setiap pasal Alkitab disusun dengan kata-kata khusus yang mengacu kepada unsur-unsur yang mendasar. Mari kita bahas sekarang beberapa hal mendasar dari 1Tesalonika 1 yang dinyatakan dalam kata-kata yang dipilih Rasul Paulus.
ALLAH TRITUNGGAL
Satu Tesalonika 1 mewahyukan Allah Tritunggal. Pertama, ada Bapa. Dalam 1:1 Paulus mengatakan bahwa gereja ada di dalam Allah Bapa, dan dalam ayat 3 ia merujuk lagi kepada “Allah dan Bapa kita”. Dalam ayat 10 Paulus membicarakan tentang Putra: “Dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga”. Setelah itu, Paulus juga menyebutkan Roh Kudus dalam ayat 5, dan dalam ayat 6, ia mengatakan bahwa orang-orang Tesalonika menerima firman itu dengan sukacita Roh Kudus. Dalam pasal ini ada Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Pada zaman Paulus, setiap orang Yahudi yang “standar” sangat tersinggung dengan ungkapan “Putra-Nya”. Ini menyinggung perasaan orang-orang Yahudi itu karena mereka percaya kepada Allah yang sejati namun tanpa mengetahui bahwa Allah “mempunyai” seorang Putra. Pada batas-batas tertentu, orang-orang Yahudi percaya bahwa Allah mempunyai Roh. Tetapi, mereka tidak paham bahwa Roh sejajar dengan Allah sendiri. Mereka hanya percaya bahwa Allah memiliki Roh dan Roh ini sebagai bawahan-Nya. Menurut kepercayaan Yahudi, Allah itu unik dan Allah yang unik ini mempunyai Roh. Orang Yahudi tidak percaya bahwa Allah mempunyai Putra, mereka pun tidak percaya bahwa Putra Allah maupun Roh Allah setingkat dengan Allah. Hal ini berlawanan sama sekali dengan konsepsi orang Yahudi. Karena itu, bagi Paulus membicarakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah mengatakan sesuatu yang sangat mendasar.
Dalam pasal 1 Paulus tidak hanya membicarakan Putra Allah, tetapi juga Yesus Kristus. Putra Allah ialah Yesus, dan Yesus ini adalah Kristus. Nama Yesus pada dasarnya mengacu kepada insani Putra Allah, menyatakan bahwa Putra Allah adalah seorang manusia. Melalui inkarnasi Putra Allah menjadi manusia yang bernama Yesus. Nama ini sama dengan Yeshua dalam bahasa Ibrani, yang berarti Yehova Penyelamat kita atau Yehova keselamatan kita. Jadi, arti yang tersirat dalam nama Yesus ini sangatlah kaya.
Seperti halnya setiap orang, Yesus, Putra Allah, juga mempunyai sejarah. Kita tahu bahwa Ia dilahirkan di negeri Yahudi, serta tinggal di tempat itu selama tiga puluh tiga setengah tahun, dan akhirnya mati di atas salib. Kini ketika membicarakan tentang Yesus, kita perlu mengenang kembali sejarah dan biografi-Nya.
Tuhan Yesus juga adalah Kristus. Sebutan Kristus secara umum mengacu kepada aspek sejarah Tuhan yang berkaitan dengan kebangkitan, sedangkan nama Yesus mengacu kepada bagian sejarah-Nya yang berhubungan dengan inkarnasi dan kehidupan insani. Kristus, persona yang telah bangkit, telah dijadikan Tuhan dari semuanya dan Kepala dari semuanya. Allah telah menjadikan Dia Kepala gereja.
PEMILIHAN, PENYELAMATAN, DAN TRANSMISI
Jika kita membaca 1Tesalonika 1 dengan teliti, kita akan nampak bahkan dalam pasal yang pendek ini pun terdapat petunjuk-petunjuk tentang apa yang telah dikerjakan oleh Bapa, apa yang sedang dilakukan oleh Putra, serta apa yang telah dikerjakan oleh Roh dan yang masih akan terus dikerjakan. Dalam ayat 4 Paulus mengatakan tentang pemilihan: “Dan kami tahu, hai Saudara-saudara yang dikasihi Allah bahwa Ia telah memilih kamu.” Siapa yang memilih kita? Jelas bahwa pemilihan bukan dirampungkan oleh Putra, melainkan Bapa. Menurut ayat 10, Putra menyelamatkan kita. Ayat ini mengatakan bahwa Putra “menyelamatkan kita dari murka yang akan datang”. Perhatikanlah satu fakta bahwa dalam ayat ini (menurut bahasa aslinya. Red.) kata “menyelamatkan” adalah dalam bentuk kala kini (present tense), sedangkan murka dikatakan sebagai sesuatu yang akan datang. Penyelamatan terjadi sekarang ini, sedangkan murka masih akan datang. Titik penting di sini ialah Putra merampungkan karya penyelamatan.
Pemilihan oleh Bapa, penyelamatan oleh Putra, lalu apa pekerjaan Roh? Menurut pasal ini, Roh adalah untuk perkembangbiakan, untuk penyaluran. Dalam ayat 5 Paulus menunjukkan kepada orang-orang Tesalonika bahwa Injil sampai kepada mereka bukan hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan kekuatan dan Roh Kudus. Dalam ayat 6 dia mengingatkan bahwa mereka menerima firman dengan sukacita Roh Kudus. Ayat-ayat ini menandakan bahwa Roh adalah untuk penyaluran — transmisi.
Ketika Paulus menulis 1Tesalonika 1, pada lubuk batinnya ia sangat memperhatikan Allah Tritunggal. Ia dibebani dengan pemilihan Bapa, penyelamatan Putra, dan transmisi Roh. Nampak hal ini sangatlah penting bagi kita.
ALLAH TRITUNGGAL TERWUJUD
KONKRET DALAM FIRMAN
Allah Tritunggal disalurkan atau ditransmisikan kepada kita melalui firman. Dalam ayat 6 Paulus mengutarakan tentang menerima firman, dan dalam ayat 8, menggemakan firman Tuhan. Tidak diragukan bahwa pada konsepsi Paulus Allah Tritunggal hari ini terwujud sepenuhnya di dalam firman. Firman dapat diumpamakan sebagai aki yang mengandung listrik. Sebagaimana aki merupakan perwujudan listrik, begitu pula dalam bidang rohani bahwa firman Allah, aki ilahi, adalah perwujudan Allah Tritunggal. Bapa, Putra, dan Roh semuanya terwujud dalam firman. Ketika kita memberitakan firman Tuhan, Allah ditransmisikan kepada orang lain. Melalui firman, Allah Tritunggal ditransmisikan kepada orang lain.
Sekitar tiga minggu lamanya Paulus tinggal bersama orang-orang Tesalonika. Saya yakin bahwa selama minggu-minggu itu Paulus memberi tahu mereka betapa Allah telah memilih mereka dalam kekekalan yang lampau. Ia pasti juga memberi tahu mereka betapa pada suatu hari Allah Putra berinkarnasi, dilahirkan di palungan dan diberi nama Yesus. Tentunya Paulus juga memberi tahu kaum beriman Tesalonika betapa Yesus hidup di bumi, tersalib, dan dibangkitkan sebagai Tuhan, Kepala, dan Kristus, dan Ia sekarang berada di surga, menjadi Roh pemberi-hayat. Demikianlah Paulus memberitakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Inilah Injilnya, firman yang diterima oleh orang-orang Tesalonika.
DILAHIRKAN OLEH ALLAH
DAN DITARUH KE DALAM KRISTUS
Sewaktu orang-orang Tesalonika menerima firman yang diberitakan oleh Paulus, mereka menerima Allah Tritunggal. Firman yang mereka terima ialah Injil yang diberitakan kepada mereka. Melalui menerima firman ini mereka menerima Allah Tritunggal, demikian dilahirkan dari Allah dan ditaruh ke dalam Kristus. Di segi negatifnya, ini adalah berpaling kepada Allah dari berhala. Di segi positifnya, ini adalah dilahirkan dari Allah dan juga percaya ke dalam Putra Allah. Dengan demikian terjadilah kesatuan organik, dan orang-orang Tesalonika berada di dalam Allah Bapa dan dalam Tuhan Yesus Kristus.
Kaum beriman baru di Tesalonika semuanya di dalam Allah Tritunggal. Berhubung mereka di dalam Bapa dan Putra, maka mereka bukan lagi orang kafir atau orang Yahudi. Mereka adalah kaum saleh. Mereka telah menjadi kaum saleh di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Dalam 1:1 frase “di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus” bukan hanya menyatakan “mutu” gereja, tetapi juga menyatakan “mutu” orang-orang Tesalonika. Ini bukan hanya berarti bahwa gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, tetapi juga orang-orang Tesalonika yang bukan lagi orang Yunani atau Yahudi, melainkan kaum beriman, juga ada di dalam Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Dean Alford mencatat tiga butir tentang bagian 1:1 ini. Pertama ia mengatakan bahwa frase “di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan persekutuan dan partisipasi. Alford tidak memakai ungkapan kesatuan yang organik, melainkan persekutuan yang berarti komuni dan semacam saling berpadu (co-union). Ia pun menyebut kaum beriman berpartisipasi dalam Allah dan Kristus. Karena partisipasi ini, mereka mempunyai kesatuan dengan Allah. Kedua, Alford mengatakan bahwa perkataan “di dalam Allah Bapa” menandakan bahwa kaum beriman bukan lagi sebagai orang kafir, sebab orang kafir tidak ada di dalam Allah Bapa. Ketiga, dia mengatakan bahwa “di dalam Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan bahwa kaum beriman bukan lagi orang Yahudi, sebab orang Yahudi tidak mau menerima Tuhan Yesus. Jadi, kaum beriman di Tesalonika, yang di dalam Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, bukan lagi orang kafir atau Yahudi.
MELAYANI DAN MENANTIKAN
Dalam pasal 1 terdapat Allah Tritunggal dan pemberitaan akan Allah Tritunggal di dalam firman, perwujudan-Nya. Firman ini adalah Injil yang diterima oleh kaum beriman. Ketika orang-orang Tesalonika menerima firman, mereka dilahirkan dari Allah dan bersatu dengan Kristus, sehingga mereka menjadi gereja dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Kemudian apa yang mereka lakukan? Mereka melayani Allah yang hidup. Kata melayani yang digunakan dalam ayat 9 bersifat almuhit, meliputi segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Allah itu hidup, sebab Ia benar (sejati), bukan palsu. Dalam 1:9 Paulus membicarakan perihal melayani Allah yang hidup dan benar. Gereja di Tesalonika tersusun dari kaum beriman yang melayani Allah yang hidup dan benar. Ini pula yang kita lakukan hari ini. Fakta bahwa kita melayani Allah yang hidup membuktikan bahwa kita ini di dalam Allah Bapa.
Tidak hanya demikian, dalam ayat 10 Paulus menunjukkan bahwa kita sedang menantikan kedatangan Putra Allah dari surga. Kita melayani Allah yang hidup, dan sedang menanti kedatangan Putra-Nya, yang Ia bangkitkan dari antara orang mati. Yesus, Putra Allah, menyelamatkan kita dari murka yang akan datang. Walaupun murka itu akan datang kelak, namun Ia sekarang terus menyelamatkan kita, dan Ia akan menyelamatkan kita sepenuhnya, sampai suatu hari tidak ada murka lagi.
Melayani Allah yang hidup menunjukkan bahwa kita ada di dalam Allah Bapa, dan menanti Putra-Nya menunjukkan bahwa kita berada di dalam Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, pelayanan dan penantian kita menandakan bahwa kita adalah orang-orang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Andaikan kita tidak ada di dalam Allah Bapa, kita tidak akan melayani Allah yang hidup, dan kalau kita tidak di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita, kita juga tidak akan menantikan Dia.
Ketika merenungkan ayat 1, 9, dan 10, kita nampak bahwa akhir pasal ini selaras dengan permulaannya. Pada permulaan Paulus mengatakan bahwa gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Pada akhir pasal ini ia mengatakan tentang melayani Allah yang hidup dan menantikan Putra-Nya. Inilah kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, kehidupan yang terdiri dari iman, kasih, dan pengharapan. Iman bekerja, kasih berusaha, dan pengha-rapan bertekun.
FIRMAN TUHAN DAN IMAN KEPADA ALLAH
Perhatikanlah ayat 8: “Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersebar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.” Perhatikan di sini Paulus mengatakan bahwa dari Tesalonika firman Tuhan bergema dan di semua tempat telah tersiar kabar tentang iman mereka kepada Allah. Ini memperlihatkan bahwa firman Tuhan dan iman kepada Allah adalah sama artinya. Orang-orang Tesalonika mendengar firman. Pada saat mereka menerima firman, firman itu menjadi iman mereka baik secara obyektif maupun subyektif. Sebagaimana telah kita tunjukkan, iman yang obyektif ditujukan kepada apa yang kita percayai, dan iman yang subyektif ditujukan kepada tindakan percaya. Dalam ayat 8 iman kepada Allah mencakup aspek subyektif maupun objektifnya.
Dalam pengalaman Anda, firman Tuhan itu hanya perkataan ataukah juga iman? Jika firman itu adalah iman bagi Anda, ini berarti firman itu telah memberi Anda suatu pemandangan, dan Anda telah nampak pemandangan ini. Penampakan pemandangan ini mengakibatkan Anda percaya. Dengan demikian firman menjadi iman Anda. Sekarang, ketika firman Tuhan bergema, itu bukanlah firman yang obyektif, tetapi juga iman yang subyektif bagi Anda. Jadi, ketika firman itu bergema, iman Anda pun ikut tersiar.
Iman adalah fondasi susunan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Di atas fondasi ini ada pembangunan, inilah usaha kasih. Kemudian batu atap atau batu puncak pembangunan ini adalah ketekunan pengharapan. Demikianlah terdapat susunan lengkap kehidupan yang kudus bagi hidup gereja: pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan.
Setelah kita nampak hal-hal dasar dalam 1Tesalonika 1 — Allah Tritunggal, firman sebagai perwujudan Allah Tritunggal, tanda di dalam Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, serta pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan — barulah kita akan tahu beban yang terkandung di dalam roh Paulus ketika menuliskan bagian firman ini.