← Daftar isi 1 Tesalonika (1) · bab 9/14

GEREJA MENJADI PERWUJUDAN ALLAH TRITUNGGAL (1)

Pembacaan Alkitab:

1Tes. 1:1; 2:12; 3:12; 4:7; 5:23-24; 2Tes. 1:3, 5, 10; 2:13-14, 16;

Kol. 3:10-11; Why. 1:11-12.

Kita telah menegaskan satu fakta bahwa dalam 1 Tesalonika 1:1 Paulus menyebutkan gereja di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Kita juga telah membahas makna gereja di dalam Allah Bapa dan juga makna gereja di dalam Tuhan Yesus Kristus. Namun, meskipun kita telah menegaskan Bapa, Tuhan, dan Yesus, namun kita belum menerangkan sepenuhnya apa yang dimaksud dengan gereja di dalam Kristus.

Nama Yesus yang digunakan dalam Perjanjian Baru, terutama mengacu kepada Tuhan di dalam pengalaman-Nya di bumi dari inkarnasi hingga kebangkitan-Nya. Yesus adalah nama Tuhan yang berkenaan dengan keinsanian-Nya. Jadi, nama ini menerangkan pengalaman hidup-Nya dan perkara-perkara yang ditempuh-Nya sebelum kebangkitan-Nya. Kristus adalah sebutan ilahi yang terutama menerangkan pengalaman, kedudukan, hayat, dan tindakan Tuhan setelah kebangkitan-Nya. Sebutan ini mengacu kepada apa adanya Tuhan setelah kebangkitan-Nya.

Riwayat Tuhan Yesus Kristus boleh dibagi menjadi dua bagian: bagian sebelum kebangkitan-Nya dan bagian sesudah kebangkitan-Nya. Karena itu, kebangkitan merupakan garis pemisah, garis tapal batas atas kehidupan dan pengalaman Tuhan.

Keempat kitab Injil dapat dianggap sebagai biografi Tuhan Yesus. Biografi-biografi ini mengisahkan cerita hidup-Nya dari inkarnasi-Nya hingga kebangkitan-Nya. Kurun waktu ini, sebagian besar diwakili oleh nama Yesus. Kalau kita membicarakan tentang Yesus menurut penggunaan yang alkitabiah terhadap nama tersebut, kita terutama menyinggung pengalaman-Nya antara inkarnasi dan kebangkitan. Setelah Tuhan Yesus bangkit, hayat-Nya masuk ke dalam lingkungan yang lain sama sekali.

Namun, hari ini, banyak orang Kristen tidak jelas dalam pemahamannya tentang Yesus dan Kristus. Beberapa orang beriman, khususnya yang di dalam aliran Pentakosta, lazim mengucapkan “Puji Yesus!” Menurut Alkitab, lebih baik mengucapkan, “Puji Tuhan.” Orang Kristen dewasa ini lebih lazim mengatakan “Puji Tuhan” daripada dua puluh tahun yang lampau, ketika pemulihan Tuhan baru tiba di negeri ini. Ini mungkin karena pengaruh dari pemulihan. Betapa pun halnya, “Puji Tuhan” lebih cocok daripada “Puji Yesus”.

Menurut Perjanjian Baru, sebutan Tuhan diterapkan pada seluruh hidup dan ministri Yesus Kristus. Ini berarti sebutan Tuhan adalah sebutan yang almuhit. Tetapi nama Yesus mengacu kepada Tuhan di dalam keinsanian-Nya serta kehidupan insani-Nya sebelum kebangkitan. Kristus, seperti yang telah kita lihat, mengacu kepada Kristus yang telah bangkit di dalam kenaikan-Nya.

KRISTUS DI ATAS TAKHTA DAN DI BATIN KITA

Kristus yang dipercayai orang-orang Kristen dewasa ini adalah Kristus yang jauh di surga tingkat ketiga. Tetapi Kristus kita bukan hanya yang telah bangkit dan naik ke surga; Ia juga telah turun dan masuk ke dalam roh kita. Haleluya, Kristus kini berada di dalam roh kita!

Dalam Yohanes 14 Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya tentang kepergian dan kedatangan-Nya. Dalam Yohanes 14:1 Ia berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Dalam ayat berikutnya Tuhan menyinggung tentang banyak kediaman di dalam rumah Bapa serta kepergian-Nya untuk menyediakan tempat bagi mereka. Dalam ayat 3 Ia mengatakan, “Apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Di sini Tuhan Yesus seolah berkata, “Janganlah gelisah karena Aku pergi. Kelihatannya Aku meninggalkan kalian. Tetapi sebenarnya kepergian-Ku ini adalah untuk kedatangan-Ku. Setelah Aku pergi, Aku akan datang kembali.” Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa Ia akan pergi ke surga. Sebaliknya, Ia akan pergi ke salib, kemudian ke kubur, dan ke alam maut. Setelah itu, dalam kebangkitan Ia akan kembali kepada murid-murid.

Hampir semua orang Kristen menanggapi firman Tuhan dalam Yohanes 14 mengacu kepada kedatangan-Nya kali kedua. Tanggapan itu tidaklah tepat. Dalam Yohanes 14:18 Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Jika kedatangan Tuhan dalam Yohanes 14 adalah kedatangan-Nya kali kedua, murid-murid tentu sudah menjadi yatim piatu. Jika hari ini Tuhan Yesus hanya di dalam surga, kita semua akan menjadi yatim piatu. Ketika Tuhan mengucapkan, “Aku kembali kepadamu,” ini ditujukan pada kedatangan-Nya dalam bentuk yang lain. Kedatangan ini terealisasi pada hari kebangkitan-Nya dalam Yohanes 20:19-22. Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus kembali kepada murid-murid-Nya untuk menyertai mereka selama-lamanya, sehingga mereka tidak ditinggalkan sebagai yatim piatu.

Kedatangan Tuhan dalam Yohanes 14 mengacu kepada kedatangan-Nya dalam bentuk yang lain. Kali pertama Tuhan datang dalam bentuk daging. Ketika berkata kepada murid-murid dalam Yohanes 14, Ia masih dalam bentuk itu. Tetapi dalam pasal ini Ia seolah berkata, “Aku sekarang dalam daging. Tetapi Aku akan pergi ke atas salib, di mana Aku akan dibunuh. Kemudian, Aku akan dimakamkan dalam sebuah kubur. Lalu Aku akan bangkit dari antara orang mati dan kembali dalam bentuk yang lain. Dalam bentuk inilah Aku akan kembali kepada kalian.” Dan Tuhan benar-benar kembali dalam bentuk ini pada hari kebangkitan-Nya.

Yohanes 20 melukiskan bagaimana Tuhan datang kepada murid-murid-Nya pada hari kebangkitan-Nya. Yohanes 20:19, “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, ‘Damai sejahtera bagi kamu!’” Tuhan Yesus tampil dengan cara yang hebat, yang luar biasa, melampaui kemampuan pengertian manusia. Orang-orang Yahudi menentang murid-murid dan berusaha menghancurkan mereka. Karena itu, murid-murid ketakutan dan berkumpul di balik pintu-pintu yang terkunci. Mungkin mereka sedang berkeluh kesah, bingung apa yang harus dilakukan. Sekonyong-konyong Tuhan Yesus muncul dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Dia yang menampakkan diri kepada mereka ini bukanlah Yesus yang di dalam daging, melainkan Kristus, Tuhan.

Menurut ayat 21, Tuhan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Kemu-dian, seperti yang terlihat dalam ayat 22, Tuhan menghembuskan ke dalam murid-murid pneuma-pneuma yang kudus, Roh Kudus. “Sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’” Tuhan Yesus yang di dalam kebangkitan-Nya kini adalah pneuma, Roh. Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dalam bentuk pneuma dan menyuruh mereka untuk menerima pneuma kudus yakni nafas yang kudus. Dalam bahasa Yunani istilah pneuma berarti roh dan nafas. Haleluya, di dalam kebangkitan-Nya Kristus adalah nafas, pneuma Roh! Setelah murid-murid menerima-Nya sebagai pneuma yang kudus, Ia mulai hidup di batin mereka.

Kita juga sudah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai nafas yang kudus, pneuma yang kudus, Roh pemberi-hayat, dan kini Ia benar-benar tinggal di batin kita. Saya yakin kalau menyadari Kristus ada di batin kita, kita pasti akan gembira melonjak-lonjak bahkan tergila-gila. Jika kita sedikit pun tidak merasa gembira atas hal ini, itu menandakan kita belum cukup paham akan Kristus ada di batin kita.

Di manakah Kristus hari ini? Jawabannya adalah di atas takhta di surga juga berhuni di batin kita. Oh, kita harus dapat mendeklarasikan dengan roh yang bebas dan kuat bahwa Kristus ada di batin kita. Kristus kita hari ini adalah Dia yang berhuni di batin kita! Dalam arti yang sesungguhnya, Kristus kita memang berbeda dengan Kristus yang menurut keyakinan kebanyakan orang Kristen, sebab mereka hanya memiliki Kristus yang di surga, sedang kita memiliki Kristus yang di dalam surga juga berhuni di dalam roh kita.

Saya telah dikecam dan difitnah bahwa saya telah memberitakan Kristus yang lain. Saya tidak memberitakan Kristus yang berbeda dengan yang diwahyukan oleh Alkitab. Namun demikian, dalam arti tertentu, saya memang memberitakan Kristus yang agak berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang Kristen, sebab Kristus yang saya beritakan adalah yang di surga juga di dalam saya, sedangkan orang Kristen pada umumnya mempunyai Kristus yang hanya berada di surga. Hari ini mereka tidak tahu menikmati Kristus yang berhuni di dalam mereka, mereka malahan menunggu untuk berjumpa dengan Kristus di surga setelah mereka meninggal. Kristus yang saya beritakan adalah Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab. Dia adalah Tuhan Yesus Kristus, Dia adalah Tuhan dalam arti almuhit. Dia itu Tuhan berarti Dia adalah Yesus juga Kristus.

PENGAKHIRAN DAN KEBANGKITAN

Dalam berita yang lampau telah kita tunjukkan bahwa di dalam Kristus adalah di dalam kematian-Nya; kematian yang mengakhiri semua perkara yang negatif: dosa, dunia, ciptaan lama, manusia lama, daging, ego, dan Iblis. Ketika Tuhan Yesus disalibkan, Ia telah mengakhiri semua perkara negatif itu. Pengakhiran yang almuhit ini mendatangkan kebangkitan. Dalam Alkitab terdapat prinsip yang kuat, yaitu kematian membawa kita masuk ke dalam kebangkitan. Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan.

Dalam kebangkitan, Yesus itu Kristus. Haleluya, penyaliban-Nya masih tetap efektif! Puji Tuhan, Dia telah dibangkitkan dan dalam kebangkitan Dia telah menjadi Kristus. Kini kita sebagai kaum beriman adalah di dalam Kristus; kita telah memasuki kesatuan organik dengan Dia.

Beberapa guru Kristen membicarakan tentang di dalam Yesus, ungkapan ini tidaklah tepat. Kita bisa di dalam Kristus, tidak bisa di dalam Yesus. Ketika Tuhan adalah Yesus di dalam daging, tidak seorang pun bisa berada di dalam-Nya. Tetapi setelah Ia disalibkan dan dibangkitkan dan menjadi Roh, kita bisa berada di dalam-Nya. Oleh Roh, dengan Roh, melalui Roh, dan di dalam Roh, kita bisa berada di dalam Kristus. Kristus adalah hawa udara yang surgawi dan rohani, kita sekarang ada di dalam Dia.

SANG TERURAP DAN SANG PENGURAP

Istilah Kristus merupakan bentuk kata yang telah di-inggriskan dari kata Yunani christos. Kata Yunani ini sama dengan kata Ibrani Messiah, yang artinya Sang terurap. Tuhan Yesus menjadi Mesias. Kristus, dan Sang terurap berarti Roh Allah telah dituangkan ke atas-Nya. Kristus kita hari ini bukan semata-mata Sang terurap, tetapi juga Sang pengurap. Ia sendiri telah menjadi Roh pemberi-hayat. Dalam kebangkitan, Kristus adalah Sang terurap dan sebagai Roh yang mengurapi, Ia pun adalah Sang pengurap.

Dari pengalaman kita dapat mengetahui bahwa Kristus hari ini adalah Sang pengurap. Misalkan, seseorang sedang menderita, duka, dan kecewa. Menurut perasaannya, hidup itu sudah tidak berarti. Kemudian ia mendengarkan Injil sehingga tahu kasih Allah terhadap dirinya. Ia mendengar betapa Tuhan Yesus mati baginya, telah dibangkitkan, bahkan sedang menunggu dia menerima-Nya dengan berseru, “Oh Tuhan Yesus.” Lalu ia berkata, “Tuhan Yesus, aku bersyukur kepada-Mu.” Ia menemukan bahwa kesedihannya telah lenyap. Di batinnya ia merasa terdiris. Pendirisan ini adalah pengurapan Tuhan yang menimbulkan damai sejahtera, perhentian, terasa dikasihi oleh Tuhan, dan diperhatikan oleh-Nya. Inilah pengalaman atas Kristus sebagai Sang pengurap.

Sewaktu kita menyeru nama Tuhan, persona Tuhan datang kepada kita. Sebagaimana seseorang menyahut ketika kita memanggil namanya, demikianlah Tuhan Yesus sendiri menyahut ketika kita menyeru nama-Nya. Nama Tuhan ialah Yesus Kristus, dan persona-Nya ialah Roh. Inilah sebabnya, ketika kita menyeru nama Tuhan Yesus, Roh itulah yang datang.

Konsepsi kita mungkin menyangka Tuhan hanya di surga tingkat ketiga. Karena itu kita akan terkejut, mengapa begitu berseru kepada-Nya, Ia datang secepat itu. Padahal, sebagai Roh Ia sudah berada di batin kita. Mungkin maksud kita ingin mengutarakan, “Tuhan Yesus Kristus, Engkau bersemayam di surga.” Namun sebelum kita selesai menyebut nama Tuhan, Ia sudah menyahut. Tuhan dapat menyahut secepat itu terhadap seruan kita kepada-Nya disebabkan dalam kebangkitan Ia kini adalah Roh pemberi-hayat.

Kejadian 1 menyinggung tentang Allah dan keempat Injil menyinggung tentang riwayat Yesus di bumi. Tetapi dalam pengalaman kita hari ini, Tuhan Yesus Kristus telah menjadi Roh pemberi-hayat. Begitu kita mulai menyeru nama-Nya, Ia mendatangi kita dari batin kita. Inilah Kristus di dalam kebangkitan.

KELIMPAHAN KEBANGKITAN

Gereja ada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Sebutan Kristus dalam 1Tesalonika 1:1 menyatakan semua kelimpahan kebangkitan. Seandainya Tuhan sekadar Yesus bukan Kristus, maka mustahillah kita bisa di dalam-Nya. Tetapi berhubung Ia adalah Tuhan Yesus Kristus, kita bisa di dalam Dia, bahkan sekarang ini juga kita justru di dalam Dia. Di manakah kita ini? Di dalam Tuhan Yesus Kristus. Nama Yesus menyiratkan bahwa segala adanya kita di dalam ciptaan lama dan di dalam kejatuhan telah diakhiri; dan sebutan Kristus menyiratkan bahwa kita tidak lagi di dalam diri kita, ciptaan lama, dosa, maut, dunia, dan Iblis. Sebagai gantinya, kita ada di dalam kebangkitan, Roh, dan di dalam kebenaran, kekudusan, kekuatan, tenaga dan kekuasaan. Dikarenakan kita di dalam Kristus, kita juga bahkan di atas takhta bersama Dia. Oh, alangkah menakjubkan ada di dalam Kristus. Di dalam Tuhan Yesus Kristus di satu pihak berarti kita telah diakhiri dan tidak lagi di dalam ciptaan lama; di pihak yang lain, berarti kita yang di dalam Kristus adalah di dalam kebangkitan. Di dalam Kristus ialah di dalam kebangkitan, di dalam Roh, di dalam kekuatan, di dalam tenaga, dan di dalam kekuasaan. Namun, karena pengaruh agama Kristen yang tradisional, kita mungkin tidak paham makna di dalam Kristus. Akibatnya, kita kurang mengalami kebangkitan, tenaga, dan kekuasaan.

Apakah Anda tahu bahwa karena Anda di dalam Kristus maka Anda berada di atas takhta? Bukan hanya di dalam kekuatan, tenaga, dan kekuasaan, tetapi juga di atas takhta. Setelah kebangkitan-Nya Kristus naik ke surga dan bertakhta; di dalam Dia kita pun duduk di atas takhta. Kadang kala kita perlu berkata kepada Iblis, “Iblis, tidakkah kau nampak di mana aku hari ini? Aku di dalam Kristus, di atas takhta!”

Agama telah merampas bahkan merampok kenikmatan yang kita peroleh di dalam Kristus, membuat kita miskin dan kasihan atas pengalaman. Karena itu, kita perlu dikesankan dengan fakta bahwa di dalam Kistus adalah di dalam kebangkitan, di dalam Roh, di dalam kekuatan, dan di atas takhta. Gereja di dalam Kristus ialah gereja di dalam kebangkitan, di dalam kekuasaan, dan di atas takhta.

BERTUMBUH DALAM HAYAT KEBANGKITAN

Sebelum kita melangkah lebih lanjut, yaitu melihat masalah di dalam Kristus adalah juga di dalam kerajaan dan kemuliaan, kita perlu menegaskan perkara hayat yang sangat penting ini. Di dalam Kristus ialah di dalam hayat, yaitu di dalam hayat kebangkitan. Mengabaikan hayat, berarti kehilangan segalanya. Lepas dari hayat, tidak ada jalan masuk ke dalam kerajaan atau kemuliaan. Hari ini gereja berada di dalam kebangkitan, dan hayat kebangkitan ini merampungkan banyak bagi kita.

Saya telah belajar banyak tentang hayat dengan menyelidiki bagaimana tanaman itu bertumbuh dalam kebun saya. Saya kagum melihat bagaimana tanaman yang kecil bertumbuh dalam hayat. Ini merupakan sebuah gambar yang melukiskan bagaimana kita bertumbuh dalam hayat kebangkitan. Karena kita di dalam hayat kebangkitan, maka ada sesuatu yang di dalam kita sedang bertumbuh. Istilah bertumbuh meliputi banyak sekali, termasuk transformasi, berbunga, berbuah, dan dewasa. Beberapa tanaman di kebun saya tidak begitu elok sebelum mereka bertumbuh secukupnya. Tetapi melalui bertumbuh, mereka telah diubah menjadi elok. Mereka berbunga, menghasilkan buah, dan menjadi besar dan matang. Masalah pertumbuhan berikut semua yang tercakup di dalamnya ini juga termasuk pemikiran mengenai gereja di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.

Sungguh menyedihkan bahwa di bawah pengaruh agama, banyak orang Kristen telah diselewengkan dari pertumbuhan dalam hayat kebangkitan. Mereka tidak memperhatikan hayat dan pertumbuhan hayat, malahan mengejar pengetahuan serta berusaha memperbaiki diri. Kita tidak perlu berusaha memperbaiki diri, karena kita di dalam hayat kebangkitan. Hayat kebangkitan ini ialah Kristus yang telah bangkit, dan Kristus yang di dalam kebangkitan ini ialah Roh pemberi-hayat. Gereja hari ini ada di dalam Kristus, Dia yang di dalam kebangkitan-Nya telah menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit.