PAHALA PEMELIHARAAN
Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 2:13-20
Dalam pasal 1 terdapat susunan dan asal-mula kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Dalam pasal 2 kita menjumpai pemeliharaan kehidupan ini. Ketika membaca pasal 2, mungkin kita merasa bahwa Paulus terlampau menekankan kedatangan rasul di antara orang-orang Tesalonika dan penempuhan hidup mereka di tengah-tengah orang-orang Tesalonika. Boleh jadi kita berpikir bahwa Paulus seharusnya memberi kaum beriman baru lebih banyak doktrin, ajaran dan instruksi. Namun sebaliknya, Paulus menekankan kedatangan rasul, pemberitaan dan ajaran mereka tentang firman Tuhan, dan bagaimana kaum beriman baru menerima firman. Yang Paulus tekankan ialah perilaku para rasul, kehidupan dan sikap hidup sehari-hari mereka. Alasan penegasan ini adalah Paulus ingin merawat kaum beriman, mengasuh, dan memelihara mereka. Paulus tidak bermaksud memberi mereka banyak pengetahuan. Ia tidak ada beban untuk mengajarkan begitu banyak hal kepada mereka. Dalam 2:12 ia memang mengatakan bahwa Allah telah memanggil kaum beriman ke dalam Kerajaan-Nya serta kemuliaan-Nya; tetapi ia tidak mengembangkan hal ini atau menerangkannya, sebaliknya dalam ayat demi ayat, Paulus membicarakan sikap hidupnya, cara pemberitaannya, dan dirinya sebagai teladan bagi kaum beriman.
PEKERJAAN PEMELIHARAAN
Yang terkandung dalam pasal 2 dari 1Tesalonika adalah pemeliharaan kehidupan orang Kristen yang masih muda. Dalam Pasal ini Paulus sedang memberi makan dan meng-asuh kaum beriman. Menurut suratnya, ia memperlakukan dirinya sebagai seorang ibu yang mengasuh dan seorang bapak yang menasihati. Di satu pihak, ia adalah ibu yang mengasuh, dan di pihak lain, ia adalah bapak yang menasihati. Pemeliharaannya yang terutama bukan pada pengajaran, melainkan mengungkapkan pekerjaan pemeliharaan untuk membantu pertumbuhan kaum beriman muda.
Kebanyakan pekerja Kristen kekurangan konsepsi bahwa pekerjaan mereka tidak seharusnya mengutamakan mengajar, melainkan memelihara. Konsepsi Paulus terhadap pekerjaannya ialah membantu menumbuhkan kaum beriman. Itulah sebabnya dalam 1 Korintus 3 dikatakan bahwa ia menanam dan Apolos menyiram, kemudian Allah yang menumbuhkan. Ini menunjukkan bahwa Paulus memandang pekerjaan orang Kristen adalah pekerjaan hayat. Bukan pekerjaan di sekolah, melainkan di ladang, di kebun buah, di taman. Karena itu, yang terutama bukanlah mengajar orang atau mendidik orang. Tetapi kebanyakan pekerjaan kekristenan hari ini terutama adalah untuk pendidikan, dan ada sedikit untuk pembinaan. Namun pembinaan ini tidak langsung berhubungan dengan hayat, melainkan berhubungan dengan etika, moral, atau perbaikan karakter. Tetapi bagi Paulus konsepsi pekerjaan orang Kristen sama sekali berbeda.
Menurut apa yang dia utarakan dalam pasal 2, Paulus memandang kaum beriman sebagai anggota-anggota keluarga besar. Dalam sebuah keluarga memang perlu ada sejumlah pengajaran. Baik ibu maupun bapak pasti mengajar anak-anak mereka. Tetapi dalam sebuah keluarga, fokusnya bukan mengajar anak-anak, tetapi membesarkan mereka melalui pengasuhan, perawatan, dan pemeliharaan agar mereka dapat bertumbuh. Pertumbuhan mereka terutama bukan dalam pengetahuan, melainkan dalam hayat. Ketika anak-anak bertumbuh dalam hayat, dengan sendirinya mereka menerima pendidikan lebih banyak. Pengetahuan yang mereka peroleh selalu berjalan sejajar dengan pertumbuhan mereka di dalam hayat. Mereka tidak seyogianya diberi pengetahuan sebelum waktunya. Artinya, pengetahuan mereka tidak boleh melampaui pertumbuhan hayat mereka. Inilah konsepsi yang tepat mengenai orang Kristen.
Mengenai hal ini, kita dalam pemulihan Tuhan harus mengubah konsepsi kita. Jangan beranggapan bahwa di dalam pemulihan kita memandang pekerjaan lebih tinggi daripada hayat. Tidak, kita harus berkonsentrasi pada hayat. Gereja adalah sebuah keluarga. Gereja dapat pula diumpamakan sebuah ladang atau kebun. Keluarga adalah tempat anak-anak bertumbuh, dan kebun adalah tempat pohon-pohon bertumbuh dan berbuah. Yang diperhatikan Paulus dalam pasal 2 ialah pertumbuhan anak-anaknya. Ia membina kaum beriman muda agar mereka bertumbuh. Boleh juga kita katakan bahwa ia menyiram, merawat, dan mengasuh tanaman muda yang lemah supaya mereka dapat bertumbuh dalam hayat. Itulah sebabnya ia tidak memberi kaum beriman ajaran yang begitu banyak, melainkan memberi mereka sebuah teladan kehidupan. Teladan kehidupan yang tepat ini pada hakikatnya adalah Paulus sendiri.
BERTUMBUH MELALUI MENGIKUTI TELADAN
Ada guru-guru Kristen mengatakan bahwa seorang beriman tidak boleh memberi kesaksian tentang dirinya. Menurut para guru itu, memberikan kesaksian tentang pengalaman diri sendiri berarti memberitakan diri sendiri. Sebab itu, mereka menganjurkan orang-orang agar jangan mengisahkan bagaimana mereka telah bertobat, percaya kepada Tuhan, menerima anugerah, dan telah beroleh selamat. Para guru itu berkeras dalam pendirian bahwa kita hanya boleh memberitakan Tuhan Yesus dan mengajarkan Alkitab, tanpa mengutarakan apa-apa tentang diri kita. Tetapi dalam 1Tesalonika 2, Paulus jelas membicarakan dirinya. Ia memberikan kesaksian yang tegas tentang kehidupannya di antara orang-orang Tesalonika. Ia mengingatkan mereka tentang kedatangan para rasul dan sikap hidup para rasul di tengah-tengah mereka. Mengapa Paulus menekankan hal ini? Ia menekankan hal ini dikarenakan ia sedang menampilkan teladan penempuhan hidup yang tepat kepada kaum saleh muda. Saya harap semua penatua dan para pemimpin nampak dari teladan Paulus bahwa kita harus menjadi teladan bagi kaum saleh. Dalam setiap gereja lokal harus ada contoh, model, untuk diteladani orang lain.
Dalam 1:6 Paulus berkata kepada orang-orang di Tesalonika, “Dan kamu mengikuti teladan kami dan teladan Tuhan.” Mengikuti teladan berkaitan dengan pertumbuhan. Pada faktanya, dalam banyak hal mengikuti teladan ialah bertumbuh. Anak-anak dalam sebuah keluarga mengikuti teladan orang tua mereka dan saudara-saudara yang lebih tua. Yang kecil tidak menciptakan sesuatu, melainkan mengikuti teladan yang lain. Ilustrasi yang sangat baik tentang hal ini ialah dalam penggunaan bahasa. Seorang anak belajar bahasa yang dibicarakan oleh orang tuanya. Ia mengucapkan bahasa dan aksen yang sama. Seorang anak belajar bahasa dan aksen dengan meniru. Ini menggambarkan fakta bahwa anak-anak bertumbuh dengan meniru orang tua mereka. Sebab itu, dalam sebuah keluarga, meniru sesungguhnya berarti bertumbuh. Anak-anak meniru orang tuanya dalam banyak hal — gerakan tangan, ucapan, bahkan karakter. Orang tua adalah teladan, atau model bagi anak-anak mereka. Bagaimana orang tuanya, begitulah anak-anaknya.
MENAMPILKAN TELADAN
Memberikan banyak pengajaran kepada kaum beriman baru dan anak-anak muda bukanlah cara yang tepat untuk merawat mereka. Cara yang tepat untuk memelihara mereka ialah memperlihatkan teladan kepada mereka. Dengan memperlihatkan teladan kepada mereka, Anda menyiram, menyuplai, merawat, dan mengasuh mereka. Inilah pemeliharaan. Jika Anda menemukan bahwa pengalaman Anda agak kurang, tunjukkanlah kepada kaum beriman baru bermacam-macam orang dalam Alkitab, seperti Henokh, Nuh, Abraham, dan Daud dari Perjanjian Lama, serta Petrus, Yohanes, Paulus, dan Timotius dari Perjanjian Baru. Kita dapat menyajikan riwayat tokoh-tokoh dalam Alkitab sedemikian rupa untuk memelihara pertumbuhan anak-anak muda.
Jika kita memberikan terlalu banyak ajaran kepada orang baru dan anak-anak muda, mereka akan rusak. Setiap ibu tahu bahwa salah satu hal yang amat penting dalam membesarkan anak-anak ialah memberi mereka makan (merawat) dengan tepat. Mengasuh anak-anak terdiri atas 90% masalah makan dan 10% pengajaran. Ini pun harus menjadi praktek kita dalam hal memelihara kaum beriman di dalam gereja. Kita harus belajar melaksanakan 90% memberi makan dan 10% mengajar. Memberi makan meliputi penyajian teladan dari Alkitab maupun dari sejarah gereja. Dengan membaca biografi kaum saleh sepanjang abad, kita merawat diri kita sambil mengalami semacam pemeliharaan. Titik berat di sini ialah cara yang paling baik untuk merawat dan memelihara orang lain ialah memberi mereka teladan yang tepat. Tanpa teladan, tidak ada pemeliharaan. Hanya dengan adanya teladan kita dapat merawat orang lain.
Dalam kitab 1Tesalonika Paulus tidak memberitakan dirinya. Sebaliknya, ia memberi makan anak-anak rohaninya dengan kehidupannya yang memperhidupkan Kristus. Ini berarti model kehidupan Paulus digunakan untuk memberi makan (merawat) anak-anak rohaninya. Inilah alasannya menekankan kedatangannya di antara orang-orang Tesalonika, pemberitaannya, caranya menangani firman Allah, dan sikap hidupnya.
FIRMAN ALLAH YANG BEROPERASI
Dalam 2:13 Paulus berkata, “Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi — dan memang sungguh-sungguh demikian — sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.” Ayat ini menunjukkan bahwa firman yang diterima oleh kaum beriman disampaikan oleh para rasul, tetapi berasal dari Allah. Sumbernya, asal-usulnya, adalah Allah, bukan para rasul. Orang-orang Tesalonika menerima perkataan para rasul bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai firman Allah. Di sini kita nampak prinsip yang pokok: kapan saja kita memberitakan atau mengajar, kita harus mengesankan orang lain dengan fakta bahwa apa yang kita katakan bukanlah perkataan manusia, melainkan benar-benar firman Allah.
Dalam ayat 13 Paulus mengatakan bahwa firman Allah beroperasi di dalam mereka yang percaya. Karena firman Allah itu hidup dan berkhasiat (Ibr. 4:12), maka firman itu bekerja (beroperasi) dalam kaum beriman. Begitu kita menerima dan memperoleh firman itu, firman itu akan beroperasi di dalam kita.
MENGIKUTI TELADAN JEMAAT-JEMAAT ALLAH
Dalam ayat 14 Paulus melanjutkan, “Sebab kamu, Saudara-saudara, telah mengikuti teladan jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu sama seperti yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.” Rasul mengajarkan hal yang sama dalam semua gereja (1 Kor. 4:17; 7:17; 11:16). Ini menunjukkan bahwa semua gereja harus mengemban kesaksian yang sama tentang Yesus. Jadi, semua gereja adalah kaki-kaki pelita yang sejenis (Wahyu 1:9, 20).
Gereja di Tesalonika mengikuti teladan gereja-gereja di Yudea. Sudah tentu kabar tentang gereja-gereja di Yudea telah didengar oleh kaum beriman di Tesalonika. Bagaimana mungkin orang-orang Tesalonika mengikuti teladan gereja-gereja di Yudea kalau mereka belum mendengar sesuatu tentang gereja-gereja di Yudea. Mereka pasti telah mendengar tentang gereja-gereja dan umat salehnya. Berita-berita itu telah memelihara kaum beriman di Tesalonika, membuat mereka bertumbuh. Sekali lagi kita nampak bahwa tidak ada sesuatu yang lebih memelihara kaum saleh atau gereja-gereja daripada kabar yang benar tentang kaum saleh atau gereja lain.
Dalam ayat 14 Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Tesalonika menderita hal yang sama dari orang-orang setanah airnya sebagaimana gereja di Yudea menderita karena orang-orang Yahudi. Inilah perkataan yang menghibur, menguatkan, dan memelihara. Ketika Paulus menulis, gereja di Tesalonika sedang menderita dan dianianya. Di tengah-tengah penganiayaan, mereka mendengar tentang penderitaan orang-orang kudus yang di Yudea. Berita-berita itu menguatkan, menghibur, dan meneguhkan mereka, pun membantu memelihara mereka, membuat mereka bertumbuh.
VAKSINASI
Ayat 15 melanjutkan, “Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi.” Paulus memiliki kebijaksanaan dengan menuliskan ayat ini. Di sini ia sedang memvaksinasi kaum beriman terhadap penganut agama Yahudi yang pada akhirnya akan datang. Paulus menginjeksikan sebuah peringatan yang sehat tentang penganut agama Yahudi ke dalam kaum saleh di Tesalonika. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Saudara-saudara, jangan sekali-kali menganggap perkara orang-orang Yahudi sebagai sesuatu yang menakjubkan. Orang-orang Yahudi bukanlah bagi Allah, dan mereka tidak bersatu dengan Allah. Mereka membunuh Tuhan Yesus, dan mereka pun mengusir kami. Bersiap-siaplah wahai orang-orang Tesalonika, karena pada suatu hari nanti mereka akan datang kepadamu untuk merongrong dan merusak apa yang telah kita kerjakan. Janganlah menuruti omongan mereka, sebab mereka itu melawan kita. Mereka bermusuhan dengan semua orang, dan mereka tidak berkenan kepada Allah.” Ini benar-benar vaksinasi yang sangat baik.
Perkataan vaksinasi ini juga adalah bagian dari pekerjaan pemeliharaan Paulus kepada umat saleh. Bahkan vaksinasi ini pun termasuk dalam pemeliharaan. Dalam hal memelihara anak-anak mereka, para orang tua berusaha melindungi mereka dari serangan penyakit. Malahan dalam memelihara kebun pun kita berusaha melindungi tanaman dari gangguan penyakit atau serangga. Bila tidak, penyakit akan merusak tanaman, dan serangga akan menggerogoti tanaman, terutama bagian-bagian yang lunak. Karena itu, agar tanaman terlindung, kita mungkin menyemprotkan obat serangga. Boleh dikatakan, dalam ayat ini Paulus sedang memberi kaum beriman di Tesalonika obat ilahi penangkis kuman. Ia memperingatkan mereka agar jangan menaruh keyakinan kepada orang Yahudi atau memberi mereka kepercayaan sedikit pun. Sebaliknya, orang-orang Tesalonika harus menolak mereka.
Paulus meneruskan peringatan ini dalam ayat 16, di mana ia membicarakan orang Yahudi, “menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.” Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidak mau orang-orang Tesalonika mendengar perkataan rasul agar diselamatkan. Kata-kata ini merupakan bagian dari vaksinasi Paulus.
MERASA KEHILANGAN KAUM SALEH
Ayat 17, “Tetapi kami, Saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan kerinduan yang besar, telah berusaha untuk menemui kamu muka dengan muka.” Perkataan ini menyiratkan bahwa rasul-rasul menganggap orang yang baru beroleh selamat sebagai orang yang berharga dan terkasih bagi mereka. Paulus mengibaratkan kepergian mereka dari antara orang-orang yang baru beroleh selamat itu sebagai kehilangan orang yang dikasihi, menderita karena tidak melihat mereka. Ini adalah kerinduan rasul kepada kaum beriman baru.
Dalam ayat 17 Paulus seakan-akan mengatakan, “Saudara-saudara, kami telah kehilangan kalian. Kami rindu tinggal bersama kalian, kami sangat kehilangan kalian. Namun, walaupun kita seketika terpisah dari tatapan muka, tetapi tidak jauh di hati. Dalam hati kami, kami tetap bersama dengan kalian. Alangkah rindunya kami berjumpa dengan kalian.”
Perkataan Paulus dalam ayat 15-17 sangat emosional. Berhubung dia itu penuh perasaan, maka ia dapat menyentuh perasaan orang lain. Ketika Paulus membicarakan orang Yahudi secara negatif, dia penuh dengan perasaan. Demikian pula, ketika ia membicarakan para rasul secara positif, ia pun penuh perasaan. Pernyataan Paulus dengan emosi yang dalam membuat kaum beriman mengasihi para rasul dan menolak penganut agama Yahudi. Ini pun berkaitan dengan hal memelihara anak-anak, melindungi mereka, membesarkan mereka, tanpa dirusak oleh hal-hal yang negatif.
Paulus tentunya paham bagaimana memelihara kaum saleh. Ia membicarakan dirinya sedemikian sehingga dapat memelihara mereka, juga memvaksinasi mereka. Dalam memelihara orang-orang Tesalonika, Paulus menunjukkan kepada mereka bahwa orang-orang Yahudi yang menentang dan menganiaya itu perlu ditolak, namun orang-orang Yahudi yang datang kepada mereka sebagai rasul patut disayangi.
DIHALANGI OLEH IBLIS
Dalam ayat 18 Paulus berkata, “Sebab kami telah ber-niat untuk datang kepada kamu — aku, Paulus, malahan lebih dari sekali — tetapi Iblis telah mencegah (menghalangi) kami.” Karena para rasul melaksanakan kehendak Allah, Iblis menghalangi mereka. Paulus menyalahkan Iblis. Dengan demikian ia menyuruh orang-orang Tesalonika untuk menolak penganut agama Yahudi dan membenci Iblis. Para rasul damba sekali berjumpa dengan kaum beriman di Tesalonika, akan tetapi mereka dihalangi oleh Iblis.
PENGHARAPAN, SUKACITA, DAN MAHKOTA
Paulus menyimpulkan dalam ayat 19-20, “Sebab siapa pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.” Kedatangan dalam ayat 19 istilah Yunaninya, parousia, berarti penyertaan, kehadiran, seperti dalam 3:13 dan 4:15. Kedatangan Tuhan adalah kehadiran-Nya. Dalam terang demikianlah kedua Surat Kiriman ini ditulis. Setiap pasal dari surat yang pertama diakhiri dengan kedatangan kembali Tuhan.
Ayat 20 menunjukkan bahwa karena rasul-rasul adalah ibu yang mengasuh kaum beriman dan bapak yang menasihati kaum beriman (ayat 7 dan 11), maka kaum beriman sebagai anak-anak para rasul adalah kemuliaan dan sukacita para rasul. Terlepas dari kaum saleh, para rasul tidak ada pengharapan, kemuliaan, atau mahkota yang boleh dibanggakan.
Di sini Paulus sepertinya berkata, “Kalianlah pengharapan kami, sukacita kami, dan mahkota kebanggaan kami. Saudara-saudara, hanya untuk kalianlah kami ada di sini, bukan untuk yang lain. Tanpa kalian, kami tidak memiliki apa-apa. Kalianlah pengharapan kami sebagaimana pengharapan kalian adalah datang kembalinya Tuhan. Tanpa kalian, pada kedatangan Tuhan, kami akan kekurangan sukacita dan kemuliaan. Kami memerlukan kalian! Kalianlah pengharapan kami, sukacita kami, mahkota, dan kemuliaan kami di hadapan Tuhan Yesus pada kedatangan-Nya.” Sekali lagi, Paulus menyatakan perasaan yang dalam atas perhatiannya terhadap anak-anaknya. Dia benar-benar seorang bapak yang menasihati anak-anaknya. Sebagai seorang bapak yang menasihati, sepertinya Paulus berkata, “Anak-anak, hanya untuk kalian kami hadir di sini. Tanpa kalian, hidup tidaklah berarti. Seandainya bukan demi kalian, hidup pun kami enggan.” Kata-kata yang demikian dari orang tua menjamah amat dalam, menjamah hati anak-anaknya.
Tidakkah Anda akan tersentuh dalam-dalam jika orang tua Anda menyurati Anda dengan kalimat yang demikian? Tidakkah Anda akan terjamah apabila mereka mengatakan bahwa tanpa Anda hidup itu sia-sia, dan bahwa mereka hidup di bumi hanya untuk Anda. Tanpa disangsikan, mendengar atau membaca perkataan semacam ini, air mata Anda tentu mengalir. Perkataan semacam ini memelihara dan membantu pertumbuhan anak-anak.
Sebagai seorang ayah yang baik, Paulus tahu bagaimana menyentuh hati anak-anaknya. Asal Anda dapat menyentuh hati orang lain, Anda pasti akan berhasil memelihara pertumbuhan mereka. Jalan yang terbaik untuk memelihara orang lain adalah menyentuh hati mereka dalam-dalam.
SASARAN HIDUP ORANG KRISTEN
Mari kita periksa sekali lagi ayat 12. Di sini Paulus mengatakan, “Supaya kamu hidup (berperilaku) sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan kristiani kita adalah kehidupan yang mengarah kepada Kerajaan. Kita perlu berperilaku sepadan dengan Allah, yang memanggil kita ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. Ayat ini jelas memberi tahu kita bahwa kehidupan orang Kristen mempunyai sebuah sasaran, yaitu Kerajaan Allah. Kita ini sedang bergerak menuju sasaran ini. Arah tujuan kita dan nasib kita adalah memasuki Kerajaan Allah. Kerajaan yang merupakan subyek utama dalam Perjanjian Baru adalah satu-satunya sasaran dari perilaku kita sebagai orang Kristen.
Sasaran kita bukanlah surga. Menurut Perjanjian Baru, Kerajaan adalah sasaran kita. Satu Tesalonika 2:12 tidak mengatakan bahwa Allah telah memanggil kita ke surga, melainkan mengatakan bahwa Ia telah memanggil kita dengan tujuan memasuki Kerajaan-Nya. Kerajaan ini mencakup kemuliaan Allah. Ketika kita memasuki Kerajaan, niscaya kita pun berada dalam kemuliaan. Kerajaan Allah dengan kemuliaan Allah jauh lebih baik daripada apa yang disebut wisma surgawi.
Pekerjaan Paulus terhadap kaum beriman baru ialah merawat mereka, mengasuh mereka, dan memelihara mereka, agar mereka berperilaku sepadan dengan Allah, sehingga dapat memasuki Kerajaan-Nya serta berbagian dalam kemuliaan-Nya. Inilah sasaran kehidupan orang Kristen.
MENERIMA PAHALA
Dalam ayat-ayat 19 dan 20 Paulus menunjukkan bahwa mereka yang bekerja bersama Tuhan dalam memelihara kaum beriman untuk berperilaku sepadan dengan Allah akan menerima pahala. Pahala ini ialah kaum beriman yang telah kita pelihara menjadi mahkota, kemuliaan, dan sukacita kita. Alangkah mulianya pekerja Kristus yang bersangkutan bila kaum saleh yang dipeliharanya menjadi dewasa pada saat Tuhan datang kembali! Hal itu akan menjadi mahkota dan sukacita baginya! Namun sebaliknya, alangkah memalukan apabila tidak ada satu orang beriman pun yang telah bertumbuh dewasa.
Banyak di antara kita yang sedang menggarap kaum muda. Hasil dari garapan kita seharusnya adalah kaum beriman ini bertumbuh dewasa. Jika mereka dewasa dengan tepat, niscaya mereka akan memasuki Kerajaan serta berpartisipasi dalam kemuliaan Allah. Kedewasaan ini kemudian akan menjadi mahkota, sukacita, dan kemegahan kita di hadapan Tuhan Yesus pada saat kedatangan-Nya. Namun, jika kita terus-menerus menggarap kaum beriman baru, tetapi tanpa hasil, pada saat Tuhan datang kembali, itu adalah gagal, alangkah memalukan! Ketika Tuhan Yesus datang, hasil pekerjaan kita akan dinyatakan. Hasil itu juga merupakan pahala kita, mahkota kita, dan sukacita kita.
Prinsip yang sama kita dapati dalam 1 Petrus 5:4. Di sini Petrus mengatakan bahwa para penatua akan dipahalai sebuah mahkota kemuliaan. Tetapi pahala ini tergantung pada hasil dari tugas mereka sebagai penatua. Jika hasil dari tugas mereka sebagai penatua adalah bertumbuh dewasanya umat saleh, maka kedewasaan itu akan menjadi mahkota kemuliaan bagi para penatua. Itulah yang akan menjadi pahala mereka.
Pasal 2 dari 1 Tesalonika adalah firman yang sehat bagi kita semua. Dari pasal ini kita belajar bagaimana menggarap para remaja dan kaum beriman baru sehingga mereka terpelihara dan bertumbuh dewasa, serta memiliki hasil yang positip dari pekerjaan kita di hadapan Tuhan pada kedatangan-Nya. Hasil ini kelak akan menjadi mahkota dan kemuliaan kita yang dianugerahkan sebagai pahala atas pekerjaan kita hari ini.