← Daftar isi 1 Tesalonika (1) · bab 12/14

PEMELIHARAAN DARI IBU YANG MENGASUH DAN BAPAK YANG MENASIHATI

Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 2:1-12

Dalam Kitab 1Tesalonika Paulus tidak membicarakan mukjizat. Ia tidak mengatakan bahwa Injil diberitakan kepada orang-orang Tesalonika melalui mukjizat, tanda ajaib, dan penyembuhan. Jika kita mempelajari kitab ini dengan cermat, kita akan menemukan bahwa yang ditekankan Paulus adalah kehidupan sehari-hari. Dalam 1:5 ia berkata, “Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.” Paulus tidak menekankan hal-hal adi-kodrati atau mukjizat, sebaliknya ia menjadikan kehidupan sehari-harinya sebagai faktor pemberitaan Injil. Di samping itu, berkenaan dengan kehidupan orang Kristen, ia menekankan tiga hal: berbalik dari berhala kepada Allah, melayani Allah yang hidup, dan menanti kembalinya Tuhan Yesus.

KEHIDUPAN YANG NORMAL

Sepanjang sejarah, pikiran manusia selalu tertarik kepada hal-hal yang khayal, ajaib, dan adikodrati. Namun, hal-hal mukjizat itu tidak bertahan lama; sedangkan pekerjaan yang dirampungkan oleh kehidupan yang wajar akan berlangsung terus.

Keselamatan Allah memungkinkan kita menempuh kehidupan yang normal. Ini merupakan kesaksian yang kuat dari Injil. Orang Kristen harus menempuh kehidupan yang normal, bukan yang mukjizat atau yang adikodrati. Karena itu, kehidupan yang normal bagi hidup gereja haruslah yang biasa, juga yang teratur, dan yang normal. Ciri khas kehidupan yang semacam ini ialah berbalik dari berhala kepada Allah, melayani Allah yang hidup, dan menanti kembalinya Tuhan Yesus. Menempuh kehidupan seperti ini berarti tidak ada sesuatu di bumi ini yang menduduki kita. Kita bebas dari semua berhala, dari semua yang di luar Allah, dan kita diduduki hanya oleh Allah yang hidup itu sendiri. Allah yang hidup ini dipersaksikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kehidupan kita memberikan kesaksian bahwa Allah yang kita layani itu hidup. Tidak hanya demikian, sasaran kita, tujuan kita, dan pengharapan kita, tidaklah berhubungan dengan hal-hal di bumi, melainkan terfokus pada kembalinya Tuhan Yesus. Kehidupan dengan ketiga ciri khas inilah kehidupan Kristen yang wajar sebagai kesaksian bagi Allah kita. Aspek-aspek kehidupan orang Kristen yang wajar ini semuanya dibahas dalam 1 Tesalonika 1.

PEMELIHARAAN KEHIDUPAN YANG KUDUS BAGI HIDUP GEREJA

Pasal pertama dari Kitab 1Tesalonika membahas dua butir penting: susunan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, dan asal mula kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Susunan kehidupan semacam ini terdiri atas pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan. Asal mula kehidupan semacam ini ialah pemberitaan Injil dan penerimaan firman yang diberitakan, hasilnya ialah berbalik dari berhala kepada Allah, melayani Allah yang hidup dan benar, serta menantikan kembalinya Anak Allah. Kini, dalam pasal 2 kita akan melihat aspek ketiga dari kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, yakni pemeliharaan.

Meskipun istilah “memelihara” ini tidak terdapat dalam 1Tesalonika 2, tetapi fakta memelihara bisa didapati dalam pasal ini. Di sini Paulus mengumpamakan rasul sebagai ibu yang mengasuh dan bapak yang menasihati. Ini berarti bahwa rasul adalah ibu juga bapak bagi kaum beriman baru. Mereka memandang kaum beriman sebagai anak-anak di bawah pemeliharaan mereka. Sama seperti orang tua mengasuh anak-anak mereka, memelihara mereka, agar bertumbuh begitu pula rasul mengasuh kaum ber-iman baru. Maka, dalam 1Tesalonika 2 kita nampak pemeliharaan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Dalam ayat 1-12 kita menjumpai seorang ibu yang mengasuh dan seorang bapak yang menasihati, dan dalam ayat 13-20 kita nampak pahala, yang dianugerahkan kepada mereka yang mengasuh kaum beriman secara demikian. Karena para rasul demikian merawat kaum beriman baru, maka akhirnya para rasul akan menerima pahala dari Tuhan.

Satu Tesalonika 2:1-12 jelas adalah firman yang ditulis untuk kaum beriman baru. Dalam ayat-ayat ini tidak banyak yang berbobot atau dalam. Di sini tidak terdapat doktrin-doktrin yang mendalam. Sebaliknya, kita menemukan kalimat yang boleh dibandingkan dengan cara orang tua berbicara kepada anak-anaknya yang muda. Mari kita simak bagian ini, ayat demi ayat, agar kita terkesan bagaimana membantu kaum beriman baru.

KEDATANGAN RASUL-RASUL DI ANTARA MEREKA

Ayat 1 mengatakan, “Kamu sendiri pun memang tahu, Saudara-saudara bahwa kedatangan kami di antara kamu tidaklah sia-sia.” Rasul berulang-ulang menekankan kedatangannya di antara kaum beriman (1:5, 9). Ini menunjukkan bahwa perilaku rasul memainkan peranan yang besar dalam menginfuskan Injil ke dalam orang beriman baru. Perilaku mereka bukan hanya berupa perkataan mereka saja, lebih-lebih adalah apa adanya mereka.

Melalui cara inilah rasul-rasul mendatangi orang-orang Tesalonika dengan Injil sehingga orang-orang Tesalonika diyakinkan. Kedatangan rasul-rasul tidaklah sia-sia. Mereka adalah teladan bagaimana percaya kepada Tuhan dan meng-ikut Tuhan. Berhubung banyak yang percaya dalam Tuhan Yesus melalui rasul-rasul, maka terbangunlah sebuah gereja dalam waktu yang kurang dari sebulan. Terjadinya hal ini terutama bukan sebagai hasil pemberitaan dan ajaran, melainkan melalui cara kedatangan rasul-rasul ke tengah-tengah orang-orang Tesalonika.

MEMBERITAKAN INJIL

DALAM PERJUANGAN YANG BERAT

Ayat 2 meneruskan, “Tetapi sungguh pun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun di dalam pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat.” (Tl.). Dalam pemberitaan Injil, para rasul mengalami Allah. Mereka menikmati-Nya sebagai keberanian mereka dalam berjuang untuk Injil. Mereka berani bukan di dalam diri mereka sendiri, melainkan di dalam Allah, bahkan setelah mereka dianiaya dengan hebat oleh orang-orang Filipi. Penderitaan dan penganiayaan tidak mampu mengalahkan mereka, sebab mereka berada di dalam kesatuan organik dengan Allah Tritunggal. Menurut ayat 2, mereka memberitakan Injil Allah dalam perjuangan yang berat. Ini menunjukkan bahwa ketika mereka sedang memberitakan, mereka juga berjuang, sebab penganiayaan masih tetap berlangsung. Karena itu, mereka ber-juang sambil memberitakan Injil kepada orang-orang Tesalonika dalam keberanian Allah.

KEJUJURAN DAN KESETIAAN

Dalam ayat 3 Paulus mengatakan, “Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.” Kesesatan mengacu kepada sasaran, maksud yang tidak murni mengacu kepada motivasi, dan tipu daya mengacu kepada caranya. Ketiga hal itu berasal dari (dan dilakukan oleh) Iblis yang licik dan menyesatkan. Perkataan nasihat meliputi pembicaraan, pemberitaan, pengajaran, petunjuk, dan saran. Nasihat Paulus tidak mengandung penyesatan, ketidakmurnian, dan tipu daya. Rasul-rasul tidaklah serakah, dan mereka tidak bermaksud mencari keuntungan dari siapa-siapa. Kedatangan mereka kepada orang-orang Tesalonika dengan Injil sepenuhnya jujur dan setia.

DIANGGAP LAYAK OLEH ALLAH

Ayat 4 mengatakan, “Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak sehingga Ia mempercayakan Injil kepada kami, maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita.” Dipercayai oleh Allah berdasarkan perkenan-Nya, yang berasal dari pengujian-Nya. Rasul-rasul mula-mula diuji dan diperkenan oleh Allah, kemudian dipercayai (diserahi) Injil oleh-Nya. Jadi, pembicaraan mereka, pemberitaan Injil mereka, bukan berasal dari diri mereka untuk menyenangkan manusia, melainkan berasal dari Allah untuk menyenangkan Allah. Dia terus-menerus memeriksa, meneliti, dan menguji hati mereka (Mzm. 26:2; 139:23-24).

Perkataan “dianggap layak” dalam ayat 4 menyiratkan telah diuji. Allah menguji rasul-rasul sebelum Ia menganggap layak mereka. Berdasarkan pengujian kelayakan ini, Allah mempercayakan Injil kepada mereka. Allah melakukan hal ini secara berhati-hati, sebab Ia mengenal hati kita.

Menurut pendapat kita, berhubung Allah telah mengetahui segala sesuatu, maka Ia tidak perlu menguji kita. Memang, sebelum kita dilahirkan, Ia sudah tahu bagaimana jadinya kita nanti. Lalu mengapa Allah menguji kita? Ujian Allah terutama bukan untuk diri-Nya, melainkan untuk kita. Allah mengenal kita, tetapi kita tidak mengenal diri kita. Karena kita tidak cukup mengenal diri sendiri, kita mengira kita ini lurus, jujur, dan setia. Namun, ketika diuji, kita akan nampak apa sesungguhnya kita ini dan menemukan bahwa di dalam diri kita, kita ini tidaklah jujur, setia, atau dapat diandalkan. Jadi, ujian Allah menyingkapkan diri kita kepada kita. Hanya setelah Allah membuktikan kita sedemikian; barulah kita akan dianggap layak.

Saya ingin menyarankan kaum muda agar tidak terlalu percaya diri, karena mereka belum diuji. Saya yakin bahwa Allah akan memakai kaum muda. Tetapi Allah akan memakai mereka setelah mereka diuji. Allah tidak akan mempercayakan sesuatu kepada kita sampai kita terbukti layak setelah melalui pengujian-Nya. Kepercayaan Allah berdasar pada kelayakan kita. Namun, bukan kita yang dapat menentukan kelayakan diri kita. Hanya setelah Allah menguji kita, barulah Ia menganggap kita layak. Kemudian Ia akan mempercayakan sesuatu kepada kita dan mulai memakai kita.

Dengan cara inilah Allah mempercayakan Injil kepada rasul-rasul. Karena rasul-rasul telah menerima amanat Injil, maka mereka tidak berbicara untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah, yang menguji hati kita. Pembicaraan mereka berdasar pada amanat Allah. Karena Ia telah mengamanatkan Injil kepada mereka, maka mereka berbicara untuk menyenangkan Allah.

Dalam ayat 4 kita nampak bahwa kita harus diuji atau dibuktikan, kemudian ada sesuatu yang dipercayakan kepada kita. Setelah itu kita perlu berbicara untuk menyenangkan Allah, yang menguji kita. Ini menunjukkan bahwa kita perlu melalui pengujian, pembuktian, dan pengamanatan. Kemudian kita akan memiliki sesuatu untuk diberitakan dan diajarkan.

TIDAK BERMULUT MANIS ATAU

MEMPUNYAI MAKSUD TERSEMBUNYI

Ayat 5 mengatakan, “Karena seperti yang kamu ketahui, kami tidak pernah bermulut manis dan tidak pernah mempunyai maksud serakah yang tersembunyi — Allah adalah saksi.” Bahasa Yunaninya mempunyai maksud serakah yang tersembunyi juga mempunyai makna berpura-pura, terselubung. Memiliki maksud loba yaang tersembunyi berarti menjajakan atau menjual firman Allah (2 Kor. 2:17; 4:2). Ini juga berarti berpura-pura beribadah untuk mendapatkan keuntungan (1 Tim. 6:5; Tit. 1:11; 2 Ptr. 2:3).

Menurut ayat 5, rasul-rasul tidak pernah bermulut manis. Kita semua harus menghindari bermulut manis, jangan berbicara untuk menjilat orang lain. Dalam ayat ini Paulus juga mengatakan bahwa rasul-rasul tidak pernah mempunyai maksud serakah yang tersembunyi. Mereka tidak menaruh motivasi jahat yang terselubung. Karena mereka tidak mempunyai maksud tersembunyi atau berpura-pura, maka mereka tidak memperdagangkan firman Allah atau mencampuradukkannya. Mencampuradukkan sesuatu ialah mencampurnya dengan bahan yang rendahan. Contoh-nya, mencampur emas dengan tembaga atau arak dengan air, dan menjualnya seakan-akan murni. Dari abad ke abad, banyak pengkhotbah dan pengajar telah mencampur aduk firman Allah sedemikian rupa. Mereka memberitakan dengan maksud tersembunyi agar menguntungkan dirinya.

Dari ayat 5 kita belajar untuk menghindari bermulut manis dan mempunyai maksud tersembunyi demi keserakahan. Dalam pekerjaan kekristenan kita jangan sekali-kali memberi tempat kepada hal-hal yang najis itu. Tidak ada satu pun hamba Tuhan yang boleh bermulut manis atau mempunyai maksud tersembunyi karena ketamakan. Semoga Tuhan membelaskasihani kita dan memurnikan kita dari semua hal ini. Kiranya kita dapat mengatakan bahwa Allah adalah saksi, kita ini tidaklah bermulut manis dan mempunyai maksud tersembunyi demi keserakahan.

TIDAK MENCARI PUJIAN MANUSIA

Dalam ayat 6 Paulus mengatakan, “Juga tidak pernah kami mencari pujian (kemuliaan) dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.” Mencari kemuliaan dari manusia adalah cobaan yang riil bagi setiap pekerja Kristus. Banyak yang telah ditelan dan dirusak oleh hal ini.

Bahasa Yunaninya “dapat berbuat demikian” juga berarti “mempertahankan kekuasaan”. Terjemahan harfiahnya adalah “mampu memberatkan” (lihat ayat 9; 1Kor.9:4-12). Mempertahankan kekuasaan, kewibawaan, atau hak dalam pekerjaan kristiani akan merusak pekerjaan itu. Ketika hi-dup di bumi, Tuhan Yesus melepaskan kewibawaan-Nya (Yoh. 13:4-5), dan rasul-rasul juga lebih suka tidak menggu-nakan haknya (1 Kor. 9:12).

Mencari kemuliaan dari manusia kelihatannya tidak sejahat keserakahan. Namun, ini lebih licik. Kejatuhan penghulu malaikat adalah karena menuntut kemuliaan. Ia menjadi seteru Allah dikarenakan menuntut kemuliaan. Walaupun ia itu pemimpin malaikat dengan kedudukan yang sangat tinggi, namun ia masih tetap gila kemuliaan. Itulah penyebab kejatuhannya. Menurut Perjanjian Baru, setiap orang yang mencari kemuliaan manusia adalah pengikut Iblis. Gila kemuliaan merupakan perangkap yang dipasang Iblis untuk menjerat pekerja-pekerja Kristen. Sebab itu, semua pekerja Kristen sangat perlu belajar menghindari perangkap gila kemuliaan. Namun, tidak banyak yang lolos dari perangkap ini.

Berapa banyak kita akan dipakai Tuhan dan berapa lama kegunaan kita tergantung pada apakah kita ini mencari kemuliaan manusia. Jika kita mencari kemuliaan, kegunaan kita dalam tangan Tuhan akan berakhir. Mencari kemuliaan untuk diri sendiri selalu membunuh kegunaan orang itu sendiri. Semoga kita semua, terutama kaum muda, sadar agar jangan sampai mencari kemuliaan manusia dalam pekerjaan Tuhan.

TIDAK MEMPERTAHANKAN KEKUASAAN

Ayat 6 jelas menunjukkan bahwa rasul-rasul tidak mempertahankan kekuasaan sebagai rasul-rasul Kristus. Mereka tidak mempertahankan kedudukan atau kehormatan apa pun. Mereka melupakan dirinya sebagai rasul, dan melayani umat Allah sebagai budak. Mereka tidak mengingatkan orang-orang dengan fakta bahwa mereka adalah rasul-rasul Kristus. Sebaliknya, mereka malah mengingatkan diri mereka bahwa mereka hanyalah saudara yang melayani kaum beriman. Mereka tidak mempertahankan kedudukan atau kehormatan apa pun.

Mereka yang adalah kaum beriman maupun mereka yang bukan kaum beriman mungkin memandang para pemimpin, penatua, atau para rasul adalah orang-orang terhormat. Namun, dalam gereja-gereja lokal tidak ada orang terhormat. Kita bukan orang-orang terhormat, melainkan budak yang melayani satu sama lain. Tetapi, saya tahu ada orang yang tidak sombong ketika mereka belum mempunyai kedudukan atau nama. Namun begitu mereka diberi kedudukan, mungkin dalam suatu kelompok pelayanan, mereka mulai gila hormat. Ini sungguh memalukan. Kita harus belajar kepada Paulus yang tidak pernah mempertahankan kehormatan atau kekuasaan.

Saudari yang bersuami penatua, jangan sekali-kali gila hormat karena ia seorang istri penatua. Istri penatua bu-kanlah “Ibu Negara”. Ia cuma seorang saudari kecil yang melayani gereja. Suaminya bukan pula seorang terhormat, melainkan seorang budak. Sebagai seorang penatua, ia telah ditunjuk untuk melayani gereja sebagai budak. Kita semua harus memiliki sikap ini.

Pernyataan Paulus “Sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus” menunjukkan bahwa pada zaman awal pun sudah ada godaan gila hormat. Orang-orang hari ini sama seperti orang-orang pada zaman Paulus, yaitu sama-sama mendapat godaan untuk mencari kehormatan atau kedudukan. Tetapi Paulus tidak mempertahankan kehormatannya sebagai rasul agar boleh menuntut sesuatu bagi dirinya sendiri. Dengan melepaskan kehormatannya atau kekuasaannya, Paulus merupakan teladan yang baik bagi kita semua. Jika kita mengikuti teladan ini, kuman penyakit yang mematikan dalam Tubuh Kristus akan terbunuh, yaitu kuman gila kedudukan.

MENGASUH KAUM BERIMAN

Dalam ayat 7 Paulus mengatakan, “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu meng-asuh dan merawat anaknya.” Mengasuh, yang mencakup merawat, memberi makan, menunjukkan perhatian yang lebih lembut daripada sekadar merawat.

Meski Paulus adalah seorang saudara, namun ia menganggap dirinya seorang ibu yang mengasuh. Sudah tentu ia tidak memikirkan kedudukan, kehormatan, atau kekuasaan. Pemikiran sebagai seorang ibu yang mengasuh amatlah berbeda dengan pemikiran akan kehormatan atau kedudukan. Posisi apakah yang dimiliki ibu yang mengasuh? Martabat, kehormatan, atau kekuasaan apakah yang dimilikinya? Kehormatannya adalah dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya, menjaga mereka dengan lembut.

Istilah mengasuh ini sangat manis, bahkan sangat lembut. Paulus memandang dirinya sebagai seorang pengasuh, bukan sekadar pelayan. Dengan sendirinya ia tidak mengendalikan kaum beriman. Ia juga tidak hanya melayani mereka. Sebaliknya, ia mengasuh mereka. Perhatiannya terhadap mereka penuh dengan kelembutan.

MEMBAGIKAN NYAWA MEREKA SENDIRI

Dalam ayat 8 Paulus meneruskan, “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar terhadap kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup (jiwa) kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.” Perkataan kasih sayang yang besar menunjukkan dalam kasih sayang menyukai, dalam kasih sayang mendambakan, seperti ibu yang merawat, dengan mesra memperhatikan anak yang dirawat dan diasuhnya. Inilah yang dilakukan rasul-rasul terhadap kaum beriman baru.

Rasul-rasul bukan semata-mata membagikan Injil Allah kepada orang-orang Tesalonika, mereka pun membagikan jiwa mereka sendiri. Menempuh hidup yang bersih dan jujur seperti yang digambarkan dalam ayat 3-6 dan ayat 10, dan mengasihi kaum beriman baru, bahkan dengan memberi-kan jiwa kita sendiri kepada mereka, seperti yang digambarkan dalam ayat 7-9 dan ayat 11, adalah syarat untuk menginfus mereka dengan keselamatan yang terkandung dalam Injil yang kita beritakan.

Perkataan Paulus dalam ayat 8 tentang membagikan jiwa mereka sendiri kepada orang-orang Tesalonika dapat dibandingkan dengan perkataannya dalam 2 Korintus 12 tentang mengorbankan dirinya bagi kepentingan kaum beriman. Paulus bukan hanya rela mengorbankan apa yang dimilikinya, tetapi juga dirinya, apa adanya. Rasul-rasul rela membagikan apa adanya mereka ke dalam kaum beriman. Ini bisa dibandingkan dengan pengorbanan diri seorang ibu yang mengasuh anaknya.

PERILAKU RASUL-RASUL

Ayat 9 mengatakan, “Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” Rasul-rasul tidak ingin menjadi beban bagi orang-orang Tesalonika. Itulah sebabnya, mereka berusaha dan berjerih payah siang malam untuk memberitakan Injil Allah kepada mereka.

Dalam ayat 10 Paulus menyambung, “Kamulah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu yang percaya.” Saleh mengacu kepada perilaku terhadap Allah, adil mengacu kepada perilaku terhadap manusia, dan tak bercacat mengacu kepada perilaku terhadap semuanya — Allah, manusia, dan Iblis. Untuk berperilaku seperti itu, Paulus harus melaksanakan pengawasan yang ketat terhadap dirinya. Ayat 10 mewahyukan bahwa rasul-rasul adalah orang-orang yang mempraktekkan penguasaan diri.

BAPAK YANG MENASIHATI ANAK-ANAKNYA

Ayat 11 mengatakan, “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapak terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang.” Rasul sangat tegas dalam menekankan apa adanya mereka dan perilaku mereka (1:5), karena apa adanya mereka membuka jalan untuk membawa orang beriman baru ke dalam keselamatan sempurna Allah.

Dalam ayat 11 Paulus mengibaratkan dirinya seperti seorang bapak yang menasihati anak-anaknya. Dalam mengasuh kaum beriman sebagai anak-anak mereka sendiri, rasul-rasul menganggap diri mereka sebagai ibu yang merawat mereka. Dalam menasihati kaum beriman, mereka menganggap diri mereka sebagai bapak.

BERPERILAKU SESUAI DENGAN ALLAH

Ayat 12 mengatakan, “Supaya kamu hidup (berperilaku) sesuai dengan Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya” (Tl.). Panggilan Allah dilaksanakan berdasarkan pemulihan-Nya dan mengikuti pemilihan-Nya (1:4). Dulu, sebagai penyembah-penyembah berhala (1:9), kaum beriman itu berada dalam kerajaan Iblis (Mat. 12:26). Kini, melalui keselamatan dalam Kristus, mereka dipanggil dan telah percaya ke dalam Kerajaan Allah, yaitu lingkungan yang memungkinkan mereka menyembah dan menikmati Allah di bawah pemerintahan ilahi dengan harapan akan memasuki kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah seiring dengan Kerajaan-Nya.

Dalam ayat 12 Paulus meminta kaum beriman untuk berperilaku sesuai dengan Allah. Jika dia sendiri tidak berperilaku sesuai dengan Allah, bagaimana ia dapat menasihati orang lain demikian? Dalam hal ini ia pun telah memberi teladan bagi kaum beriman.

Ayat 12 menunjukkan bahwa berperilaku sesuai dengan Allah berhubungan dengan hal memasuki Kerajaan-Nya dan diantar ke dalam kemuliaan-Nya. Pemikiran di sini sangat berlawanan dengan yang terdapat dalam ayat 1-11. Di sini ada masalah yang sering diabaikan orang-orang Kristen, sehingga jarang sekali kaum beriman yang diajarkan agar berperilaku sebagai orang Kristen yang memungkinkan mereka memasuki Kerajaan Allah dan yang mengantar mereka ke dalam kemuliaan Allah. Bahkan banyak yang tidak pernah mendengar perkataan yang sedemikian. Namun ini justru merupakan bagian dari ajaran Paulus kepada kaum beriman muda.

TELADAN YANG BAIK

Satu Tesalonika 2:1-12 memperlihatkan kepada kita betapa kita harus berperilaku sebagai teladan kaum beriman yang baru. Untuk menjadi teladan yang tepat ini, kita harus murni atas motivasi kita, terutama dalam hal uang. Sebagian besar dari ayat ini dikaitkan dengan uang, keserakahan, atau ketamakan. Kalau kita tidak murni dalam hal uang, kalau kita tidak tulus, jujur, dan setia dalam hal ini, niscaya kita akan tergolong kepada mereka yang menyalahgunakan, dan memperdagangkan firman Allah. Di samping itu, motivasi seperti ini juga bisa membuat kita bermulut manis dan mempunyai maksud tersembunyi demi keserakahan. Kesemuanya ini adalah hal yang serius. Karena itu, jika kita ingin menjadi teladan yang tepat bagi kaum muda, ketamakan kita harus ditanggulangi dan perihal uang harus ditaruh di bawah telapak kaki kita. Jangan sekali-kali bermulut manis, jangan sekali-kali mempunyai maksud tersembunyi, jangan pula mencari kemuliaan manusia. Selain itu, kita tidak seharusnya ingin menyenangkan manusia, tetapi haruslah sebisanya menyenangkan Allah. Dengan demikian kaum beriman lainnya akan memiliki teladan yang tepat untuk dicontoh.

Jika Anda melihat situasi di tengah-tengah kaum beriman dewasa ini, Anda akan menemukan bahwa banyak orang Kristen telah kehilangan arah karena tidak memiliki teladan yang tepat. Kita perlu menjadi teladan orang lain, memelihara dan mengasuh mereka sama seperti seorang ibu, menasihati mereka sama seperti seorang bapak agar mereka berperilaku sesuai dengan Allah. Sebagaimana telah kita tunjukkan dalam berita terdahulu bahwa berperilaku sesuai dengan Allah sebenarnya ialah memperhidupkan Allah. Hanya kehidupan yang memperhidupkan Allah itulah yang sesuai dengan Allah. Ketika kita memperhidupkan Allah, kita berperilaku sesuai dengan Allah. Perilaku semacam ini akan membawa kita ke dalam Kerajaan dan mengantar kita ke dalam kemuliaan Allah. Inilah sasaran dari panggilan Allah. Allah memanggil kita untuk memasuki Kerajaan dan kemuliaan-Nya.