DORONGAN UNTUK IMAN, KASIH, DAN PENGHARAPAN
Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 3:1-13
MENEGUHKAN DAN MENDORONG
Dalam 1Tesalonika 1 nampak susunan dan asal-usul kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, dan dalam pasal 2 nampak pemeliharaan kehidupan semacam ini. Kini dalam pasal 3 peneguhan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Telah kita lihat bahwa kehidupan yang kudus ini terdiri dari iman, kasih, dan pengharapan. Selain pemeliharaan, kehidupan ini juga memerlukan peneguhan. Peneguhannya meliputi tiga aspek utama atas susunannya, yakni iman, kasih, dan pengharapan. Dalam pasal 3 Paulus meneguhkan iman, kasih, dan pengharapan kaum beriman.
Kita harus ingat bahwa Kitab 1Tesalonika adalah sebuah kitab yang ditulis untuk kaum beriman baru. Karena itu, segala sesuatu dalam kitab ini disajikan secara ringkas, bukan secara mendalam. Prinsip ini diterapkan terutama dalam pasal 3. Dalam menuliskan pasal ini, Paulus berusaha menghindari istilah-istilah yang dalam. Perkataannya di sini dapat dibandingkan dengan perkataan seorang bapak kepada anak-anaknya yang masih muda. Memang Paulus berbicara secara ringkas, namun ia membahas butir-butir yang penting.
Dalam 3:1 Paulus berkata, “Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena.” Atena adalah kota utama di propinsi Akhaya yang berada di bawah Kekaisaran Romawi, tempat Rasul Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang Yunani yang filosofis (Kis. 17:15-34).
Kata “karena itu” dalam ayat ini menarik perhatian kita kepada pasal sebelumnya, terutama pada ayat 17-18. Ayat-ayat itu mengatakan, “Tetapi kami, Saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan kerinduan yang besar, telah berusaha untuk menemui kamu muka dengan muka. Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu — aku, Paulus, malahan lebih dari sekali — tetapi Iblis telah mencegah (menghalangi) kami.” Para rasul telah berpisah dengan orang-orang di Tesalonika dan rindu sekali untuk berjumpa kembali dengan mereka. Inilah sebabnya Paulus dalam 3:1 mengatakan bahwa ia sudah tidak tahan lagi. Istilah “karena itu” dalam ayat 1 menunjukkan bahwa pasal 3 adalah kelanjutan dari 2:17-18. Paulus rela tinggal sendiri di Atena, seperti yang ia katakan dalam ayat 2, un-tuk mengirim Timotius ke Tesalonika.
Ayat 2 melanjutkan, “Lalu kami mengirim Timotius, saudara seiman kita dan rekan sekerja Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan (meneguhkan) hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu.” Istilah “rekan sekerja” dalam beberapa naskah kuno disebut “minister”. Minister Allah adalah kawan sekerja Allah (1Kor. 3:9; 2Kor. 6:1). Betapa terhormatnya! Betapa berkatnya.
Timotius dikirim ke Tesalonika untuk mendorong iman mereka. Ini menunjukkan bahwa apa yang dibahas dalam pasal 3 berkaitan dengan peneguhan dan dorongan. Dalam membicarakan iman orang Tesalonika, Paulus kembali kepada masalah susunan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja yang dibahas dalam pasal 1. Perhatiannya pada pasal 3 ini tertuju pada peneguhan kehidupan semacam ini.
Jika kita diteguhkan dalam iman, kita tidak akan goyah oleh penderitaan. Mengenai hal ini, Paulus mengungkapkan dalam ayat 3, “Supaya jangan ada orang yang goyah imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu bahwa kita ditentukan untuk itu.” Jika kita teguh dalam iman (ay. 2), kesusahan akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm. 8:28), berdasarkan tujuan Allah dalam penentuan-Nya. Kalau tidak, kita bisa digoyahkan oleh si penggoda (1Tes. 3:5) melalui kesusahan. “Yang ditentukan” bahasa Yunaninya juga berarti ditetapkan, diatur, ditempatkan. Allah telah menetapkan, menentukan bahwa kita harus melewati kesusahan-kesusahan. Jadi, kesusahan merupakan bagian yang Allah aturkan bagi kita, dan Dia telah mengatur kita, menempatkan kita dalam situasi kesusahan itu.
DUA ASPEK IMAN
Kita perlu meneliti makna iman dalam 1Tesalonika 3 dengan cermat. Iman dalam ayat 2 bukan hanya subyektif, yang ditujukan kepada percayanya kaum saleh, seperti yang terdapat dalam ayat 5, 6, dan 10, tetapi juga obyektif, yang mengacu kepada apa yang mereka percayai, seperti yang terdapat dalam 1Timotius 3:9; 4:1 dan 2Timotius 4:7. Kedua aspek dari iman ini saling berkaitan satu sama lain. Percayanya kita (iman yang subyektif) berasal dari apa yang kita percayai, juga tergantung pada apa yang kita percayai (iman yang obyektif).
Istilah “iman” dalam 1Tesalonika agak sulit dimengerti. Penyebab kesulitan ini ialah karena dalam Perjanjian Baru terdapat 2 aspek iman, aspek obyektif dan aspek subyektif. Secara doktrinal aspek obyektif datang lebih dulu, kemudian menghasilkan aspek subyektif. Iman (kepercayaan) yang obyektif mengacu kepada hal-hal yang kita percayai untuk keselamatan kita, termasuk isi Perjanjian Baru. Dengan demikian, isi Perjanjian Baru adalah kepercayaan yang obyektif. Aspek iman ini ditekankan dengan tegas dalam Kitab 1Timotius. Misalnya, 1Timotius 1:19 membicarakan iman (kepercayaan). Iman dalam ayat itu bersifat obyektif dan mengacu kepada hal-hal yang kita percayai. Namun, ayat yang sama itu pun menyinggung iman yang subyektif pada kalimat “dengan iman dan dengan hati nurani yang murni”. Iman yang subyektif ini mengacu kepada tindakan percayanya kita.
Orang Kristen sering kali membicarakan iman dalam arti yang obyektif. Mungkin orang bertanya apakah kepercayaan Anda, artinya, apa yang Anda percayai? Aspek iman yang ini adalah aspek yang obyektif, bukan masalah tindakan percayanya kita, melainkan masalah apa yang kita percayai. Iman yang obyektif ini meliputi isi ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Ketika kita menerima perkataan tentang iman (kepercayaan) yang obyektif, yang juga adalah isi ekonomi Perjanjian Baru Allah, iman yang subyektif dengan spontan timbul di dalam kita. Kita menanggapi kepercayaan yang obyektif dengan percaya. Ini berarti kita mendengar kepercayaan yang obyektif, dan kemudian timbul iman yang subyektif di dalam kita. Iman yang subyektif ini adalah tindakan percaya kita.
Iman yang subyektif ini bukan terjadi sekali untuk selamanya. Sebaliknya, sejak saat kita percaya, tindakan percaya ini senantiasa berlangsung di dalam kita, sebab kehidupan orang Kristen adalah kehidupan iman; kehidupan yang percaya. Hari demi hari kita menempuh kehidupan yang percaya. Kita bukan hidup berdasarkan apa yang kita lihat, melainkan berdasarkan apa yang kita percayai. Seperti yang dikatakan Paulus, “Sebab hidup kami ini adalah hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan” (2Kor. 5:7). Kita hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan melihat.
Semua hal ihwal yang kita bicarakan dalam berita-berita ini adalah soal iman. Sebagai contoh, Kolose 1:27 mengatakan bahwa Kristus di dalam kita menjadi pengharapan kita yang mulia. Kita menerima perkataan ini dengan iman. Berdasarkan iman kita percaya akan kembalinya Dia, dan berdasarkan iman kita menantikan sebuah mahkota.
Pembicaraan kita mengenai hal-hal ini semuanya berdasarkan iman. Sebab itu, mereka yang tidak beriman tidak akan mengerti apa yang kita katakan. Bagi mereka, perkataan kita adalah takhayul atau tidak masuk akal. Mereka tidak bisa percaya atau menerimanya. Orang duniawi, orang kafir, tidak memiliki iman. Akibatnya, mereka tidak mampu mengerti apa yang kita katakan atau cara kita menempuh hidup. Kehidupan kita ini mutlak berdasarkan percaya.
Aspek obyektif iman (kepercayaan) sangat dalam dan rahasia. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita sudah sempurna atau lengkap dalam hal kepercayaan yang obyektif. Ekonomi Allah amat dalam dan rahasia. Isi ekonomi-Nya ialah Kristus sebagai Sang almuhit dan alwasi (memenuhi segala sesuatu, luas tak terbatas). Karena ekonomi Allah begitu dalam dan kaya isinya, kita tidak berani mengatakan bahwa kepercayaan yang obyektif telah sempurna di tengah-tengah kita. Kita perlu nampak bahwa kepercayaan yang obyektif meliputi Kristus yang almuhit dan alwasi itu sebagai isi ekonomi Allah. Kita belum mengetahui isi ini dengan memadai atau memahami dengan sepenuhnya. Maka, kita masih perlu memperoleh lebih banyak Kristus yang almuhit, memperoleh lebih banyak Kristus sebagai isi dari kepercayaan kita yang obyektif.
Puji Tuhan bahwa kepercayaan yang obyektif ini menghasilkan percaya yang subyektif! Sewaktu kita menerima wahyu tentang Kristus, kita tidak dapat tidak percaya kepada-Nya. Iman terinfus dengan spontan ke dalam kita, dan dengan otomatis kita percaya kepada Kristus. Orang yang tidak percaya tidak sanggup mempercayai bahwa Kristus ada di dalam kita. Tetapi kita malah tidak bisa tidak percaya bahwa Kristus hidup di dalam kita. Di dalam kita Dia menjadi hayat kita, jaminan hayat, dan segala kita. Kita telah nampak visi tentang Kristus yang berhuni di dalam kita, dan kita tidak ada pilihan lain kecuali percaya bahwa Ia benar-benar ada di dalam kita. Karena kita telah nampak visi tentang isi ekonomi Allah, kita tidak dapat menahan diri untuk percaya kepada apa yang kita nampak. Kita telah diinfus dengan kemampuan untuk percaya dan kini kita mempunyai iman yang subyektif, tindakan percaya yang batini.
PERHATIAN PAULUS
Ketika Paulus berkata bahwa Timotius diutus untuk meneguhkan dan mendorong kaum beriman untuk iman mereka, yang dimaksud itu iman obyektif atau iman subyektif? Untuk menentukan iman dalam ayat 2 itu obyektif atau subyektif tidaklah mudah. Sebenarnya, iman yang dimaksud ayat ini ditujukan aspek iman yang obyektif dan juga yang subyektif, mencakup apa yang kita percayai dan tindakan percaya kita. Para saudara mengutus Timotius untuk mengetahui bagaimana keadaan kaum beriman di Tesalonika dalam hal kedua aspek iman ini. Apakah mereka masih berpegang pada kepercayaan yang obyektif itu, dan sekuat apa percayanya mereka di dalam hal itu? Bagaimana mereka memelihara kepercayaan yang obyektif itu, dan sejauh mana pula mereka mempercayainya? Inilah yang menjadi perhatian Paulus. Dalam ayat 2 dan 3 ia seolah-olah berkata, “Saudara-saudara, aku khawatir kalau-kalau kalian digoyahkan oleh kesusahan-kesusahan. Digoyahkan adalah kehilangan iman. Kehilangan pandangan tentang kepercayaan obyektif dan juga kehilangan kemampuan yang subyektif untuk percaya! Aku khawatir atas kedua aspek imanmu.”
Orang-orang yang mempunyai beban terhadap kaum beriman baru harus belajar mengamati iman mereka serta memperhatikan keadaan mereka dalam aspek iman yang subyektif maupun yang obyektif. Iman mereka bertambah atau berkurang? Apakah kemampuan percaya mereka bertumbuh? Dalam merawat kaum beriman muda, kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedemikian. Inilah beban pikiran Paulus terhadap iman orang-orang Tesalonika dalam hal mengutus Timotius untuk meneguhkan dan memberi dorongan kepada mereka.
Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu bahwa kita akan mengalami kesusahan. Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah terjadi.” Istilah “katakan” di sini, bahasa Yunaninya dalam bentuk waktu tidak lengkap (imperfect), bentuk waktu yang menunjukkan tindakan yang berulang-ulang. Sebelumnya Paulus telah berulang-ulang memberi tahu kaum beriman bahwa para rasul akan mengalami kesusahan. Kesusahan ini datang sesuai dengan yang dipradugakan oleh Paulus.
Dalam ayat 5 Paulus melanjutkan, “Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.” Penggoda di sini ialah Iblis yang licik, si ular tua yang menggoda Hawa (Kej. 3:1-6; 1Tim. 2:14). Tujuan penggoda yang licik itu adalah menghancurkan pekerjaan Injil yang dirampungkan kawan sekerja Allah agar pekerjaan itu menjadi sia-sia. Paulus khawatir kalau-kalau kesusahan, penderitaan, dan aniaya akan digunakan oleh si penggoda untuk menggoyahkan iman orang-orang di Tesalonika dan membuat mereka kehilangan iman. Karena ia tidak tahan lagi tanpa mengetahui tentang iman mereka, maka Paulus mengirim Timotius kepada mereka agar mengetahui keadaan iman mereka.
Sekali lagi iman dalam ayat 5 meliputi iman yang obyektif juga subyektif. Paulus sangat ingin mengetahui kedua aspek iman orang-orang Tesalonika.
Iman merupakan hal pertama dalam susunan mendasar dari kehidupan orang Kristen, yaitu kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Mereka yang mundur itu, termasuk banyak yang meninggalkan hidup gereja, mengalami kehilangan iman. Mereka mungkin tidak kehilangan iman mereka seluruhnya, namun paling tidak sebagian. Mereka mungkin tidak lagi mempunyai penampakan terhadap kepercayaan yang obyektif, yaitu isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ketika orang-orang ini berada di dalam hidup gereja, mereka benar-benar memiliki penampakan. Mereka telah nampak pemulihan Allah dan betapa Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Tetapi, mereka lambat laun tidak nampak hal-hal itu lagi. Ketika seseorang tidak nampak isi ekonomi Allah, maka iman yang subyektif, yakni tindakan percaya di dalamnya juga akan berkurang. Kemampuan percaya yang ada di dalam kita selalu merupakan hasil atau dampak penglihatan yang tepat akan ekonomi Allah. Sebab itu, tidak nampak visi ekonomi Allah adalah hal yang sangat menakutkan.
Dalam sidang-sidang gereja dan sidang-sidang ministri, seolah kita semua menonton televisi surgawi untuk melihat lebih banyak mengenai ekonomi Allah. Semakin banyak kita melihat televisi surgawi ini, kita akan semakin percaya. Dengan spontan kita akan percaya kepada apa yang telah kita lihat. Sebab itu, usai sidang kita akan penuh dengan kemampuan untuk percaya. Sidang-sidang gereja dan sidang-sidang ministri memperluas kapasitas kita untuk percaya.
Pekerja Kristen yang baik adalah yang secara terus-menerus menginfus orang lain dengan visi ilahi, membantu mereka melihat pemandangan yang indah dalam televisi surgawi dan terkesan olehnya. Ketika pemandangan surgawi itu dibawa ke dalam kita, ditransmisikan ke dalam kita, kita akan memiliki kemampuan untuk percaya. Melalui percaya kita dihubungkan dengan transmisi ilahi. Transmisi ini adalah aliran listrik surgawi. Melalui percaya, kita “menyalakan tombol” aliran ini.
Dari ayat 5 kita tahu bahwa Paulus khawatir janganjangan si penggoda telah menggoda orang-orang Tesalonika sehingga sia-sialah jerih payah rasul di antara mereka. Paulus tahu bahwa sekali kita kehilangan penglihatan akan isi ekonomi Allah, kita akan digoyahkan dan terseret dari jalur iman. Kemudian apa pun yang telah kita dengar tentang ekonomi Allah akan menjadi sia-sia. Fakta ini jelas tergambar pada kehidupan kebanyakan orang yang telah meninggalkan hidup gereja. Situasi mereka membenarkan bahwa ketika kita tidak nampak ekonomi Allah, maka semua yang telah kita dengar itu menjadi sia-sia.
TERHIBUR OLEH IMAN KAUM BERIMAN
Timotius kembali kepada Paulus dengan berita baik, yang memberitahukan bahwa jerih payah mereka di antara orang-orang Tesalonika tidaklah sia-sia. Paulus menyinggung laporan ini dalam ayat 6, “Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu.” Berita yang baik tentang iman orang-orang Tesalonika meyakinkan Paulus bahwa jerih payah mereka di antara orang-orang Tesalonika tidaklah sia-sia.
Setelah meninggalkan Atena, rasul pergi ke Korintus (Kis. 17:15-16; 18:1, 5). Di Korintuslah dia menulis surat yang akrab ini kepada kaum saleh terkasih di Tesalonika untuk mendorong mereka.
Dalam ayat 6 Paulus membicarakan iman dan kasih. Kasih adalah luapan dan hasil iman. Kita telah nampak bahwa iman itu fondasi, kasih itu bangunan, dan pengharapan itu batu atapnya. Ketika menulis kata-kata yang membesarkan hati orang-orang Tesalonika, Paulus pertama-tama menyinggung iman dan kemudian sedikit demi sedikit membawa masuk kasih. Karena itu, dalam ayat 6 ini ia membicarakan iman dan kasih kaum beriman.
Ayat 7 mengatakan, “Maka kami juga, Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.” Keadaan yang baik dari kaum beriman selalu merupakan hiburan bagi para sekerja Allah, yang bekerja atas diri mereka dan memikul mereka sebagai beban. “Kesusahan” di sini dalam bahasa Yunaninya dapat pula diterjemahkan penderitaan, suatu kebutuhan yang mendesak akibat malapetaka. Malapetaka membawa orang ke dalam posisi didesak oleh kebutuhan akan makanan, air, pakaian, dan rumah. Walaupun para rasul sendiri menghadapi kebutuhan dan kesulitan yang amat mendesak dan menyusahkan, namun hati mereka terhibur karena iman orang-orang Tesalonika. Sekali lagi Paulus membicarakan iman.
Dalam ayat 8 Paulus meneruskan, “Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.” Kaum beriman berdiri teguh di dalam Tuhan menyuplaikan hayat kepada rasul. Berdiri teguh di dalam Tuhan berlawanan dengan goyah imannya (ayat 3). Jika kaum beriman muda yang Anda layani berdiri teguh di dalam Tuhan, keadaan itu pasti meministrikan suplai hayat kepada Anda.
MENAMBAHKAN APA YANG KURANG
Ayat 9-10 mengatakan, “Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.” Perkataan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu dapat juga diterjemahkan sebagai “menyempurnakan imanmu”. Dalam bahasa Yunaninya merupakan bentuk kata kerja dari kata “sempurna” dalam 2Korintus 13:9. Karena masih muda dalam Tuhan, kaum beriman di Tesalonika masih kekurangan dalam iman mereka yang baru mereka dapatkan. Rasul menyadari hal ini, dengan perhatian yang penuh kasih memperhatikan mereka. Inilah alasan rasul menulis surat ini.
Sewaktu Paulus menulis Kitab 1 Tesalonika, kaum beriman di Tesalonika baru menjadi orang Kristen kurang dari setahun. Sudah tentu mereka perlu nampak lebih banyak tentang isi ekonomi Allah. Demikian pula, bahkan banyak di antara kita yang telah bertahun-tahun di dalam pemulihan Tuhan, mungkin masih kurang nampak Kristus yang almuhit dan yang alwasi sebagai isi ekonomi Allah. Ini berarti kita masih kurang dalam kepercayaan yang obyektif. Kekurangan dalam kepercayaan yang obyektif, juga menyebabkan kurangnya iman yang subyektif. Terbatasnya penampakan kita membuat terbatasnya pula kemampuan percaya kita. Kemampuan percaya kita tergantung pada penampakan kita. Selama kita di dalam pemulihan, penampakan kita terhadap Kristus dan ekonomi Allah telah diperluas. Setelah penampakan kita diperluas, kepercayaan obyektif kita pun ikut bertambah. Hal ini membuat kemampuan percaya kita bertambah.
Siang malam, Paulus berdoa dengan tekun agar para rasul dapat bertemu muka dengan muka dengan orang-orang Tesalonika untuk menambahkan apa yang kurang pada iman mereka. Dalam ayat-ayat ini Paulus seolah-olah berkata, “Kalian orang-orang Tesalonika belum lama di dalam Tuhan. Pastilah terdapat kekurangan di dalam kepercayaan kalian yang obyektif maupun tindakan percaya yang subyektif. Banyak hal yang belum terbuka bagi kalian atau diperlihatkan kepada kalian. Kami ingin mengunjungi kalian lagi untuk memperlihatkan Kristus lebih banyak kepada kalian. Kemudian, dengan memiliki penampakan yang lebih banyak terhadap Kristus, kepercayaan obyektif kalian akan diperluas dan dengan sendirinya, iman subyektif kalian pun akan ikut bertambah. Inilah kebutuhan kalian dan inilah beban doa kami agar dapat bertemu kembali dengan kalian.”
PENEKANAN PADA KASIH
Dalam 3:1-10 Paulus terutama membahas tentang iman sebagai pokok pertama dari susunan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Mulai ayat 11 ia mulai menekankan kasih, “Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan bagi kami jalan kepadamu. Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.” Ayat 11-12 terutama membahas kasih. Perhatian rasul terhadap kaum beriman yang masih muda pertama-tama ditujukan kepada iman mereka (ayat 2-10), kemudian ditujukan kepada kasih mereka yang berasal dari iman dan bekerja bersama dengan iman (Gal. 5:6; 1Tim. 1:14) sebagai petunjuk pertumbuhan dalam hayat (1 Tes. 1:3). Kasih orang Tesalonika perlu bertambah atau bertumbuh. Itulah sebab-nya Paulus pertama-tama ingin melengkapi iman mereka dan kemudian mendorong mereka untuk bertambah-tambah dan berlimpah dalam kasih. Ia mengetahui bahwa kasih akan mengalir keluar dari iman mereka. Kemudian me-reka akan menempuh hidup di dalam kasih, yakni kasih kepada kaum saleh setempat dan kepada semua orang beriman di mana pun.
Dalam ayat 11, kata “membukakan” boleh juga diterjemahkan “meluruskan”; bahasa Yunaninya dalam bentuk tunggal. Ini menunjukkan rasul menganggap Allah Bapa dan Tuhan Yesus adalah satu. Betapa baiknya jika jalan kita dalam ministri ini diluruskan oleh Yang Esa itu! Dan betapa indahnya jejak rasul-rasul dalam melaksanakan ministri Yang Esa itu untuk menggenapkan tujuan-Nya!
HATI DIKUATKAN SUPAYA
TAK BERCACAT DALAM KEKUDUSAN
Dalam ayat 13 Paulus menyimpulkan, “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.” Penguatan hati kaum beriman sehingga tidak bercacat berasal dari iman dan kasih, seperti yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Hal ini dengan spontan menghasilkan pengharapan akan kedatangan kembali Tuhan kita yang terkasih, yang kita percayai dan kasihi. Jadi, sekali lagi kita nampak bahwa iman, kasih, dan pengharapan adalah faktor-faktor yang terdapat dalam susunan surat ini.
Jika iman kita disempurnakan dan kasih kita bertumbuh, bertambah, dan berlimpah, akibatnya adalah pengharapan bahwa hati kita akan dikuatkan supaya tak bercacat dalam kekudusan di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Tuhan Yesus dengan semua orang kudus-Nya. Orang-orang kudus ini adalah kaum beriman dalam Kristus, termasuk orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama (Dan. 7:18, 21-22, 25, 27; Za. 14:5). Walaupun ayat 13 tidak menggunakan kata pengharapan, namun pengharapan itu tetap tersirat atau ditunjukkan. Jadi, peneguhan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja berkaitan dengan susunannya yang terdiri atas iman, kasih, dan pengharapan.
MENGGARAP KAUM BERIMAN BARU
Cara Paulus memperhatikan kaum beriman baru sangat berbeda dengan cara kebanyakan orang Kristen hari ini. Cara Paulus ialah dengan menunjukkan kepada kaum beriman baru bahwa mereka telah dilahirkan kembali oleh Allah Bapa dan dibawa masuk ke dalam kesatuan organik dengan Tuhan Yesus Kristus sehingga memiliki susunan kehidupan yang kudus. Setiap orang Kristen yang sejati, baik tua atau muda, pasti memiliki susunan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja semacam ini. Inilah kehidupan orang Kristen yang tepat.
Banyak orang Kristen tidak menempuh kehidupan orang Kristen yang tepat. Tidak hanya demikian, mereka juga tidak tahu apa itu menempuh hidup gereja. Banyak orang malah tidak tahu apa artinya menempuh hidup yang kudus. Kehidupan yang kudus adalah kehidupan yang seluruhnya tersisih bagi Allah. Menempuh hidup yang kudus adalah menempuh hidup yang mutlak bagi Allah, berdasarkan Allah, dengan Allah, dan di dalam Allah. Kehidupan yang kudus ini adalah untuk hidup gereja. Kehidupan yang kudus bagi hidup gereja adalah yang dibahas Paulus dalam surat yang ditujukan kepada kaum beriman baru ini.
Sebagai orang Kristen yang sejati, di dalam kita semua ada hayat semacam ini. Kini kita perlu memperhidupkan hayat ini. Susunan kehidupan ini terdiri atas iman, kasih, dan pengharapan. Ketika kita melayani kaum beriman baru, kita harus memperhatikan kehidupan ini, harus merawat, memelihara, agar bertumbuh. Selain itu, kita harus belajar bagaimana meneguhkan, menguatkan, dan mendorong kehidupan ini dalam susunan iman, kasih, dan pengharapan.
Iman tergantung pada nampak isi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Begitu kita memiliki penampakan ini, kita akan percaya kepada apa yang kita nampak itu. Iman inilah fondasi kehidupan kristiani kita. Dari iman kita kasih akan mengalir keluar. Dalam hidup gereja kita menempuh hidup kasih. Kita harus mengasihi setiap orang; mengasihi kaum beriman yang bersidang dengan kita dan mereka yang tidak bersidang dengan kita, juga mengasihi mereka yang belum percaya. Kasih ini berasal dari iman kita. Tidak hanya demikian, kita pun akan memiliki kehidupan yang penuh pengharapan. Kita hidup untuk Kristus, mengekspresikan Dia, bahkan kita adalah Tubuh-Nya. Ketika menunggu kedatangan-Nya kembali, kita dipenuhi dengan pengharapan. Pengharapan, nasib, dan tujuan kita bukanlah di bumi ini, melainkan seluruhnya terfokus pada kembalinya Tuhan Yesus.
Jika kita nampak susunan, asal mula, pemeliharaan, dan peneguhan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, barulah kita menemukan arah dalam pekerjaan kita terhadap kaum beriman baru. Kita akan membantu mereka mengenal bahwa sebagai orang Kristen sejati, mereka sudah memiliki susunan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Kemudian kita akan memperhatikan kehidupan ini, meneguhkan iman, kasih, dan pengharapan.
?