← Daftar isi Kepemimpinan DI dalam Perjanjian Baru · bab 3/4

ADMINISTRASI ALLAH ADMINISTRASI ALLAH DI DALAM PERJANJIAN LAMA

Administrasi Allah di bumi ini sangat berhubungan dengan administrasi gereja. Jika kita melanjutkan melihat Administrasi Allah di bumi ini, kita dapat melihat administrasi gereja. Untuk mempelajari perkara ini, kita harus kembali ke permulaan pergerakan Allah di antara manusia di dalam Perjanjian Lama.

SATU KERAJAAN IMAM DAN BANGSA YANG KUDUS

Dalam kitab Kejadian setelah kejatuhan Adam, Allah bergerak di bumi ini di antara umat pilihan-Nya. Melalui pergerakan-Nya dalam kitab Kejadian, Allah mendapatkan beberapa orang penting dan akhirnya Dia mendapatkan kaum Israel. Orang-orang penting yang Dia dapatkan yaitu Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub dengan Yusuf. Melalui Yakub dengan Yusuf, Allah mendapatkan kaum Israel sebagai sekelompok kecil orang, tetapi di dalam kaum ini kita tidak dapat melihat banyak administrasi Allah. Kita tidak dapat banyak administrasi Allah sampai kita ke zaman Musa yang di catat di dalam Keluaran.

Di dalam keluaran 19 di Gunung Sinai Tuhan memberi tahu bangsa Israel bahwa Dia menginginkan mereka untuk menjadi satu “kerajaan iman” dan “bangsa yang kudus” (ay. 6). Bangsa Israel mungkin memiliki lebih dari dua juta orang pada masa itu. Bangsa Israel tidak diselamatkan dari Mesir secara individu. Mereka diselamatkan secara korporat, bahkan sebagai satu bangsa dan satu kerajaan. Ketika mereka sampai ke Sinai, Allah menyebut mereka satu kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Di dalam kerajaan ini di Gunung Sinai, administrasi Allah di antara umat-Nya di atas bumi di mulai.

Pemerintahan Allah melalui Pembicaraan Instan-Nya ditambah Konstan-Nya, Firman yang Tertulis melalui Beberapa Perantara

Adminsitrasi Allah bukan suatu autokrasi dengan suatu diktator ataupun bukan suatu demokrasi rakyat. Administrasi Allah di antara bangsa Israel adalah suatu theokrasi, menunjukkan bahwa Allah sendiri datang untuk memerintah, untuk berkuasa, untuk mengatur umat Allah secara langsung namun melalui beberapa pengantara. Di antara bangsa Israel, perantara-perantara ini adalah para imam dan para tua-tua bekerja bersama-sama bagi theokrasi Allah. Para imam adalah orang-orang yang menerima firman Allah, pembicaraan Allah, pengarahan Allah. Pembicaraan Allah, pembicaraan instan dan konstan-Nya adalah konstitusi hidup bangsa Israel. Sampai hukum Taurat diberikan, tidak ada pembicaraan konstan Allah, tetapi selalu ada pembicaraan instan-Nya. Hukum Taurat adalah pembicaraan konstan Allah. Hukum Taurat, seperti Konstitusi Amerika Serikat, dapat dianggap konstitusi tertulis pertama umat Allah yang ditulis oleh Allah sendiri. Namun, Perjanjian Lama memperlihatkan kepada kita bahwa konstitusi tertulis Allah melaluinya tidak memadai. Masih perlu ada konstitusi instan Allah, pembicaraan instan-Nya. Pembicaraan instan Allah selalu berjalan bersama dengan Firman-Nya yang tertulis. Theokrasi di antara bangsa Israel adalah satu pemerintahan menurut pembicaraan konstan Allah seperti yang tertulis di dalam hukum Taurat atau pembicaraan instan Allah seperti diwahyukan melalui tutup dada imam besar yang disebut Urim dan Tumim (Kel. 28:30; Im. 8:8; Bil. 27:21; Ul. 33:8; 1 Sam. 28:6; Ezra 2:63; Neh. 7:65).

Bagian yang sangat penting dalam pemerintahan Allah adalah pembicaraan instan Allah melalui Urim dan Tumim di penutup dada imam besar. Di antara umat Israel, ada para tua-tua di satu pihak dan para imam di pihak lain. Sekalipun Kitab Suci tidak dengan jelas menunjukkan bagaimana para tua-tua dihasilkan, hal ini memberi tahu kita bagaimana para imam dihasilkan. Allah memilih seluruh bangsa Israel untuk menjadi kerajaan imam. Dia mengharapkan setiap laki-laki orang Israel dapat menjadi seorang imam. Tetapi bangsa Israel jatuh dan gagal untuk mencapai tujuan Allah. Maka, Allah berbalik dari pilihan-Nya atas seluruh bangsa Israel sebagai para imam kepada satu keluarga, kaum Harun. Kaum Harun menjadi satu kaum imam menggantikan bangsa imam. Harun sebagai bapak ditunjuk oleh Allah untuk menjadi imam besar, dan semua anaknya menjadi para imam (Kel. 28:1). Ini adalah cara para imam dihasilkan di dalam Perjanjian Lama.

Di antara para imam ada imam besar dengan pakaian keimamannya. Bagian yang sangat penting ini adalah tutup dada pada efod (Kel. 28:15-30). Pada tutup dada ada duabelas batu permata yang terukir dengan nama-nama duabelas suku Israel (ay. 17-21). Saya membaca satu artikel beberapa tahun yang lalu mengenai Urim dan Tumim yang ditulis oleh seorang sarjana Ibrani. Menurut artikel ini, duabelas nama dari duabelas suku Israel tersusun dari delapanbelas dari dua puluh empat huruf di dalam alfabet Ibrani. Sisa empat huruf yang diletakkan pada lempengan yang disebut Tumim. Kata Tumim menunjukkan kesempurnaan atau kelengkapan. Maka, pada tutup dada, dengan ditambahkan lempengan yang disebut Tumim, keduapuluh dua huruf alfabet Ibrani dapat ditemukan.

Lebih jauh lagi, menurut artikel ini, Urim, yang berarti terang, adalah suatu penerangan yang disisipkan ke dalam tutup dada di bawah duabelas batu. Secara normal duabelas batu tutup dada di bawah penerangan Urim. Ketika imam besar datang ke dalam hadirat Allah dengan tutup dada, tiba-tiba satu gambaran dengan nama tertentu menjadi gelap. Batu khusus ini menjadi gelap adalah pembicaraan instan Allah. Ini ada di dalam cara huruf demi huruf, imam besar dapat mengeja menjadi satu kata, kemudian satu kalimat, kemudian satu paragrap, sampai penghakiman Allah yang penuh ditentukan. Hal ini perlu memiliki dua puluh dua huruf alpabet Ibrani yang lengkap agar setiap kata dapat dibentuk.

Penulis artikel ini berkata bahwa melalui Urim dan Tumim ini dosa Akhan dapat ditemukan di dalam Yosua 7. Melalui Urim dan Tumim, mereka tahu bahwa orang yang berdosa dari suku Yehuda. Akhirnya keluarga dan orangnya ditemukan (ay. 16-18). Tutup dada imam besar disebut tutup dada penghakiman dalam Keluaran 28:30 karena ini adalah pembicaraan Allah secara instan. Di manapun ada satu masalah yang tidak dapat diputuskan atau dipecahkan oleh hukum Taurat yang tertulis, imam besar membawa tutup dada ke hadirat Allah untuk menanti Allah dan membaca huruf demi huruf. Kemudian ia menerima pembicaraan Allah. Ini adalah caranya untuk menerima wahyu instan Allah mengenai administrasi-Nya. Lebih jauh lagi, inilah mengapa beberapa sarjana menyebut administrasi ilahi ini di dalam Perjanjian Lama adalah theokrasi.

Setelah imam besar menerima pembicaraan instan dari Allah, ia tidak secara langsung mengeksekusi atau melaksanakan apa yang Allah katakan. Sebaliknya, ia menyampaikan firman yang ia terima itu kepada para tua-tua, dan para tua-tua menjadi pelaksana langsung di antara umat Allah. Yosua dapat menganggap pimpinan tua-tua di antara umat Allah pada masa ini. Imam besar yang mendampingi Yosua adalah Eliezer, keturunan Harun. Allah meminta Musa untuk memberi tahu Yosua jika ia ingin mengenal maksud dan pimpinan Allah, ia harus datang kepada imam Eliezer, yang akan “menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN” (Bil. 27:21). Dua orang ini pergi dalam pergerakan Allah bersama-sama. Seorang memikul tanggung jawab untuk pergi ke hadirat Allah untuk menerima pembicaran instan Allah, dan yang lain menerima pembicaraan ilahi untuk mengatur di antara umat Allah. Prinsipnya, administrasi Allah selalu dilaksanakan oleh para tua-tua menurut pembicaraan ilahi yang diterima melalui Urim dan Tumim. Ketika para imam lemah, seperti pada zaman Eli (1 Sam. 1:12; 3:12-14), para nabi dibangunkan untuk menguatkan pembicaraan Allah (3:20-21). Pembicaraan instan Allah melalui para imam adalah melalui Urim dan Tumim, tetapi pembicaraan instan Allah melalui para nabi adalah melalui Roh Allah yang hinggap atas orang tertentu untuk memampukan mereka untuk membicarakan firman Allah.

Selanjutnya di dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel mengikuti cara duniawi untuk memiliki seorang raja. Menyinggung Allah (1 Sam. 8:4-7). Mereka mendambakan seorang raja menggantikan Allah karena mereka menginginkan seorang manusia untuk memerintah atas mereka selain Allah. Allah mengijinkan mereka untuk memiliki seorang raja, tetapi mereka menderita akibatnya (ay. 10-18). Menyusul raja ini, Saul, Allah mendirikan seorang manusia sebagai raja yang menurut hati-Nya, seorang manusia yang bernama Daud (Kis. 13:21-22). Bahkan bersama Daud masih perlu ada efod (1 Sam. 23:9-12; 30:7-8; 2 Sam. 6:14; 1 Taw. 15:27).

Ketika rajani menjadi lemah, para nabi dibangunkan. Ketika Daud berdosa, Natan datang untuk menghardik dia dan membantu dia dalam administrasi Allah (2 Sam. 12:1-25).

Apapun yang terjadi di dalam Perjanjian Lama adalah satu gambaran pemerintahan Perjanjian Baru. Jika kita ingin mengerti administrasi Allah di dalam pergerakan-Nya di dalam Perjanjian Baru hari ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama untuk menerima pemahaman yang penuh atas pelaksanaan administrasi Allah. Administrasi Allah adalah dikuasai dan diperintah langsung oleh Allah sendiri. Penguasaan ilahi secara langsung ini adalah theokrasi. Kita harus melihat prinsip pemerintahan ilahi Allah di antara umat-Nya. Pemerintahan-Nya adalah melalui pembicaraan instan-Nya ditambah Firman konstan yang tertulis. Pembicaran instan ini adalah melalui para imam atau melalui para nabi, tetapi tidak oleh para imam ataupun para nabi sebagai pelaksana langsung. Pelaksana-pelaksana langsung adalah para tua-tua, hakim-hakim, atau raja-raja.

ADMINISTRASI ALLAH DI DALAM PERJANJIAN BARU

Para Penatua Ditunjuk oleh Para Rasul

Sekarang kita sampai pada Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru kita tidak dapat menemukan bagaimana kelompok penatua pertama dihasilkan. Tidak ada juga perkataan yang langsung di dalam Perjanjian Baru yang memberi tahu kita bagaimana kelompok penatua di dalam gereja Perjanjian Baru dihasilkan. Petrus dan Yohanes adalah penatua dalam gereja di Yerusalem (1 Ptr. 5:1;1; 2Yoh. 1; 3 Yoh. 1). Yakobus juga seorang penatua di sana (Gal. 2:9; Kis. 12:17; 15:2, 13; 21:18). Dia adalah saudara sedaging Tuhan Yesus (Gal. 1:19; Mat. 13:55) dan tidak diselamatkan sebelum kematian Tuhan (Yoh. 7:3, 5). Karena melalui melihat kematian Tuhan atau melalui penampakan Tuhan kepada dia di dalam kebangkitan-Nya (1 Kor. 15:7), Yakobus percaya kepada Tuhan. Maka, sejak dari keselamatannya sampai dia menjadi seorang penatua sangat singkat. Akhirnya, dia menjadi pemimpin penatua dalam gereja di Yerusalem. Gereja di Yerusalem diwakili oleh nama Yakobus di dalam Galatia 2:12, dan di dalam kitab Kisah Para Rasul, Yakobus adalah orang utama di antara para penatua di Yerusalem (12:17; 15:13; 21:18). Bagaimana Yakobus, Petrus dan Yohanes dihasilkan sebagai para penatua? Alkitab tidak secara langsung memberi tahu kita.

Ketika rasul Paulus dibangunkan oleh Tuhan dan diutus oleh Roh Kudus, Tuhan memakai dia untuk mendirikan gereja-gereja baru. Kisah Para Rasul 14:23 memberi tahu kita bahwa Paulus kembali untuk menunjuk para penatua di setiap gereja lokal baru ini kemungkinan di tahun yang sama. Penunjukan para penatua dicatat dengan jelas di dalam Kisah Para Rasul 14:23. Para penatua didirikan di antara kaum saleh oleh para rasul yang memberitakan injil kepada mereka dan yang telah membentuk mereka menjadi satu gereja lokal. Titus 1:5 memberi tahu kita bahwa para rasul yang mendirikan gereja-gereja memiliki posisi dan hak untuk mengutus seorang wakil untuk mendirikan para penatua. Ini adalah kasus bersama Titus. Titus mewakili rasul Paulus untuk mendirikan para penatua di setiap kota di Pulau Kreta. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa para penatua yang tepat dihasilkan di dalam Perjanjian Baru melalui ditunjuk oleh mereka yang memberitakan injil kepada mereka, yang mengajar mereka kebenaran dan yang membentuk mereka bersama kaum saleh ke dalam satu gereja lokal. Para rasul ini harusnya menjadi orang-orang yang menunjuk para penatua untuk melaksanakan administrasi Allah di setiap gereja lokal.

Pada permulaan pemulihan Tuhan di dataran Cina, kita mengadopsi delapan puluh persen pelaksanaan Kaum Saudara. Pada tahun 1935 kita menyadari bahwa kita tidak dapat sepenuhnya mengikuti mereka, karena kita menyadari kesalahan mereka yang serius dalam perkara pelaksanaan gereja. Terang ini Saudara Nee terima selama waktu itu di dalam buku berjudul The Assembly Life. Berita-berita ini pertama disampaikan oleh dia pada tahun 1934.

Ketika Saudara Nee mulai melihat terang mengenai pelaksanaan kehidupan gereja secara alkitab, dia sepertinya masih memegang kerendahhatian kami. Dia berkata, “Hari ini kita adalah rasul yang tidak resmi, namun rasul yang tidak resmi ini memiliki hak yang tidak resmi untuk menunjuk para penatua yang tidak resmi.” Kita tidak merasa enak tentang mengakui bahwa kita adalah para rasul pada masa ini. Tetapi kita dapat berkata, “Jika kita bukan rasul hari ini, paling tidak kita ada rasul yang tidak resmi. Sebaliknya, dari mana gereja-gereja akan dihasilkan? Tidak diragukan, semua gereja di Cina dihasilkan oleh pengajaran Saudara Nee. Jika dia bukan seorang rasul, setidaknya dia adalah seorang rasul yang tidak resmi.

Setelah sejangka waktu, buku yang lain diterbitkan dalam bahasa Cina oleh Saudara Nee dengan judul Kehidupan Orang Kristen yang Normal. Di dalam buku ini Saudara Nee menjadi tegas. Dia berkata bahwa jika mereka dari kita yang memberitakan injil, mengajarkan kebenaran, dan mendirikan dan membentuk gereja-gereja bukan rasul, kemudian siapakah mereka? Dia menjadi sangat kuat dalam perkara ini. Dia membuang awalan tidak dari kata resmi dan berkata bahwa kita adalah rasul yang resmi. Karena itu, kita bukan para penatua yang tidak resmi. Kita adalah penatua yang resmi. Saya menyadari bahwa beberapa dari kalian masih muda, tetapi dibandingkan dengan para penatua yang didirikan oleh Paulus di dalam Kisah Para Rasul 14:23, kalian tidak terlalu muda. Para penatua ini ditunjuk oleh Paulus di dalam tahun yang sama dengan gereja-gereja mereka didirikan.

Pengajaran Para Rasul – Menyusun Kerajaan Perjanjian Baru Allah

Kita telah melihat bahwa di dalam Perjanjian Lama hukum Taurat dapat dianggap konstitusi tertulis umat Allah. Di dalam Perjanjian Baru apakah yang menggantikan hukum Taurat dari administrasi Allah di antara umat-Nya? Kita tahu bahwa Kristus menggantikan hukum Taurat, tetapi kita mengacukan kepada aspek dan pengertian penggantikan hukum Taurat di dalam administrasi Allah. Di dalam Perjanjian Baru pengajaran para rasul menggantikan hukum Taurat. Kisah Para Rasul 2:42 mengatakan, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.” Dengan segera setelah tiga ribu orang diselamatkan pada hari Pentakosta, mereka mulai bertekun dalam pengajaran dan persekutuan para rasul. Di dalam kerajaan Perjanjian Lama Allah, konstitusinya adalah hukum Taurat, dan di dalam kerajaan Perjanjian Baru Allah, konstitusinya adalah pengajaran para rasul.

Pengajaran para rasul adalah Perjanjian Baru yang lengkap. Ini terdiri pertama-tama pengajaran Tuhan Yesus di dalam empat Injil. Kelompok pertama para rasul yang diperintah oleh Tuhan Yesus untuk mengajar kaum beriman baru dengan apa yang telah Tuhan ajarkan kepada mereka. Ini dengan jelas dicatat di dalam Matius 28:19-20. Pengajaran para rasul juga termasuk apa yang di catat di dalam Kisah Para Rasul, Surat Kiriman, dan kitab Wahyu. Pada kesimpulan kitab Wahyu, Yohanes memberi tahu kita bahwa tidak seorangpun diperbolehkan untuk menambahkan sesuatu atau meniadakan sesuatu dari kitab wahyu ilahi (22:18-19). Ini berarti bahwa bersama kitab Wahyu, pengajaran para rasul telah lengkap. Sejak saat itu dan seterusnya, tidak seorangpun diijinkan untuk menambahkan atau mengurangi sesuatu. Jika kalian menambahkan sesuatu, kalian akan menderita celaka; dan jika kalian mengurangi sesuatu, kalian akan menderita kehilangan berkat ilahi. Seluruh Perjanjian Baru, yang adalah pengajaran rasul yang lengkap, harus dianggap konstitusi kerajaan Perjanjian Baru Allah.

Para Penatua sebagai Para Imam dan Administrator

Paulus, dalam Surat Kirimannya yang pertama kepada orang-orang Korintus, membuat perkara administrasi Allah di dalam Perjanjian Baru ini sangat jelas. Dia memerintahkan saudara-saudara di Korintus untuk mengusir orang tertentu yang penuh dosa dari persekutuan gereja (5:13), yang juga adalah pengajaran para rasul dan kaum saleh. Kedambaannya adalah bahwa orang yang jahat ini diusir dari gereja, tetapi dia tidak mau melakukan hal ini oleh dirinya sendiri karena dia bukan administrator secara langsung. Karena itu, dia memerintahkan orang-orang yang adalah administrator secara langsung di dalam gereja. Melalui pengajaran dan contoh Perjanjian Baru, kita dapat menyadari bahwa beberapa penatua tertentu telah didirikan dalam gereja di Korintus. Paulus memberi perintah demikian kepada saudara-saudara, tetapi dia tidak melaksanakan administrasi ini. Para penatua adalah administrator secara langsung gereja di sana. Konstitusi tertulis kerajaan Perjanjian Baru Allah adalah pengajaran para rasul, Perjanjian Baru yang lengkap, dan administrator secara langsung di dalam kerajaan ini adalah para penatua.

Lebih jauh lagi, di zaman Perjanjian Baru masih ada beberapa pembicaraan isntan. Di dalam Perjanjian Baru kita memiliki realitas imam besar dan para imam. Di dalam Perjanjian Lama para imam adalah satu kelompok, dan para tua-tua adalah kelompok yang lainnya. Tetapi di dalam Perjanjian Baru dua kelompok ini adalah satu. Semua kaum beriman dalam Kristus, termasuk para penatua, adalah para imam bagi Allah (1 Ptr. 2:5; Why. 1:6). Semua penatua adalah imam, dan Kristus adalah Imam Besar (Ibr. 3:1). Dimanakah Kristus? Kita tahu bahwa Dia ada duduk di sebelah kanan Allah di surga (Rm. 8:34), tetapi kita harus melihat bahwa untuk pergerakan Allah di antara kita di bumi ini, Imam Besar kita, Kristus, ada di dalam kita (8:10). Semua penatua perlu menyatakan bahwa Kristus, Imam Besar, ada di dalam mereka. Kita memiliki Imam Besar yang demikian (Ibr. 8:1). Para penatua, yang adalah juga para imam, harusnya menjadi orang-orang yang mengatur dalam gereja di dalam pemerintahan Allah. Jika ada masalah di dalam gereja di bawah administrasi para penatua, bagaimana seharusnya mereka memecahkan masalah ini? Di dalam Perjanjian Lama hal ini diperlukan mempelajari hukum Taurat untuk menemukan apa yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah ini. Jika ada masalah di dalam gereja, kita harus mempelajari konstitusi Perjanjian Baru kita.

Amerika Serikat adalah contoh yang baik dari satu negara yang diperintah oleh Konstitusinya. Kuasa terbesar di Amerika serikat adalah bukan presiden atau konggres. Kuasanya adalah Konstitusinya. Karena kekuatan Konstitusi Amerika Serikat, Presiden Nixon dipaksa berhenti dari jabatan. Akhirnya, Konstitusi lebih berkuasa dibandingkan presiden. Kita harus mengakui bahwa hari ini kuasa tertinggi di dalam gereja adalah pengajaran para rasul. Jika ada masalah di dalam gereja, kita harus datang ke Perjanjian Baru untuk melihat apa yang dikatakan tentang masalah khusus ini. Kita tidak seharusnya berkata bahwa kita bagi atau melawan sesuatu smpai kita tiba pada konstitusi Perjanjian Baru untuk melihat apa yang telah dikatakannya. Ketika setiap masalah bangkit, kita harus belajar untuk berdiam diri dan menghampiri Firman Allah yang tertulis, konstitusi Perjanjian Baru, tanpa opini apapun. Kita harus memiliki konstitusi yang lengkap dengan lebih banyak rincian dibandingkan konstitusi Amerika Serikat.

Jika kita tidak dapat menemukan sesuatu di dalam konstitusi kita yang tertulis secara langsung mengenai masalah tertentu atau jika kita tidak menemukan sesuatu dan tidak jelas bagaimana untuk menerapkannya, kita perlu pembicaraan instan. Waktu dan cara melaksanakan konstitusi yang tertulis masih perlu pembicaraan instan Tuhan. Bagaimana kita dapat memiliki pembicaraan instan Tuhan? Kita harus dapat ke hadirat Tuhan, tinggal di hadirat-Nya, dan menantikan Dia, menanyai Dia untuk memperlihatkan kepada kita apa yang harus dilakukan. Kemudian kita harus membaca tutup dada dengan semua hurufnya. Batu pada tutup dada dengan huruf mengacu kepada kaum saleh, umat Allah. Kita harus membaca jemaat gereja. Melalui membaca jemaat gereja di hadirat Tuhan, bersama Tuhan, dan bersama kapasitas kasih-Nya yang dilambangkan oleh dada, kita akan menerima beberapa arahan dan bagaimana melaksanakan apa yang ada dalam konstitusi tertulis. Ini adalah menerima pembicaraan instan menurut pengajaran tertulis dari para rasul. Sesungguhnya, kita seharusnya tidak melakukan sesuatu apapun yang bertentangan dengan pengajaran para rasul. Di dalam Perjanjian Lama tidak seorangpun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Taurat, tetapi melaksanakan hukum Taurat perlu ada juga pembicaraan instan-Nya, kita tidak bicara perkataan kita sendiri. Apa yang kita bicarakan bukan sesuatu dari demokrasi atau autokrasi, tetapi perkataan dari theokrasi karena diri Allah sendiri adalah pembicaraan secara instan menurut konstitusi tertulis-Nya untuk memerintah dan menguasai umat-Nya.

Semua penatua gereja perlu menyadari bahwa mereka adalah para imam yang sejati. Mereka adalah para tua-tua dan imam. Sebagai seorang penatua, kalian memiliki Imam Besar di dalam kalian, dan kalian dapat berbagian dalam kapasitas kasih-Nya seperti dilambangkan oleh dada-Nya. Kalian mengasihi kaum saleh dengan kasih Kristus dan masuk ke hadirat-Nya dengan kapasitas kasih yang demikian, menanti Dia dan membaca huruf-huruf di atas batu tutup dada, yaitu membaca semua anggota gereja. Melalui membaca anggota gereja, mengambil anggota sebagai huruf-huruf dari mesin ketik ilahi, satu kata, satu frase, satu kalimat, satu paragraf, dan bahkan satu bab akan datang kepada kalian, memberi tahu kalian apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Kita harus juga mengingat prinsip kepemimpinan. Para penatua selalu secara jamak. Karena para penatua ada secara jamak, perlu ada banyak persekutuan. Persekutuan yang sejati harus ada di hadirat Tuhan. Jika setiap persekutuan di antara para penatua tidak di hadirat Tuhan, yaitu bukan persekutuan yang sejati. Maka, semua penatua harus melaksanakannya di hadirat Tuhan dalam persekutuan. Dalam jenis persekutuan ini, tentu saja “Urim” dan “Tumim” dalam kapasitas kasih Tuhan akan berbicara. Kemudian para penatua akan mengenal apa yang ada di hati Tuhan mengenai umat-Nya dan apa yang Dia inginkan untuk pengaturan di dalam lokalitas mereka di mana gereja ada. Para penatua adalah para imam yang menerima perkataan instan dari Allah, dan administrator untuk mengatur apa yang mereka telah terima dari Tuhan. Prinsip di dalam Perjanjian Lama yang berhubungan dengan administrasi Allah adalah sama dengan Perjanjian Baru.

Nabi-nabi dan Pengajar-pengajar

Di samping para penatua sebagai para imam dan sebagai administrator, ada nabi-nabi dan pengajar-pengajar seperti yang diilustrasikan di dalam Kisah Para Rasul 13:1-4. Di dalam Kisah Para Rasul 13 di gereja Anthiokia ada nabi-nabi dan pengajar-pengajar. Nabi-nabi dan pengajar-pengajar ini adalah orang-orang yang dapat membantu di dalam keimaman dan dalam kepenatuaan. Mereka seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang membantu para tua-tua, raja-raja, dan imam-imam. Hari ini di dalam administrasi Allah di bumi hari ini, prinsipnya sama. Di samping orang-orang yang adalah para imam untuk menerima wahyu dari Tuhan secara langsung dan administrator untuk melaksanakan apa yang Allah bicarakan, ada nabi-nabi dan pengajar-pengajar untuk membantu kepenatuaan dan keimaman.

Hubungan Para Rasul dengan Gereja-gereja

dan Para Penatua setelah Mereka Didirikan

Setelah para rasul menunjuk para penatua dan menyerahkan gereja ke dalam tangan para penatua, apa yang harus para rasul lakukan di masa mendatang? Beberapa orang mengatakan bahwa para rasul harusnya tidak ada sesuatu yang dilakukan dengan gereja di manapun. Menurut perasaan mereka, penunjukkan para penatua oleh para rasul mengakhiri hubungan para rasul dan gereja-gereja. Mereka mengatakan ini dengan menggunakan persekutuan Saudara Nee dalam Kehidupan Gereja Orang Kristen yang Normal sebagai satu dasar. Pada halam 44 buku ini (versi Inggris), Saudara Nee berkata, “Sejak satu gereja didirikan, semua tanggung jawab ditangani oleh para penatua lokal, dan sejak hari itu para rasul tidak mengontrol apapun dalam urusan-urusannya.” Dalam catatan dari buku Saudara Nee ini, kita harus memperhatikan frase dalam urusan-urusannya. Beberapa orang mengutip perkataan Saudara Nee tanpa menyadari makna dari frase ini. (Saudara Nee di dalam bukunya yang berjudul Church Affairs, hal. 143, 8-14, mengoreksi kesalahan dari perkataan ini.) Para rasul tidak campur tangan atas administrasi gereja lokal di dalam urusan-urusannya, bukan dalam keperluannya atas pengajaran para rasul, arahan, dan perintah.

Kita nampak bahwa Paulus menulis sepucuk surat kepada gereja Korintus memerintahkan mereka untuk mengusir orang tertentu yang penuh dosa dari persekutuan gereja. “ Rasul memerintahkan gereja untuk melakukan hal ini – “Usirlah orang yang jahat dari antara kalian” (1 Kor. 5:13). Apakah ini berarti bahwa rasul mengambil gereja di bawah administrasinya? Tidak, bukan semuanya. Jika ini adalah kasusnya, dia tidak perlu memberi tahu orang lain untuk mengusir orang yang penuh dosa ini. Dia akan melakukannya dengan langsung melalui dirinya sendiri. Pengertian di sini, Paulus sebagai seorang rasul tidak campur tangan atas administrasi gereja tetapi bukan dari pengajaran, arahan, dan memerintah gereja.

Ada aspek lain hubungan para rasul dengan satu gereja lokal, yang Saudara Nee beri tahu kepada kita di dalam 1 Timotius 5. Satu Timotius 5:19:20 mengatakan, “Janganlah engkau menerima tuduhan atas seorang penatua kecauali kalau didukung dua atau tiga orang saksi. Mereka yang berbuat dosa hendaklah kau tegur di depan semua orang agar yang lain itu pun takut.” Timotius diperintah oleh rasul Paulus untuk menerima tuduhan atas seorang penatua. Ini menunjukkan bahwa rasul memiliki otoritas untuk menanggulangi para penatua bahkan setelah mereka ditunjuk oleh rasul menjadi para penatua. Jika ada masalah di antara para penatua, kasus ini harus dibawa kepada para rasul, dan para rasul berhak menghakimi. Para rasul memiliki otoritas untuk menghardik penatua yang penuh dosa di hadapan orang lain. Para rasul seharusnya menyerahkan kepada gereja dalam administrasinya, tetapi di sini tidak berarti bahwa para rasul dengan mutlak tidak bisa melakukannya terhadap satu gereja lokal setelah penatuanya didirikan.

Para penatua yang salah dan penuh dosa yang dituduh oleh kaum saleh, dan tuduhan ini harus dibawa kepada para rasul. Akhirnya, para rasul menjadi pengadilan kecil untuk menghakimi situasi. Menurut 1 Korintus 6 bahkan kaum saleh dapat membentuk sekelompok pengadilan kecil untuk menghakimi kasus di antara mereka sendiri (ay. 1-3). Para rasul harus membuat satu penghakiman dalam kasus yang berhubungan dengan penatua tertentu yang ternyata melakukan kesalahan. Hal ini diserahkan kepada para rasul untuk menghakimi atau menghukum mereka. Menurut 1 Timotius 5:20, jika seorang penatua dihakimi karena penuh dosa, dia harus dibuktikan oleh orang lain. Seorang penatua yang berdosa harus menerima bukti umum karena posisi umumnya. Berdasarkan perkataan Paulus kepada Timotius dalam perkara ini, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa para rasul, yang menunjuk para penatua dan menyerahkan gereja kepada mereka, tidak memiliki untuk dilakukan terhadap gereja atau para penatua karena mereka telah didirikan?

Seluruh kitab 1 Korintus adalah satu “kitab yang kacau.” Rasul menulis kekacauan gereja di Korintus. Seluruh kitab dapat dianggap satu hukuman kepada gereja lokal. Satu Korintus 11:34 mengatakan, “kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum. Hal-hal yang lain akan kuatur, kalau aku datang.” Bahkan setelah memerintah gereja untuk memperhatikan begitu banyak hal, Paulus berkata bahwa dia akan mengatur perkara yang lain ketika dia datang. Kita perlu kembali kepada Firman. Firman adalah otoritas kita, konstitusi kita yang tertinggi. Ayat ini memberi tahu kita bahwa beberapa hal tidak di atur oleh rasul Paulus. Dalam Surat Kirimannya kepada gereja di Korintus, banyak hal diatur oleh perintah Paulus, seperti perkara pernikahan, makan yang dipersembahkan kepada berhala, penudungan kepala, perjamuan malam Tuhan, dan seterusnya. Paulus memerintahkan orang-orang Korintus untuk menanggulangi sedikitnya sebelas masalah di dalam persekutuan dengan mereka. Dia memerintahkan gereja melakukan banyak perkara. Sebagai rasul dia tidak memiliki posisi untuk mengatur gereja, tetapi dia memiliki posisi, hak, dan tanggung jawab untuk memerintah para penatua untuk melakukan hal ini.

Gereja-gereja adalah Lokal di dalam Administrasi

tetapi Mutlak tidak Independen

Ada butir penting lainnya dari Firman agar kita sadari. Gereja-gereja tentu saja lokal dalam adminsitrasinya, tetapi mereka mutlak tidak independen. Di dalam sejarah kita di dalam pemulihan Tuhan, kita diperingatkan oleh pelaksanaan otonomi Kaum Saudara. Semua negara bagian Amerika Serikat memiliki administrasi-Nya dan pemerintahannya sendiri-sendiri, tetapi mereka dengan tegas tidak independen. Negara-negara bagian terpisah tingkatannya, tetapi hal ini bukan berarti mereka mutlak independen. Jika negara-negara bagian mutlak independen, Amerika Serikat tidak akan menjadi satu negara. Hal ini akan menjadi lima puluh negara. Gereja-gereja lokal mutlak tidak independen. Ketika para rasul tidak campur tangan atas urusan-urusan gereja-gereja, ini bukan berarti setiap gereja lokal menjadi satu independen keseleruhannya. Ini juga bukan berarti bahwa karena gereja-gereja di bawah pengajaran para rasul, mereka menjadi federasi.

Di dalam 1 Korintus 4:17 Paulus berkata, “Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap gereja.” Di semua gereja rasul Paulus mengajar hal yang sama. Pengajaran-Nya sama secara universal, tidak merobah di setiap tempat. Mengenai perkara ini, kita perlu melihat tujuh Surat Kiriman kepada tujuh gereja lokal dalam Wahyu 2 dan 3. Firman Tuhan kepada satu gereja adalah firman yang dibicarakan oleh Roh Kudus kepada semua gereja (Why. 2:1, 7). Pada permulaan setiap Surat Kiriman, ini adalah Tuhan berbicara kepada gereja secara khusus (2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14), tetapi pada akhir semua Surat Kiriman, Firman berkata, “Siapa yang memiliki telinga, hendaklah ia mendengar apa yang dikatakan Roh kepada gereja-gereja” (2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22). Apa yang dikatakan oleh Tuhan kepada gereja di Efesus adalah firman yang harus semua gereja dengar. Setiap Surat Kiriman adalah firman yang khusus kepada satu gereja tertentu, namun firman yang khusus ini untuk didengar dan diambil oleh semua gereja.

Di satu pihak, para penatua gereja memiliki hak dan posisi untuk melaksanakan administrasi gereja-gereja lokal secara independen. Di pihak lain, semua gereja harus mendengar firman yang para rasul telah terima dari Allah, yang adalah pengajaran Perjanjian Baru. Di satu pihak, gereja-gereja tetap satu Tubuh Kristus yang adalah satu organisme, bukan satu federasi yang adalah satu organisasi. Kita perlu bersidang sebagai gereja-gereja lokal yang terpisah menurut apa yang Perjanjian Baru katakan, tetapi semua gereja lokal tetap satu Tubuh Kristus.

Melalui jalan ini, saya akan menambahkan sedikit perkataan. Dalam persekutuan kita, banyak dari kita menggunakan perkataan “Saudara Lee katakan….” Sebaliknya kita harus katakan, “Satu Timotius katakan….” ; atau, “Satu Korintus katakan….” Sejak permulaan pemulihan Tuhan di Amerika Serikat, Saya telah menyampaikan Firman Tuhan kepada kalian. Kalian dapat menerima Firman Tuhan melalui pembicaraanku, melalui pengajaranku, tetapi apa yang saya bicarakan adalah Firman-Nya. Kita semua perlu kembali kepada Firman yang murni dan dengan tepat membedakan apa yang Firman-Nya yang murni katakan.

Pengajaran Para Rasul adalah Kepemimpinan yang Sejati

Pada tahun 1986 kita memiliki satu pelatihan para penatua pada kesehatian (lihat Elders’ Training, Book 7: One Accord for the Lord’s Move). Selama waktu ini saya berbicara tentang kepemimpinan para rasul dan kepemimpinan di dalam ministri Tuhan, tetapi saya merasa bahwa apa yang saya katakan tidak dengan tepat dipahami oleh beberapa orang. Karena kesalahpahaman ini, saya memberi dua berita terakhir dalam pelatihan musim panas 1987 pada perkara ini (lihat bab delapanbelas dan sembilan belas Jalan yang Ditetapkan Allah untuk Melaksanakan Ekonomi Perjanjian Baru). Dalam berita-berita ini, saya menekankan bahwa kepemimpinan di dalam ministri Perjanjian Baru sebenarnya bukan kepemimpinan seorang mengontrol orang lain. Sebaliknya, kita memiliki kepemimpinan seorang mengontrol wahyu di dalam satu ministri melalui mereka yang membawa dalam wahyu ministri. Kepemimpinan Perjanjian Baru ada dalam pengajaran para rasul.

Di dalam empat Injil kepemimpinan ada bersama Tuhan Yesus. Ini adalah kepemimpinan dalam satu orang. Tuhan Yesus adalah Pemimpin yang memiliki kepemimpinan. Di dalam empat Injil Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya ke tempat tertentu. Murid-murid-Nya tunduk kepada apapun yang Dia katakan. Di dalam Kisah Para Rasul dan Surat Kiriman, Petrus dan Paulus dianggap menjadi pemimpin, tetapi untuk sebagian besar, mereka tidak mengutus setiap orang kemanapun untuk melakukan pekerjaan. Semua pengutusan para sekerja diutus oleh Roh Kudus. Kisah Para Rasul 13 memberi tahu kita bahwa Barnabas dan Saulus “diutus oleh Roh Kudus” (ay. 4) dari Antiokhia ke bangsa-bangsa Kafir. Sekalipun, Paulus memerintah beberapa saudara muda yang memiliki hubungan yang dekat dengan dia, seperti Timotius dan Titus, untuk pergi ke tempat tertentu dan melakukan hal tertentu (1 Kor. 4:17; Tit. 1:5). Dia memerintah Timotius dan Titus untuk datang kepada dia, dan mereka menerima pengaturan ini (2 Tim. 4:9; Tit. 3:12). Tetapi ada sedikitnya satu kasus diacukan dalam 1 Korintus 16:12 yang harus kita lihat: “Tentang saudara kita, Apolos, telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama-sama dengan saudara-saudara seiman yang lain mengunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang.” Paulus sangat berbeban untuk membantu orang Korintus untuk memecahkan masalahnya, dan masalahnya melibatkan dia dan Apolos. Inilah mengapa Paulus mendesak agar Apolos mau datang melihat Korintus secara pribadi. Paulus tidak mengatakan bahwa dia memerintah Apolos. Dia berkata, “Aku mendesaknya.” Meminta seseorang untuk melakukan sesuatu sangat berbeda dari memerintah dia. Paulus berkata, “Telah berulang-ulang aku mendesaknya…tetapi ia sama sekali tidak mau.” Sekalipun Paulus mendesak dia, Apolos tetap bebas dan merdeka, tidak melakukan hal ini. Dan ia tidak melakukan apa yang Paulus minta. Apolos berkata bahwa ia akan datang ketika ia ada kesempatan. Ini kelihatannya seperti ayat yang sepele, tetapi ini sangat penting untuk kebenaran mengenai kepemimpinan. Ayat ini sangat tegas untuk membuktikan bahwa Paulus tidak melaksanakan mengontrolan atas pekerja Tuhan.

Paulus bukan pemimpin dalam pergerakan Allah Perjanjian Baru dalam pengertian memerintah para pekerja untuk melakukan sesuatu. Petrus dan Paulus tidak menekankan dalam perkara ini atas pergerakan para sekerja. Jika mereka mendesak seorang pekerja untuk melakukan sesuatu, dan dia merasa tidak melakukannya, tidak ada masalah. Tetapi semua rasul sangat menekankan pengajaran para rasul. Di dalam 1 Timotius 1:3-4 Paulus mendesak Timotius untuk tetap tinggal di Efesus untuk memerintah orang-orang tertentu untuk tidak mengajarkan yang berbeda dari ekonomi Perjanjian baru Allah. Di zaman rasul Yohanes, di dalam Surat Kirimannya yang kedua, memberi tahu kaum saleh untuk tidak menerima setiap orang yang membawa pengajaran lain selain pengajaran Kristus (ay. 9-10). Dia berkata bahwa orang-orang ini pergi menyimpangkan pengajaran Kristus. Ini berarti bahwa mereka pergi menyimpangkan pengajaran mengenai Kristus, yang adalah dasar pengajaran Perjanjian Baru, pengajaran para rasul. Yohanes tegas untuk satu tingkat ini bahwa dia memerintahkan kaum saleh untuk tidak menyambut orang-orang sedemikian. Dalam perkara pengajaran para rasul, para rasul sangat tegas. Ini membuktikan bahwa pengajaran para rasul sebenarnya adalah kepemimpian yang sejati dalam Perjanjian Baru