← Daftar isi Kepemimpinan DI dalam Perjanjian Baru · bab 4/4

KEPEMIMPINAN PERJANJIAN BARU

Pembacaan Alkitab:

Kis. 2:36; 5:31; Why. 1:5; Ef. 1:22; Kol. 1:18; 1 Kor. 11:3; Ibr. 13:24; Rm. 12:8; 1 Tim. 5:17; 3:2; 1 Ptr. 5:2-3;

1 Tes. 5:12; Ibr. 13:17; Gal. 2:7; Rm. 11:13; 1 Kor. 16:12; 1 Tim. 1:3-4; 2 Yoh. 9-11;

2 Kor. 13:10; 1 Kor. 4:17b-21; 7:17b; 16:1; 11:2; 2 Tes. 3:6, 9, 12, 14; 1 Kor. 1:10; 5:11-13; 11:34b;

2 Kor. 10:6; Kis. 14:23; Tit. 1:5; 1 Tim. 5:19-20; Kel. 28:29-30;

Bil. 27:15-23; 1 Sam. 3:1, 19-21; Kis. 15:6, 23, 28; 2:42; 13:1

GARIS BESAR

I. Kekepalaan Kristus:

A. Kristus telah dijadikan Tuhan dan Kristus oleh Allah – Kis. 2:23.

B. Kristus telah ditinggikan sebagai Pemimpin atas semua penguasa – Kis. 5:31.

C. Kristus telah dijadikan Penguasa atas raja-raja bumi – Why. 1:5.

D. Kristus telah ditunjuk menjadi Kepala atas segala sesuatu untuk gereja – Ef. 1:22

E. Kristus adalah Kepala gereja – Kol. 1:18.

F. Kristus adalah Kepala setiap manusia di bawah kekepalaan Allah – 1 Kor. 11:3.

II. Kekepalaan di dalam kehidupan gereja:

A. Para penatua mengambil pimpinan dengan rajin di dalam kehidupan gereja – Ibr. 13:24; Rm. 12:8.

B. Para penatua berjerih lelah dalam mengajar kaum saleh – 1 Tim. 5:17b; 3:2.

C. Para penatua menggembalakan gereja sebagai kawanan domba Allah, meniliknya menurut Allah, dan menjadi teladan kawanan domba, bukan menjadi tuan atas kawanan domba – 1 Ptr. 5:2-3.

D. Untuk dianggap, ditaati, dan dihormati oleh kaum saleh – 1 Tes. 5:12; Ibr. 13:17; 1 Tim. 5:17a.

III. kepemimpinan di dalam ministri:

A. Petrus mengambil pimpinan di dalam ministri Perjanjian Baru di antara orang-orang Yahudi – Gal. 2:7b.

B. Paulus mengambil pimpinan di dalam ministri Perjanjian Baru di antara orang-orang Kafir – Gal. 2:7a; Rm. 11:13.

C. Kepemimpinan di dalam ministri Perjanjian Baru ada di dalam pengajaran Perjanjian Baru lebih dari di dalam orang-orang yang memimpin ministri Perjanjian Baru:

1. Orang-orang yang memimpin tidak ketat dalam mengarahkan pergerakan para sekerjanya – cf. 1 Kor. 16:12.

2. Orang-orang yang memimpin ketat dalam pengajaran Perjanjian Baru – cf. 1 Tim. 1:3-4; 2 Yoh. 9-11.

D. Wakil ototiras Allah di dalam orang-orang yang memimpin:

1. Untuk membangun dan bukan untuk merobohkan – 2 Kor. 13:10.

2. Dalam pengajarannya – 1 Kor. 4:17b-21; 7:17b; 16:1; 11:2; 2 Tes. 3:6, 9, 12, 14.

3. Dalam mereka menangani masalah-masalah dan urusan-urusan gereja – 1 Kor. 1:10; 5:11-13; 11:34b.

4. Dalam mereka menghukum ketidak taatan kaum saleh – 2 Kor. 10:6.

5. Dalam mereka menunjuk dan menanggulangi para penatua – Kis. 14:23; Tit. 1:5; 1 Tim. 5:19-20.

IV. Pemerintahan Allah di dalam administrasi gereja-gereja:

A. Bukan autokrasi atapun demokrasi, tetapi theokrasi.

B. Pemerintahan theokrat di antara umat Israel di dalam Perjanjian Lama:

1. Melalui keimaman dengan Urim dan Tumim – Kel. 28:29-30; Bil. 27:15-23.

2. Melalui koordinasi para nabi – 1 Sam. 3:1, 19:21.

C. Pemerintahan theokrat dalam gereja-gereja di dalam Perjanjian Baru:

1. Melalui Roh yang tinggal di dalam roh para rasul dan penatua, yang adalah para imam Perjanjian Baru, dengan wahyu pengajaran Perjanjian Baru – Kis. 15:6, 23, 28; 2:42; 1 Tes. 5:12; 1 Tim. 3:2; 5:17.

2. Melalui koordinasi para nabi Perjanjian Baru – Kis. 13:1.

Dalam bab ini kita akan mempersekutukan lagi mengenai kepemimpinan Perjanjian Baru. Kepemimpinan yang tepat adalah satu perkara yang besar. Di dalam setiap lembaga manusia perlu ada satu kepemimpinan yang tepat. Jika satu negara memiliki seorang presiden yang baik, negara ini akan menjadi satu negara yang baik. Di pihak lain, jika kepemimpinan miskin, rakyat negara itu akan menderita. Bahkan dalam satu keluarga, yang memiliki kepemimpinan yang tepat dapat membantu setiap orang dalam keluarga itu. Tanpa kepemimpinan yang tepat, pasti ada kekacauan dan berantakan. Allah bukan Allah yang kacau, tetapi yang damai sejahtera dan teratur (1 Kor. 14:33, 40). Setiap situasi yang kacau bukan dari Allah; segala sesuatu yang dari Allah selalu teratur. Alam semesta sangat besar, tetapi miliaran jenis di dalamnya ada dalam pengaturan yang tepat. Karena segala sesuatu ada dalam pengaturan ciptaan Allah, bumi ada dalam damai sejahtera, keadaan yang benar-benar tenang. Namun, sedikit perubah dari keteraturan ini, akan menjadikan bumi tidak bisa menopang kita.

Karena manusia diciptakan oleh Allah, segala sesuatu yang berhubungan dengan tubuh fisiknya teratur. Bahkan jika sedikit kekacauan terjadi di dalam tubuh kita, kita menjadi sakit dan menderita. Dalam cara yang sama bahwa tubuh fisik kita ada dalam pengaturan yang tepat, juga ada suatu pengaturan di dalam gereja, yang adalah Tubuh Kristus (1 Kor. 12:27; Ef. 1:22-23). Seseorang telah berkata bahwa sejak gereja adalah gereja kaum saleh, kaum saleh dalam gereja adalah sama di dalam setiap cara, dengan tidak ada kepemimpinan atau perwakilan otoritas di antara mereka. Ini adalah angin mengajaran (Ef. 4:14) yang mengacaukan gereja dan membawa kekacauan kepadanya. Alkitab mengatakan bahwa gereja adalah gereja Allah (1 Kor. 1:2; 10:32), gereja Kristus (Rm. 16:16), dan gereja kaum saleh (1 Kor. 14:33). Tidak ada ayat di dalam Alkitab yang memberi tahu kita bahwa gereja adalah gereja para rasul. Para rasul tidak pernah menyatakan mereka sendiri menjadi pemilik gereja. Sebaliknya, mereka memberitakan Kristus Yesus sebagai Tuhan dan mereka sendiri sebagai hamba bagi gereja-gereja (2 Kor. 4:5). Namun, ini tidak berarti bahwa setiap anggota di dalam Tuhan adalah kepala. Bagi semua anggota menjadi sama tanpa ada kepemimpinan di antara mereka bukan menurut pengaturan Allah.

Ketika umat Allah di dalam Perjanjian Lama menjadi satu kesatuan kolektif, ada satu situasi pengaturan yang tepat di antara mereka. Demikian juga, di seluruh Perjanjian Baru kita dapat melihat bahwa Allah selalu berlawanan dengan setiap jenis kekacauan. Kita dapat melihat kebenaran kepemimpinan Perjanjian Baru menurut Firman Allah yang murni. Alkitab adalah “konstitusi” kita. Dalam satu negara demokrasi seperti Amerika, otoritas tertinggi bukan presiden atau Kongres. Ini adalah konstitusi. Dalam memecahkan setiap perkara, kita harus kembali ke “konstitusi” kita, Alkitab.

KEKEPALAAN KRISTUS

Mengenai kepemimpinan Perjanjian Baru, Alkitab pertama-tama membicarakan kekepalaan Kristus. Kepala yang unik seluruh alam semesta adalah Tuhan Yesus Kristus.

Kristus telah Dijadikan Tuhan dan Kristus oleh Allah

Kristus telah dijadikan Tuhan (Tuan) dan Kristus oleh Allah (Kis. 2:23). Sebagai Allah, Tuhan adalah Tuhan sepanjang waktu (Luk. 1:43; Yoh. 11:21; 20:28). Namun, di dalam inkarnasi-Nya Dia menjadi seorang manusia; Pencipta menjadi seorang tercipta. Sebagai manusia, Dia dijadikan Tuhan di dalam kenaikan-Nya setelah Dia membawa keinsanian-Nya ke dalam Allah di dalam kebangkitan-Nya. Lebih lagi, sebagai utusan dan Sang yang diurapi Allah, Dia adalah Kristus sejak Dia dilahirkan (Luk. 2:11; Mat. 1:16; Yoh. 1:41; Mat. 16:16), tetapi sebagai Dia yang sedemikian, Dia secara jabatan dijadikan Kristus Allah di dalam kenaikan-Nya.

Allah membuat manusia Yesus Tuhan itu ditinggikan dari segala sesuatunya. Tidak ditemukan dari setiap agama, seperi Muhamad atau Budha yang disebut Tuhan. Hanya Kristus Yesus adalah Tuhan. Sebagai seorang Kristen kita memiliki kesadaran yang dalam bahwa Yesus adalah Tuhan kita. Khususnya selama waktu ada masalah atau bahkan pada saat sesuatu yang baik terjadi kepada kita, hal pertama yang kita dapat katakan adalah, “O Tuhan!” Betapa baiknya ini untuk memiliki Yesus sebagai Tuhan! Yesus dijadikan Tuhan, sebagai Tuhan segala sesuatu (Kis. 10:36), untuk memiliki segala sesuatu. Jika orang tidak memiliki Yesus, dia tidak mempunyai pemilik. Yesus juga dijadikan Kristus di dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya untuk melaksanakan amanat Allah, rencana dan ekonomi kekal-Nya. Tuhan adalah pemilik, dan Kristus adalah pelaku. Dia adalah Sang yang memiliki segala sesuatu, dan Dia adalah Sang yang menggenapkan amanat Allah.

Kristus telah Ditinggikan sebagai Pemimpin atas Semua Penguasa

Kristus telah ditinggikan sebagai Pemimpin atas semua penguasa. Kisah Para Rasul 5:31 mengatakan, “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis (Pemimpin) dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Cara Dia menyelamatkan kita adalah melalui Pemimpin. Karena Dia mengendalikan segala sesuatu, Dia memiliki kuat kuasa, otoritas, kemampuan, dan kapasitas untuk menyelamatkan kita. Di bawah kepemimpinan-Nya kita telah diselamatkan. Dia memiliki otoritas dan kuat kuasa, jika Dia sangat menginginkan untuk mengganti seorang raja dalam pengaturan untuk menyelamatkan sekalipun seorang saja dari umat-Nya. Kisah Firaun dan umat Israel dalam Keluaran adalah satu demontrasi otoritas dan kuat kuasa Tuhan untuk menyelamatkan. Di Mesir Firaun menjaga semua bangsa Israel dalam perhambaan, dan Allah mengutus Musa untuk memberi tahu Firaun agar membiarkan Umat-Nya pergi (Kel. 5:1). Ketika Firaun menolak, Tuhan mendatangkan malapetaka-malapetaka ke atas dia, dan dia meminta Musa untuk memohonkan Tuhan baginya (8:8, 28; 9:27; 10:16-17). Akhirnya Firaun ditundukkan, dan dia melepaskan umat Israel (11:1; 12:31). Juruselamat menyelamatkan umat-Nya melalui kuat kuasa dan otoritas-Nya.

Otoritas dan kuat kuasa Tuhan sebagai pemimpin atas semua pemerintah dapat terlihat dalam pengendalian-Nya atas situasi dunia. Perhatianku sejak tahun 1940 an untuk menginjili Cina bagian utara dan Mongolia. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akhirnya akan datang ke Amerika. Namun, karena kedaulatan Tuhan dalam situasi dunia, saya di sini hari ini. Dia yang membawa saya ke negara ini adalah Pemimpin atas semua penguasa.

Kristus telah Dijadikan Penguasa atas Raja-raja Bumi

Kristus telah dijadikan Penguasa atas raja-raja bumi (Why. 1:5). Di bumi ada banyak raja, ratu, dan presiden, tetapi Penguasa semua ini adalah Kristus. Allah membuat Kristus Penguasa dan meninggikan Dia sebagai Pemimpin.

Kristus telah Ditunjuk menjadi Kepala

atas Segala Sesuatu untuk Gereja dan Kepala Gereja

Kristus telah ditunjuk menjadi Kepala atas segala sesuatu untuk gereja (Ef. 1:22). Apa adanya Kristus, adalah untuk gereja. Kristus adalah Kepala gereja (Kol. 1:18). Apa adanya Kepala, ditransmisikan kepada gereja melalui peredaran hayat di dalam Tubuh.

Kristus adalah Kepala setiap Manusia di bawah Kekepalaan Allah

Kristus adalah Kepala setiap manusia di bawah kekepalaan Allah (1 Kor. 11:3). Kristus adalah Kepala gereja secara korporat dan Kepala setiap manusia secara individu. Dia sendiri masih ada di bawah kekepalaan Allah. Betapa ajaib pengaturan yang ada di alam semesta. Allah ada di atas Kristus, dan Kristus ada di atas segala sesuatu. Sebagai Kepala segala sesuatu, Dia adalah Kepala gereja dan Kepala setiap manusia.

KEPEMIMPINAN DI DALAM KEHIDUPAN GEREJA

Kepemimpinan Perjanjian Baru terdiri dari para penatua di dalam gereja dan mereka yang mengambil pimpinan di dalam ministri. Tidak benar mengatakan bahwa tidak ada kepemimpinan di dalam gereja. Bahkan di dalam kehidupan keluarga pun ada kepemimpinan. Ketika orang tua jauh dari rumah, saudara laki-laki atau perempuan yang lebih tua yang tinggal sebagai seorang pemimpin bagi anak-anak yang lain. Jika orang tua dan saudara laki-laki yang lebih tua pergi jauh, seorang baby-sister tinggal untuk menemani anak-anak menjadi pemimpin bagi mereka. Dalam setiap situasi perlu ada seorang pemimpin. Di dalam kehidupan gereja para penatua mengambil pimpinan dengan rajin (Ibr. 13:24; Rm. 12:8). Semua penatua adalah orang-orang yang memimpin di dalam gereja. Tanpa para pemimpin kita tidak akan memiliki satu kehidupan gereja yang teratur dengan begitu banyak pengaturan. Sebaliknya, kita akan memiliki kekacauan di dalam kehidupan gereja.

Kepemimpinan di dalam kehidupan gereja dilaksanakan oleh jerih lelah para penatua dalam mengajar kaum saleh (1 Tim. 5:17b; 3:2) dan menggembalakan gereja sebagai kawanan domba Allah, meniliknya menurut Allah, dan menjadi teladan kawanan domba, bukan menjadi tuan atas kawanan domba (1 Ptr. 5:2-3). Para pemimpin di dalam gereja harus mengambil pimpinan di dalam segala hal. Mereka harus menjadi pemimpin domba, kepala domba, di dalam kawanan. Ketika kepala kawanan domba bergerak, beristirahat domba mengikuti. Namun, ketika domba di depan tidak melakukan sesuatu, seluruh kawanan berhenti. Jika WC di balai sidang perlu dibersihkan, maka para penatua yang harus mengambil pimpinan untuk membersihkannya. Para penatua harus juga menjadi orang yang pertama untuk pergi keluar untuk mengunjungi orang bagi injil melalui mengetuk pintu mereka. Jika para penatua pergi keluar untuk memberitakan injil, banyak orang di dalam gereja akan mengikuti mereka. Di pihak lain. Jika para penatua tidak mengambil pimpinan untuk pergi keluar, tetapi dengan sederhana mendesak kaum saleh lain untuk melakukannya, tidak akan banyak kaum saleh yang pergi. Cara menjadi seorang penatua adalah bukan memerintah orang lain tetapi mengambil pimpinan. Jika para penatua berjerih lelah dalam mengajar dan jika mereka menggembalakan, menilik, dan memberi teladan kawanan, semua kaum saleh akan menghargai dan menaati mereka sebagai para penatua.

Para penatua harus dianggap, ditaati, dan dihormati oleh kaum saleh (1 Tes. 5:12; Ibr. 13:17; 1 Tim. 5:17a). Hormat yang diberikan kepada para penatua dapat mencakup suplai meteri. Para penatua tertentu tidak mengambil satu pekerjaan bagi kehidupannya karena mereka terlalu sibuk dalam perkara-perkara gereja. Mereka tidak memiliki pemasukan; mereka hidup melalui iman. Kaum saleh harus menghormati mereka dengan memberi mereka beberapa suplai materi. Ini adalah pengaturan yang tepat dengan situasi kehidupan gereja yang tepat dan indah.

KEPEMIMPINAN DI DALAM MINISTRI

Petrus Mengambil Pimpinan di dalam Ministri Perjanjian Baru di antara Orang-orang Yahudi

Kepemimpinan Perjanjian Baru juga terdiri dari kepemimpinan di dalam ministri. Petrus mengambil pimpinan di dalam ministri Perjanjian Baru di antara orang-orang Yahudi (Gal. 2:7b). Kita dapat melihat pimpinan Petrus di dalam ministri pada duabelas pasal pertama Kisah Para Rasul. Paulus mengambil pimpinan di dalam ministri Perjanjian Baru di antara orang-orang Kafir (Gal. 2:7a; Rm. 11:13) pada enambelas pasal terakhir Kisah Para Rasul.

Kepemimpinan di dalam Ministri Perjanjian Baru ada di dalam Pengajaran Perjanjian Baru

lebih dari di dalam Orang-orang yang Memimpin Ministri Perjanjian Baru

Kepemimpinan di dalam ministri Perjanjian Baru ada di dalam pengajaran Perjanjian Baru lebih dari di dalam orang-orang yang memimpin ministri Perjanjian Baru. Kepemimpinan negara di Amerika ada dalam konstitusi yang lebih dari kepresidenan. Faktor penting dalam pemerintahan adalah konstitusi. Demikian juga, kepemimpinan Perjanjian Baru bukan ada pada Petrus atau pada Paulus sesungguhnya ada di dalam pengajarannya. Jika Petrus dan Paulus berpaling dari pengajarannya, kaum saleh tidak akan mengikuti mereka. Gereja-gereja mengikuti pengajaran para rasul, dan mereka mengikuti para rasul karena para rasul memiliki pengajaran Perjanjian Baru. Para rasul menjaga pengajarannya, mereka ada di dalam pengajarannya, dan mereka bersatu dengannya.

Pada tahun 1934 ada kekacauan dalam gereja di Shanghai, terutama diarahkan terhadap Saudara Nee. Pada masa itu saya meyakini dia bahwa saya seutuhnya mengikuti dia, bukan karena apa adanya dia, tetapi karena pengajaran dan wahyu yang dia bawa ke dalam pemulihan Tuhan. Saudara Nee dan saya tidak saling mengenal sebelumnya; kami tidak memiliki daya tarik pribadi. Dia mengambil pimpinan, dan saya mengikuti dia karena dia memiliki wahyu dalam pengajarannya dan dia memperhatikan wahyu. Saya juga memberi tahu dia bahwa jika satu hari dia akan menyimpang dari wahyu yang telah dia sampaikan kepada kita, saya akan tetap mengikuti wahyu, tetapi saya tidak lagi mengikuti dia.

Hari ini, karena pemberontakan di dalam pemulihan saat ini, beberapa kaum saleh mencoba untuk mempertahankan saya. Namun, saya tidak memperhatikan penjagaan. Sebaliknya, pengajaran dalam pemulihan Tuhan yang seharusnya dijaga. Gereja-gereja di dalam pemulihan Tuhan jangan mengikuti manusia, tetapi mereka mengikuti pengajaran ministri ini. Namun, mengikuti pengajaran dan bukan minister bukan berarti bahwa kita harus menolak minister. Beberapa orang memutar balikkan perkataanku mengenai jangan mengikuti seorang manusia tetapi mengikuti pengajarannya dan menyatakan untuk mengikuti pengajaranku sementara mereka menolak saya. Bahkan siswa-siswa di satu sekolahan tidak dapat menerima pengajaran sementara menolak guru. Apa yang ministri di dalam pemulihan Tuhan telah bawa kepada gereja-gereja adalah menurut pengajaran Perjanjian Baru para rasul. Untuk alasan ini saya damai sejahtera. Saya tidak memperhatikan tentang kekacauan di dalam gereja. Kekacauan-kekacauan tidak dapat merobohkan ministri Perjanjian Baru.

Beberapa orang dengan salah mengajarkan bahwa gereja-gereja lokal adalah otonom, bahwa sejak seorang rasul mendirikan satu gereja lokal dan menunjuk para penatua, walaupun dia bersama gereja ini dan seharusnya tidak mencampuri. Ini bukan menurut Alkitab. Rasul Paulus mendirikan gereja-gereja, dan dia menunjuk para penatua di dalam gereja-gereja (Kis. 14:23; Tit. 1:5). Namun, setelah ini dia tidak mencampuri gereja-gereja. Dia mengunjungi gereja di Efesus setelah gereja ini didirikan dan tinggal selama tiga tahun. Selanjutnya, sementara dia kembali ke Yerusalem, dia tidak dapat melupakan gereja di Efesus. Kisah Para Rasul 20 memberi tahu kita bahwa dari Miletus dia mengirim perkataan ke Efesus dan memanggil semua panatua gereja (ay. 17). Mereka datang kepada dia, dan dia berbicara pembicaraan panjang, memperingatkan, mengarahkan, dan bahkan memerintahkan mereka. Kisah Para Rasul 20:31 mengatakan, “Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasehati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.” Ayat 20 mengatakan, “Sungguh pun demikian aku tidak pernah lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah.” Tidak diragukan dia mengajar kaum saleh di Efesus mengenai ekonomi Allah dan mengenai kehidupan mereka sehari-hari, menyatakan kepada mereka sesuatu yang menguntungkan. Dia memberi tahu para penatua di dalam ayat 29 dan 30, “Aku tahu sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikuti mereka.” Ini memperlihatkan betapa perhatian Paulus untuk masa depan gereja di Efesus. Paulus juga menulis sepucuk Surat Kiriman kepada gereja di sana. Ini mengilustrasikan bahwa para rasul tidak pernah mencampuri gereja-gereja yang telah mereka dirikan.

Orang-orang yang memimpin tidak ketat dalam mengarahkan pergerakan para sekerjanya. Satu Korintus 16:12 mengatakan, “Tentang saudara kita, Apolos, telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk mengunjungi kamu bersama-sama dengan saudara-saudara seiman yang lain, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang.” Namun, orang-orang yang memimpin ketat dalam pengajaran Perjanjian Baru (1 Tim. 1:3-4; 2 Yoh. 9-11). Satu Timotius 1:3-4 mengatakan, “Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan manasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain” Dua Yohanes 9-11 mengatakan, “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Siapa yang tinggal di dalam ajaran ini, ia memiliki Bapa maupun Anak. Jikalau seseorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” Para rasul tidak ketat dalam mengarahkan para sekerja seperti kepada Apolos untuk pergi ke tempat tertentu. Namun, mereka sangat ketat mengenai pengajaran Perjanjian Baru. Ini membuktikan bahwa kepemimpinan yang sejati di dalam ministri ada di dalam pengajaran para rasul.

Wakil Ototiras Allah di dalam Orang-orang yang Memimpin

Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita wakil ototiras Allah di dalam orang-orang yang memimpin di dalam ministri. Dalam satu keluarga ada wakit otoritas, dan dalam pemerintahan manusia ada juga wakil otoritas. Tanpa wakil otoritas, seluruh bumi akan terjadi anarki dan kekacauan dan akan menjadi tidak cocok untuk hidup di dalamnya. Hari ini angin pengajaran berkecamuk di dalam pemulian Tuhan dengan mengatakan bahwa tidak ada wakil otoritas di dalam gereja. Menurut pengajaran ini Saudara Nee salah dalam bukunya yang berjudul Kekuasaan dan Ketaatan. Jika Saudara Nee salah, Alkitab juga salah karena Alkitab dengan tegas mewahyukan wakil otoritas Allah di dalam kehidupan gereja dan di dalam ministri.

Wakil otoritas Allah di dalam orang-orang yang memimpin di dalam ministri adalah untuk membangun dan bukan untuk merobohkan (2 Kor. 13:10). Paulus memiliki otoritas, bukan untuk menghancurkan atau merobohkan, tetapi untuk membangun. Wakil otoritas Allah ada di dalam pengajaran orang-orang yang memimpin (1 Kor. 4:17b-21; 7:17b; 16:1; 11:2; 2 Tes. 3:6, 9, 12, 14). Paulus melaksanakan otoritasnya dalam pengajarannya. Dia mengajar banyak hal di setiap tempat di dalam setiap gereja (1 Kor. 4:17b), dan gereja-gereja mengikuti pembicaraannya. Ini adalah demonstrasi wakil otoritas Paulus. Otoritas selalu mengikuti pembicaraan yang tepat. Pembicaraan seorang guru di satu sekolahan disertai otoritas. Ketika guru berbicara, semua murid ada di bawah otoritasnya.

Kepemimpinan di dalam ministri ada di dalam orang-orang yang memimpin yang menangani masalah-masalah dan urusan-urusan gereja (1 Kor. 1:10; 5:11-13; 11:34b). Paulus tegas dalam menanggulangi gereja di Korintus. Dalam 1 Korintus 4:21 dia berkata, “Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan lemah lembut.” Di dalam 11:34 dia berkata, “Hal-hal yang lain akan kuatur, kalau aku datang.”

Kepemimpinan di dalam ministri juga ada dalam orang-orang yang memimpin yang menghukum ketidak taatan kaum saleh. Dalam 2 Korintus 10:6 Paulus berkata, “Dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bilamana ketaatan kamu telah menjadi sempurna.” Paulus bakal menghukum semua ketidaktaatan ketika orang Korintus sendiri belajar taat.

Kepemimpinan di dalam ministri juga ada dalam mereka menunjuk dan menanggulangi para penatua (Kis. 14:23; Tit. 1:5; 1 Tim. 5:19-20). Satu Timotius 5:19-29 memperlihatkan kepada kita bahwa bukan saja para rasul memiliki otoritas untuk menunjuk para penatua, tetapi mereka juga memiliki otoritas untuk menghakimi mereka, termasuk otoritas untuk memecat mereka. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa para rasul adalah wakil otoritas Allah.

PEMERINTAHAN ALLAH DI DALAM ADMINISTRASI GEREJA-GEREJA

Bahkan di antara bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama, Allah memiliki satu pemerintahan agar administrasi-Nya menggenapkan tujuan-Nya. Allah juga memiliki pemerintahan-Nya di dalam administrasi gereja-gereja di dalam Perjanjian Baru.

Bukan Autokrasi atapun Demokrasi, tetapi Theokrasi

Bukan autokrasi atapun demokrasi, tetapi theokrasi. Autokrasi adalah kediktatoran, dan demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat. Pembicaraan secara umum, demokrasi adalah indah, tetapi untuk membawa demokrasi ke dalam gereja membawa opini-opini rakyat. Ini seperti gereja di Laodekia dalam Wahyu 3. Kata Laodekia dalam bahasa Yunani berarti “opini rakyat.” Dalam pemerintahan Amerika Serikat, orang-orang kongres dan para senator mewakili negara bagian untuk menyatakan opini rakyat. Pemerintahan Allah di dalam gereja bukan seperti ini. Pemerintahan di dalam gereja adalah theokrasi.

Pemerintahan Theokrat di antara Umat Israel

di dalam Perjanjian Lama

Pemerintahan theokrat di antara umat Israel di dalam Perjanjian Lama adalah melalui keimaman dengan Urim dan Tumim (Kel. 28:29-30; Bil. 27:15-23). Para imam di dalam keimaman sangat dekat kepada Allah, bahkan bersatu dengan Allah. Allah dapat membuka diri-Nya kepada mereka, dan mereka dapat membuka dirinya kepada Allah sehingga dapat ada saling memahami antara mereka dan Allah. Mereka memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menerima wahyu Allah, pembicaraan Allah, juru bicara Allah.

Imam besar mengenakan tutup dada dengan duabelas batu permata yang tercantum nama duabelas suku Israel. Dua butir ditambahkan ke tutup dada disebut Urum dan Tumim. Urim berarti terang, dan Tumim berarti kesempurnaan. Urim adalah sesuatu yang bercahaya pada batu tutup dada. Nama duabelas suku Israel pada duabelas batu berisi hanya delapanbelas dari dua puluh dua huruf alfabet Ibrani. Karena itu, ada kekurangan empat huruf Ibrani pada tutup dada. Tumim adalah sesuatu yang ditambahkan untuk tutup dada yang memuat empat huruf tambahan ini untuk melengkapi alfabet Ibrani pada tutup dada. Inilah kesempurnaan.

Ketika imam besar datang ke hadirat Allah, dia menerima pembicaraan Allah melalui makna cahaya Urim pada duabelas batu tutup dada dengan dua puluh dua huruf alfabet Ibrani, termasuk Tumim. Tutup dada seperti mesin ketik untuk membentuk kata-kata, frase-frase, dan kalimat-kalimat. Maka, Allah berbicara kepada bangsa Israel melalui imam besar dengan Urim dan Tumim. (Untuk lebih terperinci yang berhubungan dengan tutup dada dengan Urim dan Tumim, lihat berita-berita 123 sampai 129 dari Pelajaran Hayat Keluaran, hal. 1381-1434 [Ing.] ).

Pemerintahan theokrasi di antara umat Israel di dalam Perjanjian Lama juga melalui koordinasi para nabi (1 Sam. 3:1, 19:21). Para nabi menguatkan keimaman ketika keimaman tidak kuat. Inilah mengapa perlu ada para imam dan para nabi.

Pemerintahan Theokrat dalam Gereja-gereja di dalam Perjanjian Baru

Pemerintahan theokrat dalam gereja-gereja di dalam Perjanjian Baru melalui Roh yang tinggal di dalam roh para rasul dan penatua, yang adalah para imam Perjanjian Baru, dengan wahyu pengajaran Perjanjian Baru (Kis. 15:6, 23, 28; 2:42; 1 Tes. 5:12; 1 Tim. 3:2; 5:17). Urim dan Tumim pada tutup dada imam besar di dalam Perjanjian Lama melambangkan penyingkapan Roh, Roh Kudus, menghuni roh penerima kita, roh kelahiran kembali kita. Dua roh ini berbaur bersama yang adalah urim dan Tumim hari ini. Kapan kala para rasul dan penatua sebagai para imam Perjanjian Baru datang kepada Tuhan dan menanti Dia untuk administrasi-Nya di dalam gereja, mereka akan benar-benar menerima beberapa terang dan beberapa kata dari Tuhan. Melalui cara ini kita memiliki pembicaraan Allah dalam administrasi gereja untuk melaksanakan pemerintahan theokrasi-Nya.

Pemerintahan theokrasi ini juga melalui koordinasi para nabi Perjanjian Baru (Kis. 13:1). Di dalam satu gereja lokal harus selalu ada beberapa nabi untuk menguatkan perasaan batini kita. Ini adalah pemerintahan theokrasi Perjanjian Baru bagi administrasi Allah di dalam gereja untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya.

Sekarang perlu kita memperhatikan penerapan praktis dari persekutuan ini di dalam satu gereja lokal. Kapan kala para penatua satu gereja lokal datang kepada Tuhan, mereka datang sebagai para imam. Karena mereka memikul tanggung jawab kepenatuaan, mereka ingin mengenal bagaimana mengambil pimpinan, bagaimana mengajar, bagaimana menggembalakan, bagaimana menilik, dan bagaimana menjadi teladan. Karena itu, mereka harus berdoa bersama, menantikan Tuhan. Karena mereka berdoa dan bersekutu, Roh yang berhuni akan berbicara dan menerangi mereka secara batini. Di dalam roh kelahiran kembalinya, mereka akan menerima sesuatu dari Tuhan. Kemudian mereka akan menyadari bagaimana Tuhan menginginkan mereka untuk mengambil pimpinan, mengembalakan, menilik, dan menjadi teladan. Karena ini tidak dapat begitu memadai atau kuat, ada para nabi di dalam gereja-gereja. Pembicaraan para nabi menguatkan pemahaman para penatua akan kehendak Allah. Fungsi para penatua dan nabi di dalam cara ini merupakan sejenis pemerintahan bagi administrasi Allah di dalam gereja-Nya untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya.

Pemerintahan theokrasi Allah dalam gereja-gereja di Perjanjian Baru adalah menurut Roh pemberi hayat sebagai perampungan Allah Tritunggal yang menghuni orang-orang yang memimpin. Ketika orang-orang yang memimpin menghampiri Tuhan untuk mencari pimpinan-Nya, mereka menerima beberapa pemahaman batini. Kemudian para nabi bernubuat, apa yang mereka katakan menguatkan perasaan orang-orang yang memimpin. Hasil dari koordinasi ilahi para imam dan nabi Perjanjian Baru di dalam Tubuh Kristus ini adalah Allah memerintahkan berkat (Mzm. 133:3). Saya berharap bahwa semua dari kita sekarang dapat satu pandanagan yang jelas mengenai kepemimpinan Perjanjian Baru, termasuk kekepalaan Kristus, kepemimpinan di dalam kehidupan gereja, kepemimpinan di dalam ministri, dan pemerintahan Allah di dalam administrasi gereja-gereja.