MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (1)
Pembacaan Alkitab: Luk. 9:1—10:24
Menurut Injil Lukas, ministri Manusia-Penyelamat di bumi terbagi di atas dua bagian. Bagian yang pertama di-genapkan di Galilea (4:14—9:50). Bagian ini diakhiri dengan Tuhan mengungkapkan kematian-Nya untuk kali kedua dan dengan perkataan yang menyingkapkan kealamiahan murid-murid-Nya. Bagian yang kedua dari ministri Manusia-Penyelamat terjadi dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem (9:51—19:27). Bagian yang pertama dari ministri-Nya me-liputi dua puluh enam hal. Seperti yang akan kita lihat, ada tiga puluh tujuh hal yang diliput dalam bagian yang kedua. Perkara pertama dalam bagian ini adalah Manusia-Penyela-mat ditolak oleh orang-orang Samaria (9:51-56).
DITOLAK OLEH ORANG-ORANG SAMARIA
Lukas 9:51 mengatakan, ”Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.” Manusia-Penyelamat telah melayani selama lebih dari tiga tahun di Galilea, daerah yang hina, jauh dari Bait Suci dan kota kudus, tempat Dia harus mati untuk penggenapan rencana kekal Allah. Sebagai Anak Domba Allah (Yoh. 1:29), Tuhan perlu dipersembahkan ke-pada Allah di Gunung Moria, yang adalah Gunung Sion, tempat Abraham mempersembahkan Ishak dan menikmati seekor domba yang disediakan Allah sebagai pengganti anak laki-lakinya (Kej. 22:2, 9-14), dan tempat Bait dibangun di Yerusalem (2 Taw. 3:1). Di sanalah Dia akan diserahkan ke-pada para pemimpin orang Yahudi (Mrk. 9:31; 10:33), menurut rencana yang ditetapkan oleh Trinitas dalam ke-Allahan (Kis. 2:23), dan di sanalah Dia ditolak oleh mereka yang ada-lah tukang-tukang bangunan Allah (Kis. 4:11). Di sana juga Dia akan disalib menurut cara penghukuman orang Roma (Yoh. 18:31-32; 19:6, 14-15) untuk menggenapkan lambang tentang bagaimana caranya Dia akan mati (Bil. 21:8-9; Yoh. 3:14). Selanjutnya, ada satu tahun di mana Mesias (Kristus) akan disingkirkan (dibunuh) menurut nubuat Daniel (Dan. 9:24-26). Selain itu, sebagai Anak Domba Paskah (1 Kor. 5:7) Dia harus dibunuh pada bulan Paskah (Kel. 12:1-11). Maka, Dia harus pergi ke Yerusalem (Mrk. 10:33; 11:1, 11, 15, 27; Yoh. 12:12) sebelum Paskah itu (Yoh. 12:1; Mrk. 14:1), supaya Dia dapat mati di sana pada hari raya Paskah (Mrk. 14:12-17; Yoh. 18:28) pada tempat dan waktu yang telah di-tentukan oleh Allah sebelumnya.
Kita telah menunjukkan bahwa menurut Lukas 9:51, Tuhan ”mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.” Ayat 52-53 mengatakan, ”Dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusa-lem.” Di sini kita nampak bahwa Manusia-Penyelamat dito-lak oleh orang-orang Samaria.
Tidak ada jalan lain bagi Tuhan Yesus untuk pergi dari Galilea ke Yerusalem tanpa melalui Samaria. Orang-orang Samaria merupakan campuran dari orang bukan Yahudi de-ngan orang Yahudi. Orang Yahudi mutlak menolak mereka dan tidak mau menganggap mereka sebagai umat kudus. Orang-orang Samaria terluka oleh hal ini dan berpikiran buruk terhadap orang Yahudi. Tuhan mengetahui keadaan ini, tahu bahwa Dia dan orang-orang yang bersama-sama de-ngan-Nya akan sulit melalui Samaria. Lebih dari tujuh pu-luh orang lainnya berjalan bersama-sama dengan-Nya. Ini di-buktikan oleh fakta yang ada dalam 10:1, Dia ”menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya” (10:1).
Tuhan mengutus tujuh puluh orang, karena itu mung-kin sekali ada lebih banyak orang yang mengikuti Dia pada perjalanan melalui Samaria ke Yerusalem.
Dalam 9:52 Tuhan mengutus utusan-utusan menda-hului Dia. Utusan-utusan itu masuk ke dalam sebuah desa orang Samaria untuk mempersiapkan sesuatu bagi Tuhan. Namun orang-orang Samaria tidak mau menerima Dia. Karena Tuhan ditolak oleh orang-orang Samaria, maka tidak ada jalan bagi-Nya dan para pengikut-Nya untuk tinggal di desa itu. Mereka perlu pergi ke desa-desa lainnya.
Melihat orang-orang Samaria menolak Manusia-Penyelamat, ”Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka ber-kata, ’Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?’” (ay. 54). Beberapa naskah lain menambahkan ayat ini dengan kata-kata ”seperti yang dilakukan oleh Elia.” Tuhan berpaling kepada murid-murid itu dan menegur mereka. Tuhan seolah-olah berkata kepada mereka, ”Tidak tahukah kamu bahwa kita sedang mengumumkan yobel? Yobel bukanlah hal menurunkan api untuk membinasakan orang-orang. Kita bukan menyuruh api turun dari langit, sebaliknya kita sedang membawa damai sejahtera kepada orang lain.”
Dalam Markus 3:17 Tuhan memberi nama kepada Yohanes dan Yakobus ”Boanerges, yang berarti anak-anak guruh.” ”Boanerges” berasal dari bahasa Aram. Nama ini di-berikan kepada Yakobus dan Yohanes karena ketidaksabaran mereka. Ketidaksabaran mereka dalam Lukas 9:54 ini bertentangan dengan kebajikan dan moral Penyelamat yang me-reka dampingi.
Yohanes, salah satu dari anak guruh ini, juga mengucapkan perkataan yang tidak sabar dalam Lukas 9:49: ”Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Tindakan tidak sabar dari Yohanes ini juga bertentangan dengan kebajikan Manusia-Penyelamat. Sikap Yohanes ini seperti sikap Yosua dalam Bilangan 11:28.
Lukas 9:55 mengatakan, ”Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka.” Beberapa naskah kuno menambahkan dan mencantumkan: ”Kamu tidak tahu roh macam apakah yang kamu miliki.” Perkataan ini, yang memperlihatkan standar moralitas yang tertinggi dari Manusia-Penyelamat, hanya ditemukan dalam Injil Lukas.
Lukas 9:56 mengatakan, ”Lalu mereka pergi ke desa yang lain.” Beberapa naskah kuno menambahkan pada akhir ayat
56: ”Anak Manusia datang bukan untuk membinasakan jiwa manusia, melainkan menyelamatkannya.”
MENGAJARKAN ORANG BAGAIMANA
MENGIKUT DIA
Dalam 9:57-62 Manusia-Penyelamat mengajarkan orang bagaimana mengikut Dia. Ayat 57 mengatakan, ”Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mere-ka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, ’Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.’” Tuhan Yesus berkata kepadanya, ”Rubah mempunyai liang dan bu-rung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mem-punyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Orang yang dalam ayat 57 adalah ahli Taurat (Mat. 8:19), yang biasa hi-dup dengan nyaman. Dia melihat orang banyak tertarik kepada Penyelamat (Mat. 8:18), lalu ingin mengikut-Nya karena rasa ingin tahu, tanpa memperhitungkan harganya. Karena itu, Manusia-Penyelamat memperingatkan dia de-ngan menunjukkan bahwa meskipun orang banyak tertarik kepada-Nya, namun Dia tidak memiliki tempat untuk mele-takkan kepala-Nya. Ini menunjukkan kepada ahli Taurat itu bahwa untuk mengikut Tuhan, ia harus mengalami banyak penderitaan.
Dalam 9:58 Tuhan menunjukkan secara khusus bahwa Dia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Di sini kita nampak bahwa kehidupan insani Penyelamat adalah satu kehidupan penderitaan. Saat kelahiran-Nya, tidak ada tempat di dalam penginapan bagi-Nya untuk berbaring (2:7). Dalam ministri-Nya yang menakjubkan, juga tidak ada tempat bagi-Nya untuk beristirahat. Karena itu, penderitaan adalah satu tanda dari kehidupan insani-Nya (2:12).
Dalam 9:57-58 kita nampak bahwa ada orang yang ingin mengikut Tuhan Yesus hanya karena rasa ingin tahu, tanpa mengenal harga yang harus ia keluarkan untuk mengikut Dia. Ahli Taurat dalam ayat 57 tentu tidak tahu harga apa yang harus ia keluarkan untuk mengikut Tuhan. Maka, Penyelamat mengingatkan orang itu bahwa mengikut Dia akan membuatnya mengalami banyak penderitaan.
Dalam 9:59 Manusia-Penyelamat berkata kepada se-orang yang lain, ”Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: ”Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapak-ku.” Orang ini dipanggil oleh Penyelamat untuk mengikut-Nya, tetapi ia memikirkan tanggung jawabnya kepada ayahnya yang telah meninggal dan tidak ingin mengikut Dia dengan segera. Karena itu, Penyelamat mendorongnya untuk membayar harga supaya dia dapat menjadi seorang pengikut dalam amanat-Nya yang agung untuk memberitakan Keraja-an Allah (ay. 60).
Jawaban dari orang yang meminta izin untuk pergi dan menguburkan bapaknya dahulu itu menunjukkan bahwa ia telah berlebihan dalam mempertimbangkan harga yang harus ia keluarkan untuk mengikut Manusia-Penyelamat. Karena itu, Tuhan menjawabnya dengan cara mendorongnya untuk mengikut Dia dan mengesampingkan pertimbanganpertimbangannya akan harga serta menyerahkan hal penguburan bapaknya kepada orang lain.
Dalam 9:60 Tuhan selanjutnya berkata kepada orang yang disebut dalam ayat sebelumnya, ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan berita-kanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Firman ini menun-jukkan bahwa orang yang menguburkan adalah orang yang mati secara rohani (Yoh. 5:25; Ef. 2:1) dan orang yang akan dikuburkan adalah orang yang mati secara jasmani. Me-libatkan diri dengan penguburan yang demikian adalah melakukan pekerjaan yang mati. Namun, memberitakan Kerajaan Allah adalah perbuatan yang hidup, perbuatan yang menghidupkan orang mati supaya mereka dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Lukas 9:61 mengatakan, ”Lalu seorang yang lain lagi berkata, ’Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.’” Bahasa Yunani yang diterjemahkan “pamitan” juga dapat diterjemahkan ”permisi”. Dalam ayat 62 Tuhan berkata kepada orang ini, ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Orang yang ketiga rela mengikut Penyelamat, tetapi ia akan melaku-kannya setelah pamitan kepada keluarganya. Karena itu, Manusia-Penyelamat mengingatkan dia untuk tidak mem-biarkan apa pun menahannya dari Kerajaan Allah.
Dalam ayat 62 Tuhan mengatakan tentang siap membajak dan tidak menoleh ke belakang. Dalam membajak, seseorang perlu memusatkan seluruh perhatiannya pada jalur yang dibajak. Jangankan menoleh ke belakang, sedikit saja menyimpang dapat membuat jalur bajakan itu tidak lurus. Untuk mengikut Penyelamat, kita harus melupakan segala sesuatu dan maju terus bagi Kerajaan Allah.
Mengapa Lukas memasukkan catatan tiga kasus tentang mengikut Tuhan Yesus dalam 9:57-62? Alasannya adalah Tuhan telah ditolak oleh orang-orang Samaria. Meskipun orang-orang Samaria telah menolak Manusia-Penyelamat, tetapi ada orang-orang tertentu yang masih mau mengikut Dia. Karena itu, pada saat ini Tuhan menanggulangi tiga macam kasus yang berbeda dari orang-orang yang mau mengikut Dia.
Kita dapat mengatakan bahwa seluruh dunia hari ini seperti daerah Samaria, orang-orang dunia sepenuhnya me-nolak Manusia-Penyelamat. Meskipun demikian, di tengah-tengah penolakan dunia terhadap Tuhan ini, ada beberapa orang yang mau mengikut Dia. Dalam kasus yang pertama, yang dikisahkan dalam 9:57-58, kita nampak bahwa hal mengikut Tuhan ini bukanlah satu hal yang mudah. Sebaliknya, jika kita ingin mengikut Dia, kita harus siap mem-bayar harga. Dalam kasus yang kedua, yang digambarkan dalam 9:59-60, kita nampak bahwa untuk mengikut Tuhan perlu mengorbankan bapa kita yang telah mati, supaya kita dapat mengumumkan Kerajaan Allah, yaitu mengumumkan yobel. Kemudian dalam kasus yang terakhir, yang tercantum dalam 9:61-62, kita menyadari bahwa kita tidak dapat me-noleh ke belakang atau ditahan oleh apa pun jika kita ingin mengikut Tuhan. Mengikut Dia menuntut kita maju ke depan.
MENUNJUK TUJUH PULUH MURID
UNTUK MENYEBARKAN MINISTRI-NYA
Dalam 10:1-24 kita nampak Tuhan menunjuk tujuh puluh murid untuk menyebarkan ministri-Nya. Tiga kasus dalam 9:57-62 sebenarnya adalah satu persiapan untuk hal ini. Setelah persiapan ini, Tuhan menunjuk tujuh puluh murid untuk menyebarkan yobel.
Kita telah melihat bahwa dalam 9:1-9 Tuhan menye-barkan ministri-Nya melalui kedua belas rasul. Itu di Gali-lea. Tetapi sekarang, pada perjalanan dari Galilea ke Yerusalem melalui Samaria, keperluannya jauh lebih besar. Karena itu, Tuhan menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus me-reka untuk menyebarkan yobel. Mengenai hal ini, 10:1 mengatakan, ”Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikun-jungi-Nya.” Penyelamat menunjuk tujuh puluh murid untuk bersama memikul ministri-Nya, seperti Musa menunjuk tu-juh puluh tua-tua untuk bersama memikul tanggung jawab sebagaimana Allah memerintahkannya (Bil. 11:16-17; Kel. 24:1, 9). Fakta bahwa Dia mengutus mereka berdua-dua itu menunjukkan bahwa mereka diutus sebagai saksi-saksi (Ul. 17:6; 19:15; Mat. 18:16).
Lukas 10:2, mengatakan ”Kata-Nya kepada mereka, ’Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.’” Dalam ekonomi-Nya Allah memiliki satu rencana untuk digenapkan. Tetapi rencana ini masih memerlukan umat-Nya untuk memohonnya, yaitu mendoakannya. Dalam menjawab doa mereka, Tuhan akan menggenapkan apa yang mereka doakan mengenai rencana-Nya. Khususnya, di sini Tuhan menyuruh murid-murid untuk memohon kepada Tuan pemilik tuaian. Kata ”tuaian” menunjukkan bahwa Kerajaan Allah didirikan dengan hal-hal yang berasal dari hayat yang dapat bertum-buh dan berkembang-biak. Selanjutnya, sebutan ”Tuan pemiliki tuaian” menunjukkan bahwa Tuhan adalah Dia yang memiliki tuaian itu.
Cara Tuhan mengutus ketujuh puluh murid dalam 10:1-24 ini sangat mirip dengan cara Dia mengutus dua belas orang dalam 9:1-9. Tuhan menganggap waktu pengutusan ini sebagai waktu yobel, dan dalam yobel ini tidak ada seorang pun yang kekurangan sesuatu. Inilah sebabnya Tuhan menyuruh ketujuh puluh murid itu untuk tidak membawa apa-apa bagi keperluan mereka. Sebaliknya, mereka harus tinggal di tempat mereka diterima dan makan apa saja yang disediakan di hadapan mereka (ay. 7-8).
Dalam 10:5-6 terdapat satu firman yang penting menge-nai damai sejahtera: ”Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.” Dalam ayat-ayat ini kata ”damai sejahtera” itu penting. Tuhan bahkan memakai ungkapan “anak-anak damai” (orang yang layak menerima damai sejahtera). Hal yang utama dalam yobel adalah damai sejahtera. Kita harus memberi salam kepada orang lain dalam damai sejahtera, dan mereka seharusnya memberi salam kepada kita dengan damai sejahtera. Jika orang yang kita salami adalah anak damai, maka damai sejahtera kita itu akan tetap tinggal bersamanya. Tetapi jika ia bukan seorang anak damai, maka damai sejahtera itu akan kembali kepada kita.
Dalam 10:10-16 kita nampak keseriusan dalam hal menolak orang-orang yang diutus oleh Manusia-Penyelamat. Mengenai kota yang menolak orang-orang yang diutus oleh Tuhan, Dia berkata, ”Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” Ini menunjukkan bahwa penghukuman penghakiman Allah bermacam-macam tingkatannya. Menolak orang-orang yang diutus Tuhan akan mendatangkan lebih banyak penghukuman daripada dosa kota Sodom.