MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (12)
Pembacaan Alkitab: Luk. 9:27-50
PERLUNYA TRANSFIGURASI (BERUBAH RUPA)
Dalam berita ini kita sampai pada 9:27-50. Bagian dari Injil Lukas ini juga berhubungan dengan yobel. Di sini kita nampak bahwa Tuhan Yesus perlu ditransfigurasi. Menurut seluruh wahyu Perjanjian Baru, kita memerlukan transfigurasi untuk menikmati yobel ini.
Kata Yunani yang diterjemahkan ”ditransfigurasi” dalam Matius 17:2 dan Markus 9:2 sama dengan kata yang diterjemahkan ”berubah” dalam Roma 12:2, atau ”diubah” dalam 2 Korintus 3:18. Kata Yunani yang sama juga dipakai dalam Filipi 3:21. Yang penting di sini adalah untuk menik-mati yobel kita memerlukan transfigurasi, transformasi, pengubahan.
Manusia-Penyelamat dalam daging memerlukan transfigurasi karena Dia berada dalam rupa daging dosa, rupa daging manusia yang telah jatuh (Rm. 8:3). Seperti ular tembaga di atas tiang yang memiliki bentuk seekor ular tetapi tidak memiliki sifat racun ular (Bil. 21:8-9), demikian juga Tuhan Yesus dalam daging memiliki rupa daging dosa tetapi tidak memiliki sifat daging dosa (Yoh. 3:14). Ketika Dia menjadi daging, Dia mengambil bentuk manusia lama. Manusia telah jatuh ketika Tuhan Yesus menjadi daging. Lama setelah kejatuhan manusia, Dia menjadi daging, datang dalam rupa daging dosa. Yohanes 1:1 dan 14 menunjukkan bahwa Firman itu, yang adalah Allah, menjadi daging. Perkataan Paulus dalam 1 Timotius 3:16 juga adalah perihal Allah termanifestasi dalam daging. Karena Tuhan Yesus, Allah yang berinkarnasi, masuk dalam daging, maka Dia memerlukan transfigurasi.
KEBANGKITAN, TRANSFIGURASI,
DAN PENERAPAN PENUH YOBEL
Zaman Perjanjian Baru adalah zaman yobel. Namun, ini bukanlah waktu penerapan penuh yobel. Penerapan penuh yobel ini meliputi transfigurasi. Tahukah Anda kapan Penye-lamat ditransfigurasi sepenuhnya? Dia ditransfigurasi sepenuhnya dalam kebangkitan-Nya. Pada transfigurasi Tuhan di atas gunung itu skalanya kecil. Tetapi ketika Tuhan di-bangkitkan dari antara orang mati, Dia ditransfigurasi se-penuhnya. Dia sekarang tetap berada dalam tahap trans-figurasi ini. Menurut Filipi 3:21, ketika Dia datang kembali, kita semua akan ditransfigurasi.
Transformasi atau transfigurasi kita sekarang sedang terjadi di dalam jiwa kita. Roh kita telah dilahirkan kembali, dan jiwa kita sedang ditransformasi. Orang beriman yang dewasa adalah orang yang sepenuhnya ditransformasi di dalam jiwanya, yaitu ditransformasi dalam pikiran, tekad, dan emosinya. Orang beriman yang demikian hanya perlu di-transfigurasi tubuh jasmaninya pada kedatangan Penyelamat yang telah ditransfigurasi. Transfigurasi tubuh ini oleh Paulus disebut penebusan tubuh dalam Roma 8:23. Pene-busan tubuh juga adalah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Perkataan Paulus dalam Roma 8 menunjukkan bahwa meskipun kita berada dalam yobel hari ini, namun kita tidak berada dalam yobel sepenuhnya. Ketika tubuh kita ditebus sepenuhnya, ditransfigurasi dan ditransformasi sepenuhnya, kita akan dibawa masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah, dan itu akan menjadi yobel yang penuh.
PRINSIP DASAR
Di sini kita perlu nampak satu prinsip dasar: Bila kita berada dalam manusia lama kita, kita tidak akan dapat berbagian dalam yobel. Sekalipun kita berada dalam tahun yobel, tahun rahmat Tuhan, yang sebenarnya adalah zaman Perjanjian Baru, tetapi jika kita tetap tinggal dalam ciptaan lama, kita tidak akan memiliki bagian dalam kenikmatan terhadap yobel. Inilah sebabnya situasi di antara orang-orang Kristen pada hari ini kasihan sekali. Banyak orang beriman yang hanya mengenal bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni, tetapi mereka tidak mengenal bahwa roh mereka telah dilahirkan kembali. Namun, orang yang telah diampuni tetapi tidak mengenal bahwa dirinya telah di-lahirkan kembali, ia masih tetap tinggal dalam ciptaan lama dan tidak dapat berbagian dalam kenikmatan yobel.
TRANSFORMASI UNTUK MENIKMATI YOBEL
Agar kita dapat menikmati yobel, roh kita harus dilahirkan kembali. Allah telah melahirkan kembali roh kita se-bagai permulaan dari partisipasi kita dalam kenikmatan ter-hadap yobel. Ini berarti kita mulai masuk ke dalam kenik-matan terhadap yobel ketika roh kita dilahirkan kembali. Bila kita berseru kepada nama Tuhan untuk keselamatan dan mengalami pengampunan dosa, maka roh kita dilahirkan kembali. Sekalipun kita tidak memiliki pengenalan akan apa yang telah terjadi, tetapi di dalam kita ada sukacita. Sukacita di dalam kita adalah satu tanda permulaan partisipasi kita dalam kenikmatan terhadap yobel. Satu pertobatan dan pengalaman keselamatan yang tepat itu selalu mendatangkan kenikmatan yang demikian.
Banyak orang beriman, setelah mereka dilahirkan kem-bali, menyimpang dengan memperhatikan doktrin dalam pikiran saja. Akibatnya, mereka kehilangan kenikmatan terhadap yobel. Namun, dalam pemulihan Tuhan kita telah dibawa kembali dari teologi dan dari pemahaman yang dok-trinal dalam pikiran kepada roh kita yang telah dilahirkan kembali. Semakin Tuhan menyebar dari roh kita ke dalam jiwa kita, menjenuhi pikiran, tekad, dan emosi kita, sema-kin kita berbagian dalam kenikmatan terhadap yobel. Sewaktu kita mengalami 2 Korintus 3:18 dan Roma 12:2, yaitu sewaktu kita ditransformasi dalam jiwa kita, maka kita me-nikmati yobel.
Sudahkah Anda nampak apakah yobel? Yobel adalah satu kebebasan dari belenggu dan masuk ke dalam kenik-matan terhadap Allah Tritunggal. Kita mulai mengalami yobel ketika kita dilahirkan kembali. Melalui kelahiran kembali kita dibebaskan dari belenggu dan masuk ke dalam kenikmatan terhadap Allah Tritunggal. Tetapi segera setelah kita dilahirkan kembali, banyak dari antara kita yang telah disimpangkan oleh guru-guru yang buta sehingga kita ke-hilangan kenikmatan yobel. Sekarang dalam pemulihan Tuhan, kita telah kembali ke dalam roh kita yang telah di-lahirkan kembali, dan kita mulai mengalami transformasi di dalam jiwa kita.
Menurut perkataan Paulus dalam 2 Korintus 3:18, kita ditransformasi ke dalam gambar yang sama, yaitu gambar Tuhan, dari satu tingkat kemuliaan kepada kemuliaan lainnya. Sewaktu kita mengalami transformasi dari satu ting-kat kemuliaan kepada tingkat kemuliaan lainnya, kita gembira karena sewaktu kita maju, kita semakin berbagian dalam pembebasan dari belenggu itu dan semakin masuk se-penuhnya ke dalam kenikmatan Allah Tritunggal. Inilah transformasi untuk kenikmatan terhadap yobel. Transformasi ini digambarkan oleh transfigurasi Tuhan Yesus di atas Gunung Hermon.
Dalam 9:23-24 Tuhan berkata, ”Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” Memikul salib kita untuk meng-ikut Tuhan dan menyangkal hayat jiwa kita adalah menyatukan diri kita dengan kematian-Nya. Kematian Tuhan menyalibkan hayat alamiah dan menyalibkan ciptaan lama supaya kita dapat masuk ke dalam ciptaan baru, ke dalam suatu keadaan yang ditransfigurasi. Di sini, dalam tahap transfigurasi, kita berbagian dalam kenikmatan terhadap yobel. Karena itu, untuk kenikmatan terhadap yobel perlu ada transfigurasi.
TRANSFIGURASI DAN KERAJAAN ALLAH
Setelah berbicara kepada murid-murid-Nya tentang disatukan dengan kematian-Nya, Tuhan selanjutnya ber-kata, ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah” (9:27). Ini digenapkan oleh transfi-gurasi Tuhan di atas gunung. Ini berarti bahwa transfigu-rasi-Nya adalah kedatangan Kerajaan Allah.
Lukas 9:28-29 mengatakan, ”Kira-kira delapan hari sesudah menyampaikan semua pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.” Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”putih berkilau-kilauan” itu berarti bersinar seperti kilat. Tidak seperti Matius 17 dan Markus 9, ayat-ayat ini tidak memakai kata ”transfigurasi”. Meskipun demikian, dalam ayat-ayat ini kita sungguh dapat nampak transfigurasi Tuhan. Transfigurasi-Nya adalah kedatangan, penampakan Kerajaan Allah.
Kita telah menekankan fakta bahwa Kerajaan Allah adalah Penyelamat (17:21) sebagai benih hayat, yang dita-burkan ke dalam kaum beriman-Nya, umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang ke dalam suatu alam tempat Allah memerintah sebagai kerajaan-Nya di dalam hayat ilahi. Transfigurasi Manusia-Penyelamat sebenarnya adalah penampakan kerajaan ini. Ketika Petrus, Yohanes, dan Yakobus berada di dalam atmosfir transfigurasi Tuhan, me-reka ada di dalam Kerajaan Allah. Inilah sebabnya Petrus berkata kepada Tuhan, ”Guru, alangkah baiknya kita berada di tempat ini” (Luk. 9:33). Pada saat itu, Petrus, Yohanes, dan Yakobus sesungguhnya berbagian dalam kenikmatan terhadap yobel. Mereka dibebaskan dan berada di dalam ke-nikmatan terhadap Allah Tritunggal.
NAMPAK TRANSFIGURASI BERHUBUNGAN DENGAN YOBEL
Tidak banyak orang Kristen yang nampak bahwa transfigurasi Tuhan Yesus adalah penampakan Kerajaan Allah dan juga adalah yobel. Kita sangat perlu nampak hal ini.
Tuhan Yesus Kristus sekarang hidup di dalam kita. Kita dapat mengatakan bahwa Dia yang telah berinkarnasi, sekarang ada di dalam kita. Karena itu, sebagai Dia yang hidup di dalam kita, Dia sekali lagi berada dalam daging, di dalam daging kita. Kita semua adalah daging yang di dalam-nya Tuhan Yesus hidup. Karena itu, perlu ada transfigurasi lainnya.
Kebanyakan orang Kristen memiliki sedikit pengenalan tentang transfigurasi Tuhan, namun pengenalan mereka hanya secara doktrinal. Jika kita memiliki pandangan menyeluruh terhadap seluruh Injil Lukas dan memandang-nya menurut prinsip yobel yang dinyatakan dalam pasal 4, kita akan nampak bahwa transfigurasi dalam pasal 9 ini berhubungan dengan yobel.
Siapakah yang memiliki kenikmatan yang penuh terhadap yobel dalam 9:27-36? Hanya tiga orang murid yang memiliki kenikmatan yang penuh ini — Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Namun, meskipun tiga orang tersebut ber-bagian dalam yobel dan menikmatinya, mereka masih sa-ngat alamiah. Tuhan Yesus ditransfigurasi, tetapi Petrus, Yohanes, dan Yakobus tidak ditransfigurasi. Jadi, meskipun mereka berada dalam yobel, mereka sebenarnya tidak menge-nal apa-apa tentang yobel, karena mereka belum ditrans-figurasi.
Kita perlu terkesan bahwa transfigurasi Manusia-Penyelamat berhubungan dengan yobel dan juga berhubung-an dengan manifestasi Kerajaan Allah. Karena Petrus, Yoha-nes, dan Yakobus belum ditransformasi, maka mereka dapat berbagian dalam yobel tanpa memiliki realisasi yang tepat tentang yobel. Ketiga murid itu masih berada di dalam cip-taan lama, masih berada di dalam hayat alamiah.
TUHAN MENGUSIR ROH JAHAT KELUAR
DARI ANAK SEORANG MANUSIA
Sewaktu transfigurasi ini terjadi di puncak gunung, murid-murid sedang berusaha mengusir roh jahat di lembah. Meskipun mereka melakukan apa yang dapat mereka laku-kan untuk mengusir roh jahat, mereka tidak dapat meng-usirnya. Hanya tiga orang murid — Petrus, Yohanes, dan Yakobus, yang berada di atas gunung bersama Tuhan untuk berbagian dalam yobel. Murid-murid lainnya tetap tinggal di lembah. Inilah situasi yang dihadapi oleh Penyelamat ketika Dia turun dari puncak gunung itu.
Lukas 9:37 mengatakan bahwa ketika Tuhan dan ketiga murid itu turun dari gunung itu, orang banyak menemui-Nya. Kemudian, ”Seorang dari orang banyak itu berseru, ’Guru, aku memohon supaya Engkau menengok anakku, sebab ia satu-satunya anakku. Sewaktu-waktu ia diserang roh, lalu mendadak ia berteriak dan roh itu mengguncang-guncangkannya sehingga mulutnya berbusa. Roh itu terus saja menyiksa dia dan hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. Aku telah meminta kepada murid-murid-Mu supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat’” (ay. 38-40). Di sini kita nampak bahwa murid-murid tidak memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat itu; bukan hanya sembilan murid yang tinggal di lembah itu, tetapi juga Petrus, Yohanes, dan Yakobus yang ada bersama-sama dengan Tuhan di puncak gunung itu. Fakta bahwa Yohanes dan Yakobus memulai berdebat mengenai siapa yang terbesar menunjukkan bahwa mereka sendiri diduduki oleh Iblis dan karena itu mereka tidak dapat mengusir roh jahat itu.
Yobel ada bersama dengan Tuhan Yesus. Namun, karena murid-murid itu masih berada dalam ciptaan lama, masih berada dalam hayat alamiah, mereka tidak dapat ber-bagian dalam yobel. Ini menunjukkan bahwa selama kita tetap berada dalam hayat alamiah dan hidup dalam ciptaan lama, kita tidak dapat berbagian dalam yobel. Yobel tidak berhubungan dengan hayat alamiah.
Menurut 9:41 Tuhan Yesus berkata, ”Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!” Kemudian Dia menghardik roh najis itu, menyembuhkan anak laki-laki itu, dan memberi-kannya kembali kepada ayahnya (ay. 42). Mengenai hal ini, ayat 43 mengatakan, ”Lalu takjublah semua orang itu pada kebesaran Allah.”
PENGUNGKAPAN KALI KEDUA KEMATIAN
DAN KEBANGKITAN-NYA
”Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ’Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’” (ay. 43b-44). Di sini Tuhan mengungkapkan kematian-Nya untuk kali kedua. Namun, murid-murid, ”tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, se-hingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun, mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya” (ay. 45). Segera setelah peristiwa itu, kita diberi tahu bahwa ”timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka” (ay. 46). Ini sung-guh menunjukkan bahwa murid-murid tidak tahu di mana mereka berada. Mereka pasti tidak ada di dalam yobel, ka-rena mereka masih sangat alamiah.
Tuhan Yesus telah menunjukkan bahwa Dia akan mati. Dia juga menunjukkan bahwa murid-murid perlu mati bersama-Nya. Di sini Tuhan seolah-olah berkata, ”Aku harus mati untuk menggenapkan yobel, dan kamu perlu mati un-tuk berbagian dalam yobel. Tanpa kematian-Ku tidak akan ada yobel, dan tanpa kematianmu bersama-Ku, kamu tidak dapat berbagian dalam yobel.”
MURID-MURID TIDAK DAPAT MENDENGAR PERKATAAN TUHAN
Meskipun Tuhan menyuruh murid-murid ”mendengarkan dan memperhatikan” perkataan Tuhan, namun mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendengar apa yang sedang dikatakan-Nya. Mereka tidak dapat memahami fir-man-Nya; mereka tidak dapat menerimanya. Ketidakmam-puan mereka untuk memahami apa yang sedang Tuhan katakan ditunjukkan oleh fakta bahwa mereka berselisih antar mereka sendiri mengenai siapakah di antara mereka yang terbesar (ay. 46).
Lukas 9:47-48 mengatakan, ”Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka, ’Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan siapa saja yang menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.’” Selesai Tuhan mengatakan perkataan ini, Yohanes menjawab dan berkata, ”Guru, kami lihat seseorang mengusir setan de-mi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita” (ay. 49). Perkataan Yohanes menunjukkan bahwa murid-murid itu tidak dapat menerima perkataan Tuhan. Kita dapat mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengapresiasi ”musik” yang sedang dimainkan-Nya. Alasan mereka tidak dapat menerima perkataan Tuhan ialah mereka masih alamiah dan masih ada dalam ciptaan lama. Bagi mereka tidak ada yobel. Mereka belum layak untuk ber-bagian dalam kenikmatan terhadap yobel.
Yobel hanya dapat dilaksanakan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Selanjutnya, hanya melalui kita bersatu dengan Kristus dalam kematian-Nya kita dapat berbagi-an dalam kenikmatan terhadap yobel. Untuk yobel dan pengalaman terhadap yobel, Tuhan perlu mati dan kita perlu mati bersama Dia. Dia mati bagi penggenapan yobel, dan kita mati bersama Dia untuk berbagian dalam kenikmatan terhadap yobel.
Dalam membaca Injil Lukas, kita perlu memiliki pandangan bahwa yobel yang diumumkan dalam pasal 4 adalah kunci untuk menafsirkan seluruh kitab ini. Dulu saya nampak perihal yobel dalam Injil ini; namun, saya tidak nampak bahwa yobel dalam pasal 4 adalah kunci untuk menafsirkan pasal-pasal berikutnya.
MATI BERSAMA KRISTUS UNTUK BERBAGIAN
DALAM KENIKMATAN TERHADAP YOBEL
Dalam 9:50, ministri Tuhan di Galilea telah selesai. Seperti yang akan kita lihat, mulai 9:51, Dia meninggalkan Galilea dan pergi ke Yerusalem. Apakah Anda mengira, ketika Tuhan menyelesaikan bagian ministri-Nya di Galilea, Petrus, Yakobus, Yohanes, dan murid-murid lainnya berada dalam kenikmatan terhadap yobel? Mereka sama sekali tidak berada dalam kenikmatan ini. Mereka tidak dapat mema-hami firman Tuhan mengenai kematian-Nya. Tuhan perlu pergi bersama mereka ke Yerusalem di mana Dia akan mati untuk menggenapkan yobel dan di mana murid-murid akan mati bersama-Nya untuk berbagian dalam kenikmatan ter-hadap yobel.
Dalam pasal 9 kita telah nampak bahwa meskipun murid-murid berada dalam yobel, namun mereka tidak ber-bagian dalam kenikmatan terhadap yobel. Sebenarnya, yobel belum digenapkan, karena yobel hanya dapat digenapkan oleh kematian Kristus dan dalam kebangkitan-Nya. Karena itu, akhirnya Tuhan memutuskan untuk pergi dari Galilea ke Yerusalem bersama murid-murid-Nya. Dia pergi ke Yerusalem untuk mati, tetapi Dia bukan pergi ke sana untuk mati seorang diri, melainkan membawa murid-murid-Nya bersama dengan-Nya supaya mereka sadar bahwa Dia perlu mati untuk penggenapan yobel dan mereka juga perlu mati untuk berbagian dalam kenikmatan terhadap yobel.