MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (11)
Pembacaan Alkitab: Luk. 9:1-26
GAMBARAN TENTANG YOBEL
Kita telah nampak bahwa Tuhan Yesus memulai ministri-Nya dalam pasal 4 dengan mengumumkan tahun rahmat (yobel) Tuhan. Setelah membuat pengumuman itu, Dia me-manggil orang-orang tertentu untuk menjadi murid-murid-Nya, dan dari orang-orang ini Dia memilih dua belas orang untuk menjadi rasul-rasul-Nya. Kemudian dalam 9:1-6 Tuhan mengutus dua belas rasul untuk menyebarkan yobel. Dalam bagian Injil Lukas ini kita nampak penyebaran ministri Manusia-Penyelamat melalui kedua belas rasul.
Rasul-rasul pergi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Memberitakan Kerajaan Allah adalah memberitakan yobel. Memberi makan lima ribu orang dalam 9:10-17 juga berhubungan dengan yobel. Catatan Lukas di sini menunjukkan bahwa dalam yobel tidak ada kekurangan, tidak ada ketekoran. Dalam yobel setiap orang dipuaskan.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa Lukas menulis Injilnya dari sudut pandang yobel. Ministri Manusia-Penyelamat dimulai dari pasal 4 dengan mengumumkan yobel. Kita perlu mengingat hal ini sewaktu kita membaca pasal-pasal selanjutnya dalam Injil Lukas. Namun, ketika pembaca-pembaca Injil ini sampai ke pasal 9, mereka mungkin melupakan yobel yang telah diberitakan dalam pasal 4. Kita tidak boleh membuat kesalahan ini, melainkan harus tetap mengingatnya sewaktu kita membaca pasal 5 sampai pasal 24. Konsep yobel yang diumumkan dalam pasal 4 mengendalikan semua pasal selanjutnya. Karena itu, kita harus memikirkan apa yag tercatat dalam pasal-pasal ini sebagai bagian dari yobel yang diumumkan dalam Lukas 4.
Jika kita memiliki pandangan ini sewaktu membaca 9:10-17, akan timbul keinginan untuk melihat bagaimana Manusia-Penyelamat menangani situasi orang banyak yang kelaparan itu. Dalam ayat 14 kita nampak bahwa “ada kira-kira lima ribu orang laki-laki.” Jika perempuan dan anak-anak ditambahkan, maka jumlahnya bisa melampaui se-puluh ribu orang. Seandainya Tuhan membubarkan orang banyak itu tanpa memberi mereka makan, membiarkan me-reka tetap kelaparan, maka dalam kasus itu tidak akan ada yobel. Beberapa orang mungkin mengeluh dan berkata, “Aku ada di sini sepanjang hari, dan sekarang aku lapar. Mengapa kami dibubarkan? Ke mana kami harus pergi, dan bagai-mana mencari makanan?” Jika itu yang terjadi, maka akan ada kelaparan, bukan yobel. Tetapi karena Tuhan memberi makan orang banyak itu, maka ada penerapan yobel yang sesungguhnya. Setiap orang dipuaskan, dan bahkan ada sisa yang berlimpah.
Dalam 9:12 rasul-rasul berkata kepada Tuhan, ”Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tem-pat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil.” Tetapi Tuhan berkata kepada mereka,”Kamu harus memberi mereka makan!” (ay. 13). Murid-murid meminta Tuhan agar menyuruh orang banyak itu pergi supaya mereka mencari makanan untuk mereka sendiri, tetapi Tuhan menyuruh murid-murid memberi orang banyak itu makan. Konsep mereka adalah meminta orang-orang untuk melakukan sesuatu; itu adalah prinsip hukum Taurat. Tetapi konsep Tuhan adalah memberi orang-orang sesuatu untuk dinikmati; inilah prinsip kasih karunia.
Ketika Tuhan menyuruh murid-murid-Nya untuk mem-beri makan orang banyak itu, mereka menjawab, ”Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini” (ay. 13). Yohanes 6:9 memberi tahu kita bahwa lima roti di sini adalah roti jelai. Dalam perlambangan, roti jelai melambangkan Kristus yang bangkit (Im. 23:10). Jadi, roti jelai melambangkan Kristus di dalam kebangkitan men-jadi makanan kita. Roti berasal dari hayat nabati, melam-bangkan aspek regenerasi hayat Kristus; sedangkan ikan berasal dari hayat hewan, melambangkan aspek penebusan hayat Kristus. Untuk memuaskan kelaparan rohani kita, kita perlu hayat penebusan Kristus, juga perlu hayat rege-nerasi Kristus. Dua aspek hayat-Nya ini dilambangkan de-ngan hal-hal yang kecil — roti dan ikan. Ini melambangkan bahwa Manusia-Penyelamat datang untuk menjadi potongan-potongan makanan yang kecil untuk memberi makan para pengikut-Nya.
Lukas 9:16 berkata, ”Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak.” Roti itu berasal dari murid-murid, yang membawanya kepada Tuhan. Setelah diberkati dan dipecah-pecahkan oleh Tuhan, potongan-potongan roti itu diberikan kembali kepada murid-murid untuk dibagikan kepada orang banyak, untuk menjadi kepuasan mereka. Ini menunjukkan bahwa murid-murid itu bukanlah sumber berkat; mereka hanyalah salur-an yang dipakai oleh Tuhan, Sang sumber kepuasan ma-nusia.
Lukas 9:17 berkata, ”Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul.” Ini bukan hanya me-mamerkan kuat kuasa keilahian Manusia-Penyelamat se-bagai Pencipta, sebagai Dia yang menjadikan segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17), tetapi juga melam-bangkan suplai yang limpah lengkap dan yang tidak dapat habis dari hayat ilahi-Nya (Ef. 3:8; Flp. 1:19). Selanjutnya, dua belas bakul yang penuh dengan potongan-potongan itu menunjukkan bahwa Kristus yang bangkit itu tidak terbatas dan tidak dapat habis, dan juga bahwa persediaan Tuhan bagi kita itu limpah lengkap, lebih dari cukup untuk meme-nuhi semua keperluan kita.
Ministri Manusia-Penyelamat adalah ministri yobel. Melalui kedua belas rasul Dia mulai menyebarkan ministri yobel ini. Dalam yobel ini tidak ada seorang pun yang miskin; sebaliknya, setiap orang dikenyangkan dan dipuaskan. Dalam yobel tidak ada orang-orang yang tertawan; sebaliknya, semua tawanan dibebaskan dan dibawa kembali kepada kenikmatan akan Allah. Dalam penerapan yobel di dalam 9:12-17, orang-orang itu dipenuhi dengan sukacita. Beberapa orang murid mungkin berkata, ”Inilah yobel yang diumum-kan oleh Tuhan. Sekarang tidak ada seorang pun yang mis-kin. Lihatlah, bahkan ada dua belas bakul yang tersisa!” Gambaran yobel yang sangat indah!
DIKENAL SEBAGAI KRISTUS
DAN PENGUNGKAPAN KALI PERTAMA
KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA
Segera setelah catatan tentang memberi makan lima ribu orang, kita diberi tahu bahwa Tuhan berdoa dan ke-mudian bertanya kepada murid-murid: ”Pada suatu kali ke-tika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, ’Kata orang banyak, siapakah Aku ini?’” (ay. 18). Murid-murid menjawab, ”Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit” (ay. 19). Di sini kita nampak bahwa kebanyakan orang hanya dapat mengenal Kristus sebagai seorang nabi. Di luar wahyu surgawi, tidak ada seorang pun yang dapat mengenal bahwa Dia adalah Kristus.
Dalam ayat 20 Tuhan melanjutkan berkata,”Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: ”Mesias dari Allah.”
Kristus dan Yobel
Realisasi bahwa Yesus adalah Kristus juga berhubungan dengan yobel. Tidak mungkin ada yobel tanpa Kristus, tanpa Dia yang ditunjuk dan diurapi oleh Allah. Untuk melaksanakan yobel, perlu ada Kristus.
Dalam Perjanjian Lama terdapat perihal yobel. Dalam Perjanjian Lama juga terdapat firman mengenai Mesias yang akan datang, Dia yang diurapi Allah. Yobel yang se-sungguhnya tidak dapat terpisahkan dari Dia yang diurapi Allah. Ketika Dia datang, Dia membawa yobel bersama-Nya. Sebenarnya, kedatangan-Nya sendiri adalah yobel.
Pernahkah Anda memikirkan bahwa peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam 9:1-26 berhubungan dengan yobel? Meskipun saya telah mempelajari Injil selama bertahun-tahun, saya tidak pernah mendengar orang menunjukkan bahwa memberi makan lima ribu orang dalam Lukas 9 berhubungan dengan yobel yang diumumkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4. Sekarang saya nampak bahwa memberi makan lima ribu orang adalah satu penerapan yobel. Pernya-taan yobel dalam pasal 4 seharusnya meliputi semua yang terjadi dalam pasal-pasal berikutnya. Ini berarti apa saja yang terjadi dalam pasal 5 sampai 24 seharusnya dipandang sebagai bagian dari yobel.
Lukas 9:1 dan 2 berkata, ”Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit.” Di sini kita nampak bahwa ketika Manusia-Penyelamat mengutus kedua belas rasul untuk menyebarkan ministri-Nya, Dia memberi mereka tenaga dan kuasa atas setan-setan dan penyakit. Dia juga mengutus mereka untuk memberitakan, mengumumkan Kerajaan Allah. Mung-kinkah ada kemiskinan atau kelaparan di dalam Kerajaan Allah? Tentu saja tidak ada kemiskinan atau kelaparan di dalam Kerajaan Allah. Lalu, apakah yang kita miliki di da-lam Kerajaan Allah? Di dalam Kerajaan Allah kita memiliki yobel. Di dalam yobel hanya ada kepuasan dan tidak ada kelaparan, ada kelimpahan dan tidak ada kekurangan. Di dalam yobel setiap orang dipuaskan, pula ada kelimpahan makanan yang tersisa. Ini digambarkan dengan catatan ten-tang memberi makan lima ribu orang.
Setelah Tuhan memberi makan lima ribu orang, murid-murid mungkin gembira. Namun Tuhan tetap tenang. Ayat 18 memberi tahu kita bahwa Dia berdoa seorang diri. Sering kali ketika orang-orang gembira, Tuhan Yesus dengan te-nang menyingkir dan berdoa. Kemudian Tuhan bertanya kepada murid-murid, menurut orang, siapakah diri-Nya itu. Mereka memberi tahu Dia jawaban-jawaban yang tidak ma-suk akal. Kemudian Petrus mengambil pimpinan berkata, ”Engkau adalah Kristus” (Tl.).
Catatan di sini agak berbeda dengan catatan dalam Matius 16. Catatan tentang mengenal Kristus dalam Matius 16 berhubungan dengan pendirian kerajaan dan pembangunan gereja. Di sini, di dalam 9:18-26, Lukas memiliki satu sudut pandang yang berbeda. Pandangan Lukas bukanlah tentang pendirian kerajaan dan pembangunan gereja. Sebaliknya, pandangan Lukas adalah tentang yobel. Karena itu, maksud Lukas adalah memperlihatkan kepada kita bahwa untuk yobel ini perlu ada Kristus, Mesias, Dia yang diurapi. Inilah alasan Lukas menekankan bahwa Yesus adalah Kristus dan tidak meliput rinciannya. Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa tujuan Lukas adalah menunjukkan bahwa untuk penerapan yobel, kita memerlukan Kristus, Dia yang diurapi Allah.
Perlunya Kematian dan Kebangkitan
Segera setelah Tuhan dikenal sebagai Kristus, Dia ber-bicara kepada murid-muridnya mengenai kematian dan ke-bangkitan-Nya. Dalam ayat 22 Dia berkata,”Anak Manusia harus menanggung banyak pernderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibu-nuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
Selama bertahun-tahun saya tidak memahami arti dari urutan dalam pasal 9. Mengapa setelah memberi makan lima ribu orang, Tuhan bertanya kepada murid-murid me-ngenai diri-Nya? Kemudian, mengapa segera setelah mereka mengenal Dia sebagai Kristus, Dia memberi tahu mereka bahwa Dia akan disalibkan dan dibangkitkan? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah tidak mungkin ada yobel tanpa Kristus dan tanpa kematian dan kebangkitan-Nya. Kita telah menunjukkan bahwa kita tidak dapat memiliki yobel tanpa Kristus. Sekarang kita perlu nampak bahwa kita tidak dapat memiliki yobel tanpa kematian dan kebangkitan Kristus. Di luar kematian Kristus, tidak mung-kin orang-orang dosa dibebaskan. Di luar kebangkitan Kris-tus, tidak mungkin ada pemulihan hak yang telah hilang untuk menikmati Allah.
Kematian Kristus telah membebaskan kita dari dosa dan Iblis. Menurut Ibrani 2:14, Kristus menghancurkan Iblis melalui kematian-Nya. Jika Dia tidak menghancurkan Iblis, bagaimana Dia dapat membebaskan kita dari tangan perampasan Iblis? Jika Tuhan tidak menghancurkan Iblis melalui kematian, Dia tidak dapat membebaskan kita dari Iblis. Kebebasan kita dari belenggu ini mutlak karena kematian Kristus yang almuhit, satu kematian yang membebaskan kita dari dosa dan Iblis.
Hak kita untuk menikmati Allah dapat dipulihkan hanya melalui kebangkitan Kristus. Ketika kita percaya ke-pada kematian Kristus yang almuhit dan menang, maka kita dibebaskan dari dosa, Iblis, dan ego kita. Bila kita tetap ting-gal dan hidup dalam kebangkitan Kristus, maka hak kita untuk menikmati Allah terpulihkan. Inilah yobel. Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya telah mendatangkan yobel.
MENYATUKAN DIRI KITA DENGAN
KEMATIAN KRISTUS
Berdasarkan firman-Nya mengenai kematian-Nya, dalam 9:23-26 Tuhan mengajar murid-murid untuk memikul salib mereka dan mengikut Dia dengan menyangkal hayat jiwa mereka. Kita perlu melakukan hal ini untuk berbagian dalam yobel. Yobel telah dilaksanakan melalui kematian Kristus. Sekarang agar kita berbagian dalam yobel ini kita harus disatukan dengan kematian-Nya. Dia mati untuk menggenapkan yobel ini, dan sekarang kita mati bersama-Nya untuk berbagian dalam kenikmatan akan yobel ini. Di satu pihak, perlu ada kematian Kristus untuk melaksanakan yobel ini. Di pihak lain, kita perlu menyatukan diri kita dengan kematian-Nya supaya kita dapat menikmati yobel.
Memikul Salib dan Menyangkal Hayat Jiwa
Menyatukan diri kita dengan kematian Kristus adalah memikul salib, dan memikul salib adalah menyangkal hayat jiwa kita. Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, murid-murid itu masih sangat alamiah. Untuk berbagian dalam yobel yang digenapkan oleh kematian Kristus ini, mereka perlu memikul salib dan menyangkal hayat jiwa.
Dalam 9:23 Tuhan berkata, ”Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Salib di sini bukan hanya suatu penderitaan, tetapi juga adalah suatu pembunuhan. Salib membunuh dan mengakhiri pendosa. Kristus memikul salib dahulu kemudian disalibkan. Hari ini kita, kaum beriman-Nya, terlebih dulu disalibkan dengan-Nya dan kemudi-an memikul salib. Bagi kita, memikul salib adalah tetap ber-ada di bawah pembunuhan kematian Kristus untuk meng-akhiri ego kita, hayat alamiah kita, dan manusia lama kita. Dengan demikian kita menyangkal ego kita agar kita dapat mengikuti Tuhan.
Sebelum penyaliban Tuhan, murid-murid mengikuti Dia secara luaran. Namun setelah kebangkitan-Nya, kita meng-ikuti Dia secara batini. Karena dalam kebangkitan Dia telah menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45) yang berhuni di dalam roh kita (2 Tim. 4:22), maka kita perlu mengikut Dia di dalam roh (Gal. 5:16-25).
Kehilangan Hayat Jiwa Kita
Dalam Lukas 9:24 Tuhan melanjutkan berkata, ”Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan ke-hilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” Menyela-matkan nyawa (jiwa) adalah membiarkan jiwa mendapatkan kenikmatannya dan tidak menderita. Kehilangan nyawa adalah membuat jiwa kita menderita kehilangan kenikmat-annya. Jika para pengikut Manusia-Penyelamat membiarkan jiwa mereka mendapatkan kenikmatannya di zaman ini, maka mereka akan membuat jiwa mereka menderita ke-hilangan kenikmatannya di zaman kerajaan yang akan datang. Jika mereka membiarkan jiwa mereka menderita kehilangan kenikmatan di zaman ini demi Manusia-Penyelamat, maka mereka akan membuat jiwa mereka mendapatkan kenikmatannya di zaman kerajaan yang akan datang. Mereka akan berbagian dalam sukacita Tuhan memerintah atas bumi ini (Mat. 25:21, 23).
Dalam 9:25 Tuhan melanjutkan, ”Apa gunanya sese-orang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Matius 16:26 membicara-kan merugikan hayat jiwa, tetapi Lukas 9:25 mengatakan merugikan ”dirinya sendiri”. Ini menunjukkan bahwa hayat jiwa kita adalah ego kita.
Dalam Lukas 9:1-26 kita nampak bahwa untuk menye-barkan yobel ini, Manusia-Penyelamat mengutus kedua belas rasul untuk memberitakan Kerajaan Allah, mengusir setan-setan, dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Kemu-dian Manusia-Penyelamat mengadakan suatu mujizat untuk menunjukkan bahwa Dia menerapkan yobel bagi semua orang yang memerlukannya. Dia telah menerapkan yobel kepada lebih dari sepuluh ribu orang. Kita juga telah nampak bahwa untuk yobel ini perlu ada Kristus. Kristus adalah Yang melaksanakan yobel. Selanjutnya, Kristus perlu mati dan di-bangkitkan. Kemudian untuk berbagian dalam yobel ini dan menikmatinya, kita, para pengikut Manusia-Penyelamat, perlu menyatukan diri dengan kematian-Nya yang almuhit dan hidup dalam kebangkitan-Nya.
DIBEBASKAN DARI PENAWANAN,
MASUK KE DALAM KENIKMATAN YOBEL
Pengalaman dan kenikmatan akan yobel yang sesungguhnya oleh kaum beriman tidak ditemukan dalam kitabkitab Injil, melainkan dalam kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Rasuli. Dalam kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Rasuli, kita nampak yobel yang sejati dinikmati oleh murid-murid yang pertama. Khususnya, Paulus berada dalam kenikmatan yobel ini. Tadinya Paulus adalah seorang tawanan, tetapi kemudian ia dibebaskan dari dosa, Iblis, dunia, dan agama Yahudi, serta dibawa masuk ke dalam kenikmatan atas Kristus yang almuhit sebagai perwujudan Allah. Melalui Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Paulus dibebaskan dari penawanannya dan dibawa masuk ke dalam kenikmatan yobel. Karena itu, keempat belas Surat Rasulinya adalah satu gambaran, definisi, dan penjelasan yang lengkap dari kenikmatannya terhadap yobel melalui kematian dan dalam kebangkitan.