← Daftar isi Lukas (1) · bab 16/26

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (6)

Pembacaan Alkitab: Luk. 7:1-35

Dalam 7:1-35 terdapat tiga hal: Manusia-Penyelamat menyembuhkan orang yang hampir mati dengan satu per-kataan (ay. 1-10), Manusia-Penyelamat menunjukkan belas kasihan kepada janda yang meratap dengan membangkitkan anak tunggalnya (ay. 11-17), dan Manusia-Penyelamat me-nguatkan pelopor-Nya (ay. 18-35). Kelihatannya tidak ada hubungan apa pun di antara ketiga kejadian ini. Sebenar-nya, hal-hal ini saling berhubungan.

MENYEMBUHKAN ORANG YANG HAMPIR MATI

DENGAN SATU PERKATAAN

Lukas 7:1-2 mengatakan, ”Setelah Yesus selesai ber-bicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang ham-ba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.” Seorang perwira adalah seorang opsir yang mengepalai seratus orang prajurit di dalam pasukan Romawi. Perwira ini mewakili orang bukan Yahudi yang percaya, yang diselamatkan melalui iman di dalam firman Tuhan (ay. 7).

Setelah mendengar tentang Yesus, perwira ini ”menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk me-minta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya” (ay. 3). Ketika para tua-tua ini datang kepada Yesus, ”Dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, ’Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami’” (ay. 4-5).

Sewaktu Manusia-Penyelamat ini sedang dalam per-jalanan-Nya ke rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya, berkata kepada-Nya, ”Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ay. 6-7). Dalam ayat 8 terdapat lanjutan perkataan perwira itu yang disampaikan kepada Tuhan Yesus melalui sahabat-sahabat-nya: ”Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerja-kanlah ini!, maka ia mengerjakannya” (ay. 8).

Dalam 7:1-10 kita nampak kuasa dan perkataan yang berkuasa. Perwira itu seolah-olah berkata kepada Manusia-Penyelamat, ”Tuhan, aku tidak layak datang melihat Engkau; aku juga tidak layak menerima kedatangan-Mu ke rumah-ku. Namun aku tahu apa kuasa itu. Aku berada di bawah kekuasaan orang lain, dan ada orang lain yang berada di ba-wah kekuasaanku. Hal yang perlu kulakukan hanyalah mengatakan satu perkataan kepada salah seorang prajurit, dan ia akan melakukan apa yang kukatakan. Aku tahu, Tuhan, bahwa Engkau adalah Sang kuasa di alam semesta ini.”

Bagaimanakah perwira Romawi ini, seorang bukan Yahudi, datang untuk mengenal kuasa Tuhan? Menurut ayat 5, ia mengasihi bangsa Yahudi dan membangun sebuah rumah ibadat bagi orang-orang Yahudi. Dari hal ini kita nampak bahwa ia mungkin memiliki sedikit pengetahuan akan Perjanjian Lama. Selain itu, ia menyebut Manusia-Penyelamat ini sebagai Tuhan. Jadi, ia sadar bahwa Manusia-Penyelamat ini adalah Dia yang memiliki kuasa yang sejati.

Perwira ini juga mengenal makna perkataan yang berkuasa. Inilah sebabnya ia dapat berkata kepada Manusia-Penyelamat, ”Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ay. 7). Ia mengenal kuasa dan firman sebagai ekspresi kuasa itu. Hamba perwira itu disembuhkan oleh fir-man Manusia-Penyelamat.

Dalam 7:9 Tuhan Yesus heran akan iman perwira itu: ”Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, ’Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak per-nah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!’” Perwira bukan Yahudi itu mengenal kuasa Manusia-Penyelamat dan menyadari bahwa firman-Nya adalah firman dengan kuasa kesembuhan. Karena itu, ia bukan hanya percaya kepada Manusia-Penyelamat, tetapi juga kepada firman-Nya. Ia me-minta Tuhan untuk tidak datang secara pribadi, melainkan hanya mengirimkan firman-Nya. Manusia-Penyelamat heran akan iman yang besar itu.

Dalam kasus ini kita juga nampak kebajikan insani Tuhan dengan atribut ilahi-Nya. Kebajikan-Nya dinyatakan oleh fakta bahwa Ia pergi ke rumah perwira itu. Tuhan Yesus adalah Tuhan alam semesta ini. Meskipun demikian, Dia rela pergi untuk melihat seorang perwira pasukan Romawi. Perwira ini hanya memiliki seratus prajurit di bawah kuasanya, sedangkan Tuhan Yesus memiliki alam semesta ini di bawah kuasa-Nya. Dalam kebajikan insani Manusia-Penyelamat ini, atribut ilahi kuasa-Nya diekspresikan. Dia mengatakan satu firman dan hamba perwira itu disembuhkan. Di sini kita nampak atribut ilahi Tuhan di-nyatakan dalam kebajikan insani-Nya.

MENUNJUKKAN BELAS KASIHAN

KEPADA JANDA YANG MERATAP

DENGAN MEMBANGKITKAN ANAK TUNGGALNYA

Dalam 7:11-17 kita nampak Manusia-Penyelamat menunjukkan belas kasihan kepada janda yang meratap dengan membangkitkan anak tunggalnya. Ayat 11-12 mengatakan, ”Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah jan-da, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.” Situasi ini sangat menyedihkan, dan tidak ada seorang pun yang dapat melakukan sesuatu untuk menghibur janda yang berdukacita ini. Terlebih dulu ia kehilangan suaminya, dan sekarang ia kehilangan anak tunggalnya.

Dukacita dalam kasus ini unik — diusungnya anak tunggal janda itu dalam keranda. Belas kasihan Manusia-Penyelamat yang ternyata dalam simpati kasih-Nya juga unik. Dalam belas kasihan-Nya yang lembut, tanpa diminta Dia rela dengan kuat kuasa kebangkitan-Nya membangkit-kan anak janda itu dari kematian. Ini menunjukkan ama-nat-Nya yang unik, yaitu datang untuk menyelamatkan orang dosa yang hilang (19:10), dan memperlihatkan standar mo-ralitas-Nya yang tertinggi, sebagai Manusia-Penyelamat da-lam menyelamatkan orang dosa.

Lukas 7:13-15 mengatakan, ”Ketika Tuhan melihat jan-da itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia ber-kata kepadanya, ’Jangan menangis!’ Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, ’Hai anak muda, Aku berkata kepada-mu, bangkitlah!’ Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibu-nya.” Di sini kita nampak belas kasihan Manusia-Penyelamat ternyata dalam hal berbicara kepada janda itu dan dalam menyentuh keranda itu. Ketika Dia menyentuh keran-da itu, orang-orang yang mengusungnya masih tetap berdiri. Kemudian Tuhan memerintahkan anak janda itu untuk bangkit. Ini adalah atribut ilahi Tuhan yang diekspresikan di dalam kebajikan insani-Nya.

Dalam belas kasihan-Nya, Manusia-Penyelamat berbicara kepada janda itu dan menyentuh keranda itu. Dia tidak diminta untuk melakukan hal itu. Tetapi melihat situasi itu, Dia memulai satu tindakan yang membuat anak yang mati itu bangkit. Di luar dugaan orang-orang yang hadir di situ, Tuhan memulai tindakan-Nya menurut kebajikan insani-Nya. Apakah yang membuat-Nya digerakkan oleh belas kasihan? Penyebabnya adalah kebajikan insani-Nya. Dalam kebajikan insani-Nya, atribut ilahi-Nya diekspresikan dengan membangkitkan orang muda itu dari kematian.

Kembali kita nampak bahwa Tuhan Yesus penuh dengan kebajikan insani dan atribut ilahi. Dalam hal Tuhan membangkitkan anak yang mati itu dan menyerahkannya kepada ibunya, kita nampak ekspresi dari atribut ilahi Manusia-Penyelamat dalam kebajikan insani-Nya.

Lukas, yang menulis Injilnya menurut urutan mo-ralitas, menjajarkan kasus penyembuhan hamba perwira dengan kasus membangkitkan anak janda itu. Dalam kasus penyembuhan hamba perwira itu, kita nampak kuasa Tuhan, tetapi dalam kasus membangkitkan anak janda, kita nampak kemurahan hati-Nya. Ketika Tuhan menyentuh ke-randa itu, Dia memperlihatkan simpati, kasih, dan kemu-rahan-Nya. Karena itu, kasus pertama adalah perihal kuasa; kasus kedua adalah perihal simpati kasih. Dalam kedua kasus ini kita nampak Manusia-Penyelamat dalam kebajikan-kebajikan insani-Nya dengan atribut-atribut ilahi-Nya.

Sebenarnya, dalam kedua kasus ini kita nampak kuasa Manusia-Penyelamat. Mengatakan satu perkataan sehingga hamba perwira itu dapat disembuhkan menunjukkan kekuasaan. Namun, kekuasaan yang dinyatakan di sini tidak setinggi yang dinyatakan dalam hal membangkitkan anak janda itu. Bila kita menjajarkan kedua kasus itu, kita akan nampak bahwa Manusia-Penyelamat, manusia-Allah, penuh dengan kebajikan insani dengan atribut ilahi.

MENGUATKAN PELOPOR-NYA

Lukas 7:18 mengatakan, ”Yohanes mendapat kabar tentang semua peristiwa itu dari murid-muridnya.” Yohanes Pembaptis, pelopor Kristus, ada di dalam penjara. Kelihat-annya, Dia yang memiliki kuasa dan simpati ini tidak mau melakukan sesuatu untuk Yohanes. Sebaliknya, Dia seolah-olah melupakannya. Murid-murid Yohanes mungkin merasa terganggu, dan mereka melaporkan kepadanya tentang se-mua itu. Mereka mungkin terganggu dengan fakta bahwa Manusia-Penyelamat ini, yang menyembuhkan hamba perwira dan membangkitkan anak janda, tidak melakukan se-suatu untuk Yohanes Pembaptis.

Ayat 19-20 melanjutkan, ”Ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan, ’Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami me-nantikan seorang lain?’ Ketika kedua orang itu sampai ke-pada Yesus, mereka berkata, ’Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?’” Perkataan Yohanes Pembaptis di sini itu bukan berarti bahwa ia ragu mengenai Kristus. Ia bertanya kepada Kristus dengan cara ini untuk merangsang Dia supaya membebaskannya. Ia tahu bahwa Kristus adalah Yang akan datang, dan ia memper-kenalkan Dia kepada orang-orang (Yoh. 1:26-36). Setelah itu, ia dimasukkan ke dalam penjara dan menunggu di sana, ber-harap Kristus akan melakukan sesuatu untuk melepaskan dia. Namun, Tuhan tidak melakukan sesuatu baginya, mes-kipun Dia melakukan banyak hal untuk membantu orang lain. Ketika Yohanes mendengar hal ini, ia berada dalam bahaya tersandung (Luk. 7:23). Maka, ia mengutus murid-muridnya kepada Tuhan dengan pertanyaan yang merangsang itu.

Tidaklah salah membahas ketiga kasus dalam 7:1-35 bersama-sama. Tuhan melakukan sesuatu untuk perwira dan janda, yang tidak ada hubungan dengan-Nya. Tetapi, Dia tidak melakukan apa-apa untuk pelopor-Nya, yang telah dimasukkan ke dalam penjara demi Dia. Meskipun Manusia-Penyelamat melakukan banyak hal untuk orang lain, tetapi Dia tidak melakukan apa-apa untuk Yohanes Pembaptis. Inilah alasan Yohanes mencoba merangsang Tuhan untuk melakukan sesuatu baginya.

Dalam 7:22-23 terdapat jawaban Tuhan kepada per-tanyaan Yohanes Pembaptis: ”Pergilah, dan katakanlah ke-pada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berba-hagialah orang yang tidak tersandung karena Aku” (Tl.) Dalam ayat 22, pertama-tama Tuhan mengatakan orang buta melihat. Tidak ada mujizat demikian dalam Perjanjian Lama. Dengan hal ini, Dia memberikan bukti yang jelas kepada Yohanes bahwa hanya Mesias yang dapat melakukan keajaiban demikian (Yes. 35:5).

Dalam makna rohani, orang buta melihat itu juga adalah yang pertama terjadi. Dalam keselamatan Tuhan, pertama-tama Dia membuka mata kita (Kis. 26:18). Kemudian kita dapat menerima Dia dan berjalan mengikuti-Nya.

Orang lumpuh menandakan orang-orang yang tidak dapat berjalan di jalan Allah. Setelah diselamatkan, orang lumpuh itu dapat berjalan dengan hayat yang baru (Yoh. 5:8-9).

Orang tuli menandakan orang-orang yang tidak dapat mendengar Allah. Setelah diselamatkan, mereka dapat mendengar suara Tuhan (Yoh. 10:27).

Orang mati menandakan orang-orang yang mati dalam dosa (Ef. 2:1, 5), tidak dapat berkontak dengan Allah. Setelah dilahirkan kembali, mereka dapat bersekutu dengan Allah dengan roh kelahiran kembali mereka.

Orang miskin menandakan setiap orang yang tidak memiliki Kristus, tanpa Allah, tidak memiliki harapan di da-lam dunia (Ef. 2:12). Setelah menerima Injil, mereka menjadi kaya dalam Kristus (2 Kor. 8:9; Ef. 3:8).

Apa yang akan Anda katakan bila Anda menjadi Yohanes dan menerima firman yang dikatakan Tuhan dalam ayat 22 ini? Mungkin Anda akan berkata, ”Aku tidak mau mendengar laporan semacam itu. Tuhan, apa yang akan Kaulakukan terhadap aku? Engkau mencelikkan yang buta, Engkau membuat yang lumpuh berjalan, Engkau mentahir-kan yang kusta, Engkau membuat yang tuli mendengar, Engkau membangkitkan yang mati, dan Engkau membawa kabar baik bagi yang miskin. Aku ingin mendengar kabar baik mengenai keadaanku. Tuhan, apa yang akan Kaulaku-kan terhadapku? Aku masih berada di dalam penjara. Bukankah Engkau mengumumkan yobel dan mengumumkan pembebasan kepada orang yang tertawan? Tuhan, aku ingin Engkau membebaskan aku.”

Dalam ayat 23 Tuhan berkata kepada Yohanes, ”Berbahagialah orang yang tidak tersandung karena Aku” (Tl.) Firman ini menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis berada dalam bahaya tersandung karena Tuhan tidak bertindak untuknya menurut keinginannya. Di sini Tuhan mendorong dia untuk menempuh jalan yang ditetapkan Tuhan baginya supaya dia diberkati.

Dalam ayat 23 Tuhan seolah-olah akan berkata, ”Yohanes, Aku telah melakukan banyak hal untuk orang lain, tetapi Aku tidak akan berbuat apa-apa untukmu. Jangan tersandung karena Aku. Berbahagialah orang yang tidak tersandung karena Aku.”

Saya percaya bahwa firman Tuhan dalam ayat 23 ini menguatkan Yohanes untuk mati martirnya kelak. Yohanes tahu bahwa Kristus dapat berbuat sesuatu, tetapi Dia tidak mau berbuat apa-apa baginya. Meskipun Tuhan dapat ber-buat sesuatu, Dia berhak untuk tidak berbuat apa-apa. Yohanes pasti telah diyakinkan oleh firman Tuhan dan di-kuatkan olehnya.

Dalam 7:24-28 Tuhan Yesus berbicara kepada orang banyak mengenai Yohanes Pembaptis. Dalam ayat 26 Tuhan Yesus mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis ”lebih dari-pada nabi”. Dalam ayat 27 Dia berkata lagi mengenai dia, ”Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.” Maleakhi 4:5 menubuatkan bahwa Elia akan datang. Ketika Yohanes Pembaptis dikandung, di-katakan bahwa ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia (Luk. 1:17). Karena itu, Yohanes diang-gap ”Elia yang akan datang” (Mat. 11:14). Namun, nubuat dari Maleakhi 4:5 sebenarnya akan digenapi di dalam ke-susahan besar, ketika Elia yang sesungguhnya, salah satu dari dua saksi itu, datang untuk menguatkan umat Allah (Why. 11:3-12).

Dalam Lukas 7:31-32 Tuhan Yesus melanjutkan ber

kata, ”Dengan apakah akan Ku umpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (ay. 30) mengira bahwa mereka berpengalaman dan memiliki pengetahuan di dalam hukum Allah. Tetapi dalam ayat 32 Tuhan mengumpamakan mereka seperti anak-anak.

Kristus dan Yohanes Pembaptis ”memainkan seruling” untuk memberitakan Injil kerajaan, tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ”tidak menari” karena sukacita keselamatan. Yohanes dan Tuhan Yesus juga ”menyanyikan kidung duka” memberitakan pertobatan, tetapi orang-orang ini ”tidak menangis” dukacita karena dosa. Kebenaran Allah menuntut mereka bertobat, tetapi mereka tidak mau taat. Kasih karunia Allah menyediakan keselamatan bagi mereka, tetapi mereka tidak mau menerimanya.

Dalam ayat 33 Tuhan melanjutkan, ”Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.” Yohanes Pembaptis, yang membawa manusia kepada pertobatan dan membuat mereka berduka karena dosa, tidak memiliki se-lera untuk makan atau minum (1:15-17). Karena Yohanes Pembaptis hidup dengan cara yang aneh dan ganjil, tidak makan dan minum dengan teratur, para penentang itu me-nuduh dia dirasuk roh jahat.

Dalam ayat 34 Tuhan berkata, ”Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemu-ngut cukai dan orang berdosa.” Kristus bukan hanya Penye-lamat, melainkan juga Sahabat orang dosa, Dia yang simpati terhadap masalah-masalah mereka dan merasakan dukacita mereka. Dia datang untuk membawa keselamatan kepada orang-orang dosa dan membuat mereka bersukacita. Karena itu, Dia senang makan dan minum bersama mereka.

Dalam 7:31-34 Tuhan Yesus sebenarnya menegur angkatan itu. Ketika Dia mengumumkan yobel, itu berarti memainkan ”seruling”. Tetapi orang-orang dari angkatan itu tidak menjawabnya dengan menari. Demikian pula, ketika Dia dan Yohanes Pembaptis menyanyikan kidung duka, orang-orang itu tidak bertobat. Sebaliknya mereka mengatakan bahwa Yohanes kerasukan roh jahat dan bahwa Tuhan Yesus pelahap, peminum anggur, dan sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Dalam ayat 35 Tuhan menyimpulkan, ”Tetapi hikmat di-benarkan oleh semua orang yang menerimanya.” Hikmat ini adalah Kristus (1 Kor. 1:24, 30). Apa pun yang Kristus laku-kan itu dilakukan-Nya berdasarkan hikmat Allah, yang adalah diri-Nya sendiri. Hikmat ini dibenarkan, dan dinyata-kan oleh tindakan-Nya yang berhikmat, perilaku-Nya yang berhikmat.