← Daftar isi Lukas (1) · bab 17/26

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (7)

Pembacaan Alkitab: Luk. 7:36-50

Lukas 7:36—8:21 meliputi empat hal: Manusia-Penyelamat mengampuni orang-orang dosa (7:36-50), dilayani oleh perempuan-perempuan (8:1-3), mengajar dengan perumpa-maan-perumpamaan (8:4-18), dan memperkenalkan sanak keluarga-Nya yang sejati (8:19-21). Pertama kita nampak bahwa orang-orang dosa diampuni bukan karena kasih me-reka, melainkan karena iman mereka dalam Tuhan. Iman, bukan kasih, membuat kita mengalami pengampunan dosa-dosa. Kedua, orang-orang yang diselamatkan, orang-orang yang dosanya telah diampuni, mengikuti Tuhan dan melayani Dia. Ketiga, orang-orang yang telah diampuni dan yang sekarang mengasihi Tuhan, mengikuti Dia, dan melayani Dia, harus bertumbuh dalam hayat dan bercahaya seperti pelita. Keempat, akhirnya orang-orang yang demikian menjadi sanak saudara Manusia-Penyelamat yang sejati. Dari hal ini kita nampak bahwa keempat hal yang terdapat dalam 7:36—8:21 ini terjadi serentak dalam pengalaman kita. Dalam berita ini kita akan membahas 7:36-50, dan dalam berita berikutnya kita akan membahas 8:1-21.

KASUS TENTANG PENGAMPUNAN DOSA

Kehidupan orang Kristen dimulai dengan pengampunan dosa melalui iman kepada Penyelamat. Dalam 7:36-50, Lukas menyajikan satu kasus pengampunan dosa dengan cara yang sangat mengesankan. Di sini kita nampak satu gam-baran yang jelas tentang seorang perempuan berdosa yang mengalami pengampunan dosa-dosanya. Bagian dari Injil Lukas ini adalah satu catatan yang mengharukan dari kasus tentang pengampunan dosa.

Seorang Farisi dan Seorang Perempuan yang Berdosa

Lukas 7:36 mengatakan, ”Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.” Dalam ayat ini Lukas tidak mengatakan bahwa orang Farisi itu memper-siapkan satu perjamuan dan mengundang Tuhan Yesus un-tuk makan dengannya. Melainkan, Lukas mengatakan bahwa orang Farisi itu mengundang Penyelamat untuk makan dengannya. Ini mungkin menunjukkan bahwa orang Farisi itu meminta kepada Tuhan dengan agak dingin; yaitu, ia tidak mengundang-Nya dengan hangat, penuh cinta kasih. Namun Manusia-Penyelamat ini tetap mau pergi ke rumah orang Farisi itu dan makan dengannya.

Demi siapakah Manusia-Penyelamat ini pergi ke rumah orang Farisi itu? Apakah Dia melakukan hal ini demi orang Farisi itu atau demi perempuan itu? Saya percaya bahwa Dia melakukan hal ini demi orang Farisi itu dan juga perempuan itu. Dalam kemahatahuan-Nya, Manusia-Penyelamat tahu bahwa perempuan itu akan datang ke rumah tersebut. Kita dapat mengatakan bahwa dengan menerima permintaan orang Farisi agar Dia makan di rumahnya, Tuhan memberikan satu kesempatan kepada perempuan itu untuk mengontak-Nya. Kalau tidak, perempuan yang berdosa dan yang dikenal karena dosanya itu tidak bisa mengontak Penyelamat. Dengan menerima permintaan orang Farisi itu untuk datang makan ke rumahnya, Tuhan memberi satu ke-sempatan kepada orang dosa yang diselamatkan itu untuk menyatakan kasihnya bagi-Nya.

Dalam 7:36-50 Lukas tidak memberi tahu kita apa yang dilakukan tuan rumah itu kepada Tuhan. Tidak ada yang menyiratkan bahwa orang Farisi itu bersopan santun dan menunjukkan kasih terhadap-Nya. Sebenarnya, Lukas tidak menyinggung banyak tentang tuan rumah itu. Namun, Ia berbicara banyak tentang apa yang dilakukan perempuan itu kepada Tuhan Yesus.

Ayat 37-38 mengatakan, ”Di kota itu ada seorang pe-rempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika pe-rempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di ru-mah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyaki-nya dengan minyak wangi itu.” Rambut adalah kemuliaan perempuan (1 Kor. 11:15), dan berada pada bagian paling atas dari tubuhnya. Dengan bagian teratasnya dia menyeka kaki (bagian terendah dari tubuh) Penyelamat, mengasihi-

Nya dengan kemuliaannya.

Perempuan itu mencium kaki Tuhan dengan penuh kasih sayang, yaitu dalam kasih, dan ia mengurapinya dengan minyak wangi (ay. 38). Minyak wangi ini menunjukkan apresiasi perempuan tersebut akan kemustikaan dan kemanisan yang agung dari Penyelamat. Bahkan kaki Penyelamat itu mustika dan manis dalam kasih mesranya.

Dalam ayat 39 kita nampak orang Farisi itu mengkritik perempuan itu dan merendahkan dia: ”Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, ’Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Sejumlah besar orang di Nain, setelah menyaksikan kuasa kebangkitan Manusia-Penyelamat, mengenal Dia sebagai seorang nabi yang besar (7:16). Tetapi orang Farisi itu merasa ragu apakah Dia se-orang nabi. Dia tidak hanya meragukan Penyelamat, tetapi juga meremehkan perempuan itu sebagai seorang berdosa.

Dengan atribut ilahi kemahatahuan-Nya, Manusia-Penyelamat ini tahu apakah yang dikatakan tuan rumah itu di dalam hatinya. Karena Dia adalah Allah, Dia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Ayat 40 mengatakan, ”’Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ’Katakanlah, Guru.’”

Seorang yang Membungakan Uang dan Dua Orang yang Berhutang

Dalam ayat 41-42 Manusia-Penyelamat berkata kepada orang Farisi, ”Ada dua orang yang berhutang kepada se-orang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Firman Tuhan di sini menunjukkan bahwa Simon dan perempuan itu adalah orang-orang dosa. Simon menganggap perempuan itu sebagai orang dosa, tetapi tidak menganggap dirinya sendiri orang dosa, dan ia meragukan Penyelamat tahu bahwa perempuan itu adalah orang dosa. Tetapi perumpamaan Penyelamat menunjukkan bahwa Simon dan perempuan itu adalah orang-orang dosa, orang-orang yang berhutang kepada-Nya.

Menurut ayat 42, ketika kedua orang yang berhutang itu tidak memiliki apa-apa untuk membayar hutang kepada orang yang membungakan uang, ia dengan murah hati mengampuni keduanya. Ini menunjukkan bahwa semua orang dosa tidak memiliki apa-apa untuk membayar hutang mereka kepada Allah-Penyelamat mereka. Firman Tuhan di sini juga menunjukkan bahwa Penyelamat telah mengampuni kedua-duanya.

Dalam ayat 42 Tuhan Yesus bertanya kepada Simon, siapakah dari kedua orang yang berhutang itu yang akan lebih mengasihi orang yang membungakan uang itu sebagai hasil dari diampuni olehnya. Ini menunjukkan bahwa kasih mereka terhadap Penyelamat adalah hasil, bukan penyebab dari pengampunan Penyelamat.

Dalam ayat 44-46 Tuhan selanjutnya berkata kepada Simon, ”Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumah-mu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk mem-basuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.” Perkataan Penyelamat dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Simon seharusnya mengambil perem-puan itu sebagai teladan dan belajar darinya.

Dalam ayat 47 Tuhan berkata, ”Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Kasih yang besar dari perempuan itu merupakan bukti bahwa dosanya yang ba-nyak telah diampuni. Kasih Simon yang sedikit membuk-tikan bahwa dia hanya sedikit diampuni.

Inkarnasi Allah yang Mengampuni

Dalam ayat 48 Manusia-Penyelamat berkata kepada perempuan itu, ”Dosamu telah diampuni.” Kasus ini dan ka-sus di Nain tentang anak tunggal seorang janda (7:11-17) hanya ditemukan dalam kitab Injil ini. Kasus-kasus ini me-nampakkan perhatian yang lembut dan akrab dari Penyela-mat kepada orang yang mati dan yang berdosa, dan berisi prinsip moralitas sebagai ciri khas dari kitab Injil ini.

Ayat 49 mengatakan, ”Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: ’Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?’” Simon tidak sadar bahwa Manusia-Penyelamat ini adalah Allah yang me-miliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa manusia. Manusia-Penyelamat ini adalah inkarnasi dari Allah yang meng-ampuni.

Dalam ayat 50 terdapat kesimpulan dari kejadian ini: ”Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: ’Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!’” Perempu-an yang diampuni dosa-dosanya itu tidak hanya memiliki kasih terhadap Penyelamat, tetapi juga iman di dalam Dia, yang bekerja melalui kasih (Gal. 5:6) dan mendatangkan da-mai sejahtera. Iman yang menyelamatkan dirinya membawa dia kepada Penyelamat dalam kasih dan membuat dia bisa pergi dalam damai sejahtera.

IMAN, KASIH, DAN DAMAI SEJAHTERA

Iman, kasih, dan damai sejahtera adalah tiga kebajikan penting dalam mengalami dan menikmati keselamatan Penyelamat. Iman dihasilkan dari pengenalan terhadap Penyelamat dalam kuasa-Nya yang menyelamatkan dan ke-bajikan-Nya. Kasih berasal dari iman ini dan mendatangkan damai sejahtera; kemudian kita mengikuti Penyelamat.

Tahukah Anda tujuan Lukas dalam menyajikan gam-baran tentang pengampunan dosa-dosa yang demikian ini? Tujuannya adalah menggambarkan Manusia-Penyelamat dengan standar moralitas-Nya yang tertinggi. Seperti yang telah kita tunjukkan, hal ini seharusnya dianggap sebagai prinsip yang mendasar dalam tulisan Injil Lukas. Khususnya dalam kasus ini kita dapat melihat prinsip yang mengendalikan ini. Di sini menggambarkan standar morali-tas yang tertinggi dari Penyelamat.

Iman Datang sebelum Pengampunan

Dalam kasus ini kita perlu memperhatikan ketiga hal ini: iman, kasih, dan damai sejahtera. Ketika saya masih sebagai seorang Kristen muda dan membaca pasal ini, saya mengira bahwa kasih perempuan itu terhadap Penyelamat adalah penyebab dari dosa-dosanya diampuni. Saya mengira bahwa Tuhan mengampuni perempuan itu karena ia mengasihi-Nya. Pemahaman demikian tidaklah tepat.

Dalam ayat 50 Tuhan berkata kepada perempuan itu bahwa imannya, bukan kasihnya, yang menyelamatkan dia. Selanjutnya, mengenai dua orang yang berhutang yang di-ampuni oleh orang yang membungakan uang itu, Tuhan ber-tanya, ”Siapakah di antara mereka yang akan lebih menga-sihi dia?” (ay. 42). Ini menunjukkan dengan jelas bahwa ka-sih adalah hasil dari pengampunan. Mengenai hal ini, kita perlu memperhatikan kata ”karena” dalam ayat 42. Kata ini membuktikan bahwa kasih datang setelah pengampunan bu-kan sebelumnya.

Lalu, apakah penyebab dari pengampunan dosa-dosa? Dari ayat 50 kita nampak bahwa penyebabnya adalah iman. Iman perempuan itulah yang menyelamatkannya. Dosa-dosanya diampuni bukan karena kasihnya, melainkan karena imannya. Karena itu, iman datang sebelum pengampunan, dan kasih mengikuti iman.

Kasih Berasal dari Iman

Sangatlah penting bagi kita untuk nampak bahwa pengampunan datang sebelum kasih. Kita tidak boleh mengra bahwa kasih kita adalah penyebab dari pengampunan dosa-dosa kita. Sebaliknya, kasih adalah hasil, akibat, dari iman kita. Ketika kita percaya kepada Tuhan, iman kita menjadi penyebab dari pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Kemudian sebagai hasil pengampunan atas dosa-dosa kita, kita mulai mengasihi Tuhan. Maka, kasih berasal dari iman.

Kasih Menghasilkan Damai Sejahtera

Kasih menghasilkan damai sejahtera. Pertama kita percaya kepada Tuhan Yesus, memiliki iman terhadap-Nya. Kemudian semua dosa kita diampuni, dan hal ini mendatang-kan kasih terhadap Tuhan. Sewaktu kita mengasihi Dia, ka-sih ini menghasilkan damai sejahtera. Kemudian, kita dapat berjalan dalam damai sejahtera. Berjalan dalam damai sejah-tera berarti hidup dalam damai sejahtera, memiliki satu hayat damai sejahtera. Ketika kita berjalan dalam damai sejahtera, kita membawa diri dalam damai sejahtera dan menempuh suatu kehidupan yang penuh damai sejahtera. Ini berarti ketika kita percaya kepada Tuhan, kita mengasihi Dia dan menempuh suatu kehidupan dalam damai sejahtera. Inilah kehidupan orang Kristen.

Dalam 7:36-50 kita nampak iman, kasih, dan damai sejahtera. Kita memiliki iman terhadap Tuhan, kita memi-liki kasih terhadap-Nya, dan kita memiliki damai sejahtera dalam mengikuti Dia. Karena kita telah percaya kepada-Nya, maka kita telah diampuni dari dosa-dosa kita, dan sekarang kita mengasihi Dia. Kasih ini menghasilkan suatu kehidup-an damai sejahtera. Sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan, kita hidup, berjalan, dan berperilaku dalam damai sejahtera.

ATMOSFIR KASIH

Atmosfir dalam 7:36-50 adalah suatu atmosfir yang penuh kasih. Ada kasih baik di pihak Manusia-Penyelamat maupun di pihak perempuan yang berdosa. Kasih Tuhan adalah satu aspek dari kebajikan-kebajikan insani-Nya. Sekali lagi dalam kebajikan insani-Nya kita dapat melihat atribut ilahi-Nya. Khususnya, kita melihat atribut kuasa ilahi untuk mengampuni dosa-dosa manusia. Menurut ayat 49, orang-orang yang duduk di meja bersama-sama dengan Tuhan berkata sesama mereka, ”Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Dia ini adalah Allah yang sejati, karena hanya Dia yang memiliki kuasa untuk meng-ampuni dosa.

Atribut ilahi Manusia-Penyelamat ini juga terlihat dalam hal Dia memberikan damai sejahtera kepada orang dosa. Hanya Allah yang dapat memberikan damai sejahtera kepada orang dosa. Dapatkah Anda memberikan damai sejahtera kepada orang lain? Bukan tangan kita yang memberikan damai sejahtera kepada orang lain. Damai sejahtera ada di dalam tangan Allah yang Mahakuasa. Hanya Dia yang dapat mengampuni dosa dan memberikan damai sejahtera. Karena itu, pengampunan dosa dan pemberian damai sejahtera adalah dua atribut Allah. Di sini atribut-atribut ini diekspresikan di dalam kebajikan-kebajikan insani Penyelamat.

Dalam 7:36-50 kita nampak sekali lagi bahwa Manusia-Penyelamat ini menyelamatkan orang-orang di dalam stan-dar moralitas yang tertinggi. Menurut penekanan di dalam Injil Lukas, standar moralitas yang tertinggi adalah kebajikan insani Manusia-Penyelamat yang mengekspresikan atri-but ilahi-Nya.