MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (5)
Pembacaan Alkitab: Luk. 6:17-49
Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas 6:1749, Tuhan Yesus mengajarkan standar moralitas yang tertinggi kepada murid-murid-Nya.
BUKAN MENGHAKIMI MELAINKAN
MENGAMPUNI
Ayat 37 mengatakan, ”Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; am-punilah dan kamu akan diampuni.” Di sini menghukum ber-arti menyalahkan, mengampuni berarti membebaskan. Jika kita tidak menyalahkan, kita tidak akan disalahkan. Demi-kian juga, jika kita mengampuni, kita akan diampuni.
Jika kita hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan Tuhan, kita akan selalu menghakimi diri sendiri, tidak menghakimi orang lain. Anak-anak Allah akan dihakimi dengan cara mereka menghakimi. Jika mereka menghakimi dengan keadilan, mereka akan dihakimi oleh Tuhan dengan keadilan. Jika mereka menghakimi orang lain dengan belas kasihan, mereka akan dihakimi oleh Tuhan dengan belas kasihan. Seperti dikatakan dalam Yakobus 2:13, ”Belas kasihan akan menang atas penghakiman.”
Dulu, saya pernah membaca khotbah C. H. Spurgeon tentang pengampunan. Dalam khotbah itu ia menunjukkan bahwa orang Kristen sulit mengampuni orang lain. Ia mengatakan, kita mungkin mengira bahwa kita telah meng-ampuni seseorang. Namun, pengampunan kita itu dapat dibandingkan dengan menguburkan seekor anjing mati tetapi membiarkan ekornya kelihatan. Setelah mengampuni se-seorang, kita mungkin berkata, ”Si anu bersalah kepadaku, tetapi aku telah mengampuni dia.” Inilah yang dimaksud de-ngan memperlihatkan ”ekor anjing” itu.
Jika kita benar-benar telah mengampuni seseorang, kita harus juga melupakan kesalahannya. Begitu kita meng-ampuni seseorang dalam satu perkara, kita tidak boleh menyinggungnya lagi. Setiap kali kita menyinggung satu kesalahan yang sebenarnya telah diampuni, itu berarti kita menarik ekor anjing yang telah dikubur itu untuk di-perlihatkan kepada orang lain bahwa anjing itu telah dikubur. Jika kita berbuat begitu, itu menunjukkan bahwa kita belum membebaskan orang yang bersalah kepada kita.
Menurut Perjanjian Baru, mengampuni berarti melupakan dan membebaskan. Kita perlu mengampuni kesalahan orang dan membebaskan orang yang bersalah itu. Begitu kita melakukan hal ini, kita tidak boleh membicarakannya lagi.
MEMBERI KEPADA ORANG LAIN
Dalam ayat 38 Tuhan melanjutkan berkata, ”Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah keluar akan di-curahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” M. R. Vincent menunjukkan bahwa ”pangkuan” di sini menunjuk-kan ”lipatan pakaian bagian atas yang lebar yang ujungnya disimpul, sehingga membentuk suatu kantong”. Di sini Tuhan mengatakan bahwa bila kita memberi kepada orang lain, Bapa kita yang di surga akan selalu mengembalikan ke-pada kita lebih banyak daripada yang kita berikan.
Saya pernah mendengar kisah tentang seorang beriman yang hendak memberikan suatu pemberian kepada sese-orang. Dalam hal itu pemberiannya adalah sejumlah ikan. Sebelumnya, ia berpikir akan memberikan sepuluh ekor ikan. Tetapi makin memikirkannya, jumlahnya makin di-kurangi. Sampai suatu saat ia sadar bahwa pemikiran untuk memberi sedikit itu adalah satu cobaan dari musuh. Sambil marah terhadap Iblis, ia berkata kepadanya, ”Iblis, jika kamu terus mencobai saya, saya akan memberikan semua-nya.” Ini menggambarkan bahwa kita perlu memiliki kere-laan untuk memberi. Jika kita memberi kepada orang lain, kita akan menerimanya kembali. Apa yang kita ukurkan ke-pada orang lain, itu juga akan diukurkan kepada kita.
PERUMPAMAAN YANG DALAM
Ayat 39 mengatakan, ”Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka: ’Dapatkah orang buta menun-tun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?’” Pada waktu perkataan ini diucapkan, sangatlah mungkin ini ditujukan kepada para pemimpin orang-orang Yahudi. Dalam Matius 15:14 Tuhan menyebut para agama-wan yang membenarkan diri dan sombong itu ”orang buta yang menuntun orang buta.” Mereka mengira diri mereka jelas mengenai cara melayani Allah, tetapi mereka tidak menyadari bahwa mata mereka telah diselubungi oleh aga-ma serta tradisi-tradisi mereka. Jadi, mereka tidak dapat melihat realitas ekonomi Allah. Kebutaan mereka membuat mereka jatuh ke dalam lubang.
Perumpamaan dalam Lukas 6:39 ini sederhana, namun ini mewahyukan hikmat ilahi Manusia-Penyelamat. Saya tidak yakin kalau ada filsuf yang membicarakan perumpamaan yang demikian.
MENJADI SAMA DENGAN GURU KITA
Dalam 6:40 Tuhan melanjutkan, ”Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.” Di sini “guru” adalah Kristus. Ketika kita, murid-murid, disempurnakan, kita akan menjadi sama dengan guru kita, Kristus.
MENGELUARKAN BALOK DARI
MATA KITA SENDIRI
Dalam 6:41-42 Tuhan berkata, ”Mengapa engkau me-lihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagai-manakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Sau-dara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudara-mu.” Sebagai anak-anak Allah yang hidup di dalam roh yang rendah hati, kita pertama-tama harus mengeluarkan balok yang ada di dalam mata kita sendiri ketika kita melihat serpihan kayu di dalam mata saudara kita. Serpihan kayu dalam mata saudara kita itu seharusnya mengingatkan kita akan balok yang ada di dalam mata kita sendiri. Selama balok itu tetap ada di dalam mata kita, maka pandangan kita akan kabur, dan kita tidak akan melihat dengan jelas.
LEBIH BANYAK PERKATAAN HIKMAT
Dalam 6:43-44 Tuhan berkata, ”Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.” Perkataan ini juga sangat sederhana, tetapi menunjukkan bahwa Manusia-Penyelamat ini penuh dengan hikmat ilahi. Perkataan-per-kataan Tuhan mengenai orang buta menuntun orang buta, serpihan kayu di dalam mata saudaramu dan balok yang ada di dalam mata kita sendiri, dan setiap pohon dikenal dari buahnya ini menyatakan hikmat-Nya.
Dalam ayat 45 Tuhan mengatakan bahwa orang yang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan apa yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Kemudian Tuhan menjelaskan bahwa yang diucapkan dari mulut, meluap dari hati. Setelah ini, Tuhan bertanya, ”Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak me-lakukan apa yang Aku katakan?” (ay. 46).
MELAKUKAN FIRMAN-FIRMAN TUHAN
Dalam 6:47-49 Tuhan Yesus berkata, ”Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan —ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi, siapa saja yang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” Di sini ”rumah” mengacu kepada diri kita dan pekerjaan kita, perilaku kita. Jika diri kita sesuai dengan firman Tuhan, kita akan memiliki satu pondasi yang tepat. Demikian juga, jika pekerjaan kita berdasar pada firman Tuhan, kita akan memiliki pondasi yang mantap. Jika diri dan pekerjaan kita berdasar pada firman Tuhan, maka keduanya akan dapat menahan segala macam ujian, ”air bah” atau ”banjir”. Tetapi jika diri kita dan pekerjaan kita tidak berdasar pada firman Tuhan, maka banjir itu akan menghanyutkannya.
”Batu” dalam 6:48 itu bukan mengacu kepada Kristus, tetapi mengacu kepada perkataan hikmat Tuhan, yakni perkataan yang mewahyukan kehendak Allah Bapa. Diri dan pekerjaan kita harus didirikan di atas firman Manusia-Penyelamat bagi penggenapan kehendak Bapa kita.
Rumah yang dibangun di atas batu dan yang tidak digoyahkan oleh banjir itu sama dengan pekerjaan pem-bangunan dari emas, perak, dan batu-batu permata, yang dapat menahan ujian api (1 Kor. 3:12-13). Sedangkan rumah yang dibangun di atas tanah tanpa satu pondasi dan yang rubuh ketika banjir melandanya itu sama dengan pekerjaan pembangunan dari rumput, kayu, dan jerami, yang akan terbakar oleh api penguji. Namun, tukang bangunan itu sen-diri akan diselamatkan (1 Kor. 3:12-15).
TITIK PANDANG YANG JELAS TENTANG STANDAR MORALITAS YANG TERTINGGI
Pengajaran Tuhan dalam 6:17-49 memberikan satu titik pandang yang jelas tentang standar moralitas yang tertinggi kepada kita. Sebagai seorang yang telah mempelajari tulis-an-tulisan Kong Hu Cu, saya dapat mengatakan bahwa peng-ajaran-pengajaran Kong Hu Cu tidak menyajikan standar moralitas yang demikian. Pengajaran yang paling puncak tentang moralitas adalah yang berasal dari Manusia-Penye-lamat. Dia sendiri sebagai manusia-Allah menempuh suatu kehidupan yang adalah standar moralitas yang tertinggi. Kehidupan, pekerjaan, dan kuasa penyelamatan-Nya, semua-nya ada di dalam standar moralitas yang tertinggi. Tuhan menyampaikan kasih karunia penyelamatan-Nya dalam ke-bajikan-kebajikan insani-Nya dengan atribut-atribut ilahi-Nya. Ini adalah standar moralitas yang tertinggi, dan kita semua perlu memperhatikannya dengan teliti.
KEPERLUAN KITA AKAN HAYAT ILAHI
Untuk mempraktekkan prinsip-prinsip yang digambarkan dalam 6:17-49, kita memerlukan hayat ilahi. Hayat adalah faktor dasar dari setiap hakiki, perilaku, atau pekerjaan. Jika kita tidak memiliki suatu macam hayat ter-tentu, kita tidak akan memiliki hakiki semacam itu; juga tidak akan memiliki perilaku atau pekerjaan macam itu. Misalnya, sebuah pohon apel memiliki hayat pohon apel. Agar suatu pohon bisa menjadi pohon apel, pohon itu harus memiliki hayat pohon apel. Demikian juga, seekor monyet memiliki hayat monyet. Agar seekor binatang menjadi seekor monyet, maka binatang itu harus memiliki hayat monyet. Hanya dengan memiliki hayat monyet barulah seekor binatang bisa bertingkah laku seperti monyet. Butir yang penting di sini adalah bahwa jika kita ingin menjadi sesuatu dan bertingkah laku dengan cara tertentu, kita harus me-miliki hayat tertentu. Hayat adalah faktor dasar dari hakiki, perilaku, dan pekerjaan kita.
Manusia-Penyelamat memiliki hayat yang digambarkan dalam Injil Lukas pasal 6. Sebelum mati dan bangkit, Dia sendiri menempuh kehidupan yang demikian. Tetapi melalui kebangkitan-Nya, Dia telah menjadi Roh pemberi-hayat, dan sekarang Dia hidup di dalam kita. Kedambaan-Nya adalah di dalam kita menempuh kehidupan yang sama dengan kehidupan yang dulu Dia tempuh di bumi.
Dalam Filipi 1:21 Paulus membicarakan memperhi-dupkan Kristus. Ketika Kristus, manusia-Allah, hidup di bumi, Dia menempuh suatu kehidupan menurut standar mo-ralitas yang tertinggi. Sekarang Kristus hidup di dalam kita supaya kita dapat memperhidupkan Dia. Sebenarnya, Kris-tus itu sendiri adalah standar moralitas yang tertinggi, ka-rena Dia adalah manusia ciptaan Allah dalam Kejadian 1 ditambah dengan pohon hayat yang disinggung dalam Kejadian 2. Standar moralitas yang tertinggi ini sekarang adalah satu Persona yang hidup di dalam kita dan membuat kita dapat memperhidupkan Kristus. Inilah alasan Paulus berkata dalam Filipi 4:8, ”Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang ma-nis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut ke-bajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Ini ada-lah hidup menurut standar moralitas yang tertinggi, suatu moralitas yang sebenarnya adalah satu Persona, Kristus manusia-Allah.
Dalam 6:17-49 Tuhan mengajarkan standar moralitas yang tertinggi kepada kita. Saya harap banyak dari antara kita yang mempelajari pengajaran ini. Jika kita mendoabacakan ayat-ayat ini dan mencernanya, ini akan mempengaruhi hidup dan perilaku kita sehari-hari.
PENGAJARAN TUHAN BUKAN BERASAL
DARI DIRI-NYA SENDIRI
Pengajaran dalam 6:17-49 diberikan oleh manusia-Allah setelah Dia berdoa sepanjang malam dan setelah Dia me-nunjuk dua belas orang untuk menjadi rasul-rasul-Nya. Fakta bahwa Dia berdoa sepanjang malam itu menunjukkan bahwa Dia tidak memprakarsai pengajaran ini dan bukan Dia yang menjadi sumbernya.
Sebelum mengajar murid-murid di hadapan sejumlah besar orang yang tidak percaya, Tuhan Yesus berdoa. Berdoa adalah keluar dari diri kita sendiri dan masuk ke dalam Allah. Tentunya setelah meluangkan satu malam di dalam doa, Tuhan Yesus benar-benar keluar dari diri-Nya sendiri dan berada di dalam Allah Bapa. Karena itu, Dia menunjuk dua belas orang dan mengajarkan standar moralitas yang tertinggi kepada murid-murid adalah di dalam Bapa, bukan di dalam diri-Nya sendiri. Karena itu, pengajaran-Nya bukan berasal dari diri-Nya sendiri melainkan berasal dari Allah Bapa.
Kita perlu memiliki satu pemahaman yang jelas tentang latar belakang pengajaran Tuhan dalam pasal 6 ini. Jika tidak, kita tidak akan dapat turun ke bawah permukaan dari bagian Injil Lukas ini.
DUA UNSUR DASAR
DALAM PENGAJARAN TUHAN
Hayat Ilahi sebagai Sumbernya
Pengajaran Tuhan dalam 6:17-49 memiliki dua unsur dasar. Unsur-unsur ini adalah firman ilahi dan hayat ilahi. Bagaimana kita tahu bahwa pengajaran Tuhan di sini berdasar pada hayat dan firman ilahi? Perhatikanlah apa yang dikatakan Tuhan dalam ayat 35-36: ”Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.” Ayat-ayat ini menggambarkan kehidupan anak-anak Allah Yang Mahatinggi. Ungkapan ”anak-anak Allah Yang Mahatinggi” sesungguhnya menyiratkan hayat ilahi. Jika kita tidak memiliki hayat ilahi, bagaimana kita dapat men-jadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi? Tentu tidak mung-kin. Kehidupan menurut standar moralitas yang tertinggi berasal dari hayat ilahi yang olehnya kita dilahirkan dari Allah Yang Mahatinggi. Karena itu, ayat-ayat ini mutlak mengacu kepada hayat ilahi.
Petunjuk lainnya tentang hayat ilahi terdapat dalam ayat 43-44: ”Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.” Kita dapat mengatakan bahwa menghasilkan buah adalah kehidupan dari pohon buah. Setiap jenis pohon buah memiliki hayatnya sendiri, dan hayatnya adalah sumber dari buah yang dihasilkan oleh pohon itu. Kehidupannya berasal dari hayat. Hayat adalah sumbernya, dan kehidupan adalah hasilnya. Di sini Tuhan mengatakan bahwa kita, murid-murid-Nya, adalah pohon-pohon yang baik yang memiliki hayat ilahi. Dari hayat ini akan dihasilkan suatu kehidupan yang merupakan ekspresi Allah Tritunggal.
Kita tidak mungkin mengasihi musuh-musuh kita berdasarkan diri kita sendiri. Tetapi di dalam kita benar-benar ada satu hayat yang mengasihi musuh, yaitu hayat ilahi. Hayat ini adalah sumber dari standar moralitas yang tertinggi. Karena itu, standar moralitas yang tertinggi ada-lah hasil dan ekspresi dari hayat ilahi. Baik anak-anak Allah Yang Mahatinggi dalam ayat 35 maupun pohon-pohon yang baik dalam ayat 43, semuanya itu menunjukkan bahwa sumber standar moralitas yang tertinggi adalah hayat ilahi. Nampak ini adalah satu hal yang sangat penting bagi kita.
Kong Hu Cu tidak dapat menyajikan pengajaran yang terdapat dalam 6:17-49, karena ia tidak memiliki hayat ilahi atau mengenal hayat ilahi. Tetapi Yesus, manusia-Allah, mengenal hayat ilahi ini dan memilikinya. Sebenarnya, Dia sendiri adalah hayat ilahi, dan Dia menyalurkan diri-Nya sendiri kepada murid-murid sebagai hayat ilahi. Jadi, peng-ajaran-Nya sebenarnya adalah mengekspresikan hakiki-Nya sendiri. Karena Dia hidup menurut standar moralitas yang tertinggi, maka Dia mengajarkan moralitas ini kepada mu-rid-murid-Nya.
Firman sebagai Ekspresinya
Dalam 6:47-48 dengan jelas disinggung tentang firman Tuhan: ”Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mende-ngarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan —, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” Di sini kita nampak bahwa jika kita hidup dan bekerja menurut firman Tuhan, kita akan memiliki satu pondasi yang tepat. Firman Tuhan adalah pondasi dari ha-kiki, perilaku, dan pekerjaan kita.
Firman ilahi adalah ekspresi hayat ilahi. Hayat adalah yang di dalam, dan firman adalah penyampaian hayat yang di luar. Dalam Alkitab, firman itu disebut firman hayat (1 Yoh. 1:1; Kis. 5:20). Dalam Alkitab, firman ilahi dan hayat ilahi dianggap sebagai satu kesatuan. Bagaimana kita men-dapatkan hayat ilahi? Kita mendapatkan hayat ilahi melalui firman. Ketika kita menerima firman hayat, kita mendapatkan hayat. Kita semua perlu nampak bahwa pengajar-an Manusia-Penyelamat mengenai standar moralitas yang tertinggi mutlak berdasar pada hayat ilahi dengan ekspresinya —firman ilahi.
Hayat, Firman, dan Roh itu
Dalam Yohanes 6:63 Tuhan Yesus berkata, ”Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hayat” (Tl.). Hayat dan firman bergantung pada Roh. Jika tidak ada Roh, maka tidak akan ada hayat dan tidak ada firman yang sejati, riil. Firman yang adalah firman realitas sebenarnya adalah Roh itu. Maka, untuk memiliki hayat ilahi dan fir-man ilahi, kita harus memiliki Roh itu. Hari ini Roh itu ada-lah Kristus yang bangkit. Dalam kebangkitan, Kristus telah menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Sekarang karena kita memiliki Roh itu, kita juga memiliki hayat dan firman. Saya ingin menekankan fakta bahwa sebenarnya Roh itu adalah Kristus yang telah melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan Kristus adalah Roh itu, dan Roh itu adalah hayat dan firman.
Memperhidupkan Standar Moralitas yang Tertinggi
berdasarkan Hayat Ilahi dan melalui Firman Ilahi
Untuk memahami Lukas 6:17-49, pengajaran dari manusia-Allah mengenai standar moralitas yang tertinggi, kita perlu memiliki satu pandangan terhadap Perjanjian Baru secara menyeluruh. Jika kita tidak memiliki satu pan-dangan yang tepat terhadap seluruh Perjanjian Baru, ketika membaca 6:17-49, kita akan tersesat dan memahami bagian ini dengan cara alamiah. Beberapa orang membicarakan ayat-ayat ini dengan cara yang sama sekali alamiah. Orang-orang yang demikian belum pernah menjamah unsur pengajaran Tuhan di sini. Seperti yang telah kita tunjukkan, pengajaran Manusia-Penyelamat mengenai standar moralitas yang tertinggi itu tergantung pada unsur-unsur hayat ilahi, yang adalah sumbernya, dan firman ilahi, yang adalah eks-presinya. Bagaimana kita dapat memiliki standar moralitas yang tertinggi? Kita dapat memilikinya berdasarkan hayat ilahi dan melalui firman ilahi.