← Daftar isi Lukas (1) · bab 12/26

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (2)

Pembacaan Alkitab: Luk. 4:14-21, 31-44; 5:1-11

MENGUMUMKAN TAHUN RAHMAT TUHAN

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa Tuhan Yesus memulai ministri-Nya dengan mengu-mumkan yobel kasih karunia. Dalam firman dari 4:19, Dia mengumumkan tahun rahmat Tuhan. Ini adalah zaman Perjanjian Baru yang dilambangkan oleh tahun yobel (Im. 25:8-17). Tahun yobel adalah tahun kelima puluh, kesim-pulan dari setengah abad. Maka, menurut kitab Imamat, pa-da akhir dari setiap setengah abad akan ada satu tahun yang disebut tahun yobel dan juga disebut tahun rahmat. Tahun rahmat menandakan tahun Tuhan menerima orang-orang. Dalam Yesaya 61 ada satu nubuat mengenai penggenapan yobel ini.

Kelihatannya sebelum Lukas 4, orang-orang Yahudi tidak memahami perkataan Yesaya mengenai tahun rahmat Tuhan. Pada suatu hari, Tuhan Yesus masuk ke rumah ibadat dan membaca dari Yesaya 61 mengenai tahun rahmat Tuhan. Tahun rahmat ini adalah yobel Yehova.

Jangka Waktu Kehidupan Manusia yang Telah Jatuh

Setengah abad itu menandakan jangka waktu kehidupan manusia yang telah jatuh. Lima puluh tahun adalah jangka waktu seluruh kehidupan dari manusia yang telah jatuh. Dalam Mazmur 90:10 Musa mengatakan bahwa masa hidup kita tujuh puluh tahun dan jika kita kuat delapan puluh tahun. Menurut Musa jangka waktu hidup manusia adalah tujuh puluh tahun. Jika seseorang kuat, ia mungkin hidup sampai umur delapan puluh tahun. Menurut Alkitab, di satu pihak kehidupan seseorang dapat dianggap dimulai dari umur tiga puluh, umur seorang imam mulai menunaikan fungsi. Bahkan Tuhan Yesus juga berumur tiga puluh ketika Dia mulai menunaikan ministri (3:23). Tiga puluh ditambah lima puluh adalah delapan puluh. Maka, setengah abad, lima puluh tahun, menandakan jangka waktu kehidup-an seseorang di dalam kejatuhannya. Sebagai tahun yang ke-lima puluh, tahun yobel adalah kesimpulan dari seluruh ke-hidupan kita yang telah jatuh.

Apakah yang terjadi dengan kita dalam kehidupan kita yang telah jatuh? Kita kehilangan hak kesulungan, menjual diri ke dalam perbudakan, kehilangan kebebasan. Kita ke-hilangan segalanya, termasuk hak kesulungan dan status kita.

Orang yang tidak kehilangan segalanya tidak akan mengharapkan tahun yobel. Bagi orang yang demikian, yobel mungkin menjadi suatu penderitaan. Tetapi orang yang telah kehilangan segalanya, yang kehilangan tanah bahkan dirinya, akan sangat mengharapkan tahun yobel. Ketika ta-hun yobel tiba, ia akan bersukacita karena dibebaskan dan dapat memulihkan haknya atas tanah.

Setiap orang Israel diundikan satu bagian dari tanah permai. Tanah permai melambangkan Kristus. Karena itu, orang yang kehilangan hak atas tanah permai adalah ke-hilangan hak untuk menikmati Kristus. Setiap manusia yang telah jatuh telah kehilangan hak untuk menikmati Allah sebagai hayat dan menikmati Kristus sebagai tanah permai. Lagi pula, setiap orang yang telah jatuh telah men-jual dirinya sendiri kepada dosa, dunia, dan Iblis. Dalam Roma 7:14 Paulus berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.” Bahkan Paulus pun telah menjadi budak dosa.

Semua orang yang telah jatuh telah kehilangan hak mereka untuk menikmati Kristus dan telah menjual diri mereka kepada hal-hal yang negatif. Tetapi tahun yobel menunjukkan bahwa kita dapat dibebaskan dari belenggu dan kita dapat memulihkan hak untuk menikmati Kristus sebagai bagian kita.

Setelah Tuhan Yesus, Manusia-Penyelamat, diuji, Dia mulai menunaikan ministri. Pada permulaan ministri-Nya, Dia mengumumkan yobel, tahun rahmat Tuhan. Ini menun-jukkan bahwa seluruh zaman Perjanjian Baru sebenarnya adalah satu tahun, yaitu tahun yobel, tahun bagi Yehova un-tuk menerima manusia yang telah jatuh.

Injil yang Sesungguhnya

Pengumuman yobel adalah Injil yang sesungguhnya, Injil yang limpah dan sempurna. Injil yang hanya mencakup sebagian memberi tahu orang bahwa mereka adalah orang-orang dosa yang ditakdirkan untuk masuk neraka, tetapi Yesus mengasihi mereka dan telah mati di kayu salib bagi mereka, dan jika mereka percaya kepada-Nya, mereka akan memiliki hidup yang kekal. Itu hanyalah satu bagian dari yobel. Yobel adalah suatu pengumuman pembebasan dari perbudakan dan pemulihan hak kesulungan rohani kita. Yobel ini adalah tahun rahmat Tuhan.

Menurut Injil Lukas 4, Tuhan Yesus mengumumkan yobel pada suatu hari Sabat di Galilea. Tetapi selama ber-abad-abad kemudian, yobel telah diabaikan. Karena itu, kita perlu satu pemulihan yobel Perjanjian Baru.

Pemulihan Bagian Kita

Kita telah dipulihkan kepada kenikmatan terhadap Allah Tritunggal sebagai pohon hayat dan terhadap Kristus sebagai tanah permai kita, bagian kita. Tanah permai sebenarnya le-bih misterius daripada pohon hayat, karena tanah permai adalah penggenapan dari pohon hayat itu. Adam tidak ma-kan buah pohon hayat, tetapi bangsa Israel mengambil ba-gian dalam kekayaan tanah permai itu. Hari ini kita sedang menikmati Allah Tritunggal sebagai pohon hayat, dan bah-kan, kita sedang menikmati Kristus sebagai tanah permai. Puji Tuhan bahwa kita memiliki bagian dalam tanah permai ini! Menurut Kolose 1:12, bagian ini adalah bagian orang-orang kudus. Ini membuktikan bahwa hak kesulungan kita yang telah hilang, telah dipulihkan di dalam yobel Perjanjian Baru.

Dibebaskan dari Belenggu

Dalam tahun yobel ini kita juga telah dibebaskan dari belenggu. Dulu kita adalah orang-orang yang tertawan, te-tapi kini kita telah dibebaskan dari perbudakan dan dibawa kembali kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Ini adalah satu petunjuk lebih jauh bahwa kita ada di dalam yobel Perjanjian Baru.

Dipulihkan kepada Keadaan Kita yang Semula

Menurut Imamat 25, dalam tahun yobel setiap orang dipulihkan kepada keadaannya yang semula. Karena zaman Perjanjian Baru adalah tahun yobel yang sesungguhnya, ini berarti Allah akan memulihkan kita kepada keadaan kita yang semula. Di dalam Adam kita telah hilang, menjual diri kepada dosa sebagai budak-budak dosa. Tetapi sekarang, Yesus, Manusia-Penyelamat telah datang, dan Dia telah mendatangkan tahun rahmat Tuhan. Tahun rahmat Tuhan ini, ada di dalam Perjanjian Baru, merupakan penggenapan yobel Perjanjian Lama. Dalam tahun ini kita telah dibebaskan, dan hak kesulungan kita yang hilang telah dipulihkan, ditebus, dan dikembalikan.

AMANAT EMPAT GANDA MANUSIA-PENYELAMAT

Kita telah menekankan fakta bahwa Injil Lukas menya-jikan Manusia-Penyelamat dalam standar moralitas yang tertinggi. Kasus-kasus yang tercatat dalam Injil Lukas memperlihatkan berbagai aspek dari standar moralitas yang tertinggi. Pengisahan kejadian-kejadian dalam 4:38-41; 5:12-14, dan 7:1-10 sesuai dengan susunan moralitas. Karena alasan inilah maka pengisahan dalam Injil Lukas berbeda dengan pengisahan dalam Matius 8:2-16 dan Markus 1:29— 2:1. Susunan catatan Markus, yang memperlihatkan bahwa Yesus adalah Hamba Allah, sesuai dengan urutan sejarah. Susunan catatan Matius, yang membuktikan bahwa Kristus adalah Raja dari Kerajaan Surga, sesuai dengan doktrin, menjajarkan kejadian-kejadian tertentu untuk menyajikan suatu doktrin. Susunan catatan Lukas, yang menyingkapkan bahwa Yesus adalah manusia yang tepat untuk menjadi Penyelamat kita, sesuai dengan moralitas.

Mengajar

Dalam Lukas 4:31-44 Manusia-Penyelamat melaksanakan amanat empat ganda-Nya: mengajar, mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan, dan memberitakan Injil. Ayat 31 mengatakan bahwa Dia datang ke Kapernaum dan mengajar pada hari Sabat. Seperti yang telah kita tunjukkan, peng-ajaran-Nya melepaskan firman terang untuk menerangi orang-orang yang berada dalam kegelapan kematian (Mat. 4:12-16) supaya mereka dapat menerima terang hayat (Yoh. 1:4).

Lukas 4:32 mengatakan bahwa orang-orang ”takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.” Sebagai Orang yang diberi kuasa oleh Allah, Tuhan Yesus mengajarkan realitas; sedangkan ahli-ahli Taurat mengajarkan pengetahuan yang sia-sia tanpa kuasa, tanpa kekuatan. Manusia-Penyelamat bukan hanya memiliki kuasa rohani untuk menundukkan orang-orang, tetapi juga memiliki kuasa ilahi untuk menundukkan mereka kepada pemerintahan ilahi.

Mengusir Roh-roh Jahat

Dalam 4:33-36 kita nampak catatan tentang Tuhan mengusir roh jahat. Dalam ayat 33 kita nampak bahwa di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh najis. Roh semacam ini berbeda dengan malaikat yang telah jatuh. Roh jahat adalah salah satu roh dari makhluk-makhluk hidup yang hidup di zaman sebelum Adam dan yang telah dihakimi oleh Allah ketika mereka bergabung dengan pemberontakan Satan, Iblis (lihat Pelajaran-Hayat Kejadian Berita 2). Malaikat-malaikat yang telah jatuh itu bekerja sama dengan Iblis di angkasa (Ef. 2:2; 6:11-12), dan roh-roh jahat ini, roh-roh najis, bergerak dengan Iblis di bumi. Keduanya bertindak dengan jahat kepada manusia ba-gi kerajaan Iblis. Roh jahat yang merasuk seseorang itu menandakan perampasan Iblis atas manusia, yang dicipta-kan Allah bagi tujuan-Nya. Dalam ministri-Nya, Manusia-Penyelamat ini mengusir roh-roh jahat dari orang-orang yang kerasukan supaya mereka dapat dibebaskan dari belenggu Iblis (Luk. 13:16), keluar dari kuasa kegelapan Iblis (Kis. 26:18; Kol. 1:13), masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Dalam 4:34 roh jahat itu berkata, ”Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah Eng-kau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” “Hai!” di sini merupakan sebuah kata seru yang mengekspresikan kemarahan atau kejengkelan. Bahasa Yunaninya dapat diterjemahkan ”Jangan urus kami.” Kata Yunani yang diterjemahkan, ”Apa urusan-Mu dengan kami?” secara harfiah berarti, “Apa hu-bungan kami dengan-Mu?” Ini adalah ungkapan bahasa Ibrani.

Ayat 35 mengatakan, ”Tetapi Yesus membentaknya, ’Diam, keluarlah dari dia!’ Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya.”

Setelah Tuhan mengusir roh jahat itu, ”Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, ’Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar’” (ay. 36). Di sini kita nampak bahwa Manusia-Penyelamat memiliki kuasa dan kekuatan. untuk mengusir roh-roh jahat. Bagi ministri-Nya, Dia memiliki kuasa ilahi bukan hanya untuk mengajar orang-orang, tetapi juga untuk mengusir roh-roh jahat.

Menyembuhkan

Dalam 4:38-39 terdapat catatan tentang Tuhan menyembuhkan ibu mertua Simon yang terserang penyakit demam keras. Demam ini menandakan temperamen seseorang yang tidak terkekang, yang abnormal, dan tanpa kendali.

Lukas 4:40 mengatakan, ”Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.” Penyakit adalah satu akibat dari dosa dan tanda dari keadaan manusia yang tidak normal di hadapan Allah karena dosa. Sebab itu, dalam ministri-Nya Manusia-Penyelamat ini menyembuhkan keadaan orang-orang sakit itu baik secara jasmani maupun secara rohani untuk memulihkan mereka kepada keadaan yang normal, supaya mereka dapat melayani Dia.

Memberitakan Injil

Selain mengajar, mengusir roh-roh jahat, dan menyembuhkan yang sakit, Tuhan juga ”memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea” (4:44). Pemberitaan Manusia-Penyelamat adalah pengumuman berita suka oleh Allah kepada orang-orang yang kasihan yang berada dalam beleng-gu (ay. 43). Pengajaran-Nya menerangi ketidaktahuan orang-orang yang berada di dalam kegelapan itu dengan terang kebenaran ilahi. Pemberitaan-Nya mencakup pengajaran, dan pengajaran-Nya mencakup pemberitaan.

MENARIK ORANG-ORANG YANG DIJAJAH

Kini kita akan membahas 5:1-11, sebuah kasus tentang Manusia-Penyelamat menarik orang-orang yang dijajah.

Lukas 5:1 mengatakan, ”Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak menge-rumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.” ”Gene-saret” adalah nama yang umum untuk Laut Galilea (Mat. 4:18; Mrk. 1:16).

Manusia yang Jatuh Dijajah oleh Hal Mencari Nafkah

Panggilan terhadap empat murid yang pertama adalah suatu panggilan yang menarik orang-orang yang dijajah. Manusia tidak sadar bahwa mereka telah jatuh bukan hanya dalam dosa, tetapi juga dalam pekerjaan mereka. Pekerjaan kita adalah usaha kita atau sarana pekerjaan, yaitu sarana kita untuk mencari nafkah. Hari ini, manusia yang jatuh telah dijajah oleh cara mereka mencari nafkah. Kita dapat mengatakan bahwa manusia yang jatuh itu dijajah oleh pekerjaan mereka.

Memang, kita perlu bekerja. Paulus memperingatkan kaum beriman untuk bekerja bagi kehidupannya (2 Tes. 3:10-12). Kita tidak boleh bersandar kepada orang lain untuk menyediakan keperluan hidup kita. Ini berarti kita tidak boleh memiliki iman yang menuntut orang lain untuk me-nunjukkan kasih mereka dengan memperhatikan kita. Kita perlu memiliki satu pekerjaan. Namun, masalahnya adalah pekerjaan kita menjajah kita dan menjauhkan kita dari Allah.

Manusia diciptakan oleh Allah bagi diri-Nya sendiri, te-tapi mereka dijajah dan dijauhkan dari Allah oleh hal mencari nafkah. Tidak ada sesuatu yang menjauhkan orang-orang dari Allah melebihi pekerjaan mereka. Lihatlah dunia pada hari ini. Siapakah yang tidak dijajah oleh pekerjaannya atau oleh pendidikan dalam mempersiapkan pekerjaannya? Meskipun banyak orang yang sibuk, tetapi hampir tidak ada orang yang sibuk bersama Allah. Sebaliknya, sebenarnya se-tiap orang dijajah oleh sesuatu yang menggantikan Allah. Murid-murid yang pertama dipanggil dan ditarik oleh Tuhan bukan dari kehidupan mereka yang penuh dosa, melainkan dari pekerjaan mereka. Khususnya, Petrus, Andreas, Yakbus, dan Yohanes yang dijajah oleh hal menjala ikan.

Orang-orang yang dijajah oleh hal mencari nafkah biasanya memberikan alasan-alasan ketika mereka diundang untuk mendengarkan Injil atau menghadiri perhimpunan gereja. Jika Anda mengundang orang yang demikian untuk mendengar Injil, ia mungkin mengatakan bahwa ia tidak ada waktu. Jika Anda mengundang orang yang dijajah untuk menghadiri perhimpunan gereja, ia mungkin mengatakan bahwa ia sibuk sekali. Itulah sebabnya, segera setelah me-mulai melaksanakan amanat empat ganda-Nya, Manusia-Penyelamat dalam 5:1-11 melakukan sesuatu untuk menarik orang-orang yang dijajah itu.

Kerajaan Iblis adalah menjajah orang-orang dengan hal mencari nafkah. Ini diilustrasikan oleh hal yang dilakukan Firaun kepada bangsa Israel. Ketika Musa meminta Firaun untuk membiarkan umat Allah pergi, Firaun berusaha se-bisanya untuk terus menjajah mereka oleh pekerjaan-peker-jaan mereka. Sama halnya dengan Petrus, Andreas, Yako-bus, dan Yohanes yang demikian sibuk dan terjajah. Meski-pun demikian, Tuhan Yesus datang kepada mereka, menarik mereka, dan memanggil mereka.

Mujizat yang Berhubungan dengan Menjala Ikan

Dalam 5:2-10a terdapat catatan tentang Manusia-Penyelamat menarik beberapa orang yang dijajah oleh hal mencari nafkah. Catatan ini tidak ditemukan dalam Matius 4:18-22 maupun dalam Markus 1:16-20. Sewaktu kita membaca Matius dan Markus, kita mungkin heran mengapa Petrus dan orang-orang lainnya segera mengikuti Tuhan begitu Tuhan memangil mereka untuk mengikuti Dia. Di sini, da-lam Lukas 5 terdapat satu catatan tambahan yang menun-jukkan bahwa ketika Tuhan Yesus memanggil Petrus, Dia melakukan satu mujizat yang berhubungan dengan menjala ikan. Tuhan melakukan satu mujizat yang sama dalam Yohanes 21, setelah kebangkitan-Nya. Mujizat dalam Lukas 5 adalah bagian dari daya tarik Tuhan terhadap orang-orang yang dijajah. Mujizat ini menarik Petrus kepada Manusia-Penyelamat.

Beberapa tahun kemudian, setelah Tuhan bangkit, sepertinya Petrus tidak melakukan apa-apa, dan ia mengumumkan bahwa ia akan pergi menjala ikan (Yoh. 21:3). Beberapa orang mengikuti dia. Karena mereka kembali kepada pekerjaan mereka yang semula, maka Tuhan Yesus datang kembali kepada mereka, mengadakan mujizat yang kedua yang berhubungan dengan menjala ikan untuk me-narik Petrus kepada diri-Nya lagi. Sebab itu, demi Petrus, Tuhan dua kali melakukan mujizat yang berhubungan de-ngan menjala ikan.

Panggilan terhadap Petrus dalam Lukas 5:1-11 ini berhubungan dengan standar moralitas yang tertinggi. Ayat 2 mengatakan, ”Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.” Tuhan naik ke dalam perahu Simon, dan menyuruh dia me-nolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai (ay. 3). Dia mengajar orang banyak dari perahu itu dan ketika Dia ber-henti berbicara, Dia berkata kepada Simon, ”Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menang-kap ikan” (ay. 4). Simon menjawab, ”Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga” (ay. 5). Sebelum peristiwa ini, Simon telah dibawa kepada Tuhan oleh saudaranya, Andreas (Yoh. 1:40-42).

Dalam ayat 5 Simon menyebut Tuhan sebagai Guru. Dalam bahasa Yunaninya menunjukkan seorang yang melakukan suatu pengawasan.

Petrus adalah seorang nelayan profesional, di danau itu terdapat banyak ikan, dan malam hari adalah waktu yang tepat untuk menjala ikan. Meskipun demikian, mereka tidak menangkap apa-apa. Ini pasti dikarenakan Tuhan meng-gunakan kedaulatan-Nya untuk menjauhkan ikan-ikan itu, ini tidak menggunakan kebajikan insani-Nya, melainkan menggunakan atribut ilahi-Nya.

Alasan Tuhan menggunakan kedaulatan-Nya dengan cara demikian adalah Dia bermaksud menarik Simon dan saudaranya. Karena itu, pada waktu yang tepat, Tuhan memerintahkan ikan itu untuk datang mendekat. Hasilnya, ”mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala me-reka mulai koyak” (ay. 6). Kedua perahu itu penuh dengan ikan hingga hampir tenggelam (ay. 7). ”Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, ’Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa’” (ay. 8). Tercatat bahwa ”ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap” (ay. 9).

Di sini yang penting adalah bahwa dalam mujizat ini kita dapat melihat kebajikan insani Tuhan dan atribut ilahi-Nya. Kebajikan insani yang mengekspresikan atribut ilahi. Ini berarti, Manusia-Penyelamat ini menempuh suatu ke-hidupan yang penuh dengan kebajikan insani, dan kebajikan insani ini mengekspresikan atribut ilahi. Karena Manusia-Penyelamat hidup dengan cara ini, maka Petrus dan orang-orang lainnya tertarik kepada Tuhan dan mengikuti Dia.

Penjala-penjala Manusia

Dalam 5:10 Tuhan Yesus berkata kepada Simon, ”Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manu-sia.” Ini adalah panggilan Tuhan kepada Petrus melalui suatu mujizat dalam hal menjala ikan. Kata Yunani untuk ”menjala” adalah zogreo, yang terdiri atas zoos, hidup dan agreuo, menangkap; jadi artinya, menangkap hidup-hidup, menangkap tawanan perang hidup-hidup, bukan membu-nuhnya. Para nelayan biasanya menangkap ikan untuk mematikannya. Tetapi Petrus dipanggil Tuhan untuk men-jadi penjala manusia (Mat. 4:19) untuk menjala manusia supaya mendapatkan hayat (Kis. 2:38; 11:15).

Lukas 5:11 mengatakan, ”Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala se-suatu, lalu mengikut Yesus.” Mereka tertarik oleh sesuatu yang dilakukan Tuhan dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya.

Maksud Lukas dalam 5:1-11 adalah memperlihatkan bagaimana Manusia-Penyelamat berperilaku di dalam minis-tri-Nya dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya. Hal ini menarik orang-orang dan mendapatkan me-reka. Ini adalah cara Manusia-Penyelamat merampungkan ministri-Nya.