Daftar isi Lukas (1) · Berita Kesebelas · bab 11/26

Berita Kesebelas

MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (1)

Pembacaan Alkitab: Luk. 4:14-44

Dalam berita ini kita akan membahas 4:14-44. Ayat-ayat ini memulai bagian utama ketiga dari Injil Lukas. Bagian pertama adalah pendahuluan (1:1-4), dan yang kedua berkenaan dengan persiapan Manusia-Penyelamat dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya (1:5—4:13). Bagian yang ketiga, yang cukup panjang, mencakup ministri Manusia-Penyelamat dalam kebajikan insani-Nya dengan Atribut ilahi-Nya (4:14—19:27). Dalam 4:14—9:50 kita tampak ministri Manusia-Penyelamat di Galilea. Kemudian dari 9:51—19:27 terdapat catatan tentang ministri-Nya dari Galilea ke Yerusalem.

KEBAJIKAN INSANI DAN ATRIBUT ILAHI

MANUSIA-PENYELAMAT

Ministri Manusia-Penyelamat dilaksanakan dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya. Kita telah tampak bahwa persiapan Manusia-Penyelamat dilaksanakan dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya. Keterkandungan, kelahiran, dan pertumbuhan Manusia-Penyelamat semuanya dilaksanakan dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya. Setelah menjalani satu persiapan yang penuh, Dia mulai menunaikan ministri-Nya. Sama seperti persiapan-Nya, ministri-Nya juga dilaksanakan dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya. Khususnya, ministri-Nya bukan hanya dalam keinsanian-Nya, tetapi juga dalam kebajikan insani-Nya, dan bukan hanya dalam keilahian-Nya, tetapi juga dalam atribut ilahi-Nya. Manusia-Penyelamat menunaikan ministri-Nya dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya.

Kasus Seorang Perempuan Berdosa

Untuk membantu memahami pernyataan ”dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya,” marilah kita memakai beberapa kasus dalam Injil Lukas sebagai ilustrasi. Dalam 7:36-50 ada seorang perempuan berdosa yang masuk ke dalam rumah seorang Farisi yang mengundang Tuhan Yesus makan bersamanya. Sewaktu kita membaca catatan kejadian ini, kita tampak bahwa Yesus, Manusia-Penyelamat ini, berperilaku dalam kebajikan insani-Nya. Dia sama sekali tidak terganggu oleh perempuan yang berdosa itu, sekalipun ketika ia ”membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya” dan ketika “ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu” (ay. 38). Jika kita adalah Tuhan Yesus, kita mungkin akan terganggu oleh tindakan perempuan ini. Kita mungkin akan berkata kepadanya, ”Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah tamu di rumah ini? Tidakkah kamu lihat bahwa aku sedang makan?” Namun, bertindak dengan cara demikian bukanlah bertindak dalam kebajikan insani yang tepat. Dalam situasi itu Manusia-Penyelamat sangat ramah dan sabar, sadar bahwa perempuan ini telah insaf dari dosadosanya.

Manusia-Penyelamat ini juga penuh rahmat. Orang sering membicarakan kasih, tetapi jarang sekali membicarakan rahmat. Namun, rahmat itu lebih lembut daripada kasih. Penuh rahmat adalah bersimpati terhadap orang lain karena keadaan mereka yang miskin dan rendah.

Selain melakukan kebaikan, kesabaran, dan rahmat terhadap perempuan itu, Tuhan Yesus juga bersimpati kepadanya. Kita sering tidak bersimpati kepada orang lain, tetapi Tuhan Yesus penuh simpati dalam kasus perempuan ini. Lagi pula, Dia itu penuh hikmat dan penuh kasih.

Mungkin Anda ingin mengetahui atribut ilahi apa yang diekspresikan dalam 7:36-50. Pertama, di sini ada pengampunan ilahi (7:47-48). Allah adalah satu-satunya yang dapat mengaruniakan pengampunan dosa. Hanya Dia yang layak mengampuni dosa. Karena itu, pengampunan adalah salah satu dari atribut ilahi.

Dalam 7:50 Tuhan Yesus berkata kepada perempuan itu, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” Memberikan damai sejahtera juga adalah atribut ilahi. Allah adalah satu-satunya yang dapat memberikan damai sejahtera batiniah.

Dalam 7:36-50 kita tampak Manusia-Penyelamat di dalam rumah seorang Farisi berperilaku dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya. Dia dapat berperilaku demikian karena Dia adalah manusia-Allah. Kita dapat mengatakan bahwa Dia adalah seorang manusia yang diperlengkapi oleh Allah dan dengan Allah. Dia memiliki segala kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah, Dia juga memiliki atribut ilahi. Karena itu, Dia berperilaku dalam standar moralitas yang tertinggi, sebab kebajikan insani-Nya mengekspresikan atribut ilahi-Nya.

Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati

Kebajikan insani dan atribut ilahi Manusia-Penyelamat juga diwahyukan dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati (10:25-37). Orang Samaria yang baik hati ini melambangkan Manusia-Penyelamat. Mudah sekali kita tampak kebajikan insani dari orang Samaria ini, tetapi dalam perumpamaan ini, di manakah atribut ilahinya? Atribut ilahi Tuhan terlihat dalam hal orang Samaria itu membawa orang yang terluka itu ke sebuah penginapan. ”Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali” (10:35). Di sini kita tampak sesuatu yang berasal dari atribut ilahi Tuhan. Selain Tuhan siapakah yang dapat melakukan hal-hal dengan cara yang tidak terduga, yang tidak diketahui sebelumnya? Jika Dia ini bukan Allah, bagaimana mungkin Dia dapat mengucapkan kata-kata ini kepada pemilik penginapan itu? Perbuatan Tuhan yang tidak terduga itu dapat dianggap sebagai satu ekspresi dari atribut ilahi-Nya.

Perkataan Tuhan kepada Seorang Penyamun

Tuhan juga berperilaku dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya ketika Dia di atas salib. Seorang penyamun berkata kepada-Nya, ”Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (23:42). Tuhan menjawab, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ay. 43). Di sini kita tampak kebajikan insani mengekspresikan atribut ilahi. Dalam perkataan Tuhan kepada penyamun itu, kita bukan hanya tampak kebajikan insani, tetapi juga atribut ilahi dinyatakan dalam kebajikan insani Tuhan. Meskipun Dia adalah seorang Manusia, Dia dipenuhi dengan semua atribut ilahi. Karena itu, Dia dapat bertindak dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya. Ilustrasi-ilustrasi ini seharusnya membantu kita memahami bagaimana Tuhan melayani dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya.

MENGUMUMKAN TAHUN YOBEL

KASIH KARUNIA

Lukas 4:14-15 mengatakan, ”Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.” Roh dalam ayat 14 adalah Roh Kudus yang turun ke atas diri Tuhan Yesus pada waktu Dia dibaptis bagi perampungan ministri-Nya. Karena itu, Dia memiliki Roh Kudus baik secara esensial untuk hakiki-Nya, maupun secara ekonomikal untuk ministri-Nya.

Mengajar di Rumah-rumah Ibadat

Menurut ayat 15, Tuhan mengajar di rumah-rumah ibadat. Rumah ibadat adalah tempat berhimpun di mana orang-orang Yahudi membaca dan mempelajari Kitab Suci (Kis. 13:14-15).

Kejatuhan manusia ke dalam dosa merusak persekutuan manusia dengan Allah, membuat semua manusia mengabaikan pengetahuan akan Allah. Ketidaktahuan ini pertama-tama menghasilkan kegelapan dan kemudian kematian. Manusia-Penyelamat, sebagai terang dunia (Yoh. 8:12; 9:5), datang ke Galilea, negeri kegelapan, di mana orang duduk di dalam bayang-bayang kematian, sebagai terang yang besar untuk menerangi mereka (Mat. 4:12-16). Pengajaran-Nya memberikan firman terang untuk menerangi orang-orang di dalam kegelapan kematian itu supaya mereka dapat menerima terang hayat (Yoh. 1:4). Pengajaran Manusia-Penyelamat ini membawa orang-orang keluar dari kegelapan Iblis ke dalam terang ilahi (Kis. 26:18).

Roh Tuhan ada pada Manusia-Penyelamat

Manusia-Penyelamat datang ke Nazaret, tempat Dia dibesarkan. Menurut kebiasaan-Nya, Dia masuk ke dalam rumah ibadat pada hari Sabat dan berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya. Kemudian Dia membuka kitab itu dan menemukan nas di mana ada tertulis, ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (4:18-19). Setelah Tuhan menutup kitab itu dan memberikannya kembali kepada pejabat, lalu Dia duduk. Kemudian Dia berkata kepada orang-orang, ”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (ay. 21).

Di sini kita tampak bahwa Roh Tuhan ada pada Manusia-Penyelamat karena Allah telah mengurapi Dia untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”menyampaikan kabar baik” berarti memberitakan kabar gembira, kabar baik. Memberitakan Injil adalah amanat pertama Penyelamat sebagai Yang diurapi Allah, Mesias. Kabar baik harus diberitakan kepada orang-orang miskin, yaitu, miskin dalam hal-hal surgawi, rohani, dan ilahi (12:21; Why. 3:17; lihat Mat. 5:3).

Lukas 4:18 membicarakan orang-orang tawanan, orang-orang buta, dan orang-orang yang tertindas. Orang-orang tawanan adalah para tawanan perang, yang dibuang dan ditawan di bawah belenggu Iblis (Yes. 42:7). Orang-orang buta meliputi orang-orang yang buta secara fisik dan secara rohani (Zef. 1:17; Yoh. 9:39-41; 1 Yoh. 2:11; Why. 3:17). Memulihkan penglihatan itu berhubungan dengan membebaskan dari kuat kuasa Iblis (Kis. 26:18). Kata ”tertindas” dalam bahasa Yunaninya berasal dari satu kata kerja yang berarti pecah berkeping-keping (Mat. 12:20). Orang-orang yang tertindas adalah orang-orang yang tertindas di bawah Iblis dalam penyakit atau dalam dosa (Luk. 13:11-13; Yoh. 8:34).

Tahun Rahmat Tuhan

Dalam Lukas 4:19 kita tampak Manusia-Penyelamat diurapi untuk ”memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Tahun rahmat (Yobel) ini adalah zaman Perjanjian Baru yang dilambangkan oleh tahun yobel (Im. 25:8-17), saat Allah menerima tawanan-tawanan dosa yang kembali (Yes. 49:8; 2 Kor. 6:2) dan saat orang-orang yang tertindas di bawah belenggu dosa menikmati pembebasan yang berasal dari keselamatan Allah.

Dalam 4:18-19 Manusia-Penyelamat mengumumkan yobel kasih karunia. Ini menunjukkan bahwa Dia memulai ministri-Nya dengan memploklamirkan yobel kasih karunia. Istilah ”tahun rahmat Tuhan” menunjukkan yobel yang digambarkan dalam Imamat 25. Menurut pasal ini, tahun yobel adalah saat budak-budak dibebaskan dan tanah pusaka dikembalikan kepada para pemiliknya. Maka, tahun yobel adalah tahun pembebasan, tahun kebebasan, dan tahun kembalinya tanah milik yang hilang. Orang-orang yang telah dijual sebagai budak dibebaskan selama tahun yobel itu.

Kata-kata Kasih Karunia

Lukas 4:22 mengatakan, ”Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka, ‘Bukankah Ia ini anak Yusuf?’” Kata-kata indah (kasih karunia) mengacu kepada kata-kata dalam ayat 21, termasuk kata-kata dalam ayat 18 dan 19, yang adalah kata-kata Injil. Ayat 22 menunjukkan bahwa orang-orang di rumah ibadat itu mengenal Penyelamat menurut daging (2 Kor. 5:16), bukan menurut Roh (Rm. 1:4).

Meskipun orang-orang heran akan kata-kata kasih karunia yang diucapkan Tuhan, namun kelihatannya mereka tidak memahami kata-kata ini. Ini adalah permulaan yang sebenarnya dari zaman kasih karunia. Zaman sebelumnya adalah zaman hukum Taurat. Tetapi yobel ilahi dalam Lukas 4, yobel kasih karunia, diumumkan oleh Manusia-Penyelamat.

Dalam 4:23-27 Tuhan Yesus memperingatkan orang-orang dengan memakai kasus janda Sarfat, yakni kasus pemberian makan, dan kasus Naaman orang Siria, yakni kasus pentahiran. Kasus janda Sarfat adalah suatu kasus pemberian makan, menunjukkan Tuhan memberi makan orang-orang yang lapar (Yoh. 6:33, 35). Kasus Naaman adalah suatu kasus pentahiran, yang menunjukkan Tuhan melahirkan orang-orang dosa (1 Kor. 6:11). Penyelamat menyinggung dua kasus ini menyiratkan bahwa Injil-Nya akan beralih kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (Kis. 13:45-48). Ini bukan berarti bahwa standar moralitas-Nya tidak dapat merangkul orang-orang Yahudi, melainkan karena orang-orang Yahudi yang keras hati itu menolak Dia.

Lukas 4:28-30 mengatakan, ”Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.” Sungguh tidak beralasan bagi orang-orang di rumah ibadat itu menjadi sangat marah. Meskipun mereka heran akan kata-kata kasih karunia yang diucapkan Tuhan, tetapi mereka sangat marah. Mereka bangkit, lalu menghalau Dia keluar kota dan membawa-Nya ke tebing gunung. Tetapi Dia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Ini menunjukkan kemantapan-Nya dalam menghadapi ancaman para penentang-Nya.

MELAKSANAKAN AMANAT EMPAT GANDA-NYA

Dalam 4:31-44 Manusia-Penyelamat ini melaksanakan amanat empat ganda-Nya. Amanat ini meliputi mengajar (ay. 31-32), mengusir roh-roh jahat (ay. 33-37, 41), menyembuhkan penyakit (ay. 38-40), dan memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah (ay. 42-44). Ketika orang banyak itu berusaha menahan Tuhan Yesus, Dia berkata, ”Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (ay. 43). Seperti dalam ayat 18, kata ”memberitakan Injil” dalam bahasa aslinya berarti memberitakan kabar gembira, memberitakan kabar baik, mengumumkan kabar suka, memberitakan Injil. Jadi, memberitakan Injil Kerajaan Allah adalah memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil, sebagai kabar baik.

Kerajaan Allah adalah Penyelamat (17:21) sebagai benih hayat yang ditaburkan ke dalam kaum beriman-Nya, yaitu umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang ke dalam suatu alam, yakni Kerajaan Allah, yang di dalamnya Allah dapat memerintah dalam hayat ilahi-Nya. Jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah kelahiran kembali (Yoh. 3:5), dan perkembangan kerajaan adalah pertumbuhan kaum beriman dalam hayat ilahi (2 Ptr. 1:3-11). Kerajaan adalah kehidupan gereja hari ini, yang di dalamnya kaum beriman yang setia hidup (Rm. 14:17), dan akan berkembang ke dalam kerajaan yang akan datang sebagai suatu pahala untuk diwarisi (Gal. 5:21; Ef. 5:5) oleh kaum saleh pemenang dalam Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4, 6). Akhirnya, kerajaan akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai Kerajaan Allah yang kekal, suatu alam kekal dari berkat kekal hayat kekal Allah, yang akan dinikmati oleh seluruh umat tebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru sampai selama-lamanya (Why. 21:1-4; 22:1-5, 14). Kerajaan yang demikian, Kerajaan Allah, merupakan apa yang diberitakan di sini sebagai Injil, berita gembira, oleh Penyelamat kepada mereka yang terpisah dari hayat Allah (Ef. 4:18).