Daftar isi Lukas (1) · Berita Kesepuluh · bab 10/26

Berita Kesepuluh

PERSIAPAN MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEINSANIAN-NYA DENGAN KEILAHIAN-NYA (8)

Pembacaan Alkitab: Luk. 3:21-22; 4:1-13

BEBERAPA ORANG YANG TERLIBAT

DALAM PERSIAPAN MANUSIA-PENYELAMAT

Penghulu Malaikat Gabriel

Dalam tiga setengah pasal yang pertama dari Injil Lukas kita tampak ada dua malaikat dan sejumlah manusia yang terlibat dalam persiapan Manusia-Penyelamat ini. Dalam 1:30-35 terdapat nubuat dari penghulu malaikat Gabriel, yang datang kepada Maria dan memberitahukannya bahwa Allah menghendaki dia mengandung Manusia-Penyelamat. Dalam nubuat itu Gabriel membicarakan empat hal mengenai kedatangan Manusia-Penyelamat. Pertama, Gabriel mengatakan bahwa Manusia-Penyelamat akan disebut Yesus (1:31), yang berarti Yehova Penyelamat, atau keselamatan Yehova. Kedua, Gabriel mengatakan bahwa Manusia-Penyelamat yang akan datang ini akan disebut Putra dari Yang Mahatinggi (ay. 32), satu gelar yang mengacu kepada ke-Allahan-Nya. Ketiga, Gabriel berkata, ”Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya” (ay. 32). Di sini kita tampak bahwa dalam keinsanian-Nya, Penyelamat yang akan datang ini adalah keturunan Daud. Keempat, Penghulu malaikat Gabriel menyebut Penyelamat yang akan datang ini sebagai ”yang kudus” yang akan lahir dan akan disebut Putra Allah (ay. 35). Karena itu, menurut perkataan Gabriel, Manusia-Penyelamat ini adalah Yesus, Putra dari Yang Mahatinggi, keturunan Daud, dan yang kudus.

Elisabet

Dalam 1:42-43 terdapat bagian tentang berkat Elisabet, satu berkat oleh Roh Kudus. Dalam ayat-ayat ini Elisabet berkata, ”Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Di sini Elisabet membicarakan Manusia-Penyelamat sebagai buah rahim Maria dan sebagai Tuhan. ”Buah” mengacu kepada keinsanian-Nya, dan “Tuhan” mengacu kepada ke-Allahan-Nya.

Zakharia

Dalam nubuat Zakharia, bapa Yohanes Pembaptis, terdapat tiga perkara mengenai Manusia-Penyelamat. Dalam 1:69 Zakharia membicarakan Dia sebagai ”tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud.” Kemudian dalam 1:78 ia membicarakan Dia sebagai ”Surya pagi dari tempat yang tinggi” yang akan melawat kita. Dalam ayat 76 Zakharia juga menyebut Manusia-Penyelamat ini sebagai Tuhan. Tanduk keselamatan mengacu kepada keinsanian Tuhan; Surya pagi dari tempat yang tinggi menunjukkan keilahian-Nya. Zakharia tahu bahwa putranya, Yohanes, akan mempersiapkan jalan bagi Dia, yang adalah Tuhan.

Malaikat Lain

Dalam 2:11 terdapat pengumuman malaikat pada kelahiran Manusia-Penyelamat: ”Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Dalam pengumuman malaikat ini Manusia-Penyelamat disebut sebagai Juruselamat, Kristus, dan Tuhan.

Simeon

Ada lebih banyak aspek dari Manusia-Penyelamat yang diwahyukan dalam penyembahan Simeon terhadap-Nya. Dalam 2:25, 30-32 dan 34 kita tampak bahwa Manusia-Penyelamat ini diwahyukan sebagai penghiburan Israel, keselamatan Allah bagi semua orang, terang bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, kemuliaan Israel, satu ujian bagi Israel, dan satu tanda yang menimbulkan perbantahan.

Hana

Terakhir, ada penyembahan Hana. Dalam penyembahannya menyebutkan Manusia-Penyelamat sebagai penebusan umat Allah (2:38).

Hal-hal yang Berhubungan dengan Manusia-Penyelamat

Dalam firman yang dikatakan oleh penghulu malaikat Gabriel, Elisabet, Zakharia, malaikat yang mengumumkan kelahiran Tuhan, Simeon, dan Hana terdapat tujuh belas hal yang berhubungan dengan Manusia-Penyelamat: Yesus, Putra dari Yang Mahatinggi, keturunan Daud, yang kudus, buah rahim, Tuhan, tanduk keselamatan, surya yang terbit, Penyelamat, Kristus, penghiburan Israel, keselamatan Allah, terang bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, kemuliaan Israel, satu ujian bagi Israel, satu tanda yang menimbulkan perbantahan, dan penebusan umat Allah. Ketika kita membahas semua aspek dari Manusia-Penyelamat ini, kita tampak bahwa Dia bukan hanya Allah pun manusia, bahkan segala sesuatu yang hendak Allah berikan dan lakukan bagi umat-Nya.

Jika kita membaca tiga setengah pasal yang pertama dari Injil Lukas dengan teliti, kita akan tampak bahwa persiapan Manusia-Penyelamat melibatkan dua malaikat dan sedikitnya lima orang. Malaikat yang pertama adalah penghulu malaikat Gabriel. Gabriel tercatat membawa kabar baik kepada umat Allah. Gabriel membawa kabar baik bukan hanya dalam Injil Lukas, melainkan juga dalam kitab Daniel, di sana ia berbicara mengenai tujuh puluh minggu (Dan. 9:24-27). Malaikat yang kedua adalah malaikat yang menyampaikan pengumuman kepada gembala-gembala mengenai kelahiran Manusia-Penyelamat. Mungkin saja malaikat yang menyampaikan pengumuman ini juga Gabriel. Namun, Saya yakin bahwa malaikat yang mengumumkan kelahiran Tuhan adalah malaikat lain.

Yusuf

Kelima orang yang terlibat dalam persiapan Manusia-Penyelamat adalah Zakharia, Maria, Elisabet, Simeon, dan Hana. Kita juga dapat menyinggung Yusuf, yang berperan dalam persiapan Manusia-Penyelamat ini. Dialah yang membawa Maria dari Nazaret ke Betlehem.

Semua orang ini benar dan kudus, menempuh suatu kehidupan menurut firman Allah yang tertulis. Maria dan Yusuf adalah orang-orang muda, sedangkan Zakharia, Elisabet, Simeon, dan Hana adalah orang-orang tua. Di sini kita tampak macam-macam orang yang terlibat dalam persiapan Manusia-Penyelamat. Saya mendorong kalian untuk kembali mempelajari tiga setengah pasal dari Injil Lukas dan memperhatikan berbagai aspek dari Manusia-Penyelamat yang diwahyukan di dalamnya.

MAKSUD ALLAH IALAH INGIN MENDAPATKAN

MANUSIA-ALLAH

Manusia yang Diciptakan oleh Allah

Dalam Injil Lukas kita tampak manusia macam apa yang ingin Allah dapatkan dalam Kejadian 1 dan 2. Ini berarti maksud Allah ialah ingin mendapatkan manusia-Allah. Dalam Kejadian 1 kita tampak manusia yang diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya. Diciptakan menurut gambar Allah berarti manusia diciptakan menurut atribut Allah. Allah adalah kasih dan terang, juga kudus dan benar. Kasih, terang, kudus, dan benar adalah atribut Allah, dan Allah menciptakan manusia menurut atribut ini. Namun, manusia yang diciptakan oleh Allah dalam Kejadian 1 hanya memiliki gambar Allah. Ia tidak memiliki Allah di dalamnya. Jadi, ia hanyalah manusia ciptaan Allah; bukan manusia-Allah.

Pohon Hayat

Karena Allah menghendaki manusia ciptaan-Nya menjadi manusia-Allah, maka setelah diciptakan, manusia ditempatkan Allah di depan pohon hayat. Pohon hayat mengacu kepada Allah. Maksud Allah adalah agar manusia ciptaan-Nya itu mau menerima Dia, yang dilambangkan oleh pohon hayat, dan dengan demikian menjadi manusia-Allah.

Dalam Kejadian 1 kita tampak manusia yang diciptakan oleh Allah. Dalam Kejadian 2 menunjukkan bahwa Allah menghendaki manusia yang diciptakan oleh-Nya menerima Dia dengan berbagian dalam buah pohon hayat. Namun, manusia yang diciptakan itu gagal, tidak menerima pohon hayat itu. Karena manusia tidak berbagian dalam pohon hayat, maka ia tetap sebagai manusia ciptaan Allah.

Kegagalan Manusia Ciptaan Allah

Dalam Kejadian 3, musuh, si pencoba, datang untuk mencobai manusia ciptaan Allah. Karena manusia belum menjadi manusia-Allah, karena ia sebenarnya tidak memiliki Allah di dalamnya, maka ia tidak mampu menahan pencobaan musuh. Alasan Adam tidak dapat menahan pencobaan itu adalah ia hanyalah manusia ciptaan Allah, bukan manusia-Allah. Penting sekali kita tampak hal ini.

Manusia yang Diperlengkapi oleh Allah dan dengan Allah

Dalam Kejadian 1 dan 2 kita tampak manusia ciptaan Allah, manusia yang tidak dapat menahan pencobaan dari musuh Allah. Seandainya kita adalah Adam dan kita tahu apa yang kita tampak pada hari ini, mungkin kita akan segera berbagian dalam pohon hayat untuk memperlengkapi diri kita dengan Allah Tritunggal. Allah itu sendiri adalah perlengkapan manusia. Begitu kita diperlengkapi dengan Allah Tritunggal melalui berbagian dalam pohon hayat, kita menjadilah manusia-Allah.

Sebagai manusia-Allah, Tuhan Yesus tidak menunggu si pencoba datang kepada-Nya. Sebaliknya, dipimpin oleh Roh itu, Tuhan pergi menghadapi si pencoba itu. Dalam Kejadian 3 si pencoba datang kepada manusia yang tidak diperlengkapi. Tetapi dalam Lukas 4 Manusia yang diperlengkapi pergi menghadapi si pencoba.

Dalam Kejadian 3 manusia ciptaan Allah itu belum diperlengkapi oleh Allah dan dengan Allah; ia adalah manusia tanpa Allah sebagai perlengkapannya. Pada butir ini saya akan menunjukkan perkataan Paulus mengenai senjata Allah: ”Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Ef. 6:11). Mengenakan senjata Allah secara sederhana berarti mengenakan Allah sebagai senjata kita, yaitu memperlengkapi diri kita dengan Allah. Dalam Efesus 6, gereja sebagai manusia baru yang korporat diperlengkapi dengan Allah sebagai senjatanya. Setiap bagian dari senjata ini adalah atribut Allah.

Berkebalikan dengan Adam, yang tidak memperlengkapi dirinya dengan Allah, Tuhan Yesus lahir sebagai seorang manusia-Allah. Karena Dia dikandung dari Roh Kudus, Dia memiliki unsur Allah. Dalam diri-Nya Dia memiliki esens ilahi sebagai elemen-Nya. Selama tiga puluh tahun Dia hidup di dalam esens ilahi ini. Dia dikandung dari esens ini, lahir dari esens ini, bertumbuh di dalam esens ini, dan hidup oleh esens ini. Sungguh menakjubkan! Tuhan bukan hanya penuh dengan Allah — Dia adalah Allah. Karena Dia adalah Allah di dalam manusia, Dia adalah manusia-Allah.

Ketika Tuhan Yesus keluar untuk menunaikan ministri-Nya pada umur tiga puluh, Dia menyangkal diri-Nya dan dibaptis. Ketika Adam berada di taman itu, ia tidak menyangkal dirinya; ia tidak mengesampingkan dirinya. Inilah satu alasan dari kegagalan Adam.

Ketika Tuhan Yesus mengesampingkan diri-Nya pada waktu Dia dibaptis, Roh ekonomikal turun ke atas-Nya untuk mengurapi Dia. Hasilnya, Dia adalah satu Persona yang secara esensial berasal dari Allah dan secara ekonomikal bagi Allah. Dia adalah satu Persona yang dijenuhi dengan Allah sendiri secara esensial dan diurapi dengan Allah secara ekonomikal. Secara batiniah, Dia memiliki Allah sebagai unsur batini-Nya, dan secara lahiriah Dia diliputi dengan Allah sebagai kuat kuasa-Nya. Manusia-Penyelamat ini penuh dengan Allah secara batin dan diselubungi dengan Allah secara lahir. Sebagai satu Persona yang demikian, Dia diperlengkapi dan siap untuk berperang melawan musuh Allah dan mengalahkannya.

Bukannya menunggu musuh datang kepada-Nya, melainkan dengan dipimpin oleh Roh Kudus, Tuhan Yesus pergi ke tempat musuh itu berada. Musuh datang ke taman itu untuk menyerang Adam, tetapi Yesus pergi ke padang gurun untuk menyerang musuh. Ketika Dia dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun, Dia penuh dengan Allah secara esensial dan secara ekonomikal. Jadi, Dia telah siap dan diperlengkapi untuk membereskan musuh. Dia pergi ke padang gurun sebagai seorang pejuang dan di dalam standar moralitas yang tertinggi, Dia mengalahkan Iblis.

Ketika Tuhan Yesus pergi ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis, Dia adalah Manusia yang tertinggi. Dia bukan hanya seorang manusia yang diciptakan oleh Allah; Dia juga adalah seorang manusia yang diperlengkapi dengan Allah. Dia adalah seorang manusia-Allah, Seorang yang berada dalam standar moralitas yang tertinggi.

Orang yang Berada dalam Standar Moralitas yang Tertinggi

Moralitas ini adalah perihal memiliki kebajikan insani yang diperkuat dan diperkaya oleh atribut ilahi. Ketika kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah diperkuat dan diperkaya oleh atribut ilahi, itulah standar moralitas yang tertinggi. Allah terekspresi dalam kehidupan yang sesuai dengan standar moralitas yang tertinggi. Jika kita memahami hal ini, kita akan memahami prinsip dasar dan penting yang diikuti oleh Lukas dalam menulis Injilnya.

Kehidupan di dalam standar moralitas yang tertinggi adalah prinsip pokok dalam Injil Lukas. Dalam kitab Injil ini kita tampak Tuhan Yesus sebagai Manusia yang diperlengkapi Allah menempuh suatu kehidupan untuk mengekspresikan Allah. Karena Dia mengekspresikan Allah, maka Dia hidup di dalam standar moralitas yang tertinggi.

Standar moralitas yang tertinggi yang diwahyukan dalam Injil Lukas ini jauh lebih tinggi daripada moralitas yang diajarkan di dalam filsafat apa pun. Misalnya, ada ajaran yang mengajarkan moralitas, tetapi apa yang diajarkan-nya itu bukanlah standar moralitas yang tertinggi, paling jauh itu adalah perihal pengembangan kebajikan insani. Tidak ada perihal memperkuat atau memperkaya kebajikan insani dengan atribut ilahi.

Agar kebajikan insani kita diperkuat dan diperkaya dengan atribut ilahi, kita perlu memiliki Allah di dalam kita secara esensial, dan kita perlu memiliki Allah di atas kita secara ekonomikal. Ini berarti kita perlu dilahirkan dari Allah untuk memiliki esens Allah. Kita juga perlu diurapi dengan Allah untuk memiliki Dia sebagai kuat kuasa kita.

Bila kita telah dilahirkan dari Allah untuk memiliki esens-Nya dan telah diurapi oleh Dia untuk memiliki Dia sebagai kuat kuasa kita, maka kita akan menjadi manusia-Allah yang siap untuk hidup di dalam standar moralitas yang tertinggi. Di dalam kehidupan yang demikian inilah kebajikan insani diperkuat dan diperkaya oleh atribut ilahi.

Layak untuk Merampungkan Ministri yang diberikan Allah kepada-Nya

Dalam 4:1-13 kita tampak Manusia-Penyelamat yang telah diperlengkapi sepenuhnya ini dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun di mana Dia menghadapi si pencoba dan mengalahkannya. Kemenangan-Nya melayakkan Dia untuk merampungkan ministri yang diberikan Allah kepada-Nya. Karena alasan inilah, dari 4:14, Dia mulai melayani. Karena itu, persiapan Manusia-Penyelamat ini dituntaskan dengan pengujian-Nya. Setelah memperoleh kemenangan atas pencobaan Iblis, Dia dipersiapkan dan diperlengkapi sepenuhnya untuk merampungkan ministri yang diberikan Allah kepada-Nya.