← Daftar isi Lukas (1) · bab 9/26

PERSIAPAN MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEINSANIAN-NYA DENGAN KEILAHIAN-NYA (7)

Pembacaan Alkitab: Luk. 3:23—4:13

Dalam berita ini kita akan membahas status dan ujian terhadap Manusia-Penyelamat (3:23—4:13)

STATUS-NYA

Dalam 3:23-38 kita nampak status Manusia-Penyelamat. Ayat 23 mengatakan, ”Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggap-an orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli.” Tiga puluh adalah umur yang memadai untuk melayani Allah (Bil. 4:3, 35, 39, 43, 47).

Empat Aspek dari Kristus yang Almuhit

Catatan Injil Yohanes, Injil Allah-Penyelamat, dimulai dari Allah sampai kepada manusia (Yoh. 1:1, 14). Injil ini menekankan keilahian-Nya untuk membuktikan status ilahi-insani-Nya. Silsilah dalam Injil Lukas, Injil Manusia-Penyelamat, dimulai dari manusia dan menelusur kembali kepada Allah (ay. 23, 38). Injil ini menekankan keinsanian-Nya untuk menegaskan status ilahi-insani-Nya.

Kristus sebagai inti ajaib Alkitab bersifat almuhit, memiliki banyak aspek. Perjanjian Baru pada mulanya menya-jikan empat riwayat hidup untuk menggambarkan empat aspek utama dari Kristus yang almuhit ini. Injil Matius mempersaksikan bahwa Dia adalah Raja, adalah Kristus Allah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, Dia yang membawa Kerajaan Surga ke bumi. Injil Markus menyajikan Dia adalah Hamba Allah, Dia berjerih lelah bagi Allah dengan setia. Catatan Markus itu sangat sederhana, karena seorang hamba tidak memerlukan catatan yang terperinci. Injil Lukas menyajikan satu gambaran yang penuh tentang Kristus sebagai satu-satunya manusia yang tepat dan nor-mal yang pernah hidup di bumi, dan menjadi Penyelamat manusia. Injil Yohanes menyingkapkan Dia adalah Putra Allah, yakni Allah itu sendiri, menjadi hayat umat Allah. Di antara keempat kitab Injil ini, Injil Matius dan Injil Lukas memiliki catatan silsilah: sedangkan Injil Markus dan Injil Yohanes tidak memilikinya. Untuk mempersaksikan bahwa Yesus adalah Raja, adalah Kristus Allah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, Matius perlu memperlihatkan ne-nek moyang dan status Raja ini kepada kita, yang membuk-tikan bahwa Dia adalah pengganti yang tepat bagi takhta Daud. Untuk membuktikan bahwa Yesus adalah seorang Manusia yang tepat dan normal, Lukas perlu memperlihat-kan silsilah Manusia ini, yang membuktikan bahwa Dia layak menjadi Penyelamat manusia. Sebagai catatan seorang hamba, Injil Markus tidak perlu memaparkan asal usul-Nya. Untuk menyingkapkan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati, Yohanes juga tidak perlu memberikan silsilah ma-nusia. Sebaliknya, Yohanes mengumumkan bahwa sebagai Firman Allah, Dia benar-benar adalah Allah pada mulanya.

Dua Silsilah

Dalam 3:23-38 silsilah Manusia-Penyelamat ini me-nelusur kembali dari Yesus kepada Adam. Ayat 38 mengatakan, ”Anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.” Kera-jaan, tempat Kristus menjadi Raja, itu tersusun dari ketu-runan Abraham, meliputi keturunannya dalam daging dan keturunannya dalam iman. Karena alasan inilah maka sil-silah Kristus dalam Injil Matius dimulai dengan Abraham, bapa dari ras terpanggil, bukan Adam, bapa dari ras ciptaan. Kerajaan Allah bukan dibangun dengan ras ciptaan, dari Adam; melainkan dengan ras terpanggil, dari Abraham; yang meliputi orang Israel yang sejati (Rm. 9:6-8) dan kaum ber-iman dalam Kristus (Gal. 3:7, 9, 29). Untuk membuktikan bahwa Yesus adalah seorang Manusia yang tepat untuk menjadi Penyelamat manusia dengan memaparkan silsilah-Nya, Lukas kembali kepada Adam, keturunan manusia yang pertama.

Frase ”anak Allah” yang dipakai dalam hubungannya dengan Adam dalam Lukas 3:38 bukan berarti bahwa Adam lahir dari Allah dan memiliki hayat Allah; seperti halnya ”anak Yusuf” bukan berarti bahwa Yesus lahir dari Yusuf, melainkan menurut anggapan orang Dia adalah anak Yusuf (ay. 23). Adam diciptakan oleh Allah (Kej. 5:1-2), dan Allah adalah asal usulnya. Berdasarkan inilah dia dianggap anak Allah, bahkan seperti pujangga-pujangga kafir yang meng-anggap semua manusia adalah keturunan Allah (Kis. 17:28). Umat manusia hanya diciptakan oleh Allah, bukan dilahir-kan kembali dari Allah. Ini secara mutlak dan secara esens berbeda dengan kaum beriman dalam Kristus yang menjadi anak-anak Allah. Kaum beriman telah dilahirkan dari Allah, dilahirkan kembali, dan memiliki hayat dan sifat Allah (Yoh. 1:12-13; 3:16; 2 Ptr. 1:4).

Allah, Adam, Abraham, dan Yesus

Dari Yesus (Luk. 3:23) kembali kepada Allah ada tujuh puluh tujuh keturunan yang di dalamnya terlihat sejarah penciptaan Allah, kejatuhan manusia, janji Allah, dan kese-lamatan manusia: oleh Allah, manusia diciptakan (ay. 38; Kej. 1:26-27; 2:7); dalam Adam, manusia jatuh (ay. 38; Kej. 3); melalui Abraham, manusia menerima janji Allah (ay. 34; Kej. 12:1-3); dan dalam Yesus, yang adalah Kristus, manusia diselamatkan (ay. 23; 2:10-11).

Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa silsilah Tuhan Yesus dalam Injil Matius dimulai dengan Abraham sampai kepada Kristus, sedangkan silsilah dalam Injil Lukas dari Yesus kembali kepada Allah. Silsilah dalam Injil Lukas mencantumkan empat nama yang ditekankan dengan khusus: Allah, Adam, Abraham, dan Yesus. Kita diciptakan oleh Allah, kita jatuh di dalam Adam, kita menerima janji Allah di da-lam Abraham, dan kita diselamatkan di dalam Yesus yang adalah Kristus. Karena itu, kita diciptakan, jatuh, menerima janji, dan diselamatkan. Kita dapat memuji Tuhan karena Allah, Abraham, dan Yesus. Setelah kita diciptakan oleh Allah dan jatuh di dalam Adam, kita menerima janji kese-lamatan Allah di dalam Abraham. Kemudian di dalam Yesus, yang adalah Kristus, kita diselamatkan. Inilah kesimpulan dari silsilah Manusia-Penyelamat kita.

Manusia-Penyelamat kita datang bukan hanya untuk menyelamatkan kita secara obyektif, bahkan menyelamatkan kita dengan menyatukan diri-Nya sendiri dengan kita. Di dalam Dia kita memiliki Allah yang menyatukan diri-Nya de-ngan manusia. Silsilah ini dimulai dengan seorang manusia dan diakhiri dengan Allah. Sungguh ajaib! Karena silsilah Tuhan dimulai dengan manusia dan diakhiri dengan Allah, melalui Abraham dan Adam, ini benar-benar unik.

Kita dapat mengatakan bahwa silsilah dan status Tuhan juga silsilah dan status kita. Kita diciptakan oleh Allah, kita jatuh di dalam Adam, kita menerima janji Allah di dalam Abraham, dan kita diselamatkan di dalam Yesus, yang adalah Kristus. Tuhan ada di dalam Allah, di dalam Adam, dan di dalam Abraham. Kita juga ada di dalam Allah, di dalam Adam, dan di dalam Abraham, dan sekarang kita ada di dalam Yesus, Manusia-Penyelamat kita.

UJIAN TERHADAP-NYA

Dipimpin oleh Roh itu

Dalam 4:1-13 terdapat ujian terhadap Manusia-Penye-lamat. Lukas 4:1-2 mengatakan, ”Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis.” Matius 4:1 mengatakan bahwa Tuhan Yesus dipimpin oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai. Setelah dibaptis dalam air dan diurapi dengan Roh Allah, Yesus sebagai seorang Manusia bergerak menurut pimpinan Roh. Pertama-tama, Roh memimpin Manusia-Penyelamat yang telah diurapi itu untuk dicobai oleh Iblis. Pencobaan ini adalah satu ujian untuk membuktikan bahwa Dia layak menjadi Manusia-Penyelamat.

Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”Iblis” adalah diabolos, yang berarti pendakwa, pemfitnah (Why. 12:9-10). Iblis, yaitu Satan, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan manusia.

Dalam Matius 6:13 Tuhan Yesus mengajar murid-murid untuk berdoa, ”Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Namun, Tuhan dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun agar Dia dicobai oleh Iblis. Tuhan Yesus itu kuat, Dia mampu menahan pencobaan; sebaliknya, kita sama sekali tidak mampu menahan pencobaan. Kita tidak boleh sombong, mengira bahwa karena kita telah memiliki Roh esensial dan Roh ekonomikal, maka kita sekarang mampu menahan pencobaan. Pemikiran yang demikian itu menunjukkan bahwa kita tidak mengenal diri kita sendiri.

Tuhan Yesus adalah satu-satunya Manusia yang dapat menahan pencobaan dari musuh Allah. Ketika Dia di bumi, Dia sempurna dan kuat. Karena itu, Roh Kudus, yaitu Allah yang mencapai manusia, memimpin Manusia yang sem-purna ini ke dalam pencobaan untuk mengalahkan musuh Allah. Melalui menguji Manusia-Penyelamat ini, Allah dapat memperlihatkan kepada musuh-Nya, Satan, Iblis, bahwa ada seorang Manusia yang mampu menahan pencobaan.

Roh Kudus tidak pernah memimpin kita untuk dicobai oleh Iblis, karena kita tidak sanggup menahan pencobaan Iblis, Satan. Sekalipun kita telah dilahirkan kembali, diku-duskan, dan diubah sedemikian rupa, kita tidak mampu me-nahan pencobaan dari si jahat. Karena itu kita perlu berdoa, ”Ya Bapa, janganlah bawa aku ke dalam pencobaan.” Tidak peduli kita merasa diri kita betapa kuat, kita sebenarnya lemah dan tidak sanggup menahan pencobaan Iblis. Satu-satunya Manusia dengan keinsaniannya di alam semesta ini yang sanggup menahan pencobaan dari musuh Allah adalah Tuhan Yesus, Manusia-Penyelamat kita.

Berdiri di atas Kedudukan Manusia

Menghadapi Iblis

Menurut Lukas 4:3, Iblis berkata kepada Tuhan Yesus, ”Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Yesus menjawab, ”Ada tertulis; Manusia hidup bukan dari roti saja.” Manusia-Penyelamat yang baru diurapi ini belum makan apa-apa selama empat puluh hari (ay. 1-2). Meskipun Dia berdiri pada kedudukan manusia, Dia juga adalah Putra Allah, sebagaimana yang diumumkan Allah Bapa pada wak-tu Dia dibaptis (3:21-22). Untuk menggenapkan ministri-Nya, Tuhan Yesus harus mengalahkan musuh Allah, Iblis, Satan. Hal ini harus dilakukan-Nya dengan status seorang Manusia. Karena itu, Dia berdiri di atas kedudukan Manusia menghadapi musuh Allah. Iblis mengetahui hal ini, karena itu Iblis mencobai Dia agar meninggalkan kedudukan manusia dan mengambil kedudukan-Nya sebagai Putra Allah. Empat puluh hari sebelumnya, Allah Bapa menyatakan dari surga bahwa Yesus adalah Putra Bapa yang terkasih. Si pencoba yang licik mengambil pernyataan itu sebagai dasar untuk mencobai Tuhan Yesus. Jika Tuhan mengambil ke-dudukan-Nya sebagai Putra Allah di hadapan musuh, Dia akan kehilangan kedudukan untuk mengalahkannya.

Mengubah batu menjadi roti itu benar-benar suatu mujizat. Hal ini diajukan oleh Iblis sebagai suatu cobaan. Banyak kali pemikiran yang menghendaki terjadinya mujizat dalam situasi tertentu merupakan suatu cobaan dari Iblis.

Cobaan Iblis atas manusia yang pertama, Adam, berhubungan dengan perkara makan (Kej. 3:1-6). Sekarang cobaannya atas Manusia yang kedua, Kristus, juga berhubungan de-ngan perkara makan. Perkara makan selalu merupakan pe-rangkap yang dipakai oleh Iblis untuk menjerat manusia, menyebabkan manusia tercobai dalam hal yang berifat pribadi. Iblis mencobai Manusia-Penyelamat untuk memper-tahankan kedudukan-Nya sebagai Putra Allah. Tetapi Tuhan Yesus menjawab dengan berkata, ”Manusia hidup bukan dari roti saja.” Ini menunjukkan bahwa Dia berdiri pada ke-dudukan manusia untuk membereskan musuh. Roh-roh ja-hat menyebut Yesus sebagai Putra Allah (Mat. 8:29), tetapi roh-roh jahat itu tidak mengakui bahwa Yesus Kristus telah datang di dalam daging (1 Yoh. 4:3), karena dengan menga-kui Yesus sebagai manusia mereka mengakui bahwa me-reka telah kalah. Meskipun roh-roh jahat mengakui Yesus adalah Putra Allah, mereka tidak menginginkan orang-orang percaya bahwa Dia adalah Putra Allah, karena dengan per-caya sedemikian, manusia akan diselamatkan (Yoh. 20:31).

Menyembah dan Melayani Allah Saja

Lukas 4:5-7 mengatakan, ”Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya, ’Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Karena itu, jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.’” Iblis memberi tahu Tuhan Yesus bahwa semua kerajaan di bumi telah diserahkan kepadanya. Ini pasti terjadi di zaman sebelum Adam. Perkataan Iblis di sini menunjukkan bahwa ketika Allah mengurapi penghulu malaikat untuk menjadi kepala zaman sebelum Adam (Yeh. 28:13-14), kekuasaan dan kemuliaan kerajaan di bumi pasti telah diberikan kepadanya. Firman Tuhan dalam Yohanes 12:31 menegaskan hal ini. Setelah ia memberontak melawan Allah dan menjadi musuh Allah, yaitu Iblis, ia dihakimi oleh Allah (Yes. 14:12-15), tetapi pelaksanaan penghakiman Allah atas dirinya baru tergenap pada akhir Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:7-10). Karena itu, sebelum waktu itu, ia masih memiliki kuasa atas ke-rajaan-kerajaan di bumi. Ia mencobai Tuhan Yesus dengan menawarkan kuasa dan kemuliaannya ini kepada-Nya. Ta-warannya yang jahat ditolak oleh Kristus Allah, tetapi tawar-an ini akan diterima oleh Antikristus, manusia durhaka (2 Tes. 2:3-4), pada akhir zaman ini (Why. 13:4) untuk melak-sanakan tipu muslihatnya yang jahat melawan Allah.

Dalam Lukas 4:8 terdapat jawaban Tuhan atas pencoba-an Iblis: ”Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Manusia-Penyelamat mengalahkan Iblis dengan berdiri pada kedudukan manusia untuk menyembah dan melayani Allah saja. Demi keuntungan, menyembah atau melayani sesuatu selain Allah, selalu merupakan cobaan Iblis untuk mendapatkan penyembahan manusia.

Menolak untuk Memamerkan bahwa Dia

Adalah Putra Allah

Dalam Lukas 4:9-11 terdapat pencobaan Iblis yang ke-tiga terhadap Manusia-Penyelamat: ”Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di puncak Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya, ’Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malai-kat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.’” Tetapi Yesus menjawab dan berkata kepadanya, ”Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (ay. 12).

Pencobaan ini berhubungan dengan agama. Iblis mencobai Manusia-Penyelamat agar memamerkan dari puncak Bait Allah bahwa Dia adalah Putra Allah. Tetapi Tuhan Yesus tidak perlu melakukan hal itu. Itu adalah pencobaan untuk memperlihatkan bahwa sebagai Putra Allah Dia mampu bertindak dengan ajaib. Pemikiran tentang melaku-kan sesuatu dengan ajaib di dalam agama adalah pencobaan dari Iblis.

Satu Petunjuk tentang Standar Moralitas yang Tertinggi

Dalam Injil Lukas, urutan pencobaannya berbeda dengan urutan dalam Injil Matius. Urutan dalam Injil Lukas berhu-bungan dengan standar moralitas yang tertinggi. Lagi pula, pencobaan dalam Injil Lukas untuk menyembah Iblis sebagai pengganti kerajaan-kerajaan di bumi itu diberikan dengan le-bih terperinci. Ini juga menunjukkan standar moralitas yang tertinggi.

Misalnya Anda ditawari semua kerajaan di bumi beserta kekuasaan dan kemuliaannya. Apakah yang akan Anda lakukan? Saya tidak yakin dari antara kita ada yang dapat menahan pencobaan ini. Namun, Manusia-Penyelamat, Dia yang hidup dalam standar moralitas yang tertinggi, tidak dapat digoda atau digerakkan oleh apa pun. Hanya kehidupan dalam standar moralitas yang tertinggi, yakni suatu kehidupan di mana atribut ilahi diekspresikan di dalam kebajikan insani, yang dapat menahan pencobaan yang demikian. Saya menyinggung hal ini untuk menunjukkan kembali bahwa catatan Lukas selalu menekankan standar moralitas yang tertinggi.

Iblis Meninggalkan Manusia-Penyelamat

Dalam 4:1-13 Manusia-Penyelamat berdiri melawan si pencoba dan memperoleh kemenangan. Si pencoba dikalah-kan dan meninggalkan-Nya. Mengenai hal ini, 4:13 mengata-kan, ”Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari hadapan-Nya dan menunggu saat yang baik.” Ini menunjukkan bahwa Iblis akan mencari kesempatan lain dan akan kembali mencobai-Nya sekali dan sekali lagi pada saat yang dianggapnya baik (Mat. 16:22-23; Yoh. 8:40; Luk. 22:53; Yoh. 6:70-71). Iblis meninggalkan Tuhan Yesus, tetapi ia tidak meninggalkan-Nya selama-lamanya. Sebaliknya ia pergi untuk menunggu saat yang baik.