MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DI GALILEA (3)
Pembacaan Alkitab: Luk. 5:1—6:11
KEADAAN ROHANI SETIAP ORANG YANG JATUH
Dalam 5:1—6:11 terdapat catatan tentang lima kasus: menarik orang-orang yang dijajah (5:1-11), mentahirkan yang tercemar (5:12-16), menyembuhkan yang lumpuh (5:17-26), memanggil yang terhina (5:27-39), dan melanggar per-aturan Sabat yang cacat bagi kepuasan dan kebebasan orang (6:1-11). Kita tidak boleh menganggap kasus-kasus ini hanya sebagai catatan tentang apa yang terjadi kepada orang-orang yang berbeda-beda. Sebenarnya semua kasus ini menggam-barkan satu orang.
Setelah Tuhan Yesus melakukan satu mujizat yang ber-hubungan dengan menjala ikan, Petrus berkata kepada-Nya, ”Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (5:8). Segera setelah ini, kita memiliki kasus pen-tahiran seorang yang penuh dengan kusta, yakni men-tahirkan yang tercemar. Petrus bukan hanya sebagai orang yang dijajah melainkan juga orang yang tercemar. Secara ro-hani, kita semua sama. Lagi pula, selain dijajah dan tercemar, kita juga lumpuh, hina, dan berada di bawah belenggu peraturan-peraturan yang cacat.
Kasus-kasus dalam 5:1—6:11 ini menggambarkan ke-adaan rohani dari setiap orang yang jatuh. Sebelum kita diselamatkan, kita dijajah. Kita juga adalah orang-orang kusta, orang-orang yang penuh dosa, yang memerlukan pen-tahiran. Lagi pula, kita adalah orang-orang lumpuh, orang-orang yang tidak dapat berjalan atau melakukan sesuatu menurut Allah. Karena itu, kita perlu penyembuhan Tuhan.
Tidak peduli apa pekerjaan seseorang itu, ketika ia di-panggil Tuhan dan dibebaskan, ia segera menyadari bahwa dirinya itu penuh dengan dosa. Ketika orang-orang sibuk de-ngan pekerjaan mereka, mereka mungkin mengira bahwa mereka itu sangat baik. Tetapi ketika mereka dibebaskan dari pekerjaan mereka untuk mengikuti Tuhan, mereka sadar bahwa mereka penuh dengan dosa. Selain itu, setelah mereka ditahirkan, mereka sadar bahwa mereka lumpuh dalam hubungannya dengan Allah dan hal-hal Allah. Mereka tidak mampu berjalan di jalan Allah. Tetapi setelah mereka disembuhkan, mereka mulai nampak bahwa mereka adalah ”pemungut-pemungut cukai”, orang-orang yang terhina yang dianggap tidak ada nilainya. Akhirnya, mereka memahami bahwa mereka berada di bawah belenggu peraturan-per-aturan dan memerlukan kepuasan dan kebebasan.
Setelah kita dibebaskan dari hal-hal yang menjajah kita, ditahirkan dari kusta kita, dan disembuhkan dari lumpuh kita, kita di dalam Tuhan menjadi orang yang bernilai, karena sekarang kita memiliki Dia sebagai pakaian baru kita yang menudungi kita secara lahir dan sebagai anggur baru untuk memenuhi kita secara batin (Luk. 5:36-39). Setelah ini, kita dibebaskan dari peraturan-peraturan yang membelenggu. Hasilnya, kita menjadi orang-orang yang sepenuhnya diselamatkan oleh Manusia-Penyelamat.
Sewaktu kita membaca 5:1—6:11, kita tidak boleh menganggap kasus-kasus ini terpisah satu dengan yang lainnya. Sebaliknya, kita perlu menganggap semua kasus ini sebagai aspek-aspek yang menggambarkan keadaan satu orang. Khususnya, kasus-kasus ini adalah satu gambaran keadaan rohani dari setiap orang yang jatuh.
MENTAHIRKAN YANG TERCEMAR Menyingkapkan Kebajikan-kebajikan Insani Tuhan
Dalam setiap kasus ini kita dapat nampak kebajikan insani Manusia-Penyelamat dan juga atribut ilahi yang ter-ekspresi dalam kebajikan insani-Nya. Lihatlah kasus pen-tahiran orang yang sakit kusta. Lukas 5:12 mengatakan, ”Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, ter-sungkurlah ia dan memohon, ’Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.’” Tuhan ”mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, ’Aku mau, jadilah eng-kau tahir.’ Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya” (ay. 13). Dalam kasus ini Tuhan berperilaku dalam standar moralitas yang tertinggi. Di sini kita nampak bahwa Manusia-Penyelamat bersimpati kepada orang kusta. Menurut Perjanjian Lama, seorang kusta tidak boleh dijamah oleh siapa pun. Untuk menjauhkan orang lain dari penderita kusta, orang kusta itu harus berteriak, ”Najis, najis!” Jadi, orang kusta itu benar-benar diasingkan. Tetapi Manusia-Penyelamat mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah orang kusta. Jamahan Tuhan kepada orang kusta itu mewahyukan kebajikan insani-Nya.
Mengekspresikan Atribut Ilahi Tuhan
Atribut ilahi-Nya terekspresi dalam pentahiran orang kusta. Manusia tidak mungkin dapat mentahirkan penderita kusta. Karena itu, Orang yang mentahirkan kusta ini pasti adalah Allah.
Dalam simpati Tuhan, kita nampak kebajikan insani-Nya, dan dalam mentahirkan orang kusta ini kita nampak atribut ilahi-Nya. Dia adalah manusia-Allah yang sejati. Sebagai manusia Dia dipenuhi dengan kebajikan insani, dan sebagai Allah Dia memiliki atribut ilahi yang membuat Dia dapat mentahirkan orang kusta. Dalam kasus ini, kebajikan insani Tuhan mengekspresikan atribut ilahi-Nya.
Menurut kasus-kasus dalam Alkitab, kusta berasal dari pemberontakan dan ketidaktaatan. Miryam menjadi kusta karena pemberontakannya terhadap wakil kuasa Allah (Bil. 12:1-10). Kusta Naaman ditahirkan karena ketaatannya (2 Raj. 5:1, 9-14). Semua manusia yang jatuh telah menjadi kusta di pandangan Allah karena pemberontakan mereka. Tetapi Manusia-Penyelamat telah datang untuk menyelamatkan orang-orang dari pemberontakan mereka dan mentahirkan mereka dari kusta mereka.
Seorang kusta, menurut hukum Taurat, diasingkan dari umat Allah karena ketidak tahirannya. Tidak ada seorang pun yang boleh menjamahnya (Im. 13:45-46). Tetapi Ma-nusia-Penyelamat menjamah orang yang penuh kusta ini. Sungguh penuh rahmat dan simpati! Dengan satu jamahan-Nya, ”seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.”
Orang kusta itu menggambarkan orang dosa. Kusta adalah penyakit yang paling cemar dan merusak, yang mengasingkan penderitanya dari Allah dan manusia. Men-tahirkan orang kusta itu menandakan memulihkan orang dosa kepada persekutuan dengan Allah dan manusia. Sangat bermakna bahwa orang kusta itu bukan hanya disem-buhkan, tetapi juga ditahirkan. Orang kusta bukan hanya memerlukan kesembuhan seperti orang-orang yang memiliki penyakit lainnya, ia juga memerlukan pentahiran dari dosa (1 Yoh. 1:7), karena kekotoran dan kecemaran penyakit itu.
MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH
Dalam kasus menyembuhkan orang lumpuh (5:17-26), kita juga nampak atribut ilahi Tuhan terekspresi dalam kebajikan insani-Nya. Dalam 5:20 Dia berkata kepada orang yang lumpuh itu, ”Hai saudara, dosa-dosamu sudah di-ampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ber-pikir dalam hatinya, ”Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah sendiri?” (ay. 21). Tuhan Yesus memakai kuasa ilahi-Nya untuk mengampuni dosa-dosa orang lumpuh itu, juga me-makai kekuatan ilahi-Nya untuk menyembuhkan dia. Tetapi dalam kasus ini kita juga nampak rasa simpati dari Tuhan, yang adalah satu kebajikan insani. Karena itu, dalam kasus ini juga kebajikan insani Tuhan mengekspresikan atribut ilahi-Nya.
Lukas 5:24 mengatakan, ”’Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa’ — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu — ’Kepada-mu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’” Manusia-Penyelamat adalah Allah yang berinkarnasi, yang tidak menganggap kesetaraan de-ngan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Dia secara lahiriah berada dalam rupa dan model manusia, tetapi secara batiniah Dia adalah Allah (Flp. 2:6-7). Dia adalah Manusia-Penyelamat juga Allah-Penyelamat. Maka, Dia bukan hanya memiliki kemampuan untuk menyelamatkan orang-orang dosa, tetapi juga mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Dalam kejadian ini, Dia adalah Allah yang mengampuni dosa-dosa orang lumpuh itu, tetapi sekaligus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Putra Manusia. Ini menandakan bahwa Dia adalah Allah yang sejati juga manusia yang riil, yang memiliki keilahian dan keinsanian. Di dalam Dia, manusia dapat melihat atri-but ilahi-Nya dan kebajikan insani-Nya.
MEMANGGIL YANG TERHINA Matius, Pemungut Cukai yang Dihina Orang
Dalam 5:27-39 kita nampak kasus panggilan terhadap seorang pemungut cukai yang bernama Lewi atau Matius. Ayat 27 mengatakan, ”Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, ’Ikutlah Aku!’” Tempat pemungutan cukai adalah kantor pajak, di mana Matius memungut cukai bagi orang-orang Roma. Matius adalah seorang pemungut cukai (Mat. 10:3), mungkin memiliki kedudukan yang tinggi, seorang manusia yang dikutuk, dihina, dan tidak dihargai oleh orang-orang Yahudi (Luk. 18:11; Mat. 5:46). Namun ia dipanggil oleh Manusia-Penyelamat dan kemudian dipilih dan ditunjuk sebagai salah satu dari dua belas rasul. Rahmat yang betapa besar!
Lukas 5:28 mengatakan tentang Matius, ”Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.” Kelihatannya ini adalah kali pertama Tuhan bertemu dengan Matius. Pasti ada kekuatan yang menarik dari Tu-han, baik dalam perkataan-Nya maupun penampilan-Nya, sehingga membuat Matius mengikut Dia.
Kita telah menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi menghina para pemungut cukai karena mereka memungut pajak untuk para penguasa Roma. Mereka dianggap peng-khianat, dan orang-orang Yahudi benci terhadap mereka dan menghina mereka sampai pada puncaknya. Meskipun demikian, Tuhan Yesus datang kepada salah satu pemungut cu-kai ini dan memanggilnya.
Pada panggilan terhadap Matius ini tidak ada mujizat. Ketika Tuhan Yesus datang kepada Petrus, Dia menariknya dari pekerjaannya dengan sarana suatu mujizat. Tetapi Dia tidak melakukan suatu mujizat ketika Dia datang kepada Matius. Kerelaan-Nya datang kepada Matius adalah suatu rahmat yang besar.
Orang-orang Yahudi menjauhi para pemungut cukai, menganggap mereka lebih buruk daripada orang-orang kusta. Karena itu, Matius pasti terkejut ketika Tuhan Yesus datang kepadanya. Mungkin Matius berkata dalam hatinya, ”Siapakah aku ini sehingga Orang ini datang kepadaku? Aku, seorang pemungut cukai, seorang yang hina. Siapakah yang mau memperhatikan aku? Namun Yesus datang kepadaku dan menyuruh aku mengikuti Dia.”
Dalam panggilan Tuhan terhadap Matius kita nampak standar yang tertinggi dari kebajikan insani-Nya. Mungkin Tuhan berkata kepada diri-Nya sendiri ketika Dia akan memanggil Matius, ”Memang, orang ini adalah pemungut cukai. Tetapi ia tetap adalah manusia, dan Aku tidak akan menolaknya atau membuangnya. Sebaliknya, Aku akan datang kepadanya, menghubungi dia, dan memanggilnya. Aku bukan hanya memanggil orang-orang yang terjajah, melain-kan juga orang-orang yang terhina.”
Rahmat Manusia-Penyelamat
Lukas 5:29 mengatakan, ”Kemudian Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.” Panggilan Tuhan terhadap Matius pasti telah menjamah hatinya. Segera, Matius meng-adakan suatu perjamuan besar untuk menghormati-Nya.
Uang yang dipakai untuk perjamuan itu mungkin di-dapatkan oleh Matius dengan tidak benar. Itu berarti per-jamuan besar yang diadakan bagi Tuhan Yesus di rumah Matius mungkin dibiayai dengan uang yang tidak halal. Be-berapa orang Yahudi mungkin berkata, ”Mengapa Yesus menghadiri perjamuan itu? Tidakkah Dia tahu bagaimana Matius mendapatkan uang itu untuk membiayainya? Matius memungut uang dari kita, dan sekarang ia memakai uang itu untuk mengadakan suatu perjamuan. Perjamuan itu ti-dak benar.”
Tuhan Yesus bukan hanya benar; Dia juga penuh rahmat. Menurut Yakobus 2:13, ”Belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Kita perlu menunjukkan rahmat kepada orang-orang yang terhina dan dalam keadaan yang sangat kasihan. Tuhan penuh rahmat kepada Matius, dan rahmat-Nya itu pasti sangat menggerakkan hati Matius. Jika tidak, ia tidak akan mengadakan suatu perjamuan bagi Tuhan. Matius pasti gembira dan penuh sukacita. Ini adalah satu kesempatan yang baik baginya untuk mengundang sejumlah besar pemungut cukai dan orang dosa untuk makan bersama Tuhan Yesus. Dalam reaksi Manusia-Penyelamat terhadap situasi itu, kita nampak kebajikan insani-Nya.
Memerlukan Tabib
Dalam 5:30 orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ber-sungut-sungut kepada murid-murid Tuhan, dengan berkata, ”Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Tuhan Yesus men-jawab, ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang be-nar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (ay. 31-32). Di sini kita nampak bahwa Manusia-Penyelamat mela-yani sebagai seorang tabib, bukan sebagai seorang hakim. Penghakiman seorang hakim dilaksanakan berdasarkan ke-benaran, sedangkan penyembuhan seorang tabib dilaksana-kan berdasarkan rahmat dan kasih karunia. Jika Tuhan mengunjungi orang-orang yang kasihan itu sebagai seorang hakim, semua orang akan dihukum dan ditolak. Tidak ada seorang pun yang layak, yang terpilih, dan yang terpanggil. Tetapi Tuhan datang untuk melayani sebagai seorang tabib; yaitu Dia datang untuk menyembuhkan, memulihkan, menghidupkan, dan menyelamatkan.
Firman Tuhan di sini menyiratkan bahwa orang-orang Farisi yang membenarkan diri itu tidak menyadari keperluan mereka terhadap-Nya sebagai tabib. Mereka menganggap diri mereka kuat. Jadi, mereka dibutakan oleh sikap membesarkan diri mereka, mereka tidak tahu bahwa mereka ”sakit” dan memerlukan penyembuhan.
Baju yang Baru dan Anggur yang Baru
Dalam 5:36-39 Manusia-Penyelamat, berkata-kata dalam perumpamaan, melanjutkan berbicara tentang baju yang baru dan anggur yang baru. Dia menyiratkan bahwa Dia ha-dir untuk menutupi orang-orang yang terhina dengan baju yang baru dan memenuhi mereka dengan anggur yang baru. Baju yang baru ini adalah Kristus sebagai kebenaran kita untuk menutupi kita secara lahir, dan anggur yang baru adalah Kristus sebagai hayat yang kekal untuk memenuhi kita secara batin. Hanya Allah yang dapat menutupi kita dengan kebenaran dan memenuhi kita dengan hayat yang ke-kal. Ini adalah perbuatan-perbuatan Dia yang ilahi. Karena itu, dalam kasus ini juga kita nampak atribut ilahi tereks-presi dalam kebajikan insani Manusia-Penyelamat. Dia me-layani dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya.
MERUNTUHKAN PERATURAN-PERATURAN SABAT YANG CACAT
Dalam 6:1-11 terdapat dua kasus tentang Tuhan meruntuhkan peraturan-peraturan Sabat yang cacat. Dia melakukan hal ini demi kepuasan dan kebebasan orang-orang. Peraturan-peraturan Sabat diberikan dalam Perjanjian Lama. Namun, para agamawan Yahudi menyalahgunakan peraturan-peraturan itu dan membuatnya menjadi cacat, menyimpang. Karena itu, ketika Tuhan Yesus datang sebagai Manusia-Penyelamat, Dia memperhatikan manusia, bukan memperhatikan peraturan-peraturan yang cacat itu. Demi manusia, Dia sengaja meruntuhkan peraturan-peraturan sabat yang cacat itu.
Bagi Kepuasan Orang
Kasus yang pertama tentang meruntuhkan peraturan-peraturan itu tercatat dalam 6:1-5. ”Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan me-reka dan memakannya” (ay. 1). Beberapa orang Farisi ber-kata, ”Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperboleh-kan pada hari Sabat?” (ay. 2). Melanggar Sabat adalah satu perkara serius di mata orang-orang Farisi yang agamis. Bagi mereka, murid-murid Tuhan tidak boleh memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat. Menurut penge-tahuan mereka yang miskin terhadap Kitab Suci, mereka memperhatikan liturgi tentang memelihara Sabat, bukan memperhatikan orang-orang yang lapar. Sebaliknya, Manu-sia-Penyelamat memperhatikan kepuasan para pengikut-Nya.
Dalam 6:5 Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi, ”Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Ini menun-jukkan keilahian Manusia-Penyelamat dalam keinsanian-Nya. Dia, Putra Manusia, adalah Allah yang menentukan Sabat, dan Dia berhak mengubah apa yang telah ditentukan-Nya mengenai Sabat.
Bagi Kebebasan Orang-orang
Kasus yang kedua tentang Tuhan meruntuhkan peraturan-peraturan sabat yang cacat terdapat dalam 6:6-11. Di sini Tuhan memulihkan seorang yang mati tangan kanannya. Dia berkata kepada orang yang mati tangan kanannya itu, ”Ulurkanlah tanganmu! Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya” (ay. 10). Dengan belas kasihan-Nya, Manusia-Penyelamat memulihkan orang yang mati tangan kanannya itu. Di sini belas kasihan dan kuat-kuasa penyem-buh-Nya adalah pembauran dari kebajikan insani-Nya de-ngan atribut ilahi-Nya. Karena itu, sekali lagi atribut ilahi-Nya terekspresi dalam kebajikan insani-Nya. Dalam dua ke-jadian itu Tuhan meruntuhkan peraturan-peraturan sabat yang cacat demi kepuasan dan kebebasan orang-orang. Da-lam 6:1-5 Dia memperhatikan kebebasan orang yang mati tangan kanannya itu.
GAMBARAN TENTANG PENGALAMAN KITA
Dalam 5:1—6:11 kita nampak satu gambaran orang yang telah jatuh. Orang yang telah jatuh itu terjajah, ada-lah orang kusta, adalah orang lumpuh, terhina, dan berada di bawah belenggu. Menurut catatan dalam bagian Injil Lukas ini, orang yang demikian itu ditarik oleh Tuhan Yesus dari pekerjaannya, ditahirkan dari kustanya, disembuhkan dari lumpuhnya, ditinggikan dari keadaannya yang terhina, dan dibebaskan dari kelaparan dan belenggu. Ini adalah gambaran dari apa yang terjadi pada diri kita. Kita semua dapat bersaksi bahwa kita adalah orang-orang yang demikian. Kita telah ditarik dari pekerjaan-pekerjaan kita dan kita telah ditahirkan, disembuhkan, ditinggikan, dipuaskan, dan dibebaskan. Inilah ministri Manusia-Penyelamat dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya. Hal ini adalah satu prinsip pokok yang diterapkan oleh Lukas dalam menulis kitab Injil ini.