← Daftar isi Yohanes (4) · bab 9/16

PROSES HAYAT MELALUI MATI DAN BANGKIT UNTUK PERLIPATGANDAAN (3)

Dalam berita ini kita tiba pada Yohanes 20, sebuah pasal mengenai kebangkitan Tuhan. Kematian Tuhan adalah untuk kebangkitan-Nya. Dalam Yohanes 12:24, Dia berkata bahwa diri-Nya adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, supaya dapat membebaskan diri-Nya, menyalurkan hayat-Nya ke dalam banyak biji gandum. Dengan kata lain, Dia harus mati, baru dapat bangkit dan menjadi banyak biji gandum. Ini kelihatannya sangat aneh dan misterius untuk pikiran manusia. Tak pernah terlintas dalam angan-angan manusia akan adanya kebangkitan setelah kematian. Bahkan Iblis (Satan) pun berpikir bahwa kematian dapat mengakhiri Tuhan Yesus. Bagi Iblis, mati adalah kesudahan. Tetapi bagi Tuhan, kematian bukan kesudahan, melainkan merupakan jalan setapak bagi-Nya untuk masuk ke dalam kebangkitan. Jadi, bagi Tuhan, kematian bukan merupakan kekalahan, melainkan sebuah jalan setapak menuju kemenangan. Melalui kematian, Dia mendapat kemenangan; karena kematian menjadi sebuah pintu dan sebuah jalan masuk ke dalam kebangkitan. Sesungguhnya, kematian-Nya adalah untuk kebangkitan-Nya. Tanpa kematian, Dia tak pernah dapat melahirkan kita kembali menjadi anggota Tubuh-Nya. Karena itu, segala sesuatu tergantung pada kematian Tuhan yang menuju kebangkitan.

Catatan dalam Injil Yohanes mengenai kebangkitan Tuhan berbeda dengan ketiga kitab Injil yang lain. Catatan mengenai kebangkitan Tuhan dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas hampir sama, namun catatan Injil Yohanes jauh berbeda. Injil Yohanes selalu mengetengahkan hayat sebagai titik pandang. Menurut Injil Yohanes, Tuhan telah datang menjadi ekspresi Allah untuk kita terima sebagai hayat, mati dan bangkit untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat. Kalau kita ingin mengerti tentang kitab ini, kita harus mengingat titik pandang ini di dalam pikiran kita. Titik pandang yang sama terlihat dalam catatan ini mengenai kebangkitan Tuhan. Yohanes 20 dan 21 justru ditulis dari titik pandang ini, yang memperlihatkan bagaimana Tuhan terbebaskan melalui kematian-Nya dan disalurkan ke dalam kita melalui kebangkitan-Nya. Tujuan utama dua pasal ini ialah sesudah kebangkitan-Nya dan melalui kebangkitan-Nya, Tuhan akan datang dan masuk ke dalam kita dan menjadi satu dengan kita.

Seluruh Injil Yohanes ini ditujukan kepada kebangkitan. Tujuan dari inkarnasi Tuhan menjadi seorang manusia adalah agar Dia dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam banyak orang dan menghasilkan banyak anak Allah. Dia adalah Putra tunggal Allah, tetapi Allah memerlukan perlipatgandaan Putra tunggal-Nya. Jalan satu-satunya agar Putra tunggal Allah dapat dilipatgandakan ialah melalui kematian dan kebangkitan. Misalnya, jalan satu-satunya yang dapat ditempuh oleh sebutir biji gandum untuk dilipatgandakan ke dalam banyak gandum ialah melalui kematian dan kebangkitan. Sebagaimana telah kita lihat, segenap Injil Yohanes mengarah ke sasaran ini, yaitu perlipatgandaan Putra tunggal Allah. Dengan jalan ini, Putra Tunggal menjadi banyak putra (Rm. 8:29). Untuk memiliki eskpresi-Nya yang korporat, Allah memerlukan banyak putra. Untuk tujuan ini, Putra tunggal Allah harus terbebaskan melalui kematian dan disalurkan ke dalam kita melalui kebangkitan.

VII. BANGKIT DALAM KEMULIAAN ILAHI

Telah kita bicarakan bagaimana hayat diproses untuk perlipatgandaan. Sesudah melewati pemeriksaan, penghukuman, dan pengujian dari kematian, Dia beristirahat dalam kehormatan manusia. Kemudian, sesudah melewati bagian kematian dari proses itu, Kristus bangkit dalam kemuliaan ilahi (Yoh. 20:1-13, 17). Kini, setelah bangkit dari kematian, Dia berada di dalam kemuliaan ilahi.

A. “Hari Pertama Minggu Itu”

Tuhan bangkit “pada hari pertama minggu itu” (Yoh. 20:1). Kebangkitan Tuhan merupakan permulaan baru bagi pembukaan jalan menuju generasi baru dan zaman baru. Inilah sebabnya Tuhan bangkit “pada hari pertama minggu itu”. Hari ini adalah hari yang terbesar dalam Kitab Suci. Disebutkan “Hari pertama minggu itu” mempunyai makna sebagai permulaan yang baru. Satu minggu ialah satu periode dari tujuh hari dan hari pertama berarti satu permulaan yang baru. Mengapa Tuhan tidak bangkit pada hari keenam atau hari ketujuh, atau pada hari yang lain dalam minggu itu? Karena kebangkitan-Nya membawa masuk suatu periode yang baru, suatu zaman yang baru, suatu generasi yang baru. Dalam ciptaan yang lama ada tujuh hari. Tuhan menciptakan selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Tujuh hari ini adalah generasi ciptaan lama. Dengan kebangkitan Tuhan Yesus, generasi yang lain dimulai secara baru. Ciptaan lama adalah milik dari tujuh hari. Sekarang, sesudah tujuh hari, ada permulaan baru dengan hari pertama yang lain. Dengan kata lain, dengan kebangkitan Tuhan, ciptaan lama telah berlalu dan satu ciptaan baru telah dimulai; generasi lama telah berlalu dan generasi baru telah dimulai. Jadi hari pertama dari minggu yang lain menandakan permulaan satu ciptaan baru, satu generasi baru, dan satu zaman baru.

Pernahkah Anda perhatikan lambang dalam Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa Tuhan akan bangkit pada hari pertama dari minggu itu? Dalam Imamat 23:10, 11, dan 15, seberkas hasil pertama dari tuaian dipersembahkan kepada TUHAN (Yehova) sebagai suatu persembahan unjukan pada “hari sesudah Sabat”. Berkas dari buah-buah pertama itu adalah sebuah lambang mengenai Kristus sebagai buah pertama dalam kebangkitan (1Kor. 15:20, 23). Kristus bangkit tepat pada hari setelah hari Sabat. Dalam ayat-ayat yang terdapat dalam Imamat 23 ini, ungkapan “hari pertama minggu itu” tidak dipakai. Sebagai gantinya, ungkapan lain yang dipakai “hari sesudah Sabat”. Hari Sabat ialah hari ketujuh, dan sesudah Sabat adalah hari pertama dari minggu itu. Buah-buah pertama hasil panen itu dipersembahkan kepada Tuhan “pada hari sesudah Sabat”, berarti hari pertama dari minggu berikutnya. Buah-buah pertama hasil panen melambangkan Kristus yang bangkit dari kematian. Dia adalah buah pertama kebangkitan. Tuhan bangkit dari kematian sebagai buah pertama hasil panen, kapankah buah pertama hasil panen itu dipersembahkan kepada Allah? Pada hari sesudah Sabat, yaitu pada hari pertama dari minggu itu. Ini bukan hanya merupakan lambang, juga nubuat yang digenapkan dalam Yohanes 20.

Buah-buah pertama hasil panen yang dipersembahkan kepada Tuhan ialah kurban keselamatan lambang kebangkitan. Kurban keselamatan berbeda dengan kurban unjukan. Kurban keselamatan dipersembahkan dengan gerak-gerik yang maju mundur, yang melambangkan Kristus dalam kebangkitan. Kurban unjukan terangkat dengan gerak-gerik ke atas dan ke bawah, yang melambangkan Kristus dalam keterangkatan-Nya. Mengunjuk-unjukkan berarti gerak-gerik yang konstan. Karena itu, Kristus sedang bergerak dalam hayat, sebab Dia telah bangkit. Dia adalah kurban unjukan pada hari pertama dalam minggu tersebut.

Hal lain yang diperbincangkan di sini ialah penyunatan anak-anak Israel. Pada hari apakah Allah memerintahkan mereka untuk disunat? Pada hari kedelapan (Kej. 17:12). Sesudah satu periode dari tujuh hari ada hari pertama dari periode tujuh hari yang lain yaitu, hari yang kedelapan. Perintah Tuhan untuk menyunatkan anak-anak Israel pada hari kedelapan berarti mereka harus menyingkirkan manusia lama mereka dan memperhidupkan hayat kebangkitan. Mereka terlahir secara alamiah, kini mereka harus menyingkirkan manusia lama mereka dan memiliki manusia ciptaan baru yang hidup berdasarkan hayat kebangkitan. Jadi, orang-orang Israel diperintahkan untuk disunat pada hari kedelapan. Kolose 2:11 dan 12 mengumumkan bahwa dalam Kristus, kita semua telah disunat oleh salib-Nya. Itu adalah maksud Allah supaya umat-Nya menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, hingga mereka dapat hidup dalam hayat kebangkitan. Ini adalah makna hari kedelapan, hari pertama dalam minggu itu. Ini menunjukkan kebangkitan, sebab kebangkitan adalah sebuah permulaan baru bagi suatu generasi yang baru dalam ciptaan yang baru.

Melalui kematian-Nya yang almuhit, Kristus meng-akhiri ciptaan yang lama, yang telah diciptakan dalam enam hari ditambah satu hari Sabat. Dalam kebangkitan, Dia menghasilkan ciptaan baru dengan hayat ilahi. Karena itu, ini merupakan permulaan dari satu “minggu” yang baru satu zaman yang baru. Hari kebangkitan-Nya ditentukan oleh Allah. Mazmur 118:24 mengatakan: “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya.” Jika kita membaca ayat ini dalam konteksnya, kita akan melihat bahwa ini menerangkan hari kebangkitan Tuhan. Hari kebangkitan-Nya adalah hari yang istimewa dan yang telah ditentukan Allah. Hari kebangkitan Tuhan dinubuatkan sebagai “hari ini” dalam Mazmur 2:7 yang diulangi dalam Kisah Para Rasul 13:33 dan Ibrani 1:5. Ketika Tuhan Yesus masih menempuh hidup di bumi, Tuhan telah menubuatkan bahwa Ia akan tersalib dan ke-mudian akan bangkit dari kematian pada hari ketiga (Mat. 16:21; Yoh. 2:19, 22). “Hari ketiga” ini adalah hari pertama dari minggu itu. Kemudian hari ini disebut oleh orang-orang Kristen sebagai “hari Tuhan” (Why. 1:10). Alangkah ajaibnya hari ini!

Perlu ditekankan juga bahwa Tuhan bukan hanya dibangkitkan pada hari pertama dari minggu itu, tetapi juga pada bagian pertama dari hari itu. Dia bangkit pada pagi hari, bukan pada malam hari. Sekali lagi, ini melambangkan suatu permulaan yang baru, suatu periode baru, suatu generasi baru, suatu zaman baru, suatu ciptaan baru, dan suatu hari yang baru, karena Dia bangkit pagi-pagi sekali pada pagi hari dari hari yang pertama.

B. Sebagai “Buah Pertama” dari “Kebangkitan”

Kristus bangkit sebagai “buah pertama” dari “kebangkitan” (1Kor. 15:20-23). Dalam kebangkitan, Dia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah. Sebagai yang unik, Putra tunggal Allah, Dia tak perlu dilahirkan; tetapi supaya Putra tunggal Allah bisa menjadi Putra sulung, Dia harus dilahirkan dalam kebangkitan (Kis. 13:33; Ibr. 1:5). Pada hari kebangkitan-Nya, Kristus dilahirkan menjadi Putra sulung Allah dan “yang pertama bangkit dari antara orang mati”, agar menjadi “kepala tubuh, yaitu jemaat” (Kol. 1:18).

C. Meninggalkan Ciptaan yang Lama di Dalam Kubur

Ketika Tuhan Yesus bangkit, Dia meninggalkan cipta-an lama di dalam kubur (Yoh. 20:1-10). Petrus masuk ke dalam kubur dan “melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain” (Yoh. 20:6-7). Sebelum Tubuh Tuhan Yesus dimakamkan, Ia terbalut dalam lenan (Yoh. 19:40). Ini berarti Dia pergi ke dalam kubur dengan sesuatu dari ciptaan yang lama; menunjukkan bahwa ciptaan lama dibawa masuk ke dalam kubur oleh pemakaman-Nya. Segala sesuatu yang telah disingkirkan dari tubuh Tuhan Yesus yang bangkit dan ditinggalkan di kubur-Nya, menandakan ciptaan lama yang Tuhan kenakan ketika Ia memasuki kubur. Dia tersalib bersama ciptaan lama dan dimakamkan bersamanya. Tetapi Dia bangkit dari dalamnya, meninggalkan ciptaan lama di dalam kubur, kemudian menjadi buah pertama dari ciptaan baru.

Segala sesuatu yang ditinggalkan di dalam kubur adalah suatu kesaksian tentang kebangkitan Tuhan. Jika semuanya itu tidak ditinggalkan di sana dengan baik, maka Petrus dan Yohanes sukar percaya (Yoh. 20:8) bahwa Tuhan bukan diambil oleh seseorang, melainkan Dia sendiri sudah bangkit. Barang-barang itu dipersembahkan kepada Tuhan dan dibalutkan pada-Nya oleh dua orang murid-Nya, Yusuf dan Nikodemus (Yoh. 19:38-42). Apa yang mereka balutkan pada Tuhan dalam kasih mereka kepada-Nya, menjadi sangat berguna dalam kesaksian Tuhan. Tuhan bangkit dari kematian, meninggalkan semua ciptaan lama yang telah Dia bawa ke dalam kubur sebagai suatu kesaksian bahwa Dia telah berjalan keluar dari kematian.

Dalam pandangan Allah, segenap ciptaan lama telah terkubur di dalam kubur itu. Ini adalah suatu fakta yang ajaib, tak peduli Anda mempercayainya atau tidak. Ciptaan lama, termasuk manusia Anda yang lama dan diri Anda yang lama, telah dikubur di dalam kubur itu bersama Tuhan Yesus dan ditinggal di sana. Ketika Kristus yang almuhit masuk ke dalam kubur itu, kita pergi ke sana bersama-Nya; ketika Dia bangkit, Dia meninggalkan kita di sana. Di alam semesta ini ada suatu kubur almuhit yang ajaib, tempat manusia lama kita terkubur dan tetap terting-gal di sana. Kini manusia lama kita ada di dalam kubur dan manusia baru kita yang bangkit ada di dalam gereja.

Kain-kain itu dan sapu tangan itu ditinggal dalam kubur dalam keadaan yang baik (Yoh. 20:7). Siapa yang mengambil kain-kain lenan dan sapu tangan Tuhan Yesus, dan siapa yang melipat sapu tangan dan meninggalkannya dalam keadaan yang baik? Ini bukan dikerjakan oleh malaikat, tetapi dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ini dibuktikan oleh kebangkitan Lazarus dalam pasal 11. Setelah Lazarus dibangkitkan dari kematian dan keluar dari kubur, tangan-tangan dan kaki-kakinya masih terbungkus dengan kain kafan dan wajahnya terbalut dengan sapu tangan (Yoh. 11:44). Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (11:44). Lazarus membutuhkan bantuan orang lain untuk terbebaskan dari kain kafannya karena dia adalah yang dibangkitkan, bukan Sang bangkit itu. Tetapi Tuhan Yesus adalah Sang bangkit itu, bukan yang dibangkitkan. Tuhan sendiri bangkit dan tak memerlukan bantuan malaikat. Malaikat-malaikat hanyalah pelayan-pelayan. Jika malaikat-malaikat yang telah melepaskan kain-kain pembungkus, itu berarti Tuhan Yesus sendiri tidak dapat bangkit dari kematian.

Saya yakin bahwa pada suatu keadaan, Tuhan mung-kin berkata kepada kematian, “Kematian, waktumu sudah lewat. Saat ini Aku akan bangkit, berjalan keluar dari daerahmu, menyingkirkan pembungkus-pembungkus itu dari tubuh-Ku, meletakkan segala sesuatu dalam keadaan yang baik, dan meninggalkannya di dalam kubur sebagai suatu kesaksian bahwa Aku sudah membangkitkan diri-Ku dari antara orang mati.” Kemudian Tuhan Yesus mengucapkan selamat tinggal kepada kematian dan berjalan pergi. Dalam prinsipnya, paling sedikit inilah kejadiannya. Tuhan Yesus tidak tergesa-gesa. Dia tak berlari-lari dengan gugup keluar dari kubur seperti seorang korban penculikan yang tergesa-gesa lari sesudah Dia dibebaskan. Tidak, Tuhan Yesus dalam keadaan yang tenang, damai, dan lega. Dengan tenang Dia memandang kematian itu. Kematian tak berdaya sedikit pun terhadap-Nya. Sekalipun kematian mencoba dengan sekuat tenaga untuk menahan-Nya, tetapi sia-sia. Dengan mudah Tuhan menyingkirkan pembungkus-pembungkus itu, melipat sapu tangan, dan meletakkan semuanya dalam keadaan yang baik. Kematian hanya dapat melihat-Nya, sewaktu Ia dengan mudahnya mengerjakan semuanya itu. Tuhan sama sekali tak takut dan tidak ada sesuatu yang dapat mengancam-Nya. Tuhan sudah berkata, “Kematian, Aku telah menyelesaikan misi-Ku. Kamu tidak dapat berbuat apa-apa terhadap-Ku, dan Aku tidak takut kepadamu. Kini saatnya bagi-Ku untuk berjalan keluar dari daerah-mu. Aku tidak tergesa-gesa. Aku bisa tinggal di sini untuk hari yang lain kalau Aku mau, namun sekarang adalah waktu untuk pergi.” Ini adalah situasi yang sebenarnya ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian.

Kesaksian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah dari dua pihak dari manusia dan dari malaikat-malaikat. Sebagaimana telah kita lihat, semua pembungkus telah dipersembahkan kepada Tuhan Yesus oleh dua murid yang terhormat. Akhirnya, apa yang mereka sediakan bagi Tuhan Yesus dari kasih mereka menjadi kesaksian yang kuat dan teguh dari kebangkitan-Nya. Ini adalah kesaksian dari pihak manusia. Sebagaimana akan kita lihat kemudian, Allah mengutus dua malaikat sebagai suatu kesaksian dari surga. Jadi ada dua pihak kesaksian bagi kebangkitan Tuhan Yesus, yang satu dari manusia di bumi dan yang lain dari malaikat-malaikat di surga. Puji Tuhan bahwa manusia dan malaikat-malaikat, surga dan bumi, telah bersama-sama menjadi suatu kesaksian bagi kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.