← Daftar isi Yohanes (4) · bab 10/16

PROSES HAYAT MELALUI MATI DAN BANGKIT UNTUK PERLIPATGANDAAN (4)

D. Ditemukan oleh Orang-orang yang Mencari-Nya

Kebangkitan Tuhan telah digenapi, namun untuk menemukannya, murid-murid-Nya tetap perlu mencarinya. Kebangkitan-Nya ditemukan oleh pencari-pencari yang mengasihi-Nya. Yohanes 20 menunjukkan jenis orang yang bisa menyadari kebangkitan Tuhan dan jenis orang yang kepadanya visi kebangkitan Tuhan disingkapkan. Bagaimanakah kita bisa mempunyai wahyu atas kebangkitan Tuhan? Perihal kebangkitan Tuhan yang telah terjadi di alam semesta ini memang merupakan suatu fakta yang sangat mengherankan dan misterius! Akan tetapi, bagaimana kita bisa mengetahuinya? Bagaimana kita bisa mempunyai visi ini? Hanya melalui mengasihi Tuhan dan mencari-Nya. Fakta kebangkitan Tuhan telah digenapi, tetapi kebangkitan ini harus ditemukan dan dilihat. Sebelum Maria Magdalena datang ke kubur, fakta kebangkitan dalam hayat telah terjadi. Tetapi Maria harus menemukannya melalui kasih dan pencariannya terhadap Tuhan. Ketentuan ini merupakan suatu prinsip. Hari ini kebangkitan Kristus merupakan suatu fakta yang telah rampung, namun masih banyak orang belum melihatnya. Mereka belum mencapai tahap di mana mereka bisa menemukannya. Sudahkah Anda menemukan fakta kebangkitan Kristus? Sudahkah Anda menerima wahyu atau visi bahwa Tuhan telah bangkit? Saya tahu Anda telah mempunyai pengetahuan, doktrin, dan kisah kebangkitan-Nya, tetapi sudahkah Anda menemukan fakta hal ini dalam roh? Jika kita ingin memiliki penemuan yang demikian, terlebih dulu kita harus mengasihi Tuhan dan mencari-Nya.

Mengapa ketika Anda datang ke dalam sidang Anda tidak mempunyai pelayanan apa pun dan tidak mempunyai kesaksian? Hanya karena Anda tidak menemukan, kekurangan wahyu. Lihatlah Maria. Apa yang ia perbuat setelah ia menemukan? Ia berlari kepada murid-murid yang lain dan memberi tahu mereka sesuatu yang baru. Saya percaya, jika Anda bertemu dengan Tuhan pada pagi hari dan memiliki suatu penemuan yang baru terhadap-Nya, Anda pasti akan penuh dengan sesuatu yang akan Anda utarakan kepada orang banyak di dalam sidang. Penemuan rohani, wahyu rohani, visi rohani, sangat tergantung pada berapa banyaknya penuntutan Anda terhadap Tuhan. Jika Anda tidak mencari-Nya, sulit bagi Anda untuk berbagian atas diri Tuhan.

Maria Magdalena tidak mempunyai pengetahuan. Ia mutlak di dalam hayat dan sama sekali tidak di dalam pohon pengetahuan. Ia tidak tahu apa pun. Jika ditinjau secara manusiawi, datang ke kubur merupakan suatu hal yang bodoh, apalagi datang pada pagi-pagi hari. Akan tetapi, justru, dialah orang pertama yang menemukan fakta kebangkitan Tuhan.

Saudari-saudari, boleh jadi Anda sangat mengasihi Tuhan dan orang pertama yang melihat fakta tentang kebangkitan-Nya, tetapi seperti Maria, Anda masih memerlukan saudara-saudara lain untuk menolong Anda. Maria segera lari mendapatkan dua saudara terkemuka, Petrus dan Yohanes, serta memberi tahu mereka tentang hal ini. Catatan ini sangat menarik, ketika Maria pergi kepada murid-murid, hanya dua orang yang bereaksi dan berlari ke kubur. Mengapa yang lain tidak pergi? Di satu pihak, mungkin karena mereka tidak mencari; di pihak lain karena mereka malas. Boleh jadi mereka lebih senang tidur. Hanya Petrus dan Yohanes yang berlari ke kubur untuk melihat apa yang telah ditemukan Maria. Yohanes, mungkin lebih muda daripada Petrus, berlari lebih cepat daripada Petrus dan tiba lebih dulu di kubur, tetapi karena beberapa alasan ia tidak masuk ke dalam. Petrus, yang mempunyai pengalaman lebih banyak, masuk ke dalam kubur. Ketika kedua saudara itu melihat kain kafan dan kain peluh tergulung rapi di dalam kubur, mereka sadar bahwa Tuhan telah bangkit dari kematian. Mereka mengerti lebih jelas daripada saudari mereka yang bodoh yang memberi tahu mereka bahwa “Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan” (Yoh. 20:2). Boleh jadi Petrus berkata, “Aku bersimpati kepada saudariku yang bodoh, dan tidak akan mencelanya. Aku sekarang tahu bahwa Tuhan bukannya diambil orang. Perhatikan kain kafan-Nya. Pasti Ia telah berjalan keluar dari kubur.”

Kejadian ini menunjukkan kepada kita suatu gambaran bagaimana mencari Tuhan. Orang pertama yang meli-hat kubur adalah Maria, dan orang pertama yang masuk ke dalam kubur adalah Petrus. Di sini para saudara ini benar-benar saudara, karena pikiran mereka lebih jelas, begitu menemukan sesuatu, mereka lebih mudah percaya akan fakta daripada saudari-saudari. Setelah dua orang saudara itu melihat kubur yang kosong, kain kafan, dan kain peluh, mereka sadar bahwa Tuhan telah bangkit. Meskipun mereka melihat akan fakta ini, menyadarinya, mempercayainya secara obyektif, mereka tidak mengalaminya secara subyektif. Setelah puas dengan fakta obyektif, mereka meninggalkan kubur. Akan tetapi, Maria, saudari itu, tetap tinggal, karena ia masih ingin menunggu, melihat, dan mengharapkan. Terhadap tuntutan tambahannya ini ia memperoleh pengalaman atas kebangkitan Tuhan. Karena Tuhan menyatakan diri kepadanya; ia bukan hanya menerima fakta, tetapi juga pengalaman. Ia merupakan orang pertama yang mengalami kebangkitan Tuhan.

Di sini kita melihat suatu gambaran yang menyingkapkan dua aspek yang berhubungan dengan Tuhan fakta dan pengalaman. Boleh jadi Anda percaya akan fakta, tetapi Anda tidak mempunyai pengalaman. Petrus dan Yohanes menyadari dan mempercayai akan fakta, tetapi kekurangan akan pengalaman atas kebangkitan Tuhan. Maria memiliki kedua-duanya, fakta dan pengalaman. Sebagai contoh, mungkin Anda mengetahui fakta atas penyaliban Tuhan, tetapi tidak mengalami salib. Dalam prinsip yang sama, Anda mungkin memiliki fakta kebangkitan Tuhan, namun tidak memiliki pengalaman akan Tuhan yang bangkit. Kita memerlukan baik fakta maupun pengalaman. Pertama-tama Maria melihat wahyu atas fakta, tetapi ia tidak puas dengan hanya memiliki fakta. Ia maju lebih jauh dan mengalami kebangkitan Tuhan.

Umumnya, para saudara sangat obyektif dan para saudari sangat subyektif. Menurut prinsip Alkitab, saudara mewakili kebenaran obyektif, sedangkan saudari mewakili pengalaman subyektif. Misalnya, Abraham mewakili doktrin, iman, atau kebenaran iman, sedangkan Sara mewakili pengalaman ketaatan. Iman berhubungan dengan kebenaran dan bersifat obyektif; ketaatan berhubungan dengan pengalaman dan bersifat subyektif. Demikian juga, Petrus dan Yohanes percaya akan fakta kebangkitan Tuhan secara obyektif, tetapi Maria mengalaminya secara subyektif. Hari ini banyak orang Kristen yang tidak pernah melihat fakta kebangkitan Tuhan. Ada sejumlah orang benar-benar mempunyai wahyu atas kebangkitan Tuhan, tetapi mereka hanya mempunyai wahyu saja, tanpa pengalaman.

Dalam hidup gereja, para saudara selalu lebih jelas daripada saudari. Terhadap kebenaran dan fakta, mereka lebih jelas, tetapi mereka tidak begitu memperhatikan pengalaman. Boleh jadi Petrus berkata kepada Yohanes, “Tidak dapat diragukan lagi, Tuhan telah bangkit dari kematian. Jangan sia-siakan waktu dengan tetap tinggal di sini. Mari kita pulang!” Meskipun kedua saudara yang memimpin ini telah pulang, Maria, saudari yang bodoh ini, tetap tinggal dan menangis. Mungkin Maria berkata, “Siapa yang telah mengambil Tuhan? Aku ingin tahu di mana Ia berada sekarang.” Tetapi kedua saudara itu tidak dapat menolongnya. Sering kali dalam hidup gereja para saudara tidak dapat menolong para saudari. Karena mengganggap saudari-saudari itu bodoh, saudara-saudara meninggalkan saudari-saudari di tempat mereka berada dan balik pulang ke rumah, beristirahat. Para saudara mengerti dengan jelas Roma 6, telah melihat dan percaya akan fakta itu. Mengapa para saudari harus berdoa dengan air mata dan membuang-buang waktu? Ini adalah situasi yang riil dalam setiap gereja lokal. Semua saudara yang memimpin adalah orang-orang yang mudah mengerti, dan semua saudari adalah orang-orang yang menangis. Akan tetapi akhirnya orang-orang yang bodoh, orang-orang yang menangis itu yang mempunyai pengalaman. Mereka (para saudari) tak peduli akan kebenaran, fakta-fakta, atau bahkan iman. Mereka hanya mau penjamahan riil akan Tuhan yang hidup, dengan sederhana menyatakan, “Aku tak peduli tentang kain kafan. Aku hanya mau Dia. Aku ingin bersama-sama dengan Dia dan menjamah Dia. Katakanlah kepadaku, di mana kamu menaruh-Nya.” Para saudari sering berdoa seperti ini dalam sidang-sidang doa. Selama empat puluh tahun yang lalu, sering kali saya merasa terganggu dengan kebodohan-kebodohan ini, doa-doa yang penuh tangisan. Tetapi kita, para saudara, harus belajar untuk tidak menyalahkan atau memarahi para saudari. Kita harus menghargai fakta bahwa kita memiliki demikian banyak saudari yang bodoh, saudari yang menangis, dan saudari yang mencari, karena mereka adalah orang-orang pertama yang mempunyai pengalaman yang riil atas kebangkitan Tuhan.

Mungkin Tuhan Yesus sendiri tak bermaksud untuk berjumpa dengan murid-Nya yang lain. Sebagai buah bungar kebangkitan, Ia di dalam corak baru-Nya dan kesegaran-Nya harus dipersembahkan kepada Bapa. Untuk perjumpaan kali pertama, Ia tidak akan bisa dijumpai oleh siapa pun selain Bapa. Tetapi karena kesungguhan hati dan pencarian saudari ini, Tuhan Yesus tak dapat tidak menemuinya. Karena itu, Ia menampakkan diri kepadanya. Ketika saudari itu hendak menjamah-Nya, Tuhan berkata, “Jangan, kamu hanya boleh memandang-Ku. Jangan menjamah Aku, kesegaran-Ku dalam kebangkitan haruslah untuk Bapa. Setelah Aku mempersembahkan kesegaran kebangkitan-Ku kepada Bapa-Ku, Aku akan datang kembali kepadamu. Itulah saatnya bagimu menikmati kebangkitan-Ku.” Kita para saudara harus belajar pelajaran ini dari para saudari. Dalam banyak hal, kita para saudara, hanya memegang fakta-fakta berdasarkan iman, tetapi kita tidak mempunyai pengalaman seperti para saudari.

Jika kita ingin melihat lebih banyak tentang Tuhan, kita harus mempunyai persekutuan yang lebih banyak dengan Dia. Maria melihat Tuhan merupakan munajat (penyegaran) pagi yang terbaik. Dalam munajat pagi itu, ia berjumpa dengan Tuhan dan Tuhan menjumpainya; ia berdoa kepada Tuhan dan Tuhan berkata-kata kepadanya; ia bersekutu dengan Tuhan dan Tuhan memberikan firman dan wahyu-Nya kepadanya. Seperti yang akan kita lihat, Tuhan memberi wahyu kepadanya bahwa sejak saat itu murid-murid-Nya adalah saudara-saudara-Nya. Tuhan juga memberi tahu Maria bahwa Ia akan pergi kepada Bapa, dan Bapa bukan hanya Bapa-Nya dan Allah-Nya, tetapi juga Bapa mereka dan Allah mereka. Inilah wahyu yang dibawa Maria kepada saudara-saudara.

Pada pagi itu, Maria melihat kubur, dua malaikat, dan Tuhan. Pada mulanya, Ia tidak mengenali Tuhan, tetapi akhirnya, setelah Tuhan menyebut namanya, ia mengenali-Nya. Kapan Tuhan datang ke hadapan Maria? Karena kubur telah kosong, Tuhan tak ada di sana; karena Ia belum naik ke surga, Ia pun tak ada di surga. Kalau begitu, setelah Ia meninggalkan kubur dan sebelum Ia pergi ke surga, di manakah Tuhan? Saya yakin Tuhan ada di dekat kubur. Petrus, Yohanes, dan Maria semula tidak melihat Dia. Akhirnya Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Maria. Tetapi bahkan sebelum Tuhan melakukannya, Ia sudah ada di sana. Tuhan ada di sana sepanjang hari, tetapi Maria tidak mengetahuinya. Ia mengira Tuhan telah diambil oleh seseorang. Bahkan ketika Petrus dan Yohanes ada di sana, saya yakin Tuhan juga ada di sana. Mereka sama sekali tidak mengenali-Nya, dan Tuhan pun tidak menyatakan diri kepada mereka. Sadarkah Anda bahwa pada saat ini Tuhan ada di sini? Namun kita tidak menyadari hal ini dan Dia pun tidak menyatakan diri kepada kita.

Dalam pasal ini, yang sangat mencolok adalah adanya tiga golongan murid. Golongan yang pertama diwakili oleh Maria; golongan yang kedua diwakili oleh Petrus dan Yohanes; golongan yang ketiga diwakili oleh murid-murid yang malas. Murid-murid yang malas tidak mempunyai wahyu juga tidak menemukan kebangkitan Tuhan. Petrus dan Yohanes mempunyai penemuan dan wahyu, tetapi tidak mempunyai pengalaman. Maria mempunyai penemuan, wahyu, dan pengalaman. Apa yang diperlihatkan dalam catatan ini, seperti itulah keadaan orang-orang Kristen hari ini. Catatan ini mengungkapkan fakta yang telah terjadi, yaitu kebangkitan Kristus, tetapi penemuan atas kebangkitan-Nya masih memerlukan pencarian kita, dan pengalaman atas kebangkitan-Nya memerlukan pencarian yang lebih lanjut. Kita harus terlebih dulu mencari Tuhan sebelum kita dapat menemukan kebangkitan-Nya; kita harus mencari Tuhan lebih banyak lagi sebelum kita dapat mengalami kebangkitan-Nya.

E. Disaksikan oleh Malaikat yang Diutus Allah

Kebangkitan Kristus bukan hanya ditemukan oleh orang-orang yang mencari, tetapi juga dipersaksikan oleh malaikat-malaikat yang diutus Allah (Yoh. 20:11-13). Ketika Maria menjenguk ke dalam kubur, ia nampak “dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya” (Yoh. 20:12). Kedua malaikat ini seperti kerubim di atas tutup pendamaian, yang melihat dan memperhatikan bagaimana Tuhan Sang bangkit yang mulia, menyelesaikan pekerjaan yang ajaib, yang melepaskan orang dari ancaman maut. Kedua malaikat yang mengamati itu menjadi saksi yang paling kuat bahwa Tuhan Yesus telah bangkit. Kain kafan dan kain peluh merupakan kesaksian dari pihak manusia; malaikat-malaikat adalah kesaksian dari pihak Allah. Semuanya ini telah dilihat hanya oleh seorang saudari yang mencari Tuhan.

F. Melahirkan Banyak “Saudara”

Dalam Yohanes 20:17, Tuhan berkata kepada Maria, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu (Tl.)” Dalam ayat ini Tuhan menyatakan tentang keterangkatan-Nya kepada Bapa. Pada hari kebangkitan-Nya, Tuhan terangkat kepada Bapa. Ini adalah kenaikan yang tersembunyi, adalah penggenapan akhir nubuat tentang kepergian Tuhan dalam Yohanes 16:7, empat puluh hari lebih dini daripada kenaikan-Nya yang terbuka di hadapan murid-murid-Nya (Kis. 1:9-11). Pada pagi hari kebangkitan-Nya, Dia naik ke surga untuk memuaskan Bapa, dan malam harinya Ia kembali kepada murid-murid (Yoh. 20:19). Kesegaran kebangkitan-Nya harus terlebih dulu untuk kenikmatan Bapa, seperti dalam perlambangan, buah sulung harus terlebih dulu dipersembahkan kepada Allah.

Dalam pengalamannya, Maria hampir-hampir mengalami apa yang dialami Allah Bapa segera sesudah itu. Tuhan Yesus bahkan menampakkan diri-Nya kepada Maria lebih dulu daripada kepada Bapa ketika Ia terangkat ke surga. Maria nampak Tuhan yang dibangkitkan lebih awal daripada Allah Bapa. Pada waktu itu, Maria mencoba menjamah Tuhan, tetapi Tuhan melarangnya. Cukuplah baginya untuk melihat-Nya. Seperti yang telah kita lihat, Tuhan melarang Maria menjamah diri-Nya karena Ia belum pergi kepada Bapa. Ia harus memperlihatkan diri-Nya kepada Bapa dan berhubungan dengan Bapa terlebih dulu. Ketika Ia datang kepada murid-murid pada malam harinya, Ia menyuruh mereka menjamah-Nya (Luk. 24:39). Melalui peristiwa-peristiwa ini kita dapat mengetahui bahwa Maria adalah orang pertama yang melihat Tuhan yang telah bangkit itu.

Tuhan Yesus juga berkata kepada Maria, “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku.” Di sini kita sampai kepada salah satu butir yang paling besar dalam Injil Yohanes, butir yang tidak banyak diketahui dengan jelas oleh orang-orang Kristen. Sebelum kebangkitan-Nya, Tuhan tidak pernah memanggil murid-murid-Nya dengan kata “saudara-saudara”. Istilah yang paling akrab yang Ia pakai sebelum waktu itu adalah “sahabat-sahabat”. Dalam Yohanes 15:14-15, Ia berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Tetapi sekarang, setelah kebangkitan-Nya, “sahabat-sahabat”-Nya menjadi “saudara-saudara”-Nya. Melalui kebangkitan-Nya, murid-murid-Nya telah dilahirkan kembali (1Ptr. 1:3) dengan hayat ilahi yang dibebaskan melalui kematian-Nya yang menyalurkan hayat, seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 12:24. Semua murid-Nya dilahirkan kembali dalam kebangkitan-Nya. Satu Petrus 1:3 mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali melalui kebangkitan Kristus. Melalui kebangkitan-Nya, Tuhan menyalurkan diri-Nya sebagai Roh ke dalam semua murid-Nya. Melalui menerima hayat-Nya, mereka semua dilahirkan kembali, diperbarui, dan menjadi saudara-saudara-Nya. Ingatlah ketika di atas salib, Tuhan memberi tahu ibu-Nya supaya menerima Yohanes sebagai putranya, dan Ia pun memberi tahu Yohanes agar menerima ibu-Nya sebagai ibunya (Yoh. 19:26-27). Pada hari kebangkitan-Nya, perkataan Tuhan di atas salib tergenapi. Pada saat itu, Yohanes menjadi saudara Tuhan; karena itu, ibu Tuhan menjadi ibunya.

Melalui kebangkitan Kristus, murid-murid menjadi saudara-saudara Tuhan karena mereka sekarang mempunyai hayat yang sama dengan Tuhan. Tuhan melahirkan kembali mereka melalui kebangkitan-Nya; karena itu mereka tidak lagi hanya sebagai murid-murid dan sahabat-sahabat, tetapi juga sebagai saudara-saudara-Nya. Tuhan adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, kemudian bertumbuh di dalam kebangkitan, menghasilkan banyak biji gandum untuk menghasilkan satu roti, yaitu Tubuh-Nya (1Kor. 10:17). Sebelum kematian-Nya, Ia hanya satu, biji tunggal. Tetapi setelah kebangkitan-Nya, biji gandum yang satu ini, yang tunggal, telah menjadi banyak biji gandum. Inilah perlipatgandaan hayat melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

Dalam kebangkitan-Nya, Putra tunggal Allah menjadi “yang sulung di antara banyak saudara” (Rm. 8:29). “Banyak saudara” ini adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali melalui kebangkitan-Nya dengan hayat ilahi yang dibebaskan melalui kematian-Nya yang menyalurkan hayat. Melalui kebangkitan-Nya, hayat ilahi Bapa disalurkan ke dalam kita. Jadi, kita semua telah menjadi Putra Allah. Dengan jalan ini Putra tunggal Allah menjadi “yang sulung di antara banyak saudara.” Karena itu, Tuhan tidak berkata kepada Maria, “Pergilah kepada sahabat-sahabat-Ku,” melainkan Dia berkata, “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku.”

Sebelum kebangkitan-Nya, Kristus, sebagai Putra tunggal Allah, adalah ekspresi Bapa secara individu. Kini, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, ekspresi Bapa yang individu ini telah menjadi ekspresi Allah Bapa yang korporat di dalam Putra.

Banyak saudara Kristus ini adalah “banyak putra” Bapa, juga adalah “gereja” (Ibr. 2:10-12), menjadi ekspresi korporat Allah Bapa di dalam Putra. Inilah kehendak terakhir Allah. Karena itu, banyak saudara adalah perkembangbiakan hayat Bapa, juga adalah perlipatgandaan Putra di dalam hayat ilahi. Jadi, di dalam kebangkitan Tuhan, kehendak kekal Allah terampungkan.

Marilah kita perhatikan Ibrani 2:10-12 dengan lebih rinci. Ayat 10 menyatakan, “Sebab memang sepantasnya Allah yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu Allah yang membawa banyak putra kepada kemuliaan juga menyempurnakan Perintis yang memimpin mereka kepada keselamatan melalui penderitaan” (Tl.). Dia “yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan” adalah Bapa, sedangkan “Perintis keselamatan” adalah Putra. Bapa sedang membawa banyak putra ke dalam kemuliaan.

Ayat 11 mengatakan, “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” Dalam ayat ini, “Ia yang menguduskan” adalah Putra yang kudus, dan “mereka yang dikuduskan” adalah putra-putra yang dikuduskan. “Satu” di sini ditujukan kepada Bapa. Jadi, Putra yang adalah Pengudus, dan kita yang dikudus-kan, semuanya berasal dari satu Bapa. Karena itu “Ia tidak malu menyebut kita saudara”. Kapankah kali pertama Ia menyebut kita “saudara-saudara”? Dalam Yohanes 20:17, ketika Ia memberi tahu Maria, “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku.” Mengapa Ia tidak malu menyebut kita saudara-saudara? Karena kita semua telah menerima hayat Bapa-Nya. Setelah kebangkitan-Nya, semua murid-Nya menerima hayat Bapa. Sekarang, karena baik Ia maupun kita berasal dari sumber yang sama dan mempunyai hayat yang sama dengan sifat yang sama, Ia tidak malu menyebut kita saudara.

Ayat 12 menuliskan, “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat.” Di sini kita melihat Putra memberitakan “nama Bapa kepada saudara-saudara-Nya”, yaitu membuat Bapa dikenal sebagai sumber hayat dan sebagai Allah yang melahirkan. Ayat ini juga memberi tahu kita bahwa Putra memuji-muji Bapa di tengah-tengah jemaat (gereja). Saya telah mengeluarkan banyak waktu untuk mendapatkan ayat lainnya yang memberitahukan bahwa Tuhan Yesus memuji-muji Bapa. Akhirnya, setelah tak dapat menemukan satu pun, saya sadar bahwa kapan saja saudara-saudara-Nya memuji-muji Bapa, Ia pun memuji dalam pujian mereka. Sementara kita memuji, Ia memuji dalam pujian kita.

G. Membuat Bapa dan Allah-Nya menjadi Bapa dan Allah Mereka

Dalam 20:17 Tuhan juga berkata kepada Maria, “Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Melalui kematian dan kebangkitan yang menyalurkan hayat, Tuhan telah menjadikan murid-murid-Nya satu dengan diri-Nya. Karena itu, Bapa-Nya juga adalah Bapa dari murid-murid-Nya, Allah-Nya juga adalah Allah murid-murid-Nya. Di dalam kebangkitan-Nya, murid-murid sama seperti Dia memiliki hayat Bapa dan sifat ilahi Allah. Dia menjadikan mereka saudara-saudara-Nya dengan menyalurkan hayat dan sifat Bapa ke dalam mereka. Dengan membuat Bapa-Nya menjadi Bapa mereka dan Allah-Nya menjadi Allah mereka, Dia membawa mereka ke dalam kedudukan-Nya di hadapan Allah dan Bapa, yaitu kedudukan Putra, yang memungkinkan mereka mengambil bagian di dalam Bapa-Nya dan Allah-Nya di dalam kebangkitan. Jadi, baik atas hayat dan sifat secara batiniah maupun atas kedudukan secara lahiriah, mereka sama dengan Tuhan yang kepada-Nya mereka bersatu. Di dalam, kita mempunyai realitas; di luar, kita mempunyai kedudukan. Bapa, bukan hanya Bapa Tuhan sendiri, Ia juga adalah Bapa murid-murid. Selanjutnya, semua murid adalah putra-putra Allah. Kita sama seperti Putra sulung dan Ia sama seperti kita. Inilah gereja dalam kebangkitan-Nya. Terpujilah Dia!

Mengapa Tuhan memberi tahu Maria bahwa Ia pergi kepada Bapa dan Allah? Di satu pihak, Tuhan adalah Putra Allah; karena itu, Ia ingin melihat Bapa dalam persona Putra. Di pihak lain, Ia tetap Anak Manusia; karena itu, Ia ingin melihat Allah dalam persona manusia. Kita juga di satu pihak adalah manusia dan di pihak lain adalah putra-putra Allah. Karena kita adalah manusia, maka Allah adalah Allah bagi kita; dan karena kita adalah putra-putra Allah, maka Allah juga adalah Bapa bagi kita. Pada saat ini, karena kita adalah manusia pun putra-putra Allah, maka kita mempunyai baik Allah maupun Bapa. Semua murid, sebagai manusia telah menjadi saudara-saudara Tuhan pun putra-putra Allah, karena mereka telah menerima hayat yang sama seperti Tuhan. Inilah wahyu yang dibawa Maria kepada saudara-saudara Tuhan.