← Daftar isi Yohanes (4) · bab 11/16

HAYAT DALAM KEBANGKITAN (1)

Kita telah melihat bahwa Injil Yohanes terutama terdiri atas dua bagian besar. Bagian pertama mulai dari pasal 1-13, mengungkapkan Firman kekal berinkarnasi, membawa Allah masuk ke dalam manusia. Bagian kedua dari pasal 14-21, mewahyukan Yesus disalibkan, Kristus bangkit, pergi menyiapkan jalan untuk membawa manusia ke dalam Allah; dan menjadi Roh itu, yang tinggal dan hidup di dalam kaum beriman, untuk membangun tempat kediaman Allah. Dalam bagian kedua ini ada lagi empat bagian kecil, berhuninya hayat untuk membangun tempat kediaman Allah (14:1-16:33), doa hayat (17:1-26), proses hayat melalui mati dan bangkit untuk perlipatgandaan (18:1-20:13, 17), dan hayat dalam kebangkitan (20:14-21:25). Dalam Yohanes 14, 15, dan 16, Tuhan menyatakan bagaimana Ia akan masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, dan berbaur dengan kita, dibangun bersama agar Allah dan manusia mendapatkan suatu tempat tinggal bersama. Perbauran ilahi dengan insani ini adalah organisme di mana Allah Tritunggal bertumbuh dan mengekspresikan diri-Nya. Setelah menyatakan perkara ini, Tuhan mendoakan hal ini dalam pasal 17. Setelah berdoa, Dia mengalami proses pengujian, kematian, dan kebangkitan. Setelah melewati proses ini, Dia keluar dari kematian, menjadi hayat dalam kebangkitan. Ketika Dia dalam kebangkitan, Dia Sang hayat ini adalah Roh itu, karena Dia adalah Roh itu dalam kebangkitan. Dalam berita ini, kita akan melihat bagaimana hayat ini adalah Roh itu dalam kebangkitan.

I. TERTAMPAK OLEH ORANG-ORANG

YANG MENCARI

Sebagai hayat dalam kebangkitan, pertama-tama Tuhan menampakkan diri kepada orang yang mencari Dia (Yoh. 20:14-18). Inilah kali pertama Dia menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya. Tetapi Maria hanya dapat melihat Dia, ia tidak dapat menjamah-Nya, karena kesegaran kebangkitan-Nya akan dipersembahkan bagi Bapa. Dalam penampakan diri-Nya kepada Maria, Tuhan mewahyukan hasil dari kebangkitan-Nya, “saudara” dan “Bapa” (Yoh. 20:17). Inilah wahyu tentang saudara dan Bapa. Dalam kebangkitan Tuhan, semua murid-Nya telah menjadi saudara-saudara-Nya, Bapa-Nya juga telah menjadi Bapa mereka.

II. TERANGKAT KEPADA BAPA

Dalam Yohanes 20:17, Tuhan Yesus berkata kepada Maria, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum naik kepada Bapa (Tl.)” Setelah Ia menampakkan diri dalam kebangkitan kepada para pencari-Nya, pada hari kebangkitan itu juga, secara rahasia Ia pergi kepada Bapa. Banyak orang Kristen belum pernah melihat kenaikan Tuhan secara rahasia ini. Sebelum Tuhan terangkat secara terbuka di depan para murid-Nya 40 hari kemudian (Kis. 1:9-11), Ia telah naik kepada Bapa secara rahasia pada pagi hari kebangkitan-Nya untuk menjadi kenikmatan dan kepuasan Bapa.

Tuhan menganggap diri-Nya sebagai “seberkas hasil pertama dari penuaian”, sebagai “persembahan unjukan” kepada Bapa (Im. 23:10-11, 15). Menurut Alkitab Perjanjian Lama, hasil penuaian dimasukkan ke dalam lumbung, tetapi hasil pertama dari penuaian selalu dibawa ke dalam Bait Allah sebagai berkas persembahan unjukan (Kel. 23:19; Im. 23:10-11). Kita telah melihat bahwa mempersembahkan persembahan unjukan harus digoyang-goyangkan ke muka dan ke belakang, melambangkan kebangkitan; harus digoyangkan ke atas dan ke bawah, melambangkan kenaikan. Membawa hasil penuaian yang pertama ke dalam bait, mempersembahkannya di hadapan Allah sebagai persembahan unjukan, melambangkan Kristus pada pagi hari kebangkitan datang ke hadapan Allah, menjadi kepuasan Allah.

Pernahkah Anda memperhatikan kata “berkas” yang dikatakan dalam Imamat 23:11? Berkas bukan hanya satu tangkai tuaian yang dipotong, melainkan banyak tangkai yang diikat bersama. Apa maksudnya? Matius 27:52-53 mengatakan setelah Tuhan Yesus mati, “Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal dibangkitkan. Sesudah kebangkitan Yesus, mereka keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.” Dengan demikian, hasil tuaian pertama kebangkitan bukan hanya Tuhan sendiri, juga termasuk orang-orang lain yang bangkit dari kematian. Mereka bergabung menjadi satu berkas.

Kenaikan Tuhan secara rahasia adalah penggenapan nubuat Yohanes 16:7. Dalam ayat itu, Ia berkata, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Yohanes 16:7 bukan tergenapi pada Kisah Para Rasul 2, seperti yang diperkirakan kebanyakan orang Kristen, melainkan tergenapi pada Yohanes 20.

III. DATANG SEBAGAI ROH ITU, DIEMBUSKAN DALAM KAUM BERIMAN

A. Membawa Tubuh yang Bangkit

Kristus naik ke surga dengan membawa tubuh yang bangkit. Sampai pada Yohanes 20, Ia kembali kepada murid-murid-Nya, membawa juga tubuh yang bangkit (Luk. 24:37-40; 1Kor. 15:44). Tuhan dengan tubuh kebangkitan-Nya datang ke ruangan di mana murid-murid berada. Saat itu semua pintu telah ditutup, bagaimana Dia dengan tubuh daging yang bertulang itu bisa masuk? Otak kita yang terbatas sulit memahaminya, namun ini benar-benar adalah satu fakta! Kita harus menerimanya menurut wahyu ilahi. Dalam Lukas 24:37-40, Tuhan memperlihatkan tubuh jasmani-Nya kepada murid-murid-Nya. Menurut 1Korintus 15:44, tubuh ini ialah tubuh yang bangkit. Marilah kita mengambil benih anyelir sebagai contoh. Benih anyelir sangat kecil, bulat. Setelah benih itu ditanam dan bertumbuh, baru memiliki batang dan bunga. Sebelum benih anyelir ditanam ke dalam tanah, benih itu hanya berbentuk kecil. Tetapi begitu ia bertumbuh dari tanah, ia memiliki bentuk yang lain. Inilah yang dikatakan Paulus dalam 1Korintus 15:44: “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.” Tubuh yang ditanam itu adalah suatu bentuk, yang tumbuh kemudian adalah suatu bentuk yang lain. Yang ditanam adalah tubuh alamiah semula, yang tumbuh adalah tubuh kebangkitan. Setelah kebangkitan, Kristus mempunyai tubuh kebangkitan. Tubuh ini tetap jasmani, dapat dijamah, namun Kristus yang membawa tubuh jasmani-Nya masih dapat masuk ke dalam ruangan yang pintunya tertutup.

Walaupun Tuhan mempunyai tubuh yang telah bangkit, namun pada tangan kaki-Nya masih tetap terdapat bekas paku (Yoh. 20:20, 27; Luk. 24:40). Mengapa kebangkitan tidak menghilangkan bekas-bekas paku itu? Mengapa lambung-Nya tetap terkoyak? Kita tidak tahu mengapa, namun kita tahu memang demikian. Jangan ingin memahami terlalu banyak perkara dengan otak Anda. Jangan bersandarkan daya pengertian Anda yang terbatas, sebab dalam alam semesta ini terlalu banyak misteri. Bahkan diri kita pun adalah suatu misteri. Coba jawab, hati nurani dan jiwa Anda ada di mana? Dapatkah Anda menunjukkan letak roh Anda? Banyak ilmuwan tidak mau percaya akan barang yang tak terlihat atau tak dapat dipahami, ini sungguh tidak beralasan. Saya ingin bertanya kepada para ilmuwan ini, pernahkah mereka melihat hati nurani dan hayat alamiah mereka sendiri? Walau kita semua memiliki hayat alamiah, namun kita belum pernah melihatnya. Jika terhadap diri kita sendiri saja kita tak dapat memahami, bagaimana dapat memahami Allah Tritunggal yang ilahi?

B. Menggenapkan Janji Bertemu dengan

Murid-murid, Supaya Mereka Bersukacita

Setelah Tuhan memperlihatkan tangan dan lambung-Nya kepada murid-murid, mereka “bersukacita ketika mereka melihat Tuhan” (Yoh. 20:20). Ini menggenapkan janji Tuhan dalam Yohanes 16:22. Di sana Tuhan mengatakan, “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu.” Sekarang murid-murid bersukacita karena telah melihat “anak” yang baru lahir itu (Yoh. 16:21), yaitu Tuhan yang bangkit, lahir dalam kebangkitan sebagai Anak Allah (Kis. 13:33). Tuhan telah menggenapkan janji ini dan kembali kepada murid-murid-Nya, dengan membawa lima macam berkat kepada mereka: Penyertaan-Nya; damai sejahtera-Nya; amanat-Nya; Roh Kudus; dan kuasa-Nya, yang dengannya mereka bisa mewakili-Nya (Yoh. 20:23).

C. Membawakan Murid-murid Damai Sejahtera

Dalam Yohanes 20:19 dan 21, Tuhan dua kali berkata kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera bagi kamu!” Tuhan mengatakan perkataan ini setelah ia bangkit dan berhimpun dengan murid-murid-Nya pada kali pertama. Damai sejahtera kita peroleh dalam sidang. Kita harus bersidang, jika tidak, kita tidak mempunyai damai sejahtera. Jadi, kita harus mengikuti sidang, karena di sanalah kita baru dapat menikmati damai sejahtera.

D. Memberi Amanat kepada Murid-murid

Setelah Tuhan mengatakan, “Damai sejahtera bagi kamu,” Ia berkata juga kepada murid-murid-Nya, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21). Tuhan berkata, sebagaimana Bapa mengutus Dia, demikianlah Ia mengutus kita. Pengutusan Tuhan sama dengan pengutusan Bapa. Bapa mengutus Dia, Ia pun mengutus kita. Bagaimana Bapa mengutus Tuhan? Melalui Bapa berada di dalam Putra. Melalui tinggal di dalam Putra, Bapa mengutus Putra. Hayat, sifat, penyertaan Bapa, dan Bapa sendiri, datang bersama Tuhan. Tuhan mengutus murid-murid-Nya dengan memberikan diri-Nya sebagai hayat dan segala sesuatu kepada mereka. Demikian pula hari ini Putra mengutus kita. Dia mengutus kita, memberikan hayat-Nya, sifat, dan penyertaan-Nya kepada kita. Bapa melalui bersatu dengan Putra, dan tinggal di dalam Putra, telah mengutus Putra; demikian pula Putra melalui bersatu dengan kita, dan tinggal di dalam kita, telah mengutus kita.

Tuhan mengutus kita dengan cara mengembuskan Roh Kudus ke dalam kita (Yoh. 20:22). Inilah sebabnya begitu Ia selesai berkata, “Demikian juga sekarang Aku mengutus kamu,” Ia segera mengembuskan Roh Kudus ke dalam murid-murid. Melalui mengembuskan Roh Kudus ke dalam mereka, Tuhan Sang Roh ini masuk ke dalam murid-murid, tinggal di dalam mereka untuk selamanya (Yoh. 14:16-17). Karena itu, tak peduli ke mana murid-murid diutus, Ia senantiasa beserta dengan mereka. Ia bersatu dengan mereka. Kita akan segera melihat bahwa Tuhan mengembuskan Roh Kudus ke dalam kita berarti Tuhan mengembuskan diri-Nya ke dalam kita. Sebab itu, kita harus menerima Roh Kudus, realitas Kristus. Jika kita sudah menerima Roh Kudus, kita sudah menerima realitas Kristus, yaitu menerima diri Kristus sendiri. Dari sini kita melihat, Tuhan mengutus kita dengan jalan mengembuskan diri-Nya ke dalam kita.

E. Mengembuskan Roh Kudus ke Dalam Murid-murid

Ayat 22 mengatakan, “Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’” Tuhan adalah Firman, Firman ini ialah Allah Sang kekal (1:1). Dalam Injil Yohanes, Firman telah melalui suatu proses yang sangat panjang, akhirnya menjadi “hawa udara” (pneuma) agar masuk ke dalam murid-murid. Demi merampungkan kehendak kekal Allah, Dia mengambil dua langkah. Langkah pertama, Ia berinkarnasi, menjadi manusia di dalam daging (Yoh. 1:14), menjadi “Anak Domba Allah”, menggenapkan penebusan bagi manusia (Yoh. 1:29), menyatakan Allah kepada manusia (Yoh. 1:18), dan menyatakan Bapa kepada kaum beriman-Nya (Yoh. 14:9-11). Langkah kedua, Ia mati dan bangkit, ditransfigurasi menjadi Roh itu, sehingga Dia bisa menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kaum beriman, menjadi hayat dan segala sesuatu mereka, dan agar Dia bisa menghasilkan banyak putra Allah, yaitu para saudara-Nya, bagi pembangunan Tubuh-Nya, yaitu gereja, tempat kediaman Allah, untuk mengekspresikan Allah Tritunggal sampai selamanya. Karena itu, pada mulanya Dia adalah Firman yang kekal. Kemudian melalui inkarnasi, Ia menjadi manusia di dalam daging untuk menggenapkan penebusan Allah; dan melalui mati dan bangkit, Dia menjadi Roh itu, untuk menjadi segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu, untuk merampungkan pembangunan Allah.

Jangan lupa, Firman kekal menempuh dua langkah: Pertama, menjadi tubuh daging (Yoh. 1:14); kedua, menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Kita harus mengingat kedua “menjadi” ini menjadi tubuh daging dan menjadi Roh pemberi hayat. Firman kekal mula-mula menjadi tubuh daging, kemudian menjadi Adam yang akhir, dan juga menjadi Roh pemberi hayat. Langkah pertama ialah menjadi tubuh daging, kedua ialah kebangkitan. Langkah pertama untuk penebusan, langkah kedua untuk penyaluran hayat. Setelah menjadi tubuh daging, menjadi Anak Domba Allah, mengalirkan darah adi-Nya bagi penebusan kita, Ia dalam kebangkitan menjadi Roh pemberi hayat agar dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat. Tidak banyak orang Kristen yang memahami hal ini. Kebanyakan orang Kristen hanya melihat Kristus menempuh langkah inkarnasi untuk menggenapkan penebusan, mereka tidak melihat langkah kedua dalam kebangkitan, Adam yang akhir dengan membawa tubuh daging menjadi Roh pemberi hayat agar dapat masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Tetapi Injil Yohanes jelas mewahyukan kedua langkah ini. Dalam pasal pertama, Firman kekal menjadi tubuh daging, menjadi Anak Domba Allah. Dalam pasal 20, Sang Ajaib ini mengambil satu langkah lain, yakni langkah kebangkitan, untuk menjadi Roh pemberi hayat. Karena itulah pada malam hari kebangkitan-Nya, Ia telah datang dan menjadikan diri-Nya Roh, diembuskan ke dalam murid-murid. Kitab Injil ini mempersaksikan bahwa Tuhan adalah Allah (Yoh. 1:1-2; 5:17-18; 10:30-33; 14:9-11; 20:28), adalah hayat (Yoh. 1:4; 10:10; 11:25; 14:6) dan juga kebangkitan (Yoh. 11:25). Yohanes 1-17 membuktikan bahwa Dia adalah Allah di tengah-tengah manusia; manusia berlawanan dengan Dia sebagai Allah. Pasal 18-19 membuktikan bahwa di dalam lingkungan maut, Dia adalah hayat; maut atau lingkungan maut berlawanan dengan Dia sebagai hayat. Pasal 20-21 membuktikan bahwa Dia adalah kebangkitan di tengah-tengah ciptaan lama, hayat alamiah; ciptaan lama, hayat alamiah, berlawanan dengan Dia sebagai kebangkitan. Realitas kebangkitan ini adalah Roh itu. Dia sebagai kebangkitan, hanya terealisasikan (terwujud nyata) di dalam Roh itu. Sebab itu, akhirnya Dia adalah Roh di dalam kebangkitan. Di tengah-tengah manusia, Dia adalah Allah (pasal 1-17); di dalam kematian, Dia adalah hayat (pasal 18-19); di dalam kebangkitan, Dia adalah Roh itu (pasal 20-21).

1. Penggenapan Janji Tuhan

Roh Kudus dalam ayat 22 adalah Roh itu, yang diharapkan dalam Yohanes 7:39, dan juga Roh itu, yang dijanjikan dalam Yohanes 14:16-17, 26; 15:26; 16:7-8, 13. Jadi, Tuhan mengembuskan Roh Kudus ke dalam murid-murid, adalah menggenapkan janji-Nya akan Roh Kudus sebagai Penolong. Ini berbeda dengan penggenapan dalam Kisah Para Rasul 2:1-4 yang adalah penggenapan janji Bapa yang dikatakan dalam Lukas 24:49. Dalam Yohanes 14, Tuhan berjanji bahwa Ia akan minta kepada Bapa untuk mengutus satu Penolong yang lain. Dalam Yohanes 20 ini, Ia membawakan satu Penolong lain, yaitu Roh realitas kepada muridmurid-Nya. Kini Roh realitas itu sudah masuk ke dalam murid-murid, dan tinggal di dalam mereka. Kini murid-murid tahu bahwa Tuhan di dalam Bapa, Bapa pun di dalam Putra, lagi pula kini mereka tinggal di dalam Tuhan, Tuhan pun berada di dalam mereka. Mereka tahu, kini mereka bersatu dengan Allah Tritunggal. Sebab itu, firman Tuhan yang dikatakan kepada mereka dalam pasal 14, 15, dan 16 sudah digenapkan pada saat ini juga. Kita harus membaca ketiga pasal kitab itu dengan saksama agar dapat memahami perkara yang terjadi di sini. Yang digenapkan di sini ialah Tuhan pergi melalui kematian dan kebangkitan, kemudian menjadi Roh itu datang kepada murid-murid Ia datang sebagai satu Penolong lain agar menjadi realitas mereka, supaya mereka bersatu dengan Allah Tritunggal. Pada saat itu, murid-murid sangat bersukacita. Tuhan pernah memberi tahu mereka bahwa tinggal sesaat saja, mereka tidak melihat Dia lagi (Yoh. 16:16). Sekarang, tinggal sesaat saja pula, murid-murid melihat Tuhan lagi sehingga genaplah firman Tuhan yang dikatakan dalam pasal 14-16.

2. Berbeda dengan yang Digenapkan dalam Kisah Para Rasul 2

Yang digenapkan dalam Yohanes 20:22 berbeda dengan yang digenapkan dalam Kisah Para Rasul 2:1-4. Namun, banyak orang Kristen mengira bahwa yang dijanjikan dalam Yohanes 14, 15, dan 16 digenapkan pada hari Pentakosta; mereka mengira Penolong yang lain itu datang pada hari Pentakosta. Sebenarnya yang digenapkan dalam Kisah Para Rasul 2:1-4 adalah yang dijanjikan Bapa dalam Yoel 2:28-32; dalam Lukas 24:49 Tuhan menyinggung hal ini dengan mengatakan, “Lihatlah, Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota (Yerusalem) ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” Setelah Tuhan bangkit, sebelum naik ke surga secara terbuka, Ia mengingatkan murid-murid tentang janji Allah. Semua sepakat mengakui bahwa apa yang Bapa janjikan ini adalah diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, dan digenapkan dalam Kisah Para Rasul 2. Tetapi janji dalam Yohanes 14, 15, dan 16 bukan janji Bapa tentang kekuasaan, melainkan janji Putra tentang Penolong. Janji tentang Penolong ini digenapkan pada hari kebangkitan Tuhan. Sebelum Tuhan mengingatkan murid-murid akan janji Bapa, janji tentang Penolong dalam Injil Yohanes sudah tergenapkan. Setelah Tuhan bangkit, menjelang kenaikan yang terbuka, Ia memperingatkan murid-murid supaya mereka menunggu janji Bapa tentang kekuasaan.

Yang digenapkan pada hari kebangkitan Tuhan adalah janji tentang Roh Kudus sebagai hayat dan kebenaran (realitas). Yang digenapkan pada hari Pentakosta ialah janji tentang Roh Kudus sebagai kuat kuasa. Roh Kudus mempunyai dua aspek. Pada hari kebangkitan Tuhan, murid-murid memperoleh Roh hayat sebagai realitas Kristus. Lima puluh hari kemudian, pada hari Pentakosta, mereka menerima Roh kuasa. Pentakosta berarti lima puluh hari. Pada hari kedelapan yang pertama (melambangkan kebangkitan), Roh Kudus diterima sebagai hayat dan realitas Kristus; pada hari kedelapan yang kedelapan (melambangkan kebangkitan dalam kebangkitan), yakni hari pertama minggu kedelapan, Roh Kudus diterima sebagai perlengkapan dan kuasa pekerjaan mereka.

Injil Lukas dan Kitab Kisah Para Rasul, keduanya ditulis oleh Lukas. Jalur Injil Lukas adalah untuk pekerjaan, jalur kekuasaan; sedangkan jalur Injil Yohanes adalah untuk hayat, jalur hayat. Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, kita akan nampak bahwa Roh Kudus mula-mula adalah Roh hayat, kemudian baru Roh kuasa. Dalam jalur Injil Lukas, Roh kuasa diumpamakan seperti jubah yang kita pakai. Dalam jalur Injil Yohanes, Roh diumpamakan sebagai air yang kita minum. Baju menutupi kita di luar, air minum memenuhi kita di dalam. Menurut jalur Injil Lukas, ketika Roh itu datang, Ia turun ke atas diri kita (Kis. 1:8), berlawanan dengan jalur Injil Yohanes, Roh itu masuk ke dalam kita, karena Roh realitas itu akan tinggal di dalam kita (Yoh. 14:17). Jadi, jalur Injil Yohanes ialah untuk hayat yang di dalam kita, sedangkan jalur Injil Lukas adalah untuk kekuasaan pada diri kita. Di samping itu, kalau kita membaca Kisah Para Rasul 4 dengan teliti, kita akan melihat mengapa kekuasaan diumpamakan sebagai jubah atau seragam. Seorang polisi yang berseragam telah diperlengkapi dengan kekuasaan. Demikian pula, Roh Kudus sebagai kekuasaan turun ke atas Petrus dan murid-murid lain, menjadi seragam mereka. Tetapi pada hari kebangkitan Tuhan, Roh Kudus diembuskan ke dalam mereka, bukan untuk perlengkapan lahiriah, melainkan untuk kepenuhan di dalam. Dalam jalur Injil Lukas, Roh kuasa diumpamakan juga sebagai “tiupan angin keras” (Kis. 2:2). Angin untuk kekuasaan. Dalam jalur Injil Yohanes, Roh hayat diumpamakan sebagai hawa udara. Udara bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk hayat. Dalam Yohanes 20:22, Roh Kudus adalah hawa udara sebagai hayat, diembuskan ke dalam murid-murid menjadi hayat mereka. Melalui pengembusan Roh Kudus ke dalam murid-murid, Tuhan menyalurkan diri-Nya ke dalam mereka sebagai hayat dan segala sesuatu. Jadi, apa yang Ia katakan dalam pasal 14-16 telah digenapkan.

Sebagaimana jatuh ke dalam tanah dan mati kemudian tumbuh kembali dari dalam tanah, mengubah sebutir biji gandum menjadi satu corak lain yang baru dan hidup, demikian juga, kematian dan kebangkitan Tuhan mentransfigurasi Dia dari tubuh daging menjadi Roh itu. Di dalam daging Dia adalah Adam yang akhir, melalui mati dan bangkit Dia menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Sebagaimana Dia adalah perwujudan Bapa, Roh itu juga adalah perwujudan, realitas-Nya. Dia adalah Roh itu, maka bisa diembuskan ke dalam murid-murid. Dia adalah Roh itu, maka bisa diterima ke dalam murid-murid-Nya, bahkan seperti “aliran-aliran air hidup” mengalir keluar dari dalam mereka (Yoh. 7:38-39). Dia adalah Roh itu, maka bisa melalui mati dan bangkit kembali kepada murid-murid, masuk ke dalam mereka menjadi Penolong, mulai tinggal di dalam mereka (Yoh. 14:16-17). Dia adalah Roh itu, maka bisa hidup di dalam murid-murid, dan murid-murid bisa hidup oleh dan bersama Dia (Yoh. 14:19). Dia adalah Roh itu, maka bisa tinggal di dalam murid-murid dan murid-murid bisa tinggal di dalam Dia (Yoh. 14:20; 15:4-5). Dia adalah Roh itu, maka bisa bersama Bapa datang kepada orang yang mengasihi-Nya, bersamanya mengatur tempat tinggal (Yoh. 14:23). Dia adalah Roh itu, maka segala apa adanya Dia, dan segala milik-Nya bisa direalisasikan oleh murid-murid (Yoh. 16:13-16). Dia adalah Roh itu, maka bisa berhimpun ber-sama saudara-saudara-Nya (yaitu gereja), mengumumkan nama Bapa kepada mereka, dan memuji-muji Bapa di tengah-tengah mereka (Ibr. 2:11-12). Dia adalah Roh itu, maka bisa menjadi hayat dan segala sesuatu mereka, yang diutus untuk amanat-Nya, sebagaimana Bapa mengutus Dia (Yoh. 20:21). Demikianlah murid-murid bersyarat mewakili Dia dengan kuasa-Nya di dalam persekutuan Tubuh-Nya (Yoh. 20:23) untuk melaksanakan amanat-Nya.