HAYAT DALAM KEBANGKITAN (2)
3. Penolong
Roh Kudus yang diembuskan ke dalam kaum beriman adalah Penolong (Yoh. 14:16, 26; 15:26; 16:7). Penolong ini dalam bahasa aslinya berarti penghibur, pembela, yang senantiasa mendampingi kita, menjaga kita dan mengurusi segala masalah kita dan segala macam urusan kita. Dalam bahasa aslinya sama dengan “pengantara” dalam 1Yohanes 2:1. Jika kita menaruh 1Yohanes 2:1 bersama dengan Yohanes 14:16, akan jelas melihat bahwa hari ini Tuhan Yesus di sebelah kanan Allah di surga adalah Pengantara kita, di samping itu Ia di dalam roh kita adalah Penolong kita. Di surga, di sebelah kanan Allah Bapa, Ia adalah Pengantara; di dalam roh kita, Ia adalah Penolong. Ini menerangkan alasannya Ia adalah tangga, di mana malaikat-malaikat Allah naik turun di atas-Nya (Yoh. 1:51). Sebagai Tuhan yang naik ke surga, Ia adalah Pembela kita di hadapan Allah Bapa, di surga Ia mengurusi kasus kita. Sebagai Roh yang tinggal di dalam kita, Ia adalah penolong yang beserta dengan kita (Yoh. 14:16-17), di samping kita, dan memelihara kita. Betapa kita harus berterima kasih kepada Penghibur ini! Ia di sana, pada waktu yang sama, Ia pun di sini.
4. Roh Realitas
Roh itu adalah Roh realitas (Yoh. 14:17; 15:26; 16:13). Putra merupakan ekspresi konkret Bapa beserta segala kelimpahan-Nya (Kol. 2:9), tetapi Roh itu adalah realisasi, realitas Putra beserta kelimpahan-Nya (Yoh. 16:3-15; 1:16). Bapa beserta segala kelimpahan-Nya telah dikonkretkan dan diekspresikan dalam Putra. Selain Putra, tidak seorang pun dapat melihat dan menjamah Bapa. Putra beserta segala kelimpahan Putra telah diwahyukan dan direalisasikan sebagai Roh. Di luar Roh, tak seorang pun dapat menerima atau mengalami Putra. Roh ialah realitas Allah Tritunggal, untuk pengalaman kita.
5. Roh Yesus yang Dimuliakan
Roh itu yang diembuskan ke dalam murid-murid juga adalah Roh Yesus yang dimuliakan (Yoh. 7:39). Sebelum Kristus bangkit, Roh itu hanyalah Roh Allah, hanya mempunyai unsur ilahi; tetapi setelah Ia bangkit, Roh ini menjadi Roh Yesus yang dimuliakan, yang mempunyai unsur ilahi dan unsur insani. Demikianlah Roh Allah menjadi Roh almuhit (meliputi segala sesuatu).
Allah kita hari ini adalah Allah yang telah “melalui proses”, tidak sama dengan Ia yang dahulu. Sebelum Ia ber-inkarnasi, Ia hanyalah Allah yang bersifat ilahi, tetapi melalui langkah inkarnasi, tersalib, bangkit, Ia sudah menjadi Allah yang “melalui proses”. Jangan menolak konsepsi ini atau mencoba mendebat. Pada kekekalan yang lampau, Ia adalah Allah. Pada suatu hari, Ia berinkarnasi menjadi manusia, tinggal di bumi tiga puluh tiga setengah tahun, mengalami kehidupan manusia. Bukankah ini suatu proses? Kemudian Ia dipaku di kayu salib, ditaruh dalam maut. Ia masuk dalam maut, menjelajah maut, menerobos maut, akhirnya keluar dari maut. Bukankah ini juga suatu proses? Tentu ya. Coba pikirkanlah proses yang dialami anak domba Paskah. Sebagai Anak Domba Paskah yang sejati, Kristus pun mengalami suatu proses pengolahan. Melalui inkarnasi, kehidupan insani, terpaku di salib, bangkit, dan naik surga, Allah kini sudah “berlainan” dengan sebelum inkarnasi. Ia tentu tidak sama dengan Ia pada saat penciptaan. Pada saat penciptaan, Ia semata-mata adalah Allah, yakni Sang ilahi itu. Tetapi setelah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, tersalib, bangkit, naik ke surga, Ia menjadi Allah yang hebat! Kini Allah ini tidak saja mempunyai sifat ilahi, Ia pun mempunyai sifat insani, kehidupan insani, penyaliban yang almuhit, kebangkitan, dan kenaikan. Alangkah hebatnya! Ia kini adalah Sang ajaib, membawa sifat ilahi, sifat insani, dan berbagai macam kebajikan, atribut, dan pencapaian. Inilah Allah kita hari ini, Ia adalah Roh almuhit, mendatangi kita dan masuk ke dalam kita. Inilah Allah yang melalui proses menjadi kenikmatan kita. Hari ini kita sedang menikmati Allah yang melalui proses ini. Sekalipun ada sebagian orang Kristen akan mencela saya karena saya menggunakan istilah “melalui proses” ini, namun semakin mereka ingin menulis surat mengkritik saya, mereka semakin melihat terang. Kebenaran adalah kebenaran. Kita sedang menikmati Allah yang “melalui proses” dan Allah yang “melalui proses” ini adalah hayat dalam kebangkitan. Realitas kebangkitan ini adalah Roh pemberi hayat. Jadi, Roh pemberi hayat adalah hayat dalam kebangkitan. Puji Dia, setelah bangkit, Ia menjadi hayat dalam kebangkitan, yaitu Roh Yesus yang dimuliakan.
6. “Roh Yesus”, “Roh Kristus”, “Roh Yesus Kristus”
Roh ini juga adalah Roh Yesus, Roh Kristus, dan Roh Yesus Kristus. Roh Yesus terutama mengacu kepada Yesus sebagai seorang manusia. Ia pernah hidup di bumi untuk menggenapkan penebusan, mengalami kesengsaraan insani (Kis. 16:7). Roh Kristus terutama mengacu kepada Tuhan setelah bangkit menjadi Persona ilahi yang memiliki sifat insani yang unggul, Ia kini tinggal di dalam roh kita, menjadi hayat kita (Rm. 8:9). Roh Yesus Kristus menunjukkan bahwa hari ini Roh itu adalah Roh Tuhan yang almuhit, Ia Allah juga manusia, mencakup sifat ilahi-Nya, sifat insani-Nya, kehidupan insani-Nya, penyaliban-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan segala unsur ilahi-Nya, kebajikan insani-Nya, serta pencapaian-Nya. Sebab itu, Roh almuhit ini memiliki “suplai yang limpah lengkap” (Flp. 1:19 Tl.). Tak peduli kita dalam keadaan apa, dan apa pun yang kita perlukan, Roh almuhit ini, yakni Roh Yesus Kristus, dapat dengan tepat menyuplai keperluan kita. Ketika Rasul Paulus menulis Filipi 1:19, ia sedang dipenjara. Dalam keadaan itu, ia mengalami suplai limpah lengkap yang diberikan oleh Roh almuhit dari Yesus yang menderita dan Kristus yang bangkit.
7. “Adam yang Akhir” Menjadi “Roh Pemberi-Hayat”
Kita telah melihat, 1Korintus 15:45 mengatakan ”Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat” (Tl.) Bentuk-Nya yang pertama ialah tubuh daging (Yoh. 1:14), dan bentuk-Nya yang kedua ialah Roh. Sebab itu Tuhan kini adalah Roh itu (2Kor. 3:17). Agar Tuhan bisa menjadi pengalaman kita, Ia mengambil dua langkah. Langkah pertama Ia berinkarnasi. Ia mengambil bentuk tubuh daging untuk menggenapkan penebusan bagi kita. Langkah kedua melalui kebangkitan. Melalui kebangkitan, Ia bertransfigurasi menjadi bentuk Roh, untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, menjadi hayat kita. Melalui semua ini, kita telah ditebus dan memperoleh kelahiran kembali, bisa menikmati Dia sebagai hayat kita dan segala sesuatu kita.
8. Roh Hayat
Roma 8:2 mengatakan Roh itu adalah Roh hayat. Roh hayat ialah hawa udara yang terembus dan tinggal di dalam murid-murid (Yoh. 14:16-17). Ini adalah untuk hayat dalam jalur Injil Yohanes. Untuk kuasa dalam jalur Injil Lukas, Roh itu diibaratkan sebagai angin topan yang bertiup ke atas diri murid-murid (Kis. 2:2-4). Dalam jalur Injil Yohanes, Roh diumpamakan sebagai udara hayat yang diembuskan ke dalam murid-murid (Yoh. 20:22), dan tinggal di dalam mereka menjadi hayat mereka. Roh hayat ini tak lain adalah Kristus yang bangkit, kini menjadi Roh pemberi hayat.
F. Menjadikan Murid-murid Berkuasa
Setelah Tuhan menghembusi murid-murid, lalu Ia berkata kepada mereka, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh. 20:23). Di sini kita melihat Tuhan memberikan kuasa kepada murid-murid untuk mewakili Dia, mengampuni orang; memberi mereka kuasa untuk membelenggu dan membebaskan. Inilah kuasa mengampuni orang atau menetapkan dosa orang. Meskipun murid-murid mempunyai kuasa ini, mereka berada dalam Roh Kudus, bukan menggunakannya dalam ego sendiri. Ketika kita dalam Roh Kudus, dan dipenuhi Roh Kudus, kita akan berkuasa menetapkan dapat tidaknya seseorang diampuni oleh Allah. Jika kita mengatakan ia sudah diampuni, maka ia pasti sudah diampuni. Tetapi kuasa ini hanya dapat kita gunakan di dalam Roh Kudus dan ketika dipenuhi oleh Roh Kudus. Selain itu, kuasa ini harus di dalam persekutuan Tubuh, dan untuk persekutuan Tubuh. Dalam persekutuan Tubuh, baru kita berkuasa mewakili Allah untuk mengampuni orang, dan hanya untuk Tubuh juga baru kita dapat mewakili Allah untuk menerima orang yang diampuni Allah masuk ke dalam gereja, yakni Tubuh-Nya.
G. Sidang Pertama Gereja Sebelum Hari Pentakosta
Perhimpunan murid-murid pada malam hari kebangkitan Tuhan yang tercantum dalam Yohanes 20:19, boleh dipandang sebagai persidangan (perhimpunan) gereja yang pertama sebelum Pentakosta. Ini menggenapi Mazmur 22:23 dan sesuai dengan Ibrani 2:10-12, sehingga Putra bisa memberitakan nama Bapa kepada saudara-saudara-Nya, dan memuji-muji Bapa di tengah-tengah gereja. Memasyhurkan nama Allah adalah agar murid-murid tahu bahwa Bapa adalah sumber hayat, supaya mereka beroleh bagian dalam sifat ilahi-Nya. Memuji-muji nama Bapa di tengah-tengah gereja adalah memuji nama Bapa dalam puji-pujian kaum beriman dalam sidang gereja. Menurut Mazmur 22:23 dan Ibrani 2:10-12, pada hari kebangkitan-Nya, Tuhan telah mengerjakan dua-duanya, yaitu memuji-muji dan memasyhurkan Bapa dalam sidang pertama gereja.
Sejak malam hari pertama setelah Tuhan bangkit, Dia sudah datang berhimpun dengan murid-murid-Nya. Karena itu, berhimpun dengan kaum saleh di dalam kebangkitan Tuhan adalah satu hal yang sangat penting. Maria Magdalena berjumpa dengan Tuhan secara pribadi pada pagi hari, dan ia mendapatkan berkat (Yoh. 20:16-18). Namun, ia masih perlu berhimpun bersama kaum saleh lainnya pada malam hari, secara korporat berjumpa dengan Tuhan, agar mendapatkan berkat yang lebih banyak dan lebih besar (Yoh. 20:19-23). Dalam sidang pertama dengan murid-murid setelah kebangkitan-Nya, ada penyertaan Tuhan, damai sejahtera, pengutusan Tuhan, embusan, dan kuasa untuk membelenggu dan membebaskan. Semua ini adalah berkat yang Tuhan bawakan kepada murid-murid dalam sidang gereja kali itu. Tak peduli berapa baiknya persekutuan Maria dengan Tuhan dalam munajat pagi, Ia masih perlu datang ke sidang malam hari untuk menerima semua berkat ini. Berkat-berkat ini lebih besar dan lebih penting. Dalam munajat pagi, kita semua memperoleh sesuatu dari Tuhan, bahkan memperoleh Tuhan sendiri, tetapi itu adalah keperluan kita pribadi. Kita masih harus datang ke dalam sidang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih penting. Munajat pagi dengan sidang gereja merupakan dua aspek. Kita perlu berkat pribadi pada aspek pertama, kita pun perlu berkat korporat pada aspek kedua.
Tomas tidak hadir pada sidang pertama dengan murid-murid setelah kebangkitan Tuhan. Namun, karena ia mengikuti sidang kedua, ia menambal anugerah yang hilang dalam sidang pertama (Yoh. 20:25-28). Oh, kita sungguh-sungguh tidak boleh kehilangan sidang gereja yang mana pun. Kita tidak boleh mengatakan “Tidak mengapa, kita mau istirahat di rumah.” Kalau Tuhan datang, kita akan seperti Tomas, kehilangan kesempatan berjumpa dengan Dia. Kali itu Tomas tidak dapat melihat penampakan Tuhan. Karena ia tidak hadir dalam sidang gereja yang pertama, ia benar-benar kekurangan sesuatu. Pasal ini penuh wahyu, tetapi Tomas telah melewatkan seluruhnya. Ia tidak mendapatkan visi, tidak menemukan, juga tidak mengalami kebangkitan Tuhan, dikarenakan ia tidak mengikuti munajat pagi dan sidang gereja. Ia belum memperoleh wahyu yang menyatakan bahwa murid-murid adalah saudara-saudara Tuhan, juga anak-anak Allah. Ia pun tidak memperoleh damai sejahtera, embusan Roh Kudus, amanat ilahi, dan kuasa. Ia beroleh selamat, ia seorang saudara, tetapi karena ia tidak hadir dalam sidang kali itu, ia kehilangan banyak hal.
Pada pagi hari, kita masing-masing harus bermunajat pagi secara pribadi; tetapi pada malam hari, kita harus menghadiri sidang gereja. Kita sungguh perlu berkumpul bersama saudara saudari yang lain! Saat itu, Tuhan akan membawakan sesuatu yang lain, yang lebih banyak, lebih besar. Janganlah sombong karena pengalaman indah Anda dalam munajat pagi, jangan pula mengatakan asal ada munajat pagi sudah cukup. Kita masih harus datang ke dalam sidang gereja, berkumpul bersama kaum beriman. Di antara kita ada orang yang tidak bermunajat pagi, ada orang yang tidak mengikuti sidang malam. Namun kita masing-masing harus memiliki munajat pagi pribadi, juga harus mengikuti sidang korporat malam hari. Munajat pagi tidak dapat menggantikan sidang malam hari; sidang malam hari pun tidak dapat menggantikan munajat pagi. Kita perlu kedua-duanya. Terhadap Allah, segala sesuatu beraspek dua. Bahkan dalam hal berkontak dengan Tuhan, juga beraspek dua; ada aspek pribadi, ada aspek korporat. Karena itulah, pagi hari ada munajat pagi, malam hari ada sidang. Kita tidak boleh melalaikan munajat pagi, juga tidak boleh melalaikan sidang gereja. Pada pagi hari, Maria mendapatkan sesuatu yang segar lebih dulu, tidak ada yang lain yang dapat menggantikannya. Namun ia masih perlu sesuatu yang lain damai sejahtera, pengutusan, embusan, dan amanat. Semua ini hanya dapat diperoleh dalam sidang gereja. Amanat Tuhan diberikan kepada gereja, bukan kepada pribadi, maka kita harus berada di dalam gereja, barulah dapat diutus. Amanat adalah perkara Tubuh Kristus, karena itu, kita harus berada di dalam gereja, dan diutus Tuhan melalui gereja.
Mengherankan, pasal ini tidak pernah menerangkan bahwa Tuhan pergi. Pasal ini tidak pernah memberi tahu kita bahwa Ia telah meninggalkan murid-murid. Sungguh mengherankan, Tuhan mempunyai tubuh jasmani yang dapat disentuh, tetapi dapat masuk ke dalam rumah melewati pintu yang tertutup rapat. Ini menyatakan, setelah Tuhan bangkit, Tuhan adalah Roh itu. Karena Tuhan yang bangkit kini adalah Roh itu, maka Ia dapat kapan saja dan di mana saja, beserta dengan murid-murid. Sejak Ia bangkit, waktu atau ruang tidak menjadi masalah bagi-Nya. Kini Tuhan dapat beserta dengan kita dalam keadaan apa pun. Mungkin kita menutup pintu, tetapi Ia tetap beserta dengan kita. Menurut pasal ini, kita tidak tahu dari mana Tuhan datang atau kapan Ia pergi. Saya berulang-ulang membaca pasal ini, tetap tidak menemukan bagian yang mengatakan Tuhan pergi. Ini berarti setelah Tuhan bangkit, Ia adalah Roh itu. Roh ini kapan saja dan di mana saja, dalam segala keadaan, selalu beserta dengan kita. Tuhan senantiasa beserta dengan kita, satu-satunya perbedaan ialah kadang-kadang kita merasakan penyertaan-Nya, kadang-kadang tidak. Sekalipun kita tidak merasakan penyertaan-Nya, Ia tetap ada di sini. Hari ini bagi kita persoalannya bukan Ia datang atau pergi, melainkan Ia tertampak atau tersembunyi. Ketika Ia datang, Ia tertampak. Ketika Ia pergi, Ia tersembunyi. Namun pada hakikatnya, Ia selalu ada di sini. Tak peduli kita merasakan kehadiran-Nya atau tidak, Tuhan tetap ada di sini. Sekarang Tuhan tidak datang atau pergi. Sekarang perbedaannya hanyalah kadang Ia tertampak, kadang Ia tersembunyi. Sejak Ia menggenapkan segala sesuatu, Ia telah membuat diri-Nya bersatu dengan murid-murid, dan murid-murid kini telah bersatu dengan-Nya.
IV. BERSIDANG BERSAMA KAUM BERIMAN
A. “Delapan Hari Kemudian”
Yohanes 20:26 mengatakan, “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, ‘Damai sejahtera bagi kamu!’” Perhimpunan murid-murid di sini boleh dipandang sebagai persidangan gereja kali kedua yang memiliki penyertaan Tuhan sebelum Pentakosta. Dari kata “delapan hari kemudian”, kita tahu kali ini murid-murid berkumpul pada hari pertama dari minggu kedua, yaitu hari Tuhan yang kedua setelah kebangkitan Tuhan. Puji Tuhan, tidak hanya ada hari Minggu yang pertama, masih ada hari Minggu yang kedua. Pada hari Minggu yang kedua itu, Tomas juga hadir. Kita akan melihat, kali ini Tuhan khusus datang untuk Tomas, Ia langsung datang ke hadapan Tomas untuk menanggulangi Tomas.
Setelah Tuhan bangkit, pertama-tama Ia menampak-kan diri kepada Maria Magdalena yang mencari-Nya. Kemudian Ia secara rahasia naik kepada Bapa, mempersembahkan kesegaran kebangkitan-Nya kepada Bapa agar Bapa dipuaskan. Setelah itu, Ia menjadi Roh itu kembali ke bumi, mengembuskan diri-Nya ke dalam murid-murid, dan juga menjumpai saudara-saudara-Nya. Dalam ayat 26, kita melihat Ia selanjutnya berhimpun bersama saudara-saudara-Nya. Jangan mengira berkumpul dengan kaum beriman adalah perkara yang kecil. Ini adalah perkara yang besar, kita tidak boleh melalaikan hal ini. Saya sangat mengapresiasi pengalaman yang diperoleh Maria pada hari Tuhan bangkit, ia benar-benar mempunyai suatu munajat pagi yang sangat baik. Munajat pagi kali itu membuat dia mengikuti sidang malam harinya.
B. Kedatangan-Nya Ialah Penampakan-Nya
Delapan hari sebelumnya, setelah kedatangan Tuhan dalam ayat 19, tidak ada kata-kata jelas atau petunjuk dalam catatan Yohanes yang mengatakan bahwa Tuhan meninggalkan murid-murid. Meskipun mereka tidak merasakan penyertaan Tuhan, sebenarnya Tuhan tetap beserta dengan mereka. Setelah mengembuskan diri-Nya ke dalam murid-murid, Ia tinggal di dalam mereka, beserta dengan mereka. Karena murid-murid-Nya tidak selalu merasakan penyertaan-Nya, maka Ia perlu menampakkan diri. Keda-tangan-Nya yang dikatakan dalam ayat ini bukan sungguh-sungguh datang, melainkan merupakan penyataan kehadiran-Nya. Sebelum Tuhan mati, Dia berada di dalam tubuh daging, penyertaan-Nya terlihat jelas. Setelah Tuhan bangkit, penampakan atau penyertaan-Nya tidak terlihat. Penampakan atau penampilan-Nya setelah kebangkitan-Nya adalah untuk melatih murid-murid menyadari, menikmati, dan terbiasa dengan penyertaan-Nya yang tidak terlihat yang sebenarnya lebih praktis, lebih unggul, lebih mustika, lebih limpah, dan lebih riil daripada penyertaan-Nya yang terlihat. Penyertaan-Nya yang indah ini berada di dalam Roh itu dalam kebangkitan. Tuhan telah mengembuskan Roh itu ke dalam murid-murid, dan Roh itu akan selamanya beserta dengan mereka.
C. Menanggulangi Ketidakpercayaan Murid Melalui
Tinggal dalam Tubuh Kebangkitan-Nya yang
Terdapat Bekas Luka-luka Kematian-Nya
Dalam Yohanes 20:27, Tuhan berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Karena Tomas tidak hadir dalam sidang yang pertama dengan Tuhan dalam kebangkitan, ia jauh ketinggalan. Saat ini Tuhan menampakkan diri di depannya untuk menanggulangi murid yang tidak percaya ini, dengan menunjukkan kepadanya bekas luka-luka kematian yang masih ada pada tubuh kebangkitan-Nya. Mengapa bekas luka-luka kematian-Nya masih tetap ada pada tubuh kebangkitan-Nya. Saya telah mengatakan, saya juga tidak tahu. Meskipun Tomas dahulu menjadi yang paling ketinggalan, namun setelah sidang gereja kali kedua, ia menjadi yang paling depan, sebab ia mengatakan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Tomas adalah orang pertama yang mengenal bahwa Anak Manusia adalah Tuhan (Kis. 2:36; 10:36; Rm. 14:9; 10:12-13; 1Kor. 12:3; 2Kor. 4:5; Flp. 2:11), juga Allah (Yoh. 1:1-2; 5:17-18; 10:30-33; Rm. 9:5; Flp. 2:6; 1Yoh. 5:20). Tomas bukan hanya orang pertama yang mengenal Anak Manusia adalah Tuhan, adalah Allah, tetapi juga orang pertama yang memproklamasikan Yesus adalah Tuhan, juga Allah sejati.
D. Melatih Murid-murid
Dalam pasal 20:29 Tuhan berkata kepada Tomas, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Tuhan tidak saja melalui penampakan-Nya menanggulangi ketidakpercayaan Tomas, Ia pun melatih murid-murid-Nya agar walau tidak melihat, namun percaya. Tuhan melatih mereka mengalami penyertaan-Nya yang tidak kelihatan. Karena penyertaan Tuhan dalam kebangkitan hari ini tidak kelihatan, maka kita harus percaya walau tidak melihat. Kalau kita ingin melihat baru percaya, itu keliru. Kita harus percaya walaupun belum melihat, karena penyertaan Tuhan kini sudah berbeda dengan penyertaan-Nya dalam tubuh daging. Pada saat itu penyertaan-Nya kelihatan, tetapi kini penyertaan-Nya tidak kelihatan, kita harus dengan iman merealisasikannya. Meskipun kita tidak melihat Dia, kita sungguh-sungguh percaya bahwa Ia beserta dengan kita. Menurut Kisah Para Rasul 1:3-4, Tuhan ada bersama murid-murid empat puluh hari lamanya, melatih mereka merealisasikan dan mengalami penyertaan-Nya yang tidak kelihatan.
E. Tujuan Injil Yohanes
Ayat 30-31 mengatakan, “Memang masih banyak tanda mukjizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Semua ayat ini menerangkan bahwa tujuan Injil Yohanes adalah untuk membuktikan Yesus ialah Kristus (Yoh. 1:41; 4:25, 29; 7:41-42; Mat. 16:16; Luk. 2:11), juga Anak Allah (Yoh. 1:34, 49; 9:35; 10:36; Mat. 16:16; Luk. 1:35). Semua ayat ini bersama dengan 21:25, menandaskan bahwa Injil Yohanes memilih dan mencatat beberapa perkara, khusus mempersaksikan hayat dan pembangunan.
Kristus ialah sebutan Tuhan menurut jabatan dan misi-Nya. Anak Allah adalah sebutan-Nya menurut persona-Nya. Persona-Nya berkaitan dengan hayat Allah, sedang misi-Nya berkaitan dengan pekerjaan Allah. Dia adalah Anak Allah menjadi Kristus Allah. Dia bekerja bagi Allah berdasarkan hayat Allah, agar manusia melalui percaya kepada-Nya bisa mendapatkan hayat Allah, menjadi anak-anak Allah, juga bisa bekerja berdasarkan hayat Allah, membangun Kristus yang korporat (1Kor. 12:12), sehingga merampungkan tujuan Allah mengenai pembangunan kekal-Nya.