← Daftar isi Yohanes (4) · bab 13/16

HAYAT DALAM KEBANGKITAN (3)

Tujuan Roh Kudus menulis Injil Yohanes ialah agar kita tahu bahwa melalui kebangkitan Kristus kita telah dijadikan anak-anak Allah. Ini adalah perkara yang ajaib dan mulia. Kita ini orang berdosa, hina, najis, tak berarti, tetapi melalui kematian dan kebangkitan Tuhan, kita menjadi anak-anak Allah. Kita memiliki hayat Allah, sifat Allah, dan kepenuhan Allah. Jadi, kita ini anak-anak Allah, seperti Anak (Putra) tunggal-Nya. Betapa ajaib! Tuhan telah memberi kita kemuliaan yang diberikan Bapa kepada-Nya pada kekekalan yang lampau. Apakah kemuliaan ini? Ini adalah hayat dan sifat Allah yang kita peroleh. Hayat dan sifat Allah ini menjadikan kita anak-anak Allah untuk mengekspresikan Allah.

Menjadi anak-anak Allah berarti menjadi ekspresi dan manifestasi Allah. Dengan kata lain, Kristus adalah Anak Allah, Ia mempunyai hayat dan sifat Allah, adalah manifestasi Allah. Inilah kemuliaan yang Allah Bapa berikan kepada Putra, juga kemuliaan yang Tuhan berikan kepada kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan telah membebaskan diri-Nya, dan menyalurkan diri-Nya ke dalam kita supaya kita mutlak seperti Dia. Ia adalah Putra Allah, Ia menjadikan kita anak-anak Allah. Ia memiliki sifat dan hayat Allah. Ia adalah ekspresi dan manifestasi Allah. Ia pun menjadikan kita ekspresi dan manifestasi Allah. Karena itu, kita mempunyai hayat, sifat, dan kedudukan yang sama dengan Dia. Inilah kemuliaan yang Tuhan berikan kepada kita. Sungguh ajaib!

Kita telah melihat, Tuhan mengutus kita sama seperti Bapa mengutus Dia (Yoh. 20:21). Bapa mengutus Dia dengan cara tinggal di dalam Dia, bersatu dengan Dia. Demikian pula, Kristus mengutus kita dengan cara tinggal di dalam kita, bersatu dengan kita. Kini kita adalah ekspresi dan manifestasi Allah, sebab Putra Allah telah disalurkan ke dalam kita dan kini telah berada dalam kita. Ia kini adalah Roh itu, Ia ada di dalam kita dan bersatu dengan kita. Jadi, apa yang Ia miliki, juga kita miliki, di mana Ia berada, kita pun ada di sana, kita mutlak sama seperti Dia. Sebab itu, Ia dapat mengutus kita, memberi kita amanat ilahi dan surgawi. Inilah kehendak yang ditetapkan Allah pada kekekalan yang lampau. Kehendak Allah yang kekal ialah Ia akan menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, membaurkan diri-Nya dengan kita, agar kita menjadi ekspresi dan manifestasi-Nya.

Melalui kematian dan kebangkitan, Tuhan menggenapkan semua ini. Ia adalah sebutir biji gandum, melalui kematian dan kebangkitan berlipat ganda menjadi banyak biji (12:24). Ia Putra tunggal, namun melalui reproduksi berlipat ganda menjadi banyak putra (Ibr. 2:10). Melalui kebangkitan, Ia telah melipatgandakan diri-Nya. Setelah Ia bangkit, Ia mewahyukan kepada Maria bahwa murid-murid sekarang adalah saudara-Nya (Yoh. 20:17). Ia semula Putra tunggal Allah, tetapi kini Ia telah menjadi Putra sulung di antara banyak anak. Sebelum Ia mati, Ia adalah Putra tunggal Allah; ketika itu Ia tidak mempunyai saudara. Tetapi setelah Ia bangkit, Putra tunggal ini menjadi Putra sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29). Lihatlah, sebutir gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, kemudian bangkit dan berlipat ganda menjadi banyak butir. Biji yang semula satu itu, sekarang berada dalam banyak biji. Sesungguhnya, Ia adalah biji-biji itu. Dalam Yohanes 12, Kristus adalah sebutir biji, tetapi dalam Yohanes 20, Ia telah menjadi banyak biji. Ini hanya dapat terlaksana melalui kematian dan kebangkitan. Sebelum pasal 18, Ia adalah Putra tunggal Allah, satu-satunya ekspresi Allah. Ketika itu di alam semesta, dalam seluruh umat manusia, hanya seorang saja yang adalah gambar dan penyataan manifestasi Allah. Tetapi setelah pasal 18 dan 19, sudah banyak anak Allah dan banyak ekspresi Allah. Melalui kematian dan kebangkitan Anak tunggal Allah, dihasilkan banyak anak. Satu biji telah berlipat ganda menjadi banyak biji. Karena itu, semua murid Tuhan menjadi saudara-saudara-Nya. Saudara-saudara ini ialah penyataan Allah, kini dapat mewakili Allah Tritunggal. Mereka diberi suatu amanat ilahi surgawi, untuk melakukan sesuatu di bumi, yaitu mengekspresikan, menyatakan Allah. Inilah makna Injil Yohanes.

Sampai pada akhir pasal 20, segalanya sangat indah dan sempurna. Kita sepertinya sudah menjamah sesuatu yang ilahi, rohani, surgawi, kekal, dan yang tak dapat kita bayangkan, seolah-olah sudah tidak memerlukan pasal 21. Lalu apa maksud dan tujuan tambahan satu pasal ini? Pada akhir pasal 20, Tuhan telah menjadi Roh itu, kembali dan beserta dengan murid-murid, menjadi segala sesuatu mereka. Karena itu, Injil ini boleh dikatakan sudah usai sampai di sini (Yoh. 20:30-31). Sampai di sini, kitab ini telah menyajikan beberapa hal yang ilahi, tetapi kita adalah manusia; kitab ini mewahyukan perkara yang surgawi, tetapi kita tetap di bumi; kitab ini mengungkapkan perkara yang kekal, tetapi kita masih di dalam waktu. Dengan kata lain, walau kita telah dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, tetapi kita masih di dalam tubuh daging. Meskipun kita adalah anak-anak Allah, tetapi kita tetaplah anak manusia. Kita telah menerima amanat surgawi, tetapi kita masih memerlukan makanan untuk hidup. Bagaimana murid-murid mencari nafkah? Bagaimana mereka harus melaksanakan amanat Tuhan? Setelah Ia bangkit, bagaimana mereka mengikuti Dia? Bagaimana masa depan mereka? Ingin membicarakan semua masalah ini, haruslah ada tambahan satu pasal lagi. Karena itu, pasal 21 mengatakan beberapa perkara yang sangat riil. Kita tidak dapat hanya duduk di sini memuji Allah dan berseru, “Haleluya, segala sesuatu adalah ajaib, surgawi, ilahi, dan kekal. Oh, sekarang kita adalah anak-anak Allah! Kita memiliki hayat dan sifat ilahi, kemuliaan Allah. Dan kita adalah wakil dan penyataan Allah.” Tetapi besok bagaimana? Apa yang harus kita makan? Dari mana kita dapat memperoleh uang untuk membeli makanan? Kita tak dapat terus-menerus puasa. Karena masalah tambahan ini, kita perlu pasal 21 untuk membantu kita menghadapi hidup kita, keluarga kita, dan banyak perkara lain di bumi.

Jika kita membandingkan standar pasal 20 dan 21, kita akan melihat bahwa standar pasal 20 sangat tinggi, sedangkan pasal 21 seolah-olah sangat rendah. Sebabnya ialah yang dibicarakan oleh pasal terakhir ini adalah mengenai kehidupan kita, makan, dan masalah-masalah lain yang riil. Bagaimana kita mencari nafkah, ini adalah masalah yang sangat riil. Kita perlu mengetahui mengapa setelah pasal 20 ada pasal 21, yaitu setelah kata-kata penutup masih ditambah satu pasal lagi. Pasal ini menampakkan kepada kita, setelah kita dengan ajaib dan ilahi terlahir kembali sebagai anak-anak Allah, kita masih di dunia ini, kita masih berada di bumi ini, kita masih di dalam waktu, kita masih mempunyai beberapa keperluan yang riil, kita masih mempunyai beberapa masalah riil yang harus dibereskan. Karena itu, Roh Kudus selanjutnya menulis lagi satu pasal.

V. HIDUP DAN BERGERAK BERSAMA

KAUM BERIMAN

Dalam Yohanes 21:1-14, Tuhan dan kaum beriman hidup dan bergerak bersama-sama. Dalam kebangkitan, Tuhan tidak saja berhimpun bersama para saudara, juga hidup dan bergerak bersama-sama mereka. Ia tidak hanya beserta dengan kita ketika kita berkumpul, bahkan dalam kehidupan sehari-hari juga beserta dengan kita. Ke mana kita pergi, Ia pun pergi ke sana. Apa pun yang kita kerjakan, Ia selalu menyertai kita. Tak peduli kita betul atau salah, Tuhan selalu menyertai kita.

A. Bersama Murid-murid Pergi ke Tepi Laut

Dalam Yohanes 21:1-11, Tuhan bersama murid-murid pergi ke tepi laut (LAI: danau), Ia menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai di tepi Laut Tiberias. Petrus, saudara yang mengepalai itu, mendahului kembali ke dalam dunia. Ia berkata, “Aku mau pergi menangkap ikan” (Yoh. 21:3). Keenam murid-Nya yang lain semua mengatakan, “Kami pergi juga dengan engkau.” Bukan hanya keenam murid itu mengikuti Petrus, Tuhan Yesus pun mengikuti Petrus. Tuhan Yesus tidak berkata kepada Petrus, “Petrus, engkau sedang mengerjakan apa? Apakah engkau sudah mundur dan lupa akan panggilan-Ku? Apakah engkau akan kembali ke laut? Aku takkan beserta denganmu. Kalau engkau mau ke sana, engkau harus pergi sendiri.” Ada orang bertanya, “Kalau aku pergi ke gedung bioskop, akankah Tuhan Yesus pergi besertaku?” Benar, Ia akan pergi bersama Anda. Ia tidak saja bersama Anda dalam sidang, Ia pun beserta Anda dalam gedung bioskop. Namun Ia bersama Anda pergi ke bioskop bukan untuk memberi damai sejahtera, melainkan untuk mengganggu Anda dan mengusik Anda, menyuruh Anda meninggalkan tempat itu. Karena Ia bisa beserta Anda dalam gedung bioskop, maka di sana Anda takkan beroleh kenikmatan yang manis. Akhirnya, Anda akan mengatakan, “Aku harus melupakan film ini, sebab Yesus takkan melepaskan aku.” Inilah hayat dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan, Tuhan Yesus bersama murid-murid pergi ke tepi laut.

1. Menampakkan Diri Lagi, Melatih Murid-Murid

untuk Menyadari Kehadiran-Nya

yang Tidak Kelihatan

Ayat 1 mengatakan, “Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau (laut) Tiberias.” Ini membuktikan bahwa kedatangan-Nya kepada murid-murid dalam 20:26 sebenarnya adalah suatu penampakan diri, karena di sini dikatakan bahwa Dia “menampakkan diri lagi”. Sekali lagi, Ia melatih mereka agar mereka terbiasa dengan penyertaan-Nya yang tidak terlihat. Ini bukan masalah kedatangan-Nya, melainkan masalah penampakan diri-Nya. Tak peduli bersama mereka merasakan penyertaan-Nya atau tidak, Dia senantiasa bersama dengan mereka. Karena kelemahan mereka, adakalanya Dia menampakkan penyertaan-Nya untuk memperkuat iman mereka terhadap-Nya.

2. Melatih Murid-murid Hidup demi Iman dalam Dia

Dalam pasal 21, Tuhan menampakkan diri kepada murid-murid, untuk melatih mereka, terutama Petrus, agar hidup demi iman. Yohanes 21:2-14 mewahyukan dua perkara utama: Kelemahan orang-orang yang sudah dilahirkan kembali, yang telah menerima amanat ilahi Allah, dan persediaan cukup dari Tuhan, yang dapat membantu kita hidup di bumi ini bagi amanat, kehendak, dan kesaksian Allah. Marilah kita terlebih dulu membahas kelemahan orang-orang yang sudah dilahirkan kembali, yang telah menerima amanat ilahi.

a. Petrus dan Murid-murid Lain Mundur dari Panggilan Tuhan, Kembali ke Pekerjaan Lama Mereka

Pada awal pasal ini, kita melihat gambaran tujuh orang murid yang dikepalai oleh Petrus (Yoh. 21:2-3). Bersama Petrus ada Tomas, Natanael, kedua anak Zebedeus, dan dua orang lainnya. Angka tujuh ini mewakili seluruh Tubuh. Seluruh Tubuh dan pemimpin mereka sedang melakukan apa? Mereka mundur dari panggilan Tuhan, balik ke pekerjaan lama (Mat. 4:19-20; Luk. 5:3-11). Petrus berkata kepada keenam murid lain, “Aku mau pergi menangkap ikan” (ayat 3). Ia pergi menangkap ikan untuk mencari nafkah, memperoleh makanan untuk dimakan. Murid-murid yang lain mengatakan, “Kami pergi juga dengan engkau” (ayat 3). Karena Petrus adalah pemimpin, maka mereka di bawah pimpinannya pergi menangkap ikan. Dengan demikian, seluruh Tubuh pergi menangkap ikan, lupa akan amanat kudus yang telah mereka terima. Tuhan telah berpesan agar mereka tinggal di Yerusalem, karena mereka sudah mendapat amanat (Luk. 24:49). Tuhan menghendaki mereka menunggu di Yerusalem, sampai mereka diperlengkapi dengan kekuasaan (kekuatan) dari tempat tinggi. Tetapi suatu gambaran yang kita lihat dalam pasal 21, menunjukkan bahwa murid-murid meninggalkan kedudukan itu. Mereka melepaskan tumpuan itu. Karena mereka meninggalkan Yerusalem dan datang ke Galilea, maka mereka melepaskan kedudukan mereka. Mereka menetapkan untuk pergi menangkap ikan. Petrus dengan beberapa murid lain pergi menangkap ikan untuk mencari nafkah. Mereka mungkin kekurangan suplai makanan dan sangat gelisah. Petrus mungkin mengatakan beberapa kata ini, “Kita hanya mempunyai sisa makanan untuk sekali makan. Aku tidak tahu makanan berikutnya datang dari mana. Aku akan pergi menangkap ikan.” Bukan hanya keenam murid itu yang pergi mengikuti dia, Tuhan Yesus pun pergi.

b. Keajaiban Nelayan Profesional Tidak Memperoleh Ikan

Ayat 3 mengatakan, murid-murid “berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.” Petrus dan kedua anak Zebedeus (Yohanes dan Yakobus) adalah nelayan-nelayan yang mahir. Laut Tiberias luas dan penuh dengan ikan, dan waktu malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk menangkap ikan. Tetapi ternyata sepanjang malam mereka tidak mendapatkan apa-apa. Ini sungguh ajaib! Mereka adalah nelayan-nelayan yang ulung. Mereka mengetahui bahwa malam hari ialah saat yang paling baik untuk menangkap ikan. Namun walau dalam laut banyak ikan, satu pun tidak dapat mereka tangkap. Sekali demi sekali mereka melemparkan jala, namun semalam suntuk tidak memperoleh apa-apa. Tuhan pasti secara berdaulat mengendalikan semua ikan agar mereka menjauhi jala. Boleh jadi Tuhan memerintah ikan-ikan dengan berkata, “Hai ikan, jauhilah jala mereka!”

Keajaiban tidak memperoleh ikan merupakan suatu pelajaran bagi Petrus dan murid-murid yang lain. Ini pun suatu pelajaran bagi kita hari ini. Jangan mengira asalkan kita pergi, pasti memperoleh pekerjaan, untuk hidup. Jika Tuhan mengendalikan semua pekerjaan, kita pasti takkan menemukan pekerjaan apa pun. Jangan Anda berpikir begitu Anda pergi ke laut, Anda akan dengan mudah memperoleh ikan. Bila kita di bawah bimbingan Tuhan, menangkap ikan menurut kehendak-Nya, pasti kita dapat menangkap sejumlah ikan. Tetapi jika kita tidak menurut kehendak Tuhan, dengan pendapat sendiri menangkap ikan, semua ikan akan lari ketakutan, Tuhan akan menyuruh ikan-ikan menjauhi kita. Sebagai orang Kristen yang telah dilahirkan kembali dan telah menerima amanat, kita harus bertindak dan bekerja menurut kehendak Tuhan, dalam hal mencari nafkah juga tidak terkecuali. Karena kita sudah dilahirkan kembali, dan Tuhan pun telah mengamanatkan kepada kita amanat yang ilahi dan surgawi, maka kita harus bertindak menurut kehendak-Nya. Kita tidak seharusnya mencari nafkah bersandarkan diri sendiri. Orang lain dapat demikian, tetapi kita tidak dapat. Bersamaan dengan murid-murid, mungkin ada sejumlah nelayan yang tidak percaya kepada Tuhan yang juga sedang menjala ikan di Laut Tiberias. Mungkin mereka memperoleh banyak ikan. Tetapi murid-murid yang percaya Tuhan ini telah bersusah payah semalam suntuk, ikan-ikan menjauhi mereka. Ini suatu keajaiban. Karena itu, jangan mengira asalkan kita pergi ke laut, pasti dapat memperoleh ikan. Jika kita bersandarkan diri kita sendiri melakukannya, boleh jadi, akhirnya kita tidak akan memperoleh apa-apa.

Ayat 4 dan 5 mengatakan, “Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, ‘Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan (makanan)?’ Jawab mereka, ‘Tidak.’” Tuhan Yesus muncul ketika hari mulai siang, Tuhan bukannya datang, melainkan muncul. Ayat 14 mengatakan: “Yesus . . . menampakkan diri kepada murid-murid-Nya.” Sebelum Tuhan Yesus berdiri di tepi pantai, Ia sudah ada di sana. Ketika murid-murid menangkap ikan di atas perahu, Tuhan juga ada di atas perahu, karena Ia berada di dalam mereka. Tetapi, pada bagian ini, Tuhan tampil dan menunjukkan diri-Nya kepada mereka.

c. Murid-murid Memperoleh Ikan Ketika Mereka Berada pada Kedudukan yang Benar

Mari kita bandingkan Yohanes 21:5 dengan Lukas 24:41-43. Ketika murid-murid berada pada kedudukan yang tepat, seperti yang tercatat dalam Lukas 24:41-43, sekalipun mereka berada di dalam rumah, mereka masih mempunyai ikan untuk dimakan, bahkan masih ada sisa, bisa memberikan sepotong ikan untuk Tuhan. Namun di sini, mereka berada dalam keadaan mundur, karena itu meskipun mereka berada di atas laut, menjala ikan sepanjang malam, mereka tidak memiliki ikan untuk dimakan, sepotong pun tidak. Mereka tidak saja tidak punya makanan untuk Tuhan, bahkan untuk mereka sendiri pun tidak ada. Tuhan bertanya apakah mereka mempunyai makanan, jawab mereka, “Tidak ada.” Mereka pasti malu menyahut demikian. Seandainya saya Petrus, saya akan malu menjawab pertanyaan Tuhan.

d. Keajaiban Mendapatkan Banyak Ikan dengan Mematuhi Perkataan Tuhan

Ayat 6 mengatakan: “Lalu kata Yesus kepada mereka, ‘Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.’ Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.’” “Ketika hari mulai siang” (ayat 4) bukanlah waktu yang baik untuk menangkap ikan, tetapi ketika mereka mematuhi perkataan Tuhan, menebarkan jala, mereka menangkap banyak ikan. Ini sungguh satu perkara yang ajaib! Pasti Tuhan yang memerintahkan agar ikan-ikan masuk ke dalam jala mereka. Keajaiban ini mencelikkan mata murid-murid sehingga “murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, ‘Itu Tuhan’” (Yoh. 21:7). Yohanes yang pertama-tama mengenali Tuhan. Ketika Petrus menyadari bahwa itu Tuhan, ia segera terjun ke dalam laut dan mendatangi Tuhan. Murid-murid yang lain juga datang dengan perahu sambil menarik jala yang penuh ikan itu.

e. Tuhan Memanggil dan Memulihkan Petrus dengan Keajaiban Penangkapan Ikan

Dalam Lukas 5:3-11, Tuhan memakai keajaiban penangkapan ikan untuk memanggil Petrus. Di sini, Tuhan kembali memakai keajaiban penangkapan ikan untuk memulihkan Petrus kepada panggilan-Nya. Tujuan Tuhan selalu konsisten.

f. Keajaiban Penyediaan Ikan di Pantai

Ketika murid-murid tiba di darat, mereka “melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti” (ayat 9). Petrus dan murid-murid sangat jelas melihat ikan di atas api arang, dan roti. Mereka sama sekali tak perlu pergi ke laut menangkap ikan, karena di darat sudah ada ikan. Tuhan melakukan keajaiban ini dengan tujuan mengajar murid-murid, supaya mereka tahu bahwa di bawah kehendak-Nya, di mana pun mereka dapat memperoleh ikan, bahkan di darat pun bisa. Kalau tidak di bawah kehendak-Nya, mereka tak bisa mendapatkan ikan, bahkan di laut sekalipun. Menangkap ikan jangan bersandarkan upaya alamiah, melainkan bersandarkan kehendak-Nya. Ia berdaulat atas semuanya. Segala sesuatu berada di bawah pengendalian-Nya. Bahkan di tempat yang secara alamiah diduga tak mungkin ada ikan, Tuhan dapat menyediakan ikan. Itu bukan ikan yang dapat ditangkap dari laut, melainkan ikan yang telah disediakan bagi kita, serta yang telah diolah dan dimasak.

Dalam pasal ini kita melihat tiga keajaiban: Keajaiban tidak ada ikan (ayat 3), keajaiban memperoleh sejumlah besar ikan (ayat 6), dan keajaiban adanya ikan dan roti di atas api arang (ayat 9). Di sini Tuhan melatih Petrus agar percaya kepada-Nya bagi penghidupannya. Sepanjang malam Petrus dan teman-temannya menangkap ikan, namun tidak mendapatkan apa-apa. Ketika mereka menurut perkataan Tuhan, menebarkan jala, mereka mendapatkan banyak ikan.Tetapi tanpa ikan-ikan itu, bahkan di darat sekalipun, tempat yang tidak ada ikannya, Tuhan telah menyediakan ikan juga roti bagi mereka. Ini juga adalah suatu keajaiban! Melalui ini, Tuhan melatih mereka agar menyadari bahwa tanpa pimpinan Tuhan, sekalipun pergi ke laut, tempat yang banyak ikannya, dan pada waktu yang tepat untuk menangkap ikan, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa; sebaliknya, jika ada pimpinan Tuhan, bahkan di darat yang tidak ada ikannya, Tuhan bisa memberi mereka ikan. Mereka menangkap banyak ikan menurut perkataan Tuhan, namun Tuhan tidak memakai ikan-ikan itu untuk merawat mereka. Ini adalah pelajaran yang riil bagi Petrus, bahwa atas hal penghidupan, ia harus percaya kepada Tuhan yang “menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm. 4:17).

B. Beserta dengan Murid-murid

Tuhan tidak hanya bergerak bersama murid-murid, Ia pun menempuh hidup bersama mereka. Dalam ayat 12-14, Tuhan menyiapkan sarapan bagi mereka, memberi mereka makan. Tuhan berkata, “Marilah dan sarapanlah.” Ini menunjukkan perhatian Tuhan yang penuh rahmat kepada keperluan orang-orang yang dipanggil-Nya. Tuhan tidak mengatakan, “Petrus, sarapan sudah siap, ambillah sendiri.” Tidak. Ayat 13 mengatakan Yesus “mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.” Dalam suplai Tuhan, roti mewakili kelimpahan darat, ikan mewakili kelimpahan laut. Alangkah indah dan baiknya Tuhan kita! Ia mengambilkan dan memberikan sarapan kepada murid-murid. Gambaran ini jauh melampaui ribuan kata. Walaupun Tuhan tidak mencela Petrus, saya yakin, Petrus selamanya takkan melupakan pelajaran ini.

Andaikata Anda Petrus, bagaimana perasaan Anda? Jika saya Petrus, saya tidak tahu ke mana harus saya taruh muka saya. Saya juga tidak tahu harus mengatakan apa kepada Tuhan. Dapatkah Petrus mengatakan, “Tuhan, apa kabar?” atau mengatakan, “Tuhan, maaf sekali, aku meninggalkan kedudukan yang benar, datang ke sini untuk menangkap ikan.” Walaupun Petrus sebenarnya malu untuk makan, tetapi mungkin karena laparnya, ia terpaksa makan juga. Mungkin Petrus tidak makan terlalu banyak. Sekalipun makan, juga dengan perasaan malu. Keadaan Petrus sangat canggung. Di satu pihak, ia memegang beberapa ikan yang telah Tuhan panggang; di pihak lain, ia memandang kepada banyak ikan yang ditangkapnya dalam jala. Bagi Tuhan, ini adalah suatu kemuliaan; tetapi bagi Petrus, ini adalah suatu pelajaran.

Ini merupakan suatu pelajaran yang sangat menarik. Kita tak memerlukan kata-kata kiasan apa pun, cukup hanya dengan melihat gambaran ini. Tuhan menunjukkan kepada mereka bahwa ikan-ikan sudah siap terhidang. Karena itu, mereka tak perlu pergi ke laut. Melalui hal ini sepertinya Tuhan berkata, “Jika Aku menginginkan kalian pergi ke laut menangkap ikan, Aku dapat menyuruh kalian pergi. Lihatlah 153 ekor ikan ini, kita sudah tidak memerlukannya lagi, sebab Aku telah menyiapkan beberapa ekor untuk kalian.” Saya mengatakan sekali lagi, seandainya saya Petrus, saya akan merasa sangat malu. Di satu aspek, saya akan bersyukur kepada Tuhan; di aspek lain, saya akan berkata kepada diri saya sendiri, “Aku ini begitu tolol! Aku tak perlu datang ke sini menangkap ikan di luar kehendak Tuhan.”

Kehidupan kita adalah perkara yang sangat riil. Inilah sebabnya dalam Injil Yohanes terdapat sebuah pasal tambahan ini. Jika kita memang anak-anak Allah, telah dilahirkan kembali, dan telah mempunyai amanat ilahi, Tuhan pasti memelihara kelangsungan hidup kita. Kita harus belajar, jangan karena kehidupan kita, kita melepaskan amanat Tuhan. Jangan sekali-kali karena mementingkan kehidupan kita, lalu meletakkan beban Tuhan. Kita bukan orang dunia, kita adalah anak-anak Allah. Kita harus mencari Kerajaan Allah dan kebenaran Allah lebih dulu, maka Tuhan akan menambahkan suplai yang riil kepada kita (Mat. 6:33). Ia akan memperhatikan keperluan kita. Bila kita sungguh-sungguh telah menerima amanat dari Tuhan, untuk beban-Nya, pekerjaan-Nya, dan kesaksian-Nya, kita boleh tenteram, sentosa, dan percaya bahwa Tuhan dapat menjamin segala keperluan kita. Inilah pelajaran yang diberikan oleh ayat-ayat dalam Yohanes 21 ini. Lihatlah gambaran ini sekali lagi. Murid-murid bersusah payah semalam suntuk, tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian Tuhan menampakkan diri kepada mereka, dan menyuruh mereka melemparkan jala di sebelah kanan perahu, dan mereka menangkap ikan banyak sekali. Namun ikan-ikan itu sesungguhnya tidak diperlukan, karena Tuhan telah menyiapkan ikan dan roti untuk mereka makan. Pelajaran ini bukan Tuhan berikan dengan kata-kata, melainkan dengan keajaiban. Tuhan tidak mengajar Petrus serta murid-murid yang lain dengan kuliah-kuliah, khotbah-khotbah, atau pemberitaan-pemberitaan, tetapi dengan tiga keajaiban. Keajaiban pertama: Tujuh orang menangkap ikan semalam suntuk, namun seekor pun tak dapat mereka tangkap. Keajaiban kedua: Sekali menjala mendapat 153 ekor ikan dengan menuruti firman Tuhan. Keajaiban ketiga: Tanpa ikan yang ditangkap dari laut, di darat sudah tersedia ikan dan roti. Dengan tiga keajaiban ini Tuhan mengajar murid-murid.

Pelajaran yang didapat murid-murid dalam perkara ini ialah mereka harus memperhatikan amanat yang Tuhan berikan kepada mereka, dan mempercayakan masalah kehidupan mereka kepada Tuhan. Kita harus memperhatikan pekerjaan dan kesaksian Tuhan, tanpa mempertimbangkan kehidupan kita. Jika kita mengesampingkan amanat Tuhan dan mementingkan kehidupan kita, kita akan gagal. Dalam 21:2-14, Tuhan memberi murid-murid suatu pelajaran tentang mencari nafkah supaya mereka tahu bahwa kehidupan mereka bukan tergantung pada akal alamiah mereka, melainkan tergantung pada kehendak Tuhan. Bila kita berada di dalam dan di bawah kehendak-Nya, Ia akan mempersiapkan bagi kita, bahkan di tempat yang mustahil sekalipun. Tetapi kalau kita menggunakan cara kita sendiri untuk pergi ke laut, yaitu menuju ke dunia, berusaha untuk kehidupan kita, kita pasti akan mengalami kegagalan. Kalau kita sudah menerima panggilan Tuhan, janganlah kita khawatir akan kehidupan kita. Tuhan Yesus mampu (memiliki cara) menyediakan ikan tanpa menjala. Ia bisa menyediakan makanan bagi kita, karena Dialah yang menjadikan yang tidak ada menjadi ada. Tuhan yang memanggil kita dapat memelihara kehidupan kita.