HAYAT DALAM KEBANGKITAN (4)
VI. BEKERJA DAN BERJALAN
BERSAMA KAUM BERIMAN
Dalam Yohanes 21:1-14, kita melihat bahwa dalam kebangkitan, Tuhan hidup dan bergerak bersama kaum beriman. Kini, dalam Yohanes 21:15-25, kita melihat bahwa Ia sedang bekerja dan berjalan bersama kaum beriman.
A. Bekerja sebagai Gembala yang Baik,
Gembala Besar, dan Gembala Agung
Tuhan bekerja sebagai Gembala dengan menggembalakan kawanan domba-Nya untuk membangun gereja (Yoh. 21:15-17; 10:16). Tuhan sebagai Gembala mempunyai tiga aspek: Gembala yang baik (Yoh. 10:11), Gembala besar (Ibr. 13:20 Tl.), dan Gembala agung (1Ptr. 5:4). Pekerjaan menggembalakan bukan untuk perorangan, melainkan untuk kawanan domba. Kawanan domba adalah gereja, gereja adalah pembangunan. Setelah membaca Yohanes 21 dan Surat 1Petrus, kita dapat melihat bahwa menggembalakan adalah untuk pembangunan gereja.
1. Membangkitkan Kasih Murid-murid kepada-Nya
Dalam Yohanes 21:15, Tuhan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Di sini Tuhan memulihkan kasih Petrus kepada-Nya. Petrus benar-benar memiliki hati yang mengasihi Tuhan, tetapi ia terlalu percaya kekuatannya sendiri, kekuatan alamiahnya. Kasihnya kepada Tuhan sangat berharga, tetapi kekuatan alamiahnya harus disangkal, ditanggulangi. Tuhan mengizinkan Petrus gagal total, menyangkal Tuhan tiga kali di hadapan-Nya (Yoh. 18:17, 25, 27), agar kekuatan alamiah dan percaya diri sendiri Petrus ditanggulangi. Bukan hanya demikian, ia baru saja memimpin murid-murid mundur dari panggilan Tuhan. Maka, atas kasihnya kepada Tuhan, dalam percaya diri alamiahnya, ia juga ditanggulangi karena kegagalan kali ini. Hal ini sedikit banyak membuatnya kecewa. Karena itu, Tuhan datang memulihkan kasih Petrus terhadap-Nya, menyuruhnya menggembalakan gereja Tuhan, dan mempersiapkan Petrus bagi mati martirnya di kemudian hari, sehingga ia tidak lagi percaya pada kekuatan alamiah diri sendiri dalam mengikuti Tuhan.
Dalam Yohanes 21:15-17, ketika Tuhan berkata-kata kepada Petrus, Ia tidak memanggilnya “Petrus”, yaitu nama setelah kelahiran kembalinya, nama baru persona kelahiran kembali. Tuhan memanggilnya “Simon”. Simon ialah nama lamanya, nama ini menggambarkan manusia alamiahnya. Karena Petrus masih tetap seorang manusia alamiah, maka Tuhan bertanya kepadanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Mengapa Tuhan pertama-tama menanyakan hal ini kepada Petrus, tidak lain karena Petrus pada malam ketika Tuhan hendak dijual pernah dengan berani berkata kepada Tuhan bahwa ia takkan meninggalkan Tuhan, sekalipun murid-murid lainnya meninggalkan Dia (Mat. 26:33). Petrus pernah mengatakan bahwa ia mau mengikuti Tuhan sampai mati (Yoh. 13:37; Mat. 26:35). Petrus mengucapkan perkataan ini, supaya ia berbeda dengan murid-murid yang lain. Memang, ia berbeda dengan mereka pada kelemahannya, bukan pada kekuatannya. Ketika Tuhan bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Tuhan sedang mengingatkan Petrus mengenai keadaannya. Ia adalah seorang yang begitu percaya diri dan sombong.
Kasih Petrus terhadap Tuhan itu mustika, namun kekuatan alamiahnya harus ditanggulangi. Kekuatan alamiah Petrus ditanggulangi dalam dua aspek: Dalam hal ia menyangkal Tuhan dan dalam hal ia memimpin untuk mundur dari panggilan Tuhan. Dalam pengujian yang pertama, Petrus gagal karena tiga kali menyangkal Tuhan. Dalam pengujian yang kedua, ia gagal juga, karena ia pergi menangkap ikan. Murid-murid pergi menangkap ikan karena mereka tidak ada makanan. Ketika Abraham di Tanah Kanaan, ia mengalami pengujian dalam masalah yang sama: Karena bencana kelaparan, ia turun ke Mesir. Dalam prinsip yang sama, Petrus beserta beberapa murid lainnya pergi ke laut menangkap ikan, juga diuji dengan kekurangan makanan. Petrus mengira ia kuat, dapat mengalahkan segala pencobaan, bahkan kematian pun. Ia pernah berkata kepada Tuhan bahwa ia mau mengikuti Tuhan, bahkan sampai mati. Karena itu, dua kali Tuhan menguji Petrus, dan dia pun dua kali gagal.
Bagaimana Tuhan menanggulangi kekuatan alamiah Petrus? Dengan jalan menyingkirkan tangan-Nya dari dia untuk sementara waktu. Dalam Yohanes 10:28, Tuhan berkata bahwa seorang pun tidak akan merebut murid-murid dari tangan-Nya. Ketika Petrus terang-terangan tiga kali menyangkal Tuhan, ini berarti Tuhan untuk sementara menyingkirkan tangan-Nya yang diletakkan padanya. Seolah-olah Tuhan berkata, “Petrus, kamu terlalu percaya diri. Kamu tidak tahu bahwa kamu bisa berdiri tidak lain karena Aku menggenggammu dalam tangan-Ku. Jika Aku tidak mengganggumu, kamu tidak bisa berdiri. Biarlah Aku sementara menyingkirkan tangan-Ku, lihatlah apakah kamu bisa berdiri atau tidak.” Ternyata, begitu tangan Tuhan sedikit “lepas”, Petrus sudah jatuh. Janganlah mengira Anda kuat berdiri. Tidak! Ada sebuah tangan yang tidak kelihatan yang selalu menunjang kita. Saya mengapresiasi fakta bahwa selama bertahun-tahun, bahkan hingga sekarang, banyak orang beriman berdoa bagi saya. Dalam persekutuan saya dengan Tuhan dalam roh, saya mempunyai perasaan yang dalam dan mengapresiasi bahwa begitu banyak saudara saudari terkasih sedang berdoa untuk saya. Berdasarkan diri saya sendiri, saya tidak dapat berdiri. Berdasarkan diri saya, saya tak dapat menunaikan ministri. Saya tahu sumber kekuatan ministri saya. Saya tahu sumber kekuatan yang menyebabkan saya berdiri, bukan di dalam saya, melainkan di dalam Dia. Kita semua harus mengerti hal ini. Karena Petrus terlalu kuat, terlalu percaya diri, maka Tuhan untuk sementara terpaksa lepas tangan. Hasilnya, Petrus jatuh, bahkan tiga kali menyangkal Tuhan. Tidak saja demikian, ia pun tidak kuat menghadapi ujian atas masalah kehidupan sehari-hari; ia mengepalai untuk mundur, pergi ke laut. Boleh jadi Petrus mengira bahwa ia beralasan berbuat demikian, karena saat itu ia tidak melihat suplai Tuhan. Bagaimanapun, melalui peristiwa itu, diri Petrus tersingkap. Ketika Tuhan untuk sementara menyingkirkan tangan-Nya, apa adanya Petrus tersingkap. Inilah penanggulangan Tuhan.
Dalam pasal 21, Petrus rendah hati, bahkan sangat merendah. Tidak diragukan lagi, dia sangat kecewa. Karena itu, Tuhan datang memulihkan dan menguatkan dia. Di hadapan murid-murid lain, Tuhan bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Ini sangat bermakna. Tuhan seolah-olah berkata, “Simon, lupakah kamu bahwa beberapa hari yang lalu di hadapan semua orang, kamu mengatakan bahwa sekalipun mereka semua meninggalkan Aku, kamu sampai mati tetap akan mengikuti Aku? Itu yang kamu katakan sendiri. Sekarang, Simon, Aku ingin bertanya kepadamu, apakah kamu mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Seandainya saya Petrus, saya sungguh tidak ada muka untuk mengatakan apa-apa lagi. Petrus hanya menjawab, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (ayat 15). Petrus tak dapat menjawab Tuhan dengan perkataan yang jelas, karena ia masih berada dalam keadaan yang sulit. Ia tidak mengatakan, “Tuhan, aku mengasihi-Mu.” Atau mengatakan, “Tuhan, aku tidak mengasihi-Mu.” Andaikata Anda Petrus, bagaimana Anda akan menjawab Tuhan? Dapatkah Anda mengatakan, “Aku mengasihi-Mu lebih daripada semua ini”? Atau dapatkah Anda mengatakan, “Tuhan, maaf, aku tidak mengasihi-Mu”? Atau mengatakan, “Tuhan, maaf, aku telah omong besar dan tidak dapat mewujudkannya”? Pada saat ini kepercayaan diri Petrus hilang, selain mengatakan, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau,” ia tak dapat mengatakan yang lain. Dengan kata lain, seolah-olah Petrus mengatakan, “Aku tidak tahu sesungguhnya aku mengasihi-Mu atau tidak. Tuhan, Engkau tahu. Kalau aku mengatakan aku mengasihi-Mu, aku tahu itu tak berarti. Sebelumnya, aku pernah berkata kepada-Mu, aku mengasihi-Mu, tetapi aku telah gagal. Sesungguhnya, Engkau sudah memberi tahu aku bahwa aku akan gagal, tiga kali menyangkal-Mu, akhirnya sungguh demikian. Tuhan, kini segalanya terserah pada-Mu, Engkau tahu aku tidak tahu.” Di sini kita melihat seorang yang pernah menerima ujian dan telah hancur.
Dalam ayat 16 dan 17, kita melihat Tuhan bertanya lagi kepada Petrus dua kali, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Ketika Tuhan bertanya kepada Petrus untuk kali ketiga, ia sangat bersedih hati. Ia bersedih hati karena dua hal. Pertama, karena Tuhan tiga kali berturut-turut mengajukan pertanyaan yang sama kepadanya. Apabila saya tiga kali berturut-turut mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda, Anda pun akan merasa susah. Kedua, karena Tuhan melalui tiga kali mengajukan pertanyaan ini kepadanya, mengingatkannya bahwa ia pernah tiga kali menyangkal Tuhan. Ketika Petrus menyangkal Tuhan, ia sedang berdiang (Yoh. 18:25). Dalam Yohanes 21 juga ada api. Tindakan Tuhan sangat bermakna, karena kini ada api untuk mengingatkan Petrus. Tuhan seolah-olah berkata, “Petrus, ingatkah api kali itu? Pada saat itu kamu di pinggir api menyangkal Aku. Namun di pinggir api ini, Aku menyuplai kamu.” Dengan demikian Tuhan mengingatkan Petrus tentang apa yang dilakukannya di pinggir api, juga agar dia tahu siapakah dia dan di manakah dia. Petrus sungguh telah mempelajari pelajaran itu. Dalam seluruh kitab Perjanjian Baru, gambaran Petrus yang terbaik ada dalam Yohanes 21 ini. Saya sungguh menyukai Saudara Petrus dalam pasal ini. Di sini dia adalah seorang yang lemah lembut dan telah hancur, telah mengalami pelajaran diuji dan dihancurkan oleh Tuhan.
2. Mengamanati Mereka untuk Merawat dan Menggembalakan Domba-domba
Setelah memulihkan kasih Petrus kepada-Nya, Tuhan Yesus memberi amanat kepadanya sambil berkata, “Peliharalah (rawatlah) anak-anak domba-Ku”, “Gembalakanlah domba-domba-Ku”, dan “Peliharalah domba-domba-Ku.” Kedua puluh pasal yang di depan dalam Injil Yohanes menitikberatkan perkara orang yang percaya kepada Putra memperoleh hayat (Yoh. 3:15). Tetapi yang dititikberatkan dalam pasal ini bukan percaya, melainkan mengasihi. Berbuah dalam pasal 15 adalah pengaliran kelimpahan hayat yang di dalam. Merawat domba-domba kecil (anak domba) di sini adalah dengan kelimpahan hayat batiniah mendiris dan memberi makan orang. Untuk merawat orang lain, kita harus menikmati kelimpahan hayat ilahi Tuhan. Ini menuntut kita mengasihi Dia. Percaya Tuhan adalah menerima Dia, mengasihi Tuhan adalah menikmati Dia. Tuhan datang untuk menjadi hayat dan suplai hayat kita; kita harus beriman kepada-Nya, menaruh kasih terhadap-Nya. Injil Yohanes menyatakan, kalau kita mau berbagian dalam Tuhan, kita perlu memiliki kedua syarat ini.
Memelihara domba adalah dengan kelimpahan hayat batiniah memelihara orang, sedangkan menggembalakan domba-domba adalah untuk membangun gereja. Penggembalaan adalah untuk kawanan domba (Yoh. 10:14, 16), yaitu gereja (Kis. 20:28). Maka, penggembalaan berkaitan dengan pembangunan Allah (Mat. 16:18). Di kemudian hari, Petrus menyinggung hal ini dalam Surat Kirimannya yang pertama, mengatakan bahwa minum air susu firman yang murni supaya bertumbuh adalah untuk pembangunan tempat kediaman Allah (1Ptr. 2:2-5). Ia juga menasihati para penatua untuk menggembalakan kawanan domba Allah (1Ptr. 5:1-4). Mendapatkan perawatan dan bertumbuh adalah untuk pembangunan. Tuhan dengan murid-murid-Nya tetap bekerja dengan cara demikian. Hari ini, melalui memelihara (merawat) anak-anak domba dan menggembalakan kawanan domba, Tuhan bekerja bersama kita untuk membangun gereja.
Jika kita memikirkan dengan saksama ketiga pasal ini Yohanes 10; 1Petrus 2 dan 5, kita dapat mengerti bahwa merawat anak-anak domba dan menggembalakan kawanan domba adalah untuk pembangunan gereja. Menurut Yohanes 10, Tuhan mengorbankan hayat jiwa-Nya agar domba-domba-Nya memperoleh hayat ilahi, dan menghimpun mereka menjadi satu kawanan domba. Mengumpulkan domba-dombanya menjadi satu adalah pembangunan yang sejati. Dalam 1Petrus 2, Petrus mengatakan bahwa kita seperti bayi yang baru lahir, harus dipelihara dengan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kita bertumbuh dan beroleh keselamatan. Akhirnya pada 1Petrus 5, Petrus sebagai penatua, berpesan kepada para penatua untuk menjaga, memelihara, dan menggembalakan kawanan domba. Memberi makan kawanan domba lain dengan menggembalakan mereka. Dalam Yohanes 21:15, Tuhan mengatakan, “Peliharalah (rawatlah) anak-anak domba-Ku.” Dalam ayat 16, Ia mengatakan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Dalam ayat 17, Ia mengatakan, “Peliharalah domba-domba-Ku.” Menggembalakan adalah menjaga, mengasuh; memelihara (merawat) adalah menyuplaikan makanan kepada kawanan domba. Hari ini kita melayani Tuhan sekali-kali tidak boleh hanya menjaga domba-domba-Nya, tetapi juga dengan makanan rohani merawat mereka. Hanya menjaga, mengasuh saudara saudari tidak cukup, masih harus merawat mereka. Dalam ayat 15, Tuhan berkata, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Dalam ayat 17, Tuhan berkata, “Peliharalah domba-domba-Ku.” Dari kedua ayat ini, kita melihat bahwa kaum beriman yang muda (baru) dengan kaum beriman yang agak matang, kedua-duanya perlu dipelihara. Jika Tuhan telah menyerahkan kepada kita beban terhadap kawanan domba, maka kita harus melakukan kedua perkara ini merawat mereka dan menjaga mereka.
B. Berjalan Bersama Murid-murid yang Mengikuti-Nya
1. Berpesan kepada Mereka
untuk Mengikuti Dia Sampai Mati
Dalam Yohanes 21:18-23, kita melihat Tuhan Yesus berjalan bersama murid-murid yang mengikuti-Nya. Setelah memulihkan kasih Petrus kepada-Nya dan mengamanatkan Petrus supaya memelihara anak-anak domba serta menggembalakan kawanan domba, Tuhan lalu menubuatkan mati martirnya Petrus. Dengan nubuat ini, Ia berpesan kepada murid-murid-Nya supaya mengikuti Dia sampai mati. Dalam ayat 18, Tuhan berkata kepada Petrus, “Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Tuhan berkata demikian adalah “untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.” Kemudian, dalam 2Petrus 1:14, Petrus pernah menyinggung hal ini. Pada pasal ini Tuhan sedang mempersiapkan Petrus agar dia sampai mati mengikuti Dia, tetapi hal ini bukan berdasarkan ia sendiri, bukan pula menurut kehendaknya sendiri. Seolah-olah Tuhan berkata kepada Petrus, “Petrus, kamu tidak menaati perkataanmu, tetapi Aku harus memegang teguh perkataan-Ku. Kamu telah mengatakan rela mati bagi-Ku, namun kamu tidak menepati perkataanmu. Pada suatu hari kamu akan mati bagi-Ku, karena kamu akan dengan kematian memuliakan Allah. Ketika kamu muda, kamu bebas. Tetapi sampai pada waktu kamu tua, orang akan menangkapmu, membelenggumu, membawamu ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Setelah Petrus mendengar perkataan ini, ia tahu bahwa ia akan mati martir bagi Tuhan. Pada saat itu, Petrus tidak mengatakan ya atau tidak.
Setelah menubuatkan mati martirnya Petrus, Tuhan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Kita semua harus mengikuti Tuhan yang tinggal di dalam. “Aku” yang harus kita ikuti itu ada di dalam kita. Ayat 18 menunjukkan bahwa kita harus mengikuti Tuhan, bukan dengan kehendak kita sendiri, tetapi harus sesuai dengan pimpinan-Nya. Kita mengikuti Dia sampai mati adalah memuliakan Allah (ayat 19). Tidak hanya demikian, kita harus hanya mengikuti Tuhan, tidak perlu mengurusi orang lain. Setelah Tuhan menghendaki Petrus mengikuti Dia, Petrus berpaling melihat Yohanes, lalu bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” (ayat 21). Mengenai pertanyaan ini Tuhan menjawab, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ‘Ikutlah Aku!’” (ayat 22). Tuhan memberi tahu Petrus, apa pun yang akan terjadi pada diri Yohanes, itu bukan urusan Petrus; Petrus harus mengikuti Dia.
Pasal ini adalah sebuah gambaran yang menyatakan bahwa setelah kita dilahirkan kembali dan menerima amanat Tuhan, kita harus mengasihi Tuhan tanpa memperhitungkan harga apa pun, dan mengikuti Dia sampai pada akhirnya tanpa mempedulikan korban apa pun. Dengan mengikuti Tuhan secara demikian, barulah kita dapat menggenapkan kehendak Tuhan, yakni memelihara anak-anak domba-Nya dan memelihara serta menggembalakan domba-domba-Nya.
2. Menunjukkan bahwa Ada Pengikut-Nya yang Akan Hidup Hingga Dia Datang
Mengenai perkataan Tuhan kepada Petrus tentang Yohanes dalam ayat 23 ini, “Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, ‘Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukanlah urusanmu.’” Perkataan Tuhan ini menunjukkan bahwa ada pengikut-Nya yang akan hidup hingga Dia datang.
3. Murid-Murid Mengikuti Dia dan Hidup Beserta Dia
dalam Penyertaan-Nya yang Tidak Kelihatan,
dan Menunggu Dia Datang dalam Penyertaan-Nya yang Kelihatan
Pada bagian Alkitab ini, seolah-olah ada unsur yang saling bertentangan. Ketika Tuhan mengatakan, “Ikutlah Aku,” Ia sedang beserta murid-murid, bagaimana Ia dapat mengatakan “sampai Aku datang”? Jika Ia ada di sana, tentunya Ia tidak perlu datang lagi. Jika yang dimaksud Tuhan adalah Ia akan meninggalkan mereka dan kemudian akan datang lagi kepada mereka, bagaimana Ia bisa berkata, “Ikutlah Aku”? Bagaimana mereka dapat mengikuti Dia? Ketika muda, saya merasa dipersulit oleh hal ini. Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Jika Tuhan di sini menyuruh kita ikut Dia, Ia sudah tak perlu datang lagi, karena Ia telah ada di sini. Tetapi jika Ia akan datang lagi, maka Ia pasti akan meninggalkan kita. Lalu, bagaimana mungkin Ia menyuruh kita ikut Dia?” Jawaban semua pertanyaan ini terletak pada penyertaan-Nya yang tidak kelihatan. Menurut penyertaan-Nya yang kelihatan, Ia akan meninggalkan murid-murid, kemudian datang kembali. Tetapi menurut penyertaan-Nya yang tidak kelihatan, Ia akan senantiasa beserta dengan mereka. Di satu aspek, Ia akan beserta dengan mereka; di aspek lain, Ia akan meninggalkan mereka. Karena itu, di satu aspek murid-murid bisa mengikuti Tuhan; di aspek lain, mereka juga harus menunggu kedatangan-Nya kembali.
Ada dua aspek penyertaan Tuhan penyertaan-Nya yang tidak kelihatan dan penyertaan-Nya yang kelihatan. Oleh karena penyertaan Tuhan yang tidak kelihatan, kita dapat mengikuti Dia. Di aspek yang tidak kelihatan, Tuhan ada di sini dan kita mengikuti-Nya. Di aspek yang kelihatan, Tuhan tidak ada di sini, maka kita harus menunggu sampai Ia datang. Kuncinya ialah penyertaan Tuhan yang ajaib. Pada zaman ini, penyertaan-Nya yang tidak kelihatan lebih baik daripada penyertaan-Nya yang kelihatan. Penyertaan-Nya yang tidak kelihatan lebih mustika, lebih praktis, lebih unggul, lebih limpah, lebih riil. Saya harap kalian semua paham akan kedua aspek penyertaan Tuhan ini. Dikatakan dari aspek yang kelihatan, kita sedang menunggu Dia; dikatakan dari yang tidak kelihatan, Dia sedang berjalan bersama kita, kita sedang mengikuti Dia. Setelah Tuhan bangkit, Dia masih tinggal bersama murid-murid selama empat puluh hari (Kis. 1:3-4), untuk melatih mereka menyadari, terbiasa, dan hidup berdasarkan penyertaan-Nya yang tidak kelihatan. Dalam ayat 23, Tuhan menunjukkan ada kaum beriman yang akan mengikuti Dia sampai mati, dan ada yang tetap tinggal sampai kedatangan-Nya.
Yohanes 21 adalah satu pasal yang sangat riil. Kita telah melihat bahwa kita semua telah dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, dan telah memiliki hayat serta sifat Allah. Sebab itu, kita adalah ekspresi Allah. Allah telah mengaruniakan kita amanat yang ilahi, yang surgawi, kita harus melakukan sesuatu untuk menggenapkan kehendak Allah memelihara domba-domba-Nya dan menggembalakan domba-domba-Nya sampai semua domba-Nya berhimpun menjadi satu Tubuh, menjadi satu bait rohani. Walau kita harus melakukan semua perkara ini, tetapi kita masih mempunyai masalah kehidupan yang riil. Dalam pasal ini, kita melihat bahwa Tuhan dapat menyuplai keperluan kita, memelihara kehidupan kita. Kita hanya perlu menyerahkan masalah kehidupan kita ke dalam tangan Tuhan, tidak perlu mempedulikannya. Apabila kita berada dalam kehendak-Nya, Tuhan pasti akan menunjang kehidupan kita. Tidak hanya demikian, kita pun harus tahu bahwa kita harus menderita dan berkorban bagi kesaksian Tuhan, mengikuti Dia sampai akhir hidup kita.
Perkara-perkara yang tercakup dalam Yohanes 20 dan 21 sangat luas, yakni dimulai dari penemuan atas kebangkitan Tuhan dan berakhir pada kedatangan kembali Tuhan. Kedua pasal ini memberi tahu kita mengenai setiap perkara yang akan terjadi pada saat antara Tuhan bangkit hingga Ia datang kembali. Di antara dua kejadian ini, adalah zaman gereja dengan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan orang Kristen: Mengasihi Tuhan dan mencari Tuhan; khususnya dalam munajat pagi pribadi; melihat Tuhan dalam kebangkitan; melalui mengalami penampakan Tuhan menerima wahyu tentang hasil kebangkitan Tuhan, yaitu agar Bapa-Nya menjadi Bapa kita, dan kita menjadi para saudara-Nya; berhimpun bersama kaum beriman, menikmati penyertaan-Nya; menerima embusan Roh Kudus masuk ke dalam kita, dan diutus dengan amanat dan kuasa-Nya untuk mewakili-Nya; belajar bagaimana hidup oleh iman di dalam Tuhan, dan percaya kepada-Nya dalam kehidupan sehari-hari; kekuatan alamiah ditanggulangi dan mengasihi Tuhan; telah belajar diremukkan, kehilangan kepercayaan terhadap diri kita sendiri, bersandar kepada Tuhan; menggembalakan kawanan domba untuk membangun gereja; terbiasa dengan penyertaan Tuhan yang tidak kelihatan, dan dalam penyertaan-Nya yang tidak kelihatan ini ada orang yang tidak menurut maksud sendiri, tetapi menurut pimpinan Tuhan mengikuti-Nya bahkan sampai mati demi memuliakan Allah, dan ada juga orang yang akan tetap hidup sampai kedatangan Tuhan.
Kita telah melihat bahwa Injil Yohanes dimulai dengan Firman yang azali. Melalui proses inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan yang panjang, Firman ini menjadi Roh pemberi hayat, pneuma yang kudus, hawa kudus (Yoh. 20:22). Dalam bahasa Ibrani, kata pneuma diterjemahkan sebagai “hawa udara”, juga “roh”. Firman kekal telah menjadi hawa udara yang demikian, dan roh yang demikian. Inilah Allah yang melalui proses untuk kenikmatan kita. Ia kini adalah hayat dan roh dalam kebangkitan, bergerak bersama kita, hidup bersama kita, bekerja bersama kita, dan berjalan bersama kita. Tidak hanya demikian, Ia terus berhimpun bersama kita. Sebagai hayat, roh, hawa ilahi dalam kebangkitan, Ia senantiasa beserta dengan kita tanpa terlihat oleh kita. Di luar penglihatan kita, Ia akan selalu beserta dengan kita, berhimpun dengan kita, bergerak, hidup, bekerja, dan berjalan bersama kita, sampai kedatangan-Nya yang kelihatan. Inilah Yesus Kristus yang kita percayai, Tuhan yang kita terima, Allah yang kita layani, yang kita sembah dan nikmati, juga adalah yang senantiasa beserta kita dan Roh almuhit yang ada di dalam kita. Puji Dia!
Injil Yohanes tidak ada penutupnya. Kitab ini tidak ada tamatnya, semua dalam susunan Roh itu. Boleh jadi Injil Yohanes hari ini ada dua atau tiga ribu pasal. Kitab ini masih dalam penyusunan dan kita juga termasuk di antara orang yang tersusun di dalamnya. Puji Tuhan!