KESIMPULAN YANG TERAKHIR
Sekalipun kita telah menyelesaikan Pelajaran Hayat Injil Yohanes, tetapi kita masih perlu melihat beberapa hal sebagai kesimpulan dari setiap pasal dari kitab ini. Rasul Yohanes tidak saja telah menulis Injil Yohanes, ia pun menulis Surat Kiriman dan Kitab Wahyu. Tulisannya dapat dibagi menjadi tiga golongan besar: Injil Yohanes untuk penyaluran hayat; Surat Kiriman untuk persekutuan hayat yang bertujuan untuk pembangunan Allah; dan Kitab Wahyu untuk kegenapan pembangunan Allah. Karena itu, dalam tulisannya terdapat tiga tahap masalah rohani. Pertama adalah tahap penyaluran hayat, kedua adalah tahap pertumbuhan rohani dan pembangunan, terakhir adalah tahap menjadi matang dan menggenapkan pembangunan Allah. Karena itu, setelah membaca Injil Yohanes, yakni kitab yang berkenaan dengan tahap pertama tentang perkara rohani, sedikitnya kita harus menyinggung sesuatu tentang pertumbuhan hayat dari tahap kedua, dan tentang kematangan dan kesimpulan dari tahap ketiga. Kitab Wahyu bukan sebuah kitab yang mudah dibaca, tetapi kita masih dapat membaca sesuatu sebagai kesimpulan yang terakhir atau kegenapan yang terakhir dari penanggulangan Allah selama berabad-abad.
KEDATANGAN-NYA DAN KEPERGIAN-NYA
Kita telah melihat bahwa Injil Yohanes dibagi menjadi dua bagian: Pasal 1-13 dan pasal 14-21. Seperti yang telah ditunjukkan, dalam bagian pertama, Tuhan adalah Putra Allah yang datang membawa Allah kepada manusia; dalam bagian kedua, Ia pergi membawa manusia kepada Allah. Dengan kata lain, bagian pertama mewahyukan bahwa Tuhan adalah ekspresi Allah, Ia datang kepada umat manusia, membawa Allah kepada manusia, supaya Allah berbaur dengan manusia. Orang kecil yang bernama Yesus itu adalah perbauran Allah nan sejati dengan manusia, Ia adalah keesaan antara Allah dengan manusia. Di dalam Dia dan melalui Dia, Allah dan manusia telah menjadi esa. Dalam Orang kecil yang bernama Yesus itu, kita telah melihat Allah (Allah beserta dengan Dia), kita pun melihat manusia (manusia beserta dengan Allah). Dalam Matius 1:23, Yesus disebut “Imanuel”, artinya, Allah beserta kita, atau Allah beserta manusia. Melalui inkarnasi-Nya, Allah telah membaurkan diri-Nya dengan manusia. Ini menyangkut kedatangan Tuhan.
Bagian kedua kitab Injil ini membicarakan kepergian Tuhan. Mula-mula Ia dari Allah datang kepada manusia, kemudian dari manusia pergi kepada Allah, membawa manusia ke dalam Allah. Kematian dan kebangkitan-Nya menyiapkan jalan untuk membawa manusia ke dalam Allah. Manusia yang telah jatuh terpisah dengan Allah, terpisah jauh. Tetapi melalui kematian-Nya, Tuhan telah menghapuskan jarak ini serta segala sekatan yang membuat manusia terpisah dengan Allah. Kini, melalui kematian Kristus, bersandarkan darah-Nya, manusia dapat dibawa ke hadapan Allah, bahkan ke dalam diri Allah sendiri. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan tidak saja dari manusia kembali kepada Allah, tetapi juga pergi kepada Allah bersama manusia dan membawa manusia kepada Allah. Karena itu, dengan kedatangan-Nya, Tuhan berbaur dengan manusia, dan dengan kepergian-Nya, manusia dibawa kepada Allah. Dengan kedatangan dan kepergian Tuhan, Allah dan manusia, manusia dan Allah, berbaur menjadi satu.
ALLAH DI DALAM MANUSIA
Ada tiga sudut pandang mengenai kitab Injil ini. Pertama mencakup 17 pasal di depan yang mewahyukan bahwa Allah terekspresi dalam manusia. Ketujuh belas pasal ini menampilkan sebuah lukisan yang menampakkan kepada kita bahwa Allah yang mahakuasa, tak terhingga, tak terbatas, dan kekal itu, terekspresi dalam seorang manusia. Beberapa pasal ini merupakan sejarah seseorang, seorang sejati yang berdarah daging, seorang bernama Yesus yang hidup di bumi dan mengekspresikan Allah. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi sebagai manusia, Ia tidak hidup oleh hayat manusia, melainkan oleh suatu hayat lain, yaitu hayat Allah. Dalam ketujuh belas pasal ini, kita tidak melihat hayat manusia yang diperhidupkan dari orang ini; sebaliknya, kita melihat suatu hayat ilahi diperhidupkan oleh Dia. Karena itu, melalui Orang yang kecil ini, Allah yang tak terhingga dan tak terbatas itu terekspresi. Itulah sebabnya, beberapa kali Tuhan berkata bahwa Ia tidak berkata-kata menurut diri-Nya sendiri, melainkan menurut Bapa (Yoh. 12:49). Semua yang dikatakan-Nya berasal dari Bapa, karena Bapa berkata-kata di dalam diri-Nya. Tidak saja demikian, apa yang Ia lakukan, juga bukan oleh diri-Nya (Yoh. 5:30). Ia di dalam Bapa, melakukan setiap perkara menurut Bapa, karena Bapa bekerja di dalam diri-Nya. Karena Ia hidup menurut hayat Allah, bukan menurut hayat manusia, maka Allah berada di dalam-Nya dan terekspresi melalui Dia.
HAYAT DI DALAM MAUT
Jika kita membagi kitab Injil ini menjadi tiga bagian, maka bagian kedua harus mencakup pasal 18 dan 19. Dalam kedua pasal ini, kita melihat sebuah gambaran yang melukiskan bagaimana Tuhan ditangkap, diadili, dijatuhi hukuman mati, dan dipaku di kayu salib. Namun kita harus mengerti bahwa gambaran ini adalah visi hayat yang terekspresi melalui maut. Pada bagian pertama dalam kitab Injil ini, Allah terekspresi di dalam manusia; sedangkan pada bagian kedua, hayat terekspresi di dalam maut. Dalam pasal 18 dan 19, setiap perkara yang Tuhan Yesus alami, semua merupakan aspek maut. Ia dikhianati Yudas, Yudas membawa prajurit menangkap-Nya, di hadapan Imam Besar dan Pilatus Ia diadili, diperlakukan dengan kejam, difitnah, dan dipaku di kayu salib semua ini merupakan aspek maut. Namun, segala sesuatu yang Tuhan alami dalam kedua pasal ini, tidak sampai menaruh-Nya ke dalam maut. Jika kita mengatakan Tuhan dihukum mati, itu keliru. Tuhan sendiri yang masuk ke dalam maut. Sama seperti Ia yang adalah Allah terekspresi dalam manusia, di sini Ia adalah hayat terekspresi di dalam maut.
Dalam alam semesta, selain Allah, tidak ada yang lebih berkuasa daripada maut (Kid. 8:6). Kuasanya terlalu besar, sehingga tidak ada orang yang dapat melawannya. Hanya Allah Sang bangkit yang dapat mengalahkannya. Ketika maut menimpa diri seseorang, hal itu sangat kejam, kuat, dan bengis. Tidak peduli apakah itu istri, anak-anak, atau keluarga Anda. Karena itu, setiap orang takut mati, tak seorang pun rela pergi ke dalam maut. Siapa yang mau dengan senang hati menerima maut? Tetapi dalam kedua pasal ini, kita melihat bahwa Tuhan dengan rela menempuh kematian. Ia memutuskan pergi ke Taman Getsemani, menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan manusia. Ia jelas mengetahui bahwa orang-orang yang ingin menangkap-Nya akan pergi ke taman itu untuk menangkap Dia, tetapi Ia sengaja pergi ke sana supaya ditangkap. Ia berbuat demikian, menyatakan bahwa Ia adalah hayat. Jalan satu-satunya untuk mengekspresikan hayat ialah masuk ke dalam maut. Di dalam maut, dan melalui maut, baru hayat yang sejati terekspresi. Dalam Yohanes 12:24, Tuhan menyebut diri-Nya sebutir gandum. Bagaimana kita tahu di dalam sebutir gandum itu ada hayat? Dengan jalan menanam butir gandum itu ke dalam tanah. Menanam butir gandum itu ke dalam tanah berarti mematikannya dan kita akan melihat hayatnya keluar. Dengan demikian, hayat dalam butir gandum itu terekspresi melalui kematian. Apabila Anda menanam sebutir pasir ke dalam tanah, tidak ada sesuatu pun yang tumbuh, karena di dalam pasir itu tidak ada hayat. Jadi, kematian adalah jalan terekspresinya hayat.
Kita telah menunjukkan bahwa setiap perkara yang dialami Tuhan Yesus dalam kedua pasal ini, semua adalah keadaan maut. Namun Tuhan adalah hayat, tidak takut maut. Ia tak pernah digentarkan atau dipersulit oleh maut. Sebaliknya, dengan kemenangan Ia menghadapi setiap ancaman dan serangan maut. Bahkan ketika murid-murid ingin menolong-Nya dari bahaya, Ia memerintahkan mereka jangan melawan, kata-Nya, “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yoh. 18:11). Tuhan Yesus bertanya kepada mereka yang menangkap-Nya, siapakah yang mereka cari, jawab mereka, “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka, “Akulah Dia” (Yoh. 18:5-6). Ketika Ia mengatakan, “Akulah Dia,” mereka yang hendak menangkap-Nya tercengang oleh perkataan ini sehingga “mundurlah mereka dan jatuh ke tanah” (Yoh. 18:6). Ini membuktikan bahwa jika Tuhan tidak mau menyerahkan diri-Nya kepada mereka, mereka pun tak berdaya menangkap-Nya. Di samping itu, ketika mereka menangkap Tuhan, Tuhan masih dengan tenang melindungi murid-murid, kata-Nya, “Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi” (Yoh. 18:8). Semua ini mewahyukan bahwa Tuhan adalah hayat yang terekspresi dalam maut, maut sedikit pun tak berdaya atas-Nya.
KEBANGKITAN DALAM ROH
Pasal 1-17 menampakkan kepada kita bahwa Tuhan adalah Allah dalam manusia; pasal 18-19 mewahyukan Tuhan adalah hayat dalam maut; kini pasal 20-21 menyatakan Tuhan dalam kebangkitan adalah Roh itu. Tuhan adalah Allah, Tuhan adalah hayat, Tuhan pun kebangkitan. Dia adalah hayat terekspresi di dalam maut, Dia pun kebangkitan terekspresi sebagai Roh itu. Melalui manusia, Allah terekspresi; melalui maut, hayat terekspresi; melalui Roh Kudus, kebangkitan terekspresi. Dalam ketiga bagian Injil Yohanes, pertama, kita melihat Tuhan ialah Allah; kedua, kita melihat Tuhan adalah hayat; ketiga, kita melihat Tuhanlah kebangkitan. Jadi, Ia adalah Allah, hayat, juga kebangkitan. Dalam tujuh belas pasal di depan, Tuhan di dalam manusia sebagai Allah; dalam dua pasal selanjutnya, Tuhan di dalam maut sebagai hayat; dan dalam dua pasal yang terakhir, Tuhan adalah Roh itu sebagai kebangkitan. Inilah Tuhan dalam tiga tahap itu.
Roh itu adalah realitas kebangkitan Tuhan. Setelah bangkit, Tuhan itu apa? Dia adalah Roh itu. Sebagai Roh itu, Dia adalah kebangkitan. Dalam Yohanes 11:25, Tuhan dengan jelas berkata kepada Maria, “Akulah kebangkitan dan hidup (hayat).” Ia bukan saja hayat, Ia pun kebangkitan. Anda lebih suka Tuhan sebagai Allah, hayat, atau kebangkitan? Saya suka Tuhan sebagai kebangkitan, karena dalam kebangkitan, Allah dapat bersatu dengan kita, dan bisa kita alami. Dalam kebangkitan Tuhan, barulah kita mempunyai hubungan yang subyektif dengan Tuhan. Hanya melalui kebangkitan, baru kita dapat berada di dalam Allah. Jika Allah semata-mata hanya Allah, Dia tidak dapat menjadi hayat dan tidak ada hubungannya dengan manusia. Adalah jauh lebih baik kalau Allah menjadi hayat, daripada hanya menjadi Allah. Namun kalau Allah semata-mata hanya hayat, kita masih sulit untuk mempunyai hubungan persekutuan yang sesungguhnya dengan-Nya. Akan tetapi, dalam kebangkitan, Allah bisa bersatu dengan kita, kita pun bisa dengan subyektif mengalami-Nya. Pernahkah Anda merasa bahwa dahulu Allah begitu jauh dengan Anda? Namun kini, apakah Anda merasa Ia begitu dekat dengan Anda? Ketika Ia semata-mata hanya Allah, Ia jauh sekali dengan kita. Tetapi kini Ia dalam kebangkitan, amat dekat dengan kita, karena Ia sudah datang ke dalam kita.
Setelah kebangkitan, Tuhan datang ke tengah-tengah murid-murid-Nya, mengembusi mereka, dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22). Roh Kudus itu apa? Roh Kudus adalah Allah mencapai manusia. Allah Bapa itu sumber, Allah Putra itu ekspresi, Allah Roh adalah Allah masuk ke dalam manusia. Roh adalah Allah yang masuk ke dalam kita, untuk kenikmatan kita. Jika Allah semata-mata adalah Bapa, bukan Putra dan Roh, maka kita selamanya tidak dapat mengalami-Nya. Namun Allah menjadi hayat di dalam Putra, dan Allah adalah Roh sebagai kebangkitan. Melalui kebangkitan, Allah membebaskan diri-Nya sendiri, dan menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Karena itu, Tuhan menyuruh murid-murid menerima Roh Kudus. Menerima Roh Kudus adalah menerima Allah sendiri. Hanya dalam kebangkitan dan melalui kebangkitan, barulah Allah dapat berada di dalam kita dan menjadi satu dengan kita.
Tahukah Anda bahwa Allah bukan hanya hayat, tetapi juga kebangkitan? Bagi Anda ini adalah suatu fakta dan realitas, atau hanya suatu ajaran dan teori? Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Allah sebagai kebangkitan sedang hidup di dalam kita. Ini terhadap kita sekali-kali tidak boleh hanya merupakan suatu teori. Dia, yang lebih kuat, lebih berkuasa daripada segala sesuatu itu, sedang hidup di dalam kita. Dia ini adalah Allah menjadi hayat, hayat ini kini adalah kebangkitan di dalam kita. Roh Kudus yang tinggal di dalam itu adalah realitas kebangkitan ini. Karena itu, Ia dengan kita, kita dengan Dia, sudah menjadi satu. Arti kebangkitan adalah Allah dengan manusia dengan ajaib berbaur di dalam roh; dalam kebangkitan, Allah dan manusia berbaur menjadi satu. Manusia menjadi tempat kediaman Allah, Allah juga menjadi tempat kediaman manusia. Selanjutnya, manusia dengan Allah, Allah dengan manusia, dapat saling tinggal.
SALING TINGGAL
DALAM SURAT KIRIMAN YOHANES
Fakta tentang “tinggal” disebutkan dalam Surat Kirim-an Perjanjian Baru. Setelah Injil Yohanes, terdapat Surat Kiriman Yohanes. Dalam Surat Kirimannya yang pertama, Yohanes membicarakan tentang saling tinggal ini. Kita tinggal di dalam Allah, Allah tinggal di dalam kita (1Yoh. 4:15). Bagaimana kita tahu Allah tinggal di dalam kita, dan kita tinggal di dalam Dia? Kita tahu Allah tinggal di dalam kita adalah melalui Roh itu (1Yoh. 3:24); dan kita tahu kita tinggal di dalam Dia adalah melalui pengurapan minyak (1Yoh. 2:27). Hari ini, yang paling penting adalah Allah tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam-Nya. Allah melalui Roh Kudus tinggal di dalam kita, sedangkan kita tinggal di dalam Dia melalui urapan Roh Kudus.
PEMBANGUNAN DALAM KITAB WAHYU
Apa hasil dari saling berhuni ini? Menurut Kitab Wahyu, kitab terakhir yang ditulis Yohanes, hasilnya adalah gereja, bait, dan kota. Kitab Wahyu menyinggung tentang gereja (Why. 1:11, 20), bait (Why. 3:12, 7:15), dan kota (Why. 21:2, 10). Semua ini adalah aspek-aspek yang berbeda-beda dari pembangunan Allah. Hasil dari saling tinggal itu adalah pembangunan. Ketika kita tinggal di dalam Allah, Allah juga tinggal di dalam kita, kita akan terbangun dalam hayat ilahi. Dalam kebangkitan-Nya, di satu pihak Tuhan di surga, di pihak lain, Ia pun di dalam kita. Kedua pihak ini dapat kita lihat dalam tulisan Yohanes. Misalnya dalam Yohanes 21:22, mengenai Rasul Yohanes Tuhan berkata kepada Petrus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.” Seandainya pada saat itu saya hadir, saya akan berkata, “Tuhan, bukankah Engkau ada di sini? Jika Engkau sudah ada di sini, mengapa mengatakan sampai Engkau datang?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat kedua aspek Tuhan. Di satu aspek, Tuhan berada di surga, di aspek lain Ia beserta dengan kita, bahkan di dalam kita. Kitab Wahyu mengungkapkan kedua aspek ini, yang mewahyukan bahwa Tuhan berada di dalam ketujuh jemaat (Why. 1:13), serentak duduk di atas takhta di surga (Why. 4:2). Kalau kita ingin mengalami penyertaan-Nya, kita harus melihat bahwa Ia tidak saja di surga, Ia pun di tengah-tengah ketujuh jemaat.
Wahyu 3:12 memberi tahu kita bahwa jika kita menyadari penyertaan Tuhan, kita akan menjadi pemenang, bahkan menjadi sokoguru (tiang) dalam Bait Allah. Sokoguru itu yang menyangga bait. Bait menunjukkan penyertaan Allah. Jadi, penyertaan Allah tergantung pada pengalaman kita menjadi sokoguru. Dengan kata lain, kita harus menjadi sokoguru untuk penyertaan Allah. Di mana ada sokoguru, di sana ada Bait Allah. Ini berarti, di mana Anda berada, di sana ada penyertaan Tuhan. Jika Anda adalah sokoguru dalam bait, maka pada Andalah penyertaan Allah berada.
Pada sokoguru yang disebutkan dalam Wahyu 3:12, tertulis tiga nama: nama Allah, nama Yerusalem Baru, dan nama baru Tuhan. Ini berarti sokoguru itu adalah pemenang, menjadi ekspresi dan penyataan (manifestasi) Allah. Karena ia adalah ekspresi Allah, maka nama Allah ditulis di atasnya; karena ia telah menjadi bagian yang penting dari Yerusalem, maka nama Yerusalem Baru dituliskan di atasnya; karena ia telah menjadi ekspresi yang baru dari Tuhan, maka nama Tuhan yang baru akan dituliskan padanya. Nama Allah tertulis pada sokoguru, sebab sokoguru telah menjadi ekspresi Allah. Mengapa nama Yerusalem Baru pun tertulis di atasnya? Sebab ia telah menjadi sebagian dari Yerusalem Baru. Demikian pula, nama baru Tuhan juga tertulis di atas sokoguru, karena ia telah menjadi ekspresi yang baru dari Tuhan sendiri.
Dalam Kitab Wahyu, tulisan Yohanes yang terakhir, ada gereja, bait, dan kota. Bait tergantung pada sokoguru, artinya penyertaan Allah tergantung pada pemenang. Di mana ada pemenang, penyertaan Allah dan Yerusalem Baru atau pembangunan Allah juga ada di sana. Yerusalem Baru adalah ekspresi terakhir perbauran Allah dengan manusia.
PENGALAMAN YANG RIIL
Kini, kita harus mengetahui bagaimana melaksanakan pengalaman ini. Kita telah melihat jalannya dalam dua pasal terakhir Injil Yohanes. Kalau kita mau mengalami Allah dalam kebangkitan, kalau kita mau mengalami Allah sebagai Roh itu, kalau kita mau mengalami Allah berbaur dengan kita, kalau kita mau menjadi sokoguru untuk penyertaan Tuhan, kalau kita mau mengalami nama baru Allah, nama Yerusalem Baru, dan nama Tuhan tertulis pada diri kita, maka kita harus seperti Maria Magdalena mencari Tuhan. Maria mencarinya pagi-pagi sekali. Ketika mencari Dia, kita harus percaya bahwa Tuhan sudah bangkit, kini beserta dengan kita, dan kita demi iman bukan demi penglihatan merealisasikan penyertaan-Nya. Janganlah seperti Saudara Tomas yang berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20:25). Kita harus percaya Dia sebelum melihat, merasakan, atau menjamah Dia. Lagi pula, kita harus mengikuti sidang gereja. Jangan melalaikan sidang. Pada pagi hari, kita harus mencari Tuhan dalam munajat pagi pribadi, tetapi pada malam hari, kita harus mengikuti sidang gereja.
Sewaktu kita mencari Tuhan, kita tidak seharusnya terganggu oleh masalah praktis kehidupan kita. Selain mencari Tuhan, percaya Tuhan, dan mengikuti sidang gereja, kita harus mempercayakan kehidupan kita kepada Tuhan. Ingatlah janji Tuhan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33 Tl.). Bila kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, Allah pasti akan memelihara hidup kita. Jangan bersandarkan diri sendiri pergi menangkap ikan. Bila Anda ingin bersandarkan diri sendiri mencari nafkah, Anda pasti akan gagal dan akhirnya tidak memperoleh apa-apa. Kita harus ingat akan apa yang diwahyukan dalam Yohanes 21, Tuhan bisa menyediakan ikan bahkan di tempat yang tidak ada ikan. Tuhan bisa memberi kita makan ikan yang telah dimasak.
Akhirnya, kita wajib belajar pelajaran Petrus seumur hidup, dan juga mempunyai pengalaman diremukkan. Jangan mengira Anda kuat perkasa. Boleh jadi hayat alamiah Anda itu kuat, tetapi kekuatan ini harus diremukkan. Yang Tuhan kehendaki ialah hati Anda, bukan kekuatan Anda. Ego kita harus ditanggulangi, sampai kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Kita telah melihat, Petrus mengalami dua kegagalan besar: Tiga kali menyangkal Tuhan di hadapan Tuhan, dan meninggalkan amanat Tuhan pergi menangkap ikan. Petrus menyangkal Tuhan, bahkan mengepalai murid-murid lain pergi ke dunia mencari nafkah. Tetapi Tuhan menjumpai dia dan bertanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Yoh. 21:15). Dalam pasal 21, kita melihat Petrus telah mendapat pelajaran, menjadi seorang yang telah diremukkan. Kemudian Tuhan seolah-olah berkata kepada-Nya, “Petrus, engkau harus ikut Aku, bekerja bagi-Ku, memelihara dan menggembalakan domba-Ku, serta membangun gereja.”
Semoga kita semua ingat lima hal yang perlu kita alami: Mencari Tuhan, percaya Tuhan, datang ke dalam sidang, mempercayakan kehidupan kita kepada Tuhan, dan manusia alamiah kita diremukkan. Tak peduli betapa kuat, betapa pandai, betapa hikmatnya manusia alamiah kita, ia harus diremukkan. Kita harus mengesampingkan kekuatan alamiah kita, kepandaian, dan hikmat kita. Yang Tuhan kehendaki ialah hati kita, bukan kekuatan kita. Ketika kita mengira diri kita kuat, kita akan gagal. Mengapa kita harus belajar pelajaran mengesampingkan kekuatan alamiah, kepandaian alamiah, dan hikmat alamiah kita? Karena Tuhan sendiri harus menjadi hayat kita, kekuatan kita, hikmat kita, segala sesuatu kita. Tuhan menghendaki hati kita mengasihi Dia, agar kita berkoordinasi dengan-Nya, memberi-Nya kesempatan untuk hidup di dalam kita. Meskipun Tuhan tidak memerlukan kekuatan, hikmat, dan kepandaian kita, Dia memerlukan kerja sama kita. Jika kita mengasihi-Nya, kita harus bekerja sama dengan-Nya dan memberi-Nya kesempatan untuk tinggal di dalam kita. Demikian, kita akan sama seperti keadaan Dia ketika hidup di bumi. Bagaimana Ia hidup bersandarkan hayat Allah, demikian juga kita harus hidup bersandarkan hayat Kristus. Dengan demikian, kita akan mengalami kebangkitan. Kita harus mengalami bahwa Tuhan bukan saja adalah Allah di dalam manusia, juga hayat di dalam maut, kebangkitan dalam Roh. Jika kita mencari Dia, percaya ke dalam-Nya, bersidang dengan kaum beriman, melupakan masalah kehidupan kita, dan belajar menyangkal manusia alamiah kita, kita akan dapat mengalami Kristus sebagai kebangkitan di dalam Roh. Jika kita melaksanakan semua ini, Tuhan akan menjadi realitas kita. Inilah yang dimaksud dengan menjadi sokoguru yang mengekspresikan Allah, menjadi bagian dari Yerusalem Baru, menjadi ekspresi baru Kristus.