BERBUAH BERDASARKAN KELUAPAN HAYAT BATINIAH
Sejak saya beroleh selamat dan mulai mengasihi Tuhan dan Alkitab, saya telah tertarik akan Yohanes 15, yang di dalamnya kita mempunyai lukisan perihal pohon (LAI: pokok) anggur. Sejak tahun 1930-an, lukisan ini tak pernah jauh dari perhatian saya.
MENJADI BAGIAN DARI KRISTUS
Kristus adalah pohon anggur dan kita adalah ranting-rantingnya (Yoh. 15:5). Fakta bahwa Kristus adalah pohon anggur, sedang kita adalah ranting-ranting pohon anggur ini jelas menunjukkan bahwa kita adalah bagian dari Kristus. Betapa besarnya perkara ini! Yohanes 15 bukan hanya merupakan suatu perumpamaan, tetapi juga suatu gambaran yang menunjukkan bahwa kita sekarang adalah bagian dari Kristus. Kita bukan hanya orang-orang yang telah ditebus, diampuni, dibenarkan, didamaikan, dan diselamatkan, kita benar-benar adalah bagian dari Kristus! Jika kita memandang lukisan tersebut dari segi ini, kita akan menyadari betapa dalamnya hal ini. Kristus adalah perwujudan Allah, dan kita adalah orang-orang yang kasihan, yang bobrok, jatuh, dan bahkan orang-orang dosa yang jahat. Bagaimana orang-orang dosa seperti ini dapat menjadi bagian dari Kristus? Sekalipun perkara ini kelihatannya sangat dalam, kita sungguh-sungguh adalah bagian dari-Nya.
ORGANISME ALLAH TRITUNGGAL
DALAM PENYALURAN ILAHI
Pohon anggur dengan ranting-rantingnya merupakan organisme Allah Tritunggal dalam penyaluran ilahi. Suatu hari, Tuhan dengan jelas menunjukkan kepada saya bahwa pohon anggur ini merupakan organisme satu-satunya (yang unik) di alam semesta. Pohon anggur dalam pasal 15 bukan suatu organisme yang kecil, bersifat lokal, dan individual, melainkan suatu organisme yang besar, korporat, dan universal, organisme dari Allah Tritunggal.
ALLAH TRITUNGGAL DALAM INJIL YOHANES
Tidak ada kitab lain dalam Alkitab yang mengungkapkan Trinitas sesempurna yang diungkapkan oleh Injil Yohanes. Keseluruhan kitab ini mengisahkan Trinitas. Tidak ada kitab lain yang di dalamnya, Bapa, Putra, dan Roh dinyatakan sedemikian riil seperti yang dinyatakan di sini. Keseluruhan Injil Yohanes merupakan kitab tentang Anak dengan Bapa dan dengan Roh. Karena itu, organisme dalam pasal 15 bukan hanya organisme Kristus, tetapi organisme Allah Tritunggal.
Dalam kata pembukaan pasal ini Tuhan Yesus, Sang Anak, berfirman, “Akulah pohon anggur yang benar, dan Bapa-Kulah pengusahanya (Tl.).” Boleh jadi Anda merasa heran, di manakah Roh Kudus dalam pasal ini. Roh itu adalah getah, sari buah hayat di dalam pohon anggur. Karena itu, kita melihat bahwa Trinitas tersusun dari organisme ini, yang termasuk juga kita. Organisme pohon anggur bukan hanya tersusun dari keilahian, tetapi juga tersusun dari keinsanian. Terpujilah Tuhan, karena organisme universal ini tersusun dari Allah Tritunggal dan kita! Sesungguhnya, kita adalah bagian yang terpenting dalam organisme ini. Ini adalah suatu perkara yang sangat bermakna.
ALLAH SEBAGAI HAYAT TUMBUH
DALAM TUBUH ORGANIK
Inti keseluruhan Alkitab adalah organisme pohon anggur dalam Yohanes 15. Satu organisme adalah satu tubuh organik yang mengandung hayat dan mempunyai organ-organ. Banyak orang Kristen mengira Yohanes 15 hanyalah suatu perumpamaan yang dipakai Tuhan untuk menggambarkan hubungan kita dengan-Nya. Tetapi ini bukanlah perumpamaan semata-mata, melainkan suatu realitas yang mewahyukan inti maksud hati Allah. Allah adalah hayat, dan hayat memerlukan tubuh organik sebagai tempat bertumbuh dan mengekspresikan diri-Nya. Bahkan unsur hayat di dalam benih sekuntum bunga pun memerlukan tubuh organik. Benih adalah tubuh organik bagi hayat di dalamnya untuk bertumbuh dan diekspresikan dengan sempurna. Allah ingin tumbuh di dalam tubuh organik dan memakai tubuh itu untuk ekspresi diri-Nya. Tubuh ini adalah organisme Kristus dan gereja.
Inti Alkitab adalah Allah sebagai hayat yang tumbuh di dalam tubuh organik. Ini berarti Allah adalah hayat yang bertumbuh dan hayat yang bertumbuh memerlukan organisme, tubuh organik, yang di dalamnya Allah dapat bertumbuh dan melalui tubuh ini Ia dapat mengekspresikan diri-Nya. Kita telah diberi tahu bahwa Allah adalah Pencipta kita, obyek penyembahan kita, dan kita, ciptaan-ciptaan-Nya, harus menyembah-Nya. Sekalipun ini tidak salah, namun pengertian akan wahyu Alkitab untuk ini sangat dangkal. Pasti ini bukan isi inti wahyu Allah.
Isi inti ilahi adalah: Allah bukan hanya adalah Pencipta kita dan obyek penyembahan kita, juga adalah hayat. Hayat tidak memerlukan penyembahan. Betapa bodohnya menaruh sebiji anyelir di atas meja dan menyembahnya! Andaikata Anda melakukan hal ini, dan biji anyelir itu dapat berbicara, pasti ia akan berkata, “Orang bodoh! Apa yang kaulakukan? Semakin engkau menyembahku, engkau semakin menderita. Daripada engkau menyembahku, lebih baik tanamlah aku ke dalam tanah. Jika engkau melakukan hal ini, aku akan merasa sangat bahagia.” Kesimpulannya, Allah bukan obyek penyembahan kita; Ia adalah hayat dan Ia ingin bertumbuh di dalam tubuh organik, agar Ia dapat diekspresikan.
LANGKAH ALLAH
UNTUK MENGHASILKAN ORGANISME
Allah telah mengambil beberapa langkah untuk menghasilkan tubuh organik ini. Melalui penciptaan, Ia menciptakan sebuah roh di dalam manusia (Za. 12:1). Karena kita mempunyai roh, kita dapat menerima Allah ke dalam kita. Allah juga menggenapkan pekerjaan penebusan, dan terakhir Ia menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45).
Sekarang Ia bukan hanya Pencipta dan Penebus Ia juga adalah hawa udara, Roh pemberi hayat, jalan bagi kita untuk berhubungan dengan Dia. Saat kita berkontak dengan Dia, Dia langsung masuk ke dalam roh kita. Masuknya Roh ini ke dalam roh kita menjadikan kita bagian dari tubuh organik ini. Kini Allah bertumbuh di dalam kita, sehingga Ia bisa terekspresikan. Inilah keinginan Allah pada hari ini.
Jika kita melihat bahwa kita adalah bagian dari organisme ilahi ini yang di dalamnya Allah bertumbuh dan melaluinya Ia diekspresikan, maka banyak hal akan berangsur-angsur pudar. Semua konsepsi keagamaan mengenai penyembahan akan lenyap. Allah tidak mau konsepsi-konsepsi kita, Ia ingin menjadi hayat yang tumbuh di dalam kita sehingga Ia bisa diekspresikan melalui kita. Inilah organisme yang diwahyukan dalam Yohanes 15.
SATU GAMBAR YANG ALMUHIT
DARI INJIL YOHANES
Kita telah mengetahui bahwa menurut Yohanes 15, pemberitaan Injil merupakan luapan hayat untuk berbuah. Akan tetapi, ini bukan suatu perkara yang sederhana, melainkan sangat tinggi dan dalam. Masalah ini lebih tinggi daripada yang biasa kita perhatikan dalam kehidupan orang Kristen. Jika kita ingin memperoleh sedikit pengertian tentang apa makna berbuah melalui luapan air hayat, kita perlu melihat gambar yang almuhit dari Injil Yohanes.
Injil ini diawali dengan perkataan: “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Suatu hari, Firman menjadi daging (Yoh. 1:14 Tl.), dan daging ini adalah Anak Domba Allah (Yoh. 1:29). Ketika Tuhan disalibkan, Ia bukan saja Anak Domba yang menggenapkan penebusan; Ia juga memakai rupa ular (Yoh. 3:14). Ia ditinggikan di atas salib, sehingga Ia bisa menumpas Iblis, si ular tua. Dalam kematian-Nya, Ia bukan semata-mata dalam bentuk Anak Domba dan ular, bahkan dalam bentuk biji gandum (Yoh. 12:24). Sebagai biji gandum, Ia mati untuk menghasilkan banyak biji, yang juga mencakup kita semua. Yohanes 1:4 mengatakan, “Dalam Dia ada hidup (hayat) dan hidup itu adalah terang manusia.” Hayat ini adalah terang hayat (Yoh. 8:12). Ketika Firman menjadi daging, Ia penuh dengan anugerah (kasih karunia) dan realitas (kebenaran).
Sampai di sini, kita mempunyai sepuluh kata yang bermakna: Firman, Allah, daging, Anak Domba, ular, biji, hayat, terang, anugerah, dan kebenaran. Kristus adalah Firman, yang adalah Allah, dan yang menjadi daging. Daging ini adalah Anak Domba yang tersalib bagi penebusan kita. Dalam penyaliban-Nya, Kristus dalam rupa ular menghancurkan Iblis, dan dalam kematian-Nya, Ia jatuh ke dalam tanah sebagai satu biji gandum untuk menghasilkan banyak biji. Banyak biji ini semua mempunyai hayat-Nya. Hayat ini menjadilah terang mereka. Bagi mereka, hayat ini adalah anugerah, dan terang ini membawakan realitas.
BERHUNINYA KRISTUS
MENJADIKAN KITA SEBAGIAN
DARI ORGANISME ALLAH TRITUNGGAL
Setelah Tuhan Yesus mati, bangkit, dan terangkat secara rahasia kepada Bapa, Ia datang kembali pada hari yang sama, dan dengan tubuh jasmani, masuk ke dalam ruangan yang tertutup, dengan cara yang misterius (Yoh. 20:19). Tak ada seorang ilmuwan atau sarjana yang dapat menerangkan bagaimana Kristus dapat masuk ke dalam ruangan itu. Menurut Yohanes 20:22 “Ia mengembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’” Nampaknya ini merupakan kesimpulan dari Injil Yohanes. Namun sebenarnya Injil ini masih belum lengkap. Pengembusan Tuhan ke dalam murid-murid-Nya menunjukkan bahwa Sang misterius ini, Sang serba ada, telah masuk ke dalam mereka. Dalam pasal 20 tidak ada catatan bahwa Tuhan Yesus meninggalkan murid-murid-Nya. Ia datang, tetapi Ia tidak pergi lagi. Setelah mengembusi mereka, Ia bukannya berkata, “Selamat tinggal. Nanti Aku akan mengunjungi kalian lagi.” Saat saya masih muda dan membaca pasal ini, saya merasa sulit oleh adanya fakta bahwa tak ada catatan yang memberi tahu kita kalau Tuhan pergi meninggalkan murid-murid. Kemudian saya menyadari bahwa ketika Tuhan mengembusi mereka, Ia masuk ke dalam mereka. Ia tak lagi di luar murid-murid-Nya, melainkan Ia ada di dalam mereka.
Pada mulanya, yaitu pada kekekalan yang lampau, Kristus berjarak terlalu jauh dari ruang maupun waktu. Ia berada sebagai Firman, sebagai ekspresi Allah. Tetapi pada akhir Injil Yohanes, Ia masuk ke dalam kita dengan cara yang misterius. Sebagaimana tak seorang pun dapat menjelaskan bagaimana orang dengan tubuh fisik yang dapat dijamah atau dilihat itu bisa masuk ke dalam ruang tertutup, demikian juga tak seorang pun dapat menerangkan bagaimana Kristus dapat tinggal di dalam kita. Prinsipnya sama untuk kejadian ini. Tinggalnya Kristus adalah misterius. Pada awal kitab ini, Kristus jauh dari kita, tetapi sekarang Ia di dalam kita. Sepanjang menyangkut waktu dan ruang, tak ada lagi jarak antara Dia dengan kita. Ia dan kita adalah satu. Selanjutnya, Kristus telah menjadikan kita bagian dari diri-Nya. Kesatuan ini adalah organisme yang dilukiskan oleh pohon anggur, organisme Allah Tritunggal dengan insani dalam penyaluran ilahi. Hari ini kita berada dalam organisme ini. Kita semua memerlukan visi yang jelas tentang ini.
MASUK KE DALAM ORGANISME
Boleh jadi Anda merasa ingin tahu bagaimana Anda dapat mengalami organisme ini. Organisme hidup ini seperti sebuah bangunan dengan sebuah pintu masuk. Pintu gerbangnya ada dalam Yohanes 3:3 dan 5. Tuhan Yesus berkata kepada seorang berdosa yang bernama Nikodemus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah,” dan “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Organisme adalah kerajaan dan kerajaan adalah organisme. Tuhan memberi tahu Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan dari Roh. Melalui kelahiran dalam roh kita oleh Roh ilahi, kita memasuki kerajaan ini, organisme ini. Jadi, kelahiran kembali merupakan pintu masuk ke dalam organisme Allah Tritunggal.
JALAN UNTUK MENGALAMI ORGANISME
Jalannya dimulai dalam pasal 4. Dalam ayat 24, Tuhan berkata, “Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Menyembah Allah adalah berkontak dengan Allah, menikmati Allah, dan mengambil bagian dari semua apa adanya Allah. Menyembah Allah adalah perkara menerima Allah ke dalam kita. Hal ini bukan hanya obyektif, melainkan juga subyektif. Ini dibuktikan oleh fakta bahwa di satu pihak, dalam pasal ini Tuhan mengatakan perihal penyembahan, dan di pihak lain, perihal air hidup (ayat 14). Jika ayat 14 dan 24 kita letakkan bersama-sama, kita akan melihat bahwa minum air hayat adalah menyembah Allah. Selain itu, menyembah Allah dengan roh kita dan dalam roh kita adalah minum air hayat yang riil, yaitu diri Allah sendiri. Diri Allah adalah Roh, dan Roh ini adalah air hayat. Kita minum air hayat ini melalui menyembah Allah. Karena itu, minum diri Allah dan menyembah Allah adalah sama. Kita semua harus minum Allah yang adalah air hidup, Roh itu.
Aspek lain dari jalan ini diungkapkan dalam pasal 6. Dalam ayat 48 Tuhan berkata, “Akulah roti kehidupan (hayat),” dan dalam ayat 57 Ia berkata, “Siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Jalannya bukan hanya minum Allah sebagai air hayat, tetapi juga makan Kristus, perwujudan Allah, sebagai roti hayat. Perkataan Tuhan mengenai makan Dia menggusarkan hati kaum agamawan, dan mereka tak dapat menerimanya (ayat 60). Dalam ayat 63, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup (hayat).” Seolah-olah Tuhan berkata, “Akulah roti hayat. Tetapi Aku hanya dapat membagikan diri-Ku ke dalam kalian sebagai suplai hayat melalui firman hayat. Firman hayat ini adalah Roh itu.” Jadi, kita tak seharusnya berkontak dengan firman hayat sebagai huruf hitam di atas kertas putih belaka; kita harus berkontak dengan firman hayat sebagai Roh yang hidup melalui melatih roh kita. Jadi, jalan untuk mengalami organisme adalah berkontak dengan Allah, yang adalah Roh itu, serta makan dan minum Dia.
KELUAPAN
Jika kita benar-benar berkontak dengan Tuhan serta makan dan minum Dia, kita akan mempunyai keluapan seperti yang dikatakan dalam Yohanes 7:37 dan 38. Pada puncak hari raya Pondok Daun, Yesus berdiri dan berseru, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Betapa luapnya ini! Siapa saja yang percaya kepada-Nya akan mempunyai keluapan sungai hayat. Air yang diterima oleh kaum beriman akan menjadi sungai-sungai yang meluap. Inilah keluapan yang kita bicarakan dalam berita ini.
Keluapan hayat ada dalam pasal 7, bukan dalam pasal 15. Tetapi keluapan dalam pasal 7 adalah untuk berbuah dalam pasal 15. Melalui berkontak dengan Allah serta makan minum Dia, kita mempunyai keluapan seperti ini. Keluapan ini tak lain adalah Allah Tritunggal, yang merupakan unsur pokok organisme dan yang memperhidupkan diri-Nya melalui kita. Karena itu, keluapan hayat adalah Allah Tritunggal yang memperhidupkan diri-Nya melalui kita.
KELUAPAN HAYAT
ADALAH BERBUAHNYA KITA
Sekarang kita mengerti, apa makna berbuah oleh keluapan hayat. Kita perlu melihat visi ini. Jika demikian, kita akan berkata, “Aku adalah bagian dari organisme Allah Tritunggal. Setiap hari aku berkontak dengan Allahku, minum Dia, makan Dia, dan hidup berdasarkan Dia. Sekarang dengan sendirinya Allah ini mengalir keluar dari diri-ku.” Keluapan hayat ini adalah berbuahnya kita. Berbuah adalah Allah diperhidupkan melalui kita. Ketika kita bersama-sama sanak keluarga, tetangga, kolega, dan teman-teman kita, kita harus menempuh hidup seperti ini dan menjadi orang macam ini. Baru-baru ini seorang saudari berkenalan dengan seorang perempuan di suatu bandara dan dengan spontan mempersaksikan kelimpahan suplainya dalam Kristus kepada perempuan itu. Sudah tentu perempuan itu sangat terkesan oleh kesaksian saudari kita. Apa yang keluar dari mulut saudari kita bukan sekadar pemberitaan, melainkan Allah Tritunggal yang diperhidupkannya. Jika kita mempunyai kesaksian semacam ini terhadap para saudara dan teman kita, mereka akan terkesan dengan keluapan hayat, dan aliran ini sudah tentu akan mencapai ke dalam beberapa di antara mereka. Mereka akan diinfus dengan aliran ini dan berbuah oleh organisme ini. Inilah berbuah berdasarkan keluapan hayat batiniah.
Jika Anda mempunyai keluapan semacam ini, perlukah Anda dibantu dalam hal mengasihi Tuhan? Bisakah Anda masih tetap hidup dalam dosa dan terus mengasihi dunia? Ini pasti tidak mungkin. Anda tak lagi perlu berjuang mengalahkan dosa dan dunia. Bahkan sedikit pun tak perlu berusaha mengasihi Tuhan. Menurut faktanya, kita tak perlu berbuat sesuatu pun. Karena kita tahu bahwa kita adalah bagian dari organisme ini, Allah Tritunggal telah tergarap ke dalam kita, dan kita tersusun dengan kekayaan-Nya serta telah menjadi bagian dari Dia; demikian, ada sesuatu yang dengan spontan akan teralir keluar dari dalam kita.
Kita adalah ranting-ranting pohon anggur ilahi; kita adalah bagian dari organisme Allah Tritunggal. Dalam hayat, dalam sifat, dan dalam posisi, kita sama seperti Dia. Haleluya! Setiap hari kita berkontak dengan Allah kita. Ia bukan hanya obyek penyembahan kita, tetapi juga Roh di dalam kita sebagai air hidup. Sewaktu kita minum Dia dan makan Dia, kita mempunyai keluapan hayat. Keluapan ini adalah berbuahnya kita dalam kehidupan sehari-hari. Apakah orang-orang yang berkontak dengan kita menerima aliran ini atau tidak adalah masalah pilihan Allah. Tetapi kita dapat menjamin bahwa orang-orang yang dipilih akan menerima aliran ini dan menjadi buah dari organisme ilahi. Inilah cara untuk melipatgandakan organisme dan menyebarluaskan Kerajaan Allah. Inilah makna dari berbuah berdasarkan keluapan hayat batiniah.
?