← Daftar isi Yohanes (4) · bab 8/16

PROSES HAYAT MELALUI MATI DAN BANGKIT UNTUK PERLIPATGANDAAN (2)

Kita telah melihat bahwa Injil Yohanes mewahyukan Tuhan adalah ekspresi Allah yang masuk ke dalam kita sebagai hayat. Melalui menyalurkan diri-Nya kepada kita, Dia menjadi segala sesuatu bagi kita dan memenuhi semua kebutuhan kita, sehingga Dia dapat membawa Allah ke dalam kita dan membawa kita kepada Allah, membaurkan Allah dengan kita sampai Allah menjadi satu dengan kita dan kita satu dengan Allah. Dengan kata lain, Tuhan adalah ekspresi Allah, menyalurkan diri-Nya kepada kita sebagai hayat, memenuhi segala kebutuhan kita, dan membaurkan Allah dengan kita hingga menjadi satu. Inilah pokok pikiran Injil Yohanes pasal 1-17. Semua yang telah dilahirkan kembali oleh-Nya akan menjadi satu dalam hayat ilahi ini. Buktinya, kita bersatu satu sama lain dalam hayat ilahi ini, bahkan kita pun bersatu dengan Allah dalam hayat ilahi ini. Setelah wahyu yang sedemikian dalam 17 pasal ini, dalam pasal 18 dan 19, Roh Kudus mewahyukan kerelaan Tuhan untuk mati, agar Dia bisa tertabur seperti biji gandum ke dalam tanah dan mati, supaya Dia bisa bangkit untuk membebaskan dan menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, dan dengan demikian menghasilkan banyak buah melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Pemikiran mengenai Roh Kudus dalam Yohanes 18 dan 19 terutama bukan pada Penebus yang menanggung dosa-dosa kita, mati untuk dosa-dosa kita, menebus kita dari kutukan dosa-dosa kita. Pemikiran atas Penebus dan penebusan-Nya terlihat terutama pada tiga kitab Injil yang terdahulu. Pemikiran dalam Injil Yohanes, khususnya dalam pasal 18 dan 19, terutama dipusatkan pada Tuhan sebagai benih hayat, mati, dan membebaskan diri-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Dalam hal ini, satu butir gandum telah dibebaskan untuk menghasilkan banyak butir gandum. Pada mulanya hayat terbatas dalam satu butir gandum, tetapi kini melalui kematian dan kebangkitan, hayat Kristus telah dibebaskan, telah menghasilkan banyak butir gandum. Inilah pemikiran atas kematian Tuhan dalam Injil Yohanes.

Kita telah melihat bahwa Tuhan dengan kemauan sendiri dan dengan berani menyerahkan diri sendiri untuk melalui proses (Yoh. 18:1-11), Dia diuji oleh manusia dalam kewibawaan-Nya (Yoh. 18:12-38a), dijatuhi hukuman dalam ketidakbenaran dan ketidakadilan manusia (18:38b-19:16), dan diuji oleh kematian dalam kedaulatan Allah (19:17-30). Dalam berita ini kita sampai pada perkara kematian Tuhan yang sangat penting (19:31-37).

V. MENGALIRKAN DARAH DAN AIR

Yohanes 19:34 mengatakan, “Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Dari lambung Tuhan yang ditusuk mengalir keluar dua macam unsur: Darah dan air. Darah adalah untuk penebusan, berkaitan dengan menanggulangi dosa-dosa (Yoh. 1:29; Ibr. 9:22) untuk membeli gereja (Kis. 20:28). Air adalah untuk menyalurkan hayat, berkaitan dengan kematian (Yoh. 12:24; 3:14-15) untuk menghasilkan gereja (Ef. 5:29-30). Di aspek negatifnya, kematian Tuhan menyingkirkan dosa-dosa kita; di aspek positifnya, menyalurkan hayat ke dalam kita. Jadi, kematian Tuhan memiliki dua aspek: Penebusan dan penyaluran hayat. Aspek penebusan adalah untuk aspek penyaluran hayat. Catatan ketiga kitab Injil lainnya hanya menggambarkan aspek penebusan dari kematian Tuhan, tetapi catatan Injil Yohanes tidak hanya menggambarkan aspek penebusan, lebih-lebih menggambarkan aspek penyaluran hayat. Dalam Matius 27:45, 51; Markus 15:33; dan Lukas 23:44-45, kegelapan, simbol dari dosa muncul, juga tabir dalam Bait Suci yang memisahkan Allah dengan manusia terbelah. Semua itu adalah tanda aspek penebusan dari kematian Tuhan. Dalam Lukas 23:34, Tuhan di atas salib berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Dalam Matius 27:46 Tuhan berkata, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. (Karena saat itu Dia menanggung dosa-dosa kita). Perkataan ini juga menggambarkan aspek penebusan dari kematian Tuhan. Tetapi dalam ayat 34 dan 36, Yohanes mengatakan tentang mengalirnya air, dan tulang-tulang yang tidak dipatahkan, ini adalah tanda aspek penyaluran hayat dari kematian Tuhan. Kematian yang menyalurkan hayat ini membebaskan hayat ilahi Tuhan dari dalam diri-Nya untuk menghasilkan gereja, yaitu yang tersusun dari semua orang beriman-Nya yang ke dalam mereka hayat ilahi-Nya disalurkan. Kematian penyaluran hayat Tuhan ini dilambangkan dengan tertidurnya Adam yang menghasilkan Hawa (Kej. 2:21-23), juga ditandai dengan jatuhnya sebutir biji gandum ke dalam tanah dan mati, untuk menghasilkan banyak butir (Yoh. 12:24), guna dijadikan satu roti yang melambangkan Tubuh Kristus (1Kor. 10:17). Jadi, kematian Tuhan juga adalah kematian yang mengembangbiakkan hayat, melipatgandakan hayat, kematian yang menghasilkan dan memproduksi hayat.

Kita akan melihat bahwa lambung Tuhan yang ditu-suk dilambangkan dengan terbukanya rusuk adam yang menghasilkan Hawa (Kej. 2:21-23). Darah dilambangkan dengan darah Anak Domba Paskah (Kel. 12:7, 22; Why. 12:11); air dilambangkan dengan air yang mengalir keluar dari batu karang yang terbelah (Kel. 17:6; 1Kor. 10:4). Darah membentuk sebuah sumber yang mencuci dosa (Za. 13:1), air menjadi sumber hayat (Mzm. 36:10; Why. 21:6).

A. Tidak Ada Satu pun Tulang-Nya yang Dipatahkan

Setiap aspek kematian Tuhan sesuai dengan kedaulatan Allah. Di bawah kedaulatan Allah, tidak satu pun tulang Tuhan yang dipatahkan (19:31-33, 36). Orang Yahudi tidak ingin tubuh-tubuh itu tertinggal di atas salib pada hari Sabat, lalu mereka minta kepada Pilatus agar kaki-kaki mereka dipatahkan. Karena itu para prajurit mematahkan kaki kedua penyamun yang disalibkan bersama Tuhan. Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus, mereka melihat bahwa Ia telah mati. Karena Tuhan telah mati, maka tidak perlu mematahkan tulang-Nya. Dalam satu arti ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak mati karena tangan manusia, melainkan Dia mati sendiri. Meskipun Dia disalibkan, Dia mati sendiri untuk menggenapkan firman-Nya yang diucapkan dalam 10:17 dan 18, “Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Kelihatannya, Yesus dibunuh; sesungguhnya, Dia memberikan hayat jiwa-Nya, hayat psuche-Nya. Sekalipun kedua penjahat itu dibunuh, Yesus tidak demikian. Sebaliknya, Dia memberikan hayat psuche-Nya untuk menebus kita. Karena Dia telah mati, maka prajurit-prajurit tidak mematahkan kaki-Nya. Kedaulatan ini menggenapi nubuat yang mengatakan, “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan” (Yoh. 19:36).

Untuk meyakinkan bahwa Tuhan benar-benar telah mati, seorang prajurit menikam lambung-Nya dengan tombak. Ini menggenapi nubuat dalam Zakharia 12:10, “Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam.” Hal ini terjadi dengan begitu ajaib dan bermakna, semuanya mutlak berasal dari kedaulatan Tuhan. Ini juga membuktikan bahwa kematian Tuhan bukan terjadi secara kebetulan, melainkan telah direncanakan Allah sebelum dunia dijadikan (1Ptr. 1:19-20).

Tidak ada satu pun tulang Tuhan yang dipatahkan, ini dilambangkan oleh tulang-tulang domba Paskah. Dalam penetapan Paskah, Allah menetapkan agar tidak ada satu pun tulang domba yang dipatahkan (Kel. 12:46; Bil. 9:11-12).

Ini merupakan satu lambang yang ajaib. Selanjutnya, ini pun dinubuatkan dalam Mazmur 34:21. Baik lambang maupun nubuat digenapi dalam kematian Tuhan di atas salib.

Dalam Kejadian 2:21-23, kita menemukan pertama kali sebutan tulang dalam Kitab Suci, yaitu sepotong tulang rusuk yang dikeluarkan dari Adam untuk menghasilkan dan membangun Hawa, sebagai jodoh Adam. Hawa melambangkan gereja yang dihasilkan dan dibangun dengan hayat kebangkitan Tuhan yang dibebaskan dari-Nya. Dengan kata lain, gereja berasal dari hayat kebangkitan, hayat yang tidak terpatahkan, hayat yang tak terbinasakan dari Kristus. Hayat-Nya adalah hayat yang tidak dapat dilukai, dirusak, atau dipatahkan. Jika salah satu dari tulang Tuhan dapat dipatahkan, itu berarti hayat kebangkitan Tuhan dapat dilukai dan dirusak oleh kematian.

Melalui memeriksa Kejadian 2, dengan mudah kita dapat melihat arti tulang yakni melambangkan hayat kebangkitan. Satu prinsip yang Alkitabiah adalah prinsip yang disebutkan kali pertama. Menurut prinsip ini, penyebutan pertama dari suatu perkara menentukan arti perkara itu dalam seluruh Alkitab. Dengan menerapkan prinsip ini pada tulang dalam Injil Yohanes, kita melihat bahwa kali pertama disebutkan tentang tulang adalah pada Kejadian 2, di sana dikatakan sepotong tulang rusuk dikeluarkan dari Adam untuk menghasilkan seorang mempelai perempuan. Hawa adalah lambang gereja, Adam adalah lambang Kristus, dan tulang itu adalah lambang hayat kebangkitan Kristus. Sebagaimana Hawa berasal dari tulang Adam, demikian pula gereja berasal dari hayat kebangkitan Kristus. Hawa dibuat dari sebuah tulang, dan gereja dihasilkan dari hayat ilahi. Jadi, tulang adalah lambang hayat kebangkitan. Tulang Tuhan Yesus tidak dipatahkan, menunjukkan bahwa Dia adalah hayat kebangkitan yang tidak dapat dihancurkan oleh maut. Karena itu, tulang adalah tanda, gambaran dari hayat kebangkitan Tuhan yang tidak bisa dirusak oleh apa pun. Lambung Tuhan ditusuk, tetapi tidak ada satu pun dari tulang-Nya yang dipatahkan. Ini menandakan, meskipun hayat tubuh jasmani Tuhan dibunuh, tetapi hayat kebangkitan-Nya, yaitu hayat ilahi itu, tidak bisa dilukai atau dirusak oleh apa pun. Hayat psuche Yesus, yakni hayat jiwa-Nya, terluka, rusak, dan mati, tetapi hayat ilahi-Nya tidak. Meskipun hayat insani-Nya dirusak oleh kematian, hayat ilahi-Nya tidak dapat dihancurkan. Inilah hayat yang dipakai untuk menghasilkan dan membangun gereja, yang juga adalah hayat kekal yang kita dapatkan karena percaya ke dalam-Nya (Yoh. 3:36).

B. Lambung-Nya Ditikam

Setelah peristiwa yang bersangkutan dengan tulang-tulang Tuhan, salah seorang prajurit menikam lambung-Nya dengan tombak, dan “segera mengalir keluar darah dan air” (19:34, 37). Meskipun hayat kebangkitan Tuhan tidak terusak, diri-Nya sendiri terbelah, supaya hayat ilahi-Nya dapat dibebaskan. Di sini, air melambangkan hayat. Ini digambarkan dalam Perjanjian Lama dengan batu karang yang terpukul, yang darinya air hidup mengalir untuk meleraikan dahaga umat Israel (Kel. 17:6). Tuhan adalah batu karang yang dipukul di atas salib. Dia terbelah agar hayat ilahi-Nya dapat mengalir keluar dari-Nya sebagai air hidup. Tidak hanya air yang keluar dari-Nya, juga ada darah; darah melambangkan penebusan. Sebelum kita dapat menerima Tuhan sebagai air hayat yang hidup, pertama-tama kita harus dibersihkan. Karena itu, darah disebut sebagai hal yang pertama dan air sebagai yang kedua. Setelah kita dibersihkan dengan darah, baru kita dapat menerima Tuhan sebagai hayat. Hal-hal ini tidak terdapat pada ketiga kitab Injil yang lain, hanya terdapat dalam Injil Yohanes, karena inilah kitab yang mewahyukan bahwa Tuhan sebagai hayat hanya dapat dibebaskan melalui kematian-Nya. Catatan ketiga kitab Injil yang lain terutama untuk penebusan, tetapi catatan Injil Yohanes terutama untuk pembebasan hayat.

1. Dilambangkan oleh Rusuk Adam yang Terbuka

Lambung Tuhan yang ditikam melambangkan terbukanya rusuk Adam (Kej. 2:21). Rusuk Adam terbuka dan sebuah rusuk diambil. Di sini, rusuk Tuhan Yesus terbuka, darah dan air mengalir keluar dari rusuk yang terbuka ini.

2. Mengalirkan Darah untuk Penebusan

Darah yang mengalir dari rusuk Tuhan adalah untuk penebusan (Ibr. 9:22; 1Ptr. 1:18-19; Rm. 3:25). Ibrani 9:22 mengatakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Di sini darah melambangkan aspek penebusan dari kematian Kristus (Yoh. 1:29). Darah yang mengalir untuk penebusan kita dilambangkan oleh darah domba Paskah (Kel. 12:7). Sebagaimana dalam Zakharia 13:1 dituliskan, darah penebusan ini membentuk satu sumber untuk mencuci dosa-dosa. Haleluya atas sumber yang sedemikian. Sumber ini bukan untuk menyuplaikan minuman, melainkan untuk mencuci. Darah yang mengalir itu juga adalah untuk membeli gereja (Kis. 20:28). Darah yang membentuk suatu sumber untuk mencuci dosa-dosa ini adalah harga untuk membeli gereja.

3. Mengalirkan Air untuk Menyalurkan Hayat

Air yang keluar dari rusuk-Nya melambangkan aspek penyaluran hayat dari kematian Kristus (12:24). Air adalah untuk penyaluran hayat (Yoh. 4:14; Why. 22:1). Seperti yang telah kita tunjukkan, ini dilambangkan oleh air yang mengalir dari batu karang yang dipukul (Kel. 17:6; 1Kor. 10:4). Air ini menjadi “sumber hayat” (Mzm. 36:10). Kalau darah membentuk sebuah sumber untuk mencuci, air menjadi sebuah sumber untuk diminum. Darah itu untuk membeli gereja, sedangkan air yang melambangkan hayat kekal itu untuk menghasilkan gereja. Sebagaimana telah kita lihat, ini dilambangkan oleh Hawa yang dibangun dari tulang rusuk yang diambil dari diri Adam.

Aspek kedua dari kematian Tuhan ini adalah kematian yang membebaskan hayat, mengembangbiakkan hayat dan melipatgandakan hayat, juga adalah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat. Sewaktu Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati sehingga menghasilkan banyak biji gandum (Yoh. 12:24), Dia menunjukkan aspek penyaluran hayat dari kematian-Nya. Kematian dari sebutir biji gandum ini bukan untuk penebusan, melainkan mutlak untuk penyaluran hayat yang ada di dalam biji gandum pertama kepada banyak biji gandum. Di pihak negatifnya, kematian Kristus menyingkirkan dosa-dosa kita; di pihak positifnya, menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita. Begitu kita percaya kepada-Nya pada hari ini, dosa-dosa kita disingkirkan oleh kematian-Nya dalam aspek penebusan; dan hayat yang kekal disalurkan kepada kita oleh kematian-Nya yang menyalurkan hayat. Kematian yang menyalurkan hayat ini juga merupakan kematian yang membebaskan hayat, mengembangbiakkan hayat, dan melipatgandakan hayat. Inilah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat.

Perhatikanlah sebutir biji gandum. Hayatnya terkurung di dalam biji gandum itu. Melalui kematian, hayat yang ada di dalam biji gandum itu terbebaskan. Demikian pula, dengan kematian-Nya di kayu salib, hayat ilahi Kristus terbebaskan. Sebab itu, kematian-Nya adalah kematian yang membebaskan hayat. Karena hayat ilahi-Nya bukan hanya dibebaskan dari-Nya, tetapi juga disalurkan ke dalam kita, maka kematian-Nya adalah kematian yang membebaskan hayat. Di pihak Dia, kematian-Nya adalah kematian yang membebaskan hayat; di pihak kita, kematian-Nya adalah kematian yang menyalurkan hayat. Tidak hanya demikian, itu juga kematian yang mengembangbiakkan hayat, karena melaluinya hayat tersebar ke segala arah. Selain itu, kematian-Nya juga adalah kematian yang melipatgandakan hayat, menyebabkan perlipatgandaan hayat. Itu pun kematian yang mereproduksi hayat, karena satu biji gandum telah direproduksi menjadi banyak gandum. Betapa perlunya kita terkesan oleh aspek-aspek yang ajaib dari kematian Kristus yang almuhit ini.

Dalam Yohanes 1, kita melihat Anak Domba dengan burung merpati. Tidak cukup hanya memiliki Anak Domba, kita pun memerlukan burung merpati. Anak Domba terutama untuk penebusan, dan burung merpati terutama untuk penyaluran hayat. Inilah ekonomi Allah.

Aspek penyaluran hayat dari kematian Tuhan ini bahkan lebih ajaib daripada aspek penebusan. Penebusan itu sangat bagus, sangat ajaib, sangat mengherankan, dan sepertinya tidak ada yang melampauinya. Tetapi penyaluran hayat mengungguli penebusan. Andaikata seorang berdosa datang kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya sebagai Anak Domba Allah yang mati di kayu salib untuk dosa-dosanya, mencucurkan darah-Nya bagi dosa-dosanya. Bahkan darah itu menjadi sebuah sumber yang dapat membersihkan dirinya. Betapa ajaibnya ini! Tetapi seandainya dia hanya dicuci dan tidak mengalami apa-apa lagi dan kemudian dibawa masuk ke dalam wisma yang indah di surga, walaupun sudah dicuci, dia masih mati, seperti mayat dalam kamar jenazah. Kini dia merupakan orang mati yang bersih karena telah menjadi orang mati yang tercuci oleh darah. Melalui hal ini kita melihat bahwa tidaklah cukup hanya dibersihkan oleh darah. Kita pun harus hidup. Tidak perlu kita menuju wisma yang indah di surga, karena selama kita memiliki hayat ilahi dan hidup, kita memiliki tempat tinggal bersama untuk kita dan Allah. Andaikan kita tertebus tanpa dilahirkan kembali, keadaan kita masih kasihan. Tujuan Allah adalah penebusan harus diikuti oleh penyaluran hayat. Penebusan adalah mempersiapkan jalan bagi kita untuk menerima hayat ilahi. Air harus menyertai darah. Kita telah melihat bahwa darah melambangkan aspek penebusan dari kematian Kristus dan air melambangkan aspek penyaluran hayat. Darah adalah untuk penebusan, membentuk satu sumber yang di dalamnya kita dibersihkan. Air adalah untuk kelahiran kembali, membentuk suatu sumber air hayat yang darinya kita dapat minum setiap saat. Secara lahiriah kita telah dibersihkan dan secara batiniah kita telah dipenuhi oleh hayat ilahi ini. Kini kita hidup dan bersih. Kita semua dapat berseru, “Haleluya! Aku telah tertebus dan telah dilahirkan kembali!”

Di antara umat Kristen hari ini, banyak sekali ajaran mengenai kematian Tuhan yang berhubungan dengan penebusan seperti yang terlihat dalam ketiga kitab Injil yang pertama, tetapi aspek penyaluran hayat dari kematian-Nya yang terlihat pada Injil Yohanes sangat diabaikan. Kebanyakan orang Kristen mangabaikan hal ini karena mereka tidak pernah melihat perkara hayat dengan memadai. Bagaimanapun, beberapa tahun ini (sekitar tahun 1980), Tuhan telah mewahyukan masalah ini kepada gereja-Nya. Kita menjadi lebih jelas bahwa inilah aspek yang utama dari kematian Tuhan, sedang aspek penebusan adalah aspek tambahan. Kehendak Allah yang kekal adalah menyalurkan diri-Nya sendiri yang adalah hayat kepada kita, inilah aspek yang utama. Tetapi kita telah berdosa. Karena itu, penebusan diperlukan sebagai suatu prosedur tambahan, bukan aspek yang utama. Dari kekekalan yang lampau (azali) sampai kekekalan yang akan datang (abadi), Allah bermaksud menyalurkan diri-Nya kepada kita sebagai hayat. Selama proses waktu, kita jatuh dan berdosa. Kejatuhan membuat satu sekatan dalam kehendak kekal Allah. Allah menjembatani jarak ini dan mengisinya dengan penebusan. Karena itu, kita melihat bahwa penebusan merupakan tambahan pada aspek utama kematian Tuhan. Jadi, hal yang penting mengenai kematian Tuhan dalam catatan Injil Yohanes ialah membebaskan hayat dan menyalurkannya ke dalam kita.

VI. BERISTIRAHAT DALAM KEHORMATAN MANUSIA

Setelah Tuhan merampungkan pekerjaan-Nya dalam kematian-Nya, Dia beristirahat (Yoh. 19:38-42). Dalam Yohanes 18 dan 19 kita melihat banyak hal yang jahat dan penderitaan yang menimpa Tuhan. Sejumlah orang memperlakukan-Nya dengan jahat, yang lain mengejek-Nya, dan bahkan murid-Nya yang paling akrab menyangkal-Nya. Segala sesuatu di sekeliling-Nya gelap. Tetapi, bagaimanapun jahatnya peristiwa-peristiwa itu dan bagaimanapun banyaknya penderitaan yang Dia alami, Dia menahannya dan melaluinya dengan menang. Ini menunjukkan bahwa Dia adalah hayat pemenang dan penakluk. Hayat-Nya bukanlah hayat yang dikuasai; hayat-Nya adalah hayat yang menguasai. Jadi, segera setelah kematian-Nya, lingkungan berubah dari hitam menjadi putih. Setelah Tuhan merampungkan kematian untuk penebusan dan penyaluran hayat-Nya, situasi penderitaan-Nya segera berubah menjadi sesuatu yang penuh dengan kehormatan. Sebelum kematian-Nya, segala sesuatu jahat dan mematikan; setelah kematian-Nya, segalanya jadi menyenangkan dan nyaman. Yusuf dari Arimatea seorang hartawan (ayat 38; Mat. 27:57), dan Nikodemus, seorang penguasa Yahudi (Yoh. 3:1), datang membawa kain lenan dan rempah-rempah yang mahal, mur dan gaharu (ayat 39-40), mempersiapkan tubuh-Nya untuk pemakaman. Bukan orang miskin yang merawat tubuh-Nya, melainkan kaum bangsawan yang menguburkan Dia dalam sebuah kubur “bersama dengan orang kaya” (ayat 41; Yes. 53:9 Tl.). Dengan ini kita melihat bahwa seluruh situasi berubah menjadi keadaan yang mulia dan suatu lingkungan yang baru. Kini Tuhan disenangi oleh orang-orang dan mereka sangat menghargai-Nya. Karena itu, Tuhan beristirahat dalam kehormatan manusia. Meskipun Dia mati dalam keadaan malu dan hina, Dia dikuburkan dengan hormat. Persoalannya terletak pada kematian; tetapi setelah Tuhan mati, persoalannya terbereskan. Dia telah mati, persoalan dan hal-hal yang jahat pun berlalu. Sekarang, menurut kedaulatan Allah, dalam kehormatan manusia dan standar yang tinggi, Tuhan beristirahat pada hari Sabat (Yoh. 19:42; Luk. 23:55-56), menanti saat untuk bangkit dari antara orang mati. Dalam Yohanes 5:17, ketika orang-orang Yahudi merayakan hari Sabat mereka, Tuhan memberi tahu mereka bahwa Bapa dan Dia sedang bekerja. Kini pekerjaan-Nya telah selesai, Dia beristirahat dan menikmati hari Sabat yang sejati. Setelah hari Sabat ini, pada hari pertama minggu itu, Dia akan bangkit dari tempat peristirahatan-Nya. Dalam berita yang selanjutnya kita akan membahas kebangkitan Tuhan.

Dengan membaca Yohanes 18 dan 19, serta memperhatikan semua hal yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut, kita akan mengerti arti dari kematian. Pasal-pasal ini menyatakan bagaimana Tuhan menyerahkan diri-Nya dengan sukarela dan berani, bagaimana mengalahkan lingkungan kematian dan pengaruhnya, yang membuktikan bahwa Dia adalah Hayat pemenang dan kebangkitan; Dia mati agar dapat membebaskan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat. Setelah Dia merampungkan hal ini, Dia sangat dihargai dan Dia beristirahat. Tujuan dari kedua pasal ini adalah menunjukkan bahwa Tuhan rela menyerahkan diri-Nya untuk mati dan dengan ini membuktikan bahwa Dialah hayat kebangkitan, hayat pemenang yang tidak dapat dilukai, dicelakai, atau ditaklukkan oleh kematian. Dia membuktikan bahwa kematian tidak dapat mengalahkan diri-Nya, hanya dapat membiarkan Dia, Sang hayat ini, terbebaskan. Di satu pihak, Tuhan tidak dapat dipatahkan, di pihak lain, Dia telah terbelah. Sebagai hayat kebangkitan, Dia tidak dapat dipatahkan; tetapi untuk membebaskan diri-Nya sebagai hayat, Dia telah terbelah. Tidak satu tulang pun dari-Nya yang dipatahkan, membuktikan bahwa tak ada sedikit pun hayat kebangkitan-Nya yang dapat dirusak. Namun, Dia rela menderita dan ditikam, agar hayat-Nya dapat dibebaskan dan disalurkan ke dalam kita. Begitu perkara ini rampung, Dia beristirahat dan menanti kebangkitan.

Kita pun sampai pada pengertian yang tepat akan kematian Tuhan setelah membandingkan catatan Injil Yohanes dengan catatan dari Injil Matius, Markus, dan Lukas. Ketiga kitab Injil ini memperlihatkan bahwa Tuhan mati untuk penebusan, tetapi Injil Yohanes mewahyukan bahwa Dia tidak hanya mati untuk penebusan, lebih-lebih khusus untuk membebaskan hayat. Jadi, melalui kematian-Nya, kita telah ditebus dan mendapatkan hayat yang Dia bebaskan dan salurkan ke dalam kita.