← Daftar isi Yohanes (4) · bab 7/16

PROSES HAYAT MELALUI MATI DAN BANGKIT UNTUK PERLIPATGANDAAN (1)

Yohanes 18 dan 19 memberi tahu kita bagaimana Tuhan dikhianati, dihakimi, disalibkan, dan dikuburkan. Dengan membaca kisah penyaliban Tuhan Yesus dalam keempat kitab Injil, kita menemukan bahwa tiga Injil yang pertama, yaitu Injil Matius, Markus, dan Lukas, garis besar catatannya kira-kira hampir sama. Tetapi catatan dalam Injil Yohanes mutlak berbeda. Sebagai contoh, dalam ketiga Injil yang pertama, catatan perihal penyaliban dan kematian Tuhan di kayu salib disertai dengan banyak tanda. Misalnya, langit menjadi gelap, tabir dalam Bait Suci terbelah dari atas sampai ke bawah (Mat. 27:45, 51). Seruan nyaring Tuhan di atas salib; “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” juga merupakan tanda-tanda lain dalam Injil-Injil ini, yang tidak ditemukan dalam Injil Yohanes. Akan tetapi, catatan Yohanes memuat apa yang tidak terdapat dalam ketiga Injil yang pertama tadi, seperti para serdadu mengejek Tuhan (19:2-3) dan darah serta air yang mengalir dari rusuk Tuhan (19:34). Karena itu, catatan-catatan ini merupakan dua garis yang berbeda. Kita harus tahu tujuan di balik kedua garis ini.

Menurut Injil Matius, Markus, dan Lukas tujuan utama kematian Tuhan adalah untuk menebus kita. Ia mati bagi kita dan bagi dosa-dosa kita untuk menggenapkan pekerjaan penebusan. Tuhan berseru dengan suara nyaring, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” karena pada saat itu Allah menaruh semua dosa kita ke atas diri Tuhan, dan Dia menjadi pemikul dosa, menjadi orang dosa bagi kita, memikul dosa-dosa kita. Karena itu, Allah meninggalkan Dia. Injil Lukas mencatat bahwa Tuhan adalah Penebus yang menebus kita dari dosa-dosa kita, karena Lukas memberi tahu kita bahwa Tuhan disalibkan bersama dua orang dosa, dua orang penjahat, yang seorang beroleh selamat, sedang seorang lainnya binasa (Luk. 23:32, 39-43). Catatan seperti ini tidak ditemukan dalam Injil Yohanes. Lalu apakah tujuan penulisan Injil Yohanes? Karena Injil Yohanes adalah Injil hayat, maka penulisan Yohanes perihal kematian Kristus mengikuti garis hayat. Tujuan Yohanes adalah menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah ekspresi Allah sebagai hayat kita dan Ia mati di kayu salib dengan tujuan membebaskan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat. Kematian-Nya di kayu salib bertujuan menyalurkan hayat ilahi-Nya ke dalam kita.

Pada butir ini kita perlu merenungkan seluruh Injil Yohanes. Dalam kitab ini, penulis, di bawah inspirasi Roh kudus, menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sebagai ekspresi Allah datang sebagai hayat untuk memenuhi berbagai keperluan kita. Dia harus mati dan bangkit, menjelma ke dalam bentuk lain, yaitu Roh itu, agar dapat masuk ke dalam kita, menjadi satu dengan kita, membawa kita ke dalam Allah serta membawa Allah ke dalam kita, menjadikan Allah dan kita tempat tinggal bersama. Dalam Yohanes 17, Tuhan berdoa agar semua murid, yang dilahirkan dari Allah, mengenal nama dan hayat Bapa, termasuk keluarga Bapa, akan menjadi satu di dalam nama Bapa, terpisah dari dunia dan dikuduskan untuk hidup di dalam Allah, dan mutlak satu dalam Allah Tritunggal, merealisasikan kemuliaan sebagai anak-anak Allah. Seperti yang diwahyukan pasal ini, dengan berada di dalam hayat dan sifat Allah, dalam pengudusan, dan dalam kemuliaan Allah Tritunggal, kita semua bisa menjadi satu sebagai ekspresi korporat Allah. Dengan jalan ini, Tuhan, Putra Allah, dapat diekspresikan dan dimuliakan melalui kita, dan Bapa dapat diekspresikan dan dimuliakan di dalam Putra melalui bejana korporat ini. Selanjutnya, penulis memberi suatu catatan yang menunjukkan bagaimana Tuhan disalibkan, masuk ke dalam maut, dan di dalam kebangkitan keluar dari maut. Dengan memperhatikan seluruh gambaran ini, kita akan dapat melihat tujuan catatan mengenai kematian Tuhan dalam pasal 18 dan 19.

Saya mengapresiasi judul berita ini “Proses Hayat Melalui Mati dan Bangkit untuk Perlipatgandaan”. Saya terutama menyukai kata-kata “melalui (melewati) proses” dan “perlipatgandaan”. Yohanes 18 hingga 21 mewahyukan bahwa hayat telah melalui suatu proses sehingga menjadi berlipat ganda. Satu biji gandum telah berlipat ganda menjadi banyak gandum (12:24). Putra Tunggal Allah yang satu-satunya telah berlipat ganda menjadi banyak putra. Ketika kita sampai pada pasal 20, kita akan nampak Putra Tunggal Allah yang satu-satu-Nya ini telah menghasilkan banyak saudara dalam kebangkitan-Nya, dan banyak saudara ini merupakan perlipatgandaan-Nya. Bagaimana Tuhan dapat mempunyai perlipatgandaan ini? Hanya melalui proses mati dan bangkit.

I. DENGAN KEMAUAN SENDIRI DAN DENGAN

BERANI MENYERAHKAN DIRI SENDIRI UNTUK MELALUI PROSES

Tuhan dengan sengaja dan penuh keberanian menyerahkan diri-Nya sendiri untuk melalui (melewati) proses. Ini berarti Ia masuk ke dalam maut secara sukarela. Dalam Yohanes 10, Ia memberi tahu kita bahwa Ia akan dengan sengaja menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Ia adalah Tuhan hayat, Ia adalah hayat. Ia mempunyai kuasa untuk mati, dan Ia pun mempunyai kuasa untuk bangkit. Dengan kemauan-Nya sendiri, Ia masuk ke dalam maut dan keluar lagi. Ia tidak ada persoalan dengan maut; karena itu, Ia tak perlu mati. Apakah Ia akan mati atau tidak, itu adalah hak istimewa-Nya. Dia bisa saja memutuskan untuk mati atau tidak. Akan tetapi, bagi kita, kematian bukan suatu masalah pilihan. Ketika maut datang menimpa kita, kita tak dapat berkata: “Maut, aku masih belum siap. Datanglah kembali kali lain.” Kita tak mempunyai kekuatan atau kuasa untuk menolak maut. Ketika maut tiba, setiap orang harus tunduk kepadanya. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan, karena Ia adalah Tuhan atas hayat dan juga adalah hayat itu sendiri. Jika Ia tidak suka akan maut, Ia mempunyai kekuatan dan kuasa menolak maut itu, sehingga Ia tidak mati. Ia mempunyai kuasa untuk menyuruh maut itu pergi. Meskipun Ia tidak dipaksa atau didorong untuk mati, Ia rela mati, karena Ia datang untuk memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sebagai hayat. Ia tahu, hanya melalui kematian, Ia dapat membebaskan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat. Sesungguhnya, Ia selalu mengatakan bahwa Ia adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati (12:24). Jika biji gandum enggan mati, bagaimana mungkin biji itu membebaskan hayatnya untuk menghasilkan banyak biji gandum? Dalam Yohanes 18 dan 19, kita melihat dengan jelas bahwa Tuhan Yesus rela mati.

A. Pergi ke Taman

Bukti pertama bahwa Tuhan rela mati adalah Ia pergi ke taman (Yoh. 18:1). Ini berarti Ia pergi ke suatu tempat di mana Ia dapat ditangkap. Dalam pemberitaan-Nya yang panjang lebar yang dicatat dalam Yohanes 14 sampai 16, Ia membuat proses demikian jelas. Kemudian dalam pasal 17, Ia berdoa untuk proses ini. Setelah selesai berdoa, ia pergi ke taman. Menurut Injil Matius, Markus, dan Lukas, Tuhan pergi ke taman untuk berdoa. Ketiga Injil ini menyatakan bahwa Tuhan adalah pemikul dosa yang berada di bawah beban pikulan dosa-dosa kita. Jadi, Ia harus pergi kepada Bapa dan berdoa. Tetapi tak ada catatan semacam ini dalam Injil Yohanes. Catatan Yohanes menunjukkan bahwa Ia pergi ke taman bukan untuk berdoa, melainkan memberikan diri-Nya untuk proses itu. Ia pergi ke sana untuk ditangkap, ditawan, diserahkan kepada maut. Ini berarti, Ia dengan kemauan-Nya sendiri menyerahkan diri-Nya. Tuhan bukannya bersembunyi, melainkan dengan rela memberikan diri-Nya untuk melalui proses, memberikan diri-Nya kepada orang-orang yang menyerahkan-Nya kepada maut.

B. Dikhianati oleh Murid Palsu

Tuhan mengetahui bahwa Yudas akan mengkhianati Dia (13:11, 21-27), tetapi Ia tidak menghindarinya. Ini juga membuktikan bahwa Ia dengan kemauan-Nya sendiri memberikan diri-Nya untuk melalui proses. Iblis memanfaatkan murid Tuhan yang durhaka untuk menempatkan Dia ke dalam maut, namun tidak tahu bahwa dengan berbuat demikian ia justru memberi kesempatan kepada Tuhan untuk melalui proses. Tuhan menggunakan kesempatan ini sebagai suatu kesempatan untuk dimuliakan (13:31-32), yaitu diperbanyak melalui mati dan bangkit.

C. “Aku Adalah” yang Rela Ditangkap

Petunjuk lain atas kerelaan Tuhan untuk mati adalah bukan orang-orang itu yang menemukan-Nya, melainkan Ia yang datang kepada mereka. Yudas, murid palsu, datang dengan dua golongan orang politikus dan agamawan. Para prajurit adalah kaum politikus, sedang wakil-wakil dari imam-imam serta orang-orang Farisi adalah agamawan. Agamawan bekerja sama dengan politikus untuk menyerahkan hayat Tuhan kepada maut. Akan tetapi, bukannya mereka yang mendapati Tuhan, melainkan Tuhan yang datang kepada mereka. Para serdadu bukannya datang kepada Tuhan dan menangkap-Nya ketika Ia berdoa. Bukan, Tuhan pergi menjumpai mereka dan berkata, “Siapakah yang kamu cari?” (Yoh. 18:4). Jawab mereka, “Yesus dari Nazaret” (Yoh. 18:5). Tuhan lalu menjawab, “Akulah Dia.” Ketika mereka mendengar perkataan ini, mundurlah mereka dan jatuh ke tanah (Yoh. 18:6). Mereka dikejutkan oleh perkataan, “Akulah Dia,” yang merupakan makna dari nama “Yehova”. Ini menunjukkan bahwa persona yang mereka datangi dan tangkap adalah Allah Yehova. Tuhan bukannya mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri, melainkan bertanya untuk kali kedua, “Siapakah yang kamu cari?” Jadi, sudah tentu bukan mereka yang menangkap Tuhan, melainkan Tuhanlah yang menyerahkan diri-Nya kepada mereka.

Nama “Yehova” berarti “Aku adalah Aku adalah itu”. Tuhan Yesus adalah “Aku adalah” yang agung. Dalam Yohanes 8:24, Tuhan memberi tahu orang-orang Yahudi, “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia (Aku adalah), kamu akan mati dalam dosamu.” Dengan kata lain, jika mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Yehova, Allah itu, mereka akan mati dalam dosa mereka. Orang-orang Yahudi mendengar ini, dan ketika mereka mendengarnya sekali lagi, mereka jatuh ke tanah dengan ketakutan. Tuhan berbicara dengan mereka pada kali kedua, tanya-Nya, “Siapakah yang kamu cari?” Ia bukannya ditangkap; Ia menyerahkan diri-Nya sendiri kepada mereka, membuktikan kerelaan-Nya untuk mati. Jika Ia tidak rela mati, tak seorang pun dapat menangkap-Nya, karena Ia dapat membuat setiap orang menjadi gentar dan menyebabkan mereka jatuh ke tanah. Ia hanya perlu mengucapkan sepatah kata, dan semua orang yang ingin menangkap-Nya akan rebah. Bagaimana mungkin mereka dapat menangkap-Nya, bila Ia tidak rela ditangkap? Ini membuktikan bahwa tujuan Injil Yohanes adalah menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tuhan hayat dan Ia rela mati untuk membebaskan diri-Nya sendiri sebagai hayat.

D. Melindungi Murid-murid dengan Cara yang Mudah

Ketika Tuhan menyerahkan diri-Nya kepada orang-orang itu, Ia melindungi murid-murid-Nya dengan cara yang sangat mudah. Dalam Yohanes 18:8 Yesus berkata, “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka (murid-murid) ini pergi.” Dengan demikian genaplah firman Tuhan dalam Yohanes 17:12, di mana Ia berkata, “Tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa.” Di sini kita melihat bahwa di bawah pengkhianatan oleh murid yang palsu, ditangkap oleh sepasukan prajurit, Tuhan tetap dengan baik memelihara murid-murid-Nya. Ini mewahyukan bahwa Dia dengan tenang melalui proses kematian. Ia sama sekali tidak gentar karena maut yang ada di sekeliling-Nya.

E. Tanpa Banyak Perlawanan

Kerelaan-Nya untuk mati juga disebabkan oleh peris-tiwa pemotongan telinga kanan Malkhus, seorang hamba Imam Besar (Yoh. 18:10-11). Petrus, seorang saudara yang kasar, tidak mengerti tujuan Tuhan. Sekalipun maksudnya adalah untuk menolong Tuhan, namun ia malah menimbulkan kesulitan. Maka kata Tuhan Yesus kepadanya, “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” Tuhan memberi tahu Petrus agar menyarungkan pedangnya, karena Ia datang untuk menggenapkan maksud hati Allah, yaitu memberikan diri-Nya sebagai hayat kepada yang lain. Tuhan rela meminum cawan dari Bapa; Ia tidak menolak cawan itu. Tuhan bukan dipaksa mati, melainkan Ia dengan rela memberikan diri-Nya kepada maut, sehingga Ia dapat membebaskan hayat-Nya untuk menghasilkan banyak buah.

Dalam Yohanes 18:10-11 kita melihat bahwa Tuhan tidak memberikan perlawanan apa pun atas penawanan diri-Nya. Dengan jalan menyerahkan diri-Nya kepada maut, Tuhan membuktikan bahwa Dia adalah hayat. Tanpa kematian, bagaimana dapat membuktikan bahwa Dia adalah hayat? Ketika Tuhan menjadi manusia, pertama-tama Ia membuktikan bahwa Dia adalah Allah. Sekarang dalam pasal 18 dan 19, Ia sedang masuk ke dalam maut untuk membuktikan bahwa Dia adalah hayat. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Tuhan adalah hayat? Melalui masuknya Dia ke dalam maut dan tidak ditaklukkan oleh maut itu. Tuhan tidak dapat digentarkan, direpotkan, dikekang, atau dikendalikan oleh maut. Sewaktu kita membaca kedua pasal ini, kita menemukan bahwa Tuhan masuk ke dalam maut, mengalahkan dan menaklukkan maut itu.

Dalam kedua pasal ini terdapat banyak bukti yang menunjukkan Tuhan mengalahkan dan menaklukkan maut. Pertama, Tuhan tidak dapat digentarkan oleh maut. Ketika Tuhan mengetahui bahwa pihak agamawan dan pihak politikus mendatangi-Nya untuk menangkap-Nya serta menaruh-Nya ke dalam maut, Ia tidak merasa takut. Dengan berani Ia menjumpai mereka dan menyerahkan diri-Nya kepada mereka. Kedua, Tuhan tetap tenang ketika maut mendatangi-Nya. Di hadapan maut, Ia tetap melindungi murid-murid-Nya dengan cara yang mudah, yaitu memberi tahu para penangkap-Nya supaya membiarkan murid-murid-Nya pergi. Andaikan sekelompok polisi datang untuk menangkap Anda, bisakah Anda tetap tenang? Tetapi dalam setiap situasi yang dilukiskan dalam kedua pasal ini, Tuhan tetap tenang. Ia tidak pernah berubah pendirian atau dipengaruhi oleh rasa takut terhadap maut. Demikian pula, Tuhan tetap tenang di hadapan Imam Besar dan di hadapan Pilatus. Ia demikian tenangnya sehingga Ia tidak merasa gelisah sedikit pun sewaktu Ia akan disalibkan. Bahkan saat Ia di kayu salib, Ia tetap masih dapat memperhatikan ibu-Nya. Selama masa penderitaan, segala macam kesukaran ditimpakan ke atas-Nya, namun catatan memperlihatkan bahwa Ia selalu tenang.

Hayat Tuhan adalah hayat yang dapat menaklukkan dan mengalahkan maut. Melalui penyaliban, Ia masuk ke dalam maut, dan melalui kebangkitan, Ia keluar dari dalam maut. Bukti apakah yang lebih baik yang pernah ada daripada bukti ini, yaitu bahwa Ia adalah hayat yang tak dapat dipengaruhi, ditaklukkan, dikalahkan oleh maut? Ia mengalahkan maut karena Ia adalah hayat kebangkitan (Yoh. 11:25). Yohanes 18 dan 19 menunjukkan betapa kuat-Nya dan berkuasa-Nya Tuhan ketika Ia masuk ke dalam maut. Ketika maut mengancam, Ia demikian kuat, berkuasa, dan bukannya ditaklukkan oleh pengaruh maut itu. Ia dapat masuk ke dalam maut dan keluar dari dalamnya tanpa disakiti oleh maut ataupun ditahan oleh maut itu. Ini adalah bukti yang tegas bahwa Ia adalah hayat!

II. DIPERIKSA OLEH MANUSIA DI DALAM

KEWIBAWAAN-NYA

A. Diperiksa sebagai Anak Domba Paskah

Tuhan diperiksa kewibawaan-Nya oleh manusia (Yoh. 18:11-19:6). Diperiksa sebagai Anak Domba Paskah adalah diuji (Kel. 12:2-6). Pada hari raya Paskah, Tuhan Yesus disalibkan sebagai Domba Paskah. Menurut kebiasaan, sebelum domba Paskah dibunuh, haruslah diperiksa lebih dulu untuk menentukan apakah domba itu bercacat atau tidak. Pemeriksaan diri Kristus oleh manusia merupakan penggenapan atas kebiasaan ini. Setelah Pilatus memeriksa-Nya, ia menyatakan: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya” (Yoh. 18:38; 19:4, 6). Tak ada cacat pada Domba Paskah ini; Ia sungguh-sungguh memenuhi syarat menjadi Domba bagi umat Allah.

B. Diperiksa oleh Orang Yahudi Menurut Hukum

Taurat Allah dalam Agama Mereka

1. Disangkal oleh Seorang Murid yang Paling Dekat

Tuhan diperiksa oleh orang Yahudi menurut hukum Allah dalam agama mereka (Yoh. 18:12-27). Pemeriksaan ini merupakan suatu kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Tuhan bahkan disangkal oleh seorang murid yang paling dekat (Yoh. 18:17-18, 25-27). Ketika Ia diperiksa, Petrus menyangkal-Nya tiga kali. Sanggupkah Anda menerima penderitaan seperti ini? Jika keadaan ini menimpa diri kita, sudah tentu kita akan memarahi Petrus. Tetapi Tuhan tidak mengucapkan satu patah kata pun.

2. Hakim yang Dihakimi

Ketika Imam Besar memeriksa dan menghakimi Tuhan, Imam Besar itu sendiri juga dihakimi oleh Tuhan dalam kewibawaan-Nya (Yoh. 18:19-21). Tuhan tak merasa gentar sedikit pun dan berbicara dengan Imam Besar itu dengan cara yang agung. Sementara Anak Domba Paskah diperiksa, pemeriksa itu sendiri diperiksa oleh-Nya, dan segala cacat cela pemeriksa tersingkapkan.

C. Diperiksa oleh Orang Kafir

Menurut Hukum Manusia dalam Politik Mereka

1. Di Bawah Kedaulatan Allah

Tuhan diperiksa oleh orang kafir menurut hukum Kekaisaran Romawi (Yoh. 18:28-38). Hukum Kekaisaran Romawi sangat terkenal. Bahkan pada zaman sekarang pun banyak negara yang menyusun hukum-hukum berdasarkan hukum mereka. Sebelum Tuhan diperiksa oleh orang kafir menurut hukum politik mereka, Ia telah diperiksa menurut hukum orang Yahudi dan dituntut hukuman mati. Kemudian Ia diperiksa oleh politikus Romawi, oleh hukum kekuasaan duniawi. Hukuman mati menurut hukum orang Yahudi dilakukan dengan merajam narapidana itu hingga mati (Yoh. 18:31; Im. 24:16). Andaikata cara hukuman mati seperti itu yang berlaku pada saat itu, boleh jadi Tuhan Yesus dirajam batu hingga mati. Tetapi sudah tentu keadaan itu tidak menggenapi nubuat yang diucapkan Tuhan ketika Ia berkata bahwa Ia akan ditinggikan sama seperti ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun (Yoh. 3:14).

Banyak tahun yang lalu saya membaca suatu tulisan yang menggambarkan orang-orang yang menyembelih domba pada waktu hari Paskah. Tulisan itu mengutarakan bagaimana orang-orang Yahudi mengambil dua potong kayu dan membentuknya menjadi salib. Mereka menaruh domba itu pada salib, mengikat kedua kaki belakang si domba pada kaki salib dan merentangkan kaki-kaki depan, dan mengikatnya pada kayu yang melintang. Kemudian barulah mereka menyembelih domba itu hingga semua darahnya ditumpahkan. Jadi, menyembelih domba Paskah merupakan suatu gambaran penyaliban Kristus. Sekalipun cara hukuman mati orang-orang Yahudi terhadap narapidana menurut hukum mereka adalah merajam hingga mati, namun mereka tidak berdaya berbuat demikian terhadap Tuhan. Jadi, orang Yahudi telah kehilangan hak hukum untuk menghukum mati narapidana menurut hukum mereka sendiri. Tak lama sebelum penyaliban Kristus, pemerintah Kekaisaran Romawi mengadopsi penyaliban sebagai suatu cara untuk menghukum mati narapidana. Hal ini telah ditentukan di bawah kedaulatan Allah supaya nubuat-nubuat mengenai penyaliban Kristus tergenapi (Yoh. 19:31-32; 12:32-33).

2. Hakim yang Dihakimi

Sementara Pilatus menghakimi Tuhan Yesus, ia sen-diri malah dihakimi oleh Tuhan dalam kewibawaan-Nya (Yoh. 18:33-38a). Pilatus, sebagai seorang gubernur Kekaisaran Romawi, sikapnya sangat pengecut. Ia merupakan contoh yang “tepat” dari seorang politikus. Meskipun ia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, ia tidak berbeda dengan semua politikus, takut terhadap orang banyak. Demikianlah keadaan politikus-politikus hari ini. Pilatus tidak mendapati kesalahan pada diri Tuhan Yesus; ia tahu bahwa Tuhan Yesus tidak melakukan sesuatu apa pun yang salah. Tetapi suara orang banyak menaklukkannya, dan ia bukan seorang yang jujur, tulus, dan setia.

Ketika Tuhan dibawa ke hadapan Pilatus, sekali lagi kelihatannya Pilatuslah yang menghakimi Dia, tetapi akhirnya Tuhanlah yang menghakimi Pilatus. Seperti yang telah kita ketahui, salah satu sifat khas Pilatus adalah sifat pengecutnya; sebab ia takut kepada orang-orang Yahudi. Ia tahu bahwa Tuhan Yesus tidak berdosa dan ia pun menyatakan bahwa ia tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya. Tetapi karena rasa takutnya terhadap orang-orang Yahudi, ia menyalahkan Tuhan dan menghukum mati Dia. Ini tidak adil. Ketika Tuhan memberi tahu Pilatus bahwa Ia datang ke dalam dunia ini untuk “bersaksi tentang kebenaran” dan “setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 18:37), Pilatus berkata kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38a). Ini menunjukkan bahwa Tuhan menghakimi Pilatus. Sebenarnya Tuhan berkata, “Kamu seorang politikus, namun kamu tidak mengetahui apa itu kebenaran. Karena itu kamu adalah seorang yang palsu. Kamu tidak setia.” Setelah ini, Tuhan membongkar rahasia Pilatus dan mempermalukannya, sehingga Pilatus berhenti menghakimi Tuhan. Di sini kita melihat kegelapan politik.

III. DIHUKUM DALAM KETIDAKADILAN DAN

KETIDAKBENARAN MANUSIA

Setelah Tuhan Yesus diperiksa, Ia, Sang Sempurna itu, dijatuhi hukuman dalam ketidakadilan manusia (Yoh. 18:38b-19:16). Hukuman yang tidak adil ini menunjukkan kebutaan agama dan kegelapan politik (Yoh. 18:38b-39; 19:1, 4-5, 8-14, 16). Kaum agamawan Yahudi menolak Orang yang benar, malah memilih seorang perampok (Yoh. 18:39-40; 19:6-7, 12, 15). Betapa butanya mereka! Mereka ditudungi oleh agama mereka dan oleh kebencian mereka. Pilatus, politikus kafir itu, mengetahui dan menyatakan bahwa Tuhan Yesus tidak bersalah, namun Pilatus tetap menghukum mati Dia untuk menyenangkan orang-orang Yahudi (Yoh. 18:38a-39; 19:1, 4-5, 8-14, 16). Betapa politisnya Pilatus! Agama dan politik bekerja sama menjatuhkan hukuman yang tidak adil kepada Kristus. Bukan politik yang mengambil inisiatif, melainkan agamalah yang mengambil inisiatif, memanfaatkan kekuasaan kegelapan politik.

IV. DALAM KEDAULATAN ALLAH,

DIUJI OLEH MAUT

A. Disalibkan di Golgota

Dalam proses pelipatgandaan, Tuhan Yesus di bawah kedaulatan Allah diuji oleh maut (Yoh. 19:17-37). Setelah dijatuhi hukuman secara tidak adil, Ia disalibkan di Golgota (Yoh. 19:17), yang dalam bahasa Latinnya adalah Calvary, berarti “tempat tengkorak”. Makna tempat di mana Ia disalibkan menunjukkan sesuatu yang nista dan memalukan. Ia merasakan maut dalam kenistaan dan keadaan yang memalukan.

B. Terhitung di Antara Pemberontak-pemberontak

Di Golgota, “mereka menyalibkan Dia. Bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, sedangkan Yesus di tengah-tengah” (Yoh. 19:18). Ini merupakan penggenapan dari nubuat dalam Yesaya 53:12, yang mengatakan bahwa Mesias akan “terhitung di antara pemberontak-pemberontak”. Ia bukan hanya ditaruh ke dalam maut di tempat yang nista dan memalukan, tetapi juga digolongkan dalam barisan pemberontak-pemberontak, dan diperlakukan sebagai seorang pemberontak.

C. Dibunuh oleh Manusia yang Diwakili oleh Agama

Yahudi, Politik Latin (Romawi), dan Kebudayaan Yunani

Menurut kedaulatan Allah, Tuhan dibunuh oleh manusia yang diwakili oleh agama Yahudi, politik Romawi, dan kebudayaan Yunani (Yoh. 19:19-22). Yohanes 19:19 mengatakan, “Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya, ‘Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.’” Kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin, dan bahasa Yunani (Yoh. 19:20). Bahasa Ibrani mewakili agama Yahudi, bahasa Latin mewakili pemerintahan Romawi, dan bahasa Yunani mewakili kebudayaan Yunani. Ketiganya digabungkan, mewakili seluruh umat manusia di dunia. Ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah dibunuh oleh seluruh umat manusia dan juga untuk seluruh umat manusia. Ketika Imam Besar agama Yahudi meminta kepada Pilatus untuk mengubah apa yang telah ditulisnya, Pilatus menjawab, “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yoh. 19:22). Apa yang telah ditulis oleh Pilatus bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan di bawah kedaulatan Allah, dan ia tak dapat mengubahnya.

D. Para Prajurit Mengundi Jubah-Nya

Agama itu buta, politik itu gelap, gubernurnya palsu, dan para serdadu serakah. Ketika mereka selesai menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya dan membagikan masing-masing satu bagian untuk satu prajurit. Karena jubah-Nya tidak berjahit, maka mereka membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya (Yoh. 19:23-24). Ini bukan kehendak prajurit-prajurit itu sendiri, melainkan berasal dari kedaulatan Allah. Hal ini terjadi supaya nubuat dalam Mazmur 22:19 tergenapi. Melalui ini kita mengetahui bahwa kematian Tuhan adalah rencana kedaulatan Allah. Jika Allah tidak merencanakan hal ini, tak seorang pun dapat menyerahkan Tuhan Sang hayat kepada maut. Semuanya untuk menggenapi nubuat-nubuat, membuktikan bahwa kematian Tuhan bukan karena kehendak manusia, melainkan karena kedaulatan Allah.

E. Menjaga Ibu-Nya Melalui Menyalurkan Hayat-Nya kepada Murid-Nya

Mungkin kebanyakan orang Kristen mengetahui bahwa sewaktu Tuhan disalibkan, Ia mengucapkan tujuh buah perkataan. Ketujuh perkataan di atas salib ini sangat terkenal. Perkataan pertama yang Tuhan ucapkan adalah: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Kedua: “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Ketiga: “Ibu, inilah anakmu! . . . Inilah ibumu!” (Yoh. 19:26-27). Ketiga perkataan ini diucapkan selama tiga jam pertama penyaliban Tuhan. Tuhan berada di atas salib selama enam jam dari pukul 09.00 hingga pukul 15.00. Semuanya dicatat dengan sangat jelas dalam keempat Injil. Selama tiga jam pertama, segala sesuatu yang diperbuat terhadap Dia dilakukan oleh manusia. Orang-orang menganiaya, mengejek, dan menyalibkan-Nya. Tetapi selama tiga jam yang terakhir, segala sesuatu yang menimpa diri-Nya dilakukan oleh Allah. Allah memandang-Nya sebagai seorang berdosa dan sebagai ganti orang berdosa, serta menghakimi-Nya. Selama periode tiga jam yang kedua, Ia mengucapkan empat buah perkataan lainnya. Dalam Matius 27:46 Tuhan berkata, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Inilah perkataan yang keempat dari atas salib. Perkataan kelima adalah: “Aku haus!” (Yoh. 19:28). Keenam: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Ketujuh: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).

Sewaktu Yesus disalibkan, “Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, ‘Ibu, inilah anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, ‘Inilah ibumu!’ Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh. 19:26-27). Seperti yang telah kita ketahui, perkataan pertama yang diucapkan Tuhan di atas salib adalah: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kemudian dalam Lukas 23:43, Tuhan berbicara kepada salah satu dari antara dua penyamun yang disalibkan bersama-Nya, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Perkataan ini berhubungan dengan karunia keselamatan, karena Injil Lukas menyatakan bahwa Tuhan adalah Juruselamat orang dosa.

Perkataan: “Ya, Bapa ampunilah mereka” adalah doa bagi orang-orang dosa. Demikian juga perkataan: “Hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” merupakan janji Injil untuk menyelamatkan orang-orang dosa. Tetapi di sini, dalam Yohanes 19:26-27, Tuhan berkata kepada ibu-Nya: “Inilah anakmu,” dan kepada murid-Nya: “Inilah ibumu.” Perkataan ini menyatakan kesatuan hayat, karena Injil Yohanes menpersaksikan bahwa Tuhan adalah hayat yang disalurkan ke dalam kaum beriman. Oleh hayat ini, murid yang dikasihi-Nya bisa menjadi satu dengan-Nya, menjadi anak dari ibu-Nya, dan ibu-Nya menjadi ibu dari murid yang dikasihi-Nya. Menurut catatan Yohanes, Yesus disalibkan untuk mengalihkan hayat, untuk menyalurkan hayat-Nya ke dalam murid-murid-Nya. Melalui pengalihan hayat ini, salah seorang dari murid-murid-Nya dapat menjadi anak ibu-Nya, dan ibu-Nya dapat menjadi ibu murid ini. Ini bukan menunjukkan keselamatan, melainkan pengalihan hayat. Karena itu, Injil Yohanes bukanlah Injil tentang keselamatan, melainkan tentang Injil hayat, yaitu hayat yang dialihkan ke dalam semua orang beriman-Nya.

Kita harus memperhatikan bahwa dalam Matius, Markus, dan Lukas, ketika Tuhan di atas salib, Ia berbicara dengan seorang yang berdosa, khususnya kepada seorang penjahat yang kemudian dibebaskan dari kutukan dan akan ada bersama-sama dengan Dia di dalam Firdaus. Hal ini pasti berkaitan dengan penebusan. Dalam Injil Yohanes, Tuhan berkata kepada ibu-Nya dan kepada murid-Nya. Bagaimana mungkin ibu Tuhan dapat menjadi ibu murid-Nya, dan bagaimana mungkin murid-Nya menjadi anak ibu-Nya? Melalui penebusan? Sudah tentu bukan. Kejadian ini hanya bisa terjadi melalui hayat, melalui penyatuan hayat, melalui kesatuan hayat, melalui hayat yang dilahirkan kembali. Melalui kematian-Nya, Tuhan menyalurkan diri-Nya kepada Yohanes murid-Nya, yang dipersatukan dan menjadi satu dengan Tuhan melalui hayat ilahi. Karena itu, ibu Tuhan menjadi ibu Yohanes. Mengapa dalam Injil Lukas, Tuhan berbicara kepada penjahat, sedang dalam Injil Yohanes, Tuhan berbicara dengan ibu-Nya dan murid-Nya? Karena dalam Injil Lukas, Tuhan mati untuk membebaskan orang-orang dosa dari kutukan dosa. Meskipun kita mungkin penuh dosa sama seperti penjahat itu, kita juga dapat dibebaskan dari kutukan dan segera bersama-sama dengan Tuhan di dalam Firdaus. Jadi, dalam Injil Lukas kita mempunyai Injil tentang Tuhan membebaskan manusia dari maut dan diberitakan kepada orang-orang dosa. Tetapi dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus mati untuk membebaskan dan menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam murid-murid, yaitu menjadikan semua murid sama dengan Dia. Dengan sendirinya, semua murid adalah anak-anak ibu-Nya. Oleh karena hayat Tuhan dan kematian-Nya, Tuhan menyalurkan diri-Nya kepada kita, menjadikan kita satu dengan-Nya. Dengan cara ini, kita menjadi anak-anak ibu-Nya. Ini membuktikan bahwa menurut Injil Yohanes, kematian-Nya di kayu salib adalah untuk menyalurkan diri-Nya kepada kita sebagai hayat.

F. Diejek dengan Memberikan

Anggur Asam kepada-Nya

Ayat 28 dan 29 melanjutkan, “Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci ‘Aku haus!’ Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus.” Haus adalah rasa dari kematian (Luk. 16:24; Why. 21:8). Di atas salib, Tuhan Yesus telah mengalami maut bagi kita (Ibr. 2:9). Hisop di sini adalah “buluh” pada Matius 27:29 dan Markus 15:19, yaitu sebatang buluh hisop. Pada awal penyaliban-Nya, anggur yang dicampur dengan empedu diberikan kepada Tuhan sebagai minuman atau tegukan yang membius, karenanya Ia tidak mau meminumnya. Tetapi pada akhir penyaliban-Nya, ketika Ia merasa haus, anggur asam diberikan kepada Dia dengan cara mengolok-olokkan-Nya (Luk. 23:36). Dalam penyaliban-Nya, pakaian dan minuman hak-Nya dirampok bersamaan dengan hayat-Nya.

G. Telah Merampungkan Pekerjaan Kematian-Nya yang Almuhit

Ayat 30 mengatakan, “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Tuhan bekerja terus hingga Ia disalibkan (Yoh. 5:17). Tetapi bahkan ketika saat penyaliban-Nya, Tuhan masih terus bekerja. Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa di atas salib Ia masih terus bekerja? Karena sebelum mati, Ia berseru, “Sudah selesai!” Sewaktu Ia disalibkan, Ia masih bekerja untuk penebusan orang-orang berdosa, untuk menghancurkan ular, untuk membebaskan hayat ilahi, dan untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Pada detik yang terakhir, setelah segala sesuatunya digenapi, Ia memproklamirkan kepada alam semesta, “Sudah selesai!” Kemudian Ia mati dan masuk ke dalam perhentian. Terpujilah Tuhan Yesus! Hanya Dialah yang dapat melakukan hal ini. Melalui penyaliban-Nya, Tuhan merampungkan pekerjaan kematian-Nya yang almuhit, yang dengannya Ia merampungkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, dan membebaskan hayat kebangkitan-Nya untuk menghasilkan ciptaan baru, merampungkan kehendak Allah. Dalam proses kematian-Nya, dengan tindakan-Nya Dia membuktikan kepada penentang-Nya dan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya bahwa Dia adalah hayat. Lingkungan kematian yang mengerikan sedikit pun tidak menakutkan Dia, malahan membentuk satu kontradiksi yang membuktikan dengan kuat bahwa Ia sebagai hayat berlawanan dengan maut, sedikit pun tidak terpengaruh oleh maut. Karena itu, pekerjaan yang Tuhan nyatakan selesai di sini meliputi menggenapkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, membebaskan hayat kebangkitan-Nya, dan memamerkan bahwa Dia adalah hayat yang tidak bisa dipengaruhi oleh maut.