DOA HAYAT (4)
Meskipun telah banyak membicarakan tentang Yohanes 17, tetapi masih perlu membicarakannya lagi. Janganlah kita mengabaikan pasal ini karena dalam pasal ini Tuhan berdoa agar Allah memuliakan Dia sehingga Allah bisa dimuliakan di dalam Dia dan melalui Dia. Kalimat “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau” (17:1), merupakan subyek doa ini. Bagaimanakah Putra Allah dimuliakan sehingga Allah Bapa bisa dimuliakan di dalam Anak (Putra) dan melalui Anak? Melalui kebangkitan setelah kematian. Setelah mati, Tuhan dibangkitkan, berarti Ia diekspresikan dan dimuliakan. Tuhan dibebaskan dan diekspresikan oleh kebangkitan; karena itu, Dia telah dimuliakan. Ketika Tuhan demikian dimuliakan, Bapa pun dimuliakan di dalam Anak dan melalui Anak.
Kita telah mengetahui bagaimana Anak dimuliakan di dalam kebangkitan-Nya. Lalu, hari ini dengan jalan apakah Anak dimuliakan sehingga Bapa bisa dimuliakan di dalam Anak dan melalui Anak? Tak lain melalui gereja. Ketika gereja dilahirkan kembali, dikuduskan, disalibkan, dan bersatu dengan Kristus di dalam kemuliaan, saat itulah Anak Allah akan diekspresikan dan dinyatakan. Anak Allah akan dimuliakan di dalam kesatuan gereja. Ketika Anak Allah dimuliakan, pada saat itu juga Bapa dimuliakan di dalam Anak dan melalui Anak. Karena itu, doa “Muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau” termasuk dan tergantung pada masalah kelahiran kembali, pengudus-an, penyaliban, dan penyatuan gereja ke dalam kesatuan dengan Anak Allah.
KESATUAN DI DALAM HAYAT ILAHI
Seperti yang telah kita lihat, doa Tuhan dalam Yohanes 17 menyingkapkan tiga tahap kesatuan. Dalam berita ini, baiklah kita perhatikan dengan cermat ayat-ayat dalam Yohanes 17 yang bersangkutpaut dengan kesatuan. Ayat 11 mengatakan, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Kita melihat bahwa kesatuan adalah masalah dipelihara dalam nama Bapa. Telah kita tunjukkan bahwa realitas nama Bapa adalah hayat ilahi. Karena itu, faktor pertama kesatuan yang sejati adalah nama Bapa dengan hayat ilahi Bapa. Inilah hayat yang dimaksud dalam 17:2, di mana Tuhan berkata kepada Bapa bahwa Ia telah memberikan “kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.” Untuk melihat faktor yang pertama dari kesatuan, kita harus memperhatikan kedua ayat ini.
KESATUAN DI DALAM FIRMAN ILAHI
Yohanes 17:21 adalah sebuah ayat yang ajaib, dalam, dan misterius. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Kesatuan dalam ayat ini adalah kesatuan dalam Allah Tritunggal. Ketika kita semua ada di dalam Allah Tritunggal, kita mempunyai kesatuan. Bagaimana kita dapat berada di dalam Allah Tritunggal? Hanya melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Inilah sebabnya Tuhan memberi tahu kita dalam pasal 14 bahwa Ia harus pergi ke dalam kematian dan datang dalam kebangkitan. Melalui kematian dan kebangkitan, murid-murid-Nya dibawa kepada Allah Tritunggal. Dalam Allah Tritunggal ada kesatuan yang sejati dan riil. Kita harus mengajarkan ayat 17 dan 18 bersama ayat 21. “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” Dalam ayat 17 kita mempunyai firman kudus. Meskipun kita ada di dalam Allah Tritunggal, mungkin saja kita menyelinap keluar dari Allah Tritunggal dan pergi ke dalam dunia. Jadi, kita memerlukan firman kudus yang memisahkan kita dari dunia, dan kembali kepada Allah Tritunggal. Karena itu, faktor kedua dari kesatuan yang sejati adalah di dalam Allah Tritunggal melalui pengudusan oleh firman ilahi.
KESATUAN DI DALAM KEMULIAAN ILAHI
Faktor ketiga dari kesatuan ditemukan dalam ayat 22. “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Faktor ketiga kesatuan yang sejati adalah kemuliaan dalam kemuliaan ilahi untuk mengekspresikan Allah Tritunggal. Karena kemuliaan yang telah Bapa berikan kepada Putra telah diberikan kepada kita oleh Putra, maka kesatuan yang sejati ada di dalam kemuliaan ilahi. Apakah kemuliaan itu? Kemuliaan adalah keputraan yang diberikan kepada Putra dengan hayat dan sifat ilahi Bapa. Keputraan ini diberikan agar Putra dapat mengekspresikan Bapa dalam kepenuhan-Nya. Perhatikanlah, ada empat aspek kemuliaan: Keputraan, hayat Bapa, sifat ilahi Bapa, dan ekspresi Bapa dalam kepenuhan-Nya. Bila keempat hal ini digabungkan, hasilnya adalah kemuliaan. Inilah kemuliaan, yaitu kebenaran ilahi dan hak istimewa yang kita miliki di dalam Putra. Bapa telah memberikan kemuliaan ini kepada Putra, dan dengan jalan ini Putra mempunyai hak istimewa untuk mengekspresikan Bapa. Inilah kemuliaan yang telah diberikan Putra kepada kita. Hari ini kita semua mempunyai keputraan dengan hayat Bapa dan sifat Bapa untuk mengekspresikan Bapa dalam semua kepenuhan-Nya di dalam Putra. Kita perlu benar-benar mengenal hal-hal ini, karena dalam kemuliaan ilahi ini kita benar-benar satu.
Selanjutnya ayat 23 mengatakan, “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Di sini kita melihat bahwa disempurnakan ke dalam kesatuan tetap berhubungan dengan di dalam Bapa dan di dalam Putra. Jika kita memperhatikan ayat-ayat ini, kita akan melihat kesatuan yang sejati.
Dalam ayat 24 Tuhan berkata, “Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.” Tuhan yang berada dalam kemuliaan ilahi berdoa agar semua yang telah Bapa berikan kepada-Nya, juga akan bersama-sama dengan Dia di dalam kemuliaan. Kita perlu memperhatikan dengan cermat bentuk kata kerja dalam ayat ini. Di sini tidak dikatakan bahwa mereka “akan bersama-sama dengan Aku” atau bahwa “mereka akan memandang kemuliaan-Ku”. Menurut konsepsi yang alamiah dan yang agamawi, kemuliaan terjadi pada masa yang akan datang, “pada masa yang indah kelak”. Menurut konsepsi ini, “pada masa yang indah kelak”, kemuliaan itu akan bersinar, dan kita semua akan masuk ke dalam sinar dan berada dalam kemuliaan. Tetapi Tuhan Yesus dalam susunan kata-kata-Nya tidak menggunakan bentuk kala kelak (future tense), melainkan kala kini (present tense), kata-Nya, “Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku.” Tuhan berkata “juga berada bersama-sama dengan Aku”, dan “memandang kemuliaan-Ku”. Berada bersama-sama dengan Tuhan di dalam kemuliaan dan memandang kemuliaan-Nya bukanlah “pada masa yang indah kelak”. Pada hari ini juga kita bisa mengalami semuanya itu. Seolah-olah Tuhan berkata kepada Bapa, “Ya Bapa, Engkau telah memberikan kemuliaan-Mu, keputraan dengan hayat ilahi dan sifat ilahi kepada-Ku, untuk mengekspresikan diri-Mu dan kepenuhan-Mu. Inilah kemuliaan yang telah Engkau berikan kepada-Ku, dan sekarang Aku sudah berada di dalam kemuliaan ini. Tetapi orang-orang yang Kauberikan kepada-Ku belum berada di dalam kemuliaan ini. Aku berdoa agar mereka juga berada di dalam kemuliaan ini.” Kapan doa ini dijawab? Jawaban pertama, dipenuhi pada hari kebangkitan, dan yang kedua, pada saat gereja didirikan. Ketika gereja didirikan, semua murid dibawa ke dalam kemuliaan yang sama, ke dalam keputraan dengan hayat ilahi dan sifat ilahi untuk mengekspresikan Allah Bapa di dalam Putra, dan di dalam segala kepenuhan-Nya. Haleluya, kita semua berada di dalam kemuliaan bersama dengan Putra. Putra mempunyai keputraan dengan hayat ilahi dan sifat ilahi untuk mengekspresikan Bapa, kita pun mempunyai ini. Jadi, kita sekarang berada di tempat di mana Putra berada di dalam kemuliaan. Melalui ini kita mengetahui bahwa kesatuan yang sejati adalah berada di dalam Allah Tritunggal, melalui proses kematian dan kebangkitan Putra.
Tahap pertama dari kesatuan adalah kesatuan hayat, tahap kedua adalah kesatuan pengudusan, tahap ketiga adalah kesatuan di dalam kemuliaan Allah Tritunggal. Tahap terakhir, yakni kemuliaan Allah Tritunggal, adalah ekspresi Allah Tritunggal, juga adalah kemuliaan keputraan. Ketika kita bersama-sama menyadari bahwa kita telah dilahirkan kembali, dikuduskan, dan disalibkan, kita segera menjadi satu untuk mengekspresikan Allah, menyatakan Allah, dan disempurnakan ke dalam kemuliaan Allah Tritunggal.
Melalui menerapkan ketiga tahap ini kita dapat mengetahui pada tahap mana kita berada. Dalam tahap yang manakah Anda berada yang pertama, kedua, atau ketiga? Apakah Anda hanya satu di dalam hayat, ataukah Anda mempunyai kesatuan yang lebih tinggi dalam pengudusan, ataukah kesatuan yang tertinggi dalam kemuliaan Allah Tritunggal. Tidak semua di antara kita berada pada tahap yang sama. Beberapa orang berada pada tahap pertama, sedangkan yang lainnya berada pada tahap kedua, dan ada segolongan kecil orang, yang oleh belas kasihan Tuhan, berada pada tahap ketiga. Selama Anda telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, Anda mempunyai hayat Bapa dan nama Bapa. Jadi, Anda adalah anak Allah dan yang satu dengan semua orang Kristen lainnya yang juga adalah anak-anak Bapa. Karena itu, Anda adalah satu dalam hayat. Tetapi Anda juga perlu dikuduskan oleh firman, supaya terpisah dari perkara-perkara dunia dan hidup di dalam Allah, baru Anda bersatu dengan kaum beriman dalam tahap kedua. Akhirnya Anda perlu mencapai penyaliban untuk tinggal di dalam kemuliaan Allah Tritunggal. Ini berarti, Anda harus menyangkal diri Anda sendiri, hidup di dalam ekspresi Allah Tritunggal dan disempurnakan di dalam kemuliaan Allah Tritunggal. Seperti yang telah kita ketahui, inilah tahap terakhir dari kesatuan.
Hanya dalam tahap ketiga dari kesatuanlah doa Tuhan akan digenapi. Hanya dalam tahap ini Putra Allah akan dimuliakan sehingga Bapa dapat dimuliakan di dalam Putra dan melalui Putra. Hanya dalam tahap inilah kita akan memuliakan Tuhan dan mengekspresikan Tuhan dalam kesatuan. Dalam tahap ini kita secara mutlak disempurnakan ke dalam kesatuan untuk mengekspresikan dan memuliakan Tuhan. Kemudian, kita akan mencapai keputraan karena semua apa adanya Allah dan semua yang Allah miliki akan diwujudkan ke dalam kita. Ini berarti kita akan memiliki hayat Allah, sifat Allah, dan bahkan diri Allah sendiri untuk menjadi penyataan dan ekspresi Allah. Terakhir, kita akan mempunyai kemuliaan sepenuhnya yang telah Allah berikan kepada Tuhan sebagai Putra Allah.
KESATUAN ADALAH BANGUNAN
Kesatuan yang sejati adalah pembangunan. Jangan mengira bahwa ini adalah konsepsi saya dan tak ditunjang oleh wahyu dalam Alkitab. Melalui contoh Kemah Pertemuan dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat bahwa kesatuan adalah pembangunan. Tempat tinggal bersama yang diwahyukan dalam Yohanes 14 dilambangkan, digambarkan, dan dilukiskan oleh Kemah Pertemuan. Jika Anda merasa tidak jelas mengenai tempat tinggal bersama dalam Yohanes 14, Anda perlu kembali ke Keluaran 26 untuk melihat penyusunan dan pembangunan dari Kemah Pertemuan.
Setiap pembaca Alkitab yang cermat mengetahui bahwa Kemah Pertemuan bukan hanya tempat tinggal Allah, tetapi juga tempat tinggal orang-orang yang melayani Allah. Berulang-ulang penulis Mazmur dalam Kitab Mazmur berdoa agar ia dapat tinggal di dalam Bait Allah, di dalam rumah Allah. Sebagai contoh, dalam Mazmur 27:4 tertulis: “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Melalui ini kita dapat mengetahui bahwa bait atau Kemah Pertemuan bukan semata-mata tempat tinggal Allah, tetapi juga tempat tinggal orang-orang yang mengasihi Allah. Jadi, ini merupakan suatu contoh tentang tempat kediaman bersama, tempat tinggal bersama.
Kemah Pertemuan tersusun dari 48 papan. Ini sangat bermakna. Karena hal ini merupakan suatu gambaran, maka kita perlu mengartikan setiap aspek gambaran ini. Keempat puluh delapan papan itu tersusun dari angka dasar 6. Angka 6, seperti 6 tempayan air dalam Yohanes 2, menunjukkan manusia yang diciptakan pada hari keenam. Karena itu, angka 6 adalah angka insani, angka manusia. Empat puluh delapan dibagi enam adalah delapan; angka 8 di dalam Alkitab merupakan angka kebangkitan, suatu permulaan yang baru. Hari pertama dalam satu minggu, diikuti tujuh hari dalam satu minggu sebelumnya adalah hari kedelapan, dan angka ini berarti suatu permulaan yang baru. Kapankah sunat itu dilakukan? Pada hari kedelapan (Im. 12:3). Dan kapankah Tuhan Yesus dibangkitkan? Pada hari pertama dalam minggu itu, yaitu pada hari kedelapan (Yoh. 20:1). Karena itu, angka 8 berarti suatu permulaan yang baru dalam kebangkitan, dan angka 48 berarti insani di dalam kebangkitan. Ini bukan insani alamiah, melainkan insani di dalam kebangkitan. Di dalam gereja diperlukan insani, tetapi insani di sini haruslah insani yang dibangkitkan, bukan insani yang alamiah.
Dalam Alkitab, kesatuan bukan sekadar masalah mengumpulkan. Sekadar mengumpulkan bukan suatu kesatuan, itu tak lain adalah timbunan. Kesatuan adalah dibangun bersama-sama. Agar dapat dibangun bersama-sama, potongan-potongan yang banyak itu bukan hanya dikumpulkan bersama, tetapi juga disusun bersama-sama dengan selaras sehingga membentuk satu kesatuan. Contohnya sebuah rumah, setiap bagian dari rumah itu tersusun bersama-sama membentuk satu kesatuan. Dari contoh lambang Kemah Pertemuan kita dapat melihat bahwa keempat puluh delapan papan menjadi satu bangunan.
Kesatuan dalam Kemah Pertemuan ini, pembangunan ini, mutlak tergantung pada emas. Jika emas yang menyalut keempat puluh delapan papan tersebut diambil, kesatuan itu akan hilang, keempat puluh delapan papan itu akan berantakan. Dalam papan-papan itu sendiri tidak ada faktor pemersatu atau unsur yang mengesakan. Unsur pemersatunya adalah emas. Emas melapisi papan-papan, pada lapisan atas emas itu ada gelang-gelang emas, dan di dalam gelang-gelang emas ada kayu-kayu lintang yang menghubungkan kedua gelang, juga dari emas. Karena itu, di dalam emas semua papan itu dapat menjadi satu. Dalam hayat ilahi, sifat ilahi, dan kemuliaan ilahi, bukan dalam insani, “papan-papan itu” baru dapat menjadi satu. Meskipun kita adalah papan-papan dalam kebangkitan, insani yang dibangkitkan ini bukanlah faktor pemersatu; faktor pemersatu adalah keilahian, emas. Hayat ilahi, sifat ilahi, dan kemuliaan ilahi adalah faktor pemersatu. Demikian juga, kesatuan kita bukanlah di dalam diri kita sendiri, melainkan di dalam Allah Tritunggal yang adalah hayat kita, sifat kita, kemuliaan kita, dan ekspresi kita. Akhirnya, seperti keempat puluh delapan papan dalam Kemah Pertemuan, kita bukan lagi mengekspresikan diri kita sendiri, melainkan mengekspresikan kemuliaan Allah Tritunggal seperti yang dilambangkan oleh emas. Sekarang kita dapat melihat bahwa keempat puluh delapan papan tersebut adalah satu di dalam kemuliaan ilahi, mengekspresikan kemuliaan emas. Inilah kesatuan yang sejati. Di sini sungguh sangat jelas dinyatakan bahwa kesatuan ini bukan hanya masalah kumpul bersama, melainkan pembangunan. Kumpul bersama masih belum memenuhi syarat untuk memiliki kesatuan yang sejati. Kesatuan ini haruslah menjadi pembangunan.
Ketika kita sampai pada akhir Alkitab, kita mempunyai tuaian atas pekerjaan pembangunan Allah abad demi abad Yerusalem Baru, perampungan sempurna dari usaha pembangunan Allah. Apakah kesatuan Yerusalem Baru adalah suatu tumpukan batu-batu berharga? Tidak, melainkan suatu pembangunan. Penampilan dari Yerusalem Baru adalah bagai permata yaspis (Why. 21:10-11, 18a). Dalam Wahyu 4, kita mengetahui bahwa penampilan Allah, yaitu Dia yang duduk di atas takhta, juga bagai yaspis. Ini berarti yaspis adalah ekspresi Allah, penampilan Allah. Karena itu, seluruh Yerusalem Baru akan mempunyai penampilan yang sama seperti Allah, akan mengekspresikan Allah. Ini berarti, semua batu berharga itu adalah satu dalam mengekspresikan gambar Allah. Inilah kesatuan yang sebenarnya.
Beberapa orang Kristen mengatakan bahwa setiap gereja lokal sudah tentu tidak sama. Satu gereja lokal berbeda dengan gereja-gereja lokal lainnya. Selama bertahuntahun saya tertuju oleh konsepsi ini. Tetapi suatu hari, Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa walaupun ketujuh gereja dalam Kitab Wahyu berbeda-beda, perbedaan itu hanya dalam segi negatifnya, bukan dalam segi positif. Dalam segi negatif, beberapa dari ketujuh gereja itu berbeda dengan gereja-gereja lainnya, tetapi dalam segi positifnya, mereka semua sama. Perhatikan keempat sisi Yerusalem Baru. Menurut opini mereka yang mengatakan bahwa setiap gereja lokal itu pasti berbeda, keempat sisi dari Yerusalem Baru itu sudah tentu berbeda. Sisi yang satu mestinya adalah permata yaspis, sedangkan yang lain adalah batu delima, zamrud, atau intan, masing-masing berbeda satu sama lain. Menurut mereka yang memegang opini ini, setiap sisi tembok Yerusalem Baru akan mengekspresikan sesuatu yang khas, sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Tetapi itu bukan kesatuan. Keempat sisi Yerusalem Baru semuanya mempunyai ekspresi yang sama yaitu ekspresi dari permata yaspis, penampilan Allah yang mulia.
Dalam Perjanjian Baru, perbedaan di antara gereja-gereja bukanlah pada segi positifnya, melainkan pada segi negatifnya. Mungkin beberapa orang berkata, “Bukankah gereja-gereja yang didirikan oleh Paulus di dunia orang kafir merupakan satu macam, sedangkan gereja-gereja di Yudea, terutama gereja di Yerusalem adalah macam yang lain lagi?” Ini benar, tetapi hanya dalam pengertian negatif, bukan dalam pengertian positif. Dalam pengertian positif, semua gereja percaya ke dalam Yesus Kristus dan memiliki Kristus sebagai hayat mereka untuk mengekspresikan Allah. Di pihak positifnya, tak ada perbedaan di antara mereka. Akan tetapi, di pihak negatifnya ada perbedaan, karena gereja-gereja dari dunia orang kafir tidak mengetahui sesuatu pun perihal memelihara hukum Taurat, sedangkan kaum beriman di Yudea, terutama beberapa orang beriman di dalam gereja di Yerusalem, masih mempraktekkan upacara-upacara keagamaan Yahudi, bahkan hingga kunjungan Rasul Paulus yang terakhir ke Yerusalem. Jadi tampak perbedaan yang riil di antara gereja-gereja. Inginkah Anda memelihara perbedaan seperti ini? Kaum beriman di Yerusalem malah menasihati Rasul Paulus agar ia memperhatikan penyucian menurut agama Yahudi, tetapi Allah tidak setuju dengan hal itu. Ya, memang ada perbedaan di antara gereja-gereja, tetapi hanya dalam pengertian negatif.
Kita mau memelihara perbedaan-perbedaan yang negatif, atau memelihara kesatuan yang positif? Semua gereja seharusnya adalah sama. Kita hanya mempunyai satu Alkitab, kita percaya kepada satu Allah, kita mempunyai Yesus Kristus yang sama sebagai Juruselamat kita, dan kita semua menikmati-Nya sebagai hayat kita untuk mengekspresikan Allah. Tak ada alasan untuk saling berbeda. Jika kita masih tetap berbeda-beda, berarti kita adalah negatif. Keempat puluh delapan papan dalam Kemah Pertemuan mengekspresikan kemuliaan dari emas yang sama, dan seluruh tembok Yerusalem Baru memiliki penampilan yaspis. Betapa bahagianya kita seandainya semua gereja hari ini sama-sama positif. Kita harus meninggalkan konsepsi tradisional yang menyebabkan gereja-gereja berbeda. Semua gereja seharusnya sama.