← Daftar isi Yohanes (4) · bab 5/16

DOA HAYAT (3)

B. Di Dalam Allah Tritunggal

Melalui Pengudusan Firman Kudus

Dalam berita ini kita akan melihat faktor kedua kesa-tuan yang sejati. Faktor pertama ialah berada dalam nama Bapa melalui hayat yang kekal, dan kedua ialah berada dalam Allah Tritunggal melalui pengudusan oleh firman kudus (ayat 14-21). Firman Kudus adalah firman yang menguduskan. Tahap kedua atau kedudukan kedua kesatuan ialah pemisahan dari dunia oleh firman. Walau kita semua dilahirkan dari Bapa yang sama dan ke dalam keluarga yang sama, tetapi sangat disesalkan bahwa banyak saudara saudari tidak di rumah, melainkan tertarik oleh hal-hal duniawi seperti pesta pora, bioskop, olahraga, dan bahkan berjudi. Kalau kita tertarik pada hal-hal duniawi demikian, sekalipun kita semua adalah anak-anak Bapa dan memiliki hayat yang sama, kita sulit memelihara kesatuan yang sejati, karena kita masih tetap di dalam dunia dan belum dikuduskan. Setelah kita dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah, kita harus dipisahkan dari dunia oleh firman kudus Tuhan. Firman Tuhan mempunyai daya pengudusan untuk memisahkan kita dari dunia. Begitu kita dipisahkan dari dunia oleh firman kudus, kita pun berkumpul bersama untuk mewujudkan kesatuan yang sejati.

1. Dua Macam Firman yang Diberikan Putra kepada Kaum Beriman

Dalam ayat 14 Tuhan berkata, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka.” Tuhan memberi kaum beriman dua macam firman: logos, firman yang tetap (ayat 14, 17) dan rhema, firman yang seketika (ayat 8). Kedua macam firman ini kudus, mempunyai kuat kuasa pengudusan untuk memisahkan kaum beriman dari dunia. Semakin banyak kita menerima firman Tuhan yang tetap (konstan) dan yang seketika (instan) ke dalam kita, kita semakin dikuduskan. Semakin kita diberi makan, diresapi, dan dipenuhi dengan firman Tuhan yang konstan atau instan, kita menjadi semakin kudus. Semakin kita kudus, kita semakin berada dalam kesatuan yang sejati.

2. Dunia

Satu Yohanes 5:19 mengatakan bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. Si jahat adalah Iblis, dan dunia adalah suatu sistem jahat yang disusun secara sistematis dan dikuasai oleh Iblis (Satan) (Yoh. 12:31). Iblis telah mensistematiskan semua perkara di bumi, khususnya yang berkaitan dengan umat manusia, dan perkara-perkara di udara, ke dalam kerajaan kegelapan untuk memiliki manusia, menjauhkan mereka dari kenikmatan atas Allah, dan merusak mereka dari penggenapan maksud tujuan Allah. Setiap aspek dunia, tak peduli apa itu, termasuk dalam sistem Iblis ini. Karena seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, maka kaum beriman perlu dilindungi, terlepas dari si jahat (Yoh. 17:15); dan mereka perlu berjaga-jaga dalam doa, agar mendapatkan perlindungan, terlepas dari si jahat (Mat. 6:13).

3. Kaum Beriman dan Dunia

Kaum beriman bukan milik dunia (Yoh. 17:14, 16), namun dipisahkan dari dunia (ayat 19). Mereka bukan akan diambil dari dunia (Yoh. 17:15), melainkan demi amanat Tuhan diutus ke dalam dunia (Yoh. 17:18). Ayat 18 mengatakan, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” Bapa mengutus Putra ke dalam dunia dengan diri-Nya sendiri sebagai hayat dan segala sesuatu bagi Putra. Demikian juga, Putra mengutus kaum beriman-Nya ke dalam dunia dengan diri-Nya sendiri sebagai hayat dan segala sesuatu bagi kaum beriman. Putra mengutus kita (kaum beriman), dengan cara yang sama seperti Bapa mengutus Dia. Ketika saya datang ke negeri ini (Amerika Serikat), saya mempunyai perasaan yang dalam bahwa Tuhan telah mengutus saya, sehingga saya dapat berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau mengutusku ke negeri ini. Karena Engkau telah mengutus aku, Engkau harus besertaku. Tuhan, kalau Engkau tidak mau pergi, aku pun tidak mau.” Demi-kianlah cara Tuhan mengutus kita ke dalam dunia untuk kesaksian-Nya.

4. Firman Adalah Kebenaran

Dalam ayat 17, Tuhan berdoa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran.” Firman Bapa membawa serta realitas Bapa. Ketika firman Bapa berkata, “Allah itu terang,” firman ini membawa Allah sebagai terang. Jadi, firman Allah adalah realitas, kebenaran, tidak seperti perkataan Iblis, yang kosong, dusta (Yoh. 8:44). Firman Allah adalah kebenaran, telah menjadi realitas, bekerja di dalam kaum beriman untuk menguduskan mereka.

Firman Allah yang hidup bekerja di dalam kaum beriman untuk memisahkan mereka dari segala perkara duniawi, yaitu memisahkan mereka dari dunia dan jajahan dunia, berpaling kepada Allah dan kehendak-Nya; ini bukan hanya pengudusan atas posisi (Mat. 23:17, 10), tetapi juga pengudusan atas watak (sifat) (Rm. 6:19, 22). Inilah yang dimaksud dengan dikuduskan melalui firman Tuhan sebagai kebenaran (realitas). Pengudusan semacam ini tidak hanya mengubah posisi kita, tetapi juga sifat kita dan apa adanya batiniah kita. Dalam Alkitab, pengudusan mempunyai dua aspek ini aspek posisi dan aspek sifat. Dalam Matius 23:17 kita nampak bahwa emas dikuduskan dengan ditaruh ke dalam bait. Emas di pasar itu biasa, tidak kudus, tetapi setelah ditaruh ke dalam bait, posisinya berubah dan segera dikuduskan menjadi emas suci dalam Bait Suci. Tetapi pengudusan semacam ini tidak mempengaruhi sifat atau unsur emas, hanya mengubah posisi emas. Jadi emas ini dikuduskan secara kedudukan. Ada orang Kristen yang hanya nampak sebanyak ini tentang pengudusan, mereka tidak nampak perkara pengudusan sifat. Satu Tesalonika 5:23 mengatakan, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Di sini kita diberi tahu bahwa roh, jiwa, dan tubuh kita harus dikuduskan. Ini bukan mengacu kepada pengudusan kedudukan, melainkan pengudusan sifat. Pengudusan yang disebut dalam Yohanes 17 mencakup dua aspek, karena untuk memelihara kesatuan yang tepat, kita harus dikuduskan baik secara kedudukan maupun secara sifat.

5. Putra Menguduskan Diri-Nya Sendiri

Ayat 19 mengatakan, “Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” Putra mutlak kudus di dalam diri-Nya sendiri. Tetapi, ketika Dia di bumi, Dia tetap menguduskan diri-Nya sendiri dalam cara hidup-Nya, demi meletakkan satu teladan pengudusan bagi murid-murid-Nya. Lihatlah cara Dia berkomunikasi dengan perempuan Samaria (Yoh. 4:5-7). Tuhan tidak menjumpainya pada malam hari, di rumah pribadi, melainkan pada tengah hari, di luar rumah. Dikatakan dari pihak Tuhan sendiri, Dia boleh menjumpai perem-puan Samaria yang amoral ini kapan saja dan di mana saja. Tetapi sebagai seorang laki-laki yang berusia tiga puluh tahun lebih, bagi murid-murid-Nya tentu bukan contoh yang baik kalau Dia berkomunikasi secara pribadi di rumahnya pada malam hari. Bila Dia berbuat demikian, murid-murid akan merasa gundah. Namun agar terbina contoh yang baik bagi murid-murid-Nya, Dia bertindak secara kudus. Contoh ini merupakan suatu bantuan yang besar bagi murid-murid-Nya di kemudian hari. Seorang penginjil muda tidak patut berkomunikasi dengan seorang perempuan secara pribadi pada malam hari, karena terlalu banyak godaan dalam hal ini. Berbuat demikian itu tidak kudus, melainkan duniawi. Lihatlah contoh Tuhan Yesus, ketika Dia berbicara dengan Nikodemus, seorang satria setengah baya pada malam hari di rumah pribadi (3:1-2), tetapi Ia berkata-kata dengan perempuan Samaria yang amoral pada tengah hari di tempat terbuka. Dengan demikian Tuhan menguduskan diri dan membina teladan bagi murid-murid-Nya untuk mereka ikuti.

6. Satu di Dalam Allah Tritunggal

Ayat 21 mengatakan, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Kata “Kita” dalam ayat ini mengacu kepada Allah Tritunggal. Semua orang beriman adalah satu di dalam Allah Tritunggal. Agar satu di dalam Allah Tritunggal, kita harus dikuduskan, dipisahkan dari dunia melalui firman kudus. Setelah kita dikuduskan, dipisahkan dari dunia melalui firman kudus, kita akan menikmati Allah Tritunggal dan menjadi satu di dalam Allah Tritunggal. Untuk berada di dalam Allah Tritunggal, pertama-tama kita harus dipisahkan dari pantai, gedung bioskop, stadion sepak bola, rumah judi, dan dari semua tempat duniawi lain, dan dipisahkan bagi Allah. Banyak orang Kristen yang belum dipisahkan bagi Allah, karena mereka masih tetap berada dalam tempat-tempat duniawi. Bagaimana mereka dapat menjadi satu? Walaupun Anda seorang saudara dalam hayat, tetapi di manakah Anda? Anda harus dikuduskan dari semua hiburan duniawi bagi Allah. Di dalam Allah Tritunggal, yaitu di dalam Bapa melalui Putra sebagai Roh, kita adalah satu.

Aspek kedua dari kesatuan kaum beriman adalah kesatuan di dalam Allah Tritunggal melalui pengudusan firman kudus. Dalam aspek kesatuan ini, kaum beriman yang dipisahkan dari dunia bagi Allah, menikmati Allah Tritunggal sebagai faktor kesatuan mereka. Agar kita terpelihara dalam kesatuan ini, pertama-tama kita harus memperhatikan realitas hayat ilahi dan kemudian pengudusan oleh firman kudus. Firman kudus memisahkan kita dari dunia supaya kita terpulihkan kembali kepada Bapa dan kepada rumah Bapa. Sekalipun banyak saudara telah tertarik oleh dunia pada tahun-tahun lalu, tetapi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa sejumlah besar dari mereka telah terpulihkan ke dalam hidup gereja melalui firman kudus. Baik hayat ilahi maupun firman kudus diperlukan untuk kesatuan sejati yang menghasilkan pembangunan gereja yang riil.

C. Di Dalam Kemuliaan Ilahi untuk Ekspresi Allah Tritunggal

Kini kita sampai pada faktor ketiga kesatuan yang sejati: Di dalam kemuliaan ilahi untuk ekspresi Allah Tritunggal (ayat 22-24). Sebagaimana telah kita lihat, tumpuan (dasar) yang pertama dari kesatuan ialah kelahiran kembali, menerima hayat Bapa; tumpuan yang kedua ialah pengudusan, dipisahkan dari segala sesuatu di luar Allah. Dunia adalah segala sesuatu di luar Allah. Ketika kita dipisahkan dari segala sesuatu di luar Allah untuk Allah sendiri, serentak kita berada pada tumpuan pengudusan, dipisahkan dari semua tempat duniawi dan perkara duniawi kepada satu pusat. Satu pusat ini ialah Allah Tritunggal, Bapa di dalam Putra menjadi Roh. Kita telah dikuduskan kepada pusat ini, dan di dalam inilah ada kesatuan. Tumpuan yang ketiga dari kesatuan ini lebih dalam dan lebih tinggi daripada ini, yaitu kesatuan di dalam manifestasi kemuliaan ilahi. Setelah kita dilahirkan kembali, kita harus dikuduskan dengan melepaskan dunia; dan setelah dipisahkan dari dunia, kita harus hidup dengan menyangkal diri kita berdasarkan Kristus sebagai hayat kita. Kristus ini adalah pengharapan akan kemuliaan di dalam kita (Kol. 1:27).

1. Kemuliaan

Ayat 22 mengatakan, “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Apakah kemuliaan yang Bapa berikan kepada Putra? Yaitu keputraan dengan hayat dan sifat ilahi Bapa (Yoh. 5:26). Keputraan ini diberikan agar Putra mengekspresikan Bapa dalam kepenuhan-Nya (Yoh. 1:18; 14:9; Kol. 2:9; Ibr. 1:3). Tuhan Yesus mempunyai hayat dan sifat Bapa, menjadikan Dia Anak Allah dan manifestasi Allah. Jadi, kemuliaan yang Allah berikan kepada Putra ialah hayat dan sifat Allah yang menjadikan Putra ekspresi dan manifestasi Allah. Hayat dan sifat Bapa diberikan kepada Putra agar Putra dapat mengekspresikan Bapa dalam kepenuhan-Nya. Misalkan Presiden Amerika Serikat menunjuk putranya sebagai wakilnya untuk mengunjungi kita. Ketika putra presiden datang, ia akan mempunyai sejumlah besar kemuliaan, kemuliaan yang mewakili ayahnya, Presiden Amerika Serikat.

Putra telah memberikan kemuliaan yang Bapa berikan kepada-Nya kepada kaum beriman, agar mereka juga mendapatkan keputraan dengan hayat dan sifat ilahi Bapa (Yoh. 17:2; 2Ptr. 1:4), sehingga mereka mengekspresikan Bapa di dalam Putra, di dalam kepenuhan-Nya (Yoh. 1:16). Kemuliaan yang mula-mula diberikan kepada Putra, kini telah diberikan kepada keputraan korporat. Sebagai banyak putra, kita mempunyai keputraan ilahi dengan hayat dan sifat ilahi untuk mengekspresikan Bapa di dalam Putra berikut segala kelimpahan-Nya. Alangkah mulianya ini!

Banyak orang Kristen berkonsepsi kosong dan penuh khayalan tentang kemuliaan. Mereka mengira kemuliaan hanyalah kilauan obyektif atau sinar terang di langit yang akan kita masuki suatu hari nanti. Menurut konsepsi ini, ketika kita dibawa masuk ke dalam terang sinar itu, kita dibawa ke dalam kemuliaan. Itu hanyalah mimpi. Apakah kemuliaan itu? Kemuliaan ialah keputraan dengan hayat dan sifat ilahi untuk mengekspresikan Bapa dalam segala kepenuhan-Nya. Sering kali ketika kita dalam sidang yang baik, kita merasa bahwa kita berada di dalam kemuliaan ini.

Jika kita mau menjadi satu di dalam hayat ilahi, kita harus menyangkal dan melupakan diri kita. “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). “Aku” telah disalibkan dan diri (ego) kita harus kita sangkal, agar Kristus hidup di dalam kita. Kita harus tidak hanya menolak dunia, tetapi juga harus menolak diri. Di satu pihak, kita telah dikuduskan dari banyak tempat duniawi dan perkara duniawi, dan telah masuk ke rumah Bapa. Di pihak lain, kita masing-masing mempunyai pendapat, pikiran, atau ide. Bila situasinya demikian, bagaimana kita dapat menjadi satu? Dulu kita berserakan di dalam berbagai macam tempat duniawi, kini telah pulang, namun masih ada kesukaran dengan diri (ego). Karena itu, kita harus tidak hidup berdasarkan hayat kita sendiri, melainkan berdasarkan hayat kemuliaan, hayat ilahi. Setelah kita dilahirkan kembali, kita harus dikuduskan; setelah kita dikuduskan, kita harus dimuliakan. Dengan kata lain, setelah kita memiliki hayat Allah, kita harus melepaskan dunia dan kita harus menyangkal diri kita, hidup berdasarkan hayat ilahi. Demikian, dalam kemuliaan hayat ini, kita akan menjadi satu. Jadi, ada tiga tumpuan (dasar) atau tiga langkah kesatuan kaum beriman: Kelahiran kembali, pengudusan, dan kemuliaan. Langkah pertama ialah memiliki Allah sebagai Bapa kita melalui kelahiran kembali; langkah kedua ialah datang kepada Allah Tritunggal oleh pemisahan dari dunia melalui firman kudus, dan langkah ketiga ialah hidup berdasarkan kemuliaan hayat ilahi melalui menyangkal diri kita. Hanya dengan menerapkan dan meriilkan kemuliaan hayat ilahi ini, kita semua baru dapat menjadi satu.

2. Tiga Hal yang Putra Berikan kepada Kaum Beriman

Agar kaum beriman berbagian dalam kesatuan ini, Putra telah memberi mereka tiga hal: Hayat yang kekal sebagai aspek pertama kesatuan (ayat 2), firman Allah yang kudus sebagai aspek kedua kesatuan (ayat 8, 14), dan kemuliaan ilahi sebagai aspek ketiga kesatuan (ayat 22). Kita mungkin memiliki hayat ilahi dan dipisahkan dari dunia oleh firman kudus, tetapi tetap tidak bersinar berdasarkan kemuliaan Allah. Ketika kita tahu bahwa kita mempunyai hayat ilahi dan sifat ilahi serta keputraan untuk mengekspresikan Allah Sang Bapa dalam kepenuhan-Nya, kita akan bersinar berdasarkan kemuliaan. Pada saat itu, kesatuan kita tidak hanya di dalam hayat kekal dan melalui firman kudus, tetapi juga berdasarkan kemuliaan ilahi untuk ekspresi Allah. Kini kita nampak bahwa kesatuan kita mengandung satu sasaran mengekspresikan Allah Bapa di dalam kepenuhan-Nya, sekalipun di dalam zaman kegelapan di bumi yang bejat ini. Kadang kala di gereja-gereja lokal kita mengalami kemuliaan ini. Kita telah mengekspresikan Bapa di dalam kemuliaan pengudusan-Nya, di dalam kemuliaan ilahi-Nya, di dalam segala kepenuhan Bapa. Ketika kita membaca doa Tuhan dalam Yohanes 17, kita perlu melihat bahwa kesatuan yang sejati ialah melalui hayat-Nya, melalui firman-Nya, dan di dalam hayat ilahi untuk ekspresi Allah.

3. Disempurnakan Menjadi Satu

Dalam ayat 23 Tuhan berkata, “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Bagaimana kita dapat disempurnakan menjadi satu? Hanya di dalam kemuliaan hayat ilahi. Kita harus hidup berdasarkan hayat ilahi yang mulia ini sehingga kita dapat mutlak disempurnakan di dalam kemuliaan hayat ilahi. Dengan menyangkal diri kita, kita dapat mengalami hayat ilahi sampai suatu taraf di mana kita disempurnakan menjadi satu. Jika pada suatu hari, di dalam hidup gereja, para saudara saling bertengkar dan saling berdebat, kemudian mengakui dan saling minta maaf pada hari berikutnya, itu menunjukkan mereka belum disempurnakan menjadi satu. Pada saat mereka menyadari sepenuhnya perkara penyaliban bahwa “aku” telah disalibkan di kayu salib dan mereka hidup berdasarkan hayat kemuliaan ilahi, itulah saatnya mereka semua disempurnakan menjadi satu. Pada hari itu kita takkan berdebat dan bertengkar lagi, sebab tidak ada ego dan opini, sehingga kita akan disempurnakan menjadi satu.

Kalau kita belum mencapai butir kemuliaan ilahi ini, kita belum disempurnakan sepenuhnya menjadi satu. Tetapi ketika kita mencapai butir ini, kita akan berada pada taraf kesatuan yang tertinggi, telah disempurnakan ke dalam kesatuan melalui kemuliaan ilahi yang diberikan kepada kaum beriman untuk mengekspresikan Allah Tritunggal secara korporat. Ketika kita mencapai butir ini, kita akan rela meninggalkan segala sesuatu: Kita tidak hanya mengesampingkan segala daya tarik duniawi, tetapi juga mengesampingkan doktrin dan konsepsi. Kita akan mengesampingkan segala sesuatu dan hanya untuk satu ekspresi kemuliaan Allah Tritunggal. Ekspresi ini adalah miniatur Yerusalem Baru. Dalam Yerusalem Baru tidak ada lagi tipu daya dunia, doktrin, pengajaran, konsepsi, atau opini. Di sana hanya ada ekspresi kemuliaan ilahi. Kita semua akan berada di dalam kemuliaan itu mengekspresikan Dia dengan sepenuhnya, sampai selama-lamanya. Di masa lampau, ada sejumlah gereja lokal yang benar-benar telah mencapai taraf ini. Karena anugerah-Nya, kita pun dapat mencapai taraf demikian hari ini. Kesatuan sedemikian ini merupakan kenikmatan riil atas kemuliaan ilahi dalam ekspresi korporat Allah Tritunggal. Ketika kita memasuki kesatuan mulia yang demikian, kita rela kehilangan segala sesuatu, bahkan nyawa kita. Ketika kita dalam kesatuan ini, tidak ada lagi yang terhitung bagi kita. Aspek ketiga kesatuan yang sejati ini adalah dengan satu amanat, satu sasaran, yakni mengekspresikan Allah Tritunggal secara korporat.

Aspek ketiga kesatuan kaum beriman ialah kesatuan di dalam kemuliaan ilahi untuk ekspresi korporat Allah. Dalam aspek kesatuan ini, kaum beriman telah mutlak menyangkal diri, menikmati kemuliaan Bapa sebagai faktor kesatuan mereka yang disempurnakan, dibangunkan, sehingga mereka mengekspresikan Allah secara korporat. Kesatuan perintah ilahi ini telah menggenapkan doa Putra, sehingga Dia mutlak diekspresikan, dimuliakan di dalam pembangunan kaum beriman-Nya; dan Bapa juga sepenuhnya diekspresikan, dimuliakan, pada saat Putra dimuliakan. Jadi, kesatuan akhir dari kaum beriman ialah (1) di dalam hayat kekal Allah (di dalam nama Bapa); (2) melalui firman pengudusan Allah; dan (3) di dalam kemuliaan ilahi mengekspresikan Allah Tritunggal sampai selamanya.

4. Enam Hal yang Bapa Berikan kepada Putra

untuk Menggenapkan Keesaan, Pembangunan Kaum Beriman

Agar Putra bisa menggenapkan kesatuan ini, Bapa memberi-Nya enam hal: Kuasa (ayat 2), kaum beriman (ayat 2, 6, 9, 24), pekerjaan (ayat 4), firman (ayat 8), nama Bapa (ayat 11-12), dan kemuliaan Bapa (ayat 24). Bapa telah memberikan ini semua kepada Putra agar Ia bisa menggenapkan kesatuan demikian.

5. Kasih Bapa

Ayat 23 bagian akhir mengatakan, “Agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Di sini kita melihat kasih Bapa yang ditujukan kepada Putra, serta kasih Bapa yang ditujukan kepada kaum beriman milik Putra. Bapa mengasihi Putra, telah memberikan hayat-Nya, sifat-Nya, kepenuhan-Nya, dan kemuliaan-Nya kepada Putra, agar Putra mengekspresikan Bapa. Suatu kasih yang luar biasa! Demikian pula, Bapa juga mengasihi kaum beriman milik Putra dengan memberikan hayat-Nya, sifat-Nya, kepenuhan-Nya, dan kemuliaan-Nya kepada mereka, agar mereka bisa mengekspresikan Bapa dalam Putra. Ini adalah satu cerita yang mulia, juga adalah satu cerita kasih. Tidak banyak di antara kita yang mengapresiasi kasih ini, kasih yang memberi kita hayat, sifat, kepenuhan, dan kemuliaan Bapa untuk mengekspresikan Dia. Inilah kasih sejati, yang lebih baik dan lebih tinggi daripada segala sesuatu.

6. Di Mana Putra Berada,

di Sana Juga Kaum Beriman Berada

Ayat 24 mengatakan, “Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.” Putra berada di dalam kemuliaan ilahi ekspresi Allah. Karena itu, di mana Putra berada, orang-orang yang percaya kepada Putra juga bersama Putra di sana, yaitu bersama Putra di dalam kemuliaan ilahi untuk mengekspresikan Bapa. Penggenapan perkara ini dimulai dari kebangkitan Putra, saat itu Dia membawa kaum beriman berbagian dalam hayat kebangkitan-Nya; kelak akan digenapi di Yerusalem Baru, saat itu kaum beriman akan sepenuhnya dibawa ke dalam kemuliaan ilahi, menjadi ekspresi korporat akhir dari Allah Tritunggal di dalam kekekalan.

Kita berada di tempat di mana Putra berada. Putra di dalam Bapa dan kita pun di dalam Bapa. Putra di dalam kemuliaan Bapa, kita pun di dalam kemuliaan Bapa. Putra melalui kematian dan kebangkitan supaya kita bisa beroleh bagian dalam hayat, sifat, kelimpahan, dan kemuliaan Bapa, mengekspresikan Bapa bersama Putra di tempat di mana Putra berada. Ini sangat ajaib! Putra di dalam kemuliaan menjadi ekspresi Bapa, kaum beriman juga di dalam kemuliaan menjadi ekspresi korporat Allah Tritunggal, sampai selamanya. Bagi saya, ini jauh lebih besar daripada naik ke surga. Pada akhirnya, Yerusalem Baru akan turun dari surga (Why. 21:2). Saya tidak mau berada di langit yang kosong; saya ingin berada di Yerusalem Baru, di dalam ekspresi korporat mulia Allah Tritunggal.

III. BAPA TERNYATA ADIL DALAM MENGASIHI PUTRA DAN KAUM BERIMAN-NYA

Dalam ayat 25 dan 26 Tuhan berdoa, “Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Dunia tidak mengenal Bapa, juga tidak mau Bapa, tetapi Putra dan orang-orang yang percaya kepada Putra mengenal Bapa, juga mau Bapa. Karena itu, Bapa mengasihi Putra dan orang-orang yang percaya kepada Putra, sehingga Ia memberikan kemuliaan-Nya kepada Putra dan kepada orang-orang yang percaya kepada Putra. Atas hal ini, Dia adil dan benar. Bapa menguduskan orang-orang yang percaya kepada Putra, dengan ini menyatakan bahwa Ia adalah kudus (ayat 11). Bapa mengasihi Putra dan orang-orang yang percaya kepada Putra, sehingga memberikan kemuliaan-Nya kepada Putra dan orang-orang yang percaya kepada Putra, dengan ini menyatakan bahwa Dia adalah adil. Bapa tidak akan mewahyukan sesuatu tentang hayat kepada orang-orang dunia, karena orang-orang dunia tidak mengenal Bapa. Namun, Bapa mewahyukan segala sesuatu tentang hayat kepada Tuhan Yesus dan kaum beriman-Nya, karena Tuhan dan kaum beriman mengenal Bapa. Jadi, Bapa itu adil (benar) dalam kebijakan-Nya; karena dengan keputusan-Nya yang adil, Dia mewahyukan perkara hayat kepada kita. Allah itu adil (benar) dalam perkara ini.

Kasih yang disinggung dalam ayat 26 adalah kasih Bapa. Di dalam kasih ini, Bapa telah memberikan hayat dan kemuliaan-Nya kepada Putra dan orang-orang yang percaya kepada Putra, agar Putra dan orang-orang yang percaya kepada Putra bisa mengekspresikan Dia. Putra berdoa, karena Putra tinggal di dalam orang-orang yang percaya kepada-Nya, agar kasih ini juga bisa tinggal di dalam mereka, supaya mereka bisa memahami kasih Bapa kepada Putra melalui pengenalan terhadap nama Bapa, dan bisa selalu merasakan kasih ini melalui tinggal bersama Putra.