← Daftar isi Yohanes (4) · bab 4/16

DOA HAYAT (2)

Dalam berita yang lalu kita telah melihat subyek, inti pemikiran doa Tuhan dalam Yohanes 17. Dalam berita ini kita akan melihat bagian kedua doa ini. Bagian pertama, ayat 1-5, mengenai subyek doa; dan bagian kedua, ayat 6-24, mengenai kesatuan. Tujuan kesatuan ialah untuk kemuliaan Putra, supaya Putra dapat memuliakan Bapa. Umat dalam kesatuan ini meliputi semua murid, semua orang yang Allah pilih dan berikan kepada Tuhan Yesus, yaitu semua orang yang diberi hayat yang kekal oleh Tuhan.

II. MENGHENDAKI KAUM BERIMAN

TERBANGUN MENJADI SATU

Agar ada kesatuan, harus ada pembangunan. Tanpa pembangunan, tidak ada kesatuan. Jangan mengira bahwa menumpuk bahan-bahan material berarti kesatuan. Tidak, itu bukan kesatuan. Lihatlah sebuah rumah. Di sana terdapat kesatuan sejati di antara semua material dalam rumah, dan kesatuan ialah pembangunan. Setiap material disusun dengan tepat sekali. Inilah kesatuan. Kesatuan yang dibicarakan oleh banyak orang Kristen hari ini hanyalah suatu penumpukan; kadang kala malah bukan suatu penumpukan, melainkan masing-masing orang saling menjauhi sambil berkata, “Kita bersatu.” Saudara Watchman Nee menggambarkan kesatuan semacam itu seperti berjabatan tangan melewati dinding. Tetapi kesatuan hari ini bahkan sering kali bukan berjabatan tangan melewati dinding, melainkan hanya melambaikan tangan kepada orang yang jauh di seberang. Orang yang di seberang timur mungkin ingin bersatu dengan orang yang di seberang barat, dan mengatakan, “Saudara yang terkasih, aku bersatu denganmu.” Yang di seberang barat mungkin menjawab, “Ya, aku bersatu denganmu.” Tetapi dalam hatinya ia berkata, “Kalau kita tidak menjaga jarak aman di antara kita, kita akan melukai satu sama lain.”

Kalau ini adalah kesatuan yang sejati, di manakah Tubuh? Situasi hari ini ialah “bahu takut kepada leher”, sehingga ingin tetap menjaga jarak aman dengannya. Mata juga takut kepada hidung, mengatakan, “Hai saudara hidung, engkau terlalu kuat. Aku tidak berani tinggal bersamamu. Aku ingin sopan dan baik terhadapmu, tetapi aku harus tetap menjaga jarak aman denganmu.” Kebanyakan pekerja Kristen enggan bersatu dengan yang lain. Situasi demikian bukan kesatuan. Kesatuan yang sejati ialah pembangunan. Lihatlah kesatuan tubuh jasmani Anda: Kesatuan itu ialah masalah dibangunkan. Kita semua harus melihat bahwa pembangunan inilah yang hari ini dikehendaki Tuhan. Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan berkata, “Aku datang segera!” (Why. 22:20). Dua ribu tahun telah berlalu, dan Ia masih belum datang kembali. Mengapa? Sebab datang tanpa adanya pembangunan yang sejati adalah suatu aib bagi Dia. Harus ada sekelompok kecil orang yang mau menanggapi hati Tuhan dan rela melepaskan ciri khas mereka untuk dibangunkan bersama sebagai suatu kesatuan. Hal ini akan memalukan musuh. Iblis (Satan), musuh itu, membenci pembangunan ini. Sebab itu, dalam Yohanes 17, Tuhan berdoa untuk ini.

Dalam Yohanes 17:6-24, Tuhan berdoa bagi kaum beriman supaya mereka dibangun menjadi satu. Kesatuan ini dalam tiga tahap: Dalam nama Bapa, melalui hayat yang kekal (ayat 6-13); dalam Allah Tritunggal, melalui pengudusan oleh firman kudus (ayat 14-21); dan dalam kemuliaan ilahi, untuk ekspresi Allah Tritunggal (ayat 22-24).

A. Di Dalam Nama Bapa, Melalui Hayat yang Kekal

Kesatuan yang sejati, yaitu pembangunan kaum beriman, adalah dalam nama Bapa melalui hayat kekal. Hayat kekal adalah realitas nama Bapa. Nama Bapa ialah Bapa dan realitas nama Bapa ialah hayat ilahi. Demikian juga dengan bapak jasmani kita, karena realitas bapak jasmani kita ialah hayatnya. Kalau bapak kita tidak mempunyai hayat untuk disalurkan ke dalam kita, ia takkan dapat menjadi bapak kita. Bapak saya ialah bapak saya dalam realitas, karena ia memiliki hayat yang disalurkan ke dalam saya. Hayat yang ia salurkan ke dalam saya ialah realitas dia sebagai bapak saya. Kata “bapak” tidak boleh hanya sebagai sebutan, tetapi juga harus menjadi suatu realitas. Hayat ilahi, yakni hayat kekal, adalah realitas sebutan Bapa.

1. Bapa

a. Sumber Hayat

Bapa ialah sumber hayat. Ini ditunjukkan oleh firman Tuhan dalam Yohanes 5:26 yang mengatakan, “Bapa mempunyai hidup (hayat) dalam diri-Nya sendiri.” Dalam seluruh kitab, terutama dalam Injil Yohanes, Bapa menunjukkan sumber hayat. Bahkan dalam sebuah keluarga manusia, bapak ialah sumber hayat keluarga itu. Sebagai bapak suatu keluarga, seseorang adalah sumber dan pangkal hayat. Jadi nama Bapa mewahyukan Bapa sebagai sumber hayat.

b. Untuk Perkembangan dan Perlipatgandaan Hayat

Bapa, sumber hayat, ialah untuk perkembangan dan perlipatgandaan hayat. Bapak keluarga manusia yang adalah sumber hayat keluarga itu adalah untuk perkembangan dan perlipatgandaan hayat. Seseorang mungkin sangat muda, tetapi asalkan ia menjadi ayah dengan sumber hayat, ia memiliki suatu perkembangan. Asal mulanya, ia sendirian, tetapi kemudian ia melahirkan empat anak. Setelah menikah, hayat manusia ini, yakni hayat bapak sebagai sumber keluarga, mulai dikembangkan. Ketika perkembangan hayat berlangsung, terdapat pula perlipatgandaan hayat. Hayat Bapa ialah untuk perkembangan dan perlipatgandaan.

c. Dari Dia Lahir Banyak Putra untuk Mengekspresikan-Nya

Dari Bapa yang adalah sumber hayat dan yang adalah perkembangan dan perlipatgandaan hayat, banyak putra dilahirkan untuk mengekspresikan Dia (Yoh. 1:12-13). Sebab itu, kita mempunyai perkembangan, perlipatgandaan, dan ekspresi. Kita telah melihat bahwa doa penutup ini ialah pembenaran dan penegasan berita di depan dalam pasal 14 sampai dengan 16. Dalam berita itu kita melihat perkembangan hayat dan perlipatgandaan hayat adalah untuk ekspresi Allah Tritunggal. Kini kita memiliki butir yang sama dalam doa penutup ini: Bapa berkembang, melahirkan banyak putra untuk mengekspresikan Dia.

d. Nama “Bapa” Berhubungan dengan Hayat Ilahi

Nama Bapa sangat berhubungan dengan hayat ilahi. Tanpa hayat ilahi, Allah tidak bisa menjadi Bapa. Bagaimana seseorang dapat menjadi ayah? Hanya melalui hayatnya. Kalau Anda tidak memiliki hayat, Anda takkan bisa menjadi ayah. Seorang ayah ialah seorang “produsen”. Seorang ayah tidak berproduksi melalui pembuatan, melainkan melalui kelahiran. Seorang ayah memiliki hayat yang melahirkan. Tanpa hayat itu, orang tidak ada realitas menjadi seorang bapak. Mengingat Bapa memiliki hayat ilahi untuk melahirkan, mengembangkan, melipatgandakan, dan mendatangkan banyak putra, akan membantu kita memahami Injil Yohanes lebih baik. Jika seseorang tidak dapat melahirkan anak, ia tidak disebut sebagai ayah. Syarat Anda sebagai seorang ayah terletak pada anak-anak Anda. Semakin banyak anak Anda, semakin mantap Anda sebagai seorang ayah. Misalnya seseorang memiliki seratus anak, sudah tentu ia adalah bapak yang terbesar di bumi karena ia memiliki hayat yang begitu limpah untuk melahirkan. Renungkanlah, Bapa kita mempunyai berapa banyak anak. Ia tidak hanya memiliki ratusan anak, tetapi jutaan anak. Betapa Ia seorang Bapa yang besar! Betapa banyaknya perkembangbiakan hayat-Nya.

Setiap kali kita memanggil-Nya Bapa, kita harus paham bahwa sebutan ini direalisasikan oleh hayat ilahi-Nya. Tanpa hayat ilahi-Nya, nama Bapa hanya sebuah istilah kosong, tidak ada isi atau realitas. Karena realitas sebutan Bapa ialah hayat ilahi, mengatakan bahwa kita adalah satu dalam nama Bapa berarti kita satu dalam hayat ilahi.

2. Nama Bapa

a. Nama “Allah” dan “Yehova”

Telah Diwahyukan dalam Perjanjian Lama

Dalam ayat 6, Tuhan berkata kepada Bapa, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.” Nama yang ditunjukkan di sini ialah nama Bapa. Nama Allah dan nama Yehova (LAI: TUHAN) telah diwahyukan dengan penuh kepada manusia dalam Perjanjian Lama, tetapi nama Bapa tidak diwahyukan. Dalam zaman Perjanjian Lama, umat Allah terutama mengetahui bahwa Allah adalah Elohim (yaitu Allah), dan Yehova (yaitu Sang kekal ada), tetapi mereka tidak begitu mengenal sebutan Bapa. Allah adalah nama-Nya dalam penciptaan, Yehova adalah nama-Nya dalam hubungan antara diri-Nya dengan manusia. Kejadian 1 mewahyukan nama Allah, tetapi tidak mengungkapkan nama Yehova. Sampai pada Kejadian 2, ketika Allah hendak mengadakan hubungan dengan manusia, barulah Ia mewahyukan nama Yehova.

b. Nama “Bapa” Sedikit Sekali Disebutkan dalam Perjanjian Lama

Walaupun nama Allah dan Yehova sepenuhnya diwahyukan dalam Perjanjian Lama, tetapi nama Bapa tidak banyak diwahyukan. Hanya sedikit disebutkan dalam Yesaya 9:5, 63:16, dan 64:8. Nama Bapa ini mewahyukan apa? Bapa ialah nama yang berkaitan dengan hayat. Ketika saya mengatakan, “Bapaku,” berarti saya memiliki hayat-Nya dan saya dilahirkan oleh-Nya. Perjanjian Lama tidak menyingkapkan bahwa Allah adalah Bapa yang akan melahirkan orang yang tak terhitung banyaknya. Dalam Perjanjian Baru inilah Tuhan mewahyukan Allah sebagai Bapa yang melahirkan banyak putra. Dialah sumber hayat, maka Dialah Bapa yang menghasilkan sejumlah putra melalui melahirkan kembali mereka dengan hayat-Nya. Itulah maksud tujuan-Nya. Allah adalah Bapa, karena Ia melahirkan banyak orang dengan hayat-Nya, menjadikan mereka anak-anak-Nya. Dalam Kitab Matius, Tuhan mengajar murid-murid-Nya memanggil Allah Bapa dengan mengatakan, “Bapa kami yang di surga” (Mat. 6:9). Ketika kita memanggil Allah, “Bapa kami,” kita harus tahu bahwa Ia adalah Bapa kita yang sejati, Ia bukan Bapa mertua kita, dan kita bukan anak pungut-Nya. Bapa kita ialah Bapa kita dalam hayat, Bapa sejati kita. Kita memanggil-Nya “Bapa”, karena kita dilahirkan oleh-Nya dan memiliki hayat-Nya.

Betapa manis memanggil Allah sebagai Bapa kita! Roma 8:15 dan Galatia 4:6 keduanya mengatakan tentang menyeru, “Abba, Bapa.” Di seluruh dunia, anak-anak kecil menggunakan sebutan ganda, seperti Papa atau Mama kepada orang tua mereka. Mengatakan “Pa” atau “Ma” tidak begitu intim. Tetapi “Papa” atau “Mama” sangat intim. Jika saya bukan dilahirkan oleh ayah saya, tetapi saya harus memanggil orang itu “Papa”, tentunya terasa canggung, tidak akan begitu manis.

Pada suatu hari, seorang yang baru beroleh selamat datang kepada Saudara Watchman Nee dan bertanya kepadanya, mengapa Roma 8:15 dan 16 mengatakan menyeru “Abba, Bapa” adalah suatu kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah. Saudara Watchman Nee lalu bertanya kepada saudara muda itu, apakah ia sudah menikah. Ketika ia menjawab sudah, Saudara Nee berkata, “Kali pertama Anda mengunjungi orang tua istri Anda setelah menikah, bagaimana Anda memanggil ayah mertua Anda?” Saudara muda itu menjawab, “Dengan sangat terpaksa aku memanggilnya ‘Papa’.” Kemudian Saudara Nee bertanya, “Ketika Anda memanggil ayah Anda sendiri, apakah Anda juga terpaksa?” Saudara itu mengatakan, “Tentu tidak. Ketika aku memanggil ayahku ‘Papa’, aku merasa begitu manis.” Ketika Saudara Nee bertanya kepadanya mengapa ia merasa terpaksa memanggil ayah mertuanya “Papa”, ia mengatakan, “Sebab ia bukan ayahku.” Kemudian Saudara Nee berkata, “Itu benar, ia bukan ayah Anda. Karena itu sungguh sukar memanggilnya ‘Papa’. Allah bukan ayah mertua Anda; Ia adalah Bapa Anda, Bapa Anda dalam hayat.” Karena Allah adalah Bapa kita dalam hayat, maka ketika kita memanggil Dia, “Abba, Bapa,” kita merasa begitu manis. Ketika Anda merasakan kemanisan ini, Anda tahu bahwa Anda adalah anak-Nya dan Ia benar-benar Bapa Anda dalam hayat.

c. Putra Telah Datang dan Bekerja dalam Nama Bapa

Kristus datang sebagai Putra Allah dalam nama Bapa (Yoh. 5:43) dan bekerja dalam nama Bapa (Yoh. 10:25). “Dalam nama Bapa” berarti dalam realitas Bapa. Sebagaimana Putra adalah satu dengan Bapa (Yoh. 10:30), maka Ia datang dan bekerja dalam nama Bapa, yaitu dalam realitas Bapa.

d. Putra Menyatakan Bapa kepada Kaum Beriman-Nya

Karena Putra satu dengan Bapa, maka ketika Ia beserta dengan kaum beriman, Ia menyatakan Bapa kepada mereka dalam apa adanya Bapa. Ketika mereka melihat Dia, mereka pun melihat Bapa (Yoh. 14:9). Bapa diekspresikan di atas diri-Nya.

e. Putra Membuat Nama Bapa Diketahui oleh Kaum Beriman

Dalam Yohanes 17:26, Tuhan berkata, “Dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya.” Dengan cara bagaimana Putra memberitahukan nama Bapa kepada kaum beriman? Bukan dengan cara mengajar, melainkan dengan menyalurkan hayat Bapa itu ke dalam anak. Seorang anak asuh jauh lebih sulit mengenal ayah asuhnya daripada anak kandung dari ayah tersebut. Kita memiliki hayat Bapa. Karena kita sama dalam hayat dan sifat dengan Bapa, maka kita mudah mengenal Bapa. Sebagai Putra Bapa, Tuhan Yesus datang menyalurkan hayat ke dalam kita. Karena hayat Bapa telah disalurkan ke dalam kita, dengan spontan kita mengenal Bapa melalui hayat, bukan melalui ajaran. Dalam hayat, kita mengenal Bapa.

3. Firman Bapa dan Segala Firman Bapa

Ayat 6 mengatakan, “Mereka telah menuruti firman-Mu”, dan ayat 8 mengatakan, “Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya.” Dalam bahasa asli ayat-ayat ini, kita melihat bahwa Bapa mempunyai dua macam firman: logos, firman yang tetap (constant word) dalam ayat 6, dan rhema, firman yang seketika (instant word). Tuhan menggunakan dua macam firman ini untuk menyalurkan hayat yang kekal kepada kaum beriman. Logos, firman yang tetap, selalu sama. Kata-kata yang tertulis dalam Alkitab ialah logos. Tetapi ketika Anda membaca logos, Roh akan menggunakan sebuah kalimat, anak kalimat, atau bahkan satu kata tunggal untuk menggerakkan Anda, dan kata itu akan menjadi “kata seketika”. Sebagai contoh, Yohanes 3:16, firman yang tertulis dalam Alkitab, ialah logos. Pada suatu hari, ketika Anda membaca ayat ini, firman yang tertulis ini menjadi firman seketika. Serta merta kalimat, “Allah begitu mengasihi manusia” tampak jelas, sehingga Anda berkata, “Oh, Allah begitu mengasihiku!” Dengan ini kita melihat bagaimana firman tetap menjadi firman seketika, bagaimana logos menjadi rhema.

Firman tetap dan firman seketika, logos dan rhema, adalah untuk menyalurkan hayat kekal ke dalam kaum beriman yang menerima firman ini. Firman Bapa terutama bukan untuk ajaran atau perintah, tetapi untuk menyalurkan hayat ke dalam kaum beriman. Ketika firman “Allah begitu mengasihi dunia” ternyata jelas kepada Anda dan Anda tergerak, mengatakan, “Puji Tuhan, Ia mengasihi aku,” hayat segera tersalur ke dalam Anda. Anda menerima hayat Bapa. Hayat Bapa ialah realitas Bapa. Ketika kita memiliki hayat Bapa, kita pun memiliki Bapa dan menikmati Bapa. Bapa ada di mana? Bapa ada di dalam hayat-Nya, karena hayat ilahi-Nya ialah realitas nama Bapa.

Ketika kita menerima firman Allah, kita dilahirkan kembali oleh firman itu (1Ptr. 1:23) dan menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, Allah menjadi Bapa kita dan kita menjadi anak-anak Allah. Tuhan datang untuk mewahyukan kepada murid-murid-Nya bahwa Allah adalah Bapa, sumber hayat yang bertujuan menghasilkan anak-anak yang tak terhitung banyaknya. Karena itu, Tuhan membawakan firman Allah kepada murid-murid-Nya, sehingga siapa saja yang menerima firman akan menjadi anak Allah yang dilahirkan kembali. Mereka menjadi anak-anak Allah dan Allah menjadi Bapa mereka. Akibatnya, mereka memiliki nama Bapa. Sekarang mereka dapat memanggil Allah Bapa mereka karena mereka memiliki hayat Allah, yang menjadikan mereka anak-anak Allah.

4. Dipelihara dalam Nama Bapa

a. Melalui Hayat Bapa

Dalam ayat 11 Tuhan berkata, “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Dipelihara (dijaga) dalam nama Bapa ialah dipelihara berdasarkan hayat Bapa, karena hanya yang lahir dari Bapa, dan memiliki hayat Bapa yang bisa berbagian dalam nama Bapa. Putra telah memberikan hayat Bapa kepada orang-orang yang Bapa berikan kepada-Nya (Yoh. 17:2). Karena itu, mereka terpelihara di dalam nama Bapa melalui bersama menikmati nama ini dan menjadi satu di dalam nama ini. Jadi, aspek pertama dari kesatuan ini, yang juga adalah aspek pertama dari terbangunnya kaum beriman ialah kesatuan di dalam nama Bapa dan berdasarkan hayat ilahi-Nya.

b. Di Dalam Dunia

Kaum beriman milik Putra masih ada di dalam dunia. Mereka perlu dipelihara, yaitu dipisahkan dari dunia agar mereka dapat dikuduskan. Dalam ayat 11, Putra berdoa supaya Bapa yang kudus menggenapkan perkara ini.

c. Melalui Bapa yang Kudus

Dalam ayat 11 Tuhan menyebut Bapa-Nya sebagai “Bapa yang kudus”. Hayat Bapa ialah hayat yang kudus, hayat yang terpisah dari dunia. Sekalipun kita mempunyai hayat ini, tetapi kalau kita jauh dari Bapa yang kudus, kita akan bermasalah. Kita perlu senantiasa berada dalam nama Bapa, terpelihara melalui hayat Bapa yang kudus.

5. Satu dalam Nama Bapa

a. Sama seperti Ketiga Allah Tritunggal

Ketiga Allah Tritunggal adalah satu. Itulah kesatuan yang sejati dan harus menjadi teladan kita. Ketiga Allah Tritunggal adalah satu dalam hayat ilahi, dalam sifat ilahi, dan dalam kemuliaan ilahi. Kita, anak-anak Allah, juga harus satu dalam hayat ilahi, dalam sifat ilahi, dan dalam kemuliaan ilahi. Kita harus esa seperti ketiga Allah Tritunggal.

b. Melalui Hayat yang Kekal

Kaum beriman adalah satu dalam nama Bapa melalui hayat yang kekal. Menjadi satu dalam nama Bapa bukanlah dipelihara dalam kesatuan melalui sebutan saja. Misalnya, ada lima saudara kandung. Mereka semua dilahirkan dari seorang ayah dan memiliki hayat yang sama. Hayat yang mereka terima dari ayah mereka ialah realitas ayah mereka. Ayah mereka adalah riil bagi mereka, karena mereka mempunyai hayatnya. Mungkin saudara-saudara ini tidak senang satu dengan yang lain dan saling merendahkan. Apa yang harus mereka perbuat? Haruskah mereka berpisah, berjauhan? Tidak, walaupun mereka mungkin tidak senang satu sama lain dan saling merendahkan, dalam batin mereka terdapat sesuatu yang mengikat mereka bersama dan membuat mereka berkata, “Saudara, kita memiliki satu ayah dan tidak seharusnya berpisah. Kita harus bersatu.” Dengan demikian mereka dipelihara dalam kesatuan dalam nama Bapa mereka. Namun pada hakikatnya, mereka dipelihara melalui hayat Bapa. Meskipun mereka mungkin saling tidak senang dan meremehkan, hayat Bapa yang ada di batin mereka menyatukan mereka. Di dalam batin, mereka mengasihi satu sama lain. Bila seorang di antara mereka diganggu, yang lain bangkit melawan pengganggu itu. Demikian pula, nama Bapa, yang realitasnya adalah hayat Bapa, memelihara anak-anak-Nya menjadi satu.

Namun kalau anak-anak Bapa membiarkan mental mereka mengatasi dan menutupi hayat batiniah mereka, mereka akan tercerai-berai. Hayat Bapa mempersatukan mereka dan memelihara mereka dalam kesatuan, tetapi otak memisahkan mereka. Orang Kristen hari ini diceraikan oleh otak besar mereka. Ketika otak mereka terlalu berkembang, ukuran tinggi mereka dalam hayat sama seperti orang kerdil. Semakin Anda berkembang dalam otak Anda, hayat Anda semakin kerdil. Otak yang terlalu berkembang ini menyebabkan perpecahan. Kalau kita membiarkan hayat batiniah berkembang, kita semua akan dipersatukan dalam hayat Bapa. Kalau kita tinggal dalam hayat Bapa, kita semua akan menjadi satu.

Setiap orang dalam gereja lokal yang mengira dirinya sangat pandai bisa menjadi penyebab utama perpecahan. Jangan menganggap diri Anda pandai dalam otak Anda. Anda harus takut kepada otak Anda yang pandai sama seperti Anda takut terkena racun ular. Oh, betapa kita perlu dipelihara dalam hayat Bapa! Banyak saudara kandung saling mengasihi, tidak menurut kondisi lahiriah, melainkan menurut darah di dalam mereka. Saya mempunyai empat saudara. Walaupun kami kadang-kadang saling bertengkar, tetapi ketika seseorang mencoba melukai kami, kami segera bersatu karena kami sedarah. Demikian pula, hayat Bapa, yaitu realitas kesatuan yang murni, telah menyatukan kita. Jangan mempedulikan kesukaan atau kebencian Anda. Perasaan Anda dapat menyebabkan Anda tidak senang terhadap saya, dan temperamen saya membuat saya tidak senang terhadap Anda. Tetapi kita harus melupakan semua perkara itu dan memperhatikan hayat yang di dalam.

Dalam batin Anda, Anda memiliki hayat Bapa; saya pun demikian. Kita semua mempunyai hayat Bapa dan melalui hayat kekal Bapa kita, kita adalah satu.

c. Menikmati Nama Bapa, Diri Bapa Sendiri

Kita menjadi satu dalam nama Bapa melalui menikmati diri Bapa sendiri. Sebagai anak-anak Allah, kita semua memiliki Bapa yang sama. Tetapi ketika kita tidak bersama yang lain, kita tidak merasa bahwa kita menikmati Bapa. Semakin kita menjadi satu melalui hayat-Nya, kita semakin merasa bahwa Bapa begitu nikmat. Ketika kita bersama-sama menyeru, “Ya Bapa,” terasa begitu manis. Namun, jika kita bertengkar dan terpecah menjadi banyak kelompok, dalam situasi yang demikian, kalau kita mencoba menyeru, “Ya Bapa,” kita kehilangan rasa manis Bapa itu. Rasa manis nama Bapa tergantung pada kesatuan anak-Nya. Ketika kita satu, kita menikmati Bapa.

d. Aspek Pertama Kesatuan

Aspek pertama kesatuan, yaitu pembangunan kaum beriman, adalah kesatuan dalam nama Bapa berdasarkan hayat ilahi Bapa. Dalam aspek kesatuan ini, kaum beriman yang dilahirkan oleh hayat Bapa menikmati nama Bapa, yaitu diri Bapa sendiri, sebagai faktor kesatuan mereka. Kita adalah satu karena kita mempunyai satu Bapa. Kita tidak hanya memiliki satu Allah, tetapi juga satu Bapa. Sebutan yang manis ini, Abba Bapa, telah sepenuhnya kita ketahui secara pengalaman, sebab kita memiliki hayat-Nya. Kini kita ada di dalam Dia melalui hayat-Nya.

Kedudukan dan alasan yang pertama untuk kesatuan kita ialah: Kita semua adalah anak-anak Allah yang mem-punyai hayat ilahi yang sama, dan Allah itulah Bapa kita bersama. Karena Allah adalah Bapa Anda dan Bapa saya, maka kita adalah milik keluarga yang sama, keluarga Allah. Anda orang Amerika, dan saya orang China, namun kita dapat memanggil satu sama lain saudara. Ini sangat berharga dan akrab. Pada kenyataannya, saya tidak merasa sebegitu akrab ketika saya ada bersama dengan saudara kandung saya. Tuhan dapat menjadi saksi dalam hal ini bagi saya. Mengapa demikian? Karena kita semua dilahirkan dari Bapa yang sama, memiliki hayat yang sama, dan adalah saudara dalam hayat ini. Kita bukan saudara ipar kita adalah saudara dalam hayat. Puji Tuhan, karena kita adalah saudara dalam hayat Bapa! Karena inilah kita harus bersatu. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersatu, karena kita adalah satu keluarga yang memiliki Bapa yang sama dan hayat yang sama pula. Karena itu, kita mempunyai persaudaraan yang sejati dalam hayat. Dalam hayat ini, kita semua harus dan dapat bersatu.

e. Penuh Sukacita

Dalam ayat 13, Tuhan berkata kepada Bapa, “Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.” Penuh sukacita adalah di dalam kesatuan yang sejati. Ketika kita bersatu dalam nama Bapa melalui hayat Bapa, bersama-sama menikmati Bapa, kita akan dipenuhi oleh sukacita Tuhan di dalam kita. Inilah sebabnya ketika kita benar-benar bersatu, kita dipenuhi dengan puji-pujian kepada Bapa. Pujian ini tidak lain merupakan keluapan sukacita batiniah. Kita bersukacita dalam kesatuan yang meluapkan sukacita.