← Daftar isi Yohanes (4) · bab 3/16

DOA HAYAT (1)

Dalam berita ini kita akan melihat doa yang dalam dan misterius yang diucapkan oleh Tuhan dalam Yohanes 17. Doa ini ialah doa penyempurnaan pemberitaan Tuhan dalam Yohanes 14, 15, dan 16. Kalau kita membaca Yohanes 14 sampai 17 dengan saksama, kita akan mengetahui bahwa keempat pasal ini terasa manis, khususnya dalam penuturan dan susunan. Rasa manis ini sama sekali berbeda dengan pasal-pasal lain dalam Alkitab. Walau seluruh Alkitab tidak disangsikan lagi adalah embusan Allah, tetapi keempat pasal ini mempunyai rasa yang istimewa, rasa manis khusus yang tidak dapat ditiru siapa pun. Rasa ini tidak saja kudus tetapi juga ilahi. Tidak seorang pun dapat menuturkan hal yang sedemikian ilahi. Cita rasa pasal ini istimewa, mengesankan, dan unik, karena seluruhnya ilahi. Orang yang menyusun pasal ini tentunya ilahi. Tidak seorang pun dapat menulis sesuatu seperti ini. Tidak seorang pun dapat mengatakan, “Bapa, muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.” Hanya Anak (Putra) Allah yang dapat mengucapkan kata-kata itu. Sekalipun Anda mungkin tidak mengerti pasal-pasal ini, kalau Anda membacanya di dalam roh, Anda akan merasakan kemanisan ilahi. Inilah perkataan ilahi, pernyataan ilahi, dan aliran ilahi dengan aroma ilahi. Saya sangat percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah. Selain Allah, siapa yang dapat menyusun keempat pasal ini? Dapatkah Yohanes, seorang nelayan dari Galilea, mengatakan perkara-perkara ini? Mustahil. Sekalipun kita menghimpun dua ratus orang dengan gelar profesor, mereka tidak akan mampu membuat tulisan dengan aroma yang demikian. Betapa kita harus menyembah Tuhan karena keempat pasal ini! Kita harus menyembah Dia karena berita yang Ia sampaikan sebelum kematian-Nya, dan kita harus menyembah Dia karena doa penutup-Nya.

Agar mengerti makna doa-Nya, kita harus ingat inti pemikiran berita yang diberikan Tuhan dalam tiga pasal sebelumnya. Inti pemikiran berita itu kaya, dalam, dan misterius. Aspek pertama dari inti pemikiran ini ialah Tuhan Yesus, Putra Allah, diutus oleh Allah Bapa ke tengah-tengah kita. Kemudian Ia bertransfigurasi dari daging menjadi Roh, sehingga Ia dapat masuk ke dalam kita. Dengan kata lain, Ia ditransfigurasikan ke dalam Roh Kudus dan Ia masuk ke dalam kita sebagai Roh Kudus. Ketika Roh Kudus masuk ke dalam kita, Ia datang sebagai Roh realitas, membuat Tuhan Yesus riil bagi kita dalam segala aspek. Dengan demikian, Tuhan membawa kita ke dalam Bapa dan membawa Bapa ke dalam kita. Inilah perbauran ilahi dengan insani. Tercakup dalam perbauran ini adalah saling tinggal. Kita menjadi tempat tinggal Allah Tritunggal, dan Allah Tritunggal menjadi tempat tinggal kita. Kita dapat tinggal di dalam Allah Tritunggal dan Allah Tritunggal dapat tinggal di dalam kita. Inilah inti pemikiran pemberitaan yang dalam, misterius, dan mulia yang disampaikan Tuhan dalam ketiga pasal ini. Setelah menyampaikan berita itu, Tuhan mengucapkan doa penutup.

Apakah subyek, inti pemikiran doa ini? Walau subyek doa ini sangat tergantung pada inti pemikiran berita sebelumnya, namun tetap sulit bagi kita untuk menemukan apa subyek ini. Saya menghabiskan banyak waktu pada Yohanes 17, tanpa memperoleh gagasan apa pun tentang makna doa ini. Ketika saya masih muda, saya mendengar bahwa doa Tuhan dalam pasal ini adalah untuk kesatuan; tetapi kesatuan di antara murid-murid Tuhan bukanlah subyeknya. Kesatuan berada pada permukaan. Sesuatu yang lebih dalam dan misterius ada di bawah permukaan dan kita tidak mudah menggalinya keluar. Yohanes 17 merupakan satu pasal yang dalam dan sulit untuk dimengerti. Betapa kita bersyukur kepada Tuhan bahwa berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, Ia menunjukkan kepada kita makna sesungguhnya yang terkandung dalam inti pemikiran doa-Nya dalam pasal ini.

I. PUTRA DIMULIAKAN

AGAR BAPA DAPAT DIMULIAKAN

Konsepsi dasar doa Tuhan dalam Yohanes 17 ialah kemuliaan. Dalam ayat 1 Tuhan berkata, “Bapa telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.” Inilah subyek dan titik inti doa ini. Kalau kita melihat butir inti ketiga pasal sebelumnya, kita akan dapat mengerti apa artinya Anak dimuliakan agar Bapa dapat dimuliakan. Bapa memuliakan Anak sehingga Anak dapat memuliakan Bapa. Inilah saling memuliakan antara Anak dengan Bapa. Kalau Bapa memuliakan Anak, maka Anak akan memuliakan Bapa.

Sebagaimana doa sesudah suatu berita menyampaikan butir utama berita itu, demikian juga doa kesimpulan Tuhan mencakup butir utama pemberitaan yang Ia sampaikan dalam ketiga pasal sebelumnya. Ingatlah akan hal ini, sebab ini akan membantu Anda mengerti doa ini. Butir utama pemberitaan Tuhan dalam Yohanes 14-16 ialah Putra dimuliakan sehingga Bapa dapat dimuliakan di dalam Putra. Dengan jalan apa Bapa dimuliakan di dalam Putra? Melalui organisme pohon anggur. Sebagaimana kita melihat, organisme pohon anggur adalah untuk perkembangbiakan dan penyebaran hayat, yakni untuk perlipatgandaan dan reproduksi hayat, dan juga untuk ekspresi Allah Tritunggal. Ketika Allah Tritunggal dikembangbiakkan, dilipatgandakan, dan diekspresikan melalui organisme ini, Putra dimuliakan dan dalam kemuliaan Putra, Bapa pun dimuliakan. Karena itu, Tuhan berdoa agar Ia (Putra) dimuliakan, sehingga Bapa juga dapat dimuliakan.

Ketetapan kehendak kekal Allah, maksud tujuan Allah yang terakhir ialah untuk menyatakan, mengekspresikan diri-Nya. Sebagaimana telah saya tunjukkan beberapa kali di masa lampau, kemuliaan berarti ekspresi. Dimuliakan ialah dinyatakan dan diekspresikan. Misalnya, listrik yang tidak diekspresikan berarti tersembunyi. Sebelum lampu dinyalakan, listrik tersembunyi dalam lampu. Tetapi ketika lampu dinyalakan, listrik dinyatakan dan diekspresikan. Demikian pula, menyatakan dan mengekspresikan diri-Nya ialah maksud tujuan Allah. Seperti listrik dimuliakan ketika diekspresikan, maka Allah dimuliakan ketika Ia diekspresikan.

Dalam penciptaan, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej. 1:26). Gambar menunjukkan suatu ekspresi. Tanpa adanya suatu gambar, Allah takkan dapat diekspresikan. Jadi, gambar adalah ekspresi Allah sendiri. Maksud tujuan Allah dalam menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri adalah agar Ia dapat diekspresikan. Tuhan Yesus ialah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia untuk menyatakan Allah yang tidak kelihatan. Yohanes 1:18 mengatakan bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi Putra telah menyatakan Dia. Allah tidak dapat dilihat dan tidak kelihatan. Tidak seorang pun, kecuali Putra Allah, pernah melihat-Nya. Sekarang, dalam inkarnasi-Nya, Putra telah menyatakan Allah. Menyatakan Allah berarti mengekspresikan Allah. Tuhan Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15), ini berarti Dia adalah ekspresi Allah yang tidak kelihatan itu.

Ilustrasi yang paling baik untuk kemuliaan ialah sekuntum bunga yang sedang mekar. Sebutir benih bunga anyelir, misalnya, ditaburkan ke dalam tanah. Setelah tumbuh dari tanah, ia berbunga. Berbunga ini adalah kemuliaan benih anyelir. Benih anyelir mengandung unsur hayat dan bentuk hayat bunga anyelir. Bentuk, warna, dan keindahan bunga anyelir, semua terkandung dalam benih bunga anyelir yang kecil, tetapi tak seorang pun dapat melihat bentuk, warna, dan keindahan ini sampai benih itu tumbuh keluar dari tanah dan berbunga. Bunga itu adalah kemuliaan benih. Berbunga ialah kemuliaan benih itu, karena melalui berbungalah benih dimuliakan, yakni diekspresikan.

Ketika Tuhan Yesus datang dalam tubuh daging, Ia seperti benih anyelir yang kecil itu. Di dalam Dia, yaitu dalam bentuk insani-Nya, kerangka insani-Nya, tersembunyi keindahan dan bentuk hayat ilahi. Segala aspek warna hayat ilahi tersembunyi dan terbatas dalam orang Nazaret yang kecil ini. Pada suatu hari, Ia ditaburkan ke dalam tanah. Setelah mati, Ia tumbuh dan berbunga dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan-Nya, keindahan, bentuk, pola, warna, dan kekayaan hayat dibebaskan dan diekspresikan. Itulah kemuliaan Putra. Karena segala adanya Allah Bapa telah menjelma ke dalam Putra, maka ketika Putra dimuliakan, Bapa pun dimuliakan dalam kemuliaan Putra.

Setelah Tuhan menjadi daging, Ia mengekpresikan Allah hanya sampai pada suatu taraf, tetapi kemuliaan Allah, kemuliaan semua kebajikan-Nya tersembunyi, terbungkus oleh tubuh daging-Nya. Sebab itu, Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Ia harus mati dan dibangkitkan. Kata “mati” bukan sebuah kata yang menyenangkan bagi kita. Namun, terhadap sebuah benih, dimasukkan ke dalam tanah dan mati itu lebih baik. Lebih baik, karena kemuliaan dan keindahan bunga yang tersembunyi dalam benih itu akan dibebaskan melalui kematian dan kebangkitannya. Memuliakan Putra berarti mengekspresikan semua kemuliaan yang tersembunyi dalam tubuh daging-Nya, membebaskan semua kemuliaan ilahi yang tersembunyi dalam tubuh daging Putra melalui kematian dan kebangkitan.

Kita telah melihat bahwa subyek doa Tuhan dalam Yohanes 17 ialah kemuliaan. Tuhan adalah Allah berinkarnasi dalam daging, dan daging-Nya adalah kemah bagi Allah untuk tinggal di bumi (1:14). Unsur ilahi-Nya terbatasi di dalam insani-Nya, seperti terang kemuliaan Allah yang terbatasi di dalam kemah. Ketika di gunung perubahan, unsur ilahi-Nya pernah terbebaskan dari dalam daging-Nya, terekspresi di dalam kemuliaan, dan dilihat oleh tiga orang murid-Nya (Mat. 17:1-4; Yoh. 1:14), tetapi setelah itu, unsur ilahi-Nya kembali tersembunyi di dalam tubuh daging-Nya. Sebelum doa ini, Tuhan menubuatkan bahwa Dia akan dimuliakan dan Bapa juga akan dimuliakan di dalam diri-Nya (12:23; 13:31-32). Kini Dia akan melewati mati agar tempurung insani-Nya bisa terpecahkan, sehingga unsur ilahi-Nya, hayat ilahi-Nya, terbebaskan. Dia juga akan bangkit untuk meninggikan insani-Nya ke dalam unsur ilahi, dan supaya unsur ilahi-Nya terekspresikan, sehingga antero diri-Nya, keilahian dan keinsanian-Nya dimuliakan. Demikian, Bapa juga dimuliakan di atas diri-Nya. Dalam Yohanes 17, Dia berdoa untuk ini.

Doa penutup Tuhan adalah untuk kemuliaan Allah Tritunggal. Penggenapan dan jawaban doa untuk kemuliaan Allah Tritunggal ini ada tiga tahap. Tahap pertama ialah kebangkitan Tuhan. Dalam kebangkitan Tuhan, semua keindahan hayat, esens hayat, warna hayat, bentuk hayat, dan semua aspek hayat ilahi Allah Tritunggal dibebaskan dari dalam insani-Nya dan disalurkan ke dalam kaum beriman-Nya (12:23-24), dan seluruh diri-Nya, termasuk insani-Nya, dibawa masuk ke dalam kemuliaan (Luk. 24:26), juga di dalam unsur ilahi Bapa terekspresikan di dalam kemuliaan kebangkitan-Nya. Di dalam kebangkitan-Nya, Allah menjawab dan menggenapkan doa-Nya (Kis. 3:13-15).

Kedua, doa ini telah digenapkan di dalam gereja. Ini dikarenakan, hayat kebangkitan-Nya telah diekspresikan melalui banyak anggota Tubuh-Nya, demikian Ia dimuliakan di dalam mereka, dan Bapa dimuliakan di dalam Dia melalui gereja (Ef. 3:21; 1Tim. 3:15-16). Lihatlah gereja dalam Kitab Kisah Para Rasul pada hari Pentakosta. Di sana kita melihat keindahan, gambar, dan kelimpahan hayat ilahi. Kebangkitan Tuhan bukan penggenapan lengkap doa-Nya, melainkan hanya langkah pertama dalam penggenapan doa ini. Langkah berikutnya ialah gereja. Sejak hari kebangkitan sampai kedatangan Tuhan kali kedua adalah zaman gereja. Pada zaman ini, Tuhan memuliakan diri-Nya dalam kaum beriman. Melalui semua generasi, Putra Allah telah dimuliakan dan tetap dimuliakan. Apa yang kita lakukan hari ini? Kalau kita mengatakan kita datang berhimpun untuk memamerkan Kristus, berarti kita memuliakan Kristus agar Dia terekspresi. Kalau kita mengatakan kita bersaksi untuk Tuhan, berarti kita membiarkan Kristus ternyatakan melalui kita. Bersaksi bagi Tuhan adalah Tuhan memperoleh ekspresi dan kemuliaan melalui kita. Kalau kita menghendaki suatu kesaksian bagi Tuhan Yesus dalam pekerjaan kita, di sekolah, dan di banyak tempat lain, itu menunjukkan bahwa kita menginginkan Tuhan Yesus diekspresikan melalui kita. Inilah kemuliaan Tuhan. Ketika Tuhan diekspresikan dan dimuliakan melalui kita, pada saat itu Bapa dimuliakan dalam Tuhan. Jadi, doa Tuhan masih digenapkan pada hari ini melalui gereja.

Dalam gereja, kita dapat melihat keindahan dan kekayaan hayat ilahi. Tetapi adakalanya kita pun dapat melihat ada ekspresi insani yang buruk dalam gereja. Di satu pihak, gereja penuh hayat ilahi, di pihak lain, masih tetap dalam hayat alamiah manusia. Dalam gereja, hayat ilahi diekspresikan. Ketika hayat ilahi diekspresikan, itulah keindahan dan kemuliaan. Tetapi ketika hayat alamiah manusia diekspresikan, itulah suatu aib yang memalukan.

Jangan memandang gereja pada segi gelapnya. Jangan mencari-cari kaleng-kaleng rombeng dalam tong sampah, datanglah ke ruang tamu dan lihatlah semua keindahan yang ada di sana. Di setiap rumah paling sedikit ada satu tempat sampah. Demikian pula, di setiap gereja lokal terdapat suatu tempat untuk sampah. Tempat itu sangat buruk dan berbau busuk. Jangan coba-coba menemukannya. Sebaliknya, duduklah di ruang tamu setiap gereja lokal. Bila Anda mengunjungi satu gereja lokal, Anda harus melupakan tempat sampah-sampah itu berada. Anda bukan ke sana sebagai pencari sampah. Anda pergi ke sana mengunjungi gereja, Anda perlu tinggal di ruang tamu gereja, menikmati keindahan hayat ilahi yang dieskpresikan dalam gereja itu. Bagaimanapun lemahnya suatu gereja, paling tidak, tentu terdapat sejumlah kecil keindahan hayat ilahi di dalamnya. Kita perlu memandang keindahan hayat ilahi di dalamnya. Kita perlu memandang keindahan hidup gereja, sebab hidup gereja ialah tahap kedua kemuliaan Allah Tritunggal.

Beberapa saudara saudari tidak berbuat apa pun selain melihat-lihat sampah di gereja lokal. Ada beberapa yang bukan saja pencari sampah, bahkan juga tukang pamer sampah. Mereka tidak melihat keindahan hayat ilahi dalam gereja lokal mereka. Mereka selalu memperhatikan sampah-sampah. Mereka mencari sampah, menemukan sampah, dan juga memamerkan sampah. Mereka suka membuat pertunjukan untuk memamerkan semua sampah dalam gereja lokal mereka. Ketika mereka berbuat demikian, mereka berada dalam kegelapan. Kadang-kadang sebelum mengunjungi gereja lokal lain, sekerja muda datang kepada saya meminta nasihat. Saya selalu berkata kepada mereka, “Ketika Anda pergi ke gereja itu, berusahalah mencari hal-hal yang baik. Lupakanlah hal-hal buruk apa pun yang Anda lihat. Janganlah memandangnya. Jangan terkesan dengan sampah-sampah dalam gereja yang Anda kunjungi.” Bahkan dalam gereja lokal Anda pun, Anda wajib tidak mencoba mencari sampah. Bila tidak, Anda akan menjadi orang pertama yang menderita. Sampah akan pertama-tama merusak Anda. Saya suka pergi ke meja makan sebuah gereja lokal. Di setiap rumah, yang terbaik ditaruh di atas meja makan. Pergi dan duduklah di samping meja, menikmati apa yang ada di sana, dan berkata, “Puji Tuhan! Haleluya!” Setelah Anda dipuaskan, katakan selamat tinggal dan pergilah. Saya tidak mau mengetahui apa pun yang buruk dan negatif. Apa yang saya lihat seluruhnya mulia. Kita harus percaya bahwa setiap gereja lokal, asalkan wajar, pasti mempunyai sejumlah keindahan hayat ilahi yang khas.

Apa tahap ketiga penggenapan doa Tuhan dalam Yohanes 17? Yerusalem Baru. Doa dalam Yohanes 17 ini akan digenapkan seluruhnya di dalam Yerusalem Baru. Melalui kota kudus, Putra akan mendapatkan ekspresi yang sempurna di dalam kemuliaan, Allah juga akan mendapatkan kemuliaan di dalam Dia, sampai selamanya (Why. 21:11, 23-24). Lihatlah gambaran Yerusalem Baru: Itu adalah sebuah bejana untuk mengekspresikan Kristus, membuat Allah terekspresi melalui Kristus. Yerusalem Baru ialah dimuliakannya Putra agar Bapa dapat dimuliakan melalui Putra.

Anda mungkin tidak jelas tentang gambaran Yerusalem Baru. Wahyu 21 dan 22 jelas mewahyukan bahwa Allah itu terang dan bahwa Kristus, Anak Domba itu, adalah pelita. Terang ada dalam pelita dan pelita ialah pusat kota, di sekelilingnya terdapat dinding tembus cahaya. Allah digambarkan sebagai terang yang bercahaya melalui pelita, Putra Allah. Putra Allah akan dimuliakan melalui dinding tembus cahaya kota itu. Kota itu terdiri atas semua orang tebusan, mempunyai nama-nama dua belas suku yang mewakili semua orang beriman Perjanjian Baru. Yerusalem Baru merupakan komposisi semua orang tebusan yang sangat bening dan dibangunkan bersama. Mereka memiliki Kristus, pusat itu, sebagai pelita di mana Allah, terang itu, bersinar. Ketika pelita diekspresikan dan dimuliakan melalui dinding kota itu, terang dalam pelita pun dimuliakan.

Yerusalem Baru ialah gambaran sempurna yang menunjukkan bagaimana Putra dimuliakan dalam kota itu, dan bagaimana Bapa dimuliakan dalam kemuliaan Putra. Sering kali ada orang beriman yang terkasih berkata kepada saya, “Saudara, Anda tidak mengetahui betapa celaka gereja di mana aku berada.” Saya tidak suka mendengar hal demikian. Itu bohong. Gereja mungkin celaka hari ini, tetapi setelah suatu saat, tidak celaka lagi. Anda mungkin tidak beriman ketika mengatakan demikian tentang gereja lokal Anda. Anda mungkin mengatakan, “Tidak, gereja di lokalku tidak bisa berubah menjadi baik.” Jangan menggu-nakan kata “tidak bisa”, karena paling tidak gereja akan menjadi baik dalam Yerusalem Baru. Setiap bagian kota Yerusalem Baru adalah terang dan mulia.

Pada tahun 1941, dalam suatu Sidang Doa di Shanghai, seorang saudari yang memimpin mengucapkan suatu doa yang panjang. Dalam doa itu ia berkata dengan mengeluh, “Oh Tuhan, belas kasihanilah kami. Gereja di sini begitu lemah.” Segera setelah itu, Saudara Watchman Nee berdoa, ia mengatakan, “Puji Tuhan, gereja tidak lemah. Gereja itu mulia.” Doa Saudara Watchman Nee mengejutkan setiap orang. Nampaknya seolah-olah dua doa ini saling berperang. Doa mana yang benar? Pada akhirnya, ketika kita masuk ke dalam Yerusalem Baru, kita akan melihat bahwa doa Saudara Watchman Nee yang benar. Gereja benar-benar mulia. Jangan membantu Iblis, pendusta, menyiarkan dustanya. Jangan mempercayai dusta-dusta itu. Gereja itu mulia, kalau hari ini tidak demikian, maka besok, tahun depan, atau pada zaman berikutnya pasti akan mulia. Dalam kekekalan, sudah tentu seluruh gereja adalah mulia.

Kita telah melihat bahwa doa Tuhan mempunyai kegenapan tiga ganda. Tahap pertama penggenapan ini adalah kebangkitan Yesus. Melalui kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus telah diekspresikan dan dimuliakan, dan oleh kemuliaan ini Bapa pun dimuliakan. Tahap kedua penggenapannya ialah dalam gereja. Sejak hari Pentakosta sampai pada hari kedatangan Tuhan kali kedua, Roh Kudus telah mengekspresikan dan akan terus mengekspresikan Kristus melalui kaum beriman. Dengan kata lain, Roh Kudus memuliakan Kristus melalui gereja. Ketika Kristus dimuliakan, Bapa pun dimuliakan dalam Putra. Tahap terakhir penggenapan doa ini akan terjadi pada saat kegenapan waktu itu tiba. Pada waktu itu, semua orang yang ditebus, dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru, akan tersusun menjadi satu sebagai ekspresi sempurna Allah Tritunggal. Dalam ekspresi sempurna ini, Kristus akan menjadi pelita dan Allah akan menjadi terang. Kristus akan diekspresikan dan dimuliakan melalui Yerusalem Baru, dan Allah Bapa juga akan diekspresikan dan dimuliakan dalam Putra melalui Yerusalem Baru. Waktu itu akan menjadi kegenapan sempurna firman Tuhan, “Muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.”

A. Putra Dimuliakan

Putra dimuliakan bersama dengan Bapa (Yoh. 17:1, 5). Dalam ayat 5 Tuhan berkata, “Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” Kata “dengan” dalam ayat ini mengandung arti “bersama dengan”. Ini berarti Putra mutlak sama dengan Bapa dalam kemuliaan. Putra dimuliakan bersama dengan Bapa dan dengan kemuliaan yang sama yang dimiliki Bapa. Kata ini menegaskan yang ditunjukkan dalam ayat 1 tentang keilahian persona Tuhan bahwa Ia memiliki kemuliaan ilahi bersama dengan Bapa sebelum dunia ada, yaitu dalam kekekalan lampau, karena itu sekarang Ia harus dimuliakan bersama Bapa dengan kemuliaan itu. Tuhan berbagian dalam kemuliaan ilahi, bukan oleh diri-Nya sendiri secara terpisah, melainkan bersama Bapa, karena Ia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30). Melalui doa sedemikian ini, Tuhan menyatakan persona-Nya, keilahian-Nya; Dia sama dengan Bapa dalam kemuliaan ilahi.

B. Supaya Bapa Dimuliakan

1. Dalam Kemuliaan Putra

Bapa dimuliakan dalam kemuliaan Putra. Bapa tidak dapat dimuliakan terpisah dari Putra karena Bapa telah menyerahkan segala apa adanya Dia dan milik-Nya kepada Putra. Bapa menjelma dalam Putra, maka Bapa tidak dapat dimuliakan terpisah dari Putra, tetapi hanya dalam kemuliaan Putra. Kita telah melihat bahwa Tuhan telah dimuliakan dalam kebangkitan-Nya. Asalkan Tuhan diekspresikan dan dimuliakan, Bapa pun diekspresikan dan dimuliakan. Karena Tuhan adalah satu dengan Bapa dan Bapa di dalam Tuhan, maka pembebasan kemuliaan dan keindahan Tuhan mengekspresikan kemuliaan dan keindahan Allah Bapa. Karena Mereka berdua adalah satu, maka Bapa dimuliakan dalam kemuliaan Putra. Karena Bapa di dalam Putra, Tuhan berkata, “Muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.”

2. Melalui Orang-orang yang Percaya Putra

Kemuliaan Bapa juga melalui orang-orang yang percaya Putra. Bapa adalah sumber, esens, asal usul, dan segala sesuatu pohon anggur. Tetapi pohon anggur tidak dapat diekspresikan dan dimuliakan tanpa ranting-ranting. Bapa dimuliakan dalam kemuliaan Putra melalui ranting-ranting-Nya (orang-orang yang percaya Putra).

C. Persona Putra

Dalam ayat 1 dan 5 kita melihat bahwa keilahian dan ke-Allahan Putra adalah sama seperti Bapa. Putra itu ilahi, sama seperti Bapa itu ilahi. Keilahian Bapa adalah keilahian Putra; keilahian Putra sama dengan keilahian Bapa. Kata-kata “muliakanlah Aku di hadirat-Mu (bersama-Mu) sendiri”, menunjukkan bahwa kemuliaan Putra ialah kemuliaan Bapa. Misalnya, ketika saya menyediakan makan malam dengan kawan saya, berarti makan malam disediakan untuk saya dan kawan saya. Teman saya sederajat dengan saya. Demikian pula, Putra sederajat dengan Bapa. Putra dimuliakan bersama dengan Bapa dengan kemuliaan yang Bapa berikan kepada-Nya sebelum dunia diciptakan. Jadi, Putra sederajat dengan Bapa. Dengan kata lain, persona Tuhan dapat disederajatkan dengan Bapa. Kemuliaan Putra akan sederajat dengan kemuliaan Bapa. Sebab itu, persona-Nya sama dengan persona Bapa.

D. Pekerjaan Putra

Ayat 2 mengatakan, “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup (hayat) yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.” Ayat ini menunjukkan pekerjaan Tuhan. Tuhan memiliki kuasa Bapa untuk mengatur semua orang, sehingga Dia bisa memberikan hayat yang kekal, bukan kepada semua orang, melainkan hanya kepada orang-orang yang Bapa berikan kepada-Nya, yakni orang-orang yang telah dipilih Bapa. Bapa telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, atas seluruh umat manusia. Seluruh umat manusia di bawah kuasa Putra, karena Bapa telah mempercayakan kekuasaan ini kepada-Nya. Tuhan berkuasa memerintah seluruh manusia. Untuk apa Ia memiliki kekuasaan ini? Agar Ia dapat memberikan hayat yang kekal kepada semua orang yang Bapa berikan kepada-Nya. Jika kita membaca ayat ini dengan cermat, kita akan melihat bahwa Tuhan berkuasa memerintah seluruh umat manusia dan memberikan hayat yang kekal kepada manusia yang telah Bapa pilih dan yang telah Bapa berikan kepada Tuhan. Tuhan menciptakan manusia, menggunakan kuasa-Nya atas manusia, dan menebus sejumlah orang di antara mereka dengan maksud memberi mereka hayat yang kekal. Dengan kata lain, Tuhan pertama-tama harus menciptakan, kemudian menguasai, menebus, dan akhirnya memberi hayat kepada sekelompok orang yang terpilih. Jadi, pekerjaan Tuhan mencakup penciptaan, penguasaan, penebusan, dan penyaluran hayat. Tuhan sederajat dengan Bapa: Dialah pencipta, penguasa, penebus, dan pemberi hayat yang kekal. Jangan mengira bahwa Anda menerima hayat yang kekal secara kebetulan. Tidak, bukan suatu kebetulan. Di antara bermilyar-milyar orang, Allah Bapa telah mengasihi Anda, telah memilih Anda, dan telah memeteraikan Anda. Ada suatu meterai ilahi pada diri kita.

Bapa bukan hanya memeteraikan kita, tetapi juga memberikan kita kepada Putra. Jangan mengira Anda hanya orang dosa yang celaka dan kasihan. Di satu aspek, memang demikian; tetapi di aspek lain, Anda adalah sebuah hadiah untuk Putra. Anda perlu mengatakan, “Puji Allah Tritunggal bahwa aku adalah sebuah hadiah berharga yang Bapa berikan kepada Putra. Aku terkasih, berharga, baik, tinggi, dan bahkan indah. Aku adalah sebuah hadiah bukan tong sampah. Allah tidak akan pernah memberikan tong sampah kepada Putra-Nya. Sebagai seorang yang telah diberikan kepada Putra Allah yang terkasih, aku berharga, terkasih, indah, dan manis.” Jika Anda melihat hal ini, maka pandangan, sikap, dan konsepsi Anda akan berubah, bukan hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap semua orang beriman. Percayakah Anda bahwa semua saudara saudari yang terkasih ialah hadiah bagi Putra? Percayakah Anda bahwa orang yang tidak Anda senangi ialah hadiah sedemikian? Kalau Anda nampak hal ini, Anda akan mengasihi setiap orang beriman, sebab setiap orang beriman yang terkasih ialah hadiah yang telah dipilih oleh Bapa dan diberikan kepada Putra. Bapa telah memilih kita dari antara bermilyar-milyar orang. Kita semua adalah kaum terpilih, kaum unggul dalam toko hadiah universal. Kita semua telah dipilih dan diberikan kepada Putra Allah yang terkasih.

Bapa telah memberi Putra kekuasaan, bukan hanya untuk menguasai umat manusia, tetapi juga untuk mempertahankan umat manusia. Allah Putra menggunakan kekuasaan-Nya untuk memelihara umat manusia, agar kita dapat hidup di bumi. Orang seperti Hitler telah membunuh sejumlah besar orang. Tetapi Allah Putra seakan-akan berkata, “Hitler, pergilah engkau ke neraka. Aku harus mempertahankan umat manusia. Banyak hadiah terkasih yang telah Bapa berikan kepada-Ku harus hidup. Aku menjaga hadiah-hadiah itu.” Puji Tuhan, kita semua adalah hadiah terkasih yang telah Bapa berikan kepada Putra.

E. Hayat yang Kekal

Dalam ayat 3 Tuhan mengatakan, “Inilah hidup (hayat) yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Apakah hayat yang kekal itu? Ketika muda, saya diberi tahu bahwa hayat yang kekal hanyalah suatu berkat di masa yang akan datang. Hayat yang kekal adalah hayat yang ilahi dengan fungsi yang khusus mengenal Allah dan Kristus (bandingkan dengan Mat. 11:27). Setiap hayat mempunyai fungsinya. Fungsi hayat anjing ialah menyalak, fungsi hayat burung ialah terbang, fungsi hayat kucing menangkap tikus, dan fungsi hayat ayam mengerami telur. Fungsi hayat ilahi adalah mengenal Allah. Allah dan Kristus adalah ilahi. Untuk mengenal persona ilahi, kita perlu hayat ilahi. Karena kaum beriman dilahirkan dengan hayat ilahi, mereka mengenal Allah dan Kristus (Ibr. 8:11; Flp. 3:10). Ibrani 8:11 mengatakan bahwa tidak perlu kita mengajar setiap orang beriman Perjanjian Baru untuk mengenal Allah. Mengapa tidak perlu? Sebab setiap orang beriman Perjanjian Baru mengenal Allah. Kaum beriman Perjanjian Baru mempunyai hayat ilahi, dan hayat ilahi adalah hayat yang mengenal Allah. Kita tidak perlu mengajar anjing menyalak, sebab hayat anjing mempunyai fungsi menyalak. Demikian pula, karena kita memiliki hayat ilahi, kita tidak perlu diajar mengenal Allah, sebab fungsi hayat ilahi ialah mengenal Allah dan Kristus. Oh, kita dapat mengenal Kristus! Kita semua dapat mengenal Kristus karena kita memiliki hayat ilahi, hayat yang berfungsi untuk mengenal Allah dan Kristus.