Daftar isi Dua Belas Bakul (1) · bab 2/12

Salib yang Kekal

“Karena itu, Dialah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima warisan kekal yang dijanjikan, sebab sudah ada yang mati untuk menebus pelanggaranpelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama. Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab wasiat tidak berlaku, selama pembuat wasiat masih hidup.”

Ibrani 9:15-17

Beberapa ayat di sini mengungkapkan hubungan antara salib Kristus dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita tahu, sebagaimana pada zaman kini, pada zaman perjanjian yang pertama, jika seseorang berbuat dosa, maka ia memerlukan seorang Juruselamat. Jika seseorang berbuat dosa dan tidak mendapatkan pengampunan Allah, maka ia akan menanggung hukuman dosa. Allah tidak bisa hanya karena berbelaskasihan, lalu mengampuni dosa manusia. Allah tidak bisa menjerumuskan diri-Nya sendiri ke dalam ketidakadilan. Karena itu, dalam cara penebusan Allah, Ia menetapkan satu cara penggantian. Pada zaman Perjanjian Lama, Allah memakai banyak kurban bagi manusia untuk menebus dosa; begitu manusia memiliki kematian penggantian dari binatang kurban, maka ia akan mendapatkan pengampunan keadilan Allah.

“Penebusan dosa” dalam bahasa Ibrani berarti “ditutupi”. Penebusan dosa dalam Perjanjian Lama hanyalah menutupi dosa manusia dengan darah binatang kurban. Alkitab dengan jelas mengatakan, “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan manghapuskan dosa” (Ibr. 10:4). Sebab itu, ketika waktunya telah genap, Allah mengutus Anak-Nya sendiri datang ke dalam dunia, mati menggantikan orang dosa. Karena Dia telah sekali mempersembahkan diri-Nya sendiri, tergenaplah keselamatan penebusan dosa yang kekal. Dosa dalam Perjanjian Lama yang tidak dapat dihapuskan oleh darah lembu jantan dan darah domba jantan, kini karena kematian-Nya, semua itu dapat dihapuskan; karena Dia adalah “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Karena di antara darah binatang kurban, Allah telah melihat darah Anak-Nya dan khasiat darah-Nya, maka jika Tuhan Yesus tidak mati, masalah dosa dalam perjanjian yang pertama tidak dapat dibereskan. Dia telah mati menghapuskan dosa dalam perjanjian yang pertama, mengakhiri perjanjian yang pertama, dan memulai satu Perjanjian Baru.

“Karena itu, Dialah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru.” Dia menjadi Pengantara Perjanjian Baru berdasarkan Dia telah menebus dosa manusia dalam perjanjian yang pertama. Sebenarnya manusia telah memiliki janji akan warisan kekal, tetapi karena berdosa, manusia tidak bisa memperolehnya. Sekarang karena Dia telah mati, dosa telah ditebus, maka kaum terpanggil bisa memperoleh warisan kekal. Karena itu, demi kematian-Nya di salib, Tuhan Yesus telah menjadi Pengantara, di satu pihak telah menamatkan dosa Perjanjian Lama dan di pihak lain memulai berkat Perjanjian Baru.

Ibrani 9:15 mengatakan bahwa Dia menjadi Pengantara. Ayat 16 mengatakan bahwa Dia adalah pembuat wasiat itu. “Wasiat” dalam bahasa aslinya berarti “Perjanjian”. Kalimat di atasnya menyinggung tentang hukum Taurat perjanjian, siapa saja yang melanggar hukum itu pasti mati, karena itu Kristus mati menebus dosa bagi kita. Sekarang kita singgung wasiat perjanjian. Arti wasiat ialah ketetapan dari pembuat wasiat agar setelah dia meninggal, seluruh harta bendanya harus diberikan kepada penerima wasiat. Semua berkat baik pada hari ini maupun pada masa yang akan datang adalah milik-Nya. Kalau Dia telah rela menanggung dosa yang dibuat oleh manusia pada perjanjian yang pertama, Dia pun rela memberikan apa yang dijanjikan dalam perjanjian (wasiat) ini kepada manusia. Untuk menebus dosa manusia, Dia harus mati; supaya manusia menerima wasiat, Dia juga harus mati. (Karena jika Dia tetap hidup, maka wasiat yang dibuat-Nya itu tidak akan berlaku, harus menunggu sampai Dia mati, barulah wasiat itu berlaku). Di sini kita tampak, betapa dalamnya hubungan antara kematian Kristus dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kalau tidak ada kematian-Nya, maka tidak ada Perjanjian Lama dan juga tidak ada Perjanjian Baru. Tanpa kematian-Nya, Perjanjian Lama tidak tergenapkan, karena tuntutan Hukum Taurat belum terpenuhi. Tanpa kematian-Nya, Perjanjian Baru tidak akan muncul, karena berkat wasiat-Nya tidak bisa diberikan kepada kaum terpanggil. Dia telah mati, maka Dia telah mengakhiri Perjanjian Lama dan mendirikan Perjanjian Baru.

BAGAIMANA MANUSIA DALAM PERJANJIAN LAMA BEROLEH SELAMAT

Kalau darah lembu jantan dan darah domba jantan tidak mungkin menghapus dosa, bagaimana manusia dalam Perjanjian Lama bisa beroleh selamat? Melalui salib. Manusialah yang berdosa, karena itu hanya manusia yang boleh menebus dosa. Meskipun binatang kurban itu tidak bercacat, tetap tidak bisa menebus dosa bagi manusia. Kalau demikian, mengapa Allah dalam Imamat pasal 17 menjanjikan penebusan dosa dengan darah binatang yang hidup? Di sini benar-benar ada makna yang penting. Perkara Hukum Taurat, “hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:17). Karena itu, semua persembahan kurban dalam Perjanjian Lama ditujukan kepada Kristus, dan Allah menganggap kematian mereka sebagai kematian Kristus.

Dalam darah binatang-binatang kurban itu, Dia telah melihat darah Anak-Nya yang kekasih; dalam banyak lembu dan domba, Dia telah melihat “Anak Domba Allah”; dalam banyak kurban, Dia telah melihat kematian penggantian Kristus. Ketika Dia menerima kurban-kurban itu, Dia menghitungnya sebagai menerima karya kematian Anak-Nya, karena itulah dosa manusia bisa diampuni. Setiap kali mempersembahkan kurban dalam Perjanjian Lama, itu menyatakan bagaimana kelak Anak Allah mempersembahkan kurban penebusan dosa di Golgota untuk menggenapkan penebusan kekal. Karena Tuhan adalah manusia, maka Ia dapat mengadakan penebusan dosa bagi manusia; karena Tuhan adalah Allah, maka Ia dapat mengadakan penebusan dosa bagi semua manusia dari zaman dulu hingga sekarang.

Orang yang mempersembahkan kurban pada zaman Perjanjian Lama, tanpa disadarinya, mereka percaya kepada seorang Juruselamat yang kelak mati terpaku di atas salib. Semua kurban persembahan mereka, mengarah kepada seorang Juruselamat yang akan datang. Meskipun saat itu Tuhan Yesus belum berinkarnasi, tetapi iman tidak memandang apa yang dapat dilihat, melainkan apa yang tidak terlihat. Iman melihat dari jauh bahwa ada seorang Juruselamat yang mati menggantikan, yang kepada-Nya manusia bisa bersandar. Ketika sampai waktunya, Putra Allah datang, mati bagi manusia, maka apa yang dulu mereka percayai, sekarang telah menjadi kenyataan.

BAGAIMANA MANUSIA DALAM PERJANJIAN BARU BEROLEH SELAMAT

Hari ini kita hidup dalam Perjanjian Baru. Bagaimana manusia dalam Perjanjian Baru bisa beroleh selamat? Kristus telah mati, keselamatan telah genap, jika kita mau percaya Tuhan Yesus, yaitu dengan iman menerima Dia sebagai Juruselamat, maka kita diselamatkan. Ada orang yang tidak mengerti, bagaimana Kristus bisa mati menggantikan dirinya sebelum dia lahir di dunia? Memang, kalau memikirkan ini dengan otak, akan timbul banyak kesulitan; tetapi dalam iman, ini adalah satu kebenaran yang mulia. Kita harus tahu, waktu tidak dapat membatasi Allah. Dari sudut pandangan manusia dunia, puluhan tahun tidaklah sedikit. Tetapi Allah adalah Allah yang kekal, dalam pandangan-Nya, ribuan tahun pun tidak terhitung banyak. Meskipun waktu bisa membatasi kita, tetapi tidak bisa membatasi Allah. Karena itu, ketika kita percaya kepada Tuhan yang telah mati bagi kita, kita beroleh selamat.

Alkitab mengatakan, “Hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri” (Ibr. 7:27). Dia adalah Allah, maka Dia tidak terbatas oleh waktu. Sekali Dia telah menggenapkan hal ini, genaplah selamanya. Sekarang kalau orang dosa mau beroleh selamat, Dia tidak perlu mati sekali lagi baginya, melainkan asal ia menerima manfaat kematian-Nya yang sekali itu, ia beroleh selamat. Bahkan, iman kita pun tidak terbatas oleh waktu, iman bisa membawa orang masuk ke dalam fakta kebenaran yang kekal.

Sebagaimana orang dalam Perjanjian Lama beroleh selamat demi menengadah kepada seorang Juruselamat yang akan datang, kita juga beroleh selamat demi menengadah kepada seorang Juruselamat yang telah lalu. Yang telah lalu bukan berarti perkara ini telah lewat, melainkan berarti perkara ini telah digenapkan. Orang-orang dalam Perjanjian Lama melihat ke depan, kita sekarang melihat ke belakang; orang-orang dalam Perjanjian Lama demi iman menerima seorang Juruselamat yang akan datang, bukankah kita juga demi iman bisa menerima seorang Juruselamat yang telah lalu?

Ketika kita membaca Ibrani 9:12-15, dan menggabungkan ketiga kata “kekal” yang tercatat di dalamnya, terasalah sangat berarti. Yang ingin digenapkan Allah adalah penebusan yang kekal, maka Dia demi Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah, sehingga kita memperoleh warisan yang kekal. Yang telah digenapkan Tuhan Yesus adalah penebusan yang kekal, maka kapan saja seseorang percaya kepada-Nya, ia bisa mendapatkan penebusan ini. Kita harus tahu, nilai salib tidak ditetapkan oleh manusia, nilai salib ditetapkan oleh Allah. Allah memandang penebusan salib adalah kekal. Sebab itu, kita, orang-orang yang tidak benar, kalau percaya kepada salib Anak-Nya sesuai dengan firman-Nya, bisa beroleh selamat.

WAKTU SALIB

Butir ini adalah bagian yang kita perhatikan. Ibrani 10:12 mengatakan, “Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu kurban yang kekal karena dosa” (TI.). “Satu kurban” berarti kurban karena dosa oleh Tuhan Yesus sudah sempurna, Dia cukup sekali saja menebus manusia dari dosa. Bersamaan dengan itu, kurban karena dosa yang Ia persembahkan juga bersifat kekal. “Kurban yang kekal karena dosa” tidak saja berarti, bahwa khasiatnya sampai kekal, bahkan kurban ini juga kekal. Meskipun Kristus telah bangkit, dan hidup sampai selama-lamanya, salib-Nya juga sampai kekal! Meskipun Dia telah bangkit, tetapi salib-Nya tetap berlangsung! Semoga kita tahu bahwa salib-Nya selalu segar, salib-Nya bukan hanya merupakan satu fakta yang telah terjadi pada lebih dari dua ribu tahun yang lalu, bahkan sampai hari ini Ia tetap segar baru.

Wahyu 13:8 mengatakan, “Sejak dunia dijadikan . . . Anak Domba, yang telah disembelih.” Tuhan kita, sejak dunia dijadikan sampai sekarang, bahkan sampai kekal tetap adalah Anak Domba yang telah disembelih. Dalam pandangan-Nya, salib bukan hanya perkara yang terjadi pada tahun, bulan, hari, waktu tertentu, melainkan sejak dunia dijadikan terus berlangsung. Ketika Dia menciptakan manusia, Dia sudah terlebih dulu tahu harga tebusan dosa yang akan datang. Sebelum Dia menciptakan manusia, seolah Dia telah tersalib. Ribuan tahun lamanya, Dia menahan penderitaan salib ini. Sekali menerima mati di gunung Golgota, hanyalah menyatakan betapa Allah di dalam Roh menanggung derita bagi umat manusia. Betapa ajaibnya ini! Kita harus tahu bagaimana mengutarakan dengan kata-kata makna peristiwa yang sangat dalam dan misteri ini.

Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan kemuliaan di surga Dia telah tahu penderitaan salib. Sejak kekekalan yang lampau salib telah ada dalam benak Allah. Meskipun Dia hanya sekali menyatakan diri di akhir zaman ini untuk menanggung dosa bagi kita, tetapi sejak dunia dijadikan, karena Ia mengasihi orang dunia, Ia menderita, terluka, sedih, remuk, entah telah mencicipi berapa banyak penderitaan salib! Inilah hati Allah! Kalau kita telah mengetahui ini, bukankah sudah seharusnya kita lebih cinta kepada Allah? Sebab itu, meskipun menurut pandangan manusia, orang-orang dalam Perjanjian Lama percaya kepada salib yang akan datang, dan orang-orang dalam Perjanjian Baru percaya kepada salib yang telah lalu, sebenarnya salib tidak terbatas oleh waktu. Tidak saja salib orang-orang Perjanjian Baru adalah sekarang, bahkan salib orang-orang Perjanjian Lama pun adalah sekarang. Semoga Tuhan membuka mata kita, sehingga kita tampak bahwa salib tidak terbatas oleh waktu.

KESEGARAN SALIB

Banyak orang yang mendorong salib ke masa lebih dari dua ribu tahun yang lalu, menganggapnya telah lama, usang, tua. Meskipun menurut catatan sejarah salib Kristus di Golgota telah lama, tetapi dalam sejarah rohani kaum saleh, salib Kristus tetap segar, tidak pernah usang.

Ibrani 10:19-20 mengatakan, “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat mahakudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri” (TI.). Tabernakel dalam Perjanjian Lama dibagi menjadi dua bagian: yang pertama disebut tempat kudus, yang kedua disebut tempat mahakudus. Keduanya dibatasi oleh sebuah tabir; orang yang mau masuk ke dalam tempat maha kudus harus melalui tabir ini. Tempat mahakudus adalah tempat penyataan kemuliaan Allah, tidak sembarang orang bisa memasukinya, hanya Imam Besar setahun sekali masuk dengan membawa darah, mempersembahkan kepada Allah bagi dosanya sendiri dan dosa umat. Sekarang kita karena darah yang dialirkan Tuhan Yesus di salib, bisa setiap saat masuk ke dalam tempat mahakudus.

Masuk ke dalam tempat mahakudus harus melalui tabir. Tabir ditujukan kepada tubuh Kristus. Ketika Dia mati di atas salib, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Jika tabir tidak terbelah, orang tidak dapat melaluinya. Jika Tuhan Yesus tidak mati, tidak mengurbankan tubuh-Nya, maka manusia tidak dapat melalui Dia masuk ke dalam tempat mahakudus. Sekarang kita berdasarkan kematian Tuhan Yesus di salib datang ke hadapan Allah.

Jalan yang menembus tabir ini dibuka oleh Tuhan Yesus bagi kita. Jalan ini adalah “yang baru dan yang hidup”. Kata “baru” di sini, dalam bahasa aslinya berarti “yang baru dipersembahkan” atau “yang baru terjadi”. Di sinilah kita melihat kesegaran salib! Imam besar tidak dapat bersandar pada kurban persembahan tahun-tahun yang lampau. Dia harus memiliki persembahan yang baru, kurban yang baru, dengan darah binatang kurban inilah dia baru berani dan dapat masuk ke dalam tempat mahakudus.

Sekarang bagaimana dengan kita? Kita dapat datang ke hadapan Allah demi darah Kristus dan melalui tubuh-Nya. Setiap kali kita datang ke hadapan Allah, kita tidak perlu sekali lagi mempersembahkan kurban. Kurban persembahan kita senantiasa segar! Salib Kristus tidak karena melewati waktu bertahun-tahun lalu menjadi usang. Sebagaimana Ia segar ketika disalib, demikian pula hari ini dan sampai selama-lamanya, tetap tidak berubah. Setiap kali kita datang ke hadapan Allah, selalu dapat melihat kesegaran salib Tuhan. Masa itu, kalau Imam Besar tidak memiliki darah yang segar, dia pasti akan mati di hadapan Allah, karena kurban persembahan tahun lalu tidak dapat menebus dosanya tahun ini. Kalau Allah tidak melihat kesegaran kurban penebusan Tuhan, maka jauh-jauh hari kita sudah binasa. Syukur kepada Tuhan, salib di hadapan Allah selalu segar, Allah melihat salib sebagai perkara yang baru saja terjadi.

Jalan ini juga “hidup”, atau dapat diterjemahkan “hidup kekal”. Jadi jalan ini adalah “baru terjadi” juga “hidup kekal”. Kristus telah mati dan telah bangkit, menggenapkan keselamatan bagi kita, membawa kita ke hadapan Allah. Kita bukan hanya tahu bahwa Kristus telah mati dan kematian penggantian-Nya tetap berlangsung sampai hari ini, kita juga benar-benar tahu, bahwa Kristus telah bangkit dan kebangkitan-Nya juga berlangsung sampai hari ini. Sampai hari ini kematian dan kebangkitan-Nya tetap segar. Kalau kita telah memiliki Juruselamat penebus dosa yang demikian segar, maka sudah seharusnya kita menerima Dia, bersandar kepada-Nya datang ke hadapan Allah, mendapatkan pengampunan dosa dan berkat-Nya.

Wahyu 5:6 mencantumkan bagaimana Yohanes melihat Tuhan Yesus Kristus yang di surga, Dia berkata, “Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti ‘baru saja’ (bahasa asli) disembelih.” Tuhan di surga yang dilihat Yohanes, entah sudah berapa tahun yang lalu dari waktu di Golgota, tetapi Tuhan masih seperti baru disembelih. “Baru” boleh diterjemahkan “segar”. Di surga dan yang segera mencapai alam kekekalan, Tuhan tetap segar, baru disembelih! Oh, salib selamanya segar! Salib benar-benar melewati zaman demi zaman tetapi tetap segar. Kelak ketika penyataan kemuliaan di surga, penebusan salib juga tetap segar, jika demikian bagaimana mungkin kita bisa menganggapnya usang?

Satu hal yang perlu kita perhatikan, yaitu Kristus disebut sebagai domba. Dalam Perjanjian Lama disebut dua kali (Yes. 53:7; Yer. 11:19); dalam Perjanjian Baru, menurut bahasa aslinya, dalam kitab Injil dan Kisah Para Rasul disebut tiga kali (Yoh. 1:29, 36; Kis. 8:32); dalam Surat Kiriman disebut sekali (1 Ptr. 1:19); tetapi dalam Kitab Wahyu disebut sebanyak dua puluh delapan kali! Dalam kitab yang menyinggung alam kekekalan ini, Allah khusus menyebut Anak-Nya sebagai Anak Domba. Domba ini baru disembelih, bekas luka-Nya masih ada! Luka yang kekal yang menjamin keselamatan kekal. Oh, Anak Domba yang tersembelih, patutlah menjadi peringatan kita sampai selama-lamanya. Kemuliaan salib Tuhan Yesus selamanya tidak akan berkurang atau rusak.

PERINGATAN SALIB

Allah sendiri tahu nilai salib Putra-Nya yang kekal, Dia juga menyatakan kesegaran yang kekal dari salib Putra-Nya. Dia mau supaya semua orang yang tertebus mengetahui hal ini. Mengetahui kesegaran salib adalah kekuatan; mengetahui kesegaran salib adalah cinta kasih; mengetahui kesegaran salib adalah kemenangan; mengetahui kesegaran salib adalah kesabaran. Kalau kita benar-benar mengenal kesegaran salib, kita akan mendapatkan banyak wahyu dan gerakan dari Dia! Kalau salib dalam lubuk hati kita tidak usang, kita pasti akan memiliki persekutuan yang lebih mesra dengan Tuhan kita.

Tuhan menghendaki salib-Nya tetap segar dalam roh hati kita pun dalam angan-angan kita. Karena itu Alkitab berkata kepada kita, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Kor. 11:26). “Setiap kali”, mengandung arti “sering”. Alasan Tuhan mendirikan perjamuan malam ialah supaya orang-orang yang ditebus-Nya sering dalam kematian-Nya memperingati Dia; Dia tahu bahwa akan ada banyak orang yang menganggap salib-Nya telah usang, karena itu Dia memberi perintah supaya murid-murid-Nya sering dalam perjamuan malam mengingat kematian-Nya. Dia tahu bahwa penyesatan akan datang, cobaan akan datang, tanpa disadari kita akan kehilangan kesegaran salib atas diri kita, karena itu Dia memberi perintah untuk sering mengadakan perjamuan malam untuk memperingati Dia. Ketika kita baru percaya Tuhan, betapa segarnya salib Tuhan di atas diri kita. Tetapi setelah lewat beberapa waktu, seolah-olah salib itu telah kabur bagi kita. Ketika kita baru mengetahui kemenangan salib, kita merasa betapa segarnya salib itu, tetapi kemudian karena telah terbiasa mendengar, kemuliaan salib seolah-olah menjadi hal yang biasa bagi kita. Namun, Tuhan tidak menghendaki kita kehilangan kesegaran salib, Tuhan menghendaki kita sering kali mengingat salib, maka Dia perlu sering membentangkan kematian-Nya di hadapan kita.

Kita sama sekali tidak boleh mengira, bahwa salib Tuhan telah usang dalam sejarah. Kapan saja, fakta tersalibnya Tuhan Yesus Kristus harus terlukis hidup di depan mata kita (Gal. 3:1). Kitab Galatia adalah sebuah kitab tentang salib. Ketika orang-orang Galatia memiliki lukisan salib yang hidup di depan mata mereka, mereka benar-benar merdeka. Tetapi ketika mereka mau melaksanakan hukum Taurat supaya menerima Roh Kudus, mau bersandar daging supaya digenapi, mereka kehilangan kesegaran salib. Keadaan kerohanian orang Kristen dapat dilihat dari pandangannya terhadap salib. Kalau dia melihat salib sebagai sesuatu yang telah usang, ini menunjukkan dia telah kehilangan sumber kekuatannya.

SALIB DAN HAYAT ROHANI

Apakah faedahnya mengetahui kesegaran salib? Kita tahu, kalau perkara yang aktual selalu mudah menarik perhatian orang; sedang perkara yang kadaluarsa, seolah tidak lagi memiliki daya tarik. Jika setiap hari di depan mata kita ada lukisan yang hidup tentang Tuhan Yesus Kristus yang tersalib, betapa kita akan tergerak oleh-Nya. Dulu Yusuf hanya berani secara diam-diam menjadi murid Kristus; Nikodemus hanya berani pada malam hari menjumpai Tuhan Yesus. Akhirnya, karena melihat Tuhan mati di atas salib, mereka sangat tergerak, sehingga berani menanggung segala risiko meminta tubuh Tuhan Yesus, berani dengan kain kafan halus dan rempah-rempah mengafani tubuh Tuhan. Salib dapat membuat orang yang paling penakut menjadi orang yang paling berani. Ketika mereka melihat betapa Yesus Kristus menderita di salib bagi manusia, betapa ditentang manusia, maka cinta kasih salib memberi wahyu kepada mereka, mengharukan mereka. Sebab itu, kalau di hadapan kita sering terbentang kematian Kristus, kita akan tergerak seperti mereka, dan salib akan menjadi kekuatan kita.

“Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah anugerah itu?” (Rm. 6:1). Kita perlu menjawab pertanyaan ini. Jika kita benar-benar sering melihat salib Tuhan, melihat mahkota duri di atas kepala-Nya, melihat luka yang terdapat pada tangan dan kaki-Nya, melihat betapa kasih-Nya dan darah-Nya mengalir keluar sekaligus, melihat kesengsaraan dan kesedihan-Nya, tidakkah kita akan sangat tergerak? Tegakah kita melakukan perkara yang tidak diperkenan-Nya sehingga menambah kesedihan-Nya? Banyak orang karena tidak memiliki wahyu salib yang segar di hadapannya, maka kasihnya di hadapan Tuhan tetap begitu tawar, tak bergerak selamanya.

Kalau salib Tuhan Yesus yang mati menggantikan kita selalu segar, maka tersalibnya kita bersama Dia juga selamanya tidak usang. Kalau setiap hari kita memiliki visi yang segar akan salib, maka pasti makin bertambahlah pengalaman kita yang baru; kita maju bersama Tuhan. Karena kita tidak melihat adanya salib setiap hari, maka atas diri kita banyak pengalaman bangkitnya dosa. Kalau kita benar-benar tampak kesegaran salib, setiap saat tidak berubah, maka matinya kita terhadap dosa juga akan tetap, tidak berubah. Banyak anak Allah gagal karena tidak mengetahui bahwa kematian salib adalah setiap saat.

BEROLEH SELAMAT SELAMA-LAMANYA

Kita tahu, sering kali tanpa sadar kita telah jatuh. Allah tidak karena itu menolak kita sebab “Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa” (1 Yoh. 1:7). Darah Anak-Nya tidak hanya sekali menyucikan kita, bahkan terusmenerus menyucikan kita. Kalau tanpa sadar kita jatuh, begitu kita datang ke hadapan-Nya mengaku dosa, maka Dia mengampuni kita, darah Anak-Nya membasuh bersih dosa kita. Inilah pekerjaan kekal salib. Allah telah menyediakan untuk kita keselamatan yang sedemikian. Betapa indahnya ini!

Setelah kita tahu fakta keselamatan kekal ini, haruslah kita bersorak memuji Allah Bapa. Sayang, masih banyak orang yang tidak mengetahui dirinya beroleh selamat selama-lamanya. Jika kita beroleh selamat, kita pasti beroleh selamat sampai kekal. Begitu kita benar-benar menerima kurban tebusan dosa Tuhan, begitu kita bersandar pada salib-Nya, selamanya salib-Nya akan berbicara bagi kita. “Kurban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya” (Im. 6:9). Kurban bakaran melambangkan Kristus, mezbah melambangkan salib. Kurban bakaran dibakar dari malam sampai pagi, ini menyatakan bahwa jasa penebusan Tuhan Yesus dalam zaman ini terus-menerus memohon bagi kita. Orang Israel di dalam kemah mungkin masih dapat menggerutu, tetapi kurban bakaran di atas mezbah tak henti-hentinya dipersembahkan bagi mereka. Kita harus tahu, darah adi senantiasa berbicara bagi kita. Sekali kita menerima salib, selamanya salib menjadi keselamatan bagi kita, itulah keselamatan kekal.

Salib di surga tidak menjadi usang karena waktu, keselamatan yang kita terima juga tidak menjadi usang karena waktu. Kekekalan bukanlah suatu kehidupan monoton yang hambar. Meskipun kekekalan itu lama, tetapi tidak dapat memudarkan sinar mulia salib. Dalam kekekalan kita akan melihat Allah menyatakan kemuliaan salib satu demi satu kepada kita. Ya, Tuhan, kiranya Engkau membuat kami mengenal kesegaran kekal salib-Mu!

Karena apakah malaikat memuji Tuhan? “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Why. 5:12); malaikat memuji Anak Domba yang pernah disembelih. Sampai hari itu, di surga kita juga karena salib Tuhan akan memuji Tuhan sampai kekal. Salib adalah inti penebusan hari ini, salib adalah penyebab puji-pujian dalam kemuliaan.

Saudara saudari, betapa segarnya salib itu! Semoga kita tak henti-hentinya tergerak olehnya. Semoga seumur hidup kita tercairkan dalam salib. Semoga tidak ada seharipun salib kehilangan kekuatan atas kita. Semoga setiap hari salib melaksanakan pekerjaan yang lebih dalam atas kita. Mohon Allah membuka mata kita, sehingga kita tampak keajaiban-Nya yang tersimpan dalam salib Anak-Nya. Kiranya kita juga berkata, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal. 6:14).