Dua Macam Pengenalan Terhadap Tuhan Yesus
Pembacaan Alkitab:
Yohanes 20:11-18; Lukas 24:13-16, 25-32; Yohanes 21:1-14
Sejak Tuhan Yesus bangkit dari kematian hingga hari ini, pengenalan orang terhadap-Nya dapat digolongkan menjadi dua macam, yakni:
1. Pengenalan dalam tubuh daging
2. Pengenalan dalam Roh Kudus
Paulus berkata, “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian” (2 Kor. 5:16), dan “. . . Allah . . . berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku” (Gal. 1:15-16). Ayat-ayat ini menampakkan kepada kita bahwa hari ini kita harus berdasarkan apa mengenal Tuhan Yesus. Baiklah kita mengambil beberapa contoh yang konkret dari Alkitab, agar kita dapat memahami dengan jelas perbedaan di antara kedua pengenalan tersebut.
PENGENALAN MARIA TERHADAP TUHAN
Tatkala Maria Magdalena berdiri di dekat kubur Tuhan Yesus sambil menangis, dan “Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: ‘Ibu, mengapa engkau menangis?’ Jawab Maria kepada mereka: ‘Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.’” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus.
Peristiwa ini sungguh aneh, Tuhan Yesus yang terlihat olehnya ketika ia menoleh ke belakang justru adalah Tuhan Yesus yang dikenal bahkan yang diikutinya bertahun-tahun, tetapi saat itu ia tidak tahu bahwa itu adalah Tuhan Yesus. Mengapa Tuhan yang begitu dikenalnya, sekarang malah sama sekali tidak diketahuinya? Sebab Putra Allah yang berada dalam tubuh daging itu telah mati di kayu salib dan telah bangkit dari kematian. Tubuh yang sekarang diingininya itu telah berlalu. Maka semua orang yang mengenal-Nya secara tubuh daging, tidak dapat mengenal-Nya lagi setelah Ia bangkit dari kematian. Hari ini, Tuhan Yesus tidak lagi sebagai Tuhan yang dikenalnya, melainkan Tuhan yang tidak dikenalnya. Hari ini, Ia bukan Tuhan Yesus yang berada dalam sejarah, melainkan yang berada dalam roh. Hari ini, Ia bukan yang hidup dalam tubuh daging, melainkan yang hidup dalam Roh Kudus. Yang dulu dapat dikenal berdasarkan tubuh daging manusia, sekarang tidak dapat dikenal berdasarkan cara yang sama.
Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”
Mata dan telinga Maria saat itu sudah tidak berguna lagi. Kalau dulu ia dapat mendengar dan mengenal Dia dengan telinganya itu, namun kini telinganya yang tidak berubah itu tak berdaya lagi mengenal Tuhan Yesus. Kalau dulu matanya sangat mudah mengenal Dia, namun kini matanya tak dapat mengenal Dia lagi. Maria tidak berubah, tetapi Yesus orang Nazaret ini telah berubah. Maria tetap sama dengan Maria yang dulu, tetapi Yesus orang Nazaret ini telah bangkit dari kematian. Karenanya telinga, mata, dan ingatan yang dulu, sekarang sudah tidak berguna lagi. Dengan cara yang lama mengenali Tuhan Yesus yang tinggal di bumi dan yang berada dalam tubuh daging itu memang mungkin, tetapi untuk mengenal Tuhan Yesus yang telah bangkit dari kematian, yang rohani, surgawi serta yang berada dalam Roh Kudus, sama sekali tidaklah mungkin. Perubahan tidak terjadi pada pihak Maria, tetapi pada pihak Tuhan Yesus. Berhubung Tuhan Yesus sudah berubah, maka Maria pun wajib berubah, dengan demikian barulah ia dapat mengenal Tuhan Yesus yang sudah berubah itu. Dengan kata lain, Maria wajib memiliki wahyu yang baru, barulah ia mempunyai pengenalan yang baru terhadap Tuhan.
Kemudian kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” Sungguh aneh! Begitu Tuhan menyebut namanya, Maria segera mengenal Dia. Itulah wahyu. Apakah wahyu? Wahyu bukan berarti Tuhan berdiri di depannya lalu berkata, “Aku inilah Yesus,” melainkan dengan ajaib membuat seseorang tahu, bahwa Dia itulah Tuhan. Bukan karena Tuhan memanggil nama “Maria” sehingga ia tahu bahwa dirinya bernama Maria, melainkan begitu Tuhan memanggil Maria, ia segera tahu, bahwa Dia itulah Rabuni. Tuhan tidak memberi tahu apa-apa kepadanya, kecuali menyebut namanya, tetapi ia sudah jelas dan sudah mengenal Dia dari batinnya. Inilah wahyu.
Di sini kita tampak sebuah prinsip yang sangat besar, yakni pengenalan wahyu bukan diperoleh melalui telinga, bukan melalui mata, juga bukan melalui daya pengertian, melainkan demi sesuatu yang ajaib, yakni suatu pengenalan yang di luar kekuatan telinga, mata serta pengertian. Wahyu adalah satu pengenalan yang ajaib.
Setelah Maria mengenal Tuhan, ia segera pergi memberitahukan hal itu kepada murid-murid Tuhan lainnya. Namun setelah mereka mendengar, mereka pun merasa amat heran.
PENGENALAN DUA MURID YANG MENUJU KE EMAUS
TERHADAP TUHAN
Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, di antara murid-murid-Nya ada dua orang yang hendak pergi ke Emaus. Dalam perjalanan itu mereka membicarakan segala perkara yang terjadi, yaitu yang dikatakan Maria tentang Tuhan Yesus. Ketika itu Tuhan datang menghampiri mereka, tetapi mata mereka kabur, tertutup sehingga tidak mengenal Tuhan yang telah bangkit itu. Mereka mengenal Tuhan Yesus yang dulu yang berada dalam tubuh daging, namun tidak mengenal Tuhan yang sekarang yang telah bangkit ini. Mereka mengira kebangkitan itu adalah perkara yang sangat mengherankan dan sukar untuk dipercaya.
Kemudian Tuhan berbicara dengan mereka, bahkan dijelaskan-Nya tentang diri-Nya sesuai dengan Alkitab dari kitab Musa dan para nabi, tetapi mereka tetap tidak mengenal Dia. Meskipun mereka telah mengerti ajaran Alkitab, dan merasa tergerak dalam hati yang dirasakan seperti api yang berkobar-kobar, akan tetapi mereka tetap tidak mengenal Dia. Ini menunjukkan kepada kita bahwa ajaran tidak sama dengan wahyu. Mereka sudah mengerti Alkitab, tetapi belum mengenal Tuhan; mereka sudah mengetahui ajaran-ajaran tentang Kristus, tetapi mereka belum mengenal siapa Kristus.
Menjelang matahari terbenam, mereka mendekati tempat tujuan di Emaus, mereka lalu menganjuri-Nya untuk tinggal bermalam dengan mereka. Ketika mereka hendak makan, Tuhan Yesus memecahkan roti yang telah diberkati-Nya dan membagi-bagikannya kepada mereka, saat inilah mata mereka terbuka, dan baru mengenal Dia. Ini dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa pengenalan orang terhadap Tuhan Yesus ada dua macam, yakni:
1. Pengetahuan yang berasal dari Alkitab
2. Pengetahuan yang diberi oleh Tuhan demi membuka matanya
Ada orang yang sangat hafal Alkitab, bahkan dapat mengajarkannya kepada orang lain, namun ia tidak mengenal Tuhan Yesus. Ada orang selain memahami ajaran Alkitab, juga telah dicelikkan matanya oleh Tuhan sehingga ia dapat mengenal Tuhan. Ketahuilah, dalam kekristenan tidak hanya ada Alkitab, tetapi juga ada wahyu pribadi. Memang tanpa Alkitab, mustahil ada ajaran kekristenan. Tetapi ingatlah, tanpa wahyu kita pun takkan memiliki Kristus secara pribadi.
Justru di kalangan anak-anak Allah terdapat kesukaran yang demikian. Banyak pengetahuan yang merupakan pengetahuan turunan; dari mulut seseorang kepada telinga seseorang; dari pengertian otak seseorang kepada pengertian otak orang lain. Semuanya merupakan turunan, maka semuanya hanya merupakan doktrin-doktrin atau pengetahuan-pengetahuan belaka. Kita harus ingat, hanya memiliki pengetahuan Alkitab tetapi tidak mengenal Tuhan, itu tidak ada gunanya. Dua orang murid yang menuju ke Emaus itu sudah memiliki pengetahuan Alkitab sejak dulu, dan tatkala Tuhan menjelaskan Alkitab di tengah jalan, mereka pun merasa berkobar-kobar di dalam hati, namun mereka belum juga mengenal Dia. Terhadap Tuhan, kita wajib memiliki pengenalan yang batini. Pengenalan yang demikian barulah pengenalan yang sejati. Sudahkah Anda memiliki pengenalan yang batini terhadap Tuhan?
PENGENALAN TUJUH MURID TERHADAP TUHAN
Suatu hari, Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus, dan dua orang murid lainnya sedang berkumpul bersama. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Akan tetapi aneh sekali, mereka yang dulunya ahli menangkap ikan, kini setelah mengikut Tuhan dan kembali menangkap ikan lagi, tidak mendapatkan satu ekor ikan pun; semalam suntuk mereka sia-sia belaka. Yang lebih mengherankan ialah, ketika hari mulai siang, berdirilah Yesus di pantai, tetapi murid-murid itu tidak mengetahui bahwa Dia adalah Yesus. Oh, Tuhan Yesus yang telah bangkit, tidak dapat dikenal oleh mata jasmani manusia.
Petrus, Yohanes, dan Yakobus yang selalu bersama Tuhan Yesus; Natanael yang paling dini mengenal Tuhan, Tomas yang pernah meragukan kebangkitan-Nya, kemudian pernah mendapat penampakan yang istimewa dari Tuhan; kini mereka semua tidak mengenal Tuhan Yesus. Mereka memerlukan pengalaman dan kekuatan yang lain untuk mengenal Tuhan. Kemudian Tuhan berkata kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Maka kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menarik lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Tadi mereka telah mendengar dan melihat Dia, namun tidak mengenal bahwa Dia itulah Tuhan; kini dengan tiba-tiba mereka mengetahui, mengetahui dengan ajaib sekali. Pengenalan yang demikian inilah yang disebut kekristenan. Pengenalan yang demikian mustahil digoncangkan, karena itu merupakan pengenalan batini, penglihatan batini, dan yang menimbulkan kekuatan batini. Pengenalan ini telah memberi Petrus satu tenaga yang baru.
Setelah mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Maka berkatalah Tuhan Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tetapi tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan.
Apakah Anda tidak merasakan bahwa perkataan di atas saling bertentangan? Jika mereka mengetahui bahwa Ia adalah Tuhan, tentu mereka tak perlu bertanya lagi siapa Dia. Akan tetapi, di sini mereka bukannya tak bertanya, melainkan tidak berani bertanya. Ini berarti mereka memang tidak mengetahui, tetapi karena takut mereka tidak berani bertanya. Namun di sini dikatakan pula bahwa mereka tahu Ia adalah Tuhan, maka mereka tak berani bertanya. Dengan kata lain, secara lahir mereka tidak tahu, akan tetapi secara batin mereka sudah tahu. Secara lahir mereka masih heran dan ajaib, tetapi dalam batin mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan.
Melihat rupa-Nya aku tak tahu, mendengar suara-Nya aku pun tak tahu. Menurut pikiranku aku ingin sekali bertanya kepada-Nya, tetapi hati, batinku, tahu bahwa Ia adalah Tuhan, sehingga tak perlu aku bertanya lagi. Inilah pengalaman kebanyakan orang Kristen. Dikatakan tidak tahu, memang tidak tahu, tetapi dikatakan jelas memang jelas juga. Banyak perkara membuat Anda bingung, tetapi di pihak lain Anda sangat jelas terhadap-Nya, itulah yang disebut wahyu. Wahyu berarti jelas dalam batin; wahyu berarti mengetahui dalam batin. Berbahagialah orang yang berjalan dalam wahyu! Berbahagialah orang yang mengenal Tuhan demi wahyu! Sebab hanya orang yang demikianlah yang bisa memperoleh kekuatan, dan hanya orang yang demikianlah yang dapat mengetahui pekerjaan yang dapat dilakukan Tuhan.
Pengetahuan lahiriah sekali-kali tidak dapat menggantikan wahyu batiniah. Kita wajib memiliki pengenalan yang batini terhadap Tuhan. Bila Anda telah memiliki pengenalan batini itu, maka siapa pun takkan mampu menggoncangkan Anda. Kita perlu memohon Allah mencelikkan mata kita, agar kita dapat mengetahui segala sesuatu yang tidak dapat kita ketahui demi diri sendiri. Sebab yang dapat kita ketahui demi telinga maupun mata jasmani kita hanyalah Tuhan Yesus yang berada dalam tubuh daging saja. Pengetahuan yang demikian tidak banyak faedahnya bagi kita, dan tidak berkekuatan bagi kita. Kita wajib memohon Allah mewahyukan Putra-Nya sendiri di dalam kita, sehingga kita dari dalam jelas, dari dalam mengenal, dari dalam mengerti, tidak kabur atau ragu-ragu sedikit pun.