Daftar isi Dua Belas Bakul (1) · bab 3/12

Jalan Setapak Menuju Kemuliaan

“Kira-kira delapan hari sesudah menyampaikan semua pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Lalu tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.”

Lukas 9:28-31

Dalam kitab Injil tercatat tiga kali peristiwa Allah berbicara dari surga dengan suara yang dapat didengar di bumi. Pertama, terjadi setelah Tuhan dibaptis, ketika Ia keluar dari air (Mat. 3:16-17). Kedua, di gunung pengubahan (Luk. 9:28-31). Ketiga, setelah Tuhan menjawab dengan perkataan berikut, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja . . .” (Yoh. 12:24-28). Satu-satunya alasan Allah berbicara dengan cara demikian dalam ketiga peristiwa itu adalah karena Tuhan Yesus secara khusus telah memilih salib. Tuhan Yesus tidak memilih jalan yang lebih baik daripada salib. Pembaptisan-Nya adalah pemilihan-Nya akan salib, pemilihan-Nya akan kematian dan penguburan. Ketika Dia berada di gunung pengubahan, Dia juga memilih salib. Pusat perhatian-Nya di gunung itu bukan naik ke surga, melainkan “tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.” Ketika Dia masuk ke Yerusalem, ada beberapa orang Yunani menyambut-Nya dan memohon untuk bertemu dengan-Nya. Menurut pandangan manusia, inilah saat yang paling mulia dalam hidup-Nya, namun Dia tetap memilih salib. Dia tidak karena junjungan banyak orang, lalu mengangkat diri-Nya sendiri menjadi raja.

Mari kita kembali ke Lukas 9 untuk melihat bagaimana Tuhan memilih salib. Ada orang mengatakan bahwa gunung pengubahan itu melambangkan Kerajaan Allah. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa gunung pengubahan itu adalah Kerajaan Allah. Dengan jelas Dia mengatakannya dalam ayat 27, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah.” Kerajaan Allah turun ke bumi sejenak, Tuhan Yesus berada di dalamnya dan memperlihatkan kemuliaan-Nya dalam kerajaan. Tuhan Yesus dapat langsung naik ke surga di sana, tetapi seluruh pembicaraan-Nya adalah “tentang apa yang akan digenapi-Nya di Yerusalem”. Dengan tidak bimbang Dia memilih salib. Pada saat itu Tuhan Yesus memandang (menoleh kembali) dari posisi setelah kebangkitan dan kenaikan ke surga, karena itulah Dia mempunyai pandangan yang sangat jelas bahwa jalan setapak menuju kemuliaan bukan berada di gunung pengubahan, melainkan berada di jalan yang lain.

Walaupun jalan ini telah ditetapkan sebelum dunia diciptakan, namun ini seolah belum begitu jelas sebelum peristiwa di gunung pengubahan terjadi. Setelah pembicaraan di gunung pengubahan, jelaslah bahwa jalan ini harus mengarah ke Yerusalem. Kita dapat melihat, setelah turun dari gunung itu, Tuhan menuju ke Yerusalem. Dari Lukas pasal 9 sampai dengan pasal 23, hanya tergambar satu lajur jalan, yaitu pergi ke Yerusalem. Jalan ini adalah jalan yang dibicarakan di gunung pengubahan.

Apakah Yerusalem yang Tuhan Yesus perhatikan? Tidak. Yang diperhatikan Tuhan adalah perkara-perkara yang akan digenapi-Nya di Yerusalem, yaitu salib. Pergi ke Yerusalem adalah untuk menggenapkan kehendak Allah, yaitu memikul salib. Seolah-olah di gunung pengubahan, kemuliaan itu dengan sengaja diturunkan ke bumi sejenak dan Tuhan Yesus disalut dengannya. Dalam visi ini dengan jelas Tuhan Yesus melihat bahwa jalan setapak menuju kemuliaan adalah pergi ke Yerusalem. Karena itulah, Dia meneguhkan hati-Nya dan mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem. Yesaya berkata, bahwa Ia meneguhkan hati-Nya seperti “keteguhan gunung batu” (Yes. 50:7). Demikianlah, tanpa ragu-ragu sedikit pun Dia meneguhkan hati-Nya ke Yerusalem. Dari gunung inilah Dia pergi kepada salib.

Mengapa kita perlu memperhatikan masalah ini? Karena hari pengangkatan telah semakin dekat, hari Tuhan Yesus menyambut dan mengangkat para saleh-Nya telah di ambang pintu! Siapa yang rindu terangkat, ia harus pergi ke Yerusalem, memikul salib, dan berjalan pada jalan ini. Jika dengan jelas Allah telah mewahyukan kepada kita tentang kemuliaan, pengangkatan, dan kebangkitan, seyogianya kita mematuhi kehendak-Nya, memikul salib dan menempuh jalan salib. Kita harus ingat, ketika Tuhan Yesus tahu bahwa waktu terangkat-Nya sudah hampir tiba, Dia tidak dudukduduk dengan tenang menantikan untuk terangkat. Alkitab mengatakan, “Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk. 9:51). Salib mendahului pengangkatan. Kalaupun kita telah tahu bahwa waktu pengangkatan sudah hampir tiba, maka kita juga harus mengarahkan pandangan kita untuk mematuhi apa yang ditetapkan Allah bagi kita, yaitu memikul salib. Pergi ke Yerusalem tak lain adalah untuk memikul salib demi menggenapkan kehendak Allah.

Apa yang dialami di jalan setapak ini? Mari kita lihat setiap peristiwa satu per satu.

“Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem”(Luk. 9:52-53). Satu alasan orang-orang Samaria tidak mau menerima-Nya adalah ketetapan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Bila Anda ingin melaksanakan kehendak Allah dan menempuh jalan salib, orang-orang tidak akan menerima Anda lagi. Kita perlu memohon Allah untuk membuat kita semakin rela mencari kehendak-Nya dari hari ke hari, meskipun untuk itu kita akan diperlakukan dengan tidak baik oleh manusia, namun Tuhan mengindahkan perkara ini. Saat itu dua orang murid-Nya tidak tahan lagi dan ingin membalas dendam kepada orang Samaria. Tetapi Tuhan berpaling dan menegur mereka, kata-Nya, “Kalian tidak tahu, bagaimana roh kalian” (Tl.). Jika penolakan manusia membuat kita bereaksi demikian, “Baiklah kita melihat siapa yang benar di hadapan takhta penghakiman,” maka kita akan ditegur oleh Tuhan. Setelah menegur, Tuhan pergi ke desa lain. Tuhan tidak mempunyai waktu untuk mengurusi perlakuan orang lain terhadap-Nya.

“Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem” (Luk. 13:22). Ini memberi pelajaran kepada kita bahwa bukannya karena hari pengangkatan sudah dekat, lalu kita mengesampingkan segala sesuatu dan menunggu datangnya Kerajaan Allah dengan bermalas-malasan. Kita harus menempuh jalan salib. Jalan itu memang demikian, namun kita tidak dapat meninggalkan pekerjaan kita sehari-hari. Tuhan tetap mengajar selama perjalanan-Nya melalui kota-kota dan desa-desa menuju Yerusalem. Jika salib itu melaksanakan satu pekerjaan yang cukup dalam atas diri kita, maka banyak perkara yang akan membantu memperdalam dan memperkaya pengalaman kita.

“Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus, ‘Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.’ Jawab Yesus kepada mereka: ‘Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem” (Luk. 13:31-33). Di sini Tuhan mengucapkan perkataan yang sangat keras. Dia mengatakan bahwa Herodes adalah seekor rubah. Tuhan membandingkan Herodes dengan Allah. Pada satu pihak komplotan Herodes sedang berlangsung di bumi, di pihak lain kehendak Allah yang di surga harus digenapkan. Dibandingkan dengan kehendak Allah, Herodes adalah seekor rubah. Rubah itu boleh jadi sangat licik, namun ia tak berdaya mencegah Tuhan pergi ke Yerusalem. Tuhan tidak bisa tidak pergi ke Yerusalem hanya karena ancaman seekor rubah. Ia tidak dapat mengubah langkah dan jalan-Nya oleh karena Herodes. Tuhan berkata, “Aku harus meneruskan perjalanan-Ku.”

Lukas 17:11-19 menyebutkan, bahwa ketika Tuhan Yesus menyusuri Samaria dan Galilea dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Ia memasuki suatu desa dan menyembuhkan sepuluh orang kusta. Kejadian ini mengajar kita, pada jalan ini bila ada sesuatu yang dapat kita lakukan, kita harus melakukannya baik itu memberitakan Injil atau menolong orang lain untuk keuntungannya. Asal itu berada pada jalan ini, kita harus melakukannya dengan sekuat tenaga kita. Tuhan mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, namun Ia masih mengerjakan pekerjaan apa pun yang dialami-Nya dalam perjalanan itu. Dia tidak karena sedang menuju ke Yerusalem, lalu mengesampingkan semua pekerjaan. Kita memang menantikan untuk diangkat, tetapi dalam perjalanan ini, sudahlah seharusnya kita berusaha sekuat tenaga menyelamatkan jiwa manusia.

Wahyu 22:17 sungguh bermakna. “Roh dan pengantin perempuan itu perkata, ‘Marilah!’ Siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata, ‘Marilah!’” Kedua perkataan “Marilah!” di atas merupakan doa bersama dari Roh Kudus dan gereja dan memohon agar Tuhan segera datang. Kalimat selanjutnya mengatakan, “Siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” Nyatalah, bahwa kelanjutan dari permohonan akan kedatangan Tuhan adalah memberitakan Injil.

Semoga di bumi ini kita dapat menyelamatkan lebih banyak orang. Namun ingatlah, jangan sampai masalahmasalah yang kita jumpai di tengah jalan ini membuat kita mengubah arah; kita tidak seharusnya terikat oleh kejadiankejadian yang kita alami sehingga kita berhenti dan tidak maju lagi. Kita harus bekerja, harus menyelamatkan manusia, tetapi jalan kita tetap menuju ke Yerusalem. Jika pekerjaan yang kita tangani menjadi penghalang bagi kita untuk menuju ke Yerusalem, maka pekerjaan itu harus kita lepaskan. Kalau Tuhan (dalam perjalanan itu) karena telah menyembuhkan sepuluh orang sakit kusta, lalu tidak melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem, malah berhenti di sana, memang Dia telah melahirkan orang-orang tersebut, tetapi Dia tidak dapat menyelamatkan kita. Orang Kristen memimpin orang lain beroleh selamat, menolong orang, itu sudah sepatutnya tetapi kalau karena pekerjaan itu, ia terhalang sehingga tidak dapat melaksanakan kehendak Allah, ini tidak patut terjadi, karena itu hanyalah pekerjaan sampingan ketika ia berjalan dalam jalan ini.

“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka, ‘Sekarang kita pergi ke Yerusalem’” (Luk. 18:31). Tuhan tidak berkata, “Aku pergi,” melainkan berkata, “Kita pergi.” Berjalan seorang diri di jalan salib itu tidak cukup, harus mendorong dan membantu orang-orang untuk mengikuti kehendak Allah dengan maju memikul salib. Bagaimana kita menanti untuk diangkat? Kita percaya Tuhan akan kembali itu satu perkara, tetapi menantikan kedatangan-Nya itu perkara lain. Allah tidak menghendaki kita percaya pada kedatangan-Nya kembali secara doktrinal, melainkan menghendaki kita menantikan kedatangan sang Putra Allah. Apa yang telah ditetapkan Allah bagi gereja harus dialami oleh gereja. Kitab Efesus penuh dengan kemurahan Allah, tetapi juga penuh dengan tanggung jawab. Jikalau Allah tidak mendapatkan apa yang telah ditetapkan-Nya, Ia takkan merasa puas. Tuhan berkata. “. . . dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi” (Luk. 18:31). Semoga segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi kita juga digenapi di dalam kita.

“Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, ‘Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali’” (Luk. 19:11-12). “Berangkat ke sebuah negeri yang jauh” mengacu kepada pergi ke surga. Tuhan mengucapkan perkataan ini karena para murid menyangka, bahwa setelah mereka tiba di Yerusalem, maka datanglah Kerajaan Allah dan Tuhan akan memerintah sebagai raja di sana. Mereka menyangka akan mendapat kenikmatan di Yerusalem, tetapi Tuhan memberi tahu mereka akan ada penderitaan. Mereka menyangka pergi ke Yerusalem adalah untuk memerintah, tetapi Tuhan memberi tahu mereka bahwa Ia akan mati disalib. Sebelum kebangkitan dan pengangkatan yang semakin mendekat, perlu sejangka waktu, perlu satu salib yang berat!

“Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem” (Luk. 19:28). Dia di depan memimpin kita berjalan di jalan ini. Dulu Dia mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, sekarang Dia masih sama, tanpa perubahan sedikit pun. Dia tidak hanya memberi perintah kepada kita untuk berjalan, sedang Dia sendiri tinggal di belakang; Dia memimpin maju dan berjalan di depan kita.

“Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu . . . Lalu Yesus masuk ke Bait Allah . . .” (Luk. 19:41, 45). Ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan berjalan selangkah demi selangkah memasuki Yerusalem.

Mari kita lihat doa-Nya di Getsemani pada malam terakhir, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Luk. 22:42). Beberapa orang berkata, cawan itu mengacu kepada maut di Getsemani. Penjelasan ini tidak benar. Cawan itu mengacu kepada salib. Dengan perkataan lain, jika mungkin, Dia berdoa supaya Allah melepaskan-Nya dari salib. Namun Tuhan berkata lagi, “Jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Tuhan dapat berdoa, “Jika Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku.” Tetapi Tuhan tidak dapat berdoa, “Jikalau mungkin, biarlah kehendak-Mu jangan digenapi.” Cawan itu sangat penting, tetapi ada satu perbedaan antara cawan dengan kehendak Allah. Tuhan memperlihatkan kepada kita, kehendak Allah lebih penting daripada salib. Ketika salib dan kehendak Allah dihubungkan, Ia hanya patuh. Sebelumnya Dia dapat mempunyai pilihan, tetapi ketika Dia tahu bahwa cawan itu adalah kehendak Allah, Dia hanya patuh.

Saudara saudari, apakah gunung pengubahan itu? Gunung pengubahan adalah kemuliaan; kemuliaan setelah kebangkitan dan pengangkatan. Akan tetapi gunung pengubahan tidak hanya menunjukkan kemuliaan, juga adalah satu wahyu, satu visi, satu pemandangan yang jelas. Gunung pengubahan mewahyukan bahwa jalan setapak menuju kemuliaan harus melalui Yerusalem. Kita memerlukan wahyu, visi, dan pandangan ini dari gunung pengubahan supaya kita dapat melihat dengan jelas bahwa tidak ada jalan lain bagi kita untuk diangkat kecuali kita memikul salib, menggenapkan kehendak Allah. Tidaklah berguna jika kita hanya mengetahui kemuliaan yang akan datang, tanpa wahyu tentang bagaimana masuk ke dalam kemuliaan itu. Semoga Roh Allah memberi kita visi rohani sehingga kita benar-benar mengetahui hubungan antara pengangkatan dengan penggenapan kehendak Allah. Semoga setelah mendapatkan pandangan ini, kita bisa setia sampai mati, memikul salib mengikuti Tuhan. Semoga kita bisa seperti Tuhan kita yang terarah teguh tanpa perubahan sedikit pun menuju ke Yerusalem. Semoga kita dapat berkata bersama Paulus, “Kepada penglihatan (visi) yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat” (Kis. 26:19).

Kemuliaan akan segera dinyatakan, tetapi terlebih dulu kita harus memikul salib. Hari pengangkatan sudah dekat, namun ada satu panggilan yaitu kita harus melakukan kehendak Allah dan patuh kepada Allah. Inilah jalan Tuhan agar kita diangkat! Pengangkatan telah ditetapkan dan Yerusalem juga telah ditetapkan. Bila kita memiliki pengalaman menderita bersama Tuhan, saat itu pula Tuhan sangat dekat dengan kita. Tuhan di depan dan kita di belakang-Nya. Kita harus mengikuti Tuhan untuk menamatkan jalan ini.