Daftar isi Dua Belas Bakul (1) · bab 11/12

Fungsi Minyak Urapan

Pembacaan Alkitab:

Imamat 8:12-13; Lukas 4:18-19; Kisah Para Rasul 10:38; 1 Yohanes 2:27; Mazmur 133:1-3

MINYAK URAPAN BERARTI DIKUDUSKAN DI HADAPAN ALLAH

Imamat pasal 8 mengatakan tentang Harun menerima urapan minyak, dan pasal 9 mengatakan tentang dia mempersembahkan kurban. Sebelum menjadi raja, Daud juga terlebih dulu menerima pengurapan minyak dari Samuel, kemudian barulah dia mulai melayani Allah berdasarkan tugas ministri yang dikaruniakan Allah kepadanya (1 Sam. 16:12, 13). Ini dengan jelas menampakkan kepada kita bahwa ministri menyusul setelah pengurapan minyak. Jika seseorang di hadapan Allah mempunyai ministri, pasti terlebih dahulu di hadapan Allah dia memperoleh pengurapan minyak. Demikian pula Tuhan Yesus. Dia mengatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Firman Tuhan menunjukkan bahwa seseorang yang berguna di tangan Tuhan, pasti terlebih dulu menerima pengurapan di hadapan Tuhan. Kalau seseorang tidak menerima pengurapan di hadapan Allah, ia tidak dapat melayani, tidak dapat bekerja.

Masalah mendapatkan pengurapan minyak mudah sekali menjadi suatu masalah luaran di antara anak-anak Allah. Kita mudah sekali mencampuradukkan pengurapan minyak dan kekuatan. Tidak salah, pengurapan minyak ada bersama kekuatan, karena Allah dengan Roh Kudus dan kekuatan telah mengurapi Yesus orang Nazaret. Tidak salah, Roh Kudus ada bersama kekuatan, karena Roh Kudus juga adalah kekuatan Allah. Tetapi kekuatan Roh Kudus atas seseorang adalah hasil dari pengurapan minyak. Kekuatan Roh Kudus atas seseorang bukanlah maksud Allah yang utama; juga bukan pikiran hati Allah sewaktu Allah mengurapi seseorang. Kita harus tahu, manusia mendapatkan pengurapan bukan untuk berbahasa lidah, bukan untuk membuat mujizat, bukan untuk membuat perkara-perkara yang aneh. Manusia mendapatkan pengurapan Allah adalah untuk dikuduskan di hadapan Allah.

Dalam Perjanjian Lama banyak tempat yang membicarakan tentang pengurapan minyak, tetapi kita tidak menemukan pengurapan minyak itu berhubungan dengan kekuatan. Dalam Perjanjian Lama, pengurapan hanya mempunyai satu arti, yaitu menyatakan bahwa orang ini milik Allah. Anda mengatakan, “Buku ini milikku,” lalu Anda memberi tanda pada buku ini. Allah berkata, “Orang ini milik-Ku,” lalu Allah mengurapinya dengan minyak urapan. Pengurapan adalah untuk dipisahkan, dikuduskan; pengurapan berarti dikuduskan untuk Allah.

Inilah syarat pertama seorang pelayan Tuhan. Tidak ada seorang pun dapat menerima ministri di hadapan Allah, kalau ia tidak dikuduskan bagi Allah. Hanya orang yang dikuduskan bagi Allah baru memiliki ministri, hanya orang yang dikuduskan bagi Allah baru mempunyai pekerjaan. Kapan saja persembahan berhenti, pekerjaan juga berhenti; kapan saja pengudusan berubah, saat itu juga ministri berubah.

Ketika Roh Kudus turun ke atas diri Tuhan Yesus, perkara pertama yang terjadi bukan Ia pergi bekerja, melainkan adanya pengakuan Allah — “Inilah Anak-Ku yang terkasih.” Inilah perkataan Allah (Mat. 3:17). Karena itu, pengurapan minyak menyatakan pelantikan oleh Allah. Di sini ada orang yang dapat diakui Allah sebagai milik-Nya, Allah dapat mengatakan bahwa Ia adalah orang yang dapat diutus dan dipakai oleh Allah; menyusul ini Anda akan tampak adanya kekuatan, secara wajar timbul kekuatan. Hasilnya adalah Injil diberitakan kepada orang-orang miskin, orang buta dapat melihat, yang terikat dibebaskan, orang dapat mendengar tentang tahun rahmat Tuhan.

PENGURAPAN MINYAK TERHADAP ORANG LAIN

ADALAH KEKUATAN

Allah dengan Roh Kudus dan kekuatan mengurapi Yesus orang Nazaret, setelah itu barulah Tuhan Yesus pergi berkeliling melakukan kebajikan, menyembuhkan semua orang yang dirasuk setan. Di sini dikatakan, Allah dengan urapan mengurapi Dia. Lalu urapan ini apa? Adalah Roh Kudus, juga kekuatan. Perkara ini ajaib juga berharga, yaitu Roh Kudus di atas diri kita merupakan minyak urapan, tetapi di atas diri orang lain adalah kekuatan. Kekuatan Roh Kudus ternyata di atas diri orang lain, dan di atas diri kita sendiri tetap minyak urapan. Kalau ada pengurapan minyak atas diri Anda, maka ketika orang lain bersentuhan dengan Anda, mereka akan menjamah kekuatan.

Karena itu, kalau kita dikuduskan di hadapan Allah, ini dengan spontan akan membuat kita berkekuatan di atas diri orang lain. Kekuatan bukan masalah pertama, melainkan masalah kedua. Kalau masalah pengudusan di hadapan Allah beres, dengan sendirinya masalah mempunyai kekuatan di atas diri orang lain terbereskan pula. Kapan saja atas persembahan (atau katakan pengudusan) ada persoalan, saat itu juga dalam kekuatan timbul persoalan, dan atas pekerjaan pun timbul persoalan. Pengurapan minyak dengan sendirinya menimbulkan kekuatan. Di atas diri Daud kita melihat ini; di atas diri Harun kita juga melihat ini.

PENGURAPAN MINYAK TERHADAP DIRI SENDIRI

ADALAH PENGAJARAN

Kita yang belajar melayani Allah sering menemui satu kenyataan, yaitu tatkala kita berdiri berbicara, kalau kita berbicara bagi Allah, maka terasa ada pengurapan minyak pada diri kita. Kita merasakan bukan kita yang memaksa untuk berbicara, bukan membuang-buang waktu untuk berbicara, tetapi kita tahu ada pengurapan minyak di atas diri kita. Perkataan kita mungkin biasa saja dan sederhana, tetapi semakin kita berbicara semakin berkekuatan; kita merasakan ada pengurapan minyak. Ketika Anda merasakan ada pengurapan minyak, orang lain akan merasakan ada kekuatan. Adakalanya semakin kita berbicara, kuasa kita seperti ban yang kempis, sedikit pun tak berarti bagi kita, orang lain pun tidak merasakan ada kekuatan. Perbedaannya di sini: Kalau ada pengurapan minyak, ada kekuatan; tidak ada pengurapan minyak, tidak ada kekuatan. Pengurapan minyak terhadap diri sendiri adalah pengajaran, terhadap orang lain adalah kekuatan.

Satu Yohanes 2:27 mengatakan, “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.”

Ayat di atas mencakup banyak perkara, pengurapan dalam segala sesuatu mengajar kita. Pengajaran pengurapan minyak sama sekali berbeda dengan pengajaran manusia. Pengajaran manusia adalah untuk mengatakan banyak alasan, banyak perkataan, sehingga problemanya menjadi rumit. Tetapi tidak demikian dengan pekerjaan pengurapan minyak. Pengajaran pengurapan minyak tidak memberi tahu kita banyak hal atau memberi banyak perkataan; pengajaran pengurapan minyak mengajar berdasarkan milik-Nya ada atau tidak dalam hal bersangkutan. Inilah satu keistimewaannya. Misalnya, hari ini Anda akan melakukan suatu pekerjaan, kalau Tuhan yang menghendaki Anda mengerjakannya, ketika Anda bergerak, Anda akan mempunyai pengurapan minyak sehingga Anda tahu bahwa itu benar. Kalau tidak seharusnya dilakukan, Anda akan merasakan diri Anda seperti ban yang kempis sehingga Anda tahu bahwa itu salah. Pengajaran pengurapan tidak menggunakan teori, alasan. Kalau menggunakan teori, alasan, otak manusia kita harus diganti, karena taraf otak kita jauh berbeda dengan keinginan Allah, kita tidak dapat memahami alasan Allah.

Karena itu, kita benar atau salah tergantung pada ada tidaknya penyertaan pengurapan minyak, tidak tergantung pada ada tidaknya alasan. Semua anak Allah harus belajar satu pelajaran, yaitu dalam hal mengikuti Tuhan tidak membicarakan alasan, melainkan melihat apakah Roh Kudus memberi atau tidak kepada kita suatu perasaan penyegaran.

Sering kali ketika kita ingin melakukan sesuatu, kalau dipikirkan hal itu cukup beralasan, tetapi ketika melakukannya, kita merasakan bahwa diri kita sendiri yang mengerjakan, Tuhan tidak beserta dengan kita. Ini menunjukkan tidak ada pengurapan minyak, ini menunjukkan bahwa kita telah salah. Misalnya, Anda berbicara dengan seseorang. Kalau tidak ada urapan minyak, maka semakin Anda berbicara, semakin tidak bertenaga, semakin terasa kosong di dalam, Anda merasa kering, merasa seperti ban yang kempis. Sebaliknya, kalau di dalam Anda ada suatu beban, semakin Anda bekerja, di dalam Anda semakin berkata amin, di dalam Anda merasa semakin ringan dan Anda tahu bahwa inilah yang Allah kehendaki supaya Anda perbuat. Karena itu, tidak seorang pun anak Allah yang boleh bergerak, kalau dia merasakan bahwa di dalamnya tidak ada pengurapan minyak. Kalau dia bergerak, maka habislah. Kalau Anda tidak memiliki pengurapan minyak, namun Anda terus bekerja, maka di dalam Anda akan semakin dingin, dan orang lain juga tidak menjamah sesuatu. Ketika Anda mempunyai pengurapan minyak, orang lain akan merasakan ada kekuatan keluar dari diri Anda. Pengurapan minyak di atas diri kita adalah pengajaran, pengetahuan; di atas diri orang lain adalah kekuatan.

Banyak saudara yang menuntut kekuatan, dan banyak pula saudara yang menuntut hayat. Tetapi firman Allah berkata kepada kita, “Maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu”. (2 Kor. 4:12). Semua yang menuntut hayat atas diri sendiri, malah tidak akan mendapatkan hayat. Mautlah yang bekerja di dalam diri kita, maka hayat akan bekerja di dalam orang lain. Demikian juga, kita jangan melihat apakah diri sendiri memiliki kekuatan, kita hanya perlu bertanya adakah pengurapan minyak di atas diri kita. Kalau ada pengurapan minyak di atas diri kita, maka ada kekuatan atas diri orang lain. Kalau Anda melulu menuntut kekuatan, jangan-jangan kekuatan itu tidak akan datang; jangan-jangan hanya yang di luaran itu, mungkin dari Allah, mungkin pula dari perasaan; tetapi bagaimanapun itu bukan kekuatan rohani seperti yang dikatakan firman Allah.

Sayang, ada anak-anak Allah yang menuntut mendapatkan perasaan kekuatan rohani dengan cara ini! Menuntut kekuatan yang dapat dirasakan sendiri, kekuatan yang dari keyakinan diri sendiri dan mengira kalau mempunyai kekuatan itu, maka dapat membantu orang lain. Semua itu mutlak salah. Yang harus kita perhatikan bukan kekuatan, melainkan ada tidaknya pengurapan minyak; adakah berdasarkan pengajaran pengurapan minyak tinggal di dalam Tuhan. Kalau bekerja tidak berdasarkan urapan minyak, orang tidak akan menjamah hayat. Anda dapat mengucapkan perkataan-perkataan yang enak didengar, perkataan yang indah, tetapi di dalamnya tidak ada pengurapan minyak; dan segera Anda sendiri akan tampak tidak ada realitas rohani, tidak ada hayat. Hanya ketika Anda di hadapan Allah mempunyai pengurapan minyak, maka dengan sendirinya orang lain akan merasakan mendapatkan bantuan, menjamah hayat, menjamah diri Tuhan.

Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan, yaitu pengurapan minyak tidak hanya merupakan perkara perorangan, dialami seorang diri, tetapi juga untuk Tubuh. Minyak urapan diurapkan di atas kepala Harun, mengalir ke janggut, juga mengalir ke jubahnya. Dalam keadaan demikian, Anda baru dapat tampak betapa baiknya, betapa indahnya. Karena itu, kita tidak saja menuntut supaya di dalam diri kita ada pengajaran pengurapan minyak, kita juga menuntut pengajaran pengurapan minyak yang tinggal di dalam Tubuh Kristus. Kita tidak hanya menerima bimbingan pengurapan minyak yang tinggal di dalam kita, kita juga menerima bimbingan pengurapan minyak yang tinggal di dalam Tubuh Kristus. Banyak perkara akan Tuhan atur di sana; Tuhan memimpin, dan Anda tidak dapat menentang pengurapan minyak melakukan pekerjaannya.

Kita ambil satu contoh, seorang saudara yang sedang berjalan menuju tempat sidang merasakan harus bersaksi. Sebenarnya ia tidak begitu suka bersaksi, tetapi kali ini pengurapan minyak yang di dalam dia merasakan bahwa dia harus bersaksi, karena itu akhirnya dia bersaksi juga. Kebetulan ada dua orang teman yang telah beberapa kali mendengarkan khotbah, tetapi masih tidak mengerti, merasakan sidang tidak berarti sehingga lama tidak datang lagi. Malam itu mereka diajak oleh teman mereka, juga ada saudara-saudara yang berdoa untuk mereka, memohon Tuhan memberi mereka perkataan yang tepat. Hasilnya, kesaksian saudara tadi adalah untuk kedua orang itu. Inilah hasil pengurapan minyak yang bekerja di dalam kita, yang juga bekerja di dalam sidang. Kita harus ingat, kita tidak dapat melayani Allah melampaui pengurapan minyak yang ada di atas diri kita. Berapa banyak pengurapan minyak di atas diri kita, pelayanan kita kepada Allah juga hanya dapat sampai tingkat itu. Kalau melampaui tidaklah benar, kalau melampaui akan mengganggu orang lain, merugikan orang lain. Kita hanya dapat menuntut ukuran yang Tuhan gariskan untuk kita.

Ketika kita benar-benar mengenal pengurapan minyak, kita baru mulai mengenal apakah yang dimaksud dengan pelayanan firman atau memakai firman Allah untuk melayani. Karena ketika ada pengurapan minyak di atas diri kita, barulah kita mempunyai perkataan, dan berdasarkan pengurapan minyak itu kita melayani Allah. Allah menyuruh kita memperhatikan apa yang Dia perhatikan, Allah yang memberi kita perkataan supaya kita dengan perkataan-perkataan itu melayani Allah, melayani anak-anak Allah.

Akhirnya, kita mengharapkan saudara saudari dapat dengan baik-baik mempersembahkan diri kepada Allah. Semua pelayanan tergantung pada pengudusan. Pengurapan minyak yang Allah berikan kepada Anda adalah untuk membuktikan bahwa Anda adalah milik Allah. Ketika Anda mempunyai pengurapan minyak, Anda akan ada perasaan — aku adalah manusia milik Allah, manusia milik Tuhan! Ketika Anda mempunyai pengurapan minyak, Anda akan merasakan bahwa Tuhanlah yang menghendaki Anda melakukan sesuatu. Lalu ketika Anda melakukan menurut pengurapan minyak, di atas diri orang lain muncul kekuatan. Kekuatan ini bukan kekuatan seperti yang kita pikirkan, bukan suara yang keras di atas mimbar, bukan mengadakan mujizat, bukan melakukan perbuatan yang aneh; kekuatan ini adalah ketika Anda di sana melayani, Allah membuat orang lain menjamah hayat. Kekuatan ini tidak lain adalah pengurapan minyak. Semoga Allah memberkati kita, supaya kita benar-benar menurut pengajaran pengurapan minyak tinggal di dalam Tuhan.