Daftar isi Dua Belas Bakul (1) · bab 12/12

Batin dan Respon Batini

Pembacaan Alkitab:

Mazmur 42:8; Markus 4:5-6; Yesaya 39:1-6; 2 Korintus 12:1-4; Kisah Para Rasul 5:1-5

Mazmur 42:8 mengatakan, “Bahwa tubir berseru kepada tubir” (LAI, terjemahan lama); kata-kata ini boleh diterjemahkan “Batin berespon kepada batin”, artinya semua yang dalam hanya dapat memberikan respon karena adanya seruan dari dalam. Yang dangkal, selamanya tidak dapat menjamah yang dalam; yang di luar, juga selamanya tidak dapat menjamah yang di dalam. Yang dalam hanya dapat bereaksi dengan yang di dalam. Yang tidak berasal dari dalam tidak dapat menjamah yang di dalam. Yang tidak keluar dari batin Anda, tidak akan dapat menjamah batin orang lain; batin orang lain hanya dapat bereaksi dengan batin Anda.

Kadangkala ketika Anda mendengarkan khotbah di suatu tempat, yang paling dapat menjamah Anda ialah suatu barang yang keluar dari dalam batin seseorang; kalau tidak ada barang yang keluar dari dalam, maka bantuan yang Anda terima adalah dangkal, bukan yang batini. Karena itu, kita harus tampak pentingnya yang batini. Apa pun yang bukan keluar dari dalam, selamanya tidak akan mencapai ke dalam. Kalau Anda tidak dari dalam mendapatkan faedah, mendapatkan bantuan, Anda tidak akan dapat mengeluarkan sesuatu dari dalam. Karena itu, kalau kita ingin membantu orang lain dalam hal rohani, haruslah ada sesuatu yang keluar dari dalam kita. Jika di hadapan Allah, Anda tidak mengarah ke dalam, Anda tidak akan berdaya mendapatkan orang lain. Jika pernyataan Anda bukan keluar dari batin Anda, mungkin saja Anda bisa mendapatkan perasaan orang, Anda bisa mendapatkan pikiran orang, Anda bisa membuat orang mengucurkan air mata, Anda bisa membuat orang gembira, Anda bisa membuat orang senang sejenak, tetapi Anda tidak dapat menjamah batin atau lubuk hati orang. Hanya yang batini baru bisa bereaksi dengan yang batini, pernyataan yang dangkal selamanya tidak dapat menjamah batin orang.

AKAR TERDAPAT DI KEDALAMAN

Ada satu prinsip dalam berkhotbah maupun mendengarkan khotbah, prinsip ini terdapat dalam perumpamaan tentang menabur benih yang dikatakan Tuhan Yesus. Ketika menabur, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, ada yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ada yang jatuh di tengah semak duri, ada yang jatuh di tanah yang baik. Ini memperlihatkan kepada kita, ketika memberitakan firman Allah, akan ada empat macam penerimaan manusia yang berbeda-beda. Tuhan Yesus memberi tahu kita, di antara beberapa keadaan yang berbeda itu, ada satu macam yang disebut tanah yang berbatu-batu; yang di atas adalah tanah tetapi di bawahnya adalah batu. Benih yang jatuh di atas tanah ini segera bertumbuh, tetapi begitu matahari terbit dan menyinari dia, layulah ia dan menjadi kering, karena tidak berakar.

Apakah akar itu? Akar adalah yang tumbuh di bawah (dalam). Apakah daun itu? Daun adalah yang tumbuh di atas. Dengan kata lain, hayat yang tidak kelihatan adalah akar, hayat yang kelihatan adalah daun. Di sinilah kesulitan kebanyakan orang Kristen: Mereka memang memiliki hayat yang kelihatan, tetapi sedikit sekali memiliki hayat yang tidak kelihatan. Dengan kata lain, mereka kekurangan kehidupan yang tersembunyi di dalam. Anda telah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, dalam hayat Anda ada bagian mana yang tidak dilihat orang lain, yang tidak bisa diketahui orang lain? Memang, Anda memperhatikan tingkah laku baik yang di luar, tetapi selain kelakuan baik yang di luar tersebut, yang tidak kelihatan itu masih ada berapa? Jika semua pengalaman rohani Anda diketahui orang lain, itu berarti Anda tidak memiliki akar. Semua kebajikan Anda di hadapan Allah, apakah juga terpapar di hadapan manusia; atau di bawahnya masih ada sesuatu yang tidak diketahui orang lain? Jika semua pengalaman rohani Anda terpapar keluar, berarti semua yang Anda miliki itu bertumbuh ke atas, bukan yang berakar ke bawah. Dengan demikian, Anda adalah orang yang hanya memiliki daun, tetapi tanpa akar; Anda adalah orang yang bertanah dangkal.

Dalam hayat rohani, di satu pihak kita harus melihat apakah Tubuh Kristus, yaitu kita harus memiliki hayat Tubuh; di pihak lain kita juga harus melihat bahwa bagian yang kita terima dari Tuhan untuk menjadi anggota Tubuh itu adalah bersifat individu; bagian itu adalah secara individu kudapatkan dari Allah, bagian itu harus kujaga secara individu di hadapan Allah. Kalau tidak terjaga, aku akan kehilangan kekhususanku sebagai anggota Tubuh, dan aku tidak akan ada kegunaan khusus di hadapan Allah. Kekhususan yang Allah berikan kepada Anda, begitu terpapar keluar, akan segera layu dan kering.

Pengajaran Tuhan Yesus di atas bukit sangatlah istimewa. Di satu pihak Dia mengatakan, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Di pihak lain Ia berkata, “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu; jika engkau berdoa, berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Karena itu, di satu pihak tidak ada seorang Kristen yang dapat secara diam-diam menjadi orang Kristen. Kalau mau menjadi orang Kristen haruslah secara terbuka menjadi orang Kristen, secara terbuka mengumumkan bahwa aku adalah orang Kristen. Di pihak lain ada banyak kebajikan orang Kristen yang seharusnya tersembunyi, tidak seharusnya dipaparkan keluar. Orang yang hanya memiliki yang terpapar di hadapan orang lain, tetapi tidak memiliki yang tersembunyi adalah orang yang tidak memiliki akar; orang ini tidak akan tahan uji, tidak tahan pencobaan.

Kita perlu mohon supaya Allah membuka mata kita sehingga tampak bahwa setelah bertahun-tahun kita menjadi anak Allah, ada berapa banyak pengalaman kita yang tidak diketahui orang lain? Selain yang diketahui orang lain, masih ada sisa berapa pada kita? Kita juga mohon kepada Allah, kiranya Allah bekerja di atas diri kita sehingga kita dapat berakar ke bawah.

PENGALAMAN YANG BATINI

Paulus berkata, “Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya.” Apa yang ditulis Paulus dalam 2 Korintus 12 tidak berfaedah bagi dirinya sendiri, tetapi demi orang lain, dia melakukannya. Paulus mengatakan tentang “penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan dari Tuhan”, adalah karena terpaksa. Saudara saudari, inilah sikap yang seharusnya kita pegang. Banyak saudara saudari tidak tahan terhadap penyataan Allah, tidak tahan terhadap wahyu Allah; begitu mendapatkan sedikit, mereka segera meniup terompet, sehingga sebentar saja semua orang telah mengetahuinya. Tetapi Paulus tahu kalau dia mengatakan tentang penyataan dan wahyu Tuhan, itu tidak berfaedah baginya. Lalu, mengapa dia mengatakannya? Itu karena terpaksa, karena ada orang yang meragukan kerasulannya, telah timbul masalah terhadap dasar kekristenan.

Apakah dia memberi tahu orang lain semua wahyunya? Tidak. Dia mengatakan, “Aku tahu tentang seseorang di dalam Kristus”, (orang ini adalah dirinya sendiri), “empat belas tahun yang lampau, orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga.” Pengalaman empat belas tahun yang lalu, baru dikatakan pada hari ini, betapa dalamnya ini! Jika kita dapat menjaga barang milik Tuhan selama tujuh tahun itu sudah lumayan, tetapi Paulus telah menyimpannya selama empat belas tahun. Empat belas tahun lamanya, gereja Allah tidak mengetahui pengalaman Paulus ini; empat belas tahun lamanya para rasul juga tidak mengetahui pengalaman Paulus ini. Paulus adalah seorang yang memiliki akar.

Mungkin ada orang akan berkata, “Paulus, beritahukanlah kepada kami segala pengalamanmu empat belas tahun yang lampau itu dengan jelas, beberkanlah semua pengalamanmu diangkat ke tingkat ketiga di surga, bukankah ini akan lebih membantu orang lain?” Tetapi dia berkata, “Entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu,” dia mengatakan, ia “mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.” Sampai hari ini, pengalaman ini masih berupa akar, tidak ada orang yang mengetahuinya.

Saudara saudari, akar adalah masalah yang sangat penting. Jika ingin memiliki pekerjaan Paulus, haruslah memiliki akar Paulus; mau memiliki kehidupan Paulus, haruslah memiliki hayat Paulus; mau memiliki kekuatan lahiriah Paulus, haruslah memiliki pengalaman batiniah Paulus. Kesulitan hari ini, yaitu di tengah-tengah anak-anak Allah tidak terdapat banyak perkara-perkara rohani yang tersembunyi, tidak tersembunyi pengalaman rohani yang khusus. Asal ada sedikit pengalaman sudah memberitakannya kepada banyak orang. Semua kehidupan pribadinya terbuka di hadapan orang, tidak ada sebagian pun yang tersembunyi, tidak ada akar. Kita perlu mohon Allah menampakkan kepada kita pengalaman Paulus, dan memimpin kita mengarah ke kedalaman.

KEHIDUPAN YANG DANGKAL

Yesaya pasal 39 mengisahkan tentang raja Babel menyuruh orang membawa surat dan pemberian kepada Hizkia, sebab telah didengarnya bahwa Hizkia tadinya sakit dan sudah sembuh kembali. Meskipun Hizkia telah menerima karunia Allah, tetapi tidak tahan terhadap karunia Allah. Alkitab mencantumkan, “Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, segenap gedung persenjataannya, dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya.” Dia tidak tahan pencobaan; baru saja sembuh, segera sombong, merasa di dunia ini tidak banyak orang dapat seperti dia, tidak banyak orang yang ketika akan disembuhkan Allah, memberinya satu tanda yang begitu besar, yaitu bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas mundur ke belakang sepuluh tapak dari jarak yang telah dijalani (Yes. 38:8).

Dibukanya gedung harta benda Hizkia untuk diperlihatkan kepada orang lain, menyatakan bahwa ia tidak ditanggulangi oleh salib, hayat alamiahnya tidak pernah ditanggulangi. Sangat nyata sekali, sampai-sampai akarnya pun terpapar keluar. Apa yang diketahui oleh Hizkia, juga diketahui oleh orang Babel; Hizkia memiliki berapa banyak, orang Babel juga mengetahui Hizkia memiliki berapa banyak. Hizkia tidak memiliki akar, Hizkia tidak memiliki hayat yang tidak kelihatan. Sebab itu nabi Yesaya mengatakan, “Dengarkanlah firman TUHAN semesta alam! Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN.” Ini berarti, berapa banyak yang diperlihatkan kepada orang lain, berapa banyak pula kehilangannya. Berapa banyak dalam hayat Anda yang terpapar di hadapan orang, maka berapa banyak pula Anda akan kehilangan. Ini perkara yang serius yang tidak bisa tidak kita perhatikan.

Ah, banyak orang yang tidak tahan untuk tidak mengutarakan pengalamannya, bahkan begitu mengutarakannya, akan terus diutarakan sampai puas. Ini seperti Hizkia membuka gedung hartanya dan memperlihatkannya kepada orang lain. Ada seorang saudara mengatakan, “Banyak saudara yang setelah sembuh dari sakitnya bisa bersaksi. Aku juga ingin sekali sakit, tetapi tidak sampai mati, lalu mengharapkan Allah menyembuhkan aku sehingga pada sidang kesaksian yang akan datang, ada kata-kata untuk diutarakan.” Untuk apakah kesembuhan yang diharapkan saudara ini? Untuk bersaksi. Dia menuntut pengalaman adalah untuk dikisahkan. Oh, kehidupan dangkal semacam ini akan membuat kita menderita kerugian yang sangat besar di hadapan Allah; kehidupan yang dangkal semacam ini akan membuat kita tidak dapat memiliki pertumbuhan di hadapan Allah.

HARUS BERSAKSI TETAPI TIDAK MEMAPARKAN DIRI SENDIRI

Jika demikian, kita harus bersaksi atau tidak? Bersaksi adalah seharusnya, Paulus juga bersaksi, sepanjang sejarah banyak anak-anak Allah yang bersaksi. Namun, bersaksi itu satu perkara; suka memaparkan pengalaman diri sendiri juga satu perkara. Untuk apakah kita bersaksi? Kita bersaksi supaya orang lain mendapatkan faedah, bukan karena diri sendiri senang berbicara. Senang berbicara dan senang kalau orang lain mendapatkan faedah adalah dua perkara yang berbeda. Bersaksi, karena di sini ada satu masalah sehingga aku tidak dapat tidak berbicara. Bersaksi bukanlah obrolan sambil makan makanan kecil. Sering kali obrolan membuat mustika rohani kita lenyap. Ketika ada bimbingan Tuhan, seharusnyalah kita bersaksi. Tetapi ketika Anda bersaksi, tujuannya adalah supaya orang lain mendapatkan bantuan.

Dalam 2 Korintus 12, Paulus juga bersaksi, tetapi Paulus tidak dengan sembarangan membicarakan pengalaman empat belas tahun yang lampau. Dia tetap menyembunyikan perkara empat belas tahun yang lampau sehingga orang lain tidak tahu; meskipun dia mengutarakan tentang pengalaman empat belas tahun yang lampau, tetapi dia tidak mengutarakan semuanya kepada mereka. Dia hanya menyinggung adanya perkara ini tanpa menyinggung bagaimana prosesnya; dia hanya mengatakan bahwa dia mendapatkan satu wahyu, mendengar kata-kata yang tak terkatakan, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa yang ia dengar. Sampai hari ini, tingkat ketiga di surga tetap merupakan suatu misteri, kita tetap belum mengetahui bagaimana sebenarnya.

Saudara saudari, apakah harta mustika kita? Apakah emas, perak, rempah-rempah, dan segala benda berharga kita? Apakah persenjataan kita? Kita harus ingat, yang berasal dari Allah adalah emas; yang berasal dari penebusan salib adalah perak; aliran yang keluar dari luka adalah rempah-rempah; segala yang mengenai kerajaan adalah benda berharga; segala pekerjaan Tuhan yang didapat dari Allah, dari Tuhan, adalah persenjataan kita. Semuanya ini bukan doktrin, bukan ajaran Alkitab, bukan sekolah Alkitab; semuanya ini adalah barang-barang yang kita dapatkan ketika kita bersekutu dengan Allah secara pribadi. Karena kita bersekutu dengan Allah, mempunyai hubungan dengan Allah, menerima penanggulangan Allah, maka kita mendapatkan banyak barang. Kalau kita sembarangan mengatakannya, maka batallah. Ini bukan berarti tidak perlu bersaksi, tetapi berarti banyak pengalaman rohani yang perlu tersembunyi. Saudara saudari sekalian, ini adalah satu perkara yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Banyak pengalaman rohani perlu tersembunyi, tidak dapat dipaparkan keluar.

Tuhan Yesus juga bersaksi, tetapi Tuhan Yesus tidak senang banyak bicara. Bersaksi adalah satu hal, banyak bicara adalah hal lain. Setelah Ia menyembuhkan seorang yang sakit, Ia segera memberi tahu dia jangan memberi tahu orang lain. Khususnya dalam Injil Matius, tidak hanya sekali Dia memberi tahu, bahkan berkali-kali memberi tahu demikian. Pernah sekali Tuhan memberi tahu seseorang, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Mrk. 5:19). Karena itu bersaksi bagaimana Tuhan telah melakukan satu perkara yang besar atas diri Anda itu boleh, tetapi memakai ini sebagai warta berita berarti memaparkan diri sendiri, inilah yang disebut tidak ada akar. Tidak berakar adalah tidak ada mustika yang tersembunyi; tidak berakar adalah tidak ada hayat yang tersembunyi; tidak berakar adalah tidak ada pengalaman yang tersembunyi. Ada banyak pengalaman yang perlu kita simpan, jika tidak, kita akan kehilangan semuanya.

Kita harus ingat, jika kita memaparkan harta benda kita di hadapan orang, kita tidak akan bisa menghindar dari tertawan. Kematian dan pemaparan diri terjadi bersamaan; kekeringan rohani dan pemaparan diri terjadi bersamaan. Kalaupun Anda harus bersaksi, haruslah sama seperti Paulus, “Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya,” tetapi ini karena terpaksa. Serangan Iblis khususnya datang ketika orang memaparkan diri. Semua pemaparan diri pasti mendatangkan kerugian bagi kita. Banyak orang yang sakitnya disembuhkan Tuhan, bersaksi untuk memuliakan Tuhan. Tetapi banyak juga orang yang bersaksi setelah sakitnya disembuhkan adalah untuk memuliakan imannya sendiri, sehingga akhirnya penyakitnya kambuh lagi. Setelah dia sekali bersaksi, di atas hal yang sama dia diserang. Ini memperlihatkan kepada kita, yang menutupi akar akan dijaga Allah; yang memaparkan akar tidak akan dijaga Allah, bahkan akan menerima serangan. Karena itu, kalau Allah mau Anda bersaksi, bersaksilah, tetapi ada banyak hal yang perlu disembunyikan. Bagian kita yang tersembunyi di hadapan Allah akan dijaga Allah, dan juga merupakan apa yang kita nikmati sendiri.

Demikian pula terhadap pekerjaan kita. Mungkin karena belas kasihan Allah, karena kasih karunia Allah, Allah melalui tangan Anda telah melakukan sesuatu, tetapi ingatlah, Anda tidak bisa membawa ini sebagai warta berita atau sebagai pengumuman untuk disebarkan kepada orang lain. Kapan saja Anda memaparkan diri, segera akan terlihat kematian dalam pekerjaan Anda. Berapa banyak yang Anda paparkan, berapa banyak pula kehilangannya. Begitu Daud mensensus bani Israel, kematian pun datang (2 Samuel 24). Maka kita perlu memohon kepada Allah agar terhindar dari pemaparan diri ini.

Semua barang kita yang tersembunyi di hadapan Allah tidak dapat begitu saja dikeluarkan; kita hanya dapat bergerak seturut petunjuk Allah di dalam kita. Kalau di dalam Allah bergerak, kita baru bergerak. Adakalanya Allah menghendaki Anda berkata kepada seorang saudara, Anda jangan menutupinya; jika Anda menutupinya, Anda telah melanggar hukum anggota Tubuh. Dalam Tubuh ada satu hukum yaitu bersekutu; kalau Anda menutupi, menekannya, maka tidak dapat mengalir. Kita harus positif, tidak boleh negatif, kita harus memberikan hayat kepada orang lain. Tetapi kalau sepanjang hari memikirkan diri sendiri, sepanjang hari mengatakan masalah pribadi, banyak kata semacam ini, pemaparan diri semacam ini akan membuat diri sendiri terserang. Kita mengharapkan, di satu pihak kita mengenal apakah Tubuh, mengenal aliran dalam Tubuh; di pihak lain, di hadapan Tuhan, harus ada bagian tersembunyi kita, yaitu banyak pengalaman yang tidak diketahui oleh orang lain. Semua akar tidak dapat dipaparkan.

Yang mengarah ke batin, yang berakar ke bawah, akan menghasilkan adanya yang batini dan respon batini. Jika dalam Anda ada yang batini itu, maka batin orang lain akan terjamah. Asal batin Anda bergerak, orang mendapatkan bantuan, orang mendapatkan terang, orang mengetahui di sana ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Batin menjamah batin, yang batini pasti berespon dengan yang batini. Tanpa ada yang batini, Anda hanya dapat dengan pekerjaan luaran mendapatkan gerakan luaran orang lain. Kita katakan sekali lagi, hanya yang batini berespon dengan yang batini.