PENGURAPAN RAJA (2)
Dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ter-dapat dua ministri dasar yang membentuk Kerajaan Allah: jabatan imam dan jabatan raja. Dalam Alkitab masih ter-dapat satu ministri yang ketiga yakni ministri nabi. Namun ministri nabi bukan ministri dasar, hanya merupakan suatu kelengkapan terhadap jabatan imam dan jabatan raja. Ketika jabatan imam ataupun jabatan raja itu lemah, nabi-nabi datang untuk menguatkannya. Menurut Perjanjian Lama, ja-batan imam itu ada pada suku Lewi. Akhirnya, jabatan imam Perjanjian Lama itu berakhir pada Yohanes Pembaptis, se-orang keturunan suku Lewi. Demikian pula, Yesus adalah pengakhir jabatan raja suku Yehuda Perjanjian Lama. Yesus datang sebagai keturunan suku Yehuda, yang merupakan pengakhir jabatan raja suku Yehuda. Di satu pihak Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus mengakhiri jabatan imam dan jabatan raja Perjanjian Lama, di pihak lain, mereka menum-buhkan jabatan imam dan jabatan raja Perjanjian Baru. Dengan kata lain, mereka mengakhiri zaman Perjanjian Lama dan memulai zaman Perjanjian Baru.
Ketika jabatan imam membawa manusia kepada Allah dan jabatan raja membawa Allah kepada manusia, timbullah pemerintahan dan pengaturan surgawi. Pemerintahan sur-gawi ini adalah kerajaan, yaitu hidup gereja yang wajar pada hari ini. Hidup gereja hari ini ialah kerajaan dengan jabatan imam dan jabatan raja. Hidup gereja akan berlan-jut hingga Kerajaan Seribu Tahun. Dalam Kerajaan Seribu Tahun masih tetap ada jabatan imam dan jabatan raja. Di satu pihak kita sebagai pemenang-pemenang adalah imam-imam dan di pihak lain adalah raja-raja. Sebab itu dalam Kerajaan Seribu Tahun, jabatan imam dan jabatan raja akan lebih kuat daripada hari ini. Mereka akan mempertahankan Kerajaan Allah di bumi sehingga Sang Raja dapat memperoleh umat-Nya dan umat-Nya dapat memperoleh Raja. Setelah seribu tahun tidak diperlukan lagi jabatan imam. Dalam ke-kekalan hanya akan terdapat jabatan raja sebab dalam langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru, setiap orang akan berada dalam hadirat Allah. Pada saat itu Allah akan beserta dengan manusia. Karena itu, tidak akan ada lagi jabatan imam untuk membawa orang-orang kepada Allah. Dalam kekekalan, hadirat Allah akan menyudahi jabatan imam. Namun jabatan raja akan berlangsung terus sehingga mereka yang berada dalam Yerusalem Baru akan memerintah bangsa-bangsa di sekeliling kota. Inilah ringkasan Alkitab dalam terang jabatan imam dan jabatan raja.
Dalam berita yang di depan kita telah melihat tentang orang yang memperkenalkan, yakni Yohanes Pembaptis. Dalam berita ini kita akan melihat berita perkenalan Yohanes.
C. Berita Perkenalan
1. Bertobat bagi Kerajaan Surga
Berita perkenalan Yohanes pendek, tetapi sangat penting dan almuhit. Matius 3:2 berkata,“Bertobatlah, sebab Kera-jaan Surga sudah dekat!” Kata pertama yang paling bermak-na dalam ayat ini ialah kata “bertobat”. Yohanes memulai ministrinya dengan kata ini. Bertobat ialah mengalami per-ubahan pikiran yang menghasilkan penyesalan, pengalihan tujuan. Dalam bahasa Yunani kata “bertobat” diartikan de-ngan pengubahan pikiran. Bertobat ialah mengubah pikiran kita, falsafah kita, dan logika kita. Kehidupan orang yang telah jatuh seluruhnya menuruti pikirannya sendiri. Segala apa adanya dirinya dan perbuatannya menuruti pikirannya sendiri. Jika Anda seorang yang telah jatuh, Anda dipimpin oleh pikiran Anda. Mental Anda, logika Anda, dan falsafah Anda menguasai jalan hidup Anda. Sebelum kita diselamat-kan, kita semua berada di bawah pimpinan pikiran kita yang telah jatuh. Kita jauh dari Allah dan kehidupan kita ber-tentangan dengan kehendak-Nya. Di bawah pengaruh pikiran kita yang telah jatuh, kita makin lama makin jauh dari Allah. Tetapi pada suatu hari, kita mendengar pemberitaan Injil yang menyuruh kita bertobat, mengalihkan pikiran, falsafah, dan logika kita.
Inilah pengalaman saya ketika saya diselamatkan. Saya seperti kaum muda yang berlari menurut arah tujuan saya sendiri. Sesungguhnya saya tidak mengambil arah saya, me-lainkan arah Iblis; sebab Iblis yang menggiring saya mela-lui pikiran saya yang telah jatuh, sambil menghalau saya jauh dari Allah. Tetapi pada suatu hari saya mendengar panggilan untuk bertobat, mengganti falsafah saya, mengganti jalan pikiran saya. Puji Tuhan, saya mengalami perubahan yang sangat besar! Tadinya saya sedang menuju ke suatu arah, tetapi ketika saya mendengar panggilan untuk bertobat, saya berpaling. Saya percaya kita semua telah mengalami perubahan semacam ini, yang disebut perpalingan. Ketika kita berpaling, kita membalikkan punggung kita terhadap masa lampau kita dan memalingkan muka kita untuk menatap kepada Allah. Inilah arti bertobat, mengalami perubahan pikiran kita.
Kata penting kedua dalam ayat 2 ialah kerajaan. Dalam pemberitaan Yohanes Pembaptis, pertobatan sebagai pembu-kaan ekonomi Perjanjian Baru Allah mencakup berpaling bagi Kerajaan Surga. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah berfokus pada kerajaan-Nya. Untuk ini kita harus bertobat, mengubah pikiran kita, mengalihkan penuntutan hidup kita. Sasaran tuntutan hidup kita yang tadinya terarah kepada perkara-perkara lain, kini haruslah kita tujukan kepada Allah dan kerajaan-Nya, yang dalam Injil Matius (lihat Mrk. 1:15) secara khusus dan sengaja disebut “Kerajaan Surga”. Menurut Injil Matius secara keseluruhan, Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Mesias. Kerajaan Mesias adalah kerajaan Daud yang terpulih (kemah Daud yang di-bangun kembali — Kis. 15:16), yang terbentuk dari bani Israel dan bersifat bumiah dan jasmaniah, sedangkan Kera-jaan Surga tersusun dari kaum beriman yang telah dilahir-kan kembali dan bersifat surgawi dan rohani.
Dalam pemberitaannya, Yohanes Pembaptis memberi tahu orang-orang agar bertobat untuk kerajaan. Ia tidak me-ngatakan bertobat supaya kita dapat pergi ke surga atau memperoleh keselamatan. Ia mengatakan bahwa kita harus bertobat bagi kerajaan. Kerajaan menunjukkan semacam pe-merintahan dan pengaturan. Sebelum kita diselamatkan, kita tidak berada di bawah pengaturan apa pun. Jika tidak ada kekuatan polisi, pemerintah, atau pengadilan hukum yang memberi tahu kita apa yang harus kita lakukan, kita akan melakukan apa pun yang kita kehendaki. Namun, ke-tika kita mendengar pengabaran Injil, kita beralih dari kon-disi yang tidak ada pengaturan kepada kondisi yang penuh pengaturan. Ini berarti kita kini sudah berada dalam kerajaan. Sebelum kita diselamatkan, kita tidak mempunyai raja. Te-tapi setelah kita berpaling kepada Tuhan, Ia menjadi Raja kita. Kini kita semua di bawah pengaturan Raja ini. Pada Raja terdapat jabatan raja dan jabatan raja ini ialah ke-rajaan. Hari ini kita di dalam kerajaan Raja ini.
Kata utama ketiga dalam ayat 2 ialah surga. Yohanes mengatakan bertobatlah untuk Kerajaan Surga. Kata “surga” di sini dalam bahasa Ibrani tidak menunjukkan sesuatu yang jamak dalam sifatnya, melainkan menunjukkan langit ter-tinggi yang menurut Alkitab adalah langit ketiga, langit di atas langit. Langit ketiga ini disebut surga. Kerajaan Surga bukan menunjukkan kerajaan di angkasa, melainkan keraja-an di atas angkasa, kerajaan di langit atas langit, di mana takhta Allah ada. Dalam kerajaan ini terdapat pengaturan, dan pemerintahan Allah sendiri. Sebab itu, Kerajaan Surga ialah Kerajaan Allah di langit ketiga di mana Ia menjalankan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Kera-jaan Surga ini harus turun ke bumi. Pemerintahan surgawi ini harus turun ke bumi untuk berkuasa di atas bumi.
Menurut perkataan Yohanes dalam ayat 2, “Kerajaan Surga sudah dekat.” Ini jelas menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Yohanes Pembaptis, Kerajaan Surga belum ada. Bahkan setelah dia tampil, dalam pemberitaannya, Kerajaan Surga masih belum ada; hanya sudah dekat. Pada saat Tuhan memulai ministri-Nya dan bahkan pada saat Dia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan, Kerajaan Surga ma-sih belum datang (4:17; 10:7). Karena itu, dalam perumpama-an pertama pada pasal 13, perumpamaan benih (ayat 3-9) yang menunjukkan pemberitaan Tuhan, Tuhan tidak menga-takan, “Kerajaan Surga seperti . . .” Baru dalam perum-pamaan kedua, perumpamaan ilalang (ayat 24), yang menunjukkan pendirian gereja pada hari Pentakosta, Tuhan berkata demikian. Matius 16:18-19, yang menggunakan istilah “gereja” dan “Kerajaan Surga” secara bergantian, membuktikan bahwa Kerajaan Surga datang ketika gereja didirikan.
Ketika Yohanes Pembaptis datang, Kerajaan Surga hanya sudah dekat. Kerajaan Surga sedang mendekat, hampir tiba, tetapi belum datang. Ini membuktikan bahwa dalam Perjanjian Lama tidak ada Kerajaan Surga. Bahkan pada zaman Musa dan Daud, Kerajaan Surga masih belum ada. Yohanes mengatakan bahwa Kerajaan Surga sedang di per-jalanan, ia tidak mengatakan telah tiba. Ketika Tuhan Yesus memulai ministri-Nya, Ia pun mengatakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (4:17). Ini menunjukkan, bahkan ketika Tuhan Yesus memulai ministri-Nya, Keraja-an Surga masih belum tiba. Dalam pemberitaannya, Yohanes Pembaptis memberi tahu orang-orang agar bertobat untuk Kerajaan Surga yang pada saat itu sedang di perjalanan. Kerajaan Surga tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta.
Ini berarti Kerajaan Surga datang tepat pada saat gereja terwujud. Hari ini, setiap orang yang mempunyai perubahan dalam falsafahnya dan kembali kepada Allah akan segera berada dalam Kerajaan Surga. Haleluya, kita berada di da-lam Kerajaan Surga! Kita memiliki Raja dan kita berada di bawah pengaturan-Nya.
Sering kali pengaturan Raja yang ada di dalam kita membuat kita tidak perlu lagi diatur oleh polisi atau hukum pengadilan. Raja yang ada di dalam kita ini mampu menja-dikan hakim-hakim menganggur. Namun, mereka yang tidak bertobat dan tidak kembali kepada Allah tidak berada di bawah Raja. Sebaliknya, mereka terus-menerus melanggar hukum. Karena itu, banyak orang yang diserahkan kepada pengadilan. Tetapi kita, umat kerajaan, ada di bawah Raja Kerajaan Surga. Raja ini telah masuk ke dalam kita. Pada saat itu juga Ia tinggal di dalam roh kita. Ketika Ia ber-bicara kepada kita, Ia hanya menyatakan satu kata “tidak”. Menurut pengalaman saya, kata kesukaannya ialah “tidak”. Kita mempunyai pengaturan “tidak” di dalam kita. Syukur kepada Tuhan karena kata yang pendek ini, sebab kata ini menyelamatkan kita dari sejumlah besar masalah. Perkataan “tidak” yang ada di dalam batin kita merupakan pengaturan Raja yang ada di dalam kita. Boleh jadi hari ini Anda telah mendengar “tidak” yang diucapkan oleh Raja berkali-kali. Jika umat kerajaan tidak mempedulikan “tidak” ini, mereka akan merosot. Karena kita berada di dalam Kerajaan Surga, Raja kebanyakan mengatur kita dengan mengatakan kata “tidak”.
Sekarang marilah kita melihat bagaimana Yohanes Pembaptis mampu membawa orang ke dalam kerajaan. Ministri Yohanes ialah membawa orang kepada Allah (Luk. 1:16-17). Yohanes Pembaptis, seorang imam sejati, “. . . ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya” (Luk. 1:15). Tidak diragukan bahwa sejak ia bayi hingga bertumbuh dewasa, usia tiga puluh, ia terus-menerus tercelup di dalam Roh Kudus. Karena ia dijenuhi hingga meluap dengan Roh Kudus, maka ia menjadi berani. Menentang arus zaman itu merupakan suatu perkara yang serius. Untuk melakukan hal ini memerlukan banyak sekali keberanian. Bagaimana Yohanes Pembaptis bisa begitu berani menentang agama Yahudi dan kebudayaan Romawi? Ia berani karena selama tiga puluh tahun ia senantiasa tercelup di dalam Roh Kudus. Ia seorang yang seluruhnya dijenuhi Roh. Sebab itu, ketika ia keluar untuk melayani, ia keluar di dalam roh dan dengan kekuatan. Benar, ia memakai jubah bulu unta sebagai tanda penolakannya terhadap zaman lama. Tetapi itu hanya tanda lahiriah, tetapi di dalamnya terdapat pula realitas, dan rea-litas itu ialah Roh dan kekuatan. Realitas dalam Yohanes bukan hanya hadirat Allah, tetapi juga Roh Allah.
Yohanes dicelup, diresapi, dan dijenuhi dengan Roh Kudus. Dengan spontan hal ini membuatnya menjadi suatu magnet besar. Ia dapat menjadi magnet sebab ia sendiri telah beroleh mandat penuh. Bertahun-tahun dan berhari-hari, ia dipenuhi Roh, sehingga dalam ministrinya, ia adalah magnet yang penuh daya tarik. Pada Yohanes terda-pat Roh dan kekuatan penarik. Karena itu seperti yang di-katakan dalam Lukas 1:16, ia menyebabkan banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka (Tuhan di sini sama dengan Yehova). Fakta bahwa Yohanes memalingkan banyak orang Israel kepada Tuhan menunjukkan bahwa bani Israel telah meninggalkan Allah. Kalau mereka sebelumnya tidak meninggalkan Allah, tidak perlu Yohanes Pembaptis untuk memalingkan mereka kembali. Bahkan imam-imam yang melayani Allah dalam bait dengan menyalakan lampu dan membakar kemenyan telah meninggalkan Allah dan jauh dari Dia. Di tempat lain dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu bahwa banyak imam yang berpaling kepada Allah (Kis. 6:7). Jadi, imam-imam, orang-orang yang melayani Allah, perlu juga berpaling kepada Allah. Justru untuk itulah Yohanes Pembaptis digunakan untuk mengembalikan banyak orang kepada Tuhan.
2. Sifat Perlu Berubah
Perkataan Yohanes kepada orang Farisi dan Saduki yang datang kepadanya mewahyukan perlunya sifat kita diubah. Matius 3:7 mengatakan, “Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, ber-katalah ia kepada mereka, ‘Hai kamu keturunan ular ber-bisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?’” Orang-orang Farisi adalah orang-orang sekte agama yang paling ketat di antara orang-orang Yahudi (Kis. 26:5). Sekte ini di-bentuk kurang lebih 200 SM. Mereka membanggakan ke-agamaan, pengabdian kepada Allah dan pengetahuan Alkitab mereka yang sangat tinggi. Sebenarnya, mereka sudah mero-sot ke dalam kepura-puraan dan kemunafikan (Mat. 23:2-33). Orang-orang Saduki adalah orang-orang sekte lain dalam agama Yahudi (Kis. 5:17). Mereka tidak percaya kepada ke-bangkitan, malaikat-malaikat, ataupun roh-roh (Mat. 22:33; Kis. 23:8). Baik orang Farisi maupun orang Saduki disebut sebagai keturunan ular berbisa oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus (3:7; 12:34; 23:33). Orang-orang Farisi boleh di-anggap sebagai yang ortodoks, sedangkan orang-orang Saduki ialah orang-orang modern pada masa itu.
Dalam ayat 8-9 Yohanes mengatakan, “Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!” Karena orang-orang Yahudi tidak bertobat, perkataan ini dan perkataan dalam ayat 10 telah digenapi. Allah telah mengerat orang Yahudi dan membangkitkan orang bukan Yahudi yang percaya untuk menjadi keturunan Abraham dalam iman (Rm. 11:15, 19-20, 22; Gal. 3:7, 28-29). Perka-taan Yohanes dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Kerajaan Surga yang diberitakan bukan terbentuk dari anak-anak Abraham menurut daging, melainkan dari anak-anak Abraham menurut iman. Jadi, kerajaan ini adalah ke-rajaan yang surgawi, bukan kerajaan Mesias yang bumiah.
Orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki ialah pemimpin-pemimpin umat Israel. Ketika mereka datang ke-pada Yohanes Pembaptis, dengan nada menolak Yohanes me-nyebut mereka keturunan ular berbisa. Ular berbisa ialah ular beracun. Yohanes mengatakan perkataan ini justru kepada orang-orang Yahudi, bangsa yang terpilih. Umat Israel bukan babi kafir. Mereka menganggap orang bukan Yahudi seperti babi dan diri mereka sebagai umat yang kudus. Tetapi ketika pemimpin-pemimpin umat kudus ini datang kepada Yohanes, ia tidak mengatakan, “Selamat datang. Betapa baik Anda me-ngunjungi ministriku. Alangkah suatu kehormatan bagiku karena kamu sebagai pimpinan umat Israel mengunjungi aku.” Yohanes tidak berbicara seperti “pendeta” dalam ke-kristenan hari ini. Ia tidak berterima kasih kepada orang Farisi dan orang Saduki karena kunjungan mereka, ataupun menyebut mereka sebagai pimpinan, sebaliknya ia menyebut mereka keturunan ular berbisa. Dapatkah Anda percaya bahwa umat Israel, keturunan Abraham, orang yang terpanggil itu bisa menjadi begitu jahat?
Yohanes juga memberi tahu mereka agar jangan ber-bangga karena Abraham adalah bapa mereka, sebab Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu. Seolah-olah Yohanes berkata, “Jangan membanggakan apa pun. Jangan berbangga karena kamu adalah umat Israel dengan Abraham sebagai bapakmu. Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini.” Perkataan Yohanes merupakan suatu bukti yang kuat dan sesungguh-nya adalah suatu nubuat yang menerangkan bahwa zaman telah berubah. Karena zaman telah berubah, bukan lagi masalah kelahiran alami, melainkan kelahiran kedua, yakni kelahiran rohani. Sekalipun Anda dilahirkan sebagai batu yang tidak bernyawa, namun Allah dapat menjadikan Anda anak-Nya yang hidup. Haleluya! Inilah yang telah Ia lakukan pada kita! Kita perlu mengenang kembali kondisi kita sebe-lum diselamatkan. Dipandang dari hal hayat, kita adalah batu-batu mati, dan kalau dipandang dari hal kedosaan, kita penuh dengan dosa dan aktif dalam dosa. Puji Tuhan bahwa pada hari pertobatan kita, kita percaya kepada Tuhan Yesus, Allah telah menjadikan kita anak-anak-Nya yang hidup.
Melalui perkataan Yohanes ini kita nampak bahwa Allah sudah bersiap sedia untuk membuang keturunan ular berbisa ini, umat pilihan-Nya yang lama dan mencari umat lain. Ia bersiap sedia meninggalkan umat Israel dan berpaling kepada batu-batu yang adalah orang-orang bukan Yahudi (kafir). Sekalipun orang-orang kafir adalah batu-batu yang tidak ber-nyawa, mereka ditentukan menjadi anak-anak Allah yang hidup. Ini membuktikan bahwa Allah benar-benar dapat mem-buat setiap batu yang tidak bernyawa menjadi anak Allah.
Dalam ayat 10 Yohanes mengatakan kepada orang Farisi dan Saduki, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Yohanes seolah-olah mengatakan, “Hai keturunan ular berbisa, kapak sudah tersedia pada akar pohon. Kalau kamu pohon yang baik meng-hasilkan buah baik, kamu akan benar. Jika tidak, kamu akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” Sebagaimana kita akan nampak bahwa api yang dikatakan dalam ayat ini ialah api dalam lautan api.
3. Kristus Pembaptis
Ayat 11 mengatakan,“Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Dalam ayat ini Yohanes seolah-olah mengatakan, “Aku datang membaptis kamu dengan air, untuk menamatkan kamu, menguburmu. Tetapi Dia yang da-tang setelah aku, lebih berkuasa daripada aku. Ia akan mem-baptis kamu dengan Roh dan api. Apakah Ia akan membaptis kamu dengan Roh atau api tergantung apakah kamu bertobat atau tidak, kalau kamu bertobat, Ia akan memasukkanmu ke dalam Roh. Tetapi jika kamu terus-menerus adalah keturunan ular berbisa, Ia pasti akan membaptis kamu dalam lautan api. Ini berarti Ia akan memasukkan kamu dalam api neraka.”
Menurut konteks kalimat ini, api di sini bukanlah api dalam Kisah Para Rasul 2:3, yang berhubungan dengan Roh Kudus, melainkan api yang sama dengan yang disebutkan da-lam ayat 10 dan 12, yaitu api dalam lautan api (Why. 20:15), tempat orang yang tidak percaya mengalami kebinasaan kekal. Perkataan Yohanes yang ditujukan kepada orang Farisi dan Saduki di sini berarti jika orang Farisi dan orang Saduki mau sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Tuhan, Tuhan akan membaptis mereka dalam Roh Kudus supaya mereka bisa mendapatkan hayat kekal. Jika tidak, Tuhan akan membaptis mereka dalam api, dengan menaruh me-reka dalam lautan api untuk dihukum selamanya. Baptisan Yohanes hanya untuk pertobatan, untuk mengantar orang percaya ke dalam Tuhan. Baptisan Tuhan akan membuat orang mendapatkan hayat kekal dalam Roh Kudus atau me-nerima kebinasaan kekal dalam api. Baptisan Tuhan dalam Roh Kudus mengawali Kerajaan Surga, membawa kaum beriman-Nya ke dalam Kerajaan Surga, sedangkan baptisan-Nya dalam api akan mengakhiri Kerajaan Surga, menaruh orang yang tidak percaya ke dalam lautan api. Karena itu, baptisan Tuhan dalam Roh Kudus, yang berdasar pada pene-busan-Nya adalah awal Kerajaan Surga, sedangkan baptisan-Nya dalam api, yang berdasar pada penghakiman-Nya, adalah akhir dari Kerajaan Surga. Jadi, dalam ayat ini ada tiga macam baptisan: baptisan dalam air, baptisan dalam Roh, dan baptisan dalam api. Baptisan dalam air oleh Yohanes memperkenalkan Kerajaan Surga kepada orang. Baptisan dalam Roh oleh Tuhan Yesus mewujudkan dan mendirikan Kerajaan Surga pada hari Pentakosta yang akan berlangsung terus sampai perampungannya pada akhir zaman ini. Baptisan dalam api oleh Tuhan berdasarkan pada penghakiman di takhta putih besar (Why. 20:11-15), akan menyudahi Kerajaan Surga.
Beberapa orang Kristen mengira bahwa api dalam ayat 11 menunjukkan lidah api pada hari Pentakosta, dengan mengatakan bahwa Tuhan akan membaptis kaum beriman dengan Roh Kudus dan api. Tetapi kita harus cermat terha-dap konteks ayat 11. Perhatikan bahwa kata “api” ditemu-kan dalam ayat-ayat 10-12. Dalam ayat 10 pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik ditebang dan dicampakkan ke dalam api. Sudah tentu api ini ialah lautan api. Api da-lam ayat 11 pasti menunjukkan pula lautan api, sebab ini merupakan keterangan lebih lanjut tentang api yang dika-takan dalam ayat sebelumnya. Menurut ayat 12, Tuhan akan membakar sekam dengan api yang tidak terpadamkan. Gandum yang dikumpulkan ke dalam lumbung ialah mereka yang dibaptis dalam Roh. Namun, sekam akan dibakar de-ngan api. Tentu pula api ini ialah lautan api. Jadi, api yang dikatakan dalam ayat 10-12 menunjukkan api yang sama dalam setiap perkara (kasus), api dalam lautan api. Yohanes seolah-olah mengatakan kepada pemimpin-pemimpin Yahudi, “Kamu orang Farisi dan orang Saduki mungkin dapat menipu aku, tetapi kamu tidak dapat menipu Tuhan. Jika kamu benar-benar bertobat, Dia akan membaptis kamu ke dalam Roh. Tetapi jika kamu tetap dalam kejahatanmu, Dia akan membaptis kamu ke dalam api.” Inilah pengertian yang benar tentang ayat-ayat ini.
Ayat 12 mengatakan,“Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan me-ngumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” Orang-orang yang dilambangkan dengan gandum memiliki hayat di batinnya. Tuhan akan membaptis mereka dalam Roh Kudus pada saat terangkat, mereka akan dikumpulkan dalam lumbung-Nya di angkasa. Orang-orang yang dilambangkan dengan sekam, seperti lalang dalam 13:24-30, tidak memiliki hayat. Tuhan akan membaptiskan mereka dalam api, me-naruh mereka ke dalam lautan api. Sekam di sini mengacu kepada orang Yahudi yang tidak mau bertobat, sedangkan la-lang dalam pasal 13 mengacu kepada orang Kristen se-butan. Nasib kekal keduanya sama—binasa dalam lautan api (3:40-42).
Yesus Sang Raja melakukan dua macam baptisan! Baptisan dalam Roh dan baptisan dalam api. Baptisan dalam roh memulai Kerajaan Surga, dan baptisan dalam api akan mengakhirinya. Permulaan Kerajaan Surga ialah pada hari Pentakosta. Pada hari itu Yesus Sang Raja membaptis kaum beriman dalam Roh Kudus. Oleh baptisan dalam roh, Kera-jaan Surga dimulai. Kerajaan Surga akan berakhir dengan penghakiman takhta putih yang besar. Pada saat itu orang yang tidak percaya akan dihukum dan dibuang ke dalam lautan api. Itulah baptisan dalam api. Baptisan api ini akan mengakhiri Kerajaan Surga.
Baptisan dalam air yang dilakukan oleh Yohanes ialah permulaan Kerajaan Surga, suatu persiapan datangnya Kera-jaan Surga. Banyak orang Kristen sebutan telah dibaptis dalam air. Tetapi apakah mereka mendapatkan bagian dalam baptisan dalam Roh atau menderita baptisan dalam api tergantung pada bertobat atau tidaknya mereka. Kalau me-reka benar-benar bertobat, Tuhan Yesus akan membaptis mereka ke dalam Roh. Bila tidak, Tuhan Yesus sebagai ha-kim di takhta putih yang besar akan membuang mereka ke dalam lautan api. Jadi, dalam Alkitab ada tiga macam bap-tisan: baptisan air, baptisan Roh, dan baptisan api. Baptisan air Yohanes ialah suatu persiapan bagi datangnya kerajaan; baptisan Roh adalah permulaan kerajaan; dan baptisan api akan menjadi pengakhiran kerajaan. Kita jangan terus men-jadi keturunan ular berbisa, atau menjadi sekam dalam pasal 3, atau lalang dalam pasal 13. Sebaliknya, kita harus menjadi gandum, anak Allah yang hidup. Untuk menjadi anak Allah, Anda harus dibaptis melalui air masuk ke dalam Roh. Yohanes 3:5 mengatakan bahwa Anda harus dilahirkan dari air dan dari Roh. Pertama-tama kita dibaptis melalui air; kemudian kita dibaptis di dalam Roh. Dengan jalan ini kita telah dilahirkan kembali. Karena itu kita mempunyai dua macam baptisan yang positif, baptisan dalam air dan baptisan dalam Roh. Tetapi kita sama sekali tidak mau ber-sangkutan dengan baptisan dalam api.
D. Cara Perkenalan
Kita telah melihat orang yang memperkenalkan dan berita perkenalan. Kini kita perlu melihat cara perkenalan.
1. Membaptis Orang dalam Air
Aspek pertama cara perkenalan Yohanes ialah membaptis orang dalam air. Ayat 5-6 mewahyukan bahwa banyak yang dibaptis olehnya di Sungai Yordan, mengaku dosa-dosa mereka. Membaptis orang ialah mencelupkan orang, mengu-bur orang dalam air yang menandakan kematian. Yohanes Pembaptis melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa se-tiap orang yang bertobat itu tidak berguna sama sekali, ke-cuali dikuburkan. Ini pun menandakan kesudahan manusia lama, agar permulaan baru dapat diwujudkan dalam kebang-kitan, dibawa masuk oleh Kristus sang Pemberi hayat. Jadi, setelah ministri Yohanes, Kristus datang. Baptisan Yohanes tidak hanya mengakhiri mereka yang bertobat, bahkan meng-antar mereka kepada Kristus agar mendapatkan hayat. Da-lam Alkitab baptisan mengandung arti kematian dan kebang-kitan. Dibaptis ke dalam air berarti dimasukkan ke dalam kematian dan dikubur. Keluar dari air berarti dibangkitkan dari kematian.
Sungai Yordan adalah sungai tempat penguburan dua belas batu yang mewakili kedua belas suku Israel. Dari su-ngai itu juga diangkat atau dibangkitkan dua belas batu lain, yang juga mewakili dua belas suku Israel (Yos. 4:1-18). Maka, membaptis orang di Sungai Yordan menyiratkan pengu-buran orang lama dan kebangkitan orang baru. Sebagaimana menyeberangi Sungai Yordan mengantar orang Israel ke ta-nah permai, demikian pula dibaptiskan membawa orang masuk ke dalam Kristus, realitas tanah permai.
Ketika seseorang bertobat di depan Yohanes Pembaptis, Yohanes membaptisnya ke dalam air. Menurut Perjanjian Baru, membaptis seseorang ke dalam air, pertama-tama ber-arti menguburkannya dan kedua berarti membangkitkannya. Jadi, di pihak negatif baptisan menandakan kematian dan penguburan, di pihak positif menandakan kebangkitan. Dalam berita perkenalannya, Yohanes menunjukkan bahwa Allah akan menjadikan anak-anak yang hidup dari batu-batu mati. Dengan jalan membaptis orang-orang yang bertobat, Yohanes menunjukkan bahwa mereka dan semua masa lampau me-reka harus ditamatkan dan dikubur. Namun penguburan bukanlah terakhir, sebab penguburan selalu menghasilkan kebangkitan. Jadi, di satu pihak penguburan ialah pengak-hiran; di lain pihak, juga kebangkitan. Mereka yang diakhiri Yohanes dalam baptisan akan dibangkitkan; bukan dibang-kitkan di dalam Yohanes, melainkan di dalam Orang yang datang setelah dia. Baptisan Yohanes menunjukkan bahwa ada Orang yang akan datang untuk membangkitkan orang yang mati.
Baptisan berarti apa adanya alamiah kita dan segala perkara lampau kita harus diakhiri. Apa adanya kita dan perkara lampau kita hanya layak dikubur. Karena itu, ke-tika Yohanes, imam sejati, membawa orang kepada Allah dan memperkenalkan Raja kepada mereka, ia mengakhiri dan mengubur setiap orang yang datang kepadanya dalam pertobatan, dengan jalan ini ia menunjukkan bahwa mereka yang dikubur olehnya akan dibangkitkan oleh Dia yang telah bangkit. Inilah cara perkenalan, jalan yang benar untuk membawa orang yang bertobat kepada Raja yang akan mem-bangkitkan mereka.
Dalam Perjanjian Baru terdapat dua ministri: ministri Yohanes dan ministri Tuhan Yesus. Ministri Yohanes ialah membawa orang kepada Allah dengan mengakhiri dan me-ngubur mereka. Orang-orang yang diakhiri dan dikubur ini perlu kebangkitan yang hanya dapat dilakukan oleh Kristus. Sebab itu, Kristus datang setelah Yohanes untuk menyuplaikan hayat kepada orang yang mati dan yang dikubur. Inilah se-babnya kita perlu dilahirkan kembali, dibaptis dalam air dan dalam Roh. Dibaptis dalam air ialah pengakhiran hayat alamiah kita dan perkara lampau kita. Dibaptis dalam Roh ialah men-dapatkan permulaan baru melalui dibangkitkan dengan hayat ilahi. Kebangkitan ini hanya mungkin melalui Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.
Setiap orang yang dibawa kepada Allah harus diakhiri di hadirat Allah. Di satu pihak, dibawa ke hadirat Allah memang sangat indah. Tetapi di pihak lain, berarti Anda ha-rus diakhiri. Kalau Anda tidak diakhiri, Anda akan dibunuh. Karena itu dibawa ke hadirat Allah sangat indah dan serius, sebab ini berarti kita akan ditamatkan atau dibunuh. Kedua anak Harun, Nadab dan Abihu, masuk ke hadirat Allah, te-tapi mereka dihanguskan oleh api (Im. 10:12). Bila kita mau ditamatkan di hadirat Allah, berarti kita bersedia dibangun-kan dan dibangkitkan untuk mendapatkan permulaan baru. Pengakhiran ini ialah jalan perkenalan yang sejati. Inilah jalan persiapan untuk membawa kita ke hadirat Raja se-hingga Raja dapat dibawa kepada kita untuk memberi kita permulaan yang baru dalam kebangkitan. Dalam Matius 3 kita mempunyai penamatan yang kuat dan kebangkitan yang unggul. Melalui penamatan dan kebangkitan ini, Raja mendapatkan orang dan orang menerima Raja.
2. Menyiapkan Orang untuk Menerima Kristus
Matius 3:3 mengatakan, “Sesungguhnya dialah yang di-maksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, ‘Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan un-tuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.’” Ayat ini mewahyukan bahwa Yohanes Pembaptis ialah orang yang menyiapkan jalan untuk Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya. Menyiapkan jalan untuk Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya dengan jalan mengubah pikiran manusia, memalingkan pikiran me-reka kepada Tuhan dan menepatkan hati mereka, agar me-lalui pertobatan, setiap bagian dan jalan (setapak) hati mereka diluruskan oleh Tuhan bagi Kerajaan Surga (Luk. 1:16-17). Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan dan meluruskan jalan. Ini menyatakan bahwa jalan itu tidak rata, penuh dengan bukit dan lembah. Di beberapa tempat sangat rendah dan di lain tempat sangat tinggi. Yohanes datang dan menata jalan, meratakan lembah-lembah, menambal lubang-lubang, dan membuat jalan menjadi datar dan rata. Yohanes juga me-luruskan jalan setapak yang penuh lekuk-lekuk. Fakta bahwa Yohanes meratakan jalan dan meluruskan jalan setapak berarti bahwa ministri-Nya menanggulangi pikiran dan hati.
Renungkanlah masa lampau Anda sebelum Anda dise-lamatkan. Bukankah Anda mempunyai jalan yang tidak rata di dalam Anda? Sesungguhnya jalan dalam pikiran Anda dipenuhi dengan banyak bukit dan lembah. Sebelum Anda diselamatkan, pikiran Anda banyak mengalami pasang surut. Tidak ada yang datar. Lagi pula, dalam bidang pikiran, emosi, keinginan, dan hasrat Anda, terdapat banyak lekuk. Pada suatu hari Anda mengatakan bahwa istri Anda seorang bida-dari, keesokan harinya Anda mengatakan bahwa dia itu Iblis. Ini membuktikan bahwa emosi Anda penuh lekukan. Sebelum Anda bertobat, semua jalan di dalam Anda berlekuk-lekuk, tidak ada yang lurus.
Ketika Yohanes Pembaptis datang, ia menyuruh orang-orang bertobat. Pertobatan yang sejati menyiapkan jalan dan meluruskan jalan. Sebelum saya bertobat, mental saya kasar. Tetapi oleh belas kasih Tuhan, pada hari pertobatan saya, se-luruh apa adanya saya menjadi licin. Sejak saat pertobatan itu, setiap jalan raya, setiap lorong, dan jalan setapak di da-lam saya telah diluruskan. Ini menyiapkan saya untuk mene-rima Tuhan, menyiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskan jalan setapak-Nya. Jalan untuk menyiapkan orang lain me-nerima Tuhan ialah membantu mereka bertobat. Yohanes Pembaptis seolah-olah berkata, “Kamu umat Israel berjauhan dengan Tuhan. Pikiranmu ialah jalan yang tidak rata; emosi, tekad, kesenangan, dan keinginanmu adalah jalan yang ber-liku-liku. Kamu perlu bertobat dan meluruskan setiap jalan di dalammu sehingga Tuhan dapat masuk.” Banyak orang mendengarkan perkataan Yohanes Pembaptis dan bertobat, demikianlah jalan mereka diratakan, jalan mereka dilu-ruskan. Karena itu, Sang Raja bisa masuk. Inilah pertobatan sejati. Pertobatan sejati menyiapkan jalan bagi Tuhan seba-gai Raja untuk masuk. Saya dapat bersaksi bahwa sepan-jang jalan yang diratakan ini dan pada jalan setapak yang diluruskan ini, saya terus-menerus menikmati Tuhan. Jalan saya telah diratakan, Tuhan Yesus berjalan di dalam saya, dan sepanjang jalan setapak yang telah diluruskan, Tuhan Yesus selalu menyertai saya. Inilah jalan untuk menyiapkan diri kita guna menerima Kristus Sang Raja.