PENGURAPAN RAJA (3)
Dalam berita ini kita akan melihat pengurapan raja yang sesungguhnya.
II. DIURAPI
A. Melalui Baptisan
Matius 3:13 mengatakan, “Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis oleh-nya.” Dua kata penting dalam ayat ini ialah Galilea dan Yordan. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Yesus datang dari Betlehem ke Yerusalem untuk dikuduskan, melainkan Ia datang dari Galilea ke Yordan untuk dibaptis. Kita perlu melihat makna bagian kalimat “dari Galilea ke Yordan”. Tidaklah mudah nampak mengapa Yesus tidak datang dari Betlehem, tetapi dari Galilea; juga tidak ke Yerusalem, te-tapi dari Yordan. Kita juga perlu nampak mengapa Ia datang kepada Yohanes, seorang yang “liar”, bukan kepada imam agung, seorang yang berkebudayaan dan agamawi. Lagi pula, kita perlu mengetahui mengapa Ia datang untuk dibaptis bukan dikuduskan.
1. Datang dari Galilea
Dalam Perjanjian Baru, Galilea adalah daerah yang di-pandang rendah, menunjukkan penolakan. Yesus bukan datang dari Betlehem, sebab pada saat itu Betlehem adalah tempat kehormatan dan penyambutan. Jika Anda berasal dari Betlehem, orang-orang akan menghormati Anda dan memberi Anda sambutan hangat. Tetapi kalau Anda datang dari Galilea, orang-orang akan menghina Anda dan menolak Anda. Yesus datang dari tempat yang demikian dihina dan ditolak. Tempat ini bukan ditolak oleh Allah, melainkan di-tolak oleh agama dan kebudayaan. Mereka semua yang da-tang kepada pemulihan Tuhan tidak datang dari Betlehem, sebaliknya mereka datang dari Galilea. Janganlah mencoba datang dari tempat yang terhormat dan disambut hangat, melainkan datang dari tempat yang dihina dan ditolak agama dan kebudayaan. Bahkan jika seorang presiden suatu negara menempuh jalan gereja, ia pun harus pula menjadi seorang yang datang dari Galilea ke Yordan. Setelah pengamatan dan penelitian bertahun-tahun, saya nampak bahwa orang-orang yang bermartabat tinggi, yang kembali ke jalan gereja, telah dihina dan ditolak oleh agama dan kebudayaan hari ini. Saya amat yakin jika Anda masih terhormat dan disambut oleh agama dan kebudayaan hari ini, Anda tidak berada pada jalan dari Galilea ke Yordan. Jalan dari Galilea ke Yordan itulah jalan yang tepat bagi gereja. Jalan hidup gereja hari ini bukan dari Betlehem ke Yerusalem, melainkan dari Galilea ke Yordan.
Jalan gereja ialah jalan sempit. Kalaupun tidak ada tantangan terhadap pemulihan Tuhan, sebaliknya ada pujian yang tinggi dari setiap organisasi kekristenan, jumlah orang yang berpaling ke jalan gereja akan tetap sama dengan jumlah hari ini; ini dikarenakan jalan gereja adalah jalan yang sempit. Ada orang begitu teringat gereja, mungkin ber-kata, “Inilah Kerajaan Surga. Tentunya jalan ini sangat tinggi.” Walaupun jalan ini tinggi, namun bukan tinggi me-nurut ukuran konsepsi Anda, melainkan suatu jalan bebas hambatan dari Galilea ke Yordan.
2. Datang ke Yordan
Sebagaimana telah kita tunjukkan, Sungai Yordan ada-lah tempat penguburan dan kebangkitan. Jadi, Sungai Yordan menunjukkan pengakhiran dan permulaan hayat baru. Umat Israel menempuh perjalanan melalui padang gurun kurang lebih empat puluh tahun lamanya dan akhirnya mereka se-mua dikubur di Sungai Yordan. Jadi, Sungai Yordan meng-akhiri mereka, mengakhiri sejarah dalam pengembaraan mereka di padang gurun, dan mengakhiri zaman pengemba-raan itu. Namun, Sungai Yordan juga memberi mereka suatu awal baru, karena Sungai Yordan memberi permulaan hayat baru kepada mereka dan mengantar mereka memasuki zaman baru. Sungai Yordan membawa umat Israel keluar dari padang gurun untuk memasuki tanah permai, yakni Kristus. Inilah makna Sungai Yordan.
Dalam hidup gereja hari ini, jalan kita adalah jalan dari Galilea ke Sungai Yordan, jalan dari penolakan ke pengak-hiran dan kebangkitan. Kita semua perlu mengatakan kepada mereka yang menghina dan menolak kita, “Selamat tinggal! Aku tidak akan mencari sambutan kalian. Aku akan pergi ke tempat di mana aku bisa diakhiri dan memperoleh permulaan baru dalam hayat.” Dalam hidup gereja tidak ada kehormatan, melainkan pengakhiran. Dari hari ke hari kita diakhiri. Dalam gereja kita mengalami saling mengakhiri. Setiap hari bahkan setiap jam kita mengakhiri satu dengan yang lain. Tetapi diakhiri itu merupakan suatu hal yang indah. Pengakhiran bukan penghabisan, melainkan permulaan, sebab pengakhiran selalu menuju ke permulaan baru dalam hayat. Karena itu, kita dapat bersaksi bahwa setiap peng-akhiran selalu menjadi suatu permulaan baru dalam hayat.
Kadang kala saudari-saudari berkata, “Saudara Lee, hidup gereja sangat indah, tetapi sering kali menyulitkan kami, kaum saudari. Kami tahu bahwa saudara-saudara ada-lah kepala dan saudari-saudari harus tunduk kepada mereka. Saudara-saudara baik, tetapi mereka terlalu keras, kami tidak tahan. Sering kali mereka hampir-hampir membunuh kami.” Ketika saya mendengar hal ini, saya menjawab, “Bukankah itu baik? Diakhiri itu alangkah baiknya. Bukankah baik bagi saudari dibunuh oleh saudara?”
Beberapa tahun yang lalu, saya diundang ke suatu ge-reja. Saudara-saudara di sana memberi tahu saya bahwa saudari-saudari begitu penuh emosi dan opini, sehingga sangat sulit bersekutu dengan mereka. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi situasi demikian. Beberapa hari kemudian, bebe-rapa saudari yang mereka perbincangkan itu mengundang saya makan siang. Tujuan mereka berbuat demikian adalah supaya mereka memiliki kesempatan mengutarakan opini mereka. Mereka memberi tahu saya bahwa kesabaran mereka telah habis, sebab saudara terlalu keras. Mereka mengingin-kan saya memberi mereka jalan untuk maju. Beberapa hari sebelumnya saya ditekan oleh saudara-saudara, tetapi kini lagi-lagi saya ditekan oleh saudari-saudari. Saya sadar be-tapa serius dan mengerikan pengakhiran kali ini, baik bagi saudara maupun saudari. Saudara-saudara dan saudari-saudari sama-sama sedang diakhiri. Namun saling meng-akhiri semacam ini sangatlah positif. Tidakkah Anda suka diakhiri? Kalau Anda belum pernah diakhiri dalam hidup gereja, bersedialah untuk itu. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa dalam hidup gereja kita semua diakhiri, sebab kita sedang berjalan dari Galilea menuju ke Sungai Yordan.
Ketika orang baru masuk ke dalam hidup gereja, mung-kin akan berkata, “Haleluya! Aku telah nampak hidup gereja! Betapa menakjubkan!” Ketika saya mendengar ini, dalam ba-tin saya berkata, “Ya, memang menakjubkan, tetapi tunggu dulu. Cepat atau lambat hidup gereja yang sangat menak-jubkan ini akan mengakhiri Anda.” Dalam hidup gereja, saya pernah diakhiri berkali-kali. Saya telah mengalami paling tidak sepuluh pengakhiran besar. Saya telah diakhiri di Cheefo, Shanghai, Taipei, Manila, Los Angeles, dan Anaheim. Hidup gereja yang menakjubkan sesungguhnya adalah hidup pengakhiran. Hidup gereja yang menakjubkan mengakhiri kita semua. Bersedialah untuk diakhiri. Mereka yang belum lama berada dalam hidup gereja, mungkin masih dalam ke-adaan berbulan madu. Bulan madu itu indah. Tetapi setiap pasangan tahu, bulan madu akhirnya menuju ke pengak-hiran. Hampir setiap suami telah mengakhiri istrinya dan semua istri telah mengakhiri suaminya. Tetapi pengakhiran ini sangat positif, sebab mendatangkan permulaan hayat baru. Haleluya, pengakhiran menghasilkan kebangkitan!
Hidup gereja memang menakjubkan, tetapi tidak menakjubkan menurut konsepsi kita. Hidup gereja yang menakjubkan itu cepat atau lambat akan mengakhiri kita semua. Hidup gereja akan menamatkan Anda sekaligus membangkitkan Anda. Saya yakin bahwa apa adanya Anda, apa yang Anda miliki, dan apa yang dapat Anda lakukan akan ditamatkan semua. Boleh jadi untuk menggenapkan hal ini memerlukan sejarah sepuluh tahun dalam gereja. Mereka yang telah sepuluh tahun berada dalam gereja dapat bersaksi bahwa setiap bagian mereka telah diakhiri. Makin lama berada dalam gereja makin banyak pula pengakhiran yang kita terima. Mula-mula, pengalaman pengakhiran itu pahit. Tetapi kemudian menjadi manis. Bagi saya hari ini diakhiri itu manis. Setelah bertahun-tahun diakhiri dalam hidup gereja, Anda akan senang diakhiri. Mula-mula ketika Anda diakhiri dalam hidup gereja, Anda merasa malu. Namun lambat laun menjadi pengalaman yang manis bagi Anda. Kita sedang dalam perjalanan dari Galilea ke Sungai Yordan, dari tempat penolakan ke tempat pengakhiran.
Di tempat pengakhiran inilah kita berjumpa dengan Raja. Di sini, dalam hidup gereja, kita menjumpai Dia. Sejak saya memasuki hidup gereja, saya telah berkali-kali dibawa ke-pada Tuhan. Sehari demi sehari hidup gereja membawa saya kepada Kristus, dan membawa Kristus Sang Raja kepada saya. Akhirnya, kerajaan ada di sini. Jadi, hidup gereja ada-lah kerajaan.
Saya telah diajar oleh Kaum Saudara bahwa adanya kerajaan ditangguhkan sampai kemudian hari. Saya juga diajarkan bahwa gereja hari ini bukan kerajaan. Tetapi dari pengalaman, lambat laun saya menyadari bahwa setiap kali saya diakhiri, saya telah dibawa kepada Raja dan Raja dibawa kepada saya. Dalam pengalaman saya, hal ini merupakan realitas kerajaan. Melalui pengalaman, pertama-tama saya mengetahui bahwa hidup gereja ialah kerajaan. Pengalaman memberi tahu saya bahwa ajaran yang saya terima dari Kaum Saudara tentang kerajaan tidaklah benar. Dari penga-laman saya tahu bahwa saya berada dalam kerajaan. Setiap kali saya diakhiri, saya bertemu dengan Raja saya dan ke-rajaan juga ada di sana. Ini bukan perkara doktrin, mela-inkan perkara pengalaman. Kemudian, setelah mempelajari Perjanjian Baru lebih lanjut, saya menerima terang dalam perkara kerajaan, dan pengalaman saya pun membenarkan-nya. Kini saya dapat berkata dengan berani bahwa menurut Perjanjian Baru, hari ini kerajaan ada di sini. Beberapa guru Kristen mengatakan bahwa kerajaan telah ditangguhkan sampai suatu saat kelak. Sebab mereka belum diakhiri. Me-reka belum pernah dibawa kepada Raja, dan Raja belum per-nah dibawa kepada mereka. Dalam pengalaman mereka setiap hari, mereka tidak mempunyai kerajaan. Namun setelah Anda diakhiri dalam perjalanan dari Galilea ke Sungai Yordan, baik Raja maupun kerajaan akan ada di sana.
3. Dibaptis oleh Yohanes
Tuhan Yesus datang dari Galilea ke Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes. Sebagai seorang manusia, Tuhan Yesus datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis selaras dengan Perjanjian Baru Allah. Dari keempat Injil hanya Injil Yohanes yang tidak mengisahkan catatan tentang Tuhan ketika dibaptis sebab Yohanes mempersaksikan bahwa Tuhan itu Allah. Ayat 13 tidak mengatakan bahwa Yesus datang kepada Yohanes untuk dikuduskan, melainkan mengatakan, Ia datang untuk dibaptis. Sekalipun setiap orang Kristen suka dikuduskan, tetapi tidak seorang pun suka diakhiri. Jika saya memberi tahu Anda bahwa gereja tidak akan menguduskan Anda, sebaliknya hanya mengakhiri Anda, Anda akan ber-paling dari gereja dan mengatakan, “Aku tidak mau tinggal di sini. Aku ingin dikuduskan. Aku ingin gereja menjadi-kan aku lebih kudus.” Tetapi gereja pertama-tama tidak akan membuat Anda lebih kudus, melainkan akan berkali-kali mengakhiri Anda. Gereja pertama-tama bukan gereja yang menguduskan, melainkan gereja yang membaptis. Pikir-kanlah perkara Tuhan Yesus, Ia adalah Gembala yang sejati. Seorang Gembala selalu berjalan di depan. Sebagai Raja Gembala, Tuhan Yesus berjalan di depan untuk memimpin Anda berjalan dari Galilea ke Sungai Yordan untuk dibaptis. Ia bukan datang ke Sungai Yordan untuk bertakhta, mela-inkan ditaruh dalam kematian, dikubur.
4. Untuk Menggenapkan Semua Kebenaran
Ayat 14-15 mengatakan, “Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?’ Lalu jawab Yesus kepadanya, ‘Biar-lah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak (kebenaran) Allah.’ Yohanes pun menuruti-Nya.” Yohanes tidak mengerti jelas, ia bimbang, bagaimana mungkin dia membaptis Yesus; dia mengira seharusnya dialah yang dibaptis Yesus. Ini menun-jukkan bahwa Yohanes masih dalam hayat alamiahnya. Sekalipun ia telah dijenuhi oleh Roh Kudus lebih dari tiga puluh tahun, masih ada unsur alamiahnya yang tersisa. Perkataannya dalam ayat 14 diucapkan menurut konsepsi alamiahnya. Karena itu dalam jawaban kepadanya, Tuhan seolah-olah berkata, “Engkau harus mengizinkan Aku di-baptis. Jangan menghalangi Aku dengan konsepsi alamiahmu. Jangan mengira, karena Aku lebih berkuasa daripadamu, Aku tidak perlu dibaptis olehmu. Izinkanlah Aku dibaptis se-hingga kita dapat menggenapkan semua kebenaran.”
Kebenaran adalah menjadi benar dengan hidup, berjalan, dan melakukan segala hal menurut cara yang ditetapkan oleh Allah. Dalam Perjanjian Lama, yang dimaksud benar adalah memelihara hukum Taurat yang telah Allah berikan. Kini Allah mengutus Yohanes Pembaptis untuk mengada-kan baptisan. Dibaptis juga menggenapkan kebenaran di hadapan Allah, yaitu menggenapkan syarat Allah. Tuhan Yesus datang kepada Yohanes, bukan sebagai Allah, melain-kan sebagai manusia biasa, standar, orang Israel sejati. Ka-rena itu, Ia harus dibaptis untuk memelihara pengaturan Allah pada zaman ini; jika tidak, Dia tidak akan benar terhadap Allah.
Kebenaran ialah masalah benar terhadap Allah. Andai-kata Allah membuka pintu di atas atap suatu rumah dan me-ngatakan bahwa inilah jalan yang benar untuk masuk ke dalam rumah. Semua orang yang tidak masuk rumah me-lalui pintu ini tidak benar terhadap Allah. Boleh jadi Anda akan berkata, “Aku tidak setuju memasuki rumah melalui pintu itu. Menurut konsepsiku, letak pintu ini tidak benar. Pintu depan atau pintu samping itulah pintu yang benar.” Jalan Anda mungkin benar dalam pandangan Anda, tetapi tidak benar dalam pandangan Allah. Kebenaran bukan ma-salah opini Anda, melainkan masalah ketetapan Allah.
Pada zaman Yohanes Pembaptis, Allah menentukan pembaptisan sebagai jalan. Setiap orang yang ingin memasuki Kerajaan Surga harus melewati pintu baptisan Yohanes Pembaptis. Sampai-sampai Yesus Kristus sendiri pun tidak terkecuali. Ia pun harus melalui pintu baptisan ini. Jika tidak, Ia akan kurang kebenaran untuk melalui pintu ini. Setelah Tuhan memberikan jawaban demikian kepada Yohanes, ia mengerti lalu membaptiskan Dia.
Dibaptis ialah dibenarkan dalam pandangan Allah. Peng-akhiran dan permulaan hayat baru manusia kita ialah kebe-naran di hadapan Allah. Orang yang telah dibaptis, telah di-akhiri dan telah memiliki permulaan hayat baru adalah benar terhadap Allah. Ekonomi Allah ialah mengakhiri manusia alamiah kita dan dengan hayat yang baru membuat kita mendapatkan permulaan hayat baru. Jika kita ingin benar terhadap Allah, kita harus diakhiri dalam hayat alami kita dan mendapatkan permulaan hayat baru melalui hayat ilahi-Nya. Pengakhiran dan permulaan hayat baru ialah kebenaran yang paling tinggi. Tuhan Yesus, sebagai Raja Kerajaan Surga mendahului kita untuk diakhiri. Dengan demikian, Ia menggenapkan kebenaran dalam pandangan Allah. Jadi, Dia adalah orang yang tepat untuk mendirikan Kerajaan Surga.
Tuhan dibaptis tidak hanya untuk menggenapkan kebe-naran menurut ketetapan Allah, bahkan Dia membiarkan diri-Nya ditaruh dalam kematian dan kebangkitan agar Ia dapat melayani, bukan secara alamiah, melainkan secara kebangkitan. Melalui baptisan, Ia hidup dan melayani dalam kebangkitan bahkan sebelum kematian dan kebangkitan-Nya yang sesungguhnya tiga setengah tahun kemudian. Menurut pengertian kita, Tuhan Yesus dimatikan di atas salib dan di-bangkitkan pada hari ketiga. Tetapi dalam pandangan Allah dan menurut pengertian Tuhan, Ia telah dimatikan tiga se-tengah tahun sebelum penyaliban-Nya. Sebelum Ia memulai ministri-Nya, Ia telah dimatikan dan dibangkitkan. Jadi, Ia ti-dak melayani secara alamiah. Ministrinya mutlak dalam hayat kebangkitan-Nya. Dengan demikian, Ia memasuki pintu kebenaran dan menempuh jalan kebenaran. Apa pun yang Ia lakukan di atas jalan ini adalah benar.
Ketika Tuhan Yesus kembali, banyak orang akan berse-ru kepada-Nya, “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?” (Mat. 7:22). Tuhan akan berkata kepada mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat. 7:23). Tuhan seolah-olah akan berkata, “Kamu adalah orang yang tidak taat, Aku tidak pernah membenarkan atau setuju dengan apa yang kamu lakukan, sebab kamu tidak melakukan dalam ke-bangkitan. Semua perkara baik yang kamu lakukan, kamu lakukan dalam cara alamiahmu dan dalam hayat alamiah-mu. Kamu tidak benar; kamu tidak taat.” Melalui baptisan, Tuhan Yesus memasuki pintu kebenaran, kemudian Ia ber-jalan terus menelusuri jalan kebenaran. Jadi, Dialah satu-satunya orang yang benar, orang yang adil (Kis. 3:14; 7:52; 22:14).
B. Diurapi dengan Roh Kudus
Ayat 16 mengatakan, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Yesus tidak hanya diurapi melalui baptisan, tetapi juga diurapi dengan Roh Kudus.
1. Keluar dari Air
Setelah dibaptis, Tuhan keluar dari air. Ini menunjukkan bahwa setelah kematian dan penguburan-Nya, Ia bangkit dari kematian.
2. Langit Terbuka bagi-Nya
Tuhan dibaptis untuk menggenapkan kebenaran Allah dan untuk ditaruh dalam kematian dan kebangkitan. Hal ini membawakan tiga hal kepada-Nya: langit terbuka, Roh Allah turun, dan Bapa berbicara. Demikian pula dengan kita hari ini.
Karena Tuhan Yesus dibaptis menggenapkan kebenaran Allah, maka surga terbuka bagi-Nya, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan Allah berfirman tentang Dia. Pembaptisan-Nya untuk menggenapkan kebenaran Allah menggirangkan Allah, sehingga baptisan-Nya membuka langit, membawa turun Roh Kudus, dan membuka mulut Bapa. Jalan agar kita beroleh langit yang terbuka, Roh yang turun, dan perka-taan Bapa ialah diakhiri. Banyak di antara kita dapat ber-saksi bahwa ketika kita diakhiri, surga terbuka. Sebaliknya, ketika kita disambut dan dihormati, surga tertutup. Ketika kita diakhiri dalam hidup gereja, surga terbuka. Tidak hanya demikian, setiap pengakhiran membawa turun Roh Kudus dan membuka mulut Bapa Surgawi kita. Pada saat itu Bapa akan berkata, “Yang Kukasihi.” Saya dapat bersaksi bahwa saat-saat termanis saya mendengar firman Allah ialah saat-saat pengakhiran. Boleh jadi saya diakhiri sampai saya men-cucurkan air mata, tetapi pengakhiran saya membukakan mulut Bapa, hanya mengutarakan kata-kata yang manis kepada saya. Dia hanya mengatakan, “Anak-Ku yang ter-kasih.” Kata yang sederhana ini sudah cukup; penuh dengan belas kasihan dan anugerah. Sunggguh suatu penghiburan dan kekuatan bagi Dia untuk mengatakan, “Anakku yang terkasih!” Dalam hidup gereja kita mempunyai banyak peng-alaman seperti ini. Namun, jarang sekali perkara-perkara itu dimulai di luar gereja. Dalam hidup gereja, ketika kita diakhiri, surga terbuka, Roh datang, dan Bapa berfirman. Kita memiliki langit yang terbuka, Roh yang mengurapi, dan Bapa yang berfirman.
3. Roh Allah Turun ke Atas-Nya
Ayat 16 mengatakan,“Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Sebelum Roh Allah turun ke atas-Nya, Tuhan Yesus dilahirkan dari Roh Kudus (Luk. 1:35). Ini membuktikan bahwa pada saat Dia dibaptis, Dia sudah mem-punyai Roh Allah dalam diri-Nya. Roh itu ada dalam diri-Nya untuk kelahiran-Nya. Kini untuk ministri-Nya, Roh Allah turun ke atas-Nya. Hal ini menggenapkan Yesaya 61:1; 42:1 dan Mazmur 45:7, dan dilaksanakan untuk mengurapi Raja baru dan memperkenalkan-Nya kepada umat-Nya.
Burung merpati bersifat lembut, dan matanya hanya dapat melihat satu benda pada satu saat. Karena itu, burung merpati melambangkan kelembutan dan ketulusan dalam pandangan dan tujuan. Dengan turunnya Roh Allah seperti burung merpati ke atas-Nya, Tuhan Yesus melayani dalam kelembutan dan ketulusan, hanya tertuju pada kehendak Allah.
Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus (1:18, 20). Ia dilahirkan dari Roh Kudus dan disusun dengan Roh kudus. Roh Kudus adalah susunan-Nya. Namun, Ia tetap perlu bap-tisan Roh Kudus, pencurahan Roh Kudus. Ketika dalam rahim gadis Maria, Ia disusun dengan Roh Kudus. Ini berarti bahwa Ia adalah susunan Roh Kudus. Itu adalah yang batiniah. Secara lahiriah, Ia tetap perlu Roh Kudus turun ke atas-Nya.
Jika Roh Kudus telah ada di dalam Yesus sebelum Ia dibaptis, mengapa Roh Kudus masih perlu turun ke atas-Nya? Apakah ini dua Roh? Bukankah Roh Allah dalam Yesus? Memang benar. Lalu mengapa Roh tetap turun ke atas-Nya? Apakah Roh di dalam-Nya berbeda dengan Roh yang turun ke atas-Nya? Apakah Roh yang turun ke atas-Nya adalah Roh tambahan pada Roh yang telah ada di dalam-Nya? Kalau Anda mengatakan bahwa kedua Roh ini adalah satu Roh, saya akan bertanya bagaimana kedua Roh ini dapat bersatu. Roh yang telah bersemayam dalam Tuhan Yesus sama dengan Roh yang turun ke atas-Nya. Dengan demikian, apakah Yesus mempunyai Roh atau tidak? Ya, Ia mempunyai Roh. Lalu mengapa Roh tetap turun ke atas-Nya? Saya di sini bersama Anda. Jika saya di sini, bagaimana saya masih datang kepada Anda? Walaupun tidak mungkin bagi saya un-tuk serentak berada di sini dan masih datang, namun tidak-lah mustahil bagi persona ilahi. Tuhan itu ajaib. Pada saat yang bersamaan, ia bisa ada di sini sekaligus datang ke sini. Kristus berada di dalam Anda atau di dalam surga? Ia di dalam kita juga di dalam surga. Jadi, Tuhan ada di sini, juga sedang datang ke sini.
4. Bapa Berfirman Kepada-Nya
Ayat 17 mengatakan,“Lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, ‘Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.’” Turunnya Roh adalah peng-urapan Kristus, sedangkan berbicaranya Bapa adalah kesak-sian bagi Dia sebagai Anak yang terkasih. Ini adalah gambar-an Trinitas ilahi: Anak bangkit keluar dari air, Roh turun ke atas Anak, dan Bapa berbicara mengenai Anak. Ini membuk-tikan bahwa Bapa, Anak, dan Roh ada secara bersamaan. Hal ini adalah untuk merampungkan ekonomi Allah.